putusan
HPT Jilid 1 Kitab Shalat
PENDAHULUAN
Bismillahirrahmanirrahim
(Dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Pengasih)
“Apabila kamu telah selesai shalat, maka
ingatlah kepada Allah sewaktu berdiri,
duduk dan berbaring. Kemudian kalau
sudah aman tenteram, maka kerjakanlah
shalat itu (sebagaimana biasa),
sesungguhnya shalat itu diwajibkan
kepada orang-orang Mu’min dengan
tertentu waktunya” (Nisa’ 103)
“Berkatalah (hai Muhammad): Bila
kamu cinta kepada Allah maka ikutilah
aku, pasti Allah mencintai kamu dan
mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah
itu yang Maha Pengampun dan Yang
Maha Pengasih” (Ali Imran 30).
Hadits dari Thalhah bin ‘Ubaidillah
bahwa ada seorang laki-laki penduduk
Najed yang kusut rambut kepalanya,
datang kepada Rasulullah saw yang
kami dengar dengungan suaranya, tetapi
tidak memahami apa yang dikatakannya
sehingga setelah dekat rupanya ia
menanyakan tentang Islam; maka sabda
Rasulullah saw: “Shalat lima waktu
dalam sehari semalam”. Kata orang
tadi: “Adakah lagi kewajibanku selain
itu?” Jawab Nabi saw: “Tidak, kecuali
bila kamu hendak bertathawwu’ (shalat
sunat) (Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim).
Hadits dari Malik bin Huwairits r.a.
bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Shalatlah kamu sebagaimana kamu
melihat aku melakukan shalat”
(Diriwayatkan oleh Bukhari).
CARA SHALAT WAJIB
Bila kamu hendak menjalankan shalat,
maka bacalah: “Alla-hu Akbar” (1)
dengan ikhlas niyatmu karena Allah (2)
seraya mengangkat kedua belah
t a n g a n m u s e j u r u s b a h u m u ,
mensejajarkan ibu jarimu pada daun
telingamu (3) Lalu letakkan tangan
kananmu pada punggung telapak
tangan kirimu di atas dadamu (4) Lalu
bacalah do’a iftitah: “Alla-humma ba-
’id baini-wa baina khatha-ya-ya kama-
ba-’adta bainal masyriqi wal magrib.
Alla-humma naqqini-minal khatha-ya
kama-yunaqqats tsa-ubul abyadlu
minad danas. Alla-hummaghsil khatha-
ya-ya bilma-i wats tsalji wal barad” (5)
atau: “Wajjahtu wajhiya lilladzi-fatharas
sama- wa-ti wal ardla hani-fan musli
man wa ma- ana – minal musyriki-n.
inna shala-ti wa nusuki-wa mahya-ya wa
mama-ti-lilla-hi rabbil ‘a-lami-n. La-
syari-kalahu- wa bidza-lika umirtu wa
ana-awwalul muslimi-n (wa ana-minal
muslimi-n). Alla-humma antal maliku
la ila-ha illa-anta, anta rabbi- wa ana-
’abduka, dhalamtu nafsi-wa’taraftu
bidzambi – fagh firli-dzunu-bi- jami-
’an. La-yagh firudz dzunu-ba illa-anta,
wah dini-li ahsanil akhla-qi la- yahdi-li
ahsaniha – illa – anta. Washrif ‘anni-
sayyiaha – la-yash rifu ‘anni-sayyiaha-
illa-anta. Labbaika wa sa’daika wal
khairu kul luhu-fi-yadaika, wasysyarru
laisa ilaika. Ana-bika wa ilaika. Taba-
rakta wa ta’a-laita astaghfiruka wa atu-
bu ilaka (6). Lalu berdo’a mohon
perlindungan dengan membaca: “A’u-
dzu billa-hi minasysyaitha-nirraji-m” (7)
dan membaca: “Bismilla-hirrahma-
nirrahi-m”. (8) Lalu membaca surat
Fatihah (9) dan berdo’alah sesudah itu :
a-mi-n (10) Kemudian bacalah salah
satu surat daripada Quran (11) dengan
diperhatikan artinya dan dengan
perlahan-lahan (12). Kemudian
angkatlah kedua belah tanganmu seperti
dalam takbir permulaan (13) lalu
ruku’lah (14) dengan bertakbir
(15) seraya melempangkan (meratakan)
pung gungmu deng an leher mu,
memegang kedua lututmu dengan dua
belah tanganmu (16), sementara itu
berdo’a: -Subha-nakalla-humma
r a b b a n a - w a b i h a m d i k a l l a -
hummaghfirli-” (17), atau berdo’alah
dengan salah satu do’a dari Nabi saw.
(18). Kemudian angkatlah kepala untuk
i’tidal (19) dengan mengangkat kedua
belah tanganmu seperti dalam takbiratul
ihram dan berdo’alah: “Sami ‘alla-hu
liman hamidah dan bila sudah lurus
berdiri berdo’alah: “Rabbana- wa lakal
hamd” (20). Lalu sujudlah (21) dengan
bertakbir (22) letakkan kedua lututmu
dan jari kakimu di atas tanah, lalu kedua
tang anmu, kemudian dahi dan
hidungmu (23) dengan menghadapkan
ujung jari kakimu ke arah Qiblat serta
merenggangkan tanganmu daripada
kedua lambungmu dengan mengangkat
sikumu (24). Dalam bersujud itu
hendaklah kamu berdo’a: “Subha-na
k a l l a - h u m m a r a b b a n a - w a b i
hamdikalla-hummaghfirli-” (25) atau
berdo’alah dengan salah satu do’a
daripada Nabi saw. (26). Lalu angkatlah
kepalamu dengan bertakbir dan
duduklah tenang dengan berdo’a: “Alla-
hum maghfirli- warhamni-. wajburni-
wahdini- warzuqni-” (27). Lalu sujudlah
kedua kalinya dengan bertakbir dan
membaca “tasbih” seperti dalam sujud
yang pertama. Kemudian, angkatlah
kepalamu dengan bertakbir (28) dan
duduklah sebentar, lalu berdirilah
untuk raka’at yang kedua dengan
menekankan (tangan) pada tanah (29).
Dan kerjakakan dalam raka’at yang
kedua ini sebagaimana dalam raka’at
yang pertama, hanya tidak membaca
do’a “Iftitah” (30). Setelah selesai dari
sujud kedua kalinya, maka duduklah di
atas kaki kirimu dan tumpukan kaki
kananmu serta letakkanlah kedua
tanganmu di atas kedua lututmu.
Julurkanlah jari-jari tangan kirimu,
s e d a n g t a n g a n k a n a n m u
menggenggamkan jari kelingking, jari
manis dan jari telunjukmu dan
sentuhkan ibu jari pada jari tengah (31).
Duduk ini bukan dalam raka’at akhir.
Adapun duduk dalam raka’at akhir
maka caranya memajukan kaki kiri,
sedang kaki kanan bertumpu dan
dudukmu bertumpukan pantatmu (32).
Dan bacalah tasyahhud begini:
attahiyya-tu lilla-h washshalawa- tu
waththayyiba-t, assala-mu ‘alai ka
ayyuhan nabiyyu wa rahmatulla-hi wa
baraka-tuh. Assala-mu ‘alaina- wa ‘ala-
‘iba-dilla-hish sha-lihi-n. Asyhadu alla-
ila-ha illalla-h wa asyhadu anna
Muhammadan ‘abduhu- wa rasu-luh
(33). Lalu bacalah shalawat pada Nabi
saw.: “Alla-humma shalli ‘ala-
Muhammad wa’ala- a-li Muhammad,
kama- shallaita ‘ala- Ibra-hi-m wa a-li
Ibra-hi-m, wa ba-rik ‘ala- Muhammad
wa’ala- a-li Muhammad, kama- ba-rakta
‘ala- Ibra-hi-m wa a-li Ibra-hi-m, innaka
hami-dum maji-d. (34). Kemudian
b e r d o ’ a l a h k e p a d a Tu h a n m u ,
sekehendak hatimu yang lebih pendek
daripada do’a dalam tasyahhud
akhir(35). Kemudian berdirilah untuk
raka’at yang ketiga kalau shalatmu itu
tiga atau empat raka’at, dengan
bertakbir mengangkat tanganmu (36)
dan kerjakanlah dalam dua raka’at yang
akhir atau yang ketiga, seperti dalam dua
raka’at yang pertama, hanya kamu
cukup membaca Fatihah saja (37). Dan
sesudah raka’at yang akhir, bacalah
tasyahhud serta shalawat kepada Nabi
saw., lalu hendaklah berdo’a mohon
perlindungan dengan membaca: “Alla-
humma inni- a’u-dzu bika min ‘adza-bi
jahannama wa min ‘adza-bil qabri wa.
min fitnatil mahya- wal mama-ti wa min
syarri fitnatil masi-hid dajja-l (38).
Kemudian bersalamlah deng an
berpaling kekanan dan kekiri, yang
pertama sampai terlihat pipi kananmu
dan yang kedua sampai terlihat pipi
kirimu oleh orang yang d belakangmu
(39) sambil membaca: “Assala-mu
‘alaikum wa rahmatulla-hi wa ba- raka-
tuh.” (40). Jika shalatmu dua raka’at,
maka letak do’a isti’adzah (a’u-dzubilla-
h setelah membaca “shalawat kepada
Nabi”, sesudah raka’at yang kedua, lalu
bersalamlah sebagai yang tersebut (41).
Perhatian: Tidak ada perbedaan antara
pria dan wanita dalam cara melakukan
shalat sebagai yang tersebut di atas (44).
84 | Himpunan Putusan Majelis Tarjih
ALASAN (DALIL)
(1) Menurut hadits shahih yang
diriwayatkan oleh Abu Dawud dan
Tirmidzi: “Kunci (pembuka) shalat itu
wudlu, permulaannya takbir dan
penghabisannya salam”. Dan hadits
shahih dari Ibnu Majah yang
dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan
Ibnu Hibban dari hadits Abi Humaid
Sa’idi bahwa Rasulullah, jika shalat ia
menghadap ke Qiblat dan mengangkat
kedua belah tangannya dengan
membaca “Alla-hu Akbar”. Dan
m e m b a c a h a d i t s : “ B i l a k a m u
menjalankan shalat, takbirlah…”.
Seterusnya hadits. (Diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim).
(2) Menilik firman Allah: “Dan
t i d a k l a h m e r e k a d i p e r i n t a h
melainkan supaya menyembah
kepada Allah dengan ikhlas kepada-
Nya dalam menjalankan Agama”
(Al-Bayyinah: 5). Dan menurut hadits:
“Sesungguhnya (sahnya) amal itu
t e r g a n t u n g k e p a d a n i a t ” .
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim).
(3) Menurut hadits Ibnu ‘Umar bahwa
Nabi saw mengangkat kedua tangannya
selurus bahunya bila ia memulai shalat,
bila takbir hendak ruku’ dan bila
mengangkat kepalanya dari ruku’ ia
mengangkat kedua tangannya juga
dengan mengucapkan: “Sami ‘alla-hu
liman hamidah rabbana – wa
lakalhamd”, dan tidak menjalankan
demikian itu dalam (hendak) sujud.
(Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim).
Tersebut dalam Shahih Muslim dari
Malik bin Huwairits, bahwa Rasulullah
saw apabila takbir ia mengangkat kedua
tangannya sampai sejajar pada
telinganya, begitu juga bila hendak
ruku’, dan bila mengangkat kepalanya
dari ruku’ lalu mengucapkan: “Sami
‘alla-hu liman hamidah”, ia
mengerjakan demikian juga. Dan dalam
hadits riwayat Abu Dawud dari Wail
dengan kalimat : “Sehingga kedua
tangannya itu selempang dengan
bahunya serta ibu jarinya sejajar dengan
telinganya” (Tersebut dalam kitab Fath
juz II halaman 150).
(4) Menilik hadits shahih dari Wail yang
berkata: “Saya shalat bersama
Rasulullah saw. dan beliau meletakkan
tangan kanannya pada tangan kirinya di
atas dadanya” (Diriwayatkan oleh Ibnu
Khuzaimah dan dishahihkannya). Dan
hadits dari Wail juga menurut riwayat
Abu Dawud dan Nasai: “Lalu beliau
meletakkan tangan kanannya pada
punggung telapak tangan kirinya, serta
pergelangan dan lengannya. (Hadits ini
dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan
lainnya, sedang asalnya dalam Shahih
M u s l i m , d e n g a n t i d a k a d a
tambahannya, sebagaimana yang
tersebut dalam kitab Fath juz II halaman
152). Dan tersebut dalam Bukhari dari
Sahl bin Sa’ad yang berkata: “Bahwa
orang-orang diperintah supaya
meletakkan tangan kanannya pada
lengannya”.
(5) Menurut hadits Abu Hurairah
tentang bacaan itu (Diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim).
(6) Mengambil dari hadits ‘Ali r.a.
tentang bacaan itu (Diriwayatkan oleh
Muslim dalam Shahihnya).
(7) Menilik bunyi Al-Quran surat An-
Nahl ayat 98: “Apabila kamu akan
membaca Al-Quran hendaklah kamu
mohon perlindungan kepada Allah dari
Syetan yang terkutuk” (berdoa : “a’u-
dzu billa-hi minasy syaitha-nir raji-m”).
Dan menurut hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Sa’id Khudri, bahwa Nabi
s.a.w adalah membaca ta’awwudz itu
(sebagai yang tersebut dalam kitab
Muhadzdzab). Ibnul-Mundzir berkata:
bahwa diceritakan dari Nabi saw bahwa
sebelum membaca Al-Quran beliau
berdo’a: “A’u-dzu-billa-hi minasy
syaitha-nir raji-m” (Tersebut dalam
kitab Nailul – Authar juz 11).
(8) Mengingat hadits dari Nu’aim
Mujbir, katanya: “Saya bershalat di
belakang Abu Hurairah r.a. maka ia
membaca “Bismilla-hir-rahma-nirrahi-
m” lalu membaca induk Al-Quran
(Surat Fatihah) sehingga tatkala sampai
pada “Waladldla-lli-n” beliau membaca
“a-mi-n” dan orang-orangpun sama-
sama membaca “a-mi-n”. Begitu juga
tiap-tiap hendak sujud, mengucapkan:
“Alla-hu Akbar” dan bila berdiri dari
duduk dalam raka’at kedua beliau
mengucapkan: “Alla-hu Akbar”. Setelah
bersalam beliau berkata: “Demi Yang
menguasai diriku, sungguh shalatku
yang paling menyerupai dengan
s h a l a t n y a R a s u l u l l a h s a w ”
(Diriwayatkan oleh Nasai, Ibnu
Khuzaimah, Siraj, Ibnu Hibban dan
lainnya; tersebut dalam kitab Al-Fath
Juz II halaman 181, dengan katanya
bahwa inilah hadits yang paling sah,
tentang hal yang disebut).
(9) Mengingat hadits ‘Ubadah bin
Shamit bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Tidak sah salatnya orang yang tidak
membaca permulaan Kitab (Fatihah)”
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim). Ada lagi hadits ‘Ubadah
bahwa Rasulullah saw. shalat Shubuh
m a k a m e r a s a t e r g a n g g u o l e h
pembacaan ma’mum. Setelah selesai
beliau bersabda: “Aku melihat kamu
sama membaca di belakang imammu?”
Kata ‘Ubadah, bahwa kita semua
menjawab: “Ya Rasulullah, demi Allah
benar begitu!” Maka sabda Nabi:
“Jang anlah kamu meng er jakan
demikian, kecuali bacaan Fatihah.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Daraquthni
dan Baihaqi). Dan mengingat hadits
Anas, katanya bahwa Rasulullah saw.
bersabda: “Apakah kamu sekalian
membaca dalam shalatmu di belakang
imammu, padahal imam sedang
m e m b a c a ? J a n g a n l a h k a m u
mengerjakannya, hendaklah masing-
masing kamu membaca Fatihah
sekedar didengar olehnya sendiri”.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hiban).
(10) Mengingat hadits Abu Hurairah r.a.
bahwa Nabi saw. bersabda: “Apabila
imam membaca “a-mi-n” maka kamu
hendaklah pula membaca “a-mi-n”
karena sungguh barang siapa yang
bacaan “a-mi-n”nya bersamaan “a-mi-
n”nya Malaikat, tentulah diampuni
dosanya yang telah lalu”. Dan Hadits
dari Abu Hurairah juga, bahwa
Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah
seorang di antaramu membaca “a-mi-n
sedang Malaikat di langit pun membaca
“a-mi-n” pula dan bersamaan keduanya,
maka diampunilah ia dari dosanya yang
sudah-sudah.” (Diriwayatkan oleh
Bukhari, dan Muslim dan dalam hadits
riwayat Muslim ada tambahannya:
“Apabila salah seorang di antaramu
membaca dalam shalatnya”
(11) Menilik hadits Abu Qatadah bahwa
Nabi saw. dalam shalat Dhuhur pada
kedua raka’at permulaan (raka’at ke 1
dan ke 2), membaca induk Kitab
(Fatihah) dan dua surat, serta pada dua
raka’at lainnya (raka’at ke 3 dan ke 4)
membaca Fatihah saja, dan beliau
memperdengarkan kepada kami akan
bacaan ayat itu, dan pada raka’at ke 1
diperpanjang tidak seperti dalam raka’at
ke 2; demikian juga dalam shalat ‘Ashar
dan Shubuh. (Diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim).
(12) Karena firman Allah s.w.t.:
“A p a k a h m e r e k a i t u t i d a k
memperhatikan Al-Quran, ataukah
pada hati mereka ada tutupnya?”
(Muhammad: 24). Dan firman-Nya:
Dan bacalah Al-Quran itu dengan
perlahan-lahan” (Al-Muzzammil: 4).
(13) Karena hadits Ibnu ‘Umar tersebut
nomor 3 di atas.
(14) Karena firman Allah: “Hai orang-
orang mu’min, hendaklah kamu ruku’,
sujud dan sembahlah Tuhanmu serta
berbuatlah kebaikan, agar kamu
berbahagia” (Al-Hajj: 77). Dan menurut
hadits dari Abu Hurairah r.a. bahwa
Nabi saw. bersabda: “Apabila kamu
menjalankan shalat bertakbirlah, lalu
membaca sekedar dari Al-Quran, lalu
ruku’ sehingga tenang (tuma’ninah),
terus berdiri sampai lurus, kemudian
sujud sehingga tenang, kemudian
duduklah sampai tenang, lalu sujud lagi
sehingga tenang pula; kemudian
lakukanlah seperti itu dalam semua
shalatmu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim).
(15) Karena hadits Abu Hurairah r.a.
mengatakan bahwa Rasulullah saw.
kalau shalat ia bertakbir ketika berdiri ,
lalu bertakbir ketika ruku’, lalu
m e m b a c a “ S a m i ’ a l l a - h u l i m a n
h a m i d a h ” k e t i k a m e n g a n g k a t
punggungnya (bangun) dari ruku’, lalu
membaca selagi beliau berdiri:
“Rabbana- walakal hamd”, lalu takbir
tatkala hendak sujud, lalu bertakbir
tatkala hendak mengangkat kepala
(duduk antara dua sujud), lalu bertakbir
tatkala hendak berdiri; kemudian
melakukan itu dalam semua shalatnya
serta bertakbir tatkala berdiri dari
raka’at yang kedua sesudah duduk.
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim)
(16) Karena hadits dari Abu Humaid
Sa’idi r.a. yang berkata: “Saya lebih
cermat (hafal) daripada tentang shalat
Rasulullah saw. Kulihat apabila beliau
bertakbir, mengangkat kedua tangannya
sejurus dengan bahunya dan apabila
ruku’ meletakkan kedua tangannya pada
lututnya, lalu membungkukkan
punggungnya, lalu apabila mengangkat
kepalanya ia berdiri tegak sehingga
l u r u s l a h t i a p t u l a n g - t u l a n g
punggungnya seperti semula; lalu
apabila sujud, ia letakkan kedua telapak
tangannya pada tanah dengan tak
m e l e t a k k a n l e n g a n d a n t i d a k
merapatkan pada lambung, dan ujung-
ujung jari kakinya dihadapkan ke arah
Qiblat. Kemudian apabila duduk pada
raka’at kedua ia duduk di atas kaki
kirinya dan menumpukan kaki yang
kanan. Kemudian apabila duduk pada
raka’at yang terakhir ia majukan kaki
kirinya dan menumpukan kaki
kanannya serta duduk bertumpu pada
pantatnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari
dalam kitab Shahihnya).
(17) Menilik hadits ‘Aisyah r.a.
menceritakan, bahwa Rasulullah saw
dalam ruku’ dan sujudnya beliau
mengucapkan : subha-nakalla-humma
rabbana-wa bihamdikalla-hummagh
firli- …. seterusnya hadits. (Mmuttafaq
‘alaih atau diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim).
(18) Menurut hadits Hudzaifah,
katanya: “Aku bershalat bersama Nabi
saw., maka dalam ruku’nya beliau
membaca: “Subha-na rabbiyal adhi-m”
dan dalam sujudnya beliau membaca
“Subha-na Rabbiyal a’la- .... seterusnya
hadits. (Diriwayatkan oleh lima Ahli
Hadits dan dishahihkan oleh Tirmidzi).
Dan ada lagi hadits yang diriwayatkan
oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan
Nasai dari ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah
saw. dalam ruku’ dan sujudnya
membaca: “Subbu-hun quddu-sun
rabbul Mala-ikati war ru-h”. (Kedua
hadits ini tersebut dalam kitab Nailul
Authar juz 2).
(19) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut
no. 14 di atas.
(20) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut
nomor 15 di atas.
(21) Menurut ayat dan hadits dalam dalil
nomor 14.
(22) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut
nomor 15 di atas.
(23) Menurut hadits dari Ibnu ‘Abbas
yang mengatakan bahwa Rasulullah saw.
bersabda: “Aku diperintah supaya
bersujud di atas tujuh tulang: dahi –
seraya menunjuk pada hidungnya - di
atas dua belah tangan, kedua lutut dan di
atas kedua ujung kaki. (Muttafaq’alaih).
Ada lagi hadits dari Wail bin Hujr,
katanya: “Aku melihat Rasulullah saw.
bila bersujud meletakkan kedua lutut
sebelum kedua tangannya, dan apabila
bangkit mengangkat kedua tangannya
s e b e l u m k e d u a l u t u t n y a ” .
(Diriwayatkan oleh Lima Imam kecuali
Ahmad, sebagaimana yang tersebut
dalam kitab Nailul-Authar). Dan
menurut hadits dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah saw.
bersabda: “Kalau salah seorang
daripadamu bersujud maka janganlah
berdekam sebagaimana unta berdekam,
ialah meletakkan tangannya sebelum
lututnya”. (Tersebut dalam kitab
Taisirul -Wushul).
(24) Lihatlah hadits Abi Humaid
tersebut nomor 16. Dan mengingat
hadits dari Abdullah bin Malik bin
Buhainah, bahwa Nabi saw. jika shalat
m e r e n g g a n g k a n a n t a r a k e d u a
tangannya sehingga kelihatan putih
ketiaknya. (Muttafaq ‘alaih atau
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Dan dalam Shahih Muslim, bahwa
R a s u l u l l a h s aw. j i k a b e r s u j u d
merenggangkan kedua tangannya dari
ketiaknya, sehingga kelihatan putih
ketiaknya.
Dan hadits dari Bara’ bin ‘Azib dalam
Shahih Muslim juga, bahwa Rasulullah
saw. bersabda: “Bila kamu bersujud,
letakkanlah kedua belah telapak
tanganmu dan angkatlah kedua sikumu”
(25) Lihatlah hadits ‘Aisyah tersebut
nomor 17 di atas.
(26) Menilik hadits Hudzaifah dan
‘Aisyah r.a. tersebut nomor (18) di atas.
( 2 7 ) M e n g i n g a t h a d i t s y a n g
diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu
‘Abbas r.a. bahwa Nabi saw. di antara
kedua sujud mengucapkan; “Alla-
hummaghfirli- warhamni- wajburni-
wahdini- warzuqni-”. (Tersebut dalam
kitab Nailul-Authar).
(28) Periksalah hadits Abu Hurairah
tersebut nomor 14, hadits ‘Aisyah ra.
tersebut nomor 17 dan kedua hadits
tersebut nomor 18 di atas.
(29) Menilik hadits dari Malik bin
Huwairits mengatakan bahwa ia
mengetahui Nabi saw. shalat; maka,
apabila beliau berada dalam raka’at gasal
(ganjil, Jawa) dari shalatnya, beliau
sebelum berdiri, duduk dahulu sehingga
lurus duduknya. (Diriwayatkan oleh
Bukhari dalam Shahihnya)
Ada lain hadits oleh Bukhari juga,
apabila beliau mengangkat kepalanya
dari sujud yang kedua, duduk dan
menekan kepada tanah lalu berdiri.
(30) Periksalah hadits Abu Hurairah
tersebut nomor 14. Dan tersebut dalam
Shahih Muslim dari Abu Hurairah juga
bahwa jikalau Rasulullah saw. berdiri
dari raka’at kedua, beliau tidak diam,
melainkan memulai bacaan dengan:
“Alhamdu lilla-hi rabbil ‘a-lami-n”.
(31) Lihat hadits Abu Humaid Sa’idi
tersebut nomor 16 di atas. Dan yang
tersebut dalam Shahih Muslim dari Ibnu
‘Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. jika
duduk dalam tasyahhud, meletakkan
tangan kirinya di atas lutut kirinya dan
tangan kanan di atas lutut kanannya
serta menggenggamkannya seperti
membuat isyarat “lima puluh tiga”
dengan mengacungkan jari telunjuknya.
Dalam Shahih Muslim pula dari Zubair
ra. bahwa Rasulullah saw kalau duduk
berdo’a meletakkan tangan kanannya di
atas paha kanannya dan tangan kirinya
di atas paha kiri, serta mengacungkan
jari telunjuknya, dan telapak tangan
kirinya menggenggam lututnya.
(32) Periksalah hadits Humaid Sa’idi
dalam dalil nomor 16 di atas.
(33) Karena hadits dari Abdullah bin
Mas’ud r.a. bahwa tatkala kita shalat di
belakang Rasulullah saw. kita sama
membaca :
“Assala-mu ‘ala- Jibri-la wa Mi-ka-i-la
Assala-mu ‘ala- fula-n wa fula-n”; maka
berpalinglah Rasulullah saw. kepada kita
lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah itu
Yang Maha Selamat, maka apabila salah
seorang dari padamu shalat, hendaklah
berdo’a; Attahiy-ya-tulilla-h, wash
shala-wa-tu wath thayyiba-t” .... dan
seterusnya hadits. (Muttafaq ‘alaih).
Dalam kitab Fath (Juz II halaman 200)
dari Aswad dari Abdullah pula dengan
riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah,
b a h w a R a s u l u l l a h s a w. t e l a h
mengajarkan kepadaku “tasyahhud”
dalam pertengahan dan penghabisan
shalat.
(34) Dan dalam kitab Um (Juz I halaman
102) dari Ka’b bin ‘Ujrah, bahwa Nabi
saw. membaca shalawat: “Alla-humma
shalli ‘ala-Muhammad wa ‘ala-a-li
Muhammad kama- shallaita ‘ala- Ibra-
hi-ma wa a-li Ibra-hi-ma wa ba-rik ‘ala-
Muhammad wa ‘ala- a-li Muhammad
kama- ba-rakta ‘ala- Ibra-hi-ma wa ‘ala-
a-li Ibra- hi-ma innaka hami-dum maji-
d”. Dan dalam kitab Fath (Juz II
halaman 218); maka pada Said bin
Mansur dan Abu Bakar bin Abi Syaibah
dengan sanad (rangkaian) shahih
sampai kepada Abu Ahwash berkata:
Berkata ‘Abdullah: “Supaya orang itu
dalam shalatnya membaca tasyahhud
lalu membaca shalawat kepada Nabi
saw. kemudian berdo’a untuk dirinya
sendiri”
(35) Menilik yang tersebut dalam kitab
Nailul-Authar, dari Ibnu Mas’ud r.a.
katanya, bahwa Nabi Muhammad saw.
bersabda: “Bila kamu duduk dalam tiap-
tiap dua raka’at, bacalah: Attahiyya-tu
lilla-h, washshalawa-tu waththa-yyiba-t,
Assala-mu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu wa
rahmatulla-hi wa baraka-tuh, assala-mu
‘alaina- wa ‘ala- ‘iba-dilla-hish sha-lihi-n.
Asyhadu alla- ila-ha ilialla-h wa, asyhadu
anna Muhammadan ‘ab duhu- wa rasu-
luh”, lalu pilihlah do’a yang disukai dan
berdo’a-lah dengan itu kepada
Tuhannya. (Diriwayatkan oleh Ahmad
dan Nasai). Dan dalam kitab, Taisirul
Wushul dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwa
Rasulullah saw. jika duduk dalam dua
raka’at yang pertama seolah-olah ia
duduk di atas batu yang panas, hingga
segera berdiri.
(36) Dalam shahih Bukhari dari Nafi’
bahwa Ibnu ‘Umar kalau shalat
bertakbir serta mengangkat kedua
tangannya, kalau ruku’, mengangkat
kedua tangannya, apabila membaca
“ s a m i ’ a l l a - h u l i m a n h a m i d a h ”
mengangkatnya, dan jika berdiri dari
raka’at yang kedua, mengangkatnya
pula. (Hadits ini marfu’ (disambungkan)
oleh Ibnu ‘Umar kepada Nabi saw.) Dan
dalam riwayat Abu Dawud yang
dishahihkan oleh Bukhari perantaraan
Muharib bin Datstsar, dari Ibnu ‘Umar
juga, bahwa Nabi saw. apabila berdiri
dari raka’at yang kedua, bertakbir dan
mengangkat kedua tangannya. (Dan
hadits ini dikuatkan oleh hadits lain
sebagaimana yang diterangkan dalam
Kitab Fath Juz II halaman 15 1).
(37) Lihatlah hadits Abu Hurairah yang
tersebut pada nomor 14, dan dalam
Shahih Muslim dari Abu Hurairah yang
tersebut pada no. 30 dan hadits Abu
Qatadah yang tersebut pada no. 11 di
atas.
(38) Dalam Shahih Muslim dari Abu
H u r a i r a h m e n e r a n g k a n b a h wa
Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah
seorang dari padamu bertasyahhud,
hendaklah minta perlindungan kepada
*)
Allah dari empat perkara , dengan
berdo’a: “Alla-humma inni- a’u-
dzubika” ... dan seterusnya hadits.
Demikian pula dalam riwayat lain,
dengan kalimat: “Kalau selesai
ber tasyahhud akhir, hendaklah
meminta perlindungan dari empat
perkara ... seterusnya hadits.
(39) Periksalah dalil yang tersebut
nomor 1. Dan hadits dari Sa’d: “Saya
melihat Rasulullah saw. bersalam ke
arah kanan dan ke arah kirinya, sampai
kulihat putih pipinya”. (Diriwayatkan
oleh Muslim dalam Kitab Shahihnya).
(40) Menurut hadits Abu Dawud
dengan sanad shahih dari Wail bin Hujr,
katanya: “Aku shalat bersama-sama
*)
dan mati dan 4. Fitnah Dajjal
- Siksa jahanam, 2. Siksa kubur, 3, Fitnah hidup
Rasulullah saw. maka beliau bersalam
kekanannya dengan membaca: “Assala-
mu ‘alaikum wa rahmatulla-hi wa
baraka-tuh”. Dan kekirinya dengan
mengucapkan “Assalamu ‘alaikum wa
rahmatulla-hi wa baraka-tuh”.
(Tersebut dalam kitab Bulughul
Maram).
(41) Periksalah dalil nomor 38 dan
hadits Wail bin Hujr, nomor 40 tersebut
di atas.
(42) Sebab tidak ada hadits tentang hal
ini (perbedaan pria dan wanita dalam
bershalat). Benar telah diriwayatkan dari
Nabi s.a.w bahwa beliau menyuruh
wanita supaya merapatkan setengah
anggotanya kepada lainnya dalam
shalat, sebagaimana hadits Abu Dawud
dari Zaid bin Abi Habib, hanya saja
hadits ini mursal (sebagaimana yang
tersebut dalam kitab Subulus-Salam juz
pertama)
Penjelasan,
- Pada halaman 83 mengenai bunyi ungkapan :
(Kamu hanya cukup membaca Fatihah saja) dimaksudkan bahwa :
ungkapan tersebut mengarah pada pengertian:
a. Do’a Iftitah dibaca pada raka’at pertama saja.
b. Pada raka’at ketiga dan keempat tidak dibaca surat lain. - Pada halaman 96 mengenai dalil hadits no. 30, dengan ungkapan
Ia memulai bacaan dengan “Alhamdu lilla-hi rabbil ‘a-lami-n dan tidak
diam dimaksudkan bahwa :
Setelah orang berdiri dari raka’at pertama ia langsung tanpa do’a iftitah
– membaca Fatihah dengan pengertian bacaan Ta’awwudz dan
Basmalah juga, sejalan dengan putusan Congres ke 19 di Minangkabau
th. 1930 yang menyatakan bahwa ;
a. Bacaan Ta’awwudz dan Basmalah tetap seperti yang tersebut dalam
kitab ini, yakni dibaca dalam tiap raka’at (Lihat dalil yang tersebut
no. 7 dan 8, muka 87 dan 88).
b. Hal bacaan makmum tentang Fatihah ini wajib walaupun imam
membaca dengan keras atau tidak. (Lihat dalil yang tersebut di atas
no. 9 muka 88 dan 89).
Catatan :
ARTI UCAPAN, DO’A DAN BACAAN
Yang dimuat dalam kitab shalat ini
Takbir
Alla-hu akbar
Allah Maha Agung
Do’a Iftitah
Alla-humma ba-’id baini- wa
bainakhatha-ya –ya kama- ba-’adta
bainal masyriqi walmaghrib. Alla-
humma naqqini – minal khatha-ya –
kama-yunaqqats tsaubul abyadlu mi
naddanas. Alla-hummaghsil – khatha –
ya-ya bilma-i watstsalji wal barad.
Ya Allah, jauhkanlah antaraku dan antara segala kesalahanku, sebagaimana Kau
telah jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan
sebagaimana dibersihkannya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah segala
kesalahanku dengan air, salju dan air hujan beku.
atau :
Wajjahtu wajhiya lilladzi-fatharas
sama-wa-ti wal ardla hani-fan
musliman wa ma-ana minal musyriki-
n. Inna shala-ti wa nusuki-wamahya-ya
wa mama-ti- lilla-hi rabbil ‘a-lami-n.
Kitab Shalat 103|
La-syari-kalahu wa bidza-lika umirtu
wa ana awwalul muslimi-n (minal musli
mi-n). Alla-humma antal maliku la- ila-
ha illa-anta, anta rabbi- waana-
‘abduka. Dhalamtu nafsi-wa’ taraftu
bidzanbi- faghfirli- dzu nu-bi- jami-
’an. La- yaghfirudz dzunu-ba illa- anta.
Wahdini-liah sanil akhla-qi-, la-yahdi- li
ahsaniha-illa- anta. Washrif ‘an-ni-
sayyiaha-, la- yasshrifu ‘anni-sayyiaha-
illa- anta. Labbaika wa sa’daika wal
khairu kulluhu- fi-yadaika wasy syarru
laisa ilaika. Ana-bika wa ilaika. Taba-
rakta wa ta’a-laita astaghfiruka wa atu-
builaika.
Aku hadapkan wajahku, kehadapan yang Maha menjadikan semua langit dan
bumi, dengan tulus hati dan menyerah diri dan aku bukanlah golongan orang-
orang musyrik. Sungguh shalatku, ‘ibadahku, hidup dan matiku ada kepunyaan
Tuhan yang menguasai semua alam, yang tidak bersyarikat dan bandingannya,
maka dengan demikian aku diperintah dan aku menjadi orang yang mula-mula
berserahdiri (daripada orang-orang berserahdiri). Ya Allah, Engkaulah raja, yang
tidak ada yang disembah melainkan Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku inilah
hamba-Mu, aku telah berbuat aniaya pada diriku dan mengakui dosaku. Maka
ampunilah dosa-dosaku semua, yang mana tidak ada yang mengampuni dosa,
selain Engkau. Dan berilah petunjuk-Mu pada budi-pekerti yang bagus, yang
mana tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada bagusnya budi-pekerti
selain Engkau. Dan jauhkan daripadaku kelakuan yang jahat, yang mana tidak ada
yang dapat menjauhkannya kecuali Engkau. Aku junjung dan aku turutlah
perintah Engkau; sedang semua kebaikan itu ada pada tangan Engkau, dan
kejahatan itu tidak kepada Engkau. Aku dengan Engkau dan kembali kepada
104 | Himpunan Putusan Majelis Tarjih
Engkau. Engkaulah yang Maha Memberkati dan Maha Mulia, aku mohon ampun
dan bertobat pada Engkau.
Ta’aw-wudz
A’u-dzu billa-hi minasy syaitha-nirraji-m
Aku berlindung kepada Allah, dari syaithan yang terkutuk
Basmalah
Bismilla-hirrahma-nirrahi-m
Atas nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih
Fatihah
Alhamdu lilla-hi Rabbil ‘a-lami-n.
Arrahma-nir rahi-m. Ma-liki yau
middi-n. Iyya-ka na’budu wa iyya- ka
nasta ‘i-n. Ihdinash shira-thal mustaqi-
m, shira-thal ladzina an’amta ‘alaihim
ghairil magh dlu-bi ‘alaihim wa ladldla-
lli-n.
Segala puji bagi Allah yang pengasuh semua alam. Yang Maha Pemurah, Yang
Maha Pengasih, Yang mengadili pada hari Qiyamat. Hanya Engkau yang aku
sembah dan hanya Engkau yang aku mintai pertolongan. Tunjukkanlah aku
kepada jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang Engkau beri keni’matan, yang
tidak dimurkai dan tidak sama sesat.
Ta’min
A-mi-n
Kabulkanlah permohonanku !
Kitab Shalat 105|
Surat dari Quran
Wal ‘ashri innal insa-na lafi-khusrin.
Illal ladzi-na a-manu-wa ‘amilush sha-
liha-ti wa tawa-shaubil haqqi wa tawa-
shaubish shabri.
Demi selama waktu (demi waktu Ashar). Sungguh manusia itu dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan serta pesan memesan
kepada barang yang hak dan pesan-memesan kepada kesabaran.
Surat dari Quran
Araaitalladzi – yukadzdzibu bid di-n.
Fadza-likal ladzi – yadu’ul yati-m.
Wala-yahudldlu ‘ala-tha’a- mil miski-n.
Fawailul lil mushal li-n, alladzi-nahum
‘an shala-ti him sa-hu-n alladzi-
nahumyura-u- na wa yam na’u-nal ma-
u’-n.
Sudahkah Engkau lihat, orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang
menyia-nyiakan anak yatim, dan tidak mengajak untuk memberi makan orang
miskin. Maka siksa Wail kepada orang-orang yang shalat. Yang mana mereka lupa
akan shalatnya. Yang sama pura-pura saja. Dan yang tidak mau memberikan
pertolongan.
106 | Himpunan Putusan Majelis Tarjih
Surat Al-‘Ashr diturunkan
di Makkah.
Surat Al-Ma’un
diturunkan di Makkah.
Ayatnya ada 3
(tiga ayat).
Ayatnya ada 7
(tujuh ayat).
Surat dari Quran
Inna-a’thaina-kal kautsar. Fashalli
lirabbika wanhar. Inna sya-niaka huwal
abtar.
Sesungguhnya kami (Allah) telah memberikan kebaikan yang sangat banyak.
Maka shalatlah engkau untuk Tuhanmu dan sembelihlah (qurban). Sesungguhnya
musuhmu itulah yang hancur.
Surat dari Quran
Idza-ja-a nashrulla-hi wal fat hu. Wa
raaitan na-sa yad khulu-na fi-di-nilla-hi
afwa-jan fa sabbih bihamdi rabbika
wastaghfirhu innahu-ka na tawwa-ba-.
Apabila sudah datang pertolongan Allah dan waktu kemenangan. Dan engkau
lihat orang banyak berduyun-duyun masuk Agama Allah. Maka Maha Sucikanlah
dengan memuji Tuhanmu serta minta ampunlah. Sungguh Tuhan itu Maha
Mengampuni.
Kitab Shalat 107|
Surat Al-Kautsar
diturunkan di Makkah.
Surat An-Nashr
diturunkan di Makkah.
Ayatnya ada 3
(tiga ayat).
Ayatnya ada 3
(tiga ayat).
Surat dari Quran
Qul huwalla-hu ahad. Alla-hush
shamad. Lam yalid walam yu-lad.
Walam yakullahu-kufuwan ahad.
Kau katakanlah : Allah itu Esa. Allah itu yang dihajati. Tidak berputera dan tidak
diputerakan. Serta tidak ada bandingnya.
Tasbih dalam ruku’
Subha-nakalla-humma rabbana- wa
bihamdikalla-hummagh-firli-.
Maha Suci Engkau, ya Allah ! Dan dengan memuji kepada Engkau, ya Allah ! Aku
memohon ampun.
Atau
Subha-narabbiyal ‘adhi-m
Maha suci Tuhanku, Yang Maha Agung.
Atau
Subbu-hun quddu-sun rabbul mala-
ikati warru-h.
Maha Suci Maha Kudus, Tuhannya sekalian Malaikat dan Ruh (Jibril).
Tasbih dalam I’tidal
Sami’alla-hu liman hamidah, rabbana-
wa lakalhamd.
Surat Al-Ikhlas
diturunkan di Makkah.
Ayatnya ada 4
(empat ayat).
Semoga Tuhan Allah mendengar orang yang memujinya, Ya Tuhanku! Dan segala
puji itu bagi Engkau!
Atau
(setelah bacaan “sami’alla-hu liman hamidah”)
Alla-humma rabbana-lakalham du mil
as sama-wa-ti wa mil al ardli wa mil a
ma-syi’ta min syai in ba’du
Ya Allah, Tuhanku, bagi Kau segala puji, sepenuh semua langit, sepenuh bumi dan
sepenuh semua apa yang Kau sukai dari sesuatu apapun.
Atau
(setelah bacaan “sami’alla-hu liman hamidah”)
Rabbana- wa lakalhamdu ham dan
katsi-ran thayyiban muba-rakan fi-hi.
Ya Tuhanku, bagi Kaulah segala puji, pujian yang banyak, baik dan memberkati.
Tasbih dalam sujud
Subha-nakalla-humma rabbana-wa
bihamdikalla-hummaghfirli-
Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, Ya Allah, aku
memohon ampun.
Atau
Subha-na rabbiyal a’la-
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.
Atau
Kitab Shalat 109|
Subbu-hun quddu-sun rabbul mala-
ikati warru-h
*)
Maha Suci, Maha Kudus, Tuhannya sekalian Malaikat dan Ruh (Jibril).
Do’a waktu duduk antara dua sujud
Alla-hummaghfirli- warhamni-
wajburni- wahdini- warzuqni-
Ya Allah, ampunilah aku, belas kasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku dan
berilah rezeki kepadaku.
Bacaan Tasyahhud
Attahiyya-tu lilla-h washshalawa-tu
waththayyiba-t. Assala-mu ‘ala ika
ayyuhan nabiyyu wa rahmatul la-hi wa
baraka-tuh. Assala-mu ‘alaina- wa ‘ala-
‘iba-dilla-hish sha-lihi-n. Asyhadu alla-
ila-ha illalla-h wa asyhadu anna Muham
madan’abduhu wa rasu-luh.
Segala kehormatan, kebahagiaan dan kebagusan adalah kepunyaan Allah. Semoga
keselamatan bagi engkau, ya Nabi Muhammad, beserta rahmat dan kebahagiaan
Allah. Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita sekalian dan hamba-hamba
Allah Yang baik-baik. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku
bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan Utusan-Nya.
Do’a shalawat kepada Nabi
Alla-humma shalli ‘ala- Muhammad,
wa’ala- a-li Muhammad, ka ma-shal
*) Kudus = mutlak tidak campuran
laita ‘ala- lbra-hi-m wa a-li lbra-hi-m,
wa ba-rik ‘ala-Muhammad wa a-li
Muhammad, kama-ba-rakta ‘ala- Ibra-
hi-m wa a-Ii lbra-hi-m. Innaka hami-
dum maji-d.
Ya, Allah, limpahkan kemurahanMu kepada Muhammad dan keluarga-nya,
sebagaimana Kau telah limpahkan kepada Ibrahim dan keluarganya. Berkahilah
Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Kau telah berkahi Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnyalah Engkau Yang Maha Terpuji dan Maha Mulia.
Do’a sesudah Tasyahhud awwal
Alla-humma inni- dhalamtu nafsi-
dhulman katsi-ran, wa la-yaghfi rudz
dzunu-ba illa- antafagfirli- maghfiratan
min ‘indika warhamni- innaka antal
ghafu- rur rahi-m
Ya Allah, aku sudah banyak menganiaya diriku, dan tiada yang dapat mengampuni
dosa, selain Engkau. Maka ampunilah aku dan kasihanilah aku. Sesungguhnya
*)
Engkaulah yang Maha Pengampun dan Penyayang.
Do’a sesudah Tasyahhud akhir
Alla-humma inni- a’u-dzubika min
‘adza-bi jahannama wa min ‘adza-bil
qabri wa min fitnatil mahya-walmama-
tiwa min syarri fitnatil masi-hid dajja-l.
Kitab Shalat 111|
*) Mengambil dari hadits Abu Bakar, bahwa beliau minta diajar do’a dalam shalat, maka Rasulullah
menyuruhnya berdo’a: “Alla-humma inni- dhalamtu nafsi- ... seterusnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim).
Iman itu ada lebih 70 bagian atau cabang, maka yang
paling utamanya perkataan: “Tidak ada Tuhan
melainkan Allah” dan yang terendah menyingkirkan
bahaya dari jalanan. Dan “malu” itu termasuk dari
Iman. (Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu
Hurairah r.a.).
Ya Allah! Aku berlindung kepada Engkau dari siksa Jahanam dan dari siksa qubur,
begitu juga dari fitnah hidup dan mati, serta dari jahatnya fitnah Dajjal
(Pengembara yang dusta).
Salam
Assala-mu ‘alaikum wa rahmatulla-hi
wa baraka-tuh. Assala-mu ‘alaikum wa
rahmatulla-hi wa baraka-tuh
Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah.
Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah.

