putusan
Keputusan Tarjih Ke 28 Fikih Air Perspektif Muhammadiyah Bab II Pandangan Islam tentang Air
BAB II
PANDANGAN ISLAM TENTANG AIR
A. Pengertian Air
Air yang secara umum berupa cairan yang bening dan tembus pandang merupakan
sumberdaya alam yang sangat vital, sangat diperlukan, dan menentukan keberlanjutan
kehidupan di muka bumi. Secara mendasar, air menjadi kebutuhan pokok makhluk
hidup, terutama untuk minum. Terkait dengan itu, air dapat dipilah menjadi dua: air
yang dapat diminum dan air yang tidak dapat diminum. Air yang dapat diminum
tersedia dalam bentuk air hujan, air permukaan dan air tanah. Air permukaan adalah
semua air yang terdapat pada permukaan tanah, termasuk air hujan, sedang air tanah
adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.
Air laut, walau termasuk air permukaan dan tidak terbatas jumlahnya, tidak dapat
diminum, kecuali bila kandungan garamnya dapat dihilangkan.
Untuk dapat diminum, air harus memenuhi kriteria air bersih dan air sehat.
Air bersih merupakan air sehat yang bening (tidak berwarna), tidak berasa, tidak
berbau, tidak tercemar bakteri, bahan beracun, dan tidak mengandung logam berat.17
Air bersih dengan demikian adalah air yang bermutu baik dan dapat dimanfaatkan
manusia untuk konsumsi dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya, seperti mandi,
mencuci, dan berwudhu. Dengan demikian, air dengan kualitas, volume, lokasi, dan
saat tertentu sangat dibutuhkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Namun,
dengan kualitas, volume, lokasi, dan saat tertentu yang lain, air yang bersangkutan
bisa berubah menjadi ancaman yang berbahaya bagi manusia. Air yang telah tercemar
oleh bahan berbahaya dan beracun, atau air dengan volume yang besar (air banjir),
misalnya, telah berubah menjadi sesuatu yang tidak diharapkan, bahkan ditakuti,
atau menjadi bencana bagi manusia dan peradabannya.18
Al-Quran menyebut air dengan istilah mā’ atau al-mā’ (bentuk definitnya).
Kata-kata lain yang terkait dengan makna air dan disebut dalam al-Quran adalah
maṭar (hujan), ‘ain (mata air, dan kata jamaknya ‘uyūn), yanbu‘ (sumber air, dan
kata jamaknya yanābi‘), nahr (sungai, dan kata jamaknya anhār), dan baḥr (laut,
dan kata ganda serta kata jamaknya baḥrān/baḥrain dan biḥār/abḥur). Dalam dua
kata terakhir, nahr dan baḥr (berikut kata ganda dan/atau kata jamaknya), sudah
barang tentu warna dan bau air relatif dapat berubah.
17 Fety Kumalasari dan Yogi Satoto,Teknik Praktis Mengolah Air Kotor Menjadi Air Bersih Hingga
Layak Minum (Bekasi: Laskar Aksara, 2011), h. 5-6.
18 Muhjidin Mawardi, “Air dan Masa Depan Kehidupan”. Makalah Seminar Fikih Air dengan tema
Air dan Masa Depan Umat Manusia, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
bekerja sama dengan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, 30 Maret 2013, h. 1.
Dalam al-Quran, kata mā’ atau al-mā’ disebut 63 kali, kata maṭar disebut tujuh
kali, kata ‘ain/‘uyūn (dalam arti mata air, sungai, bukan mata—organ tubuh) disebut
21 kali, kata yanbu‘/yanābi‘ disebut dua kali, kata nahr/anhār disebut 58 kali, dan
kata baḥr, baḥrān/baḥrain, dan biḥār/abḥur disebut 41 kali. Banyaknya penyebutan
air dalam al-Quran sebanding dengan makna air yang sangat penting bagi kehidupan,
di samping sebagai isyarat keharusan memerhatikan, meneliti, dan mengkajinya.
Dari berbagai konteks penyebutan air dalam al-Quran, kemudian didukung
dengan hadis-hadis Nabi Muhammad saw, pandangan Islam tentang air dapat
dikategorisasikan dalam beberapa sub-tema berikut: sumber dan siklus air,
pengelompokan air, fungsi air, pola hubungan manusia dan air, dan pengelolaan air.
Empat sub-tema pertama dibahas dalam bab II ini, sementara sub-tema terakhir,
yaitu pengelolaan air, dibahas dalam bab tersendiri, yaitu bab III.
B. Sumber dan Siklus Air
Sumber utama air yang ada di bagian darat bumi adalah hujan. Air hujan itu
kemudian diatur Allah swt menjadi sumber-sumber air di bumi untuk memenuhi
keperluan makhluk-Nya. Di antara keperluan makhluk adalah tumbuhnya tanaman
yang menjadi kebutuhan pangan, sandang, dan papannya. Semua itu digambarkan
Allah, baik tersurat maupun tersirat, dalam QS az-Zumar (39): 21, ً
أَلَم ْ تَر َ أَن َّ اهلل َ أَنزَل َ مِن َ السَّمَاء ِ مَاء ً فَسَلَكَه ُ يَنَابِيع َ ف ِ اْألَرْض ِ ثُم َّ يُْرِج ُ بِه ِ زَرْاع
.]21 : )3٩مُّْتَلِفا ً أَلْوَانُه ُ ... [الزمر (
Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, maka
diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-
Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya … [QS az-Zumar (39): 21].
Mengomentari ayat ini az-Zamakhsyarī dalam tafsirnya al-Kasysyāf menyatakan
bahwa sumber air yang ada di bumi berawal dari hujan. Menurutnya air hujan itu
kemudian mengisi bebatuan dan relung-relung bumi di pegunungan, kemudian
mengalir ke berbagai arah sesuai keperluan makhluk-Nya, seperti halnya urat nadi
yang ada di dalam tubuh menjadi jalan aliran darah bagi kehidupan.19
Dari aspek hidrologi, air hujan pada mulanya berawal dari air yang ada di bumi,
kemudian menguap menjadi awan, lalu digerakkan angin, turun menjadi hujan,
yang setelah sampai di bumi mengisi sumber-sumber air, kemudian sebagiannya
yang tidak dikonsumsi dan tidak teralirkan menguap lagi menjadi awan, lalu turun
menjadi hujan. Sebagian dari siklus air itu digambarkan secara tersurat dalam QS
Fāṭir (35): 9,
19 Az-Zamakhsyari. al-Kasysyāf (Riyad: Maktabat al-‘Ubaikan, 1998), h. 298.
301Himpunan Putusan Tarjih 3َ
وَاهلل ُ الَِّي أَرْسَل َ الرِّيَاح َ فَتُثِري ُ سَحَابا ً فَسُقْنَاه ُ إِل َ بَل ٍَ مَّيِّت ٍ فَأَحْيَيْنَا بِه ِ اْألَرْض
.]٩: )35بَعْد َ مَوْتِهَا كَذَلِك َ النُّشُور ُ [فاطر(
Dan Allah lah yang mengirimkan angin; lalu (angin itu) menggerakkan awan, maka
Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus) lalu dengan hujan itu Kami
hidupkan bumi setelah mati (kering). Seperti itulah kebangkitan itu [QS Fāṭir (35): 9].
Air yang turun dari langit kemudian masuk ke dalam bumi dan bertemu dengan
mata-mata air di dalam tanah. Air dari mata air tersebut kemudian dipancarkan
kembali. ََ
فَفَتَحْنَا أَبْوَاب َ السَّمَاء ِ بِمَاء ٍ مُنْهَمِر ٍ 11 وَفَجَّرْنَا اْألَرْض َ عُيُونًا فَالَْق َ الْمَاء ُ ع
.أَمْر ٍ قَد ْ قُدِر َ 12
Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan
Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air, maka bertemulah (air-air) itu sehingga
(meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan [QS al-Qamar (54):
11-12].
Dalam al-Quran siklus air disebut dengan raj‘ (sesuatu yang kembali). Dalam
surat aṭ-Ṭāriq (86) ayat 11 Allah swt berfirman:
.الطارق[ ِ وَالسَّمَاء ذَات ِ الرَّجْع
Demi langit yang mengandung hujan (yang kembali) [QS aṭ-Ṭāriq (86): 11].
Raj‘ berarti kembali. Hujan dinamakan raj‘ dalam ayat ini, karena hujan itu
berasal dari uap yang naik dari bumi ke udara, kemudian turun ke bumi, kemudian
kembali ke atas, dan dari atas kembali ke bumi lagi. Begitulah seterusnya.
Dari tiga ayat terakhir, dapat dipahami bahwa air sebagai komponen penting
dalam kehidupan memerankan dirinya sebagai benda yang senantiasa bergerak
mengikuti alur siklus yang panjang, sangat rumit, dan sangat cermat.20
20 Sukarni, “Air dalam Perspektif Islam,” makalah Seminar Fikih Air dengan tema Air dan Masa
Depan Umat Manusia, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan
Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 30 Maret
2013, h. 4.
Gambar 1: Siklus Air
Sumber: www.biologi-iyandz.blogspot.com
C. Pengelompokan Air
Dari segi rasa, air secara fitrah dikelompokkan menjadi dua: tawar (furāt) dan
asin/pahit (ujāj), sebagaimana al-Quran menggambarkan dua macam air laut dalam
surat Fāṭir (35) ayat 12 berikut:
.ٌَْحْرَان ِ هَذَا عَذْب ٌ فُرَات ٌ سَائِغ ٌ شََابُه ُ وَهَذَا مِلْح ٌ أُجَاجبلوَمَا يَسْتَوِي ا...
Dan tiada sama (antara) dua lautan; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang
lain asin lagi pahit … [QS Fāṭir (35): 12].
Air tawar jelas manfaatnya bagi kehidupan makhluk, terutama untuk diminum.
Air asin/pahit juga diciptakan Allah swt dengan membawa manfaat. Dalam kedua
jenis air, baik air tawar maupun air asin, dapat hidup ikan-ikan yang segar untuk
dimakan manusia dan dapat digali bahan-bahan perhiasan untuk dipakai manusia [QS
al-Naḥl (16): 14]. Dalam air tawar terdapat kandungan zat kimia, seperti oksigen,
dan dalam air asin terdapat kandungan garam. Kedua kandungan ini, dalam batas-
batas tertentu, sangat diperlukan makhluk hidup.21
Dari segi warna, air dapat dipilah sekurang-kurangnya pada dua jenis air,
yaitu air jernih (tidak berwarna) dan air kotor (berwarna), sebagaimana al-Quran
menjelaskannya dalam surat al-Kahfi (18) ayat 86 berikut: ً
حَت َّ إِذَا بَلَغ َ مَغْرِب َ الشَّمْس ِ وَجَدَهَا تَغْرُب ُ ف ِ عَي ٍْ حَِئَة ٍ وَوَجَد َ عِندَهَا قَوْما
.الكهف[ ...
Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihatnya (matahari)
terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan di sana ditemukannya suatu kaum
(tidak beragama) … [QS al-Kahfi (18): 86]
21 Ibid., h. 5
Dalam kehidupan sehari-hari, kedua jenis air dari segi warna juga memberikan
manfaat bagi kehidupan manusia. Air sungai yang berwarna coklat sekalipun,
sepanjang memenuhi syarat air bersih, terutama tidak tercemar bakteri dan logam
berat, masih dapat dimanfaatkan manusia untuk kebutuhan hidupnya, yaitu untuk
irigasi.
D. Fungsi Air
Islam menekankan pentingnya fungsi air dalam kehidupan. Hubungan air dan
kehidupan diibaratkan dengan dua sisi dari satu koin mata uang. Air diciptakan Allah
swt untuk kehidupan dan tidak ada kehidupan tanpa air. Sehubungan dengan itu,
sekurang-kurangnya ada delapan fungsi kontributif air bagi kehidupan.
Pertama, air berfungsi sebagai sumber kehidupan, asal mula dari segala makhluk
hidup. Segala sesuatu yang hidup diciptakan Allah dari air, demikian pernyataan
al-Quran dalam Surat al-Anbiyā’ (21): 30,
.ٍَّوَجَعَلْنَا مِن َ الْمَاء ِ ك َُّ شَْء ٍ ح ...
… Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup … [QS al-Anbiyā’ (21): 30].
Al-Baiḍāwī (w. 691/1292), dalam tafsirnya menjelaskan penggalan ayat ini
dengan ayat lain, yaitu surat an-Nūr (24) ayat 45,
.... ٍ وَالل ّ خَلَق َ ك َُّ دَابَّة ٍ مِن مَّاء
Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air… [QS an- Nūr (24): 45].
Menurut al-Baiḍāwī sebagian besar komposisi fisik hewan (termasuk manusia)
adalah air dan air merupakan kebutuhan pokok kehidupannya. Tanpa air, segala
sesuatu yang hidup tidak dapat melangsungkan kehidupannya.22 Hal ini sejalan
dengan pandangan al-Māwardī (w. 450/1058) dalam tafsirnya an-Nukat wa al-‘Uyūn
bahwa Allah memelihara segala sesuatu yang hidup dengan air.23
Tentang komposisi tubuh manusia, hasil penelitian menunjukkan bahwa dua
pertiga berat fisiknya merupakan cairan, baik dalam bentuk darah, air liur, maupun
pelumas sendi tulang dan cairan sumsum tulang belakang, yang kesemuanya
mengatur suhu badan manusia.24
22 Al-Baiḍāwī, Anwār at-Tanzīl wa Asrār at-Ta’wīl, diedit oleh Muḥammad ‘Abd ar-Raḥmān (Beirut:
Dār Iḥyā’ at-Turāṡ al-‘Arabī, t.t.), IV: 50.
23 Al-Māwardī, an-Nukat wa al-‘Uyūn. Editor: Sayyid bin Abdul Maqshud. (Beirut: Dār al-Kutub
al-‘Ilmiyyah dan Muassasat al-Kutub aṡ-Ṡaqāfiyyah, tth.), III: 444.
24 Abdul Fattah Santoso, “Air dan Pemeliharaannya: Perspektif Islam”, makalah Seminar Fikih
Air: Air dan Masa Depan Umat Manusia, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
bekerja sama dengan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, 30 Maret 2013.
Kedua, air berfungsi menjadi kebutuhan pokok makhluk hidup. Tanpa asupan
air yang memadai, semua makhluk hidup akan mati dalam beberapa hari. Memang,
air disediakan Allah untuk diminum manusia dan hewan, dan untuk menumbuhkan
tanaman, sebagaimana dinyatakan oleh firman-Nya dalam QS al-Naḥl (16): 10-11
berikut ini, ُ
يُنْبِت .َ هُو َ الَِّي أَنزَل َ مِن َ السَّمَاء ِ مَاء ً لَّكُم مِّنْه ُ شََاب ٌ وَمِنْه ُ شَجَر ٌ فِيه ِ تُسِيْمُوْن
:)16[انلحل ( ... ِ لَكُم ْ بِه ِ الزَّرْع َ وَالزَّيْتُوْن َ وَانلَّخِيْل َ وَاألَعْنَاب َ وَمِن ك ُِّ اثلَّمَرَات
.]11-10
Dia-lah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi
minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan
ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun,
kurma, anggur dan segala macam buah-buahan … [QS an-Naḥl (16: 10-11].
Ketiga, air berfungsi sebagai sarana konservasi (pemeliharaan dan perlindungan)
tanah. Air dapat meningkatkan kualitas tanah dari kering atau tandus menjadi subur,
sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia melalui tumbuh-tumbuhan dan buah-
buahan yang dihasilkannya. Allah menyatakan hal ini dalam QS al-Baqarah (2):
164; dan al-Ḥajj (22): 5] berikut,
.... وَمَا أَنزَل َ الل َُّ مِن َ السَّمَاء ِ مِن مَّاء ٍ فَأَحْيَا بِه ِ األرْض َ بَعْد َ مَوْتِهَا ...
… Apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya
bumi setelah mati (kering) … [QS al-Baqarah (2): 164]. ُِّ
َْا عَلَيْهَا الْمَاء َ اهْتََّت ْ وَرَبَت ْ وَأَنبَتَت ْ مِن ْ كنلَ وَتَرَى األَرْض َ هَامِدَة ً فَإِذَا أَنز ...
.]5 :)22( جل[ا ٍ زَوْج ٍ بَهِيْج
… Dan kamu lihat bumi ini kering,kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan)
di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis
pasangan tetumbuhan yang indah [QS al-Ḥajj (22): 5].
Keempat, air berfungsi sebagai sarana penyucian dan kesehatan (sanitasi), seperti
dinyatakan Allah dalam QS al-Anfāl (8): 11,
.]11 :)8[األنفال ( ... ِ وَيُنَِّل ُ عَلَيْكُم مِّن َ السَّمَاء ِ مَاء ً لُِّطَهِّرَكُم بِه ...
… dan Allah menurunkan ari (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu
dengan hujan itu … [QS al-Anfāl (8): 11].
Untuk menghadap Allah, melakukan salat, misalnya, setiap Muslim harus suci,
dan di sini air punya peran penting, baik dalam berwudhu (agar suci dari hadas
kecil) maupun mandi (agar suci dari hadas besar), sebagaimana dijelaskan dalam
QS al-Māidah (5): 6, َ
َة ِ فَاغْسِلُوا ْ وُجُوهَكُم ْ وَأَيْدِيَكُم ْ إِلالَّ يَا أَيُّهَا الَِّيْن َ آمَنُوا ْ إِذَا قُمْتُم ْ إِل َ الص ْ
ِْ ِإَون كُنتُم ْ جُنُبا ً فَاطَّهَّرُوا الْمَرَافِق ِ وَامْسَحُوا ْ بِرُؤُوسِكُم ْ وَأَرْجُلَكُم ْ إِل َ الْكَعْبَي
.]6 [املائدة (5): ...
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka
basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh)
kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah … [QS al-
Māidah (5): 6].
Adanya hubungan antara mandi dan kesehatan tidak dapat dipungkiri. Terkait
dengan kesehatan, air (terutama air zamzam) memiliki khasiat menyembuhkan
penyakit sesuai dengan tujuan meminumnya, sebagaimana diungkapkan dalam hadis
Nabi Muhammad saw berikut ini,ُ
مَاء :ُ عَن ْ جَابِر بْن ِ عَبْد ِ الل َِّ قَال َ سَمِعْت ُ رَسُوْل َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُول
.]رواه ابن ماجه[ َُ زَمْزَم َ لِمَا شُِب َ ل
Dari Jabir Ibn ‘Abdillāh [diriwayatkan bahwa] dia berkata; Aku mendengar Rasulullah
saw bersabda: Air Zamzam (berkhasiat) sesuai dengan tujuan minumnya [HR Ibn Mājah]. ِ
ُم َّ مِن ْ فَيْحلا :َ عَن ِ ابْن ِ عَبَّاس ٍ قَال َ إِن َّ رَسُوْل َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال
.]دحرواه أ[ َ جَهَنَّم َ فَأَبْرِدُوْهَا بِمَاء ِ زَمْزَم
Dari Ibn ‘Abbās [diriwayatkan bahwa] ia berkata; Sesungguhnya Rasulullah saw
bersabda; Demam merupakan hembusan Jahannam, maka dinginkanlah dengan air
Zamzam [HR Aḥmad].
Kelima, air dalam volume yang besar, seperti sungai dan laut, berfungsi sebagai
lahan transportasi bagi bahtera yang membawa apa yang berguna bagi manusia,
demikian QS al-Baqarah (2): 164 mengungkapkan, sebagaimana berikut ini:
.... َ َْحْر ِ بِمَا يَنفَع ُ انلَّاسبلوَالْفُلْك ِ الَّت ِ تَْرِي ف ِ ا ...
… dan kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia …
[QS al-Baqarah (2): 164].
Laut (dan sungai) juga habitat bagi banyak makhluk yang membawa kemanfaatan
bagi pengembangan dan pelestarian kehidupan manusia. Al-Quran menyatakan hal
ini dalam an-Naḥl (16): 14,
َْحْر َ لَِأْكُلُوا ْ مِنْه ُ لَْما ً طَرِيّا ً وَتَسْتَخْرِجُوا ْ مِنْه ُ حِلْيَة ً تَلْبَسُونَهَابلوَهُو َ الَِّي سَخَّر َ ا
.َ وَتَرَى الْفُلْك َ مَوَاخِر َ فِيه ِ وَلَِبْتَغُوا ْ مِن فَضْلِه ِ وَلَعَلَّكُم ْ تَشْكُرُون
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan
daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan
yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari
sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur [QS al-Naḥl (16): 14].
Keenam, air dijadikan sebagai simbol. Air menjadi simbol untuk surga,
ketakwaan, dan rahmat Tuhan. Surga selalu digambarkan sebagai tempat yang
dijanjikan bagi orang bertakwa, penuh rahmat Tuhan karena mengalir di dalamnya
aneka ragam sungai. Di antaranya sungai dari air, sungai dari air susu, sungai dari
arak, dan sungai dari madu, sebagaimana diungkap dalam QS Muḥammad (47):
15 berikut, ْ
مَثَل ُ الَْنَّة ِ الَّت ِ وُعِد َ الْمُتَّقُون َ فِيهَا أَنْهَار ٌ مِّن مَّاء ٍ غَي ِْ آسِن ٍ وَأَنْهَار ٌ مِن لَّب ٍَ لَّم
[حممّد ... ًّ َ وَأَنْهَار ٌ مِّن ْ عَسَل ٍ مُّصَف ييَتَغَي َّْ طَعْمُه ُ وَأَنْهَار ٌ مِّن ْ خَْر ٍ لََّّة ٍ لِّلشَّارِبِ
.]15 :)47(
Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di
sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang
tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan)
yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni … [QS
Muḥammad (47): 15].
Ketujuh, air sebagai sarana produksi. Air dapat juga berfungsi sebagai sarana
dalam produksi biomasa. Air dalam tanah yang berbentuk lengas (moisture) diserap
oleh akar tumbuhan dan kemudian dialirkan ke daun. Bertemunya air (H2O) dengan
karbondioksida (CO2) dalam zat hijau daun tumbuhan dan adanya energi matahari
kemudian terjadilah reaksi fotosintesis yang menghasilkan senyawa hidrokarbon.
Senyawa hidrokarbon ini kemudian secara fisiologi tumbuhan diubah menjadi
berbagai produk biomasa, yaitu: bagian kayu (batang, ranting dan akar), daun,
bunga, buah dan biji. Fungsi produksi tersebut telah digambarkan dalam al-Quran:
.َ الَِّي جَعَل َ لَكُم ْ مِن َ الشَّجَر ِ اْألَخْض َِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُم ْ مِنْه ُ تُوقِدُون
Yaitu (Allah) yang menjadikan apiuntukmu dari kayu yang hijau, Maka seketika kamu
nyalakan (api) dari kayu itu [Yāsin (36: 80].
Kedelapan, air memiliki fungsi energi. Air mampu menggerakkan turbin
pada suatu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang kemudian menghidupkan
(menjalankan) generator sehingga menghasilkan listrik. Pada skala kecil di
masyarakat pada umumnya dikenal dengan teknologi Mikro-Hidro. Teknologi lain
yang membuktikan bahwa air memiliki fungsi energi, yakni Pembangkit Listrik
Tenaga Uap (PLTU) dan juga kendaraan-kendaraan yang digerakkan dengan energi
uap. Bahkan, saat ini juga dikembangkan teknologi memasak dengan memanfaatkan
uap sebagai sumber energi yang ramah lingkungan. Tentang air yang berfungsi
sebagai energi dapat diambil dari firman Allah berikut ini : ِ
َْحْر َ لَِجْرِي َ الْفُلْك ُ فِيه ِ بِأَمْرِه ِ وَلَِبْتَغُوا مِن ْ فَضْلِهبلالل َُّ الَِّي سَخَّر َ لَكُم ُ ا
.]۱۲ :)45[اجلاثية ( َ وَلَعَلَّكُم ْ تَشْكُرُون
Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya
dengan perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar
kamu bersyukur [al-Jāṡiyah (45): 12].
Selain fungsi kontributif, al-Quran menjelaskan juga fungsi destruktif (merusak)
air. Dalam volume yang besar, seperti air banjir, dan keadaan berubah rasanya atau
berubah warnanya, air dapat berbahaya, bahkan menjadi bencana bagi manusia dan
peradabannya. Tentang air banjir yang membawa bencana (dapat memisahkan anak
dari ayahnya) digambarkan dalam QS Hūd (11): 43 berikut,
قَال َ سَآوِي إِل َ جَبَل ٍ يَعْصِمُن ِ مِن َ الْمَاء قَال َ ال َ عَصِم َ الَْوْم َ مِن ْ أَمْر ِ الل َِّ إِال َّ مَن
.َيرَّحِم َ وَحَال َ بَيْنَهُمَا الْمَوْج ُ فَكَن َ مِن َ الْمُغْرَقِ
Dia (Anaknya) menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat
menghindarkan aku dari air bah!" Nuh berkata, "Tidak ada yang melindungi dari
siksaan Allah pada hari ini selain AllahYang Maha Penyayang." Dan gelombang menjadi
penghalang antara keduanya; maka dia(anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan
[QS Hūd (11): 43].
Adapun tentang air yang berubah rasa atau warnanya, karena terkontaminasi
oleh senyawa beracun, dapat membahayakan manusia diuraikan al-Quran dalam
surat Fāṭir (35): 12 dan al-Kahfi (18): 86 sebagaimana berikut,
[فاطر ٌ َْحْرَان ِ هَذَا عَذْب ٌ فُرَات ٌ سَائِغ ٌ شََابُه ُ وَهَذَا مِلْح ٌ أُجَاجبلوَمَا يَسْتَوِي ا ...
.]12 :)35(
Dan tidaksama (antara) dua lautan; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang
lain asin lagi pahit [QS Fāṭir (35): 12].
... ً حَت َّ إِذَا بَلَغ َ مَغْرِب َ الشَّمْس ِ وَجَدَهَا تَغْرُب ُ ف ِ عَي ٍْ حَِئَة ٍ وَوَجَد َ عِندَهَا قَوْما
.]86 :)18[الكهف (
Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihatnya (matahari)
terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan di sana ditemukannya suatu kaum
(tidak beragama) … [QS al-Kahf (18): 86].
E. Pola Hubungan antara Manusia dan Air
Air adalah bagian dari alam, dan dalam pandangan Islam alam merupakan
sebuah wujud yang tidak berdiri sendiri, namun berhubungan dengan manusia dan
realitas lain Yang Gaib, Yang Menciptakannya, yaitu Allah swt. Alam ini diciptakan
dengan benar dan dengan tujuan tertentu, bukan karena kebetulan atau main-main,
sebagaimana firman Allah dalam QS al-An‘ām (6): 73; Ṣād (38): 27; dan ad-Dukhān
(44): 38].
.... ِّ وَهُو َ الَِّي خَلَق َ السَّمَاوَات ِ وَاألَرْض َ بِالَْق
Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar)…[QS al-An‘ām (6): 73].
.... ً وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء ِ وَاْألَرْض َ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِال
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya
dengan sia-sia … [QS Ṣād (38): 27].
.َيِ َْرْض َ وَمَا بَيْنَهُمَا الَعِبألوَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَات ِ وَا
Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara
keduanya [QS al-Dukhān (44): 38].
Oleh karena itu, alam (termasuk air) mempunyai wujud nyata, objektif, dan
bekerja sesuai dengan hukum-hukum yang berlaku tetap yang disebut dengan
sunnatullah.
Sebagai salah satu dari ketentuan-ketentuan hukum-Nya, setiap makhluk dengan
makhluk lainnya saling berhubungan dalam hubungan yang harmoni dan seimbang.
Demikian juga hubungan antara manusia dan alam, khususnya air. Manusia dalam
Islam tidak saja diposisikan sebagai hamba Tuhan, seperti diungkapkan dalam QS
aż-Żāriyāt (51): 56,
.ِوَمَا خَلَقْت ُ الِْن َّ وَاْإلِنس َ إِال َّ لَِعْبُدُون
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku
[QS aż-Żāriyāt (51): 56].
Lebih dari itu, manusia diposisikan sebagai khalifah-Nya atau mandataris-Nya
di bumi yang bertugas untuk memakmurkannya, sesuai dengan firman-Nya dalam
surat Fāṭir (35): 39; dan Hūd (11): 61 berikut,
.َئِف َ ف ِ اْألَرْض ِ فَمَن كَفَر َ فَعَلَيْه ِ كُفْرُهُالهُو َ الَِّي جَعَلَكُم ْ خَ
Dia-lah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Barangsiapa kafir,
maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri [QS Fāṭir (35): 39].
.]61 [هود (11): ...هُو َ أَنشَأَكُم مِّن َ األَرْض ِ وَاسْتَعْمَرَكُم ْ فِيهَا ...
… Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah)dan menjadikanmu pemakmurnya …
[QS Hūd (11): 61].
Abū Bakr Bakader, dkk., sebagaimana dikutip H. Mortada, menafsirkan kata
khalifah bahwa manusia hanyalah pengelola bumi, bukan pemiliknya.25 Memang,
sebagai konsekuensi dari tauhid, alam dan manusia merupakan kesatuan, berkedudukan
setara, sama-sama ciptaan Allah. Namun, dengan tugas kekhalifahannya, manusia
wajib aktif menjaga harmoni alam dan menyebarkan rahmat ke dalamnya. Sedang-
kan sebagai hamba, manusia wajib tunduk kepada Tuhan, dan menerima rahmat
yang mengalir padanya. Sama halnya dengan Tuhan yang menghidupkan dan
merawat alam, manusia harus merawat alam sekelilingnya, termasuk air. Itulah
wujud ketundukannya kepada Tuhan. Ia tidak dapat mengabaikannya, kecuali dengan
mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Dari pemahaman di atas dan didukung hasil penelusuran ayat-ayat al-Quran dan
hadis Nabi saw, pola hubungan manusia dan air dibangun di atas dua prinsip, yaitu
pemanfaatan sumberdaya air dan pemeliharaannya. Keduanya dibahas dalam satu
tema, yaitu pengelolaan air, di bab 3 berikut. •
25 Mortada, “Urban Sustainability in the Tradition of Islam”, dalam C.A. Brebbia, J.F. Martin-Duque,
dan L.C. Wadhwa (ed.), The Sustainable City II (Ashurst Lodge, Shouthampton, UK: WIT Press, 2002).

