putusan
Fatwa 22 2012 Doa Penguat Iman
DOA PENGUAT IMAN
Pertanyaan Dari:
Mulyadi, Laren, Lamongan, Jawa Timur
(disidangkan pada hari Jum’at, 9 Muharram 1434 H / 23 November 2012)
Pertanyaan :
Kepada para pengasuh fatwa yang terhormat, kami ingin bertanya; Doa apa yang
harus dibaca untuk menguatkan iman kita? Terima kasih.
Jawaban :
Terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan, kami memohon kepada Allah swt
semoga senantiasa memberikan keteguhan iman yang menghunjam kuat di dalam hati kita
semua. Sesungguhnya permasalahan mengenai iman merupakan permasalahan yang paling
urgen dan vital. Selamat dan tidaknya seseorang di kehidupan yang kekal kelak bergantung
pada masalah ini.
Allah dan Rasul-Nya menjelaskan perihal karakterstik iman yang memang fluktuatif
(terkadang bisa naik dan bisa juga turun), sehingga dibutuhkan cara atau langkah untuk
menjaganya. Banyak sekali langkah atau kiat-kiat untuk memperkuat iman agar tidak
mudah goyah, kami akan memaparkan beberapa tips atau kiat-kiat untuk memperkuat iman
tersebut. Tips atau kiat-kiat tersebut terdiri dari yang primer (utama) dan sekunder
(pendukung). Berikut kiat-kiatnya:
A. Faktor Primer (utama), yakni, merupakan faktor atau tips utama berupa tindakan nyata
yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin memperkuat keimanannya. Di
antaranya adalah:
- Akrab dengan al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan petunjuk utama untuk mencapai tsabat (keteguhan
iman) sekaligus merupakan penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan
Rabb-nya. Barangsiapa berpegang teguh pada al-Qur’an, niscaya Allah akan
memeliharanya. Barangsiapa mengikuti al-Qur’an, niscaya Allah akan
menyelamatkannya dan akan menunjukinya ke jalan yang benar.
Allah swt berfirman:ٌ
َْحَْة ِفِ الصُّدُور ِ وَهُدًى وَر ْ يَا أَيُّهَا انلَّاس ُ قَد ْ جَاءَتْكُم ْ مَوْعِظَة ٌ مِن ْ رَبِّكُم ْ وَشِفَاء ٌ لِمَا
َ لِلمُؤْمِنِي
Artinya: “Wahai manusia sungguh telah datang pelajaran dari Tuhan-Mu (al-
Qur’an), sebagai penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk
serta rahmat bagi orang yang beriman.” [QS. Yunus (10): 57]
2. Berusaha istiqamah dengan Syari’at Islam
Allah swt menjamin orang-orang yang istiqamah terhadap agama Islam,
kepadanya akan diturunkan malaikat agar dia senantiasa merasa tentram dalam
hatinya dan tidak bersedih. Dengan istiqamah juga Allah swt akan memelihara
kualitas keimanannya.
Allah swt berfirman:َْ
ََّلَ ت ََّلَّ َتََافُوا و ََلَئِكَة ُ أ ََنََّل ُ عَلَيْهِم ُ الْم َّللَُّ ثُم َّ اسْتَقَامُوا تَت إِن َّ ا َّلَِّين َ قَالُوا رَبُّنَا اَ زَنُوا
َِّتِ كُنْتُم ْ تُوعَدُون ْلَْنَّة ِ ال ِْشُِوا بِا وَأَب
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah
kemudian dia beristiqamah dengan perkataannya, maka malaikai-malaikat akan
turun kepada mereka dan berkata: “janganlah kamu takut dan sedih, berilah kabar
gembira dengan surga yang dijanjikan.” [QS. al-Ahqaf (46): 13]
3. Menjauhi maksiat
Rasullullah saw menggambarkan maksiat ibarat sebuah noda yang menempel
di hati. Semakin seseorang menjauhi maksiat maka akan bercahayalah hatinya
sehingga petunjuk akan mudah diterimanya. Demikian pula sebaliknya, ketika
seseorang sering berbuat maksiat maka hatinya sedikit demi sedikit akan tertutupi
hingga cahaya petunjuk pun sulit diraihnya.
4. Berteman dengan orang-orang yang sholeh
Faktor eksternal (luar), merupakan faktor pendukung yang dapat mewarnai
kualitas keimanan seseorang, dalam hal ini memilih teman. Allah dan Rasul-Nya
pun mewanti-wanti kepada kita untuk lebih selektif dalam memilih teman agar
tidak menyesal di kemudian hari, sekaligus teman bisa menjadi tolok ukur baik dan
tidaknya agama seseorang.
Allah swt berfirman:َلً
َُلَنًا خَلِي ََتَِّذ ْ ف َِنِ لَم ْ أ ََتَ َلَْت يَا وَيْل
Artinya: “Wahai celaka aku, sekiranya aku dulu tidak menjadikan fulan sebagai
teman akrabku” [QS. al-Furqan (25): 28]
Rasulullah saw bersabda:ِ
ُ لَعََ دِين ِ خَلِيلِه ْ الْمَرْءْ، فَلْيَنْظُر ْ أَحَدُكُمْ ُيَُالِل مَن
Artinya: “Kualitas agama seseorang itu bisa dilihat dari teman akrabnya, maka
hendaklah di antara kalian memperhatikan kepada siapa dia berteman.” [HR.
Ahmad]
B. Faktor Sekunder (pendukung), yakni merupakan faktor pendukung dari faktor primer
(utama), yaitu memohon pertolongan kepada Allah swt agar memelihara keimanan
kita.
Setelah kita berusaha menjaga kualitas keimanan kita melalui tindakan nyata,
maka langkah terakhir yang kita lakukan adalah mensingkronkan (menyambungkan)
usaha tersebut dengan doa. Sebab akan sangat mustahil jika seseorang hanya berdoa
saja sementara ia tidak melakukan tindakan apapun untuk memperbaiki dan
memelihara keimanannya. Begitu pula sebaliknya, seseorang tidak akan pernah
berhasil memelihara keimanannya jika ia hanya mendasarkan pada usaha saja dengan
meninggalkan doa, sebab masalah keimanan ini erat kaitannya dengan Allah swt
selaku al-Khalik, Dzat yang membolak-balikkan hati manusia. Jika ia tidak mau
berdoa, maka bagaimana mungkin Allah akan menjaga keimanannya?
Pada dasarnya tidak terlarang bagi seseorang untuk berdoa dengan lafadz dan
bahasa apapun yang ia mampu, asalkan substansi (isi) doanya baik dan mengena, akan
tetapi seyogyanya setiap muslim dalam berdo’a hendaknya senantiasa melandaskan
prinsip ittiba’ (mengikuti) Allah dan Rasul-Nya, sebab doa yang diajarkan oleh Allah
dan Rasul-Nya itulah merupakan sebaik-baik doa.
Di antara doa-doa ma’tsur dari al-Qur’an maupun as-Sunnah untuk menjaga
keteguhan iman adalah:
- Doa dari al-Qur’anُ
َّلَ تُزِغ ْ قُل ُ رَبَّنَاَْحَْة ً إِنَّك َ أَنْت َ الْوَهَّاب ْ َلَُنْك َ ر وبَنَا بَعْد َ إِذ ْ هَدَيْتَنَا وَهَب ْ نلََا مِن
Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan kami kepada kesesatan
setelah Engkau berikan petunjuk kepeda kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya
Engkau adalah Maha Pemberi.” [QS. Ali-Imran (3): 8]ِ
َْكَفِر لَعََ الْقَوْم ِ ال ُْصُْنَا ِفِ أَمْرِنَا وَثَبِّت ْ أَقْدَامَنَا وَان ِْسَْافَنَا َ رَبَّنَا اغْفِر ْ نلََا ذُنُوبَنَا وَإين
Artinya; “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami
dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang
kafir.” [QS. Ali-Imran (3): 147]ُ
ِْلِْيمَان ِ أَن ْ آمِنُوا بِرَبِّكُم ْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِر ْ نلََا ذُن رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِّ وبَنَا
َ وَكَفِّر ْ عَنَّا سَيََّلَ َتُْزِنَا يَوْم لَعََ رُسُلِك َ و ئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَع َ ا ْلَْبْرَار ِ رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا
َ َّلَ َتُْلِف ُ الْمِيعَاد الْقِيَامَة ِ إِنَّك
Artinya :”Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru
kepada iman, (yaitu): “berimanlah kalian kepada Rabb kalian, maka kami pun
beriman. Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuslah kesalahan-
kesalahan kami, serta wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti
(shalih). Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami
melalui Rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat kelak.
Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” [QS. Ali-Imran (3): 193-
194]
َْحَْة ً وَهَيِّئ ْ نلََا مِن ْ أَمْرِنَا رَشَدًا ْ َلَُنْك َ ر رَبَّنَا آتِنَا مِن
Artinya: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan
sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan ini.” [QS. al-Kahfi
(18): 10]
Dan masih banyak doa-doa lain dari al-Qur’an yang dapat dibaca. Silakan
saudara mencarinya dengan seksama.
2. Doa dari as-Sunnahُ
َّ اَللَّهمَيا ُم َُِّص َف ْال ُق ُل ْو ِبَِّص ْفُق ُل ْو ُب َنالَعَََط َاع ِت َك
Artinya: “Ya allah, Dzat yang mencondongkan hati, condongkanlah hati-hati kami
untuk taat kepada-Mu.” [HR. Muslim, no. 2654]َ
ِْبِ لَعََ دِيْنِك يَا مُقَلِّب َ الْقُلُوْب ِ ثَبِّت ْ قَل
Artinya: “Wahai Rabb yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku pada
agama-Mu” (HR. At-Tirmidzi no. 3522, Ahmad no. 302, 315)ُ
َّ اللَّهِّمِْنِ ثَبِْنِ وَاجْعَل َتِ هً ادَ يْ ا مِ هديا
Artinya: “Ya Allah, teguhkanlah diriku, jadikanlah diriku pemberi petunjuk dan
diberi petunjuk (olehmu).” [HR. al-Bukhari, no. 2725]َ
ِِنِّ أَسْأَلُك َ الْهُدَى و َ السَّدَاد ِْنِ اللَّهُم َّ إ ِِنِ و َ سَدِّد اللَّهُم َّ اهْد
Artinya: “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku dan luruskanlah diriku. Ya
Allah, sesungguhnya aku mohon petunjuk dan kelurusan kepada-Mu.” [HR.
Muslim, 2725]َ
َُّقَ و َ الْعَفَاف َ و َ الْغِن ِِنِّ أَسْأَلُك َ الْهُدَى و َ اتل اللَّهُم َّ إ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk, ketakwaan, kesucian,
(dijauhkan dari hal-hal yang tidak halal/tidak baik), dan kecukupan.” [HR.
Muslim, no. 2721; at-Tirmidzi, no. 3489; Ibnu Majah no. 3832]َ
ِِنِّ أ ُ اللَّهُم َّ إْ عُ وِذَ بِكَ مْنَ اْ لعِ جَزْ وَ اَ لكِ سَلْ وْلُ ا َِْبْ وُ اْ لِ خَلْ وَ اَ لهِ رَمَ وَ عِ ذْابَ اِْ لقب. ََّ اُ للَّ هِمَآت
ْ نِ فَ سْتَ قَ وَ اهَ ا وِزَ كَ هْ ا أَ نَتُْ خَيْ مَنَزَ كَ هْ ا أَ نَتَلُِّ و ََ هَ ا وْ مَّلَ و َه، ا َِِنِّ أَعُوْذ ُ بِك ِ اللَّهُم َّ إْ مِن
ْ علَّلَم َْيَ نُ فَعِ وْ مَنْ قلَُيَْ َّلَبُ شَعِ وْ مَنْ نفَّلَس َََْ شُ بَعِ وْ مَنْ دَ عوَّلَة َُُْ سَ تَ جَابَ لها
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari
kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kekikiran, pikun, dan adzab kubur. Ya Allah,
berikanlah ketaqwaan pada diriku, dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik
Dzat yang Maha Mensucikannya, Engkau Dzat yang Melindungi dan
Memeliharanya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu
yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah puas, dan
doa yang tidak dikabulkan.” [HR. Muslim, no. 2722, dan an-Nasa’I, no. 269]
Demikianlah kiat-kiat dan doa-doa ma’tsur baik dari al-Qur’an maupun as-
Sunnah untuk memelihara keimanan kita. Semoga Allah swt senantiasa menjaga
keimanan kita. Amin yaa Mujiibas-sa’ilin.
Wallahu a’lam bish-shawab.

