putusan
KITAB HAJI BAGIAN 13 TAWAF TARWIYAH WUKUF
KITAB HAJI
13 TAWAF TARWIYAH WUKUF
O. TAWAF
1. Tawaf pada asasnya disyaratkan bersuci dari hadas dan najis karena tawaf sama seperti salat
dalam banyak aspek, hanya dalam tawaf diperbolehlan berbicara, asal pembicaraannya yang baik. Hal ini berdasarkan hadis-hadis berikut,
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭُﻣﺎَ ﻗﺎَلَ ﻗﺎَلَ رَﺳُوْلُ االلهﱠِ ﺻَﻠّﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ اﻟطﱠوَافُ ﺑِﺎﻟْﺑَﯾْتِ ﺻَﻼَةٌ إِﻻﱠ أَنﱠ االلهﱠَ أﺣَلﱠ ﻟَﻛُمْ ﻓِﯾْﮫِ اﻟْﻛَﻼَمَ ﻓَﻣَنْ ﺗَﻛَﻠﱠمَ ﻓَﻼَ ﯾَﺗَﻛَﻠﱠمُ إِﻻﱠ ﺑِﺧَﯾْرٍ ]رواه اﻟﺣﺎﻛم واﺑن ﺣﺑﺎن وﺻﺣﺣﮫ اﻟﺣﺎﻛم واﺑن ﺣﺑﺎن واﻷﻟﺑﺎﻧﻲ واﻷرﻧؤوط[.
Dari Ibn ‘Abbās r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Tawaf di Baitullah itu merupakan salat, hanya saja Allah swt membolehkan kamu berbicara di dalamnya, akan tetapi barang siapa berbicara, jangan bicarakan kecuali kebaikan [HR al- Ḥākim dan Ibn Ḥibbān dan disahihkan oleh al-Ḥākim, Ibn Ḥibbān, al-Albānī dan al- Arna’ūṭ]. Dalam hadis lain dijelaskan:
ﻋَنْ ﻣُﺣَﻣﱠدِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ ﺑْنِ ﻧَوْﻓَلٍ اﻟْﻘُرَﺷِﻲِّ أَﻧﱠﮫُ ﺳَﺄَلَ ﻋُرْوَةَ ﺑْنَ اﻟزﱡﺑَﯾْرِ ﻓَﻘَﺎلَ ﻗَدْ ﺣَﺞﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﺄَﺧْﺑَرَﺗْﻧِﻲ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔُ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭَﺎ أَﻧﱠﮫُ أَوﱠلُ ﺷَﻲْءٍ ﺑَدَأَ ﺑِﮫِ ﺣِﯾنَ ﻗَدِمَ أَﻧﱠﮫُ ﺗَوَﺿﱠﺄَ ﺛُمﱠ طَﺎفَ ﺑِﺎﻟْﺑَﯾْتِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[.
Dari Muḥammad Ibn Abd ar-Raḥmān Ibn Naufal al-Qurasyī [diriwayatkan] bahwasanya dia bertanya kepada ‘Urwah Ibn az-Zubair, maka dia menjawab: Nabi saw melaksanakan haji, kemudian ‘Ā’isyah mengabarkan kepadaku bahwasanya hal pertama yang dilakukan oleh Nabi saw ketika beliau sampai di Mekah adalah berwuduk kemudian melakukan tawaf [HR al-Bukhārī Muslim].
2. Jika terjadi hadas kecil (batalnya wuduk) ketika sedang tawaf dalam keadaan jamaah penuh
sesak, terutama di saat puncak haji ketika tawaf ifadah (yang termasuk rukun haji) dan tidak memungkinkan mendapatkan air atau jika pun bisa mendapatkan air akan menyusahkan dan memberatkan, maka berdasarkan prinsip taisir (memudahkan) dan ‘adamul-ḥaraj (meniadakan kesulitan), tawaf tetap dilanjutkan tanpa mengulangi wuduk dengan dasar keringanan dan menghindari mudarat. Memaksa manusia padahal ada kesulitan saat itu justru malah bertentangan dengan firman Allah swt, dalam firmannya-Nya:
ﯾُرِﯾدُ ﷲُ ﺑِﻛُمُ اﻟْﯾُﺳْرَ وَﻻَ ﯾُرِﯾدُ ﺑِﻛُمُ اﻟْﻌُﺳْرَ ]اﻟﺑﻘرة )2
(: [. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran atasmu [QS al-Baqarah (2): 185].
Dengan demikian, langkah hati-hatinya adalah tetap berwuduk dan mengulangi wuduk jika batal saat melakukan tawaf manakala tidak menimbulkan kesulitan. Jika sulit karena kondisi yang penuh sesak saat tawaf, maka kita boleh mengambil keringanan. Jadi tawaf yang keadaan sucinya batal karena hadas kecil tetap memadai (mujzi’).
3. Jika seorang perempuan mengalami haid sebelum atau pun ketika sedang melakukan haji,
maka ia tidak melakukan tawaf, namun tetap melakukan seluruh perbuatan haji lainnya. Hal ini didasarkan kepada hadis Nabi saw,
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭَﺎ ﻗَﺎﻟَتْ ﺧَرَﺟْﻧَﺎ ﻣَﻊَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ وَﻻَ ﻧُرَى إِﻻﱠ اﻟْﺣَﺞﱠ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﻛُﻧﱠﺎ ﺑِﺳَرِفَ أَوْ ﻗَرِﯾﺑًﺎ ﻣِﻧْﮭَﺎ ﺣِﺿْتُ ﻓَدَﺧَلَ ﻋَﻠَﻲﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ وَأَﻧَﺎ أَﺑْﻛِﻲ ﻓَﻘَﺎلَ أَﻧَﻔِﺳْتِ ﯾَﻌْﻧِﻲ اﻟْﺣَﯾْﺿَﺔَ ﻗَﺎﻟَتْ ﻗُﻠْتُ ﻧَﻌَمْ ﻗَﺎلَ إِنﱠ ھَذَا ﺷَﻲْءٌ ﻛَﺗَﺑَﮫُ ﷲُ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻧَﺎتِ آدَمَ ﻓَﺎﻗْﺿِﻲ ﻣَﺎ ﯾَﻘْﺿِﻲ اﻟْﺣَﺎجﱡ ﻏَﯾْرَ أَنْ ﻻَ ﺗَطُوﻓِﻲ ﺑِﺎﻟْﺑَﯾْتِ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَﻐْﺗَﺳِﻠِﻲ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari ‘Ā’isyah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Kami keluar [dari Madinah menuju Mekah] dengan niat berhaji saja sehingga ketika kami sampai di Sarif atau mendekatinya aku haid, lalu Nabi saw mendatangiku ketika aku sedang menangis, lalu beliau bertanya: Apakah engkau keluar darah? Maksud beliau haid. ‘Ā’isyah melanjutkan: Aku pun menjawab: Ya. Lalu beliau bersabda: Ini adalah ketentuan yang sudah ditetapkan kepada kaum perempuan. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh jamaah haji lainnya. Hanya saja jangan melakukan tawaf, hingga engkau mandi [HR Muslim].
4. Jika seseorang terkena najis yang tidak mungkin dibersihkan, seperti orang yang selalu
kencing terus menerus atau perempuan yang sedang istihadah—darah yang tidak ada henti- hentinya setelah haid—, menurut kesepakatan ulama, tidak mengapa ia melakukan tawaf dan tidak dikenakan sangsi apa pun. Hal ini didasarkan kepada hadis ‘Ā’isyah pada angka 3 di atas yang hanya menyebut haid dan berdasarkan kepada asar dari Ibn Úmar,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ ﺳُﻔْﯾَﺎنَ أَﻧﱠﮫُ ﻛَﺎنَ ﺟَﺎﻟِﺳًﺎ ﻣَﻊَ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ ﻋُﻣَرَ ﻓَﺟَﺎءَﺗْﮫُ اﻣْرَأَةٌ ﺗَﺳْﺗَﻔْﺗِﯾﮫِ ﻓَﻘَﺎﻟَتْ إِﻧِّﻰ أَﻗْﺑَﻠْتُ أُرِﯾدُ أَنْ أَطُوفَ ﺑِﺎﻟْﺑَﯾْتِ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﻛُﻧْتُ ﺑِﺑَﺎبِ اﻟْﻣَﺳْﺟِدِ ھَرَﻗْتُ اﻟدِّﻣَﺎءَ ﻓَرَﺟَﻌْتُ ﺣَﺗﱠﻰ ذَھَبَ ذَﻟِكَ ﻋَﻧِّﻰ ﺛُمﱠ أَﻗْﺑَﻠْتُ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﻛُﻧْتُ ﻋِﻧْدَ ﺑَﺎبِ اﻟْﻣَﺳْﺟِدِ ھَرَﻗْتُ اﻟدِّﻣَﺎءَ ﻓَرَﺟَﻌْتُ ﺣَﺗﱠﻰ ذَھَبَ ذَﻟِكَ ﻋَﻧِّﻰ ﺛُمﱠ أَﻗْﺑَﻠْتُ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﻛُﻧْتُ ﻋِﻧْدَ ﺑَﺎبِ اﻟْﻣَﺳْﺟِدِ ھَرَﻗْتُ اﻟدِّﻣَﺎءَ. ﻓَﻘَﺎلَ ﻋَﺑْدُ االلهﱠِ ﺑْنُ ﻋُﻣَرَ إِﻧﱠﻣَﺎ ذَﻟِكَ رَﻛْﺿَﺔٌ ﻣِنَ اﻟﺷﱠﯾْطَﺎنِ ﻓَﺎﻏْﺗَﺳِﻠِﻰ ﺛُمﱠ اﺳْﺗَﺛْﻔِرِى ﺑِﺛَوْبٍ ﺛُمﱠ طُوﻓِﻰ ]رواه ﻣﺎﻟك ﻓﻲ اﻟﻣوطﺄ[.
Dari ‘Abdullāh Ibn Sufyān [diriwayatkan] bahwa pernah duduk bersama ‘Abdullāh Ibn ‘Umar, lalu seorang perempuan datang meminta fatwa kepadanya, seraya bertanya: Ketika aku sudah siap untuk melakukan tawaf, tiba-tiba ketika sudah sampai di pintu masjid, keluar darah. Lalu aku pulang ke rumah dan aku tunggu hingga berhenti. Lalu aku pergi lagi ke
masjid hingga ketika sampai di pintu, keluar darah kembali. Maka aku pulang ke rumah dan aku tunggu hingga berhenti. Lalu aku pergi ke masjid lagi hingga ketika sampai di pintu, keluar darah lagi”. ‘Abdullāh Ibn ‘Umar menjawab: Itu merupakan goncangan dari setan, maka mandilah, lalu ikatlah dengan kain (pembalut), lalu tawaflah [HR Mālik dalam al- Muwaṭṭa].
5. Tawaf tidak harus dilakukan secara berkesinambungan (terus menerus) dalam tujuh putaran.
Boleh ada jeda waktu antara satu dengan lain putaran seperti wuduknya batal lalu hendak berwuduk (apabila tidak mengalami kesukaran) atau ketika sedang tawaf ada qamat untuk salat fardu lalu yang bersangkutan melakukan salat bersama jamaah lainnya. Setelah selesai wuduk (apabila tidak mengalami kesukaran melakukannya) atau selelah selesai salat, maka ia melanjutkan tawafnya yang masih tersisa dan memulainya dari tempat ia menghentikan tawafnya yang belum selesai. Hal ini didasarkan kepada kemutlakan (tidak adanya kualifikasi dalam) firman Allah swt,
وَﻟْﯾَطﱠوﱠﻓُوا ﺑِﺎﻟْﺑَﯾْتِ اﻟْﻌَﺗِﯾقِ ]اﻟﺣﺞ )22
(: [ Dan hendaklah kamu melakukan tawaf di Rumah Purba (Kakbah) [QS al-Hajj (22): 29]. Ayat ini memerintahkan tawaf dan tidak ada keterangan di dalamnya dan juga di dalam as- Sunnah bahwa tawaf harus dilakukan secara berkesinambungan (muwālāh).
6. Tawaf ifadah adalah rukun haji yang wajib dilaksanakan, yang apabila tidak dilaksanakan
maka haji tidak sah, sama halnya seperti wukuf di Arafah. Hal ini berdasarkan,
أ- ﺛُمﱠ ﻟْﯾَﻘْﺿُوا ﺗَﻔَﺛَﮭُمْ وَﻟْﯾُوﻓُوا ﻧُذُورَھُمْ وَﻟْﯾَطﱠوﱠﻓُوا ﺑِﺎﻟْﺑَﯾْتِ اﻟْﻌَﺗِﯾقِ ]اﻟﺣﺞ )22
(: [ a. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka, hendaklah menyempurnakan nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf di sekeliling Rumah Purba (Baitullah) itu [Al-Hajj (22): 29].
ب- ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭَﺎ أَنﱠ ﺻَﻔِﯾﱠﺔَ ﺑِﻧْتَ ﺣُﯾَﻲٍّ زَوْجَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺣَﺎﺿَتْ ﻓَذَﻛَرْتُ ذَﻟِكَ ﻟِرَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎلَ أَﺣَﺎﺑِﺳَﺗُﻧَﺎ ھِﻲَ ﻗَﺎﻟُوا إِﻧﱠﮭَﺎ ﻗَدْ أَﻓَﺎﺿَتْ ﻗَﺎلَ ﻓَﻼَ إِذًا ]رواه اﻟﺑﺧﺎري واﻟﻠﻔظ ﻟﮫ وﻣﺳﻠم[.
b. Dari ‘Ā’isyah r.a. [diriwayatkan] bahwa Safiyyah Binti Ḥuyayy, istri Nabi saw, mengalami haid, lalu aku (‘Ā’isyah) menyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw. Beliau bertanya: Apakah ia akan menahan kita? Para Sahabat menjawab: Dia (Safiyyah) telah melakukan tawaf ifadah (sebelum haid). Beliau (Rasulullah saw) menimpali: Kalau begitu, dia tidak akan menahan kita [HR al-Bukhārī -dan ini lafalnya- dan Muslim].
Menurut harfiah hadis ini apabila perempuan yang melakukan ibadah haji mengalami haid sebelum sempat melakukan tawaf ifadah, ia dan rombongannya harus menunggu (tertahan) sampai wanita itu selesai haid dan kemudian melakukan tawaf ifadah. Hadis ini menunjukkan bahwa tawaf ifadah adalah rukun haji yang wajib dilaksanakan yang apabila tidak dilakukan ibadah hajinya tidak sah. Wanita yang mengalami haid sebelum sempat melakukan tawaf ifadah pada zaman sekarang di mana tidak mungkin menunda keberangkatan pulangnya yang sudah terjadwal karena penundaan itu sangat menyulitkan dan akan menimbulkan mudarat yang besar dapat menggunakan obat penahan haid jika dia menghendakinya. Namun apabila ia tidak menghendaki dan tidak merasa nyaman dengan penggunaan obat itu, maka dengan merujuk kepada pendapat Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim, diberlakukan asas syariah bahwa suatu yang diharamkan dalam keadaan normal diperbolehkan dalam keadaan darurat apabila ada keperluan mendesak untuk melakukan hal itu. Hal ini seperti makan bangkai dan daging babi yang diharamkan dalam keadaan normal dibolehkan karena keadaan darurat untuk mempertahankan kelangsungan hidup, dan seperti salat fardu yang wajib dilakukan berdiri dan dilarang melakukannya dengan duduk atau berbaring, dibolehkan melakukannya demikian dalam keadaan darurat, serta seperti wanita haid dilarang masuk mesjid, namun dibolehkan karena adanya keperluan mendesak, atau seperti wajib bersuci apabila mengerjakan salat, namun apabila keadaan tidak memungkinkan berwuduk dan tayamun karena sakit misalnya dibolehkan salat dalam keadaan tanpa wuduk. Atas dasar asas syariah tersebut dibolehkan melakukan tawaf ifadah bagi perempuan haid tanpa denda apa pun atas dasar adanya keadaan darurat dan adanya keperluan mendesak untuk melakukannya karena tawaf ifadah itu tidak boleh ditinggalkan sebab ia adalah rukun haji. Dengan demikian keadaan darurat tersebut merupakan pembatasan (taqyīd) dan pengecualian terhadap larangan melakukan tawaf bagi perempuan haid.443
7. Tawaf wadak (tawaf perpisahan) tidak dilakukan oleh perempuan yang sedang haid sesuai
dengan hadis pada angka 3 di atas dan sesuai pula dengan hadis berikut,
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭُﻣَﺎ ﻗَﺎلَ أُﻣِرَ اﻟﻧﱠﺎسُ أَنْ ﯾَﻛُونَ آﺧِرُ ﻋَﮭْدِھِمْ ﺑِﺎﻟْﺑَﯾْتِ إِﻻﱠ أَﻧﱠﮫُ ﺧُﻔِّفَ ﻋَنْ اﻟْﺣَﺎﺋِض ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[.
443 Ibn Taimiyyah, al-Fatāwā al-Kubrā (Beirut: Dār al-Fikr, 1408/1987), I: 443-472; dan Ibn al-Qayyim, I’lām al-Muwqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn (Beirut: Dār al-Fikr, 1423/2003), III: 11-23.
Dari Ibn ‘Abbās r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Orang-orang diperintahkan agar menjadikan akhir dari kunjungan mereka [di Mekah] adalah tawaf di Baitullah, namun hal ini diringankan bagi para wanita yang sedang mengalami haid [HR al-Bukhārī dan Muslim].
P. TARWIYAH
1. Dalam konteks ibadah haji Tarwiyah adalah suatu prosesi ibadah haji yang dilakukan oleh
Nabi saw pada tanggal 8 Zulhijah di saat itu salah satu yang dilakukan adalah mengumpulkan perbekalan utamanya air.444 Tarwiyah dilakukan calon haji dengan cara meninggalkan Mekkah menuju Mina pada pagi hari tanggal 8 Zulhijah (miqat zamani) dengan berpakaian ihram dan berniat untuk menunaikan idadah haji. Di Mina mereka menunaikan salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya hingga salat subuh tanggal 9 Zulhijah.
2. Tarwiyah termasuk bagian dari kesunahan yang ditunaikan, didasarkan hadis-hadis berikut
ini:
ﻋَنْ ﺟَﺎﺑِرِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﻗَﺎلَ: ﻗَﺎلَ رَﺳُوْلُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَ ﺳَﻠﱠمَ ... ... ... ﺧُذُوْا ﻋَﻧِّﻲ ﻣَﻧَﺎﺳِﻛَﻛُمْ ... ]رواه اﻟﺑﯾﮭﻘﻲ[.
Dari Jābir Ibn ‘Abdillāh r.a. dia berkata Rasulullah saw bersabda, “Ambillah oleh kamu sekalian dariku manasik haji kamu sekalian [HR al-Baihaqī].
... ﻓَﻠَﻣﱠﺎ ﻛَﺎنَ ﯾَوْمُ اﻟﺗﱠرْوِﯾﱠﺔِ ﺗَوَﺟﱠﮭُوْا إِﻟَﻰ ﻣِﻧَﻰ ﻓَﺄَھَﻠﱡوْا ﺑِﺎﻟْﺣَﺞِّ وَرَﻛِبَ رَﺳُوْلُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﺻَﻠﱠﻰ ﺑِﮭَﺎ اﻟظُﮭْرَ وَاْﻟﻌَﺻْرَ وْاﻟْﻣَﻐْرِبَ وَاﻟْﻌِﺷَﺎءَ وَاﻟْﻔَﺟْرَ ﺛُمﱠ ﻣَﻛَثَ ﻗَﻠِﯾْﻼً ﺣَﺗﱠﻰ طَﻠَﻌَتْ اﻟﺷﱠﻣْسُ... ]رواه أﺑو داود[.
“...ketika hari tarwiyah tiba, para Ssahabat pergi menuju Mina dan mereka melakukan ihram untuk haji, dan (saat itu) Rasulullah mengenderai kenderaannya. Di Mina, Rasulullah saw menunaikan salat Zuhur, Asar, Magrib Isya dan Subuh. Nabi berada di Mina hingga matahari terbit ...” [HR Abū Dāwūd].
ﻋَنْ ﺟَﺎﺑِرِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭُﻣَﺎ أَﻧﱠﮫُ ﺣَﺞﱠ ﻣَﻊَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَوْمَ ﺳَﺎقَ اﻟْﺑُدْنَ ﻣَﻌَﮫُ وَﻗَدْ أَھَﻠﱡوا ﺑِﺎﻟْﺣَﺞِّ ﻣُﻔْرَدًا ﻓَﻘَﺎلَ ﻟَﮭُمْ أَﺣِﻠﱡوا ﻣِنْ إِﺣْرَاﻣِﻛُمْ ﺑِطَوَافِ اﻟْﺑَﯾْتِ وَﺑَﯾْنَ اﻟﺻﱠﻔَﺎ وَاﻟْﻣَرْوَةِ وَﻗَﺻِّرُوا ﺛُمﱠ أَﻗِﯾﻣُوا ﺣَﻼَﻻً ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﻛَﺎنَ ﯾَوْمُ اﻟﺗﱠرْوِﯾَﺔِ ﻓَﺄَھِﻠﱡوا ﺑِﺎﻟْﺣَﺞِّ وَاﺟْﻌَﻠُوا اﻟﱠﺗِﻲ ﻗَدِﻣْﺗُمْ ﺑِﮭَﺎ ﻣُﺗْﻌَﺔً ﻓَﻘَﺎﻟُوا ﻛَﯾْفَ ﻧَﺟْﻌَﻠُﮭَﺎ ﻣُﺗْﻌَﺔً وَﻗَدْ ﺳَﻣﱠﯾْﻧَﺎ اﻟْﺣَﺞﱠ ﻓَﻘَﺎلَ اﻓْﻌَﻠُوا ﻣَﺎ أَﻣَرْﺗُﻛُمْ ﻓَﻠَوْﻻَ أَﻧِّﻲ ﺳُﻘْتُ اﻟْﮭَدْيَ ﻟَﻔَﻌَﻠْتُ ﻣِﺛْلَ اﻟﱠذِي أَﻣَرْﺗُﻛُمْ وَﻟَﻛِنْ ﻻَ ﯾَﺣِلﱡ ﻣِﻧِّﻲ ﺣَرَامٌ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﺑْﻠُﻎَ اﻟْﮭَدْيُ ﻣَﺣِﻠﱠﮫُ ﻓَﻔَﻌَﻠُوا ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
444 Lihat Ibn Manẓūr, Lisān al-‘Arab (Beirut: Dar Ṣādir, t.t.), XIV: 347.
Dari Jābir Ibn ‘Abdillāh r.a. [diriwayatkan] bahwa dia pernah melaksanakan haji bersama Nabi saw ketika beliau menggiring hewan qurbannya di mana orang-orang sudah berihram untuk haji secara ifrad, maka beliau berkata kepada mereka, “Bertahalullah kalian dari ihram dengan tawaf di Baitullah dan sa'i antara bukit Safa dan Marwah dan bercukurlah dan tinggalah (di Mekah) dalam keadaan bebas ihram hingga apabila tiba hari Tarwiyah berihramlah untuk haji dan jadikan apa yang sudah kalian lakukan dari manasik ini sebagai pelaksanaan haji tamatuk. Mereka bertanya, “Bagaimana kami menjadikannya sebagai tamatuk sedang kami sudah meniatkannya sebagai ihram haji?" Maka beliau berkata, “Laksanakanlah apa yang aku perintahkan kepada kalian. Seandainya aku tidak membawa hewan qurban tentu aku akan melaksanakan seperti yang aku perintahkan kepada kalian. Akan tetapi tidak halal bagiku apa-apa yang diharamkan selama ihram ini hingga hewan qurban sudah sampai pada tempat sembelihannya (pada hari nahar).” Lalu mereka melaksanakannya [HR al-Bukhari].
3. Oleh karena itu jamaah haji diseyogyakan untuk melaksanakan ibadah Tarwiyah dalam
rangkaian pelaksanaan manasik haji. Namun hal itu dilakukan sejauh dimungkinkan untuk melaksanakannya dan dengan ketentuan (1) tidak menimbulkan bahaya (mudarat) kepada diri mereka dan (2) tidak mengurangi pemaksimalan ibadah haji secara keseluruhan. Hal ini didasarkan kepada hadis dan kaidah fikih,
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻻَ ﺿَرَرَ وَﻻَ ﺿِرَارَ ]رواه أﺣﻣد وﻣﺎﻟك وأﺑو ﻧﻌﯾم واﻟدارﻗطﻧﻲ واﻟﺑﯾﮭﻘﻲ[.
Dari Ibn Ibn ‘Abbās [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Tidak ada perbuatan mudarat dan memudaratkan [HR Aḥmad, Mālik, Abū Nu’aim ad-Dāraquṭnī dan al-Baihaqī].
ا◌َﻟْواَﺟِبُ ﻻَ ﯾُﺗْرَكُ ﻟِﺳُﻧﱠﺔٍ ]اﻷﺷﺑﺎه واﻟﻧظﺎﺋر[
Yang wajib tidak ditinggalkan karena yang sunat [Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir].
Aplikasi ketentuan ini dikembalikan kepada para jemaah haji serta para pembimbing dan pengelola haji yang mengalaminya langsung di lapangan. Manakala situasi memungkinkan mereka untuk menunaikan tarwiyah maka itu yang terbaik, namun jika situasi menunjukkan sebaliknya maka pelaksanaan tarwiyah tidak perlu dipaksakan.
Q. WUKUF DI ARAFAH
1. Arafah adalah salah satu tempat pelaksanaan manasik haji yang terletak paling jauh dari
Mekah. Arafah terletak di luar kawasan Tanah Haram (Tanah Suci) dan karena itu tidak merupakan bagian dari kawasan Tanah Suci Mekah. Arafah merupakan suatu areal yang luas dan telah diberi tanda batas-batasnya, dan semua kawasan Arafah adalah maukif, yakni tempat melakukan wukuf, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi saw,
ﻋَنْ ﺟَﺎﺑِرٍ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ وَﻗَﻔْتُ ھَﺎ ھُﻧَﺎ ﺑِﻌَرَﻓَﺔَ وَﻋَرَﻓَﺔُ ﻛُﻠﱡﮭَﺎ ﻣَوْﻗِفٌ ]رَوَاهُ أَﺑُوْ دَاودَ[.
Dari Jābir [diriwayatkan] bahwa Nabi saw bersabda: Saya pernah wukuf di Arafah sini, dan Arafah itu seluruhnya adalah maukif (tempat wukuf) [HR Abū Dāwūd].
2. Setelah melakukan tarwiyah dengan bermalam di Mina sehingga mendapatkan lima waktu
salat di sana, yaitu Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh, maka setelah matahari terbit pada tanggal 9 Zulhijah jamaah haji meninggalkan Mina dan berangkat menuju Arafah untuk melakukan wukuf. Para jamaah yang tidak dapat melakukan tarwiyah, sebagaimana kebanyakan kondisi jamaah haji lantaran berbagai kesulitan, biasanya langsung dari Mekah menuju ke Arafah. Dalam perjalanan hingga tiba di Arafah, dituntunkan untuk membaca talbiyah atau bertakbir, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Ibn ‘Umar berikut,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ ﻋُﻣَرَ ﻗَﺎلَ ﻏَدَوْﻧَﺎ ﻣَﻊَ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻﻠﻰ ﷲُ ﻋﻠﯾﮫ وﺳﻠم ﻣِنْ ﻣِﻧًﻰ إِﻟَﻰ ﻋَرَﻓَﺎتٍ ﻣِﻧﱠﺎ اﻟْﻣُﻠَﺑِّﻰ وَﻣِﻧﱠﺎ اﻟْﻣُﻛَﺑِّرُ ]رواه ﻣﺳﻠم وأﺑو داود واﻟﻧﺳﺎﺋﻲ[.
Dari ‘Abdillāh Ibn ‘Umar [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Kami berangkat di pagi hari bersama Rasulullah saw dari Mina ke Arafah, di antara kami ada yang mengucapkan talbiyah dan ada yang bertakbir [HR Muslim, Abū Dāwūd dan an-Nasā’ī].
3. Sebelum sampai di Arafah disunatkan untuk singgah di Namirah yang merupakan batas
untuk memasuki kawasan Arafah. Hal ini adalah sesuai dengan praktik haji Rasulullah saw, beliau berhenti di Namirah hingga zawal, kemudian berjalan lagi hingga sampai di Wadi ‘Uranah (sekarang Masjid Ibrahim), di tempat itu beliau berkhutbah serta salat Zuhur dan Asar dengan qasar dan jamak takdim. Setelah itu beliau memasuki Arafah dan mengambil tempat wukuf di kaki Jabal Rahmah. Hal ini dijelaskan dalam hadis,
ﺛُمﱠ ﻣَﻛَثَ ﻗَﻠِﯾﻼً ﺣَﺗﱠﻰ طَﻠَﻌَتْ اﻟﺷﱠﻣْسُ وَأَﻣَرَ ﺑِﻘُﺑﱠﺔٍ ﻣِنْ ﺷَﻌَرٍ ﺗُﺿْرَبُ ﻟَﮫُ ﺑِﻧَﻣِرَةَ ﻓَﺳَﺎرَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ وَﻻَ ﺗَﺷُكﱡ ﻗُرَﯾْشٌ إِﻻﱠ أَﻧﱠﮫُ وَاﻗِفٌ ﻋِﻧْدَ اﻟْﻣَﺷْﻌَرِ اﻟْﺣَرَامِ ﻛَﻣَﺎ ﻛَﺎﻧَتْ ﻗُرَﯾْشٌ ﺗَﺻْﻧَﻊُ ﻓِﻲ اﻟْﺟَﺎھِﻠِﯾﱠﺔِ ﻓَﺄَﺟَﺎزَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺣَﺗﱠﻰ أَﺗَﻰ ﻋَرَﻓَﺔَ ﻓَوَﺟَدَ اﻟْﻘُﺑﱠﺔَ ﻗَدْ ﺿُرِﺑَتْ ﻟَﮫُ ﺑِﻧَﻣِرَةَ ﻓَﻧَزَلَ ﺑِﮭَﺎ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا زَاﻏَتْ اﻟﺷﱠﻣْسُ أَﻣَرَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺻْوَاءِ ﻓَرُﺣِﻠَتْ ﻟَﮫُ ﻓَﺄَﺗَﻰ ﺑَطْنَ اﻟْوَادِي ﻓَﺧَطَبَ اﻟﻧﱠﺎسَ ... ... ... ﺛُمﱠ أَذﱠنَ ﺛُمﱠ أَﻗَﺎمَ ﻓَﺻَﻠﱠﻰ اﻟظﱡﮭْرَ ﺛُمﱠ أَﻗَﺎمَ ﻓَﺻَﻠﱠﻰ اﻟْﻌَﺻْرَ وَﻟَمْ ﯾُﺻَلِّ ﺑَﯾْﻧَﮭُﻣَﺎ ﺷَﯾْﺋًﺎ ﺛُمﱠ رَﻛِبَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺣَﺗﱠﻰ أَﺗَﻰ اﻟْﻣَوْﻗِفَ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Kemudian beliau berhenti sejenak sampai matahari terbit dan menyuruh dibuat kemah di Namirah, lalu Rasulullah saw berangkat. Orang-orang Quraisy tidak ragu lagi bahwa beliau akan wukuf di Masy’aril-Haram seperti biasanya mereka lakukan di zaman Jahiliah. Ternyata Rasulullah saw lewat (tidak berhenti) hingga beliau sampai mendekati Arafah. Beliau mendapati kemahnya telah dibuat di Namirah, lalu beliau berhenti di situ hingga apabila matahari telah tergelincir (zawal) beliau menyuruh mempersiapkan kenderaannya
unta Qaswa. Kemudian beliau sampai di tengah wadi (sekarang Masjid Ibrahim), lalu beliau berkhutbah ... ... ... Kemudiasn dilakukan azan dan qamat, lalu beliau salat Zuhur, kemudian salat Asar, dan tidak dilakukan salat sunat apa pun antara keduanya. Kemudian beliau menaiki kenderaannya hingga sampai di tempat wukuf [HR Muslim]. Apabila tidak memungkinkan singgah dan berhenti di Namirah, maka boleh langsung ke Arafah dan di sana melakukan khutbah Arafah dan salat Zuhur dan Asar secara qasar dan jamak takdim.
4. Rangkaian manasik yang dilakukan di Arafah adalah wukuf di Arafah yang disepakati oleh
para fukaha sebagai rukun haji yang apabila seorang jamaah haji mis (terlewatkan/tidak dapat) melakukannya, maka hajinya tidak sah. Ia dipandang belum melakukan ibadah haji. Waktu yang sah untuk melakukan wukuf di Arafah adalah sejak zawal (tergelincirnya matahari) pada tanggal 9 Zulhijah hingga sebelum fajar hari Nahar (10 Zulhijah). Orang yang sampai di Arafah, melakukan wukuf setelah zawal (tergelincirnya matahari) hingga terbenam matahari sore itu dan kemudian meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Orang yang karena suatu dan lain sebab, seperti problem transportasi dan kepadatan lalu lintas atau halangan lain, baru bisa sampai di Arafah setelah matahari hari Arafah terbenam, melakukan wukuf secukupnya dan kemudian meninggalkan Arafah berangkat menuju Muzdalifah. Orang yang baru bisa tiba di Arafah beberapa saat sebelum terbit fajar, melakukan wukuf walaupun sebentar, kemudian berangkat ke Muzdalifah. Apabila ada yang mis (tidak dapat) melakukan wukuf sebelum fajar, maka hajinya belum terpenuhi, artinya ia belum melaksanakan haji. Hal ini didasarkan kepada hadis Nabi saw,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ ﺑْنِ ﯾَﻌْﻣُرَ اﻟدِّﯾﻠِﻲﱠ ﻗَﺎلَ ﺷَﮭِدْتُ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ وھو واﻗف ﺑِﻌَرَﻓَﺔَ وَأَﺗَﺎهُ ﻧَﺎسٌ ﻣِنْ أھل ﻧَﺟْدٍ ﻓَﻘﺎَﻟُوْا ﯾﺎَ رَﺳُوْلَ االلهﱠِ ﻛَﯾْفَ اﻟْﺣَﺞﱡ ﻗَﺎلَ اﻟْﺣَﺞﱡ ﻋَرَﻓَﺔُ ﻓَﻣَنْ ﺟَﺎءَ ﻗَﺑْلَ ﺻَﻼَةِ اﻟْﻔَﺟْرِ ﻟَﯾْﻠَﺔَ ﺟَﻣْﻊٍ ﻓَﻘَدْ ﺗَمﱠ ﺣَﺟﱠﮫُ ]رواه اﺑن ﻣﺎﺟﮫ واﻟﻠﻔظ ﻟﮫ واﻟﻧﺳﺎﺋﻲ واﻟﺗرﻣذي وأﺣﻣد[.
Dari ‘Abd ar-Raḥmān Ibn Ya‘mur ad-Dīlī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saya menyaksikan Rasulullah saw ketika beliau sedang wukuf di Arafah didatangi oleh sekumpulan orang dari penduduk Najed. Mereka bertanya: Hai Rasulullah, bagaimana haji itu? Beliau menjawab: Haji itu adalah Arafah. Barangsiapa sempat datang sebelum salat subuh pada malam Jamak (malam keberangkatan ke Muzdalifah), maka hajinya sudah sempurna [HR Ibn Mājah, dan ini lafalnya, dan an-Nasā’ī, at-Tirmiżī dan Aḥmad].
5. Ibadah yang dilakukan di Arafah setelah mulainya wukuf adalah khutbah Arafah yang
disampaikan oleh imam atau pemimpin rombongan, kemudian melakukan salat Zuhur dan Asar dengan qasar dan jamak takdim dengan satu azan dan dua iqamat bagi yang tidak dapat berhenti di Namirah, membaca tahmid, tahlil, takbir, berdoa, bertaubat dan berzikir kepada
Allah swt dan membaca kitab suci al-Quran. Hari Arafah adalah hari yang amat baik untuk melakukan amal ibadah dan berdoa sesuai dengan hadis,
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯾﮫ وﺳﻠم ﻣَﺎ ﻣِنْ أَﯾﱠﺎمٍ اﻟْﻌَﻣَلُ اﻟﺻﱠﺎﻟِﺢُ ﻓِﯾﮭَﺎ أَﺣَبﱡ إِﻟَﻰ االلهﱠِ ﻣِنْ ھَذِهِ اﻷَﯾﱠﺎمِ ﯾَﻌْﻧِﻰ أَﯾﱠﺎمَ اﻟْﻌَﺷْرِ ]رواه أﺑو داود وﺻﺣﺣﮫ اﻷﺑﺎﻧﻲ[.
Dari Ibnu Abbas [diriwayatkan] ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Tidak ada hari di antara hari-hari yang melakukan amal salih pada hari tersebut lebih disukai oleh Allah daripada hari-hari ini, maksudnya hari-hari selama sepuluh hari pertama Zulhijah [HR Abū Dāwūd, dan disahihkan oleh al-Albānī].
Menurut hadis ini, amal paling disukai oleh Allah adalah yang dilakukan pada sepuluh pertama bulan Zulhijah, dan hari Arafah termasuk di dalamnya. Doa-doa juga dianjurkan untuk dilakukan saat wukuf, karena doa pada saat tersebut berpeluang besar untuk makbul.
ﻋَنْ ﻋَﻣْرِو ﺑْنِ ﺷُﻌَﯾْبٍ ﻋَنْ أَﺑِﯾﮫِ ﻋَنْ ﺟَدِّهِ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ ﺧَﯾْرُ اﻟدﱡﻋَﺎءِ دُﻋَﺎءُ ﯾَوْمِ ﻋَرَﻓَﺔَ وَﺧَﯾْرُ ﻣَﺎ ﻗُﻠْتُ أَﻧَﺎ وَاﻟﻧﱠﺑِﯾﱡونَ ﻣِنْ ﻗَﺑْﻠِﻲ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ ﷲُ وَﺣْدَهُ ﻻَ ﺷَرِﯾكَ ﻟَﮫُ ﻟَﮫُ اﻟْﻣُﻠْكُ وَﻟَﮫُ اﻟْﺣَﻣْدُ وَھُوَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُلِّ ﺷَﻲْءٍ ﻗَدِﯾرٌ ]رواه اﻟﺗرﻣذي وﺣﺳﻧﮫ اﻷﻟﺑﺎﻧﻲ[.
Dari ‘Amr Ibn Syu‘aib dari kakeknya [diriwayatkan] bahwa Nabi saw bersabda: Sebaik- baik doa adalah doa hari Arafah dan sebaik-baik ucapan yang aku dan Nabi-nabi sebelumku ucapkan adalah lā ilāḥa illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr (Tiada Tuhan selain Allah sendiri-Nya, tiada sekutu bagi-Nya, Dia lah yang memiliki kerajaan dan yang memiliki segala pujian, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu) [HR at-Tirmiżī dan dihasankan oleh al-Albānī]. Hari Arafah juga merupakan hari pembebasan dari neraka paling banyak dilakukan Allah serta hari yang Insya Allah doa-doa makbul. Oleh karena itu saat wukuf hendaknya diperbanyak istigfar dan tobat serta penyesalan atas segala dosa dengan kekhusyukan dan keikhlasan hati yang mendalam.
ﻋَنْ اﺑْنِ اﻟْﻣُﺳَﯾﱠبِ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎﻟَتْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔُ إِنﱠ رَﺳُول االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ ﻣَﺎ ﻣِنْ ﯾَوْمٍ أَﻛْﺛَرَ ﻣِنْ أَنْ ﯾُﻌْﺗِقَ ﷲُ ﻓِﯾﮫِ ﻋَﺑْدًا ﻣِنْ اﻟﻧﱠﺎرِ ﻣِنْ ﯾَوْمِ ﻋَرَﻓَﺔَ وَإِﻧﱠﮫُ ﻟَﯾَدْﻧُو ﺛُمﱠ ﯾُﺑَﺎھِﻲ ﺑِﮭِمْ اﻟْﻣَﻼَﺋِﻛَﺔَ ﻓَﯾَﻘُولُ ﻣَﺎ أَرَادَ ھَؤُﻻَءِ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Ibn al-Musayyab [diriwayatkan bahwa] ia berkata: ‘Ā’isyah menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: Tiada suatu hari pun yang Allah lebih banyak membebaskan seorang hamba dari api neraka selain dari hari Arafah. Allah mendekat dan berbangga kepada para Malaikat dengan mengatakan, apa yang dikehendaki oleh mereka ini [HR Muslim].
6. Pada hari wukuf dilarang melakukan puasa sunat Arafah bagi orang yang sedang melakukan
haji. Puasa Arafah disunatkan dilakukan oleh orang yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Hanya saja larangan tersebut bukan larangan tegas (haram), melainkan larangan makruh. Rasulullah saw sendiri tidak berpuasa Arafah ketika beliau mengerjakan haji. Dasarnya adalah hadis Nabi saw,
ﻋَنْ أُمِّ اﻟْﻔَﺿْلِ ﺑِﻧْتِ اﻟْﺣَﺎرِثِ أَنﱠ ﻧَﺎﺳًﺎ ﺗَﻣَﺎرَوْا ﻋِﻧْدَھَﺎ ﯾَوْمَ ﻋَرَﻓَﺔَ ﻓِﻲ ﺻَوْمِ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎلَ ﺑَﻌْﺿُﮭُمْ ھُوَ ﺻَﺎﺋِمٌ وَﻗَﺎلَ ﺑَﻌْﺿُﮭُمْ ﻟَﯾْسَ ﺑِﺻَﺎﺋِمٍ ﻓَﺄَرْﺳَﻠَتْ إِﻟَﯾْﮫِ ﺑِﻘَدَحِ ﻟَﺑَنٍ وَھُوَ وَاﻗِفٌ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌِﯾرِهِ ﻓَﺷَرِﺑَﮫُ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم وأﺑو داود وﻣﺎﻟك وأﺣﻣد[.
Dari Ummul-Faḍl Binti al-Ḥāriṡ [diriwayatkan] bahwa orang-orang berdebat di dekat beliau pada hari Arafah tentang apakah Nabi saw berpuasa pada hari itu. Sebagian mengatakan: Beliau berpuasa, dan sebagian alain mengatakan tidak berpuasa. Maka aku (Ummul-Faḍl) mengirin satu cawan susu [kepada beliau] yang berada di atas untanya, lalu beliau minum [HR al-Bukhārī, Muslim, Abū Dāwūd, Mālik dan Aḥmad].
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ ﻗَﺎلَ ﻧَﮭَﻰ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻋَنْ ﺻَوْمِ ﯾَوْمِ ﻋَرَﻓَﺔَ ﺑِﻌَرَﻓَﺎتٍ ]رواه اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ واﻟﻠﻔط ﻟﮫ وأﺑو داود واﺑن ﺧزﯾﻣﺔ واﻟطﺑراﻧﻲ واﻟﺣﺎﻛم واﻟﺑﯾﮭﻘﻲ[.
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw melarang berpuasa pada hari Arafah di Padang Arafah [HR an-Nasā’ī —dan ini lafalnya—, Abū Dāwūd, Ibn Mājah, Ibn Khuzaimah, aṭ-Ṭabarānī, dan al-Ḥākim, dan al-Baihaqī; disahihkan oleh Ibn Khuzaimah dan al-Ḥākim, dan didaifkan oleh al-Albānī dan al-Arna’ūṭ].
7. Setelah matahari hari Arafah terbenam, maka jamaah haji segera meninggalkan Arafah
berangkat ke Muzdalifah untuk melakukan mabit di tempat tersebut. Salat Magrib dan Isya dilakukan di Muzdalifah secara qasar dan jamak ta’khir. Jemaah yang tidak dapat segera meninggalkan Arafah karena problem keterlambatan transportasi dan harus menunggu di Arafah dapat melakukan salat Magrib dan Isya secara qasar dan jamak di Arafah. Kemudian setelah ada kendaraan berangkat menuju Muzdalifah [lihat huruf H: Salat].
R. MUZDALIFAH
1. Muzdalifah adalah tempat antara Arafah dan Mina. Muzdalifah disebut juga dengan nama
Jamak karena di tempat ini jemaah haji berkumpul sejenak untuk istirahat sebelum menuju Mina. Muzdalifah terkadang dinamai Masy’aril-Haram karena dia merupakan tempat untuk manasik haji (masy’ar) di mana jemaah haji masih dalam keadaan berpakaian ihram (haram)
karena belum bertahallul. Di tempat ini memang ada satu lokasi bernama Masy’aril-Haram berupa bukit yang juga dikenal dengan nama Quzah.445
2. Selama perjalanan ibadah ke dan di Muzdalifah dituntunkan beberapa hal sebagai berikut:
a. Muzdalifah didatangi jemaah haji ketika matahari pada tanggal 9 Zulhijah telah terbenam. Selama perjalanan dari Arafah menuju Muzdalifah dituntunkan untuk membaca talbiyah dan berdoa; Selama mabit salat Magrib dan Isya ditunaikan secara jama' ta’khir dan qasar. Istirahat tidur dilakukan hingga waktu fajar. Praktik Nabi saw ini didukung oleh beberapa hadis berikut:
ﻋَنْ ﺟَﺎﺑِرٍ ﻗَﺎلَ: ... ﺣَﺗﱠﻰ أَﺗَﻰ اﻟْﻣُزْدَﻟِﻔَﺔَ ﻓَﺟَﻣَﻊَ ﺑَﯾْنَ اﻟْﻣَﻐْرِبِ وَاﻟْﻌِﺷَﺎءِ ﺑِﺄَذَانٍ وَاﺣِدٍ وَإِﻗَﺎﻣَﺗَﯾْنِ ﻗَﺎلَ ﻋُﺛْﻣَﺎنُ وَﻟَمْ ﯾُﺳَﺑِّﺢْ ﺑَﯾْﻧَﮭُﻣَﺎ ﺷَﯾْﺋًﺎ ﺛُمﱠ اﺗﱠﻔَﻘُوا ﺛُمﱠ اﺿْطَﺟَﻊَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺣَﺗﱠﻰ طَﻠَﻊَ اﻟْﻔَﺟْرُ ﻓَﺻَﻠﱠﻰ اﻟْﻔَﺟْرَ ﺣِﯾنَ ﺗَﺑَﯾﱠنَ ﻟَﮫُ اﻟﺻﱡﺑْﺢُ ﺑِﺄَذَانٍ وَإِﻗَﺎﻣَﺔٍ ... ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Jabir [diriwayatkan] ia berkata: ... sampai di Muzdalifah beliau melakukan salat Magrib dan Isya dengan satu kali azan dan dua qamat —‘Uṡmān (Ibn Abī Syaibah, rawi dalam hadis ini menambahkan: ‘Beliau tidak melakukan salat antara keduanya,” kemudian lafal para rawi itu sama—, kemudian Rasulullah saw tidur hingga terbit fajar, lalu beliau salat Subuh ketika waktu Subuh tiba dengan azan dan qamat [HR Muslim]. b. Sementara untuk yang berhalangan diperkenankan berhenti sejenak di Muzdalifah dengan tetap di kendaraan atau turun dari kendaraan dan meninggalkan Muzdalifah sebelum fajar, sesuai hadis ‘Ā’isyah berikut:
ﻋَنْ اﻟْﻘَﺎﺳِمِ ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ أَﻧﱠﮭَﺎ ﻗَﺎﻟَتْ اﺳْﺗَﺄْذَﻧَتْ ﺳَوْدَةُ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻟَﯾْﻠَﺔَ اﻟْﻣُزْدَﻟِﻔَﺔِ ﺗَدْﻓَﻊُ ﻗَﺑْﻠَﮫُ وَﻗَﺑْلَ ﺣَطْﻣَﺔِ اﻟﻧﱠﺎسِ وَﻛَﺎﻧَتْ اﻣْرَأَةً ﺛَﺑِطَﺔً ﯾَﻘُولُ اﻟْﻘَﺎﺳِمُ وَاﻟﺛﱠﺑِطَﺔُ اﻟﺛﱠﻘِﯾﻠَﺔُ ﻗَﺎلَ ﻓَﺄَذِنَ ﻟَﮭَﺎ ﻓَﺧَرَﺟَتْ ﻗَﺑْلَ دَﻓْﻌِﮫِ وَﺣَﺑَﺳَﻧَﺎ ﺣَﺗﱠﻰ أَﺻْﺑَﺣْﻧَﺎ ﻓَدَﻓَﻌْﻧَﺎ ﺑِدَﻓْﻌِﮫِ وَﻷََنْ أَﻛُونَ اﺳْﺗَﺄْذَﻧْتُ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﻣَﺎ اﺳْﺗَﺄْذَﻧَﺗْﮫُ ﺳَوْدَةُ ﻓَﺄَﻛُونَ أَدْﻓَﻊُ ﺑِﺈِذْﻧِﮫِ أَﺣَبﱡ إِﻟَﻲﱠ ﻣِنْ ﻣَﻔْرُوحٍ ﺑِﮫِ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari al-Qāsim, dari ‘Ā’isyah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saudah pernah meminta izin kepada Rasulullah saw di malam Muzdalifah untuk berangkat mendahului beliau dan rombongan orang banyak dan Saudah adalah seorang wanita gemuk [al-Qāsim menyatakan: gemuknya lamban]. Al-Qāsim berberkata: ‘Ā’isyah melanjutkan: Maka Rasulullah saw pun mengizinkannya, lalu Saudah berangkat mendahului keberangkatan Rasulullah saw dan beliau menahan kami hingga Subuh, lalu kami berangkat bersama beliau. Seandainya aku meminta izin kepada beliau sebagaimana Saudah, lalu aku berangkat dengan izin beliau, adalah lebih aku senangi daripada suatu apa pun yang lain [HR Muslim].
445Lihat Sa‘d Ibn Sa‘īd al-Ḥajarī, al-Mansak al-Muyassar li al-Ḥājj wal-Mu‘tamir (Saudi Arabia: Maktabat ar- Riyāḍ, 1428), hlm. 120.

