putusan
Keputusan Tarjih Ke 27 Tuntunan Seni Budaya Islam Bab IX Peran Muhammadiyah Sebagai Gerakan Dakwah dan Gerakan Budaya
177Himpunan Putusan Tarjih 3
BAB IX
PERAN MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN
DAKWAH DAN GERAKAN BUDAYA
Islam berkembang karena dakwah, sebagaimana diperintahkan Allah kepada
semua umat Islam dalam QS an-Naḥl (16) ayat 125, َّ
اُدْع ُ إِل َ سَبِيْل ِ رَبِّك َ بِالِْكْمَة ِ وَالْمَوْعِظَة ِ الَْسَنَة ِ وَجَادِلْهُم ْ بِالَّت ِ ه َِ أَحْسَن ُ إِن
. َ رَبَّك َ هُو َ أَعْلَم ُ بِمَن ْ ضَل َّ عَن ْ سَبِيْلِه ِ وَهُو َ أَعْلَم ُ بِالْمُهْتَدِيْن
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk [QS an-Naḥl (16): 125].
Perintah ini ditujukan kepada setiap manusia, khususnya umat Islam yang telah
mendapat petunjuk dari Allah. Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa dakwah itu
hukumnya wajib ‘ain, yaitu kewajiban yang harus dilakukan oleh orang perorang
(individu). Sampai-sampai Nabi saw memerintahkan kepada kita umat Islam “Balligū
‘annī wa lau āyah (’Sampaikan apa yang kau terima dariku, meskipun hanya satu
ayat’).
Sesuai dengan strategi Muhammadiyah yang kedua, bahwa Muhammadiyah
adalah gerakan Islam yang beramar ma’ruf nahi mungkar, beraqidah Islam, bersumber
kepada al-Khair (al-Quran dan as-Sunnah), dilaksanakan secara organisatoris,
sebagaimana diperintahkan QS Āli ‘Imrān (3) ayat 104: ِ
َْي ِْ وَيَأْمُرُون َ بِالْمَعْرُوف ِ وَيَنْهَوْن َ عَن ِ الْمُنْكَرخلوَلَْكُن ْ مِنْكُم ْ أُمَّة ٌ يَدْعُوْن َ إِل َ ا
. َ وَأُولَئِك َ هُم ُ الْمُفْلِحُوْن
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-
orang yang beruntung [QS Āli ‘Imrān (3) ayat 104].
Sejak kelahirannya, kendatipun dengan rumusan yang berbeda-beda, disesuaikan
dengan kondisi masa, Muhammadiyah bercita-cita dan bekerja untuk menuju
masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah swt untuk melaksanakan
misi dan fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Hal ini
sesungguhnya dapat bermakna bahwa Muhammadiyah berkehendak membangun
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sehingga dapat pula diartikan bahwa
sesungguhnya selain sebagai gerakan dakwah Islam, Muhammadiyah juga merupakan
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah178
gerakan budaya. Muhammadiyah dituntut aktif memberikan jawaban atas persoalan
dan permasalahan yang muncul akibat perkembangan kebudayaan manusia.
Muhammadiyah menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai solusi untuk
memecahkan dan menjawab persoalan dan permasalahan yang dihadapi manusia
yang timbul di era yang selalu berubah. Itulah maknanya al-Quran dan as-Sunnah
sebagai petunjuk, sebagaimana firman Allah dalam QS al-Baqarah (2) ayat 185, ِ
شَهْر ُ رَمَضَان َ الَِّي أُنْزِل َ فِيه ِ الْقُرْآن ُ هُدًى لِلنَّاس ِ وَبَيِّنَات ٍ مِن َ الْهُدَى وَالْفُرْقَان ٍ
فَمَن ْ شَهِد َ مِنْكُم ُ الشَّهْر َ فَلْيَصُمْه ُ وَمَن ْ كَن َ مَرِيضًا أَو ْ ع ََ سَفَر ٍ فَعِدَّة ٌ مِن ْ أَيَّام
َ يُرِيْد ُ بِكُم ُ الْعُس َْ وَلُِكْمِلُوْا الْعِدَّة َ وَلُِكَبُِّوا الأُخَر َ يُرِيْد ُ الل َُّ بِكُم ُ الْيُس َْ وَ
. َ الل ََّ ع ََ مَا هَدَاكُم ْ وَلَعَلَّكُم ْ تَشْكُرُوْن
(Beberapa hari tertentu itu adalah) bulan Ramadan, yang di dalamnya diturunkan
al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai (ayat-ayat) yang jelas dari
petunjuk (Allah) dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang
siapa di antara kamu mengetahui dengan pasti (masuknya) bulan itu, maka hendaklah
ia mempuasainya, dan barang siapa sakit atau sedang dalam perjalanan (sehingga
tidak berpuasa), maka hendaklah ia menghitung (hari-hari ia tidak berpuasa untuk
diganti) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran atasmu. Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya
dan mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu, semoga kamu
bersyukur [QS al-Baqarah (2): 185].
Dakwah amar makruf nahi mungkar yang dilakukan oleh Muhammdiyah adalah
dengan metode induktif, dengan memberikan arah, solusi dan rambu-rambu kepada
umat dalam mengembangkan budayanya, termasuk seninya. Cara yang digunakan
adalah sesuai dengan petunjuk Allah dalam QS an-Naḥl (16) ayat 125, َّ
اُدْع ُ إِل َ سَبِيْل ِ رَبِّك َ بِالِْكْمَة ِ وَالْمَوْعِظَة ِ الَْسَنَة ِ وَجَادِلْهُم ْ بِالَّت ِ ه َِ أَحْسَن ُ إِن
. َ رَبَّك َ هُو َ أَعْلَم ُ بِمَن ْ ضَل َّ عَن ْ سَبِيْلِه ِ وَهُو َ أَعْلَم ُ بِالْمُهْتَدِيْن
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk [QS an-Naḥl (16):yat 125].
Kebudayaan manusia sebagai suatu proses mengadanya manusia, menunjukkan
adanya dinamika dalam kehidupan manusia. Perkembangan kebudayaan dan
peradaban manusia dewasa ini, yang cenderung kearah materilistis/kebendaan,
membutuhkan antisipasi budaya yang bersifat mendudukan permasalahan pada
jalur yang benar, sesuai dengan fitrah manusia yang hidup di dunia dengan berbagai
179Himpunan Putusan Tarjih 3
budayanya. Ada peluang untuk kembali mewujudkan perkembangan dewasa ini
yakni dengan melalui pemahaman kesatuan antara Kebenaran Allah, kebajikan moral
atau akhlak dan keindahan. Proses kebudayaan pada dasarnya merupakan proses
yang menjaga keseimbangan alam dunia dan akhirat, lahir dan batin, jasmani dan
rohani. Ad-Din al-Islam merupakan konsep yang lengkap dalam menangani masalah
kemanusiaan ini, sebab amalan keagamaan menurut Islam sesungguhnya merupakan
perwujudan dari tumbuhnya kepekaan sosial dengan dorongan spiritualitas dan
semangat iman. Antara iman dan amal salih tidaklah terpisahkan. Oleh karena itu
beragama menurut konsep Islam tidak sekedar menjalankan ritual/ibadah wajib,
tanpa berbuat sesuatu terhadap alam dan sesama secara kongkrit.
Perlunya peningkatan perhatian Muhammadiyah terhadap kehidupan kesenian
sebagai bagian penting dari wujud kebudayaan manusia yang tidak dapat diingkari,
karena merupakan fitrah dari manusia ciptaan Allah. Allah menciptakan alam semesta,
termasuk manusia ini adalah sangat hebat dan indahnya. Manusia sebagai makhluq-
Nya dapat menikmati keindahan tersebut, termasuk al-Quran adalah ciptaan Allah
yang sangat indahnya dari segi bahasa maupun maknanya yang padat dan berisi.
Manusia sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi sudah selayaknya dapat dan harus
mampu menciptkan keindahan sejauh potensi kekampuan yang diberikan oleh Allah,
tidak melampaui batas.
Persoalan kesenian yang berangkat dari perasaan manusia, dapat dirinci ke
dalam persoalan-persoalan yang menyangkut tradisi dan modernitas, seni rupa,
termasuk di dalamnya seni patung, gambar dan atau lukisan, seni musik, termasuk
di dalamnya nyanyian, baik berupa seni pertunjukan atau suara yang direkam, seni
sastra, termasuk didalamnya seni prosa dan puisi, sastra lesan atau tulisan, seni sastra
yang dipertunjukkan seperti sandiwara, film, sinetron. Semua seni dan budaya adalah
untuk manusia, sebagai hamba Allah untuk pengabdiannya kepada Allah.
Di samping itu, seni dan budaya tersebut juga sebagai sarana dakwah,
mensukseskan misi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi
mungkar menuju umat yang terbaik, sebagimana didambakan oleh QS Āli ‘Imrān
(3) ayat 110, َ
كُنْتُم ْ خَي َْ أُمَّة ٍ أُخْرِجَت ْ لِلنَّاس ِ تَأْمُرُوْن َ بِالْمَعْرُوْف ِ وَتَنْهَوْن َ عَن ِ الْمُنْكَر ِ وَتُؤْمِنُوْن
. َ بِالل َِّ وَلَو ْ آمَن َ أَهْل ُ الْكِتَاب ِ لَكَن َ خَيًْا لَهُم ْ مِنْهُم ُ الْمُؤْمِنُوْن َ وَأَكْثَُهُم ُ الْفَاسِقُوْن
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma›ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli
Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [QS Āli ‘Imrān (3) ayat 110].
Untuk itu diperlukan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: Rasulullah
pernah bersabda dalam hadis riwayat Imam Aḥmad dan aṭ-Ṭabarānī bahwa “Apa saja
yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka hal itu baik pula di sisi Allah, dan
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah180
apa saja yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, maka hal itu buruk pula di sisi
Allah.” Dalam hal ini dibuat dasar yang berupa “maslahah mursalah”, yaitu segala
kehidupan apa saja yang dipandang maslahah/baik, manfaat bagi perkembangan
Islam sebagai mata air kebudayaan. Tentu saja diperlukan sifat kehati-hatian agar
tidak terjebak dalam maslahat sementara dan sempit. Oleh karena itu Muhammadiyah
tetap memprioritaskan perhatian kepada tata jenjang konsepsi “Akidah, Syariah dan
Akhlak”, serta mengembalikan pemahaman dan kesadaran umat terhadap keutuhan
dari ketiganya sebagai pokok dan bentuk serta perwujudan agama Islam.
Secara khusus, untuk menghadapi tantangan zaman, diperlukan kepekaan ulama
terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Sebab untuk zaman sekarang, kesenian
tidak dapat terpisahkan dari kemajuan alat-alat komunikasi, audio visual, media
massa, baik cetak maupun elektronika, fotografi dan sebagainya. Sehingga kesenian
tidak lagi hanya dapat dinikmati oleh ruang waktu terbatas, sebagaimana pada masa
Rasulullah masih hidup. Untuk itu Muhammadiyah harus lebih mempersiapkan diri
untuk juga menguasai teknologi tersebut. Memiliki sendiri kantor media massa selain
cetak, juga audio seperti radio, maupun visual seperti televisi, paling tidak dapat ikut
serta berperan dalam penysunan acara-acara televisi, merupakan keharusan. Tentu
saja dalam menyampaikan hal-hal tersebut harus tetap mengutamakan masalah-
masalah yang menjadi kesepakatan para ulama, tanpa mempertentangkan masalah
khilafiyah, serta mengutamakan hal-hal yang sudah pasti diketahui dengan pasti
dari ajaran Islam.
Dalam masalah Dakwah Islam dan Budaya, Musyawarah Nasional Tarjih XXIII
di Banda Aceh (4-5 Juli 1995) memutuskan sebagai berikut :
- Manusia bukanlah makhluk yang hidup dalam status naturalis. Dia mengolah
alam untuk menyempurnakan hidupnya dalam rangka beribadah kepada
Tuhan, sehingga dengan demikian dia menjadi makhluk yang berkebudayaan.
Sebagai makhluk budaya manusia memiliki beberapa kemampuan dasar,
yaitu (1) rasio, yang berfungsi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, (2) imajinasi, yaitu untuk mengembangkan kemampuan estetika yang
wujud konkretnya terlihat dalam seni, (3) Hati Nurani, untuk mengembangkan
kemampuan moralitas, dan (4) sensus numinis, yang merupakan suatu
kemampuan untuk mengenal kualitas dan kehadiran Ilahi. - Agama adalah wahyu Allah swt, merupakan sistem nilai bagi kehidupan manusia,
yang mempunyai empat potensi diatas dan mengakuinya sebagai fitrah manusia.
Keempat potensi tersebut secara bersama-sama dapat dipakai untuk menemukan
kebenaran tertinggi, yakni kebenaran Allah SWT sebagai acuan dari kebudayaan
yang dikembangkan oleh manusia. - Kehidupan manusia adalah arus perubahan terus menerus, akan tetapi nasib
manusia di tengah-tengah perubahan itu ditentukan oleh usaha manusia itu
sendiri, dengan ijtihad dan tajdid berdasarkan kepada dua sumber pokok al-
Quran dan as-Sunnah
181Himpunan Putusan Tarjih 3
4. Islam adalah agama fitrah yaitu agama yang berisi ajaran yang tidak bertentangan
dengan fitrah manusia, justru menyalurkan dan mengatur tuntutan fitrah tersebut.
Termasuk dalam hal ini fitrah rasa seni, karena itu seni tidak dapat bebas nilai.
Peran Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah suatu gerakan yang berakidah Islam, beramar makruf
nahi mungkar, ajarannya bersumber kepada al-Quran dan as-Sunnah . Sejak
kelahirannya di tahun 1912 yang dibidani oleh K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah
bercita-cita dan bekerja menuju kepada terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-
benarnya, kehidupan yang adil sejahtera yang diridlai Allah dalam menjalankan
misinya sebagai hamba dan khalīfatullāh fil-arḍ. Dengan demikian Muhammadiyah
sesungguhnya dapat disebut sebagai gerakan dakwah Islam yang juga merupakan
gerakan budaya yang penuh nilai keagamaan Islam Bagi Muhammadiyah dakwah
adalah ”wajib ’ain” (bagi masing-masing umat Muhammadiyah dan umat Islam)
dan ”wajib kifayah” (dilaksanakan secara organisasi). Untuk suksesnya dakwah
Muhammadiyah tersebut diperlukan media yaitu “seni” dan “budaya”. Dengan
memegangi kaidah usul fikih bahwa ”sesuatu hal yang wajib, tidak sempurna apabila
tidak ada sesuatu yang diperlukan, maka sesuatu itu juga menjadi wajib” ُّ مَا ال َ يَتِم ٌ
الوَاجِب ُ إِال َّ بِه ِ فَهُو َ وَاجِب maka hukum seni dan budaya dapat dipahami sebagai suatu hal
yang wajib, demi suksesnya dakwah Muhammadiyah (wajib ain maupun wajib
kifayah).
Majelis Tarjih dan Tajdid berkewajiban merumuskan tuntunan-tuntunan yang
dapat dipakai sebagai pedoman umat dalam mengembangkan kebudayaan dan
kesenian yang murni sesuai dengan konsep agama Islam, bersih dari pengaruh-
pengaruh takhayul, bidah dan khurafat.
Menghadapi perkembangan zaman yang semakin maju dalam ilmu pengetahuan
dan teknologi, diperlukan kepekaan para ulama terhadap kemajuan alat-alat
komunikasi, audio-visual, media massa cetak dan elektronik, fotografi, sinematografi
dan sebagainya.
Untuk menangani perkembangan kebudayaan dan kesenian di kalangan
Muhammadiyah perlu dimantapkan keberadaan lembaga seni dan budaya
Muhammadiyah di tingkat pusat dan daerah serta dibukanya fakultas kesenian di
Perguruan Tinggi Muhammadiyah. •

