putusan
Keputusan Tarjih Ke 27 Tuntunan Seni Budaya Islam Bab III Kesenian Sebagai Ekspresi Kebudayaan
137Himpunan Putusan Tarjih 3
BAB III
KESENIAN SEBAGAI EKSPRESI KEBUDAYAAN
Secara teoretis, manusia memiliki tiga kemampuan dasar untuk mengembangkan
kebudayaannya, yakni rasio untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,
imajinasi/emosi/rasa untuk mengembangkan kemampuan estetika, yang secara
kongkrit terwujud dalam seni, serta hati nurani untuk mengembangkan kemampuan
moralitasnya. Ketiganya kalau dijalankan secara optimal akan dapat menumbuhkan
dan mengembangkan secara optimal pula potensi manusia untuk menemukan
kebenaran tertinggi, yakni kebenaran Allah swt, sebagai acuan dari kebudayaan yang
dikembangkan manusia [Makalah Munas Tarjih ke-23, “Kebudayaan dan Kesenian
dalam Perspektif Islam,” h. 6]
Kemampuan rasional manusia terwujud dalam nilai-nilai kebenaran, kemampuan
imajinasi/emosi/rasa terwujud dalam nilai-nilai keindahan dan kemampuan hati nurani
terwujud dalam nilai-nilai kebenaran. Kesenian merupakan salah satu subsistem hasil
kebudayaan yang sangat penting, sebagai salah satu ekspresi kebudayaan. Gejala
dan kenyataan dalam kehidupan manusia, bahwa manusia itu membutuhkan serta
pengembangan kesenian tidak dapat diabaikan, sebab kesenian merupakan bagian
kodrati (fitrah) manusia itu sendiri, sebagai perwujudan nilai keindahan manusia.
Pada awal mula sejarah peradaban manusia, tiga fungsi ilmuwan, seniman dan
agamawan masih dirangkap oleh satu orang yang dianggap paling bijak. Melalui tiga
jalur tersebut manusia ingin meraih kebenaran tertinggi, tetapi ilmu manusia sangat
terbatas pada apa yang diukur dan dihitung. Dalam pengalaman keindahan, hasil
imajinasi/emosi/rasa, manusia dapat merasa hanyut oleh keindahan yang dirasakan,
tetapi tidak sampai ke akar keberadaannya. Pengalaman manusia menatap keindahan
semata-mata, tidak menyebabkan ia mengubah arah hidupnya. Sedangkan dalam
pengalaman religius/hati nurani, manusia merasa ia harus berubah arah hidupnya.
Itu dirasakan oleh Umar Ibn al-Khaṭṭāb tatkala dia mendengar adiknya membacakan
ayat-ayat suci al-Quran yang sangat indah (awal surat Ṭāhā), yang ia belum pernah
mendengarnya. Oleh sebab itu, dengan dituntun oleh hati nuraninya, diputuskan
olehnya berikrar menganut agama Islam. Dalam pengalaman keindahan, simpul
baru diuraikan, tetapi dalam pengalaman religius melalui hati nurani, simpul sudah
terurai. Oleh karena itulah manusia membutuhkan bimbingan dan tuntunan dari
penciptanya yaitu Allah swt. Petunjuk langsung tersebut telah diberikan oleh Allah
melalui wahyu kepada manusia, sebagai agama. Wahyu tersebut terhimpun dalam
kitab suci, yang menjadi rujukan kebenaran bagi manusia. Oleh karena itu kitab suci
agama merupakan sumber nilai kehidupan manusia di dunia ini.
Kesenian merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia dalam rangka
menyatakan dan mengekspresikan pengalaman keindahannya. Kesenian diciptakan
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah138
manusia berdasarkan apa yang terjadi dan terbentang di alam, yang selanjutnya
menumbuhkan imajinasi/emosinya. Secara prinsip harus dibedakan antara alam
dan kesenian, meskipun keduanya mampu menggerakkan pengalaman keindahan
manusia. Alam adalah ciptaan Allah, sementara kesenian adalah upaya manusia
untuk mengungkapkan apa yang dialaminya dan dihayatinya dalam kehidupan.
Meskipun dalam arti luas, alam diciptakan oleh Allah tidak semata-mata sebagai
suatu karya untuk dikagumi keindahannya, yang bisa mengantarkan kepada Allah
sebagai kebenaran mutlak, melainkan juga sebagai amanah dalam arti yang luas.
Harus diakui kekaguman terhadap alam, merupakan salah satu alasan penting yang
mendasari manusia menciptakan keindahan atau kesenian.
Kesenian menggunakan lambang-lambang yang dapat memberikan rangsangan
bagi manusia untuk mampu menikmati keindahannya. Dalam hal tertentu, dengan
pengertian yang sedikit berbeda, agama juga menggunakan lambang-lambang yang
dapat mendorong manusia menghayati rasa keagamaannya, seperti fungsi Kakbah
dalam membangun keberagamaan umat Islam.9 Tidak sedikit para jamaah haji atau
umrah ketika berada di Masjidil Haram, memasuki gerbang masjid menatap Kakbah
Baitullah, ada kekuatan yang menggetarkan hati pada saat itu, tiada sesuatu yang
diungkapkan, hanya air mata yang menetes membasahi pipinya. Pengalaman tersebut
menggambarkan manusia merasa berhadapan dengan sesuatu yang luar biasa,
sekaligus menarik, memikat, mempesona, dengan daya tarik yang kuat. Manusia
berhadapan dengan awal dan akhir kehidupannya. Kepekaan terhadap lambang atau
simbol tersebut merupakan syarat agar manusia dapat menikmati keseniannya, sama
halnya dalam beragama, untuk dapat berlaku khusyuk, manusia dituntut untuk peka
terhadap lambang-lambang agama [Makalah Munas Tarjih ke-23, “Kebudayaan
dan Kesenian dalam Perspektif Islam,” h. 9]. Nama Allah dalam tulisan al-Quran
sebenarnya juga simbol, demikian juga seluruh firman Allah dalam al-Quran, yang
dapat menggetarkan hati manusia, sebagaimana tersebut dalam QS al-Anfāl (8) ayat
2 dan QS al-Ḥajj (22) ayat 35, ْ
ْ ِإَوذَا تُلِيَت ْ عَلَيْهِم ْ آيَاتُه ُ زَادَتْهُم إِنَّمَا الْمُؤْمِنُون َ الَِّين َ إِذَا ذُكِر َ الل َُّ وَجِلَت ْ قُلُوبُهُم
. َ إِيمَانًا وَع ََ رَبِّهِم ْ يَتَوَكَُّون
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman
mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal [QS al-Anfāl
(8): 2]. ِ
َةالالَِّين َ إِذَا ذُكِر َ الل َُّ وَجِلَت ْ قُلُوبُهُم ْ وَالصَّابِرِين َ ع ََ مَا أَصَابَهُم ْ وَالْمُقِيم ِ الصَّ
. َ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُم ْ يُنْفِقُون
9 Ibid., h. 9.
139Himpunan Putusan Tarjih 3
(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,
orang-orang yang Saba’ (34)r terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang
yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari
apa yang telah kami rezkikan kepada mereka [QS al-Ḥajj (22): 35].
Sudah barang tentu bagi manusia yang peka dalam arti terbuka akal, rasa dan
kalbunya, sebagaimana Imam al-Gazzālī (w. 505/1111) mengisyaratkan dalam kitab
Adab Tilawah al-Quran, bahwa “Allah berfirman kepada manusia, melalui lambang-
lambang dan bahasa yang dapat diserap atau ditangkap oleh manusia, tentu saja bagi
manusia yang peka dalam arti terbuka akal, rasa dan kalbunya.”
Kesenian dapat memainkan peranan penting dalam kebudayaan modern.
Dewasa ini hampir semua orang merasa heran dengan kecanggihan komputer yang
dalam waktu relatif singkat menyimpan dan mengolah data. Orang pada umumnya
mengagumi kecanggihan alat-alat komunikasi dan pengolah data elektronik
buatan manusia, sehingga kehilangan kemampuan untuk melihat kenyataan yang
tersembunyi di balik alat tersebut. Kesenian dapat dipakai sebagai sarana proses
penyadaran manusia bahwa hidup dan kehidupan ini tidak semata-mata merupakan
kenyataan matematis, tetapi juga romantis.10 Manusia adalah ciptaaan terbaik Allah
sebagaimana disebutkan dalam QS at-Tīn (95) ayat 4,
. ٍ ِْنْسَان َ ف ِ أَحْسَن ِ تَقْوِيمإللَقَد ْ خَلَقْنَا ا
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
QS at-Tīn (95): 4].
Sebagai suatu ciptaan terbaik, di sana ada unsur keindahan/kesenian, adalah
bagaikan komputer yang super canggih, dan jika dipikirkan secara mendalam dengan
menggunakan akal, emosi dan hati nurani, maka akan sampai kepada kesimpulan
bahwa Allah adalah kebenaran mutlak. QS an-Nūr (24) ayat 25 menyebutkan,
. ُ يِ يَوْمَئِذ ٍ يُوَفِّيهِم ُ الل َُّ دِينَهُم ُ الَْق َّ وَيَعْلَمُوْن َ أَن َّ الل ََّ هُو َ الَْق ُّ الْمُب
Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan
tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesuatu
menurut hakikat yang sebenarnya) [QS an-Nūr (24): 25].
Berkesenian secara benar, didukung oleh berpikir dan bermoralitas yang baik
dan benar, akan sangat mendorong sikap keberagaman yang benar, demikian juga
sebaliknya, terjadi proses timbal balik antara keduanya. Sebab pengalaman keindahan
melalui berkesenian menyebabkan manusia mampu menerobos kulit gejala, dapat
diibaratkan sebagai suatu pelayaran, yang bertolak dari suatu pantai menuju “pulau
kebenaran Allah swt”, yang mampu menggetarkan hati manusia, sehingga mampu
membuka cakrawala keberagamaannya. Untuk itu memang memerlukan visi seorang
10 Ibid., h. 9-10.
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah140
seniman yang sungguh-sungguh dalam menghayati agama. Kemudian dengan visi itu,
ia mengungkapkan peristiwa, pengalaman yang terjadi dalam hidup kesehariannya,
sehingga melalui karya seninya, terbuka satu langkah keberagaman/tauhid/keimanan
sebagai fitrah manusia sebagaimana ditunjukkan Allah dalam QS al-A‘rāf (al-A‘rāf)
ayat 172 dan QS ar-Rūm (30) ayat 30, ُ
ِإَوذ ْ أَخَذ َ رَبُّك َ مِن ْ بَن ِ آدَم َ مِن ْ ظُهُورِهِم ْ ذُرِّيَّتَهُم ْ وَأَشْهَدَهُم ْ ع ََ أَنْفُسِهِم ْ أَلَسْت
. َْ بِرَبِّكُم ْ قَالُوا بَل َ شَهِدْنَا أَن ْ تَقُوْلُوا يَوْم َ الْقِيَامَة ِ إِنَّا كُنَّا عَن ْ هَذَا غَفِلِي
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
«Bukankah Aku ini Tuhanmu?» mereka menjawab: «Betul (Engkau Tuban kami), kami
menjadi saksi». (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: «Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap Ini (keesaan Tuhan)» (QS al-A‘rāf (al-A‘rāf): 172). ِ
َِلْقخل َ َ تَبْدِيْل ال ِّين ِ حَنِيْفًا فِطْرَت َ الل َِّ الَّت ِ فَطَر َ انلَّاس َ عَلَيْهَالفَأَقِم ْ وَجْهَك َ لِ
. َ َ يَعْلَمُوْن ال ِ ِّيْن ُ الْقَيِّم ُ وَلَكِن َّ أَكْث ََ انلَّاسلالل َِّ ذَلِك َ ا
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada
fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
[QS ar-Rūm (30): 30].•

