putusan
Fatwa 61 1998 Makna Hidup Zuhud
MAKNA HIDUP ZUHUD
Pertanyaan Dari:
Bambang Ismanto, Guru STM Muhammadiyah Secang, Magelang
Tanya:
Saya menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Zuhud:
-
Apakah zuhud itu?
-
Bagaimana sifat orang yang zuhud?
-
Bagaimana langkah/usaha untuk mendapat zuhud?
-
Bagaimana usaha mempertahankan zuhud?
Mohon pengasuh Rubrik Fatwa memberi penjelasan dengan al-Qur’an, hadis atau ijma’.
Jawab:
Seperti halnya dengan jawaban untuk saudara R.J. Iskandar, pertanyaan saudara pun akan kami jawab dalam satu paket berupa satu kesatuan sebagai berikut:
Kata zuhud berasal dari bahasa Arab artinya tidak tertarik perhatiannya kepada yang lain. Di dalam al-Qur’an pernah disebut sekali kata “zuhud” yaitu dalam surat Yusuf ayat 20, dalam kaitan saudara-saudara Nabi Yusuf menjual saudaranya (Nabi Yusuf) dengan harga beberapa dirham saja karena mereka tidak tertarik hatinya kepada Yusuf:
[ARAB TIDAK TERBACA] [يوسف، 12: 20]
Artinya: “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.”
Di dalam salah satu hadis riwayat at-Turmuzi, Nabi saw menjelaskan zuhud itu sebagai berikut:
لَيْسَتِ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَنْ تَكُونَ مَا فِي يَدَيْ اللَّهِ تَعَالَي أَوْثَقُ مِنْكَ بِمَا فِي يَدَيْكَ وَأَنْ تَكُونَ الْمُصِيبَةُ إِذَا أَصَبْتَ بِهَا أَرْغَبُ مِنْكَ فِيهَا لَوْ أُبْقِيَتْ لَكَ [رواه الترمذي]
Artinya: “Tidaklah disebut orang zuhud di dunia dengan mengharamkan yang halal dan membuang-buangkan harta benda, tetapi zuhud di dunia itu, engkau lebih percaya apa yang ada di tangan (kekuasaan) Allah lebih daripada apa yang ada di tanganmu (dalam kekuasaanmu) dan apabila terkena bahaya dunia, engkau lebih senang ia kenal padamu supaya engkau dapat ganjaran.”
Imam al-Gazali memberikan pengertian zuhud sebagai berikut:
الزُّهْدُ أَنْ تَتْرُكَ الدُّنْيَا لِعِلْمِكَ بِحَقَارَتِهَا بِاْلإِضَافَةِ إِلَي اْلأَخِرَةِ.
Artinya: “Zuhud ialah meninggalkan (keinginan) terhadap dunia karena engkau mengerti dunia itu hina/rendah nilainya dibanding dengan (kehidupan akherat).”
Lepas dari pengertian-pengertian zuhud yang diberikan ulama-ulama sufi yang beraneka ragamnya, termasuk pengertian yang diberikan oleh al-Gazali itu, bila kita perhatikan dengan teliti keterangan Nabi saw tentang Zuhud itu, maka dapat kita simpulkan bahwa zuhud dalam Islam mengandung dua aspek yaitu aspek qalb (hati) yaitu percaya dan rida dengan apa yang diberikan Allah kepada dirinya baik berupa kesenangan atau kepedihan hidup dan aspek hissi (indra) yaitu hemat/sederhana menggunakan nikmat-nikmat Allah yang bersifat mubah, baik berupa harta, kedudukan, anak keturunan dan sebagainya. Oleh karena itu orang yang tidak punya apa-apa dan tidak berusaha mencarinya, itu bukan kehidupan zuhud namanya, tetapi itu namanya lemah dalam hidupnya. Begitu juga orang yang boros atau kikir dalam hidupnya, maka orang itu tidak dapat disebut orang yang zuhud dalam hidupnya.
Jadi sifat orang zuhud itu kuat imannya (tauhidnya) kepada Allah swt, tabah dalam menghadapi cobaan hidup, ridla terhadap ketentuan (taqdir) Allah beribadah dan bermuamalah sesuai dengan yang dituntun Rasulullah saw. Di dalam hadis riwayat Muslim dari Aisyah ra, ada sejumlah orang datang kepadanya, sebahagian dari mereka bermaksud terus-menerus beribadah saja, tidak mau kawin dan tidak akan tidur di malam hari, ketika berita itu sampai ke telinga Nabi saw maka beliau berkata:
مَا بَالَ أَقْوَامٌ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَنَامُ وَأَقُومُ وَآكَلُ اللَّحْمَ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي [رواه مسلم]
Artinya: “Apa gerangan yang terjadi pada kaum-kaum itu, berkata begini dan begini? Padahal aku berpuasa dan berbuka, tidur dan bangun (melakukan ibadah) di malam hari, aku makan daging binatang (yang halal) serta aku berkeluarga. Maka barang siapa yang membenci sunnahku, maka orang itu bukan termasuk golonganku.”
Langkah-langkah atau usaha-usaha untuk mencapai zuhud ini disamping sebahagian telah kita sebutkan di atas ditambah lagi dengan segera bertaubat dari segala dosa kalau kita sudah terlanjur banyak berbuat kekeliruan dan kesalahan lalu rnenghiaskan diri dengan kepribadian-kepribadian yang terpuji menurut kacamata agama Islam, misalnya harus hidup sederhana, besar perhatiannya terhadap kesengsaraan orang lain, merasa dirinya hidup di dunia ini seperti tempat singgah sementara, hal ini sesuai dengan salah satu pesan Nabi saw:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ [رواه أحمد]
Artinya: “Jadikanlah dirimu di dunia seakan-akan engkau orang asing atau musafir dan anggaplah dirimu sebagai penghuni kubur.”
Adapun di antara usaha mempertahankan hidup zuhud itu di samping mengamalkan isi hadis tersebut di atas, juga selalu melakukan introspeksi terhadap diri kita, perhitungkan mumpung kita masih hidup, seperti kata sahabat Umar:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا.
Artinya: “Perhitungkanlah dirimu sebelum kamu diperhitungkan.”
Sebagai penutup uraian ini ada baiknya diketengahkan di sini ucapan seorang tokoh besar zuhud yaitu al-Hasan al-Bashri, sebagai berikut:
مَنْ أَفْرَطَ فِي حُبِّ الدُّنْيَا ذَهَبَ اْلخَوْفُ اْلأَخِرَةِ مِنْ قَلْبِهِ وَمَنِ ازْدَادَ عِلْمًا ثُمَّ ازْدَادَ عَلَي الدُّنْيَا خِرْصًا لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْضًا وَلَمْ يَزْدَدْ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ بُعْدًا.
Artinya: “Barangsiapa berlebih-lebihan kecintaan kepada kehidupan dunia, habislah ketakutan terhadap akherat dari hatinya. Barangsiapa bertambah ilmunya kemudian bertambah rakus terhadap dunia, tidaklah bertambah dari Allah kecuali kemarahan (kemurkaan) dan tidak bertambah dari dunia kecuali kejauhannya.”

