putusan
Fatwa 07 2020 Rangkaian Shalat Jum at
RANGKAIAN SHALAT JUM‘AT
Pertanyaan dari sri.r4tna@gmail.com
(disidangkan pada Jum‘at, 12 Safar 1441 H / 11 Oktober 2019 M)
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum w.w.
Pada pelaksanakan rangkaian ibadah Shalat Jum‘at di masjid saya terdapat dua versi. Pertama, pelaksanakan Shalat Jum‘at sebagaimana biasanya kemudian diakhiri dengan shalat sunnah. Kedua, pelaksanakan Shalat Jum‘at sebagaimana biasanya kemudian dilanjutkan dengan Shalat Zuhur, lalu diakhiri dengan shalat sunnah. Dari kedua cara tersebut, manakah yang dasar hukumnya lebih kuat? Terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum w.w.
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalam w.w.
Terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan. Semoga jawaban yang disampaikan di bawah ini dapat menambah wawasan seputar ibadah Shalat Jum‘at.
Setiap muslim yang mukalaf diwajibkan melaksanakan Shalat Jum‘at. Dasar kewajiban Shalat Jum‘at adalah,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui [Q.S. al-Jumu‘ah (62): 9].
Berkaitan dengan pertanyaan anda seputar tata cara pelaksanaan Shalat Jum‘at, sudah dijelaskan dalam Himpunan Putusan Tarjih Jilid 3 halaman 58-67. Untuk memperjelasnya, akan dipaparkan sebagai berikut.
Rangkaian Shalat Jum‘at dimulai pada saat masuk waktu Shalat Zuhur. Pada saat itu khatib telah naik mimbar, dan berdiri seraya mengucap salam, berdasarkan hadis,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ [رواه البخاري والترمذي وأحمد].
Dari Anas bin Malik r.a. (diriwayatkan) bahwa Nabi saw Shalat Jum‘at ketika matahari condong (tergelincir) [H.R. al-Bukhari no. 904, at-Tirmidzi no. 503 dan Ahmad no. 12299].
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إذَا صَعِدَ المِنْبَرِ سَلَّمَ. [رواه ابن ماجة].
Dari Jabir bin ‘Abdullah (diriwayatkan) bahwa Nabi saw mengucapkan salam apabila naik mimbar [H.R. Ibnu Majah no. 1109].
Setelah mengucapkan salam, khatib duduk dan muazin mengumandangkan azan, berdasarkan hadis,
عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الإِمَامُ عَلَى المِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ [رواه البخاري].
Dari as-Saibi bin Yazid (diriwayatkan bahwa) ia berkata, adalah seruan azan pertama pada masa Nabi saw, Abu Bakar, dan Umar r.a. dilakukan ketika imam telah duduk di atas mimbar. Ketika tiba masa Usman r.a. dan orang bertambah banyak, maka beliau menambah azan ketiga yang dilakukan di atas az-Zaura’ [H.R. al-Bukhari no. 912].
Perlu kami jelaskan bahwa yang dilakukan pada masa khalifah Usman r.a., azan pertama sebelum khatib naik mimbar, azan kedua setelah khatib naik mimbar dan azan ketiga yang dimaksud adalah iqamah setelah khatib turun dari mimbar untuk segera menunaikan ibadah Shalat Jum‘at.
Selanjutnya, khatib mengawali khutbahnya dengan mengucap pujian, membaca syahadat, selawat kepada Nabi saw dan membaca beberapa ayat al-Quran kemudian menyampaikan tausiah.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللهَ وَيُثْنَي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ: مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، إِنَّ أَصْدَقَ اْلحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ اْلأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ [رواه مسلم و النسائي و أحمد].
Dari Jabir bin Abdullah (diriwayatkan bahwa) ia berkata, adalah Rasulullah saw dalam khutbahnya memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya, kemudian mengatakan, barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk; sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitab Allah dan petunjuk paling benar adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang dibuat-buat, dan tiap hal yang dibuat-buat itu adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah kesesatan, dan tiap kesesatan tempatnya adalah di neraka [H.R. Muslim no. 867, an-Nasa’i no. 1578, dan Ahmad no. 14984].
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ، فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ [رواه أبو داود].
Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata, Rasululah saw bersabda, setiap khutbah yang di dalamnya tidak ada tasyahud (ucapan syahadat) adalah seperti tangan yang buntung [H.R. Abu Dawud no. 4841].
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوَاظِبُ عَلَى اْلوَصِيَّةِ بِالتَّقْوَى فِى خُطْبَتِهِ [رواه مسلم].
Dari Jabir bin Samurah r.a. (diriwayatkan) bahwasannya Nabi saw selalu membiasakan memberi pesan (tausiah) supaya bertakwa dalam khutbahnya [H.R. Muslim].
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ:كَانَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَتَانِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، ويُذَكِّرُ النَّاسَ [رواه مسلم].
Dari Jabir bin Samurah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata, adalah Nabi saw melakukan dua khutbah yang di antara dua khutbah itu beliau duduk. Beliau dalam khutbahnya membaca al-Quran dan memberi pesan (peringatan) kepada jamaah [H.R. Muslim no. 862].
Setelah khutbah pertama selesai, khatib duduk sebentar (tidak ada doa khusus antara dua khutbah) kemudian berdiri lagi untuk menyampaikan khutbah kedua.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ قَائِمًا، ثُمَّ يَقْعُدُ، ثُمَّ يَقُومُ كَمَا تَفْعَلُونَ الآنَ [رواه البخاري و مسلم و أحمد].
Dari Ibnu Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata, adalah Nabi saw berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri lagi sebagaimana kamu lakukan sekarang [H.R. al-Bukhari no. 920, Muslim no. 861 dan Ahmad no. 4919].
Khutbah kedua diakhiri dengan doa dan penutup khutbah. Dan ketika berdoa diperbolehkan mengacungkan jari telunjuknya.
عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُوَيْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ؛ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيْدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبِعِهِ الْمُسَبِّحَةِ [رواه مسلم].
Dari Hushain bin ‘Abdurrahman as-Sulaimi, dari ‘Imarah bin Ruwaibah (diriwayatkan bahwa) ia melihat Bisyr bin Marwan berkhutbah di mimbar. Ketika berdoa, ia mengangkat kedua tangannya. Lalu ‘Imarah berkata, Allah menjelekkan kedua tangan ini -atau kedua tangan kecil ini-, saya melihat Rasulullah saw ketika berkhutbah mengucapkan doa begini, dan ‘Imarah hanya mengangkat telunjuknya saja [H.R. Muslim no. 874].
Setelah khatib turun dari mimbar, kemudian muazin mengumandangkan iqamah untuk pelaksanaan Shalat Jum‘at.
عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: كَانَ بِلَالٌ يُؤَذِّنُ إِذَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَإِذَا نَزَلَ أَقَامَ، ثُمَّ كَانَ كَذَلِكَ فِي زَمَنِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَ [رواه النسائي و ابن ماجه].
Dari as-Sa’ibi bin Yazid (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Bilal azan ketika Rasulullah saw duduk di atas mimbar pada hari Jum‘at; apabila beliau turun (dari mimbar setelah berkhutbah), Bilal mengumandangkan iqamah. Demikian pula yang dilakukan di zaman Abu Bakar dan Umar r.a. [H.R. an-Nasa’i no. 1394 dan Ibnu Majah].
Khutbah yang disampaikan oleh khatib hendaklah tidak terlalu lama (panjang), atau dengan kata lain shalatnya hendaknya lebih lama dari khutbahnya.
عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: إنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ، وَقِصْرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ؛ فَأَطِيْلُوا الصَّلَاةَ، وَاقْصُرُوا الخُطْبَةَ [رواه مسلم].
Dari ‘Ammar bin Yasir (diriwayatkan bahwa) ia berkata, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang tentang agama. Oleh karena itu panjangkanlah shalat dan persingkatlah khutbah [H.R. Muslim no. 869].
Kemudian mendirikan Shalat Jum‘at dua rakaat dan diupayakan dalam pelaksanaannya lebih lama dari khutbahnya.
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، قَالَ: قَالَ عُمَرُ: صَلَاةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ، وَصَلَاةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ، وَصَلَاةُ الْأَضْحَى رَكْعَتَانِ، وَصَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [رواه النسائي].
Dari ‘Abdurrahman bin Abi Laila (diriwayatkan bahwa) ia berkata, Umar r.a. berkata, Shalat Jum‘at dua rakaat, Shalat Idulfitri dua rakaat, Shalat Iduladha dua rakaat, Shalat Safar dua rakaat sempurna tanpa qashar berdasarkan ucapan Muhammad saw [H.R. an-Nasa’i no.1420].
Setelah selesai melaksanakan Shalat Jum‘at dan zikir, kemudian lakukanlah shalat sunnah setelah shalat Jum‘at dua atau empat rakaat,
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ. [رواه أبو داود وأحمد].
Dari Ibnu Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata, adalah Rasulullah saw mengerjakan shalat sunnah dua rakaat di rumahnya sesudah Shalat Jum‘at [H.R. Abu Dawud no. 1132 dan Ahmad no. 4921]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا [رواه مسلم].
Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata, Rasulullah saw telah bersabda, apabila seseorang di antara kalian melakukan Shalat Jum‘at, maka hendaklah ia mengerjakan shalat sunnah empat rakaat setelahnya [H.R. Muslim no. 881].
Sejauh ini tidak ditemukan dalil yang memerintahkan adanya Shalat Zuhur setelah selesai menunaikan Shalat Jum‘at. Dalam masalah ibadah berlaku kaidah,
اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ الطَّاعَةُ.
Pada dasarnya dalam masalah ibadah adalah taat (kepada Allah dan Rasul-Nya).
اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ الْبُطْلَانُ حَتَّي يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَي الْأَمْرِ.
Pada dasarnya dalam masalah ibadah tidak boleh dilakukan sampai ada dalil yang memerintahkan.
Dengan demikian, menurut hemat kami dalam pelaksanaan Ibadah Jum‘at, setelah selesai dilaksanakannya Shalat Jum‘at sesuai dengan perintah dan tuntunan dari Allah dan Rasulullah saw, tidak perlu lagi dilaksanakan Shalat Zuhur.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

