putusan
Keputusan Tarjih Ke 27 Pedoman Hisab Muhammadiyah Bab II Arah Kiblat
BAB II
ARAH KIBLAT
A. Pengerian Kiblat
Kata “kiblat” berasal dari kata Arab al-qiblah (القبلة) yang secara harfiah berarti
arah (al-jihah),1 dan merupakan bentuk fi‘lah dari kata al-muqābalah (المقابلة) sehingga
berarti ‘keadaan menghadap.’2 Dalam ungkapan Arab dikatakan ما لكالمه قبلة أي جهة
artinya ‘ucapannya tidak punya kiblat, maksudnya tidak punya arah’; أين قبلتك ‘artinya
ke mana arahmu?’; وما له قبلة وال دِبْرة artinya ‘dia tidak memiliki arah mengenai
permasalahannya.’3 Al-Manāwī (w. 1031/1621) dalam kitabnya at-Tauqīf ‘alā
Muhimmāt at-Ta‘ārīf menjelaskan bahwa “kiblat” adalah segala sesuatu yang
ditempatkan di muka,4 atau sesuatu yang kita menghadap kepadanya. Jadi secara
harfiah kiblat mempunyai pengertian arah ke mana orang menghadap. Oleh karena
itu, Kakbah disebut sebagai kiblat karena ia menjadi arah yang kepadanya orang
harus menghadap dalam mengerjakan salat.5
Penentuan arah kiblat pada hakekatnya adalah menentukan posisi Kakbah dari
suatu tempat di permukaan bumi, atau sebaliknya. Tempat-tempat yang dekat dengan
Kakbah di mana orang menunaikan salat di tempat itu dapat langsung menyaksikan
Kakbah tentu tidak perlu menentukan arah kiblatnya terlebih dahulu. Baik tempat
salat maupun Kakbah berada di permukaan bumi, padahal bumi bentuknya bulat mirip
bola, maka dalam menentukan posisi Kakbah dari tempat salat itu harus diberlakukan
ketentuan-ketentuan, konsep-konsep, atau hukum-hukum yang berlaku pada bola.
Arah dari suatu tempat ke tempat lain di permukaan bumi ditunjukkan oleh busur
lingkaran terpendek yang melalui atau menghubungkan kedua tempat tersebut. Busur
lingkaran yang dapat menghubungkan dua tempat di permukaan bola, termasuk di
permukaan bumi, ada dua macam, lingkaran besar dan lingkaran kecil. Busur dengan
jarak yang terpendek adalah busur yang melalui lingkaran besar.
Dengan penjelasan di atas dapat dinyatakan bahwa arah kiblat adalah arah yang
ditunjukkan oleh busur lingkaran besar pada permukaan bumi yang menghubungkan
tempat salat dengan Kakbah.
1 Ibn Manẓūr, Lisān al-‘Arab (Beirut: Dār Ṣādir, t.t.), V: 72.
2 An-Nawawī, Tahżīb al-Asmā’ (Beirut: Dār al-Fikr, 1996), III: 259.
3 Ibid.; dan Ibrahīm Muṣṭafā, al-Mu‘jam al-Waṣīṭ (Kairo: Dār ad-Da‘wah, t.t.), II: 713.
4 Al-Manāwī, at-Tauqīf ‘alā Muhimmat at-Ta‘ārīf (Beirut: Dār al-Fikr al-Mu‘āṣir, Damaskus: Dār
al-Fikr, 1410 H), 5: 172.
5 Al-Fairuzābādī, al-Qāmūs al-Muḥīṭ (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, t.t.), h. 1350.
B. Dalil-dalil yang berkaitan dengan Arah kiblat
- Al-Quran َ
قَد ْ نَرَى تَقَلُّب َ وَجْهِك َ ف ِ السَّمَاء ِ فَلَنُوَلَِّنَّك َ قِبْلَة ً تَرْضَاهَا فَوَل ِّ وَجْهَك َ شَطْر َ
ُ ِإَون َّ الَِّين َ أُوتُوا الْكِتَاب الْمَسْجِد ِ الَْرَام ِ وَحَيْث ُ مَا كُنتُم ْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُم ْ شَطْرَه
.َ لََعْلَمُون َ أَنَّه ُ الَْق ُّ مِن ْ رَبِّهِم ْ وَمَا الل َُّ بِغَافِل ٍ عَمَّا يَعْمَلُون
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami
akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.
Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat
dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar
dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan» [QS
al-Baqarah (2): 144].
وَمِن ْ حَيْث ُ خَرَجْت َ فَوَل ِّ وَجْهَك َ شَطْر َ الْمَسْجِد ِ الَْرَام ِ وَإِنَّه ُ لَلْحَق ُّ مِن ْ رَبِّك َ وَمَا
.]144 اهلل ُ بِغَافِل ٍ عَمَّا تَعْمَلُون َ [ابلقرة (2):
وَمِن ْ حَيْث ُ خَرَجْت َ فَوَل ِّ وَجْهَك َ شَطْر َ الْمَسْجِد ِ الَْرَام ِ وَحَيْث ُ مَا كُنتُم ْ فَوَلُّوا َ
وُجُوهَكُم ْ شَطْرَه ُ لَِال َّ يَكُون َ لِلنَّاس ِ عَلَيْكُم ْ حُجَّة ٌ إِال َّ الَِّين َ ظَلَمُوا مِنْهُم ْ فَال
.]150 تَْشَوْهُم ْ وَاخْشَوْن ِ وَِألُتِم َّ نِعْمَت ِ عَلَيْكُم ْ وَلَعَلَّكُم ْ تَهْتَدُون َ [ابلقرة (2):
Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram;
sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah
sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan [QS al-Baqarah (2): 144].
Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.
Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya,
agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di
antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
Dan agar Kusempurnakan ni›mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk
[QS al-Baqarah (2): 150]. - Hadis َ
حَدَّثَنَا مَُمَّد ُ بْن ُ عَمْرِو بْن ِ عَطَاء ٍ قَال َ سَمِعْت ُ أَبَا حَُيْد ٍ السَّاعِدِي َّ يَقُول ُ كَن ِ
رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ إِذَا قَام َ إِل َ الصَّالَة ِ اسْتَقْبَل َ الْقِبْلَة َ وَرَفَع َ يَدَيْه
]رواه ابن ماجه[َُ وَقَال َ الل َُّ أَكْب
Muhammad bin Amr bin ‘Aṭā’ ia berkata saya mendengar Abu Humaid as-Sa’idi berkata
bahwa jika Rasulullah akan mendirikan salat, beliau menghadap kiblat, mengangkat
tangan, lalu mengaucapkan Allah akbar” [HR Ibn Mājah]. ْ
أن َّ رَسُول َ الل َِّ قَال َ إِذَا قُمْت َ إِل َ الصَّالَة ِ فَأَسْبِغ... ُ عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه
.]رواه ابلخاري ومسلم[... ِّْ الْوُضُوء َ ثُم َّ اسْتَقْبِل ْ الْقِبْلَة َ فَكَب
Dari Abū Hurairah r.a. ... [diriwayatkan] bahwasanya Rasulullah saw bersabda apabila
kamu hendak salat maka sempurnakanlah wuduk kemudian menghadap kiblat lalu
takbir.... [HR al-Bukhārī dan Muslim].
Berdasarkan ayat-ayat al-Quran maupun hadis di atas, para ulama sepakat bahwa
menghadap ke Baitullah hukumnya wajib bagi orang yang melakukan salat.6
C. Penentuan Arah Kiblat
- Geometri Arah Kiblat
Sebagaimana disebutkan di muka, penentuan arah kiblat adalah penentuan
arah di permukaan bumi. Karena bumi berbentuk bola berarti menentukan arah
di permukaan bola. Jika titik Kakbah dan titik tempat salat dihubungkan dengan
titik Kutub Utara melalui busur-busur lingkaran besar, maka akan terbentuklah
sebuah segitiga dengan tiga titik sudutnya: Kutub Utara, tempat salat, dan Kakbah;
sedang sisi-sisinya adalah busur meridian Kakbah, meridian tempat salat, dan busur
arah kiblat. Segitiga yang terbentuk itu adalah segitiga bola karena ketiga sisinya
merupakan busur dari lingkaran besar. Karena segitiga bola ini terkait dengan arah
kiblat maka katakanlah Segitiga Bola Arah Kiblat. Perhatikan gambar berikut,
6 Dalam fikih dinyatakan bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sah salat yang tidak dapat
ditawar-tawar, kecuali dalam beberapa hal. Selengkapnya baca Ibn Rusyd. Bidāyat al-Mijtahid wa
Nihāyat al-Muqtaṣid (Beirut: Dār al-Fikr, t.t), I : 80. Baca juga Wahbah az-Zuaḥilī. At-Tafsīr al-Munīr,
cet. ke-1 (Beirut : Dār al-Fikr, 1991), II : 24.
Segitiga Bola Arah Kiblat
KS
C
B
A
Katulistiwa
a
b
c
P
Segitiga ABC adalah Segitiga
Bola Arah Kiblat
P = Titik Pusat Bumi
A = Ka’bah
B = Tempat Shalat
C = Kutub Utara
G = Greenwich
a = Meridian Tempat
b = Meridian Ka’bah
c = Busur Arah Kiblat
BK = Lintang Tempat (φT )
RA = Lintang Ka’bah (φK )
SR (∠ SCR) = Bujur Ka’bah (λK)
SK (∠ SCK) = Bujur Tempat (λT)
∠ ABC = Sudut Arah Kiblat
K
R
G
S
Sebagaimana terlihat pada gambar di atas, arah kiblat dimaksud adalah arah
busur BA. Bagaimana cara mengetahui arah busur BA tersebut? Caranya adalah
dengan mengetahui terlebih dahulu sudut ABC. Sudut ABC ini adalah sudut Arah
Kiblat. Perhatikan gambar di bawah,
Sudut Arah Kiblat
KS
C
B
A
Katulistiwa
a
b
c
P
∠ ABC = Sudut Arah Kiblat
Dengan diketahui Lintang
dan Bujur Tempat serta
Lintang dan Bujur Ka’bah,
maka :
a = 90º - φT
b = 90º - φK
∠ C = /λT - λK/
K
R
G
S
Untuk menghitung besaran sudut ABC dapat digunakan rumus:
cotan b sin a
cotan B = - cos a cotan C
sin C
a = 90° – φT
b = 90° – φK
C = / λT - λK/
Dengan diketahui besaran sudut ABC maka diketahuilah arah busur BA, karena
busur BC menunjuk arah utara selatan sejati.
2) Cara Mengukur Arah Kiblat
Secara historis cara penentuan arah kiblat di Indonesia mengalami perkembangan
sesuai dengan kualitas dan kapasitas intelektual di kalangan kaum muslimin.
Perkembangan penentuan arah kiblat ini dapat dilihat dari perubahan besar yang
dilakukan Muhammad Arsyad al-Banjari7 dan K.H. Ahmad Dahlan8 atau dapat
dilihat pula dari alat-alat yang dipergunakan untuk mengukurnya, seperti miqyas,
tongkat istiwa, rubu‘ mujayyab, kompas, dan teodolit. Selain itu sistem perhitungan
yang dipergunakan mengalami perkembangan pula, baik mengenai data koordinat
maupun mengenai sistem ilmu ukurnya.
Pada saat ini metode yang sering digunakan dalam pengukuran arah kiblat ada
tiga macam, yakni: (1) memanfaatkan bayang-bayang kiblat, (2) memanfaatkan arah
utara geografis (true north), dan (3) mengamati/ memperhatikan ketika matahari
tepat berada di atas Kakbah. Bila menggunakan metode bayang-bayang kiblat maka
langkah-langkah yang perlu ditempuh, yaitu: (a) menghitung arah kiblat suatu tempat,
(b) menghitung saat kapan matahari membuat bayang-bayang setiap benda (tegak)
mengarah persis ke Kakbah, dan (c) mengamati bayang-bayang benda tegak pada
saat seperti dimaksud poin b. Kemudian mengabadikan bayang-bayang tersebut
sebagai arah kiblat.
Adapun jika menggunakan metode memanfaatkan arah geografis langkah-
langkah yang perlu ditempuh, yaitu: (a) menghitung arah kiblat suatu tempat,
(b) menentukan arah utara geografis (baca : true north) dengan bantuan kompas,
tongkat istiwa’ atau teodolit, dan (c) mengukur/ menarik arah kiblat berdasarkan
7 Ahli falak dilahirkan di Kampung Lok Gabang (dekat Martapura) pada malam Kamis 15 Safar
1122 H bertepatan tanggal 19 Maret 1710 M, dan meninggal dunia pada malam Selasa 6 Syawal 1227
H /13 Oktober 1812 M di Kalampayan, Astambul, Banjar, Kalimantan Selatan. Syekh Muhammad
Arsyad merupakan salah seorang tokoh falak Indonesia yang melakukan pembaharuan dan melakukan
pembetulan arah kiblat. Pembetulan arah kiblat yang ia lakukan diantaranya ketika tiba di masjid
Jembatan Lima Betawi (Jakarta). Pada saat itu ia melihat arah kiblat masjid Jembatan Lima terlalu
miring ke kiri. Dengan bekal ilmu falak yang ia miliki arah kiblat masjid tersebut dipalingkan ke kanan
sebanyak 25 derajat. Berdasarkan data sejarah yang ada kejadian ini terjadi pada tanggal 4 Safar 1186
H /7 Mei 1772 M. Selengkapnya baca Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
(Martapura : Sekretariat Madrasah “Sullamul Ulum,” t.t). Baca pula Noorhaidi, Muhammad Arshad
Al-Banjari and the Discourse of Islamization in the Banjar Sultanate, (Leiden: Leiden University,
1999). Perhatikan pula “Muhammad Arsyad Al-Banjari Ulama Besar Kalsel Ahli Astronomi”, dimuat
dalam DIALOG JUM’AT, tabloid REPUBLIKA, Jum’at 13 Juni 2003, h. 10.
8 Menurut ilmu hisab arah kiblat masjid besar Kauman Yogyakarta saat itu mengarah ke Ethiopia.
Lihat Bidran Hadi. “Muhammadiyah dalam Menetapkan Awal Ramadlan, Syawal, dan Zulhijjah”,
makalah disampaikan pada Seminar Sehari Mengenal Hisab dan Rukyat yang diselenggarakan Yayasan
PTDI dan Badan Hisab dan Rukyat Depag RI pada tanggal 19 Agustus 1993 di Jakarta, p. 1. Lihat pula
Karel A. Steenbrink. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, cet. I (Jakarta : Bulan
Bintang, 1984), p. 145.
arah geografis seperti dimaksud pada poin (b) dengan menggunakan busur derajat,
rubu’, segitiga, atau teodolit.
Data yang dibutuhkan dalam proses perhitungan arah kiblat, antara lain: lintang
tempat (φ), bujur tempat (λ), lintang Kakbah (φk) dan bujur Kakbah (λk). Untuk
lintang dan bujur tempat telah tersedia.
Sementara itu, metode ketiga dapat dilakukan oleh setiap orang dan merupakan
cara yang paling sederhana dan bebas hambatan.9 Metode ketiga ini dapat dilakukan,
tanpa harus mengetahui koordinat (lintang dan bujur) tempat yang akan dicari arah
kiblatnya, tetapi cukup menunggu kapam saatnya posisi matahari tepat berada di
atas Kakbah.
Posisi matahari tepat berada di atas Kakbah akan terjadi ketika lintang Kakbah sama
dengan deklinasi matahari, pada saat itu matahari berkulminasi tepat di atas Kakbah.
Kesempatan tersebut datang pada setiap tanggal 27 Mei (Kadang-kadang terjadi pada
tanggal 28 Mei untuk tahun kabisat) pukul 12.18 waktu Mekah atau 09.18 UT dan
tanggal 16 Juli (tahun pendek) atau 15 Juli (tahun kabisat) pukul 12.27 waktu Mekah
atau 09.27 UT.
Bila waktu Mekah dikonversi menjadi waktu Indonesia Barat (WIB) maka
harus ditambah dengan 4 jam sama dengan pukul 16.18 WIB dan 16.27 WIB.10
Oleh karena itu, setiap tanggal 27 Mei (untuk tahun pendek) atau 28 Mei (untuk
tahun kabisat) pukul 16.18 WIB dapat mengecek arah kiblat dengan mengandalkan
bayangan matahari yang tengah berada di atas Kakbah. Begitu pula setiap tanggal
16 Juli (untuk tahun pendek) atau 15 Juli (untuk tahun kabisat) juga dapat dilakukan
pengecekan arah kiblat dengan metode tersebut.
Dalam praktiknya, tidak perlu langkah yang rumit untuk menentukan arah kiblat
berdasar jatuhnya bayangan benda yang disinari matahari. Pengamat (observer)
cukup menggunakan tongkat atau benda lain sejenis untuk diletakkan di tempat yang
memperoleh cahaya matahari. Cahaya matahari yang menyinari benda tersebut akan
menghasilkan bayangan. Arah bayangan ini merupakan arah kiblat.11
9 Hambatan terjadi kalau pada saat kejadian langit mendung dan berawan.
10 Penentuan arah kiblat dengan cara tersebut sejatinya bisa dilakukan di semua tempat di permukaan
bumi. Cuma, waktunya berbeda.
11 Posisi matahari di atas Kakbah bisa berlangsung 5-10 menit. Pengamat yang tidak bisa tepat
melakukan pengukurannya tepat waktu, bisa menyusulkan pada 5-10 menit sesudahnya. Dalam rentang
waktu tersebut, pengukuran arah kiblat masih bisa dilakukan. Selengkapnya baca «Saatnya Mengecek
Kembali Arah Kiblat», dimuat dalam harian Republika, Jum’at, 27 Mei 2005, p. 11.
D. Langkah-langkah Penentuan Arah Kiblat
Secara garis besar langkah-langkah menentukan atau menghitung arah kiblat
tersebut adalah:
- Menentukan lokasi atau tempat yang akan dihitung arah kiblatnya. Dalam hal ini
yang perlu diketahui adalah lintang (φ) dan bujurnya (λ) (koordinat geografis),
baik tempat maupun Kakbah. Kakbah sudah ditetapkan koordinat geografisnya
φ = 21° 25′ ; λ = 39° 50′ BT. - Menghitung sudut arah kiblat dengan menggunakan rumus:
cotan b sin a
cotan B = - cos a cotan C
sin C
a = 90° – φT
b = 90° – φK
C = / λT - λK/ - Menghitung azimut arah kiblat dengan menggunakan rumus:
Azimut Kiblat = 360° – Sudut Arah Kiblat (jika sudut arah kiblat arah utara
barat)
Azimut Kiblat = Sudut Arah Kiblat (jika sudut arah kiblat arah utara timur)
Azimut Kiblat = 180° – Sudut Arah Kiblat (jika sudut arah kiblat arah selatan
timur)
Azimut Kiblat = 180° + Sudut Arah Kiblat (jika sudut arah kiblat arah selatan
barat) - Membuat diagram arah kiblat.
E. Contoh Perhitungan Arah Kiblat
-
Perhitungan arah kiblat untuk kota Yogyakarta.
Tempat Salat:
Yogyakarta, φ = -07° 48′ ; λ = 110° 21′ BT.
(Kakbah, φ = 21° 25′ ; λ = 39° 50′ BT.)
cotan b sin a
Rumus: cotan B = - cos a cotan C
sin C
a = 90° – φT
b = 90° – φK
C = / λT - λK/
Proses Perhitungan:
a = 90° – (-07° 48′) = 97° 48′
b = 90° – 21° 25′ = 68° 35′
C= /110° 21′ - 39° 50′/= 70° 31′
cotan 68° 35′ sin 97° 48′
cotan B = - cos 97° 48′ cotan 70° 31′
sin 70° 31′
0,392231316 x 0,99074784
cotan B = - (-0,13571557) x 0,35379124
0,942738551
0,388602329
cotan B = - (-0,04801498)
0,942738551
cotan B = 0,412205832 - (-0,04801498)
cotan B = 0,460220813
cotan B = 65° 17′ 13,66″ (U – B)
Azimut Kiblat:
Azimut Kiblat (AZK) = 360° - 65° 17′ 13,66″ = 294° 42′ 46,34″
Diagram Kiblat: U -
Perhitungan arah kiblat untuk kota Paramaribo, Suriname.
Tempat Salat:
Paramaribo, φ = 06° 00′ ; λ = 55° 25′ BB. (-55° 25′)
(Kakbah, = 21° 25′ ; λ = 39° 50′ BT.)
cotan b sin a
Rumus: cotan B = - cos a cotan C
sin C
a = 90° – φT
b = 90° – φK
C = / λT - λK/
Proses Perhitungan:
a = 90° – 06° 00′ = 84° 00′
b = 90° – 21° 25′ = 68° 35′
C= /-55° 25′ - 39° 50′/= 95° 15′
cotan 68° 35′ sin 84° 00′
cotan B = - cos 84° 00′ cotan 95° 15′
sin 95° 15′
0,392231316 x 0,994521895
cotan B = - 0,104528463 x (-0,09188709)
0,995804927
0,390082632
cotan B = - (-9,60481648-03)
0,995804927
cotan B = 0,412205832 - (-9,60481648-03)
cotan B = 0,401330767
cotan B = 68° 07′ 58,40″ (U – T)
Azimut Kiblat:
Azimut Kiblat (AZK) = 68° 07′ 58,40″
Diagram Kiblat: U -
Perhitungan arah kiblat untuk kota Amsterdam.
Tempat Salat: Amsterdam, φ = 52° 21′ ; λ = 04° 55′ BT.
(Kakbah, = 21° 25′ ; λ = 39° 50′ BT.)
cotan b sin a
Rumus: cotan B = - cos a cotan C
sin C
a = 90° – φT
b = 90° – φK
C = / λT - λK/
Proses Perhitungan:
a = 90° – 52° 21′) = 37° 39′
b = 90° – 21° 25′ = 68° 35′
C= /04° 55′ - 39° 50′/= 34° 55′
cotan 68° 35′ sin 37° 39′
cotan B = - cos 37° 39′ cotan 34° 55′
sin 34° 55′
0,392231316 x 0,610836334 cotan B = - 0,791756889 x 1,432578141 0,942738551 0,239589139 cotan B = - 1,134253613 0,572384421 cotan B = 0,418580818 - 1,134253613 cotan B = -0,71567279 cotan B = -54° 24′ 35,04″ cotan B = 54° 24′ 35,04″ (S – T) Azimut Kiblat: Azimut Kiblat (AZK) = 180° - 54° 24′ 35,04″ = 125° 35′ 24,96″ Diagram Kiblat: U

