putusan
KITAB HAJI BAGIAN 14 MUZDALIFAH MINA
KITAB HAJI
14 MUZDALIFAH MINA
c. Setelah menunaikan salat Subuh jemaah haji tetap dituntunkan untuk banyak berzikir dan berdoa dengan menghadap kiblat. Dalam hadis Jabir ditegaskan bahwa Nabi saw menghadap kiblat seraya berdoa membaca takbir berdzikir.
... ﺛُمﱠ رَﻛِبَ اﻟْﻘَﺻْوَاءَ ﺣَﺗﱠﻰ أَﺗَﻰ اﻟْﻣَﺷْﻌَرَ اﻟْﺣَرَامَ ﻓَﺎﺳْﺗَﻘْﺑَلَ اﻟْﻘِﺑْﻠَﺔَ ﻓَدَﻋَﺎهُ وَﻛَﺑﱠرَهُ وَھَﻠﱠﻠَﮫُ وَوَﺣﱠدَهُ ﻓَﻠَمْ ﯾَزَلْ وَاﻗِﻔًﺎ ﺣَﺗﱠﻰ أَﺳْﻔَرَ ﺟِد•ا ﻓَدَﻓَﻊَ ﻗَﺑْلَ أَنْ ﺗَطْﻠُﻊَ اﻟﺷﱠﻣْسُ ... ]رواه ﻣﺳﻠم[.
“... Kemudian beliau naik unta Qaswa meneruskan perjalanan sampai ke Masy’aril Haram. Sampai di sana beliau menghadap ke kiblat, berdoa, bertakbir, bertahlil dan membaca kaliamat tauhid. Beliau terus berada di atas untanya hingga keadaan sudah terang, lalu berangkat sebelum matahari terbit ...” [HR Muslim].
d. Disunatkan mencari kerikil di Muzdalifah untuk melempar jumrah. e. Setelah mabit di Muzdalifah (berada di tempat itu melewati tengah malam, walaupun sebentar), lalu berangkat menuju Mina. Selama dalam perjalanan dituntunkan membaca talbiyah. Hadis riwayat Kuraib menyebutkan:
ﻗَﺎلَ ﻛُرَﯾْبٌ ﻓَﺄَﺧْﺑَرَﻧِﻲ ﻋَﺑْدُ االلهﱠِ ﺑْنُ ﻋَﺑﱠﺎسٍ ﻋَنْ اﻟْﻔَﺿْلِ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻟَمْ ﯾَزَلْ ﯾُﻠَﺑِّﻲ ﺣَﺗﱠﻰ ﺑَﻠَﻎَ اﻟْﺟَﻣْرَةَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[.
Kuraib mengatakan: ‘Abdullāh Ibn ‘Abbās dari al-Faḍl menyatakan bahwa Rasulullah saw terus melakukan talbiyah sampai beliau tiba waktu melempar jumrah” [HR al-Bukhārī dan Muslim].
S. MANASIK SELAMA DI MINA
Selama di Mina jemaah haji melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Pada tanggal 10 Zulhijah setelah sampai di Mina, yang pertama kali dilakukan jemaah haji
adalah melempar jumrah aqabah sebanyak 7 kali lemparan menggunakan batu kerikil. Dalam riwayat Muslim disebutkan,
ﻋَنْ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ ﻋَنْ اﻟْﻔَﺿْلِ ﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ وَﻛَﺎنَ رَدِﯾفَ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ ﻓِﻲ ﻋَﺷِﯾﱠﺔِ ﻋَرَﻓَﺔَ وَﻏَدَاةِ ﺟَﻣْﻊٍ ﻟِﻠﻧﱠﺎسِ ﺣِﯾنَ دَﻓَﻌُوا ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ ﺑِﺎﻟﺳﱠﻛِﯾﻧَﺔِ وَھُوَ ﻛَﺎفﱞ ﻧَﺎﻗَﺗَﮫُ ﺣَﺗﱠﻰ دَﺧَلَ ﻣُﺣَﺳِّرًا وَھُوَ ﻣِنْ ﻣِﻧًﻰ ﻗَﺎلَ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ ﺑِﺣَﺻَﻰ اﻟْﺧَذْفِ اﻟﱠذِي ﯾُرْﻣَﻰ ﺑِﮫِ اﻟْﺟَﻣْرَةُ وَﻗَﺎلَ ﻟَمْ ﯾَزَلْ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﻠَﺑِّﻲ ﺣَﺗﱠﻰ رَﻣَﻰ اﻟْﺟَﻣْرَةَ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Ibn ‘Abbās, dari al-Faḍl Ibn ‘Abbās –ketika ia membonceng di belakang Rasulullah saw– [diriwayatkan] bahwa beliau berkata kepada orang-orang di sore hari Arafah dan
pagi hari di Jamak saat mereka berangkat, “Hendaklah kalian berjalan dengan tenang.” Dan ia senantiasa menjalankan Untanya dengan pelan-pelan hingga beliau memasuki lembah Muhassir, dan saat itu ia datang dari Mina. Ia berkata, “Hendaklah kalian mengambil kerikil untuk melempar Jumrah” [HR Muslim].
2. Saat melempar jumrah (jika memungkinkan) Kakbah berada sebelah kiri si haji. Ini
didasarkan oleh hadis al-Bukhārī,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮫُ أَﻧﱠﮫُ اﻧْﺗَﮭَﻰ إِﻟَﻰ اﻟْﺟَﻣْرَةِ اﻟْﻛُﺑْرَى ﺟَﻌَلَ اﻟْﺑَﯾْتَ ﻋَنْ ﯾَﺳَﺎرِهِ وَﻣِﻧًﻰ ﻋَنْ ﯾَﻣِﯾﻧِﮫِ وَرَﻣَﻰ ﺑِﺳَﺑْﻊٍ وَﻗَﺎلَ ھَﻛَذَا رَﻣَﻰ اﻟﱠذِي أُﻧْزِﻟَتْ ﻋَﻠَﯾْﮫِ ﺳُورَةُ اﻟْﺑَﻘَرَةِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari ‘Abdullah r.a. [diriwayatkan] bahwa dia sampai di al-Jumrah al-Kubra (al-‘Aqabah) dengan memposisikan Baitullah berada di sebelah kirinya sedangkan Mina di sisi kanannya, lalu dia melempar dengan tujuh (batu), lalu berkata: Beginilah cara melempar orang yang telah diturunkan kepadanya surah al-Baqarah, yaitu Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam [HR al-Bukhārī].
3. Setiap kali batu kerikil dilemparkan diucapkan takbir Allahu Akbar dan berdoa dengan
kalimat: اﻟﻠﱣﮭُﻢﱠ اﺟْﻌَﻠْﮫُ ﺣَﺠÅﺎ ﻣَﺒْﺮُوْرًا وَذَﻧْﺒًﺎ ﻣَﻐْﻔُﻮْرًا sesuai dengan hadis, ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ ﺑْنِ ﯾَزِﯾدَ ﻗَﺎلَ ﻛُﻧْتُ ﻣَﻊَ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺣَﺗﱠﻰ اﻧْﺗَﮭَﻰ إِﻟَﻰ ﺟَﻣْرَةِ اﻟْﻌَﻘَﺑَﺔِ ﻓَﻘَﺎلَ ﻧَﺎوِﻟْﻧِﻲ أَﺣْﺟَﺎرًا ﻗَﺎلَ ﻓَﻧَﺎوَﻟْﺗُﮫُ ﺳَﺑْﻌَﺔَ أَﺣْﺟَﺎرٍ ﻓَﻘَﺎلَ ﻟِﻲ ﺧُذْ ﺑِزِﻣَﺎمِ اﻟﻧﱠﺎﻗَﺔِ ﻗَﺎلَ ﺛُمﱠ ﻋَﺎدَ إِﻟَﯾْﮭَﺎ ﻓَرَﻣَﻰ ﺑِﮭَﺎ ﻣِنْ ﺑَطْنِ اﻟْوَادِي ﺑِﺳَﺑْﻊِ ﺣَﺻَﯾَﺎتٍ وَھُوَ رَاﻛِبٌ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﻣَﻊَ ﻛُلِّ ﺣَﺻَﺎةٍ وَﻗَﺎلَ اﻟﻠﱣﮭُمﱠ اﺟْﻌَﻠْﮫُ ﺣَﺟ•ﺎ ﻣَﺑْرُورًا وَذَﻧْﺑًﺎ ﻣَﻐْﻔُورًا ﺛُمﱠ ﻗَﺎلَ ھَﺎھُﻧَﺎ ﻛَﺎنَ ﯾَﻘُومُ اﻟﱠذِي أُﻧْزِﻟَتْ ﻋَﻠَﯾْﮫِ ﺳُورَةُ اﻟْﺑَﻘَرَةِ ]رواه أﺣﻣد[.
Dari ‘Abd ar-Raḥmān Ibn Yazīd [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Aku pernah bersama ‘Abdullah hingga selesai melempar Jumrah ‘Aqabah, lalu ia berkata: Berilah aku beberapa batu. Ia melanjutkan: Lalu aku memberinya tujuh batu. Ia menyuruhku: Peganglah tali kekang unta. ‘Abd ar-Raḥmān melanjutkan: Kemudian ia kembali melemparnya dari dalam lembah sebanyak tujuh buah kerikil sambil berada di atas kenderaannya dan bertakbir setiap melempar kerikil dan berdoa: Allahummaj‘alhu ḥajjan mabrūran wa żanban magfūran (Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur dan dosa yang diampuni). Kemudian ia berkata lagi: Di sini lah berdiri orang yang kepadanya diturunkan surat al-Baqarah” [HR Aḥmad].
4. Setelah selesai melempar jumrah, takbir dan talbiyah pun dihentikan. Tuntunan ini
didasarkan pada hadist Nabi berikut:
ﻋَنْ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭُﻣَﺎ أَنﱠ أُﺳَﺎﻣَﺔَ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮫُ ﻛَﺎنَ رِدْفَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻣِنْ ﻋَرَﻓَﺔَ إِﻟَﻰ اﻟْﻣُزْدَﻟِﻔَﺔِ ﺛُمﱠ أَرْدَفَ اﻟْﻔَﺿْلَ ﻣِنَ اﻟْﻣُزْدَﻟِﻔَﺔِ إِﻟَﻰ ﻣِﻧًﻰ ﻗَﺎلَ ﻓَﻛِﻼَھُﻣَﺎ ﻗَﺎلَ ﻟَمْ ﯾَزَلْ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﻠَﺑِّﻲ ﺣَﺗﱠﻰ رَﻣَﻰ ﺟَﻣْرَةَ اﻟْﻌَﻘَﺑَﺔِ ] رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Ibn ‘Abbās r.a. [diriwayatkan] bahwa Usāmah r.a. pernah berboncengan dengan Nabi saw dari Arafah hingga ke Muzdalifah, kemudian Nabi saw membonceng al-Faḍl dari Muzdalifah hingga ke Mina. Ibn ‘Abbās mengatakan: Kedua Sahabat itu mengatakan: Nabi saw senantiasa bertalbiyyah hingga beliau melempar Jumrah Aqabah [HR al-Bukhārī].
5. Yang menunaikan haji qirān dan tamattu’ segera melakukan pembayaran dam dengan
menyembelih hewan. Lakukanlah tahallul awal yaitu mencukur atau memotong rambut. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Muslim,
ﻋَنْ أَﻧَسِ ﺑْنِ ﻣَﺎﻟِكٍ أَنﱠ رَﺳُولَ اQﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ اQﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أَﺗَﻰ ﻣِﻧًﻰ ﻓَﺄَﺗَﻰ اﻟْﺟَﻣْرَةَ ﻓَرَﻣَﺎھَﺎ ﺛُمﱠ أَﺗَﻰ ﻣَﻧْزِﻟَﮫُ ﺑِﻣِﻧًﻰ وَﻧَﺣَرَ ﺛُمﱠ ﻗَﺎلَ ﻟِﻠْﺣَﻼﱠقِ ﺧُذْ وَأَﺷَﺎرَ إِﻟَﻰ ﺟَﺎﻧِﺑِﮫِ اﻷَْﯾْﻣَنِ ﺛُمﱠ اﻷَْﯾْﺳَرِ ﺛُمﱠ ﺟَﻌَلَ ﯾُﻌْطِﯾﮫِ اﻟﻧﱠﺎسَ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Anas Ibn Mālik [diriwayatkan] bahwa setelah Rasulullah saw sampai di Mina, beliau datang ke Jumra Aqabah, lalu melontarnya. Kemudian beliau pergi ke tempatnya di Mina, di sana beliau menyembelih hewan kurban. Sesudah itu, beliau berkata kepada tukang cukur: Cukurlah rambutku sambil beliau memberi isyarat ke kepalanya sebelah kanan dan kiri. Sesudah itu, diberikannya rambutnya kepada orang banyak [HR Muslim].
6. Tahallul awal dilakukan setelah melempar Jumrah Aqabah. Dengan tahallul maka seluruh
larangan ihram telah lepas atau dibebaskan kembali kecuali melakukan hubungan suami isteri sebagaimana difahami dari hadis Ibn ‘Abbās,
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا رَﻣَﯾْﺗُمْ اﻟْﺟَﻣْرَةَ ﻓَﻘَدْ ﺣَلﱠ ﻟَﻛُمْ ﻛُلﱡ ﺷَﻲْءٍ إِﻻﱠ اﻟﻧِّﺳَﺎءَ ﻓَﻘَﺎلَ رَﺟُلٌ وَاﻟطِّﯾبُ ﻓَﻘَﺎلَ اﺑْنُ ﻋَﺑﱠﺎسٍ أَﻣﱠﺎ أَﻧَﺎ ﻓَﻘَدْ رَأَﯾْتُ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﺿَﻣِّﺦُ رَأْﺳَﮫُ ﺑِﺎﻟْﻣِﺳْكِ أَﻓَطِﯾبٌ ذَاكَ أَمْ ﻻَ ] رواه أﺣﻣد[.
Dari Ibn ‘Abbās [diriwayatkan] bahwa ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Jika kalian telah melempar jumrah maka telah halal bagi kalian semuanya kecuali wanita. Seseorang bertanya, wangi-wangian juga? Ibn ‘Abbās berkata, aku melihat Rasulullah saw meminyaki rambutnya dengan al-misk (wangi-wangian), tapi apakah itu termasuk wangi-wangian atau tidak [HR Ahmad].
7. Pergi ke Mekkah untuk melakukan tawaf ifāḍah. Segera kembali ke Mina untuk melakukan
mabit sejak tanggal 11 hingga tanggal 13 Zulhijah seraya melempar jumrah. Dalam kenyataan di lapangan praktik ideal tersebut terkadang sulit dilaksanakan oleh jemaah haji. Meskipun ada yang dapat melaksanakannya namun jumlahnya tidak begitu banyak, hanya orang-orang tertentu saja. Oleh karenanya jemaah dapat melakukan tawaf ifāḍah di waktu- waktu yang lebih memungkinkan.
8. Setelah tergelincir matahari pada tanggal 11 Zulhijah lakukan lempar jumrah yang dimulai
dari Jumrah Ula, kemudian Jumrah Wusta, dan terakhir Jumrah Aqabah. Cara melempar
Jumrah kali ini sama dengan sebelumnya, yaitu setiap kali batu kerikil dilemparkan diucapkan takbir Allāhu Akbar dan berdoa dengan kalimat:
اﻟﻠﮭُمﱠ اﺟْﻌَﻠْﮫُ ﺣَﺟ•ﺎ ﻣَﺑْرُوْرًا وَذَﻧْﺑًﺎ ﻣَﻐْﻔُوْرًا.
9. Setiap melempar Jumrah Ula dan Jumrah Wusta upayakanlah mencari tempat yang kosong
untuk berdoa dengan doa yang dikehendaki seraya mengangkat tangan dan menghadap kiblat. Adapun pada lemparan Jumrah Aqabah tidak perlu berdoa, tetapi segera keluar dari wilayah Jumrah sebagaimana dapat difahami dari hadis berikut,
أَﻓَﺎضَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻣِنْ آﺧِرِ ﯾَوْﻣِﮫِ ﺣِﯾنَ ﺻَﻠﱠﻰ اﻟظﱡﮭْرَ ﺛُمﱠ رَﺟَﻊَ إِﻟَﻰ ﻣِﻧًﻰ ﻓَﻣَﻛَثَ ﺑِﮭَﺎ ﻟَﯾَﺎﻟِﻲَ أَﯾﱠﺎمِ اﻟﺗﱠﺷْرِﯾقِ ﯾَرْﻣِﻲ اﻟْﺟَﻣْرَةَ إِذَا زَاﻟَتْ اﻟﺷﱠﻣْسُ ﻛُلﱡ ﺟَﻣْرَةٍ ﺑِﺳَﺑْﻊِ ﺣَﺻَﯾَﺎتٍ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﻣَﻊَ ﻛُلِّ ﺣَﺻَﺎةٍ وَﯾَﻘِفُ ﻋِﻧْدَ اﻷُْوﻟَﻰ وَﻋِﻧْدَ اﻟﺛﱠﺎﻧِﯾَﺔِ ﻓَﯾُطِﯾلُ اﻟْﻘِﯾَﺎمَ وَﯾَﺗَﺿَرﱠعُ وَﯾَرْﻣِﻲ اﻟﺛﱠﺎﻟِﺛَﺔَ ﻻَ ﯾَﻘِفُ ﻋِﻧْدَھَﺎ ]رواه أﺣﻣد[.
Rasulullah saw melakukan tawaf ifāḍah di akhir harinya setelah beliau salat Zuhur kemudian beliau kembali ke Mina dan tinggal di sana selama malam tasyriq. Beliau melempar jumrah jika matahari telah condong, setiap lemparan dengan tujuh kerikil dan beliau bertakbir dalam setiap melempar kerikil. Beliau berdiri di Aqabah pertama dan kedua dan beliau melamakan berdirinya. Beliau menghusyukkan diri dan melempar di Aqabah ketiga dan beliau tidak berhenti di situ [HR Ahmad]. 10. Melempar ketiga jumrah diulangi lagi pada tanggal 12 dan 13 Zulhijah bagi yang mengambil nafar ṡani, atau cukup diulangi pada tanggal 12 saja, bagi yang mengambil nafar awal di sana boleh segera meninggalkan Mina menuju Mekah. Sedangkan buat yang mengambil nafar ṡani tetap berada di Mina hingga tanggal 13 Zulhijah dan setelah itu menuju Mekah.446 11. Waktu utama (afḍaliyyah) melempar Jumrah Wusta dan Jumrah Aqabah pada hari 11, 12 dan 13 Zulhijah adalah saat matahari mulai condong atau sesudah zawal. Namun selain mengupayakan keutamaan, dalam pelaksanaannya harus juga tetap memperhatikan situasi yang terjadi di lapangan. Manakala situasi menghendaki keselamatan jiwa dan raga yang diutamakan maka pilihan waktu utama “dikalahkan”. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa tidak ada larangan dari Nabi saw untuk menunaikan lempar jumrah sebelum tergelincir matahari, sementara agama mengajarkan prinsip menghindari mudarat dan keringanan (at- taysir). Pandangan ini didasarkan juga pada dalil bahwa Nabi saw membolehkan untuk
446 Didasarkan pada Surah al-Baqarah (2) ayat 203.
orang-orang yang berkeperluan khusus untuk melempar jumrah lebih awal atau lebih akhir. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa tidak ada larangan dari Nabi saw untuk menunaikan lempar jumrah sebelum tergelincir matahari sementara agama mengajarkan prinsip keringanan (at-taisīr). Ini didasarkan kepada dalil sebagai berikut:
وَاذْﻛُرُوا اللَّه ﻓِﻲ أَﯾﱠﺎمٍ ﻣَﻌْدُودَاتٍ ﻓَﻣَنْ ﺗَﻌَﺟﱠلَ ﻓِﻲ ﯾَوْﻣَﯾْنِ ﻓَﻼَ إِﺛْمَ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﻣَنْ ﺗَﺄَﺧﱠرَ ﻓَﻼَ إِﺛْمَ ﻋَﻠَﯾْﮫِ ﻟِﻣَنِ اﺗﱠﻘَﻰ وَاﺗﱠﻘُوا اللَّه وَاﻋْﻠَﻣُوا أَﻧﱠﻛُمْ إِﻟَﯾْﮫِ ﺗُﺣْﺷَرُونَ ]اﻟﺑﻘرة )2
(: [. Dan ingatlah Allah pada hari-hari yang berbilang. Barangsiapa yang bersegera dengan hanya tinggal dua hari di Mina maka tidak berdosa dan siapa yang yang menangguhkan kepulangannya (ke Mekkah) maka tidak berdosa baginya, bagi orang yang bertaqwa. Bertaqwalah dan ketahuilah sesungguhnya kamu sekalian akan dikembalikan kepadaNya [QS al-Baqarah (2): 203]. Dalam hadis dijelaskan pula sebagai berikut:
ﻋَنْ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭُﻣَﺎ ﻗَﺎلَ رَﺟُلٌ ﻟِﻠﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ زُرْتُ ﻗَﺑْلَ أَنْ أَرْﻣِﻲَ ﻗَﺎلَ ﻻَ ﺣَرَجَ ﻗَﺎلَ ﺣَﻠَﻘْتُ ﻗَﺑْلَ أَنْ أَذْﺑَﺢَ ﻗَﺎلَ ﻻَ ﺣَرَجَ ﻗَﺎلَ ذَﺑَﺣْتُ ﻗَﺑْلَ أَنْ أَرْﻣِﻲَ ﻗَﺎلَ ﻻَ ﺣَرَجَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari ‘Abdullah Ibn ‘Abbās r.a. [diriwayatkan bahwa] seorang pria bertanya kepada Nabi saw: Saya pergi ke Baitullah (untuk tawaf ifāḍah) sebelum lempar jumrah? Nabi menjawab: Tidak apa-apa. Pria ini bertanya lagi, Saya cukur rambut saya sebelum sembelih hadyu? Nabi saw menjawab: Tidak apa-apa. Pria ini bertanya lagi: Saya sembelih hadyu sebelum lempar jumrah? Nabi menjawab: Tidak apa-apa [HR al-Bukhārī]. 12. Jemaah haji tidak perlu memikirkan lokasi tenda yang diyakini berada di Mina ternyata berarsiran dengan lokasi Muzdalifah karena bagian terluar dari Muzdalifah itu adalah batas terluar Mina dan bagian terluar Mina itu adalah batas terluar Muzdalifah. Dengan pandangan ini maka jemaah haji tetap dipandang melakukan mabit di Mina dan Muzdalifah pada waktu dan tempatnya sendiri-sendiri.
T. SALAT
1. Pelaksanaan salat Nabi saw ketika dalam keadaan safar secara umum a. Selama safar, Nabi saw mengqasar salatnya dengan melaksanakan salat yang empat rakaat hanya menjadi dua rakaat. Hal ini didasarkan pada beberapa dalil sebagai berikut:
- ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ ﻗﺎَلَ ﺻَﺣِﺑْتُ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻛَﺎنَ ﻻَ ﯾَزِﯾدُ ﻓِﻲ اﻟﺳﱠﻔَرِ ﻋَﻠَﻰ رَﻛْﻌَﺗَﯾْنِ وَأَﺑَﺎ ﺑَﻛْرٍ وَﻋُﻣَرَ وَﻋُﺛْﻣَﺎنَ ﻛَذَﻟِكَ رَﺿِﻲَ ﷲُ ﻋَﻧْﮭُمْ ]رواه اﻟﺑﺧﺎرى[.

