putusan
Fatwa 38 2021 Beasiswa dan Gaji dari Kecurangan
HUKUM MEMPEROLEH BEASISWA DAN GAJI DENGAN MENGGUNAKAN IJAZAH YANG DIPEROLEH DARI KECURANGAN
Pertanyaan dari,
Hamba Allah (nama dan alamat diketahui redaksi)
(Disidangkan pada Jumat, 15 Rabiulawal 1443 H/22 Oktober 2021 M)
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum w. w.
Bagaimana hukum ijazah, gaji dan beasiswa S3 saya. Waktu D3 saya pernah curang dalam ujian kuliah, waktu tugas akhir D3, skripsi S1 dan tesis S2 saya pernah mengarang data sebagian, tidak semuanya. Ada satu mata kuliah di transkrip S1 yang saya lulus tanpa ikut daftar kuliah semester, karena harus tunggu satu tahun. Akhirnya saya dianggap tidak lulus (nilai E) dan disuruh ikut dalam ujian ulang, saya lulus, tetapi ini melanggar aturan negara. Bagaimana hukum gaji saya sebagai dosen kampus swasta yang ijazah S1, S2 dipakai sebagai syarat?
Bagaimana hukum uang beasiswa saya (di luar negeri) saya sekarang yang ijazah S1 dan S2 saya pakai sebagai syarat?
Saat S3 saya pernah bertanya arti dan maksud soal sama teman saya, pernah juga kerjasama jawaban yang diketahui oleh dosennya, apa cukup klarifikasi soal ijazah hasil kecurangan saya hanya ke kampus tempat bekerja, tanpa klarifikasi ke negara/lembaga perguruan tinggi negara untuk menghalalkan gaji saya? Secara sistem saya dimungkinkan terima gaji dari kampus dan dari negara. Jika selesai S3 nanti saya kuliah ulang S1 (pakai ijazah D3) apa bisa menebus kesalahan saya? Terima kasih, jazakumullahu khairan atas jawabannya.
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalam w. w.
Hamba Allah yang budiman, kami bisa mengerti kerisauan saudara akibat kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu yang berdampak pada ketidaktenangan saudara dalam menerima dan menikmati kesuksesan saat ini.
Ada beberapa hal yang perlu kami jawab dari substansi pertanyaan saudara. Pertama, terkait dengan berbagai bentuk kecurangan yang pernah saudara lakukan seperti kecurangan dalam ujian, mengarang data, nilai fiktif dan tindakan tidak terpuji lainnya. Akibat perilaku tidak terpuji tersebut kemudian saudara risau dan tidak tenang dalam menghadapi kesuksesan baik dalam karier maupun studi S3 di Luar Negeri. Dalam agama Islam, kecurangan, culas dan perbuatan tidak terpuji selalu melahirkan ketidaktenangan bagi pelakunya, sebagaimana hadis Rasululah saw;
سَمِعْتُ الْخُشَنِيَّ يَقُوْلُ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنِيْ بِمَا يَحِلُّ لِيْ وَيُحَرَّمُ عَلَيَّ قَالَ فَصَعَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَوَّبَ فِيَّ النَّظَرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ [رواه أحمد].
Saya mendengar al-Khusyani berkata, saya berkata: Hai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku apa yang dihalalkan bagiku dan apa yang diharamkan atasku. Kemudian Nabi saw mengarahkan pandangannya kepadaku dengan tatapan yang serius. Lalu Nabi saw bersabda: Kebaikan itu adalah sesuatu yang menjadikan jiwa tenang dan hati merasa tenteram. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang tidak dapat menjadikan jiwa tenang dan hati yang tenteram ... [H.R. Ahmad].
Dalam hadis lain yang senada juga dijelaskan,
عَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ الْأَسَدِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِوَابِصَةَ جِئْتَ تَسْأَلُ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَجَمَعَ أَصَابِعَهُ فَضَرَبَ بِهَا صَدْرَهُ وَقَالَ اسْتَفْتِ نَفْسَكَ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ ثَلَاثًا الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ [رواه الدارمي].
Dari Wabishah bin Ma’bad al-Asadi (diriwayatkan) bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Wabishah: Engkau datang bertanya mengenai kebaikan dan dosa? Wabishah berkata: Aku menjawab, ya. Ayyub mengatakan: Kemudian beliau menggenggam jari-jarinya dan memukulkan (menepuk) ke dada Wabishah seraya bersabda, tanyakan kepada dirimu, tanyakan kepada hatimu wahai Wabishah. Beliau mengatakannya hingga tiga kali. Kebaikan adalah apa yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membekas dalam jiwa dan membuat hati ragu, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu [H.R. ad-Darimi].
Selain munculnya rasa ketidaktenangan, was-was dan rasa bersalah, Rasulullah saw juga menjelaskan tentang indikator lain dari kecurangan dan perilaku tidak baik itu, yaitu tidak ingin diketahui oleh orang lain. Sebagaimana hadis Nabi saw berikut,
عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَّطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ [رواه مسلم].
Dari an-Nawwas bin Mis’an al-Anshari dia berkata; Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang arti kebajikan dan dosa. Sabda beliau, kebajikan ialah budi pekerti yang baik. Sedangkan dosa ialah perbuatan atau tindakan yang menyesakkan dada, dan engkau sendiri benci (tidak suka) jika perbuatanmu itu diketahui orang lain [H.R. Muslim].
Oleh karena itu Rasulullah saw memerintahkan kepada kita untuk menjauhi berbagai bentuk kecurangan, sikap manipulatif dan kedustaan. Rasulullah saw bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا [رواه البخاري ومسلم].
Dari ‘Abdullah (diriwayatkan) dia berkata: Rasulullah saw bersabda: Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan dan kebaikan akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Hindarilah dusta, karena kedustaan akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah [H.R. al-Bukhari dan Muslim].
Kedua, terkait kehalalan gaji dan solusi yang harus dilakukan. Dari pemaparan saudara di atas, mengindikasikan bahwa cara-cara saudara untuk mendapatkan nilai yang dapat mengantarkan saudara mendapatkan pekerjaan dan beasiswa sekolah di luar negeri saat ini memang jauh dari fatsun atau etika yang dibenarkan dalam Islam. Oleh karena itu saudara seharusnya banyak memohon ampun kepada Allah swt (al-istighfar) disertai dengan rasa penyesalan (al-nadamah) karena kesalahan yang terlanjur dilakukan, berkomitmen untuk tidak mengulanginya (alla ta’uda ilaih), serta memperbanyak amal saleh seperti infak, sedekah atau zakat, sebagai indikator taubat nasuha saudara. Tentang beasiswa dan gaji saudara, tentu tidak secara langsung terkait dengan kesalahan saudara di masa lalu. Namun banyak aspek yang terkait seperti proses ujian, wawancara dan aspek lainnya pada saat seleksi melamar pekerjaan dan mendapatkan beasiswa. Oleh karenanya, kekhilafan saudara dalam proses studi D3, S1, S2 tersebut tidak terkait dengan pekerjaan dan institusi tempat saudara bekerja. Itu murni kesalahan pribadi saudara yang harus ditebus dengan memperbanyak istigfar atau memohon ampunan kepada Allah swt. Sedangkan untuk memperoleh keberkahan dalam gaji yang saudara peroleh, hendaknya saudara memperbanyak infak, sedekah dan zakat, seraya tetap berdoa kepada Allah swt agar selalu diberikan rezeki yang halal dan baik, sebagaimana doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw dalam hadis berikut,
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ ... اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلً [رواه ابن ماجه].
Dari Umu Salamah r.a. (diriwayatkan), bahwasanya Nabi saw bersabda: ... Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima [H.R. Ibnu Majah].
Masih banyak lagi doa-doa seperti di atas yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, selain dapat pula berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia dan lainnya.
Demikian jawaban kami, semoga saudara dapat segera mendapatkan solusi yang terbaik.
Wallahu a’lam bish-shawab.

