putusan
Keputusan Tarjih Ke 27 Pedoman Hisab Muhammadiyah Bab III Waktu Waktu Salat
BAB III
WAKTU-WAKTU SALAT
A. Pendahuluan
Salat merupakan rukun Islam kedua, karena itu merupakan salah satu bentuk
ibadah yang amat penting. As-Sarakhsi (w. 490/1096) menegaskan bahwa salat
merupakan unsur agama terkuat sesudah iman kepada Allah swt.1 Para ulama
mengatakan bahwa salat merupakan tiang agama. Barang siapa menegakkannya
berarti menegakkan agama dan barang siapa meruntuhkannya berarti meruntuhkan
agama.2 Mengingat pentingnya salat dalam agama Islam, maka ibadah ini tentu
harus menjadi perhatian sungguh-sungguh umat Islam, termasuk memperhatikan
waktu-waktu pelaksanaannya. Menyangkut waktu pelaksanaan salat, di dalam al-
Quran ditegaskan,
.]103 [النساء (4): َ كِتَابًا مَوْقُوتًا يِ إِن َّ الصَّالَة َ كَنَت ْ ع ََ الْمُؤْمِن
Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang
yang beriman [QS an-Nisā’ (4): 103].
Salat dalam Islam dibedakan manjadi dua kelompok: (1) salat-salat fardu
(aṣ-ṣalawāt al-maktūbah) dan salat-salat sunat (ṣalawāt at-taṭawwu‘). Salat fardu
meliputi Magrib, Isya, Subuh, Zuhur dan Asar. Waktu-waktu mengerjakannya telah
ditentukan sebagaimana akan dikemukakan kemudian. Salat-salat sunat dari segi
waktu mengerjakannya dibedakan menjadi dua: pertama, salat sunnat rawatib, yaitu
salat-salat sunat yang menyertai salat fardu lima waktu, dan waktunya mengikuti
waktu-waktu salat fardu tersebut. Kedua, salat-salat sunat selain salat rawatib yang
waktu-waktunya telah ditentukan pula.
B. Waktu-waktu Salat Fardu
Waktu-waktu salat fardu telah ditentukan dalam sumber-sumber syariah, yaitu
al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Hanya saja di dalam al-Quran tidak disebutkan
secara rinci waktu mengerjakan masing-masing salat wajib, melainkan hanya terdapat
isyarat-isyarat umum. Perincian waktu-waktu salat secara tegas disebutkan dalam
sejumlah hadis Nabi saw.
1 As-Sarakhsī, al-Mabsūṭ (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), I: 4.
2 Menggenai ṣalat sebagai tiang agama ini terdapat beberapa riwayat hadis, namun hadis-hadis
itu daif dan sebagian mursal meskipun rijalnya reliabel (terpercaya). Lihat as-Sakhāwī, al-Maqāṣid
al-Ḥasanah fī Bayāni Kaṡīrin min al-Aḥādīṡ al-Musytahirah ‘alā al-Alsinah (Beirut: Dār al-Kitāb al-
‘Arabī , 1405/1985), I: 427.
- Isyarat Waktu Salat dalam al-Quran
Di dalam al-Quran terdapat beberapa ayat yang menyebutkan waktu salat secara
umum, yaitu beberapa ayat berikut:
- Firman Allah dalam surat an-Nisā’ ayat 103,
.]103 [النساء (4): َ كِتَابًا مَوْقُوتًا يِ إِن َّ الصَّالَة َ كَنَت ْ ع ََ الْمُؤْمِن
Artinya: Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas
orang-orang yang beriman [QS an-Nisā’ (4): 103]. - Firman Allah dalam surat Hūd ayat 114, ِ
وَأَقِم ِ الصَّالَة َ طَرَف َِ انلَّهَار ِ وَزُلَفًا مِن َ اللَّيْل ِ إِن َّ الَْسَنَات ِ يُذْهِب َْ السَّيِّئَات
.]114 : )11( هود[ َ ذَلِك َ ذِكْرَى لِذلَّاكِرِيْن
Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian
permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu
menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi
orang-orang yang ingat [QS Hūd (11): 114]. - Firman Allah dalam surat al-Isrā’ ayat 78, ِ
أَقِم ِ الصَّالَة َ لُِلُوك ِ الشَّمْس ِ إِل َ غَسَق ِ اللَّيْل ِ وَقُرْءَان َ الْفَجْر ِ إِن َّ قُرْءَان َ الْفَجْر
.]78 : )17[اإلرساء ( كَن َ مَشْهُودًا
Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan
(dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat) [QS al-Isrā’ (17): 78]. - Firman Allah dalam surat Ṭāhā ayat 130,
فَاصْب ِْ ع ََ مَا يَقُولُون َ وَسَبِّح ْ بَِمْد ِ رَبِّك َ قَبْل َ طُلُوع ِ الشَّمْس ِ وَقَبْل َ غُرُوبِهَا
]130 : )20[طه ( َ وَمِن ْ ءَانَاء ِ اللَّيْل ِ فَسَبِّح ْ وَأَطْرَاف َ انلَّهَار ِ لَعَلَّك َ تَرْض
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan
memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih
pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari,
supaya kamu merasa senang [QS Ṭāhā (20): 130].
- Waktu Salat Fardu dalam Hadis
Terdapat beberapa hadis Nabi saw yang menyebutkan rincian waktu-waktu
salat fardu.
- Hadis ‘Abdullah Ibn ‘Amr,
237Himpunan Putusan Tarjih 3ِ
عَن ْ عَبْد ِ الل َِّ بْن ِ عَمْرٍو أَن َّ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ وَقْت ُ الظُّهْرُْ
إِذَا زَالَت ِ الشَّمْس ُ وَكَن َ ظِل ُّ الرَّجُل ِ كَطُول ِِ مَا لَم ْ يَْض ُِ الْعَص ُْوَوَقْت ُ الْعَص ِ
َةالَة ِ الْمَغْرِب ِ مَا لَم ْ يَغِب ِ الشَّفَق ُ وَوَقْت ُ صَالمَا لَم ْ تَصْفَر َّ الشَّمْس ُ وَوَقْت ُ صَ
َة ِ الصُّبْح ِ مِن ْ طُلُوع ِ الْفَجْر ِ مَاالَ َْوْسَط ِ وَوَقْت ُ صألالْعِشَاء ِ إِل َ نِصْف ِ اللَّيْل ِ ا
.[رواه مسلم] ... ُ لَم ْ تَطْلُع ِ الشَّمْس
Dari ‘Abdullah Ibn ‘Amr (diriwayatkan) bahwa Rasulullah saw bersabda: Waktu
zuhur adalah ketika matahari tergelincir (dan berlangsung hingga) bayangan
orang sama dengan badannya selama belum masuk waktu asar. Waktu asar adalah
berlangsung sampai matahari belum menguning. Waktu salat magrib berlangsung
sampai hilangnya syafak. Waktu salat Isya berlangsung hingga pertengahan malam.
Dan waktu salat subuh adalah dari terbit fajar sampai sebelum matahari terbit ...
[HR Muslim].
2) Hadis Jabir, ُ
َ زَالَت ِ الشَّمْس يعَن ْ جَابِر ٍ قَال َ جَاء َ جِبِْيل ُ إِل َ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ حِ ُِّ
َ كَن َ ظِل ُّ ك يفَقَال َ قُم ْ يَا مَُمَّد ُ فَصَل ِّ الظُّهْر َ فَقَام َ فَصَل َّ الظُّهْر َ ثُم َّ جَاءَه ُ حِ ِ
َ غَبَت يشَْء ٍ مِثْلَه ُ فَقَال َ قُم ْ فَصَل ِّ الْعَص َْ فَقَام َ فَصَل َّ الْعَص َْ ثُم َّ جَاءَه ُ حِ َ
الشَّمْس ُ فَقَال َ قُم ْ فَصَل ِّ الْمَغْرِب َ فَقَام َ فَصَل َّ الْمَغْرِب َ ثُم َّ مَكَث َ حَت َّ ذَهَب ُ
َ سَطَع َ الْفَجْر يَّهَا ثُم َّ جَاءَه ُ حِالَ الشَّفَق ُ فَجَاءَه ُ فَقَال َ قُم ْ فَصَل ِّ الْعِشَاء َ فَقَام َ فَص َ
َ صَار يبِالصُّبْح ِ فَقَال َ قُم ْ يَا مَُمَّد ُ فَصَل ِّ فَقَام َ فَصَل َّ الصُّبْح َ وَجَاءَه ُ مِن َ الْغَد ِ حِ َ
َ كَن يظِل ُّ ك ُِّ شَْء ٍ مِثْلَه ُ فَقَال َ قُم ْ فَصَل ِّ الظُّهْر َ فَقَام َ فَصَل َّ الظُّهْر َ ثُم َّ جَاءَه ُ حِ َ
يظِل ُّ ك ُِّ شَْء ٍ مِثْلَيْه ِ فَقَال َ قُم ْ فَصَل ِّ الْعَص َْ فَقَام َ فَصَل َّ الْعَص َْ ثُم َّ جَاءَه ُ حِ ِّ
غَبَت ِ الشَّمْس ُ وَقْتًا وَاحِدًا لَم ْ يَزَل ْ عَنْه ُ فَقَال َ قُم ْ فَصَل ِّ الْمَغْرِب َ فَقَام َ فَصَل َ
َ ذَهَب َ ثُلُث ُ اللَّيْل ِ فَقَال َ قُم ْ فَصَل ِّ الْعِشَاء َ فَقَام يالْمَغْرِب َ ثُم َّ جَاءَه ُ الْعِشَاء َ حِ َ
َ أَسْفَر َ جِدًّا فَقَال َ قُم ْ فَصَل ِّ الصُّبْح َ فَقَام يفَصَل َّ الْعِشَاء َ ثُم َّ جَاءَه ُ الصُّبْح َ حِ
.]صحيحه ف رواه ابن حبان[ ُ فَصَل َّ الصُّبْح َ فَقَال َ مَا بَي َْ هَذَيْن ِ وَقْت ٌ كُُّه
Dari Jabir [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Jibril pernah datang kepada Nabi saw
ketika matahari tergelincir dan berkata: Wahai Muhammad, berdirilah dan kerjakan
salat zuhur! Maka Nabi saw berdiri dan mengerjakan salat zuhur. Kemudian Jibril datang
lagi kepada Nabi saw ketika bayangan benda sama panjangnya dengan bendanya dan
berkata: Berdirilah dan kerjakan salat asar. Maka Nabi saw berdiri dan mengerjakan
salat Asar. Kemudian Jibril datang lagi kepada Nabi saw ketika matahari terbenam dan
berkata: Berdirilah dan kerjakan salat Magrib. Maka Nabi saw berdiri dan mengerjakan
salat Magrib. Kemudian Jibril tinggal di situ sampai hilangnya syafak, kemudian datang
kepada Nabi saw dan berkata: Berdirilah dan kerjakan salat Isya. Maka Nabi saw berdiri
dan mengerjakan salat Isya. Kemudian Jibril datang lagi kepada Nabi saw ketika fajar
menyinsing memulai subuh dan berkata: Berdirilah wahai Muhammad dan kerjakan salat
Subuh. Maka Nabi saw berdiri dan mengerjakan salat Subuh. Pada keesokan hari Jibril
datang lagi kepada Nabi saw ketika bayangan benda sama panjang dengan bendanya dan
berkata: Berdirilah dan kerjakan salat Zuhur. Maka Nabi saw berdiri dan mengerjakan
salat Zuhur. Kemudian Jibril datang lagi kepada Nabi saw ketika bayangan benda dua
kali panjang bendanya dan berkata: Berdirilah dan kerjakan salat Asar. Kemudian Jibril
datang lagi kepada Nabi saw ketika matahari terbenam dan beliau terus di situ dan tidak
beranjak, kemudian berkata: Berdirilah dan kerjakan salat Magrib. Maka Nabi saw berdiri
dan mengerjakan salat magrib. Kemudian Jibril datang lagi kepada Nabi saw ketika Isya
saat sepertiga malam telah berlalu dan berkata: Berdirilah dan kerjakan salat Isya. Maka
Nabi saw berdiri dan mengerjakan salat Isya. Kemudian Jibril datang lagi kepada Nabi
saw pada waktu subuh ketika subuh itu sudah sangat terang dan berkata: Berdirilah dan
kerjakan salat Subuh. Maka Nabi saw berdiri dan mengerjakan salat Subuh. Kemudian ia
berkata: Waktu di antara kedua waktu itu seluruhnya adalah waktu salat [HR Ibn Ḥibbān
dalam Ṣaḥīḥ-nya. Hadis senada juga diriwayatkan oleh an-Nasā’ī dan beberapa ahli hadis
lainnya].
3) Hadis Ibn ‘Abbās, ِ
عَن ِ ابْن ِ عَبَّاس ٍ قاَل َ قاَل َ رَسُوْل ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ أَمَّن ِ جِبِْيل ُ عَلَيْه َ
زَالَت ْ الشَّمْس ُ وَكَنَت ْ قَدْر يَْيْت ِ مَرَّتَي ِْ فَصَل َّ ب َِ الظُّهْر َ حبلالسَّالَم عِنْد َ ا
ين ظِلُّه ُ مثله وَصَل َّ ب َِ يَعْن ِ الْمَغْرِب َ حك يالشَِّاك ِ وَصَل َّ ب َِ الْعَص َْ ح َ
حَرُم يغَب َ الشَّفَق ُ وَصَل َّ ب َِ الْفَجْر َ ح يأَفْطَر َ الصَّائِم ُ وَصَل َّ ب َِ الْعِشَاء َ ح ُ
ن ظِلُّهك يب َِ الظُّهْر َ ح لن الْغَد ُ صك الصَّائِم ِ فلما ع ُ الطَّعَام ُ وَالشََّاب َ
أَفْطَر ين ظِلُّه ُ مِثْلَيْه ِ وَصَل َّ ب َِ الْمَغْرِب َ حك يمثله وَصَل َّ ب ِ الْعَص َْ ح َ
ثُلُث ِ اللَّيْل ِ وَصَل َّ ب َِ الْفَجْر َ فَأَسْفَر َ ثُم َّ الَْفَت لالصَّائِم ُ وَصَل َّ ب َِ الْعِشَاء َ إ ِْ
هَذَيْن ِ الْوَقْتَي يمد هذا وَقْت ُ ألنبياء من قَبْلِك َ وَالْوَقْت ُ ما بم فقاَل َ يا لإ
.]والرتمذي وابن ماجه ل رواه أبو داود واللفظ[
Dari Ibn ‘Abbās [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda:
Jibril a.s. pernah mengimami saya untuk salat di Baitullah dua kali. Ia salat Zuhur
mengimami saya ketika matahari tergelincir dan membentuk bayang-bayang
sepanjang tali sepatu, dan salat Asar mengimami saya pada saat bayang-bayang
sama panjangnya dengan bendanya. (Selanjutnya) ia salat mengimami saya –
maksudnya salat Magrib– ketika orang berpuasa berbuka. Ia salat Isya mengimami
saya ketika syafak menghilang. Ia salat Fajar (Subuh) mengimami saya ketika
makanan dan minuman tidak lagi boleh disantap oleh orang berpuasa. Kemudian
pada keesokan harinya ia salat Zuhur mengimami saya ketika bayang-bayang sama
panjang dengan bendanya; ia salat Asar mengimami saya ketika bayang-bayang
dua kali panjang bendanya; ia salat magrib mengimami saya ketika orang berpuasa
berbuka; ia salat isya mengimami saya ketika menjelang berakhir sepertiga malam;
dan ia salat Fajar (Ṣubuh) mengimami saya ketika subuh sudah sangat terang.
Kemudian beliau berpaling kepada saya dan berkata: Wahai Muhammad, ini adalah
waktu salat para Nabi sebelum engkau. Waktu salat itu adalah antara kedua waktu
ini [HR Abū Dāwūd, dan ini lafalnya, dan juga diriwayatkan oleh at-Turmużī dan
dan Ibn Mājah].
4) Hadis amat panjang dari Abū Qatādah, yang potongannya adalah sebagai berikut, َ
َةالَّفْرِيط ُ ع ََ مَن ْ لَم ْ يُصَل ِّ الصَّلثُم َّ قاَل َ أَمَا إِنَّه ُ لَيْس َ ف َِّ انلَّوْم ِ تَفْرِيط ٌ إِنَّمَا ا
.]قتادة برواه مسلم عن أ[ ... ُْخْرَىألَة َ االحَت َّ يَجِء َ وَقْت ُ الصَّ
Rasulullah saw bersabda: Ingatlah ketiduran (hingga tidak sempat salat
pada waktunya) bukanlah kelalaian dalam salat. Kelalaian salat adalah tidak
mengerjakan salat hingga masuk waktu salat berikutnya ... [HR Muslim dari Abū
Qatādah].
C. Rincian Waktu-waktu Salat Fardu
Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis yang dikemukakan di atas
disimpulkan awal dan akhir waktu-waktu salat fardu sebagai berikut:
- Waktu Salat Zuhur
Waktu salat Zuhur dimulai sejak matahari tergelincir (zawal), yaitu sesaat setelah
matahari mencapai titik kulminasi (culmination) dalam peredaran hariannya,
sampai tiba waktu salat Asar. - Waktu Salat Asar
Waktu salat Asar dimulai pada saat bayang-bayang suatu benda sama panjangnya
dengan bendanya sendiri ditambah dengan bayang-bayang zawal, sampai tibanya
waktu salat Magrib. - Waktu Salat Magrib
Waktu salat Magrib dimulai sejak matahari terbenam sampai tibanya waktu
salat Isya. - Waktu Salat Isya
Waktu salat Isya dimulai sejak hilang mega (syafak) merah sampai masuknya
waktu salat Subuh.
5) Waktu Salat Subuh
Waktu salat Subuh dimulai sejak terbit fajar sampai terbit matahari.
Perlu dicatat bahwa untuk waktu salat Isya digunakan penafsiran yang bersifat
kompromistik (al-jam‘), yaitu mengkompromikan antara hadis-hadis ‘Abdullāh Ibn
‘Amr, Jābir dan Ibn ‘Abbās di satu pihak dengan hadis Abū Qatādah di lain pihak
yang menyatakan waktu salat yang satu berakhir ketika masuknya waktu salat
berikutnya. Dengan pemahaman seperti ini tidak ada satu hadis yang ditinggalkan.
Dari kesemuanya dipahami bahwa waktu dari suatu salat berlangsung hingga masuk
waktu salat berikutnya kecuali waktu salat Subuh hanya berlangsung sampai terbit
matahari karena adanya hadis yang melarang salat setelah matahari terbit dan karena
para ulama telah ijmak bahwa waktu salat Subuh hanya hingga terbit matahari dan
tidak ada salat Subuh sesudah matahari terbit kecuali bagi orang yang ketiduran.
Dengan demikian waktu salat Isya adalah dari sejak hilangnya syafak (mega) merah
hingga masuknya waktu salat Subuh ketika terbit fajar sadik. Hadis-hadis yang
menyatakan bahwa waktu salat Isya adalah hingga sepertiga malam atau hingga
pertengahan malam ditafsirkan sebagai menyatakan waktu yang afdal.
D. Posisi Matahari Terkait Waktu Salat Fardu
Dari ketentuan yang termuat dalam al-Quran dan hadis sebagaimana dikemukakan
di atas dapat dipahami bahwa ketentuan salat tersebut berkaitan dengan posisi matahari
pada bola langit. Oleh karena itu dalam penentuan awal waktu salat, data astronomis
(zij) terpenting adalah posisi matahari, terutama tinggi [al-irtifā‘ (h)], atau jarak zenit
[bu‘d as-sumt (z)] = 90º – h. Fenomena awal fajar (morning twilight), matahari terbit
(sunrise), matahari melintasi meridian (culmination), matahari terbenam (sunset), dan
akhir senja (evening twilight) berkaitan dengan jarak zenit matahari.3
Waktu Zuhur diawali sejak matahari berkulminasi atas, namun untuk kehati-
hatian dan kepastian waktu Zuhur dirumuskan sejak seluruh bundaran matahari
meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah kulminasi.4 Saat
berkulminasi atas pusat bundaran matahari berada di meridian.
Awal waktu Asar ketika matahari membuat bayang-bayang sama panjang dengan
bendanya ditambah bayang-bayangnya pada saat matahari berkulminasi. Ada pula
yang mengambil cara mudah, yaitu mengambil tengah antara kulminasi dan gurub.
Ini disimpulkan dari Ibn ‘Abbās yang dikaitkan dengan bahwa hadis itu disabdakan
saat matahari berkulminasi tepat di atas Kakbah sehingga tidak menciptakan bayang-
3 Moedji Raharto. “Posisi Matahari untuk Penentuan Awal Waktu Shalat dan Bayangan Arah Kiblat”
makalah disampaikan dalam Workshop Nasional Mengkaji Ulang Penentuan Awal Waktu Shalat &
Arah Kiblat, Yogyakarta Auditorium UII, 7 April 2001, h. 8.
4 Ibid. Lihat juga Mohammad Ilyas, A Modern Guide to Astronomicla Culculations of Islamic
Calendar, Times & Qibla, (Kuala Lumpur : Berita Publishing, 1984).
bayang dan waktu asar adalah ketika bayang-bayang adalah sepanjang bendanya,
maka waktu Asar disimpulkan adalah pertengahan antara kulminasi dan gurub.
Waktu Magrib dalam ilmu falak berarti saat terbenam matahari (gurub) di mana
seluruh piringan matahari tidak kelihatan oleh pengamat. Piringan matahari rata-rata
berdiameter 32 menit busur, setengahnya berarti 16 menit busur, selain itu di dekat
horison terdapat refraksi yang menyebabkan kedudukan matahari lebih tinggi dari
kenyataan sebenarnya yang diasumsikan 34 menit busur. Koreksi semidiameter
piringan matahari dan refraksi terhadap jarak zenit matahari saat matahari terbit
atau terbenam adalah sebesar semidiameter ditambah refraksi atau sering dibulatkan
sebesar 50 menit busur. Oleh karena itu terbit dan terbenam matahari secara falak
ilmi didefinisikan bila jarak zenit matahari mencapai z = 90º 50’.5 Definisi itu untuk
tempat pada ketinggian di permukaan air laut atau jarak zenit matahari z = 91º bila
memasukkan koreksi kerendahan ufuk (Dip) akibat tinggi posisi pengamat 30 meter
dari permukaan laut. Secara lebih detail kedudukan matahari waktu Magrib adalah
z = 90º + (s.d. + R’ + Dip) atau h = – (s.d. + R’ + Dip).
Waktu Isya ditandai dengan mulai memudarnya cahaya merah (asy-syafaq al-
aḥmar) di bagian langit sebelah barat, yaitu tanda masuknya gelap malam (Q.S. Al-
Isra’ ayat 78). Peristiwa ini dalam falak ilmi dikenal sebagai akhir senja astronomi
(astronomical twilight). Pada saat itu matahari berkedudukan 18º di bawah ufuk
(horizon) 6 sebelah barat atau bila jarak zenit matahari = 108º.
Waktu Subuh adalah sejak terbit fajar sadik sampai waktu terbit matahari. Cahaya
fajar dalam falak ilmi difahami sebagai astronomical twilight (fajar astronomi).
Dalam Ilmu Falak yang berkembang di Indonesia fajar sadik mulai muncul di ufuk
timur menjelang terbit matahari pada saat matahari berada sekitar 20º di bawah ufuk
(atau jarak zenit matahari = 110º).7
E. Langkah-langkah Hisab Awal Waktu Salat
Secara umum perhitungan awal waktu salat itu melalui empat langkah, yaitu
(1) penyediaan data, (2) penyediaan rumus-rumus, (3) pemprosesan data melalui
rumus, dan (4) penarikan kesimpulan. Keempat langkah ini berlaku untuk semua
perhitungan awal waktu salat, bahkan untuk perhitungan waktu terbit matahari
(syurūq). Secara rinci, langkah dan proses perhitungan awal waktu salat itu dapat
dijelaskan sebagai berikut:
5 Sumber The Astronomical Almanac sebagaimana dikutip Moedji Raharto dalam “Posisi Matahari
untuk Penentuan Awal Waktu Shalat dan Bayangan Arah Kiblat”.
6 Baca Saadoe’ddin Jambek, Shalat dan Puasa di Daerah Kutub, h. 11. Sementara itu, para ahli
falak Mesir biasa menggunakan jarak zenit matahari waktu Isya = 107º 30’. Selengkapnya baca ‘Abd
al Qawī Zakī Ayyād. “Mawāqītu aṣ-Ṣalāh fī Khuṭūṭ al-‘Arḍ al-Kabīrah”, dimuat dalam Jurnal Al-Islām
al-Yaum, Vol. 6, Th. VI/1988/1408, h. 96.
7 Di Indonesia pendapat ini mula pertama dikembangkan oleh Syeikh Tahir Djalaluddin Azhari.
Pendapat ini kemudian diteruskan oleh Saadoe;ddin Djambek dan H. abdur Rahim. Kini pendapat ini
dijadikan rujukan Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI.
- Penyediaan data
Data berikut ini adalah data yang dipergunakan dalam perhitungan awal waktu
salat, meskipun tidak setiap data itu harus ada dalam setiap awal waktu salat. Penyediaan
data ini sangat tergantung pada awal waktu salat mana yang akan dihitung.
a. Lintang Tempat atau ’Urḍul-Balad (φ)
Lintang tempat ialah jarak sepanjang meridian bumi yang diukur dari ekuator
bumi (khatulistiwa) sampai suatu tempat yang bersangkutan. Harga lintang
tempat adalah 00 sampai 900. Lintang tempat bagi tempat-tempat yang berada
di belahan bumi utara bertanda posistif (+) dan tempat-tempat yang berada di
belahan bumi selatan bertanda negatif (–). Dalam astronomi disebut latitude
yang biasanya digunakan lambang φ (phi).
b. Bujur Tempat atau Ṭūlul-Balad (λ)
Bujur tempat ialah jarak sepanjang ekuator bumi dihitung dari meridian yang
melewati kota Greenwich sampai meridian yang melewati tempat bersangkutan
Dalam astronomi dikenal dengan nama longitude, biasanya digunakan lambang
λ (lamda). Harga bujur tempat mulai 00 sampai 1800. Bagi tempat-tempat yang
berada di sebelah barat Greenwich disebut “Bujur Barat (BB)” dan diberi
tanda negatif (–). Sedangkan bagi tempat-tempat yang berada di sebelah timur
Greenwich disebut “Bujur Timur (BT)” dan diberi tanda positif (+).
c. Bujur Tolok Waktu Daerah
Berdasarkan KEPRES No. 41 tahun 1987 Negara Republik Indonesia dibagi
menjadi tiga wilayah waktu, yaitu: Waktu Indonesia Barat (WIB) dengan bujur
tolok 1050 BT, Waktu Indonesia Tengah (WITA) dengan bujur tolok 1200 BT
dan Waktu Indonesia Timur (WIT) dengan bujur tolok 1350 BT.
d. Kerendahan Ufuk (Ikhtilāf al-Ufuq / Inkhifāḍ (Dip)]
Kerendahan ufuk ialah perbedaan kedudukan antara ufuk yang sebenarnya
(hakiki) dengan ufuk terlihat (mar’i) oleh seorang pengamat. Dalam astronomi
disebut DIP dan dalam dunia falak diistilahkan dengan ikhtilāf al-ufuq.
Dip terjadi karena ketinggian tempat pengamatan mempengaruhi ufuk (horizon).
Horizon yang teramati pada ketinggian mata sama dengan ketinggian permukaan
laut disebut horizon benar (true horizon) atau ufuk hissi. Ufuk ini sejajar dengan
ufuk hakiki yang bidangnya melalui titik pusat bumi. Horizon yang teramati oleh
mata pada ketinggian tertentu di atas permukaan laut disebut horizon semu atau ufuk
mar’i. Rumus pendekatan untuk menghitung sudut Dip adalah sebagai berikut:
Dip = 1,76’ √m
m = Ketinggian tempat dari permukaan laut atau dari daerah sekitar (markaz).
Data ini diperlukan untuk menghitung ketinggian matahari pada saat
terbenam dan terbit.
e. Semi Diameter Matahari (Niṣfu Quṭr asy-Syams) (s.d.) Semi Diameter Matahari ialah jarak antara titik pusat matahari dengan piringan luarnya atau seperdua garis tengah piringan matahari (jari-jari).
Data ini diperlukan untuk menghitung ketinggian matahari pada saat
terbenam dan terbit.
f. Refraksi Matahari (Daqā’iq al-Ikhtilāf (R’)
Refraksi matahari ialah pembiasan sinar matahari. Pembiasan cahaya benda langit
terjadi di dalam atmosfer bumi, menyebabkan posisi benda langit yang terlihat di
permukaan bumi berbeda dengan yang sebenarnya. Refraksi membuat ketinggian posisi
benda langit bertambah besar. Refraksi (R’) menyatakan selisih antara ketinggian benda
langit menurut penglihatan dengan ketinggian sebenarnya. R’ berubah harganya menurut
ketinggian benda langit. Data ini diperlukan untuk menghitung ketinggian matahari pada
saat terbenam dan terbit. Besar refraksi matahari di horizon adalah 34’ 30’’.
g. Deklinasi Matahari (Mail asy-Syams) (δ)
Deklinasi matahari ialah jarak matahari dari lingkaran equator diukur sepanjang
lingkaran waktu yang melalui matahari itu hingga ke titik pusat matahari tersebut.
h. Perata Waktu (Equation of time / Ta‘dīl al-Waqt (e)
Perata waktu ialah selisih waktu antara waktu matahari hakiki dengan
matahari rata-rata (pertengahan). Peredaran semu harian matahari dari arah
Timur ke barat itu tidaklah konstan, kadang-kadang cepat kadang-kadang
lambat. Keadaan ini diakibatkan oleh percepatan bumi mengelilingi matahari
tidak konstan dan bidang edarnya berbentuk ellips.
Waktu matahari hakiki ialah waktu peredaran semu matahari senyatanya,
sedangkan waktu matahari pertengahan adalah waktu peredaran semu matahari
diandaikan ia beredar dengan konstan sebagaimana terlihat pada jarum jam.
i. Ihtiyat (i)
Ihtiyat ialah suatu langkah kehati-hatian sebagai suatu langkah pengamanan
dalam perhitungan awal waktu salat dengan cara menambah atau mengurangi
sebesar 1-2 menit waktu dari hasil perhitungan yang sebenarnya. Ihtiyat ini
bertujuan antara lain:
- Agar hasil perhitungan dapat mencakup daerah-daerah sekitarnya, terutama
yang berada di sebelah baratnya. Dengan menambah 1 (satu) menit berarti
telah mencakup ± 27,5 km ke sebelah barat. - Menjadikan pembulatan hasil hitungan pada satuan terkecil dalam menit
waktu, sehingga penggunaannya lebih mudah. - Memberikan koreksi atas reduksi dalam perhitungan.
- Memberi keyakinan bahwa waktu salat benar-benar sudah masuk, sehingga
ibadah salat itu benar-benar dilaksanakan dalam waktunya.
- Penyediaan rumus-rumus
a. Rumus Ketinggian Matahari (h)
-
Awal Waktu Salat Zuhur
Awal waktu salat Zuhur tidak memerlukan rumus ketinggian matahari,
sebab secara langsung data untuk awal waktu salat Zuhur dapat dilihat pada
almanak-almanak astronomis yaitu saat matahari berkulminasi. -
Awal Waktu Salat Asar
cotan h = -1 (an zm + 1)
zm = /φ – δ/
Keterangan
h : Ketinggian matahari
Φ : Lintang tempat
δ : Deklinasi
zm : Jarak zenit pada saat matahari berkulminasi -
Awal Waktu Salat Magrib dan Terbit Matahari.
h = – (s.d. + R’ + Dip)
Dip = 1,76’ √ m
s.d. = Semi Diameter Matahari
R’ = Refraksi
Dip = Kerendahan ufuk
m = Ketinggian tempat dari permukaan laut atau dari
daerah sekitar (markaz) diukur dengan ukuran meter. -
Awal Waktu Salat Isya: (h = -180)
-
Awal Waktu Salat Subuh: (h = -200)
b. Rumus Sudut Waktu Matahari (t)
t = cos -1 (- tan φ tan δ + sin h sec φ sec δ)
t = Sudut waktu matahari pada awal waktu salat
φ = Lintang tempat
δ = Deklinasi matahari
h = Ketinggian matahari
c. Rumus Ephemeris Transit (e.t.)
e.t. = 12j – e
e = Equation of Time (perata waktu)
d. Rumus Selisih Waktu Bujur
Selisih waktu bujur (swλ) = /λtp - λdh/; 15
λtp = Bujur tempat
λdh = Bujur tolok waktu daerah
e. Rumus Penyimpulan
- Awal waktu salat Zuhur= e.t.-(atau+) selisih waktu bujur+i
- Awal waktu salat Asar, Magrib dan Isya=(e.t.+t)-(atau+) selisih waktu
bujur+i - Awal waktu salat Subuh = (e.t.-t) – (atau + ) selisih waktu bujur + i
- Waktu terbit (syuruq) = (e.t.-t) – (atau +) selisih waktu bujur - i
F. Contoh Hisab Waktu Salat
- Awal waktu salat Zuhur untuk kota Yogyakarta dan sekitarnya menurut WIB
pada tanggal 6 Desember 2008.
- Data:
a. Lintang tempat (φ) = -07° 48′
b. Bujur tempat (λ) = 110° 21′ BT.
c. Equation of Time (e) = +08m 54d - Rumus awal waktu Zuhur
Zuhur = e.t. -/+ (swλ) + i
e.t. = 12j – e - Proses Perhitungan
Ephemeris Transit (e.t.) = 12j – e
= 12j - 08m 54d
= 11j 51m 06d WST
Selisih waktu bujur (swλ) = /110° 21′ - 105°/ : 15
= 05° 21′ : 15
= 21m 24d
e.t. - swλ = 11j 51m 06d - 21m 24d
= 11j 29m 42d WIB
Ihtiyat = 01m 18d +
Zuhur = 11j 31m WIB
Kesimpulan: Awal waktu salat Zuhur di Yogyakarta tanggal 6 Desember
2008 pukul 11:31 WIB.
- Awal waktu salat Asar untuk kota Yogyakarta dan sekitarnya menurut WIB pada
tanggal 6 Desember 2008.
-
Data:
a. Lintang tempat (φ) = -07° 48′
b. Bujur tempat (λ) = 110° 21′ BT.
c. Equation of Time (e) = +08m 51d
d. Deklinasi matahari (δ) = -22° 32′ 53″ -
Rumus awal waktu Asar
Asar = [(e.t.+t) -/+ swλ] + i
e.t. = 12j – e
sin h
t = cos-1 (-tan φ tan δ + )
cos φ cos δ
h = cotan-1(tan zm + 1)
zm = /φ - δ/
swλ = /λtp - λdh/ : 15 -
Proses Perhitungan
Tinggi matahari (h): cotan h = tan zm +1
zm = /φ - δ/
zm = /-07° 48′ - (-22° 32′ 53″)/
= 14° 44′ 52″
cotan h = tan zm + 1
= tan 14° 44′ 52″ + 1
= 0,263236555 + 1
= 1, 263236555
h = 38° 21′ 56,28″
Sudut waktu matahari (t):
sin h
cos t = -tan φ tan δ +
cos φ cos δ
sin 38° 21′ 56,28″
= -tan -07° 48′ tan -22° 32′ 53″+
cos -07° 48′ cos -22° 32′ 53″
0,620679196
= 0,13698296 x (-0,41519085) +
0,99074784 x 0,923560099
0,620679196
= -0,05687407 +
0,915015174
= -0,05687407 + 0,67832667
= 0,621452598
t = 51° 34′ 40,07″ : 15 = 03j 26m 18,67d
e.t. = 12j – e = 12j - 08m 54d = 11j 51m 9d +
e.t. + t = 15j 17m 27,67d WST
Selisih waktu bujur (swλ) = /110° 21′ - 105°/ : 15
= 05° 21′ : 15
= 21m 24d
(e.t. + t) - swλ = 15j 17m 27,67d - 21m 24d
= 14j 56m 03,67d WIB
Ihtiyat = 01m 56,33d +
Asar = 14j 58m WIB
Kesimpulan: Awal waktu salat Asar di Yogyakarta tanggal 6 Desember 2008
pukul 14:58 WIB.
3. Awal waktu salat Magrib untuk kota Yogyakarta dan sekitarnya menurut WIB
pada tanggal 6 Desember 2008.
- Data:
a. Lintang tempat (φ) = -07° 48′
b. Bujur tempat (λ) = 110° 21′ BT.
c. Tinggi tempat (m) = 90 meter
d. Equation of Time (e) = 08m 48d
e. Deklinasi matahari (δ) = -22° 33′ 45″
f. Semi diameter matahari (s.d.) = 16′ 14,03″
g. Refraksi matahari (R′) = 34′ 30″ - Rumus awal waktu Magrib
Magrib = [(e.t.+t) -/+ swλ] + i
e.t. = 12j – e
sin h
t = cos-1(-tan φ tan δ + )
cos φ cos δ
h = -(s.d. + R′ + Dip)
Dip = 1,76’√ m
swλ = /λtp - λdh/ : 15 - Proses Perhitungan
Dip = 1,76′√ m
= 1,76′√ 90
= 16′ 41,81″
Tinggi matahari (hm): h = -(s.d. + R′ + Dip)
= -(16′ 14,03″ + 34′ 30″ + 16′ 41,81″)
= -01° 07′ 25,84″
Sudut waktu matahari (t):
sin h
cos t = -tan φ tan δ +
cos φ cos δ
sin -01° 07′ 25,84″
= -tan -07° 48′ tan -22° 23′ 45″+
cos -07° 48′ cos -22° 33′ 45″
-0,01961347
= 0,13698296 x (-0,41205115) +
0,99074784 x 0,9234727
-0, 01961347
= -0,05644398 +
0,914928584
= -0,05644398 + (-0,02143717)
= -0, 077 881 15
t = 94° 29′ 38,01″ : 15 = 06j 17m 58,53d
e.t. = 12j – e =12j – 08m 54d = 11j 51m 12d +
e.t. + t = 18j 9m 10,53d WST
Selisih waktu bujur (swλ) = /110° 21′ - 105°/ : 15
= 05° 21′ : 15
= 21m 24d
(e.t. + t) - swλ = 18j 9m 10,53d - 21m 24d
= 17j 47m 46,53d WIB
Ihtiyat = 01m 13,47d +
Magrib = 17j 49m WIB
Kesimpulan: Awal waktu salat Magrib di Yogyakarta tanggal 6 Desember
2008 pukul 17:49 WIB.
4. Awal waktu salat Isya untuk kota Yogyakarta dan sekitarnya menurut WIB pada
tanggal 6 Desember 2008.
-
Data:
a. Lintang tempat (φ) = -07° 48′
b. Bujur tempat (λ) = 110° 21′ BT.
c. Equation of Time (e) = 08m 47d
d. Deklinasi matahari (δ) = -22° 34′ 02″
e. Tinggi matahari (h) = -18° -
Rumus awal salat Isya
Isya = [(e.t.+t) -/+ swλ] + i
e.t. = 12j – e
sin h
t = cos-1(-tan φ tan δ + )
cos φ cos δ
swλ = /λtp - λdh/ : 15 -
Proses Perhitungan
Sudut waktu matahari (t):
sin h
cos t = -tan φ tan δ +
cos φ cos δ
sin -18°
= -tan -07° 48′ tan -22° 34′ 02″+
cos -07° 48′ cos -22° 34′ 02″
-0,30901699
= 0,13698296 x (-0,41558877) +
0,99074784 x 0,923429913
-0, 30901699
= -0,05692858 +
0,914886193
= -0,05692858 + (-0,3377655)
= -0,39469408
t = 113° 14′ 48,80″ : 15 = 07j 32m 59,26d
e.t. = 12j – e =12j – 08m 47d = 11j 51m 13d +
e.t. + t = 19j 24m 12,26d WST
Selisih waktu bujur (swλ) = /110° 21′ - 105°/ : 15
= 05° 21′ : 15
= 21m 24d
(e.t. + t) - swλ = 19j 24m 12,26d - 21m 24d
= 19j 02m 48,26d WIB
Ihtiyat = 01m 11,74d +
Isya = 19j 04m WIB
Kesimpulan: Awal waktu salat Isya di Yogyakarta tanggal 6 Desember
2008 pukul 19:04 WIB.
- Awal waktu salat Subuh untuk kota Yogyakarta dan sekitarnya menurut WIB
pada tanggal 6 Desember 2008.
-
Data:
a. Lintang tempat (φ) = -07° 48′
b. Bujur tempat (λ) = 110° 21′ BT.
c. Equation of Time (e) = +09m 03d
d. Deklinasi matahari (δ) = -22° 29′ 39²
e. Tinggi matahari (h) = -20° -
Rumus awal salat Subuh
Subuh = [(e.t.-t) -/+ swλ] + i
e.t. = 12j – e
sin h
t = cos-1(-tan φ tan δ + )
cos φ cos δ
swλ = /λtp - λdh/ : 15 -
Proses Perhitungan
Sudut waktu matahari (t):
sin h
cos t = -tan φ tan δ +
cos φ cos δ
sin -20°
= -tan -07° 48′ tan -22° 29′ 39″+
cos -07° 48′ cos -22° 29′ 39″
-0,34202014
= 0,13698296 x (-0,4140886) +
0,99074784 x 0,923920344
-0,34202014
= -0,05672308 +
0,915372085
= -0,05672308 + (-0,37364056)
= -0,43036364
t = 115° 29′ 26,6″ : 15 = 07j 41m 57,78d
e.t. = 12j – e =12j – 08m 54d = 11j 50m 57d
= 07j 41m 57,78d -
e.t. – t = 04j 08m 59,22d WST
Selisih waktu bujur (swλ) = /110° 21′ - 105°/ : 15
= 05° 21′ : 15
= 21m 24d
(e.t. - t) - swλ = 04j 08m 59,22d - 21m 24d
= 03j 47m 35,22d WIB
Ihtiyat = 01m 26,78d +
Subuh = 03j 49m WIB
Kesimpulan: Awal waktu salat Subuh di Yogyakarta tanggal 6 Desember
2008 pukul 03:49 WIB.
- Waktu terbit matahari (syuruq) untuk kota Yogyakarta dan sekitarnya menurut
WIB pada tanggal 6 Desember 2008.
- Data:
a. Lintang tempat (φ) = -07° 48′
b. Bujur tempat (λ) = 110° 21′ BT.
c. Tinggi tempat (m) = 90 meter
d. Equation of Time (e) = +09m 02d
e. Deklinasi matahari (δ) = -22° 29′ 59″
f. Semi diameter matahari (s.d.) = 16′ 13,95″
g. Refraksi matahari (R′) = 34′ 30″ - Rumus terbit Matahari
Magrib = [(e.t.-t) -/+ swλ] - i
e.t. = 12j – e
sin h
t = cos-1(-tan φ tan δ + )
cos φ cos δ
h = -(s.d. + R′ + Dip)
Dip = 1,76′√ m
swλ = /λtp - λkb/ : 15 - Proses Perhitungan
Dip = 1,76′√ m
= 1,76′√ 90
= 16′ 41,81″
Tinggi matahari (h):
h = -(s.d. + R′ + Dip)
= -(16′ 13,95″ + 34′ 30″ + 16′ 41,81″)
= -01° 07′ 25,76″
Sudut waktu matahari (t):
sin h
cos t = -tan φ tan δ +
cos φ cos δ
sin -01° 07′ 25,76″
= -tan -07° 48′ tan -22° 29′ 59″+
cos -07° 48′ cos -22° 29′ 59″
-0,01961314
= 0,13698296 x (-0,41418516) +
0,99074784 x 0,923888808
-0, 01961314
= -0,0567363 +
0,915340842
= -0,0567363 + (-0,02142714)
= -0,078 163 45
t = 94° 28′ 59,51″ : 15 = 06j 17m 55,97d
e.t. = 12j – e =12j – 9m 02d = 11j 50m 58d
t = 06j 17m 55,97d -
e.t. – t = 05j 33m 02,03d WST
Selisih waktu bujur (swλ) = /110° 21′ - 105°/ : 15
= 05° 21′ : 15
= 21m 24d
(e.t. - t) - swλ = 05j 33m 02,03d - 21m 24d
= 05j 11m 38,03d WIB
Ihtiyat = 01m 38,03d -
Terbit = 05j 10m WIB
Kesimpulan: Waktu terbit matahari di Yogyakarta tangga 16 Desember
2008 pukul 05:10 WIB.

