putusan
Fatwa 15 Musibah dan Bencana
MUSIBAH DAN BENCANA
Pertanyaan dari:
Fajar, Kampung Pereng Kecamatan Paguyangan Brebes
(disidangkan pada hari Jum'at, 14 Rabiul-Akhir 1430 H / 10 April 2009)
Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya berlangganan Suara Muhammadiyah melalui agen setempat. Al-hamdu lillah
banyak masalah agama yang saya peroleh dari Suara Muhammadiyah. Untuk ini saya ada
masalah yang mengganjal pada diri saya, karena itu saya ajukan pertanyaan dan mohon
dengan hormat bapak bisa menjelaskannya.
- Di desa saya banyak orang menyatakan bahwa gempa bumi, angin puting beliung, tanah
longsor, banjir bandang dan tsunami itu adalah sebab Tuhan sedang murka. Apakah dapat
dibenarkan kata-kata semacam itu? - Lalu bagaimana hubungannya dengan sifat rahman dan rahim-nya Allah? Apakah tidak
bertentangan dengan hadits :
Apakah hadits ini shahih dan apa maksudnya?
Mohon penjelasannya yang sejelas-jelasnya, agar hati dan benak saya lega. Sebelumnya
mohon maaf dan terima kasih yang sedalam dalamnya.
Jawaban :
Pernyataan bahwa gempa bumi, angin puting beliung, tanah longsor, banjir bandang,
tsunami dan bencana-bencana lainnya yang telah terjadi dikarenakan bahwasanya tuhan
sedang murka adalah sangat tidak dibenarkan. Untuk membuktikannya kita harus memahami
secara mendalam makna dari istilah bencana tersebut dalam al-Qur’an sehingga kita bisa
memaknai semua bencana yang terjadi dengan arif.
Bencana, keburukan atau dikatakan juga sebagai petaka disebut dengan berbagai istilah
di dalam al-Qur’an. Misalnya, mushibah, bala‟, ‟iqab dan fitnah dengan pengertian dan
cakupan yang berbeda: - Kata mushibah, ia pada mulanya berarti mengenai atau menimpa. Memang tidak bisa
dipungkiri bahwa sesuatu yang menimpa atau mengenai tersebut adalah sesuatu yang
menyenangkan, namun bila al-Qur'an menggunakan kata mushibah maka itu berarti
sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Pengertian ini juga telah
umum diketahui di Indonesia, bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa
manusia disebut dengan musibah. Dalam penyelusurannya, ada beberapa hal yang dapat
ditarik dari uraian al-Qur'an:
a. Musibah terjadi karena ulah manusia, antara lain karena dosanya. Ini ditegaskan oleh
firman Allah:
Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-
kesalahanmu).” [QS. asy-Syura (42): 30]
b. Musibah tidak terjadi kecuali atas izin Allah
Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin
Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi
petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. at-
Taghabun (64): 11]
c. Musibah, antara lain, bertujuan untuk menempa manusia, dan karena itu dilarang untuk
berputus asa akibat jatuhnya musibah—walau hal tersebut adalah karena kesalahan
sendiri—sebab bisa jadi ada kesalahan yang tidak disengaja atau karena kesalahan
yang tidak disengaja atau karena kelengahan. Al-Qur'an menegaskan bahwa:
Artinya: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri
kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput
dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya
kepada kamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” [QS. al-Hadid (57): 22-23]
2. Kata bala‟ . Akar kata ini mulanya berarti nyata/tampak, seperti firman Allah:
Artinya: “Pada hari dinampakkan segala rahasia.” [QS. ath-Thariq (86): 9]
Namun makna tersebut berkembang sehingga berarti ujian yang dapat menampakkan
kualitas keimanan seseorang. Dari beberapa ayat yang menggunakan kata bala‟ dalam
berbagai bentuknya dapat diperoleh beberapa hakikat berikut:
a. Bala‟ (ujian) adalah keniscayaan hidup. Itu dilakukan Allah, tanpa keterlibatan
manusia yang diuji dalam menentukan cara dan bentuk ujian tersebut. Yang
menentukan cara, waktu, dan bentuk ujian adalah Allah swt. Allah swt berfirman:
Artinya: “(Dia) Yang menciptakan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu
(melakukan bala‟), siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun.” [QS. al-Mulk (67): 2]
Karena bala‟ adalah keniscayaan bagi manusia mukallaf, maka tidak seorang pun
yang luput darinya. Semakin tinggi kedudukan seseorang semakin berat pula ujiannya,
karena itu ujian para nabi pun sangat berat. Dikarenakan bala‟ adalah keniscayaan
hidup, maka ada pula bala‟ (ujian) tersebut berupa sesuatu yang menyenangkan.
Adapun contoh dari bala‟ (ujian) yang menyenangkan adalah anugerah yang diberikan
Allah kepada Nabi Sulaiman as yang menyadari bahwa fungsi nikmat tersebut adalah
sebagai ujian.
.
Artinya: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk menguji aku (melakukan bala‟), apakah
aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur
maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya dan barangsiapa yang
ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” [QS. an-Naml
(27): 40]
b. Anugerah/nikmat yang berupa ujian itu, tidak dapat dijadikan bukti kasih Ilahi
sebagaimana penderitaan tidak selalu berarti murka-Nya. Hanya orang-orang yang
tidak memahami makna hidup yang beranggapan demikian. Hal ini antara lain
ditegaskan-Nya dalam QS. al-Fajr (89): 15-17:
Artinya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya
dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.”
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya dia berkata: “Tuhanku
menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan
anak yatim.” [QS. al-Fajr (89): 15-17]
c. Bala‟ (ujian) yang menimpa seseorang dapat merupakan cara Allah mengampuni dosa,
menyucikan jiwa, dan meninggikan derajatnya. Dalam perang Uhud tidak kurang dari
tujuh puluh orang sahabat Nabi Muhammad saw yang gugur. Al-Qur'an dalam konteks
ini membantah mereka yang menyatakan dapat menghindar dari kematian sambil
menjelaskan tujuannya:
Artinya: “Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumah kamu, niscaya orang-orang
yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka
terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (melakukan bala‟) apa yang
ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha
Mengetahui isi hati.” [QS. Ali Imran (3): 154]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bala‟ adalah bentuk ujian dari Allah
yang dapat berupa hal-hal yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Bala‟ ditimpakan oleh
Allah kepada manusia dengan tujuan untuk meningkatkan derajat seseorang tersebut
dihadapan Allah. Dari sini pula dapat dilihat perbedaan antara musibah dan bala‟, karena
musibah sebagaimana terbaca di atas, pada dasarnya dijatuhkan Allah akibat ulah atau
kesalahan manusia, sedangkan bala’ tidak harus demikian, dan bahwa tujuan dari bala‟
adalah peningkatan derajat seseorang di hadapan Allah.
- Kata fitnah dalam al-Qur’an mengandung banyak arti, di antaranya:
a. Perbuatan atau tindakan yang dapat menimbulkan kekacauan
b. Membakar dalam neraka, membakar dalam arti dimasukkan ke dalam
c. Neraka
d. Menyiksa atau siksaan
e. Kesesatan atau penyimpangan
f. Ujian atau cobaan, baik berupa nikmat maupun kesulitan.
Arti fitnah yang terakhir itulah yang kemudian akan digunakan untuk memahami
makna bencana dalam al-Qur’an.
Artinya: “Dan ketahuilah, bahwa harta kamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai
cobaan (fitnah) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. al- Anfal
(8): 28] Baca juga QS. at-Taghabun (64): 15.
Bahkan pada QS. al-Anbiya’: 35 Allah mempersamakan antara kata bala‟ dan fitnah.
Allah berfirman:
.
Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu
(melakukan bala‟) dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan/ fitnah (yang sebenar-
benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [QS. al-Anbiya’ (21): 35]
Ini berarti bahwa fitnah/ cobaan dilakukan Allah sebagai peringatan, dan tentu saja
apabila peringatan tidak juga diindahkan—setelah berkali-kali— maka adalah wajar
menjatuhkan tindakan yang lebih keras. Dalam konteks uraian tentang fitnah, al-Qur'an
menggarisbawahi bahwa:
Artinya: “Dan peliharalah diri kamu dari pada siksaan (fitnah) yang tidak khusus
menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat
keras siksa-Nya.” [QS. al-Anfal (8): 25]
Ayat di atas menggunakan tiga kata yang kesemuanya dapat berarti sesuatu yang
tidak menyenangkan. Yaitu kata fitnah, tushibanna yang seakar dengan kata mushibah,
serta „iqab yang terambil dari kata „aqiba yang berarti belakang/kesudahan. Kata „iqab
digunakan dalam arti kesudahan yang tidak menyenangkan/ sanksi pelanggaran. Berbeda
dengan „aqibah/ akibat yang berarti dampak baik atau buruk dari satu perbuatan. Dan
dari ayat di atas dapat difahami bahwa fitnah dapat menimpa orang yang tidak bersalah.
Beberapa kesimpulan yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas, antara lain adalah
bahwa musibah terjadi atau menimpa manusia akibat kesalahan manusia sendiri, bala‟
merupakan keniscayaan dan dijatuhkan Allah swt, walau tanpa kesalahan manusia.
Adapun fitnah, maka ia adalah bencana yang dijatuhkan Allah dan dapat menimpa yang
bersalah dan tidak bersalah.
Berpijak pada uraian-uraian di atas, terkait dengan ungkapan-ungkapan al-Qur’an
dalam mengutarakan “keburukan/bencana yang menimpa manusia”, dapat dinyatakan
bahwa bencana (alam) yang terjadi di muka bumi ini, dengan istilah al-Qur’an, secara umum, lebih tepat disebut sebagai fitnah (ujian atau cobaan). Hal ini dikarenakan bahwa bencana alam yang terjadi tidak hanya menimpa orang-orang yang berdosa saja melainkan
juga mereka yang tidak berdosa (berbuat salah). Di sisi lain, kita dapat berkata bahwa jika
yang berdosa ditimpa mudlarat akibat bencana tersebut, maka itu adalah akibat dosanya,
sedang yang tidak berdosa, maka buat mereka yang masih hidup, itu adalah bala‟, yakni
ujian untuk melihat kualitas keimanan mereka. Adapun yang wafat tapi tidak berdosa, atau
yang kesalahannya tidak setimpal dengan dampak buruk bencana tersebut, maka itu
merupakan tangga yang mengantar mereka memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi
Allah.
Dari serangkaian pembahasan di atas dapat diketahui rumusan teologi bencana yang
terdapat dalam al-Qur’an, yakni bahwa bencana yang terjadi pada dasarnya adalah akibat
perbuatan manusia sendiri. Namun di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa kesemuanya itu
sudah menjadi ketentuan dan hukum Allah— yang telah tertulis di Lauh al-Mahfudz. Dalam
tataran makna, bencana yang banyak terjadi akhir-akir ini dalam bahasa al-Qur’an lebih tepat
untuk disebut sebagai fitnah (cobaan atau ujian) dengan cakupannya bahwa bencana tersebut
tidak hanya menimpa mereka yang bersalah atau yang telah melakukan kerusakan di muka
bumi, melainkan juga mereka yang tidak berdosa (berbuat salah). Di sisi lain, kita dapat
berkata bahwa jika yang berdosa ditimpa mudlarat akibat bencana tersebut, maka itu adalah
akibat dosanya, sedang yang tidak berdosa, maka buat mereka yang masih hidup, itu adalah
bala’, yakni ujian untuk melihat kualitas keimanan mereka. Adapun yang wafat tapi tidak
berdosa, atau yang kesalahannya tidak setimpal dengan dampak buruk bencana tersebut, maka
itu merupakan tangga yang mengantar mereka memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi
Allah.
Mengenai hadis yang bapak utarakan, menurut penelusuran kami termasuk hadis shahih
dan banyak diriwayatkan oleh periwayat-periwayat hadis, di antaranya adalah al-Bukhari,
Muslim, at-Turmudzi dan lain-lainya yang semua jalur periwayatannya bersambung dan
bersumber dari sahabat Abu Hurairah. Salah satu jalur periwayatannya adalah:
Artinya: “Telah mengabarkan kepada kami „Abdan diriwayatkan dari Abu Hamzah dari
A‟masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: Tatkala Allah
menciptakan ciptaan, Allah telah menuliskan dalam kitab (Lauh al-Mahfudz), Dia
menuliskannya langsung di arsy (Lauh al-Mahfudz), sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan
kemarahan dan kebencian-Ku.” [HR. al-Bukhari]
Menilik dari penjelasan di atas, tidak didapati kontradiksi terhadap sifat Allah yang
Maha Pengasih dan Maha Penyanyang karena akibat dari bencana-bencana yang telah terjadi
saat ini. Bukankah ketika kita melakukan kesalahan dan berbuat dosa Allah juga tidak segera
langsung memberikan hukuman dan siksa kepada kita?
Wallahu a‟lam bish-shawab. *aa)

