putusan
Fatwa 19.A 2004 arti al masih dan masihid dajjal
ARTI AL-MASIH DAN MASIHID-DAJJAL
Pertanyaan Dari:
Saudara Udi el-Shin, Malang, Jawa Timur
Pertanyaan:
Dengan surat ini kami mohon perkenan bapak untuk membantu kami memberikan jawaban atas pertanyaan yang selama ini masih menjadi keraguan di hati, kami mengharap jawaban yang disertai dengan dasar hukumnya.
Pertanyaannya sebagai berikut: Apa arti al-masih dalam kalimat ‘Isa al-Masih? Apa arti masihid-dajjal?
Jawaban:
Al-Masih berasal dari kata dasar مَسَحَ (masaha) – يَمْسَحُ (yamsahu) – مَسْحًا (mashan) yang berarti: mengusap; menghapus; menipu. Arti kata tersebut selalu berubah-ubah sesuai dengan konteksnya.
Menurut Rasyid Ridla dalam tafsirnya, kata اَلْمَسِيْحُ (al-Masih) adalah kata serapan dari bahasa ‘Ibrani, yaitu dari kata اَلْمَشِيْحَا (al-masyiha), memakai huruf ش (syin), yang artinya diusap. Kata tersebut merupakan nama gelar raja bagi mereka. Gelar tersebut dipergunakan oleh mereka, karena menurut tradisi mereka yang sudah berjalan berabad-abad, bahwa orang yang mempunyai kekuasaan (kerajaan), kepalanya diusap dengan minyak suci, dalam suatu upacara pelantikan. Maka mereka menyebut kerajaan dengan sebutan اَلْمَسْحُ (al-mash), dan menyebut raja dengan sebutan اَلْمَسِيْحُ (al-masih). Di kalangan mereka telah terkenal bahwa para Nabi mereka telah memberitakan bahwa akan datang seorang al-masih dari kalangan mereka, dan mereka berkeyakinan bahwa al-masih tersebut akan mengembalikan kekuasaan di bumi ini yang telah hilang. Maka setelah lahir Nabi Isa a.s. yang diberi gelar al-masih, mereka langsung beriman. Mereka berkeyakinan bahwa orang itulah yang pernah diberitakan oleh para Nabi. Nabi Isa memang seorang raja, tetapi yang dimaksudkan adalah raja ruhaniyah bukan raja jasadiyah. (Rasyid Ridla, III: 305)
Dalam al-Qur'an surat Ali Imran (3): 45, disebutkan dengan perkataan al-Masih ‘Isa, bukan ‘Isa al-Masih.
إِذْ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ. [آل عمران (3): 45]
Artinya: “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih `Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).”
Jelaslah bahwa kata al-Masih pada Nabi ‘Isa adalah suatu nama gelar. Kalau di Yogyakarta dan sekitarnya, ada gelar Raden, Kanjeng, Kiai, dan sebagainya.
Adapun al-masih ad-dajjal, secara bahasa al-masih berarti penipu, sedang ad-dajjal berarti pembohong. Jumhur ulama mengartikannya dengan penjahat; orang yang berbuat kezaliman. Dalam hadits Nabi saw dilukiskan bahwa Dajjal adalah makhluk yang kejam dan menakutkan, bermata juling, bagaikan biji anggur yang mengapung. Tetapi dia tidak dapat masuk kota Madinah karena kota tersebut dijaga oleh para Malaikat. Karena kejahatannya, Nabi saw mohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal pada setiap mengerjakan shalat. Adapun hadits-hadits yang mengungkapkan keadaan Dajjal antara lain ialah:
1- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجِيءُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَنْزِلَ فِي نَاحِيَةِ الْمَدِينَةِ ثُمَّ تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ كُلُّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ. [أخرجه البخاري، 4: كتاب الفتن: 148]
Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi saw bersabda: Dajjal datang hingga turun di arah Madinah, kemudian Madinah menjadi goncang tiga kali, kemudian keluar kepadanya semua orang kafir dan orang munafiq.” [HR. al-Bukhari, IV: Kitab al-Fitan: 148]
2- عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّهَا عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ. [أخرجه البخاري، 4: كتاب الفتن: 148]
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw, beliau bersabda: Mata sebelah kanan juling, seperti buah anggur yang mengapung.” [HR. al-Bukhari, IV: Kitab al-Fitan: 148]
3- عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْمَدِينَةَ رُعْبُ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ بَابٍ مَلَكَانِ. [أخرجه البخاري، 4: كتاب الفتن: 148]
Artinya: “Diriwayatkan dari Abi Bakrah dari Nabi saw, beliau bersabda: Kejahatan al-Masih ad-Dajjal tidak dapat masuk kota Madinah, pada waktu itu ada tujuh pintu, masing-masing dijaga oleh dua Malaikat.” [HR. al-Bukhari, IV: Kitab al-Fitan: 148]
4- عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ فِي صَلاَتِهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ. [أخرجه البخاري، 4: كتاب الفتن: 148]
Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Urwah, ‘Aisyah berkata: Saya mendengar Rasulullah saw mohon perlindungan kepada Allah dalam setiap shalatnya dari fitnah Dajjal.” [HR. al-Bukhari, IV: Kitab al-Fitan: 148]
5- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِينَةِ مَلاَئِكَةٌ لاَ يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ وَلاَ الدَّجَّالُ (أخرجه البخاري، 4: كتاب الفتن: 148)
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Pada semua penjuru Madinah ada malaikat yang menjaganya, tidakakan dimasuki bahaya tha’un dan dajjal.” [HR. al-Bukhari, IV: Kitab al-Fitan: 148]
Berdasarkan hadits-hadits inilah para ulama berpendapat bahwa Dajjal memang ada, tetapi mereka berbeda pendapat tentang apakah Dajjal itu merupakan makhluk yang berjisim (berbentuk) ataukah hanya merupakan sifat kejahatan.

