putusan
Keputusan 229 2026 Fikih Takziah dan Kematian 02 Bab I Kesadaran Terhadap Kematian
Lampiran Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Nomor : 229/KEP/1.0/B/2026
Tanggal : 21 Zulkaidah 1447 H/8 Mei 2026 M
Tentang : Tanfidz Fikih Takziah dan Kematian Keputusan Musyawarah
Nasional XXVIII Tarjih Muhammadiyah
FIKIH TAKZIAH DAN KEMATIAN
BABI
KESADARAN TERHADAP KEMATIAN
A. Kehidupan yang Sementara
Banyak manusia yang tidak memahami makna sebenarnya kehidupan di dunia. Sebagian
mereka berlomba-lomba mendapatkan kesenangan hidup duniawi semata. Mereka meyakini hidup
adalah anugerah yang hanya sekali, karena itu harus dipenuhi dengan kesenangan dan kenikmatan.
Sedangkan sebagian lainnya memahami bahwa hidup hanya ibadah dan mengabdi kepada Allah
dengan tidak mempedulikan dunia. Kedua-duanya adalah pemahaman yang salah, karena Allah
menciptakan manusia
dengan
tujuan
pokok
pengabdian
kepada-Nya
dengan
cara memakmurkan
bumi,
atau
dengan
kata
lain,
memakmurkan bumi dalam rangka ibadah kepada
Allah.
Firman
Allah:
وَمَاllaGaliSوَالْإنسنdeihs)Y[الذاريات/65]
halkadiT ukA
nakatpicnem
nij
nad
aisunam
ilaucek
kutnu
hadabireb
uK-adapek
.S.O(
tayirazD-la
.]56
:)51(
TILS
89َ
مِن
MGْ
وَاْتَعْمَرَكُم
فِيها
ARE
6
تُوبُوا
yG
)lia
ٌرَبِي
ٌقَرِيب
مُجِيب
[هود/16]
aiD
halet umnakatpicnem
irad
imub
)hanat(
nad umnakidajnem .aynrumkamep
helO anerak
,uti
halnohom nanupma
,ayN-adapek
naidumek haltabotreb .ayN-adapek aynhuggnuseS uknahuTtagnas
dekat
lagi
Maha
Memperkenankan
(doa hamba-Nya)
(O.S.
Hud
(11):
.]16
Oleh
karena itulah
Allah
Swt.
memerintahkan umat
Islam
agar hidup seimbang, dunia
dan
akhirat,
sesuai dengan
firman-Nya:ْ
وَابْتَع
َفِيمَا
آنَاك
NAJ
ld
الآخِرَة
ilaG
gVَ
َنَصِيبَك
مِن
NAK
[القصص/77]
haliraC
adap apa gnay
halet nakharegunaid
hallA
umadapek
)alahap(
iregen ,tarihka
ipatet
janganlah
kamu
lupakan bagianmu
di
dunia
[Q.S.
al-Qashash
(28):
.177
Namun kebanyakan manusia
lalai
dari peringatan
Allah
di
atas.
Mereka lebih
mementingkan
kenikmatan dunia yang hanya
sesaat dan
lupa
terhadap
kehidupan akhirat yang kekal.
[17
وَأَبْقَى
)17(
[الأعلى/
Sad
35315
(16)
BAN ْ
َبَل
َتُؤْئِرُون
الْحَيَاة
Adapun
kamu mengutamakan kehidupan dunia,
padahal
kehidupan
akhirat
itu
lebih baik
dan lebih
kekal
[Q.S.
al-A’la
(87):
16-17].
Agar
manusia tidak hanya mementingkan dunia, maka mereka perlu memahami
dan
menyadari
bahwa kehidupan adalah ujian
agar mereka mempersembahkan amal terbaiknya, baik untuk
kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat. Firman
Allah Swt.:
(ala
alَ
الْمَوْتوَالْحَيَاة
AK
halْ
أيُكُم
خسن
Shaeَ
وَهُوgill
52
jadi
’
[الملك/2]
Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu,
siapa di antara
kamu
yang
lebih baik amalnya.
Dia
Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
(QS.
al-Mulk (67): 2].
B. Peringatan Allah Swt. tentang Kematian
Allah Swt. selalu memperingatkan dalam berbagai ayat-Nya bahwa kematian pasti akan datang
namun tidak diketahui waktunya. Jika ia datang tidak akan bisa dimundurkan dan dimajukan. Allah
Swt. berfirman:
lelga slo iItsO lad 518َلايسْتَأَخِروُونسَاعَةgYَيَستَقِمُون[الأعراف/43]
paiteS tamu iaynupmem laja satab( .)utkaw akiJ aynlaja ,abit akerem kadit tapad atnimemnaadnunep
sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan (O.S. al-A’ raf (7): .]43
ROنفس5Aالمؤت!ohsyllaLأَخورَكُميومkaoS akaMخزحعَنNAJَوَأَدخِلالْجَنةقدفاNAY ilaBgaLمتاغالْخْرُور [آلعمران/581]
paiteS gnay awaynreb naka nakasarem .itam aynaH adap irah tamaiK halajas nakirebid nagned
anrupmes .umnasalab apaiS gnay nakhuajid irad akaren nad nakkusamid ek malad ,agrus huggnus
aid helorepmem .nagnanemek napudiheK ainud halaynah nagnanesek gnay ayadrepmem .S.Q[ ilA
Imran (3): .]581
laLْتكوثوايُدرِكْكُمْالمؤثوَلَوhgSAبُرُوجAES[النساء/87]
iD anam nup umak ,adareb naitamek naka ,umignatadnem nupiksem umak adareb malad gnetneb
yang kukuh [Q.S. al-Nisa’ (4): .]87
hallA
.twS
nad
ayN-lusaR
nakirebmem
taisaw
adapek
gnaro
gnay namireb
raga
nagnaj
iapmas
itam
ilaucek
malad naadaek
milsum
haresreb(
.)irid
igiG yV hda eG ia | lg | lap llaGslaGْإِلّاوَأَنتُمhagO[آلعمران/201]
iahaW gnaro-gnaro gnay
,namireb
halawkatreb
adapek
hallA
nagned
raneb-ranebes awkat-adapek
Nya
dan
janganlah
kamu
mati
kecuali
dalam keadaan
muslim
(@.S.
Ali
Imran
(3):
.1201
tayA
ini
nakhatniremem
raga
gnaroes
nimkum
ulales naktakgninem naawkatek
nad
,nanamiek
aggnihes
akitek
gnatad
naitamek akerem malad
naadaek
.malsI
unbI
,ristaK
anamiagabes
pitukid
helo
lA
,hkiayS-la
:nakatagnem
“Beribadah
kepada
Allah
adalah dengan taat
menjalankan perintah-Nya
dan
menjauhi larangan-
Nya.
Inilah
agama
Islam karena makna Islam
adalah pasrah dan menyerah
diri
kepada
Allah,
s1
yang tentunya mengandung
setinggi-tingginya
keterikatan,
perendahan
diri
dan
ketundukan”.
C.
Hakikat
Kematian
Al-Maut,
dalam bahasa
Arab (selanjutnya
disebut maut), artinya mati,
yaitu
terpisahnya
roh dari
jasad,
atau
keluarnya
roh dari
badan atau
jasmani. Maut
adalah
akhir
dari
kehidupan
dan
sekaligus
awal kehidupan
(yang baru).
Jadi
maut bukan kesudahan, kehancuran
atau
kemusnahan.
Secara
medis
terdapat empat penyebab
terjadinya kematian
pada
diri
manusia,
yaitu:
berhentinya pernapasan,
matinya jaringan
otak,
tidak berdenyutnya jantung,
dan
adanya pembusukan pada
jaringan
tertentu
oleh bakteri.
(Tabrani,
1985).
Ilmu kedokteran modern telah mengembangkan cara untuk menentukan waktu kematian, di
antaranya dengan merekam kegiatan otak
dengan menggunakan alat yang disebut
elektroensefalogram
(EEG).
Bila
gambar
EEG
kelihatan datar, berarti semua
aktivitas otak dianggap
telah berhenti, maka orang yang bersangkutan dinyatakan mati.
Tetapi, seringkali orang dalam
keadaan demikian masih bisa dihidupkan lagi, misalnya dalam kasus hipotermia atau
overdosis
obat,
reanimation dan resuscitation dewasa
ini
sering dilakukan. Dalam dunia kedokteran dikenal adanya
kematian
klinis, yakni keadaan yang di situ kegiatan pernafasan, jantung dan reaksi otak kelihatan
1
Abdurrahman bin Hasan Al al-Syaikh, Fath al-Majid Syarh Kitab al-Tauhid, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
t.t.), hlm. 14.
berhenti, tetapi resuscitation tidak dikesampingkan. Waktu untuk resuscitation umumnya lima menit,
dan di dalam kasus istimewa seperti hipotermia diberi waktu tiga puluh menit. Tetapi lewat dari waktu
itu akan terjadi kerusakan otak secara total dan diikuti dengan kematian biologis, yakni saat ketika
sekurang-kurangnya otak sudah kehilangan fungsinya secara permanen dan tidak dapat dihidupkan
kembali. Kematian biologis bersifat definitif: kehilangan fungsi vital dan rusaknya semua organ dan
jaringan yang tidak dapat direparasi lagi. Oleh karena itu, di dalam Peraturan Pemerintah No. 18
Tahun 1981, Bab 1 Pasal 1g disebutkan bahwa meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini
oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernapasan, dan atau denyut jantung
seseorang telah berhenti.?
Allah Swt. menegaskan bahwa kehidupan manusia diawali dari kematian (ketiadaan), lalu Allah
menciptakannya untuk hidup di dunia, kemudian Allah mematikannya lagi dan setelah itu dihidupkan
kembali agar kembali kepada-Nya. Firman Allah Swt.:
َكيفتَكْفْرُونAUK lag akiFyliَثمiAdeSيُحييكُمAAَنُرْجَعُون[البقرة/82]
anamiagaB umak rakgni adapek ,hallA lahadap umak )aynidat( ,itam ulal aiD nakpudihgnem,umak
naidumek aiD naka nakitamem ,umak aiD naka nakpudihgnem umak ,ilabmek nad halayN-adapek
kamu dikembalikan? [Q.S. al-Bagarah (2): .]82
Kematian yang dimaksud di sini bukan kematian pertama (sebelum adanya manusia), namun
kematian setelah manusia hidup di dunia. Kematian ini hanyalah sekali, kematian yang mengantarkan
manusia pada kehidupan abadi untuk kembali kepada Sang Pencipta, Allah Swt. Hal ini digambarkan
dalam firman-Nya:
َلايَدُوقُون)Y lagaGdaَالْمَوْتَةْالأولىوَوَقَاهُمediالْجَحِيم[الدخان/65]
akereM kadit naka nakasarem itam id aynmalad niales naitamek amatrep id( .)ainud hallA
melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim. (@O.S. al-Dukhan (44): .]65
.D
lakeB ujuneM naitameK
Kebanyakan
manusia tidak menjadikan kematian
sebagai peringatan agar
bersiap-siap menuju
kehidupan
abadi di akhirat.
Hal ini
sebagaimana
Allah
Swt.
menyinggung perilaku
orang
kafir
dalam
Al-Qur’an
sebagai
berikut.
atG ac lad IYABoGَْوَأَكُنَمِنالصّالِحِين[المنافقون/01]
aY
,uknahuT
aynarikes uakgnE
nanekreb adnunem
uk-)naitamek( tikides utkaw ,igal
uka nakatapad
bersedekah dan aku akan termasuk
orang-orang saleh
[Q.S.
al-Munafigun
(63):
.]01
Cara yang bijaksana
adalah mempersiapkan diri
untuk menghadapi perhitungan amal selama di
dunia, bukan mengabaikannya
dengan
ingkar
dan
kelalaian. Untuk
itu hendaknya membekali diri
dari
perkara-perkara berikut ini.
- Berbekal
Takwa
Sebaik-baik bekal untuk menuju akhirat adalah takwa, yaitu menjuhkan diri dari siksaan
dan kemurkaan Allah Swt. yang dikhawatirkan akan menimpanya, dengan melakukan ketaatan
dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya. Allah Swt. berfirman:
bG3133951َخَيْرyc lis 5 oc ltSINيآأوليAA[البقرة/791]
2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat
Anatomis serta Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia,
id/Downl 794/PP%20NO0%2018%20TH%201 df, diakses pada 20 Januari 2025.
Berbekallah
karena
sesungguhnya
sebaik-baik
bekal
adalah
takwa.
Bertakwalah kepada-Ku
wahai
orang-orang
yang
mempunyai
akal
sehat
[Q.S.
al-Bagarah
(2):
197].
Tidak ada bekal hakiki yang manfaatnya abadi bagi pelakunya di dunia dan akhirat selain
ketakwaan. Ketakwaan adalah bekal yang membawa kepada kenikmatan yang sempurna dan
abadi. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, maka dia termasuk orang yang terputus dari
kebaikan, akan menjadi sasaran setiap kejelekan, dan terhalangi untuk masuk surga bersama
orang-orang yang bertakwa.
2. Memperbanyak Amal Saleh
Dunia adalah tempat beramal saleh. Siapa saja yang selama hidupnya banyak melakukan
amal saleh, niscaya Allah Swt. akan memberikan balasan surga baginya. Allah Swt. berfirman:ْ
َمَنعَمِلnilaLْمِنSSأؤyhIBAٌمُؤْمِنdA ay gA AysiA sySLAبأخسّنمَاَكَانُوايَعْملُون[النحل/79]
apaiS gnay nakajregnem ,nakijabek kiab ikal-ikal nupuam ,naupmerep nakgnades aid gnaroes
,nimkum ,huggnus imaK itsap naka nakireb aynadapek napudihek gnay kiab nad naka imaKireb
balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan [Q.S. al-Nahl
(16): 97].
3. Taubat Nasuha
Bersegera untuk bertaubat dari dosa adalah wajib, tidak boleh diakhirkan, ketika diakhirkan
ia telah bermaksiat. Ibnul Qayyim menyatakan:
“Hakikat taubat adalah menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkannya seketika itu juga,
dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi kembali di masa yang akan datang” (al-Jauziyah,
2006).
Allah
Swt.
berfirman:
وَتُوبُواإلىاللهجَمِيعاgLَالمُؤمِنُونatepَتُفلِحُون[النور/13]
haltabotreB
umak aumes adapek
,hallA iahaw gnaro-gnaro gnay
,namireb
raga
umak
gnutnureb
(O.S.
al-Nur
(24):
31].
DENT تَحْتِها Ge تخِري tiaْ وَيُدْخِلَكُم Kiu نَصُوحاْعَسىْرَبُكُمَأنْ يُكَْرعَنْكُم Aa آمَنُواتُوبُواإلىالله Gall (al
[التحريم/8]
Wahai orang-orang yang
beriman,
bertobatlah kepada
Allah
dengan tobat
yang
semurni-
murninya.
Mudah-mudahan Tuhanmu akan
menghapus
kesalahan-kesalahanmu
dan
memasukkanmu
ke
dalam surga
yang
mengalir di
bawahnya sungai-sungai
...
[Q.S. al-Tahrim
(66):
8].
3Muhammad Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Madarij al-Salikin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1996),
|:
199.

