putusan
Keputusan Tarjih Ke 27 Tuntunan Seni Budaya Islam Bab VII Peta Seni dan Budaya Islam di Indonesia
167Himpunan Putusan Tarjih 3
BAB VII
PETA SENI DAN BUDAYA ISLAM DI INDONESIA
A. Interaksi Islam dan Seni dan Tradisi Lokal
Kesenian yang beraneka ragam, sesuai dengan tempat dan waktu, berusaha
menyesuaikan diri dengan tradisi keislaman, begitu juga Islam, dalam hal-hal yang tidak
menyangkut akidah dan ibadah mahdlah, dapat menyesuaikan diri dengan kesenian
dan tradisi setempat. Dasarnya ialah bahwa Islam sebagai agama adalah universal dan
abadi, tetapi sepanjang yang menyangkut kebudayaan dan kesenian dapat berubah-
rubah. Beberapa kendala hukum yang dihadapi pada umumnya dapat diatasi setelah
timbul permasalahan. Landasan hukum yang dipakai tentu saja al-Quran dan as-Sunnah.
Tradisi keislaman di Indonesia, khususnya terkait seni dan budaya, dalam garis
besarnya hampir tidak berbeda dengan tradisi keislaman di negara-negara lain. Seni
dan budaya Islam sudah mempunyai bentuk dasar yang jelas. Dasar yang paling
hakiki yang dapat dijadikan pegangan ialah bahwa dalam pengertian Islam, agama
tidak termasuk bagian kebudayaan. Islam adalah ciptaan Tuhan, sedangkan seni dan
budaya adalah ciptaan manusia. Tuhan menciptakan sesuatu dari tiada menjadi ada,
sebagaimana ditegaskan Allah dalam QS al-Baqarah (2) ayat 117,
. ُ ِ ِإَوذَا قَض َ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُول ُ ل َُ كُن ْ فَيَكُون َْرْضألبَدِيع ُ السَّمَاوَات ِ وَا
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu,
maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: «Jadilah!» lalu jadilah ia [QS
al-Baqarah (2): 117].
Kesenian sebagai salah satu bentuk kebudayaan, dengan cara yang berlebihan jangan
sampai berubah menjadi tempat pemujaan. Pemujaan yang berlebih-lebihan kepada
karya-karya seni (seperti seni patung) sama dengan mengingkari bimbingan Allah dan
tujuan-Nya menciptakan manusia. Seorang muslim dalam menghadapi seninya, hati
nuraninya juga akan bicara sesuai dengan keimanannya, dan dia tidak akan mendustai
kata hatinya itu, kalau tidak ia akan menjadi orang musyrik dan munafik.
Perkembangan kebudayaan Islam, yang dalam hal ini mencakup berbagai
macam kesenian dulu dan sekarang, banyak juga menerima dari luar atau seni
budaya setempat. Ini artinya Islam terbuka dalam menerima kebudayaan lain, yang
setelah dipadu kemudian keluar sebagai kebudayaan Islam. Contoh yang dapat
dikemukakan adalah dalam konteks Indonesia, yang bersamaan masuknya Islam
ke Indonesia, kebudayaan lokal diterima tanpa banyak menemui kesulitan, seperti
wayang, gamelan, berbagai macam tari, musik dan beberapa macam adat istiadat,
selama semuanya itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai tauhid. Soal-soal yang
masuk dalam lapangan khilafiah seperti seni rupa, lukisan dan patung, tampaknya
tidak banyak mempengaruhi para ulama dan seniman masa itu.
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah168
Interaksi dan reaksi antara agama dengan produk-produk kesenian sudah tidak
perlu dipermasalahkan lagi. Dalam sejarah kebudayaan Islam yang panjang, orang
sering memberikan interpretasi yang beraneka ragam, malah sering pula disertai vonis
dengan mendasarkan putusannya pada hukum fikih. Sebaliknya, kadang ada pula
pihak yang beranggapan bahwa seni dengan kreativitasnya sebagai salah satu bagian
kebudayaan, berada di luar agama, dan oleh karenanya didapat paham bahwa berbuat
apa saja demi kebebasan kreativitasnya. Kebebasan ini menandakan kemurnian, dan
ini menjadi ciri seni. Tetapi bagi seorang seniman muslim yang salih, dia tidak akan
melibatkan diri ke dalam hal-hal yang dianggap syubhat.
Ada beberapa bentuk seni yang kurang mendapat dukungan Islam pada
pertumbuhannya yang mula-mula, karena erat hubungannya dengan penyembahan
syirik yang dilakukan oleh orang-orang Arab pagan, sehingga segala penampilan
yang mengacu ke arah itu harus dikikis demi kemajuan umat manusia. Segala
kreativitas masyarakat masa itu dan sebelumnya, malah al-Quran melukiskan ayah
Nabi Ibrāhīm yang tukang kayu membuat patung-patung untuk disembah, seperti
tercantum dalam al- Quran surat al-Anbiyā’ (21) ayat 51-68. Sebaliknya pada masa
Nabi Sulaiman, nampaknya penyembahan berhala demikian tidak menonjol, sehingga
dia mau menyimpan segala yang indah, termasuk patung sebagai hiasan istananya.
Bila kita membaca sejarah menjelang kerasulan Muhammad, penyembahan
berhala ini sudah sampai pada puncaknya dan dalam lingkungan Kakbah sendiri
terdapat ratusan patung dan lukisan yang sangat disucikan. Setiap gerak dan pikiran
masyarakat Arab jahiliyah pada waktu itu selalu mengacu pada penyembahan patung-
patung. Mungkin inilah yang menjadi penyebab adanya larangan pembuatan patung
dan lukisan. Ada beberapa ulama yang pada garis besarnya mengemukakan pendapat
demikian, di samping tentu banyak pula yang bertahan pada harfiah bunyi hadis, dan
menafsirkan patung Sulaiman tak ada hubungannya dengan soal ibadah kepada Allah.
Lepas dari berbagai penafsiran yang dikemukakan para ahli di bidangnya,
dibandingkan dengan kebudayaan lain pada umumnya, dalam kebudayaan Islam,
kesenian terutama seni rupa, musik dan teater, dapat dikatakan perkembangannya
tidak begitu subur, kecuali pada beberapa pribadi. Mungkin saja ini menimbulkan
pertanyaan dalam hati kita, malah barangkali pertanyaan besar, yang jawabannya
belum tentu sudah tuntas sampai saat ini. Sebabnya tentu saja masalah kesenian ini
secara ketat seringkali dikaitkan dengan hukum Islam dari segi ibadah, tidak lagi
dari segi muamalah, atau paling tidak mengandung dimensi keduanya.
Jadi dilihat secara sepintas akan tampak bahwa sejarah kebudayaan Islam sedikit
sekali melahirkan karya-karya seni rupa, dan karenanya lahir sebagai gantinya karya-
karya kaligrafi, khususnya kaligrafi ayat-ayat al-Quran dan seni arsitektur. Kalaupun
ada hasil seni lukis hanya dalam bentuk flora atau alam lainnya, seperti bunga, pohon,
gunung atau hiasan geometri pada masjid, istana, rumah dan sebagainya. Ini kalau
dilihat secara umum, tetapi dalam warna-warna lokal tidaklah sama, misalnya seni
pendukung kaligrafi penulisan naskah di Aceh maupun Cirebon.
169Himpunan Putusan Tarjih 3
Sebagaimana halnya dengan seni rupa, begitu pula kesenian lainnya, musik dan
pertunjukan lain termasuk di dalamnya teater. Dalam hal ini juga tidak sedikit yang
mengemukakan argumen-argumen keagamaan yang sifatnya melemahkan kreativitas,
sehingga orang yang merasa ragu tidak ingin terjun langsung ke dalam kegiatan
ini. Ada yang berpendapat bahwa sebagai ganti musik, orang membaca ayat-ayat
al-Quran dengan qiraat yang baik (tilawah), yang indah dan merdu. Tetapi alasan ini
mungkin tidak tepat, sebab perintah tilawat al-Quran memang ada di dalam al-Quran.
Sejak dulu sampai sekarang perkembangan musik tetap berjalan, baik musik
tradisional maupun modern, musik daerah maupun nasional, dengan mutu sesuai
dengan tingkat penyajiannya masing-masing. Nabi saw sendiri saat sampai di
Madinah, saat hijrah, disambut oleh orang-orang Madinah dengan nyanyian atau
musik, dan beliau tidak melarang. Sering menjadi kendala perkembangan musik ini
adalah karena penampilan penyanyinya yang tidak islami, baik gerak, penampilan
yang membuka-buka aurat yang membangkitkan hawa nafsu birahi dan sebagainya.
Seni atau kesenian dalam pengertian umum sebagai kreasi insani yang
mengandung dan mengungkapkan keindahan yang pada satu segi mengekpresikan
ruh dan budaya (af’idah – periksa, rasa, karsa, intuisi dan imajinasi) sang seniman
dan pada segi lainnya sekaligus merefleksikan pandangan dunia dan hidup
penciptanya. Sedang seni Islami adalah kreasi seorang seniman yang mengandung
dan mengungkapkan keindahan, nilai-nilai artistik dan estetik yang pada satu segi
mengekpresikan ruh dan budaya (af’idah – periksa, rasa, karsa, intuisi dan imajinasi)
seorang seniman, dan pada segi lainnya serta merta merefleksikan pandangan dunia
dan pandangan hidup Islami dalam ruang dan waktu. Dengan demikian keindahan
dan nilai estetika dan ekspressi ruh dan af’idah seorang seniman serta nilai-nilai asasi
islami, meruang dan mewaktu dalan ke-kini-an dan ke-sini-an padu dalam seni Islami.
B. Tujuan Berkesenian bagi Seorang Muslim
Karena seni merupakan bagian dari hidup, maka tujuan berkesenian sama dengan
tujuan hidup itu sendiri, yaitu:
- Keridlaan Allah
- Bahagia dunia dan akhirat
- Rahmat bagi sesama manusia dan alam sekitarnya (QS al-Baqarah (2) ayat 207,
QS al-An‘ām (6) ayat 162 dan QS al-Lail ayat 20-21):
. ِ وَمِن َ انلَّاس ِ مَن ْ يَشِْي نَفْسَه ُ ابْتِغَاء َ مَرْضَات ِ الل َِّ وَالل َُّ رَءُوف ٌ بِالْعِبَاد
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya [QS al-
Baqarah (2): 207].
.َيِ َِِّ رَب ِّ الْعَالَم لل ِ َت ِ وَنُسُك ِ وَمَْيَاي َ وَمَمَاتالقُل ْ إِن َّ صَ
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah170
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam [QS al-An‘ām (6): 162].
21 َ َْع َْ 20 وَلَسَوْف َ يَرْضألَّ ابْتِغَاء َ وَجْه ِ رَبِّه ِ ا الِإ
Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya
yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan [QS al-Lail
(92): 20-21].
Hal itu pulalah yang menjadi tujuan hidup seniman Islami, dan tujuan seni
Islami. Adapun fungsinya merupakan perwujudan amal salih, yakni amal yang selaras
dengan ayat-ayat kauniyah dan Quraniyah, yaitu :
- Seni Islami merupakan manifestasi penunaian fungsi khalifah, yakni aktualisasi
sifat-sifat Allah dalam batas-batas kemanusiaan. - Seni Islami merupakan pemenuhan tugas ibadah, yakni aktivitas yang bertitik
tolak ikhlas, dan bertujuan ridla Allah, kebahagiaan dunia akhirat, dan rahmat
bagi sesama manusia dan seluruh alam - Seni Islami merupakan ekspresi zikir manusia kepada Allah, ingat akan asma-
Nya, penghayatan akan keakraban, keagungan dan kekuasaan-Nya - Seni Islami merupakan ungkapan doa (permohonan dan pengharapan) manusia
pada rahmat (kasih sayang) Allah - Seni Islami merupakan ekspresi syukur manusia pada Allah, dengan jalan dan
cara aktualisasi pemanfaatan segala nikmat Ilahi, baik berupa potensi bawaan/
fitri manusia, maupun alam lingkungan, ataupun wahyu ilaahi. - Seni Islami sebagai perwujudan amal shaleh, fungsi kekhalifahan, tugas ibadah,
ungkapan zikir, doa dan syukur- diekspresikan dengan bentuk, corak, gaya,
lambang, bahasa, warna dan gaya yang artistik dan estetik.
Seni sebagai ekspresi ruh dan budaya yang mengandung dan mengungkapkan
keindahan, pada garis besarnya dapat dibedakan, antara lain : - Seni sastra atau kesusastraan, seni dengan alat bahasa
- Seni musik, seni dengan alat suara atau bunyi
- Seni tari, seni dengan alat gerakan
- Seni rupa, seni dengan alat garis, bentuk, warna dan sebagainya.
- Seni drama atau teater, seni dengan alat kombinasi, sastra, musik dan rupa
- Seni bina atau seni arsitektur.
Oleh karena itu dalam Islam seni berpotensi sebagai ibadah jika bertitik tolak
dengan ikhlas dan bertujuan mencari ridla Allah, dan atau sebagai amal salih, yaitu
apa yang diciptakan dengan menyelaraskan antara ayat kauniyah dan ayat Quraniyah.
Dengan demikian sesungguhnya seni itu ada yang lebih mementingkan
keindahan dari dalam (beauty of inner form), - high culture, high and inner, ia
merupakan konsumsi ”fi’ah qalīlah” – kelompok relatif terbatas (selected fews),
tetapi ada juga yang mementingkan bentuk luar (beauty of the outer form)- mass
171Himpunan Putusan Tarjih 3
culture, mass and outer, ia adalah konsumsi untuk orang awam. Namun ada yang
berada di antara keduanya, tidak seluruhnya high atau inner dan juga tidak seluruhnya
mass atau outer. Ia menjadi konsumsi golongan menengah ke bawah, dan juga tidak
tertutup kemungkinan jadi konsumsi kelompok menengah ke atas.
Kalau dikelompokkan, maka sebenarnya secara sederhana karya-karya seni ini
dapat dicermati menjadi:
- Bentuk seni lama/daerah, sebagai seni tradisi yang telah berakar pada budaya
Indonesia, kemudian dimasuki tema-tema keislaman (seperti wayang, gamelan,
tembang-tembang, ketoprak dan sebagainya), dengan niat dan tujuan untuk
media dakwah Islam. - Bentuk dan sarananya baru sama sekali, diperkenalkan bersamaan dengan
dakwah Islam (seperrti seni qira’ah, kaligrafi al-Quran, salawatan dan
sebagainya). - Bentuknya sama sekali tidak terkait dengan tradisi yang sudah ada di Indonesia,
lebih bercorak kontemporer – modern, menggarap tema-tema keislaman.
Orang tidak langsung dapat menangkapnya bahwa itu seni Islam.
C. Kategorisasi Lain Seni Islam: Bentuk Dasar, Bentuk Baru
Dengan demikian, sesungguhnya pengelompokan seni dan budaya Islam juga
dapat dibuatkan kategori yang diringkas menjadi: - Bentuk dasar lama yang dimasuki pesan Islam, dan berhubungan dengan itu
dapat mengembangkan varian bentuk baru. - Bentuk baru yang terbawa dari tradisi lain di luar kebudayaan dan kesenian
yang bersangkutan, yang lebih dulu telah terkait dengan pesan Islam - Bentuk baru sama sekali yang tidak terikat oleh salah satu tradisi tertentu.
Namun sesungguhnya bentuk ketiga di atas ternyata pada kenyataannya ada
tanda-tanda tertentu yang digunakan oleh para seniman sebagai petunjuk untuk
menyatakan pesan-pesan keislamannya dalam karya seni mereka. Tanda-tanda itu
ada yang diambil dari unsur teks, visual atau instrumental yang dalam tradisi tertentu
telah dikaitkan dengan keislaman. Sebagai contoh tahun 1985-an dapat dicermati
hasil koreografer dua orang seniman muda dari Institut Kesenian Jakarta, Suhaimi bin
Magi dan Arison Ibnur. Karya Suhaimi berjudul Alif yang menggarap tema Taubat.
Keislamannya terlihat penggunaan simbol visual Islam, yaitu menggunakan jubah
putih, tarbus, dan kostum menutup aurat bagi penari wanita. Makin dipertegas ciri
keislamannya ketika musik pengiring yang digunakan adalah gambus. Hal yang sama
juga terlihat secara kental dalam karyanya yang lain Darulfana, terlihat pada pilihan
zapin dalam syair-syairnya dan gambus sebagai musik pengiringnya.
Arison Ibnur mempunyai komposisi tari yang dapat dikelompokkan sebagai
tari kontemporer dalam karyanya Shor-Shor, arahnya pada seni dakwah sehingga
ia menggunakan dasar tari zapin sebagai sumber tekniknya. Tari ini hendak
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah172
menggambarkan bagaimana siksa yang dialami manusia dalam sebuah penggambaran
penuh badai, terutama penggambaran epilog dari tarian tersebut disana menggambarkan
wanita yang penuh ketabahan dan imannya yang menyerahkan segalanya kepada
Tuhan, karena cintanya melebihi segalanya- seperti cintanya Rabiah al-Adawiyah.
Kedua koreografer tersebut mengidentifikasikan zapin dengan Islam, maka irama
dan gerak zapin tampil dalam karya mereka. Irama dan gaya gerak zapin mereka
jadikan sebagai lambang sifat Islam.
Sebagai kesimpulan, berdasarkan uraian di atas, peta seni budaya Islam di
Indonesia itu dapat dikelompokkan menjadi tiga corak:
- Seni Budaya Islam yang berakar pada tradisi lama (budaya lokal), kemudian
diberi warna, isi atau pesan-pesan Islam. - Seni Budaya yang berakar pada seni budaya negeri muslim lainnya, kemudian
diadopsi oleh masyarakat muslim Indonesia. - Seni budaya Islam kontemporer, bentuknya baru sama sekali, kemudian diberi isi
pesan-pesan dakwah Islam, simbol-simbol Islam maupun instrumen-instrumen
islami. •

