putusan
KITAB SHALAT BAGIAN 07 SEDAKEP ISTISQA SAHWI
KITAB SHALAT
07 SEDAKEP ISTISQA SAHWI
KEPUTUSAN SIDANG SEKSI TENTANG SEDAKEP DALAM
SHALAT 15
KEPUTUSAN SIDANG SEKSI
MU’TAMAR TARJIH MUHAMMADIYAH KE XX
DI KOTA GARUT JAWA BARAT
TANGGAL 18 S/D 23 RABI’ULAKHIR 1396 (18 S/D 23 APRIL 1976)
TENTANG: SEDEKAP DALM SHALAT
ﺑﺳم ﷲ اﻟرﺣﻣن اﻟرﺣﯾم
Mu’tamar Tarjih Muhammadiyah ke XX yang berlangsung dikota Garut Jawa Barat dari tanggal 18 s/d 23 Rabi’ulakhir 1396 = 18 s/d 23 April 1976 dalam masalah koreksi tentang “sedakep dalam shalat” yang tersebut dalam HPT (Himpunan Putusan Tarjih) Kitab Shalat, setelah mendengarkan prasaran yang dibacakan oleh saudara sdr. H.M. Djuwaini dan memperhatikan pendapat2 dan saran2 para mu’tamirin,
MEMUTUSKAN:
Mu’tamar dapat menerima sepenuhnya usul perubahan : a. Matan:
ﺛم ﺿﻊ ﯾدك اﻟﯾﻣﻧﻰ ﻋﻠﻰ ظﮭر اﻟﯾﺳرى ﻋﻠﻰ ﺻدرك
“Kemudian letakkan tangan kananmu diatas punggung telapak tanganmu yang kiri pada dadamu” Diganti menjadi :
ﺛم ﺿﻊ ﯾدك اﻟﯾﻣﻧﻰ ﻋﻠﻰ ظﮭر ﻛﻔك اﻟﯾﺳرى ﻣﻊ اﻟﺳﻎ و اﻟﺳﺎﻋد أو ﻋﻠﻰ ذراﻋك ﻋﻠﻰ ﺻدرك
“Kemudian letakkan tangan kananmu diatas punggung telapak tanganmu yang kiri beserta pergelangan tangan dan hasta atau pada tulang hasta pada dadamu”. b. Dalilnya diganti menjadi :
ﻟﺣدﯾث واﺋل ﻗﺎل ﺻﻠﯾت ﻣﻊ رﺳول ﷲ ص ووﺿﻊ ﯾده اﻟﯾﻣﻧﻰ ﻋﻠﻰ ظﮭر ﻛﻔﮫ اﻟﯾﺳرى ﻋﻠﻰ ﺻدره رواه اﺑن ﺧزﯾﻣﺔ وﺻﺣﺣﮫ, وﻟﺣدﯾث واﺋل ﻋﻧد اﺑﻰ داود واﻟﻧﺳﺎﺋﻰ ﺛم وﺿﻊ ﯾده اﻟﯾﻣﻧﻰ ﻋﻠﻰ ظﮭرﻛﻔﮫ اﻟﯾﺳرى واﻟرﺳﻎ واﻟﺳﺎﻋد, وﻟﺣدﯾث ﺳﮭل ﺑن ﺳﻌد ﻗﺎل ﻛﺎن اﻟﻧﺎس ﯾؤﻣرون ان ﯾﺿﻊ اﻟرﺟل ﯾده اﻟﯾﻣﻧﻰ ﻋﻠﻰ ذراﻋﮫ رواه اﻟﺑﺧﺎرى.
Karena hadits Wail, ia menerangkan : Saya telah shalat bersama Rasulullah saw lalu beliau meletakkan tangan kanannya diatas punggung tangan kirinya pada dadanya (H.R. Ibnu Khuzaimah dan dishahihkannya)
Dan karena hadits Wail riwayat Abu Daud, dan Nasai : Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya diatas punggung tangan kirinya beserta pergelangan tangan dan hasta. Dan karena hasits Sahl bin Sa’ad, ia menerangkan : Adalah orang-orang disuruh agar meletakkan tangan kanannya diatas tulang hastanya. (HR. Bukhari)
Garut, 20 Rab.akhir 1396/20 April 1976
Pimpinan Sidang :
Ketua,
ttd
(H. Aslam Zainuddin) Sekretaris
ttd
(Drs. Fahmi Muqaddas)
TUNTUNAN SHALAT ISTISQA’ (MINTA HUJAN)
(22). Orang-orang islam baik dengan cara perorangan maupun berkelompok hendaklah memanjatkan do’a dan mendekatkan diri kepada Allah.
(23). Apabila ditimpa masa kering dan lama terhenti hujan atau sebaliknya ditimpa bala’ karena hujan terus menerus. Berdasarkan Dalil
٢٢- نﺎﻛ ٍبﺎَﺑ نﻣ ٍﺔَﻌُﻣُﺟ َمْوَﯾ َدِﺟْﺳَﻣْﻟا َلَﺧَد ًﻼُﺟَر ْنَأ سﻧأ نﻋ رﻣﻧ ﻰﺑا نﺑ كﯾرﺷ ثﯾدﺣﻟ ﻧَﺣْوَ دَارِ اﻟْﻘَﺿﺎءِ وَرَﺳُولُ ﷲِ ص ﻗَﺎﺋِمٌ ﯾَﺧْطُبُ ﻓَﺎﺳْﺗَﻘْﺑَلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ ﺛُمﱠ ﻗَﺎلَ: ﯾَﺎرَﺳُولَ ﷲِ ھَﻠَﻛَتِ اﻷﻣْوَالَ واﻧﻘطﻌَتِ اﻟﺳﱠﺑُلُ ﻓَﺎدْعُ االلهﱠَ ﯾُﻌَﺛْﻧَﺎ ﻗَﺎلَ: ﻓَرَﻓَﻊَ رَﺳُولُ ﷲِ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﻗَﺎلَ: )اﻟﻠﮭم اﻋﺗﺗْﻧَﺎ اﻟﻠﱠﮭُمْ أَﻋْﻧُﻧَﺎ اﻟﻠﮭُمُ اﻋْﻠُﻧَﺎ ﻗَﺎلَ اﻧس : وﻻ وﷲ ﻣﺎﻧرى ﻓﻲ اﻟﺳﱠﻣَﺎء ﻣن، وﻻَ ﻗَزَﻋَﺔٍ وَﻣَﺎ ﺑَﯾْﻧَﻧَﺎ وَﺑَﯾْنَ ﺳَﻠْﻊِ ﻣِنْ ﺑَﯾْتِ وَﻵذار. ﻗﺎل ﻓطﻠﻌت ﻣن وراﺋﮫ ﺳﺣﺎﺑَﺔٌ ﻣِﺛْلُ اﻟﺗﱠرْسِ ﻓَﻠَﻣﱠﺎ ﺗوﺳطتِ اﻟﺳﱠﻣَﺎءَ اﻧﺗﺷرت ﺛُمﱠ أﻣطرت ﻗﺎل ﻓﻼ وﷲ ﻣﺎراﯾﻧﺎ اﻟﺷﻣس ﺳَﺑْﻌًﺎ ﻗﺎل: ﺛم دﺧل رَﺟُلٌ ﻣن ذﻟك اﻟﺑﺎب ﻓﻰ اﻟﺟﻣﻌﺔ اﻟﻣﻘﺑﻠﺔ ورَﺳُولُ ﷲِ ص ﻗَﺎﺋِمٌ ﯾَﺧطُبُ ﻓَﺎﺳْﺗَﻘْﺑَﻠَﮫُ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ ﻓَﻘَﺎلَ: ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ ھَﻠَﻛَتِ اﻷَْﻣْوَالَ وَاﻧﻘَطَﻌَتِ اﻟﺳَﺑُلُ ﻓَﺎدْعُ االلهﱠَ ﯾُﻣﺳﻛﮭﺎ ﻋﻧﺎ ، ﻗﺎل : ﻓرﻓﻊ رﺳول ﷲ ص ﯾدﯾﮫ ﺛُمﱠ ﻗَﺎلَ: )) اﻟﻠﮭم ﺣوﻟﻧﺎ وﻻ ﻋَﻠَﯾْﻧَﺎ اﻟﻠﮭم ﻋﻠﻰ اﻻﻛﺎم واﻟظراب وﺑطون اﻷودﯾﺔ وﻣﻧﺎﺑت اﻟﺷﺟر .(( ﻗﺎل ﻓﺎﻧﻘﻠﻌت وَﺧَرَﺟْﻧَﺎ ﻧَﻌْﺷﻰ ﻓﻰ اﻟﺷﻣس ﻗﺎل ﺷرﯾك ﻓﺳﺄﻟت أﻧس ﺑن ﻣﺎﻟك أھوَ اﻟرﱠﺟُلُ اﻷول ؟ ﻗﺎل: ﻻ أدرى )ﻣﺗﻔق ﻋﻠﯾﮫ(
Beralasan hadits Syarik bin Numir dari Anas yang menceritakan: Bahwa ada seorang laki- laki masuk masjid pada suatu hari Jum’ah dari arah ”darul qadla” ketika Rasulullah saw sedang berdiri berkhutbah. Orang itu berdiri menghadap Rasulullah seraya berkata : Wahai Rasulullah, segala harta telah punah dan jalan-jalan terputus, maka doakanlah agar Allah menolong kami maka Rasulullah pun mengangkat kedua tangannya dan berdo’a : Tolonglah kami ya Allah! Tolonglah kami ya Allah! Tolonglah kami ya Allah! Kata Anas : Demi Allah, semula betul-betul tidak kita lihat segumpalpun mendung dilangit. (Jelas) tiada sebuahpun rumah atau kampung antara kami dengan bukit Salam, lalu nampaklah dari baliknya awan sebesar perisai, dan setelah membumbung ditengah langit lalu merata dan turunlah hujan. Demi Allah, tak terlihat olehku matahari seminggu. Kata Anas : Kemudian pada hari Jum’ah berikutnya datanglah seorang laki-laki dari pintu yang sama dan Rasulullah pun sedang berkhutbah. Orang itu menghadap pada beliau sambil berdiri dan berkata : wahai Rasulullah, segala harta telah punah dan jalan-jalan telah terputus, maka do’akanlah untuk kami agar hujan berhenti. Maka Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya kemudian berdo’a : Ya Allah, diatas bukit dan gundukan- gundukan dan ditengah-tengah lembah dan tempat tumbuhnya tanaman. Kata Anas : Maka lalu terhentilah hujan sampai kami pergi berjalan kaki di tengah panas matahari. Kata Syarik : Aku tanyakan pada Anas, apakah orangnya yang dulu juga? jawabnya : Aku tidak tahu. (Riwayat Bukhari & Muslim)
ﻟﻌﻣوم ﻗوﻟﮫ ﺗﻌﺎﻟﻰ: " أَدْﻋُوﻧِﻲ أَﺳْﺗَﺟِبْ ﻟَﻛُمْ........اﻵﯾﺔ
23. Beralasan umumnya firman Allah ” Mohonlah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan (permohonan)mu”
وﻗوﻟﮫ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻓَﻠَوْﻻً إِﻧْﺟَﺎءَھُمْ ﺑَﺄْﺳُﻧَﺎ ﺗَﺿَرﱠﻋُوا و ﻟﻛِن ﻗَﺳَتْ ﻗُﻠُوﺑُﮭُمْ ...... اﻵﯾﺔ
Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras .... (6- An An’am: 43) (24). Hal itu kalau dikerjakan berkelompok, maka imam memanjatkan do’a didalam masjid diatas mimbar. Berdasarkan Dalil
)٤٢( - َكُﺗْﺋِﺟ ْدَﻘَﻟ ِﱠاللها ُلوُﺳَرﺎَﯾ : لﺎﻘﻓ ص ﻲﺑﻧﻟا ﻰﻟإ ﻲﺑارﻋأ ءﺎﺟ :لﺎﻗ سﺎﺑﻋ نﺑا ثﯾدﺣﻟ ﻣِنْ ﻋِﻧْدِ ﻗَوْمٍ ﻣَﺎ ﯾَﺗَزَوﱠدْﻟَﮭُمْ رَاعٍ وَﻻَ ﯾَﺣْﺿُرُﻟَﮭُمْ ﻓَﺣَلﱠ ﻓَﺻَﻌِدَ اﻟْﻣِﻧْﺑَرَ ﻓَﺣَﻣِدَ ﷲِ ﺛُمﱠ ﻗَﺎلَ: )) اﻟﻠﮭم اﺳﻘﻧﺎ ﻋَﯾْﻧًﺎ ﻣُﻌﯾﻧًﺎ ﻣَرِﯾْﻧَﺎطَﺑَﻘًﺎ ﻣَرِﯾﻌًﺎ ﻏَدَﻗًﺎ ﻋَﺎﺟِﻼً ﻏَﯾْرَ رَاﺋِثِ(( ﺛم ﻧزل ﻓَﻣَﺎ ﯾَﺄْﺗِﯾﮫِ اَﺣَدٌ ﻣن وﺟﮫ ﻣن اﻟْوُﺟُوهِ إِﻻﱠ ﻗَﺎﻟُوا: ﻗَدْ أَﺣْﯾِﯾﻧَﺎ )رواه اﺑن ﻣﺎﺟﮫ(
Beralasan hadits Ibnu ’Abbas yang menceritakan: Pernah ada orang Badwi datang kepada Nabi saw seraya berkata: Wahai Rasulullah, baru saja saya datang dari tempat orang-orang kehabisan bekal untuk penggembala mereka dan unta jantan tidak dapat bergerak ekornya (karena lemah kehabisan makan). Maka beliau naik mimbar lalu beliau memanjatkan puja- puji pada Allah, kemudian berdoa: Ya Allah, turunkanlah atas kami hujan penuh berkah, yang menyegarkan, yang banyak, yang menyuburkan, yang merata, segera tidak bertangguh. Kemudian beliau turun (dari mimbar). Jaka tak seorangpun yang datang dari segala penjuru melainkan mengatakan: kami telah hidup kembali. (Riwayat Ibnu Majah) (25). Atau diluar masjid dimana saja. Berdasarkan Dalil
٥٢( ﮫﺟرﺧا ﺎﻣو ءﺎﻋﱡدﻟﺎﺑ تْﯾﱠزﻟا ِرﺎَﺟْﺣَأ َدﻧِﻋ ﻰﻘﺳﺗﺳا ص ﮫﻧا ىذﻣرﺗﻟاو دوادوﺑا ﮫﺟرﺧا ﺎﻣﻟ أﺑوﻋواﻧﮫ ﻓﻲ ﺻﺣﯾﺣﮫ اﻧﮫ ﺷﻛﺎ اﻟﯾﮫ ص ﻗوم اﻟﻘﺣط ﻓﻘﺎل اﺣﺛوا ﻋﻠﻰ اﻟرﻛب وﻗوﻟوا ﯾﺎرب ﯾﺎرب )ﺳﺑل اﻟﺳﻼم اﻟﺟزء )٢ ص ٠١١(
Beralasan riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tentang Nabi saw beristisqa dengan berdoa di tempat Ahjarus-zait. Ada pula riwayat Abu ’Awanah dalam kitab shahihnya, bahwa pernah orang-orang mengeluh kephda Nabi saw tentang keadaan yang gersang. Maka beliau berkata: Hendaklah kamu berdo’a sambil berlutut: Ya rabbi, ya Rabbi (Subulus Salam juz 2 halaman 110)
وﻟﺣدﯾث ﻋُﻣﯾر ﻣوﻟﻰ ﺑﻧﻰ اﺑﻰ اﻟﻠﺣم أﻧﮫُ رَأَى اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ص ﯾَﺳْﺗَﻘِﻲ ﻋِﻧدَ أَﺣْﺟَﺎر اﻟزﯾت ﻗرﯾﺑًﺎ ﻣن اﻟزوراء ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ ﯾَدْﻋُو ﯾَﺳْﺗَﻘِﻲ رَاﻓِﻌًﺎ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻗِﺑَلَ وَﺟْﮭِﮫِ ﻻ ﯾﺟﺎوز ﺑِﮭِﻣَﺎ رَأْﺳَﮫُ )رواه اﺑوداود(
Beralasan pula hadits ’Umair : Orang-orang suku Bani Al Lahm yang pernah mengatakan ia pernah melihatNabi saw beristiqa’ di Ahjaruz zait dekat Zaurak berdo’a sambil berdiri dan mengangkat kedua tangannya di muka wajahnya tidak sampai diatas kepalanya. (Riwayat Abu Daud) (26). Atau apabila hari jum’ah imam memanjatkan do’a ketika khutbah, kesemuanya dengan mengangkat kedua tangannya. Berdasarkan Dalil
ﻲﻓ مدﻘﺗﻣﻟا سﻧا ثﯾدﺣﻟ (٢٢
Beralasan hadits Ibnu Abbas tersebut pada nomor (22) (27). Dan orang-orang pun bersama-sama mengangkat tangan. Berdasarkan Dalil
٧٢. لﺎﻘﻓ ِﺔَﻌُﻣُﺟْﻟا َمْوَﯾ ص ِﱠاللها ِلوُﺳَر ﻰَﻟِإ ِوْدَﺑْﻟا ِلْھَأ ْنِﻣ ﱞﻲﺑَرْﻋَأ ٌلُﺟَر ﻰَﺗَأ لﺎﻗ سﻧأ ثﯾدﺣﻟ : ﯾَﺎرَﺳُولَ ﷲِ ھَﻠَﻛَتِ اﻟْﻣَﺎﺷِﯾَﺔُ ھَﻠَكَ اﻟْﻌِﯾَﺎلُ ھَﻠَكَ اﻟﻧﱠﺎسُ ﻓَرَﻓَﻊَ رَﺳُولُ ﷲِ ص ﯾَدَﯾْﮫِ ﯾَدْﻋُو وَرَﻓَﻊَ اﻟﻧﱠﺎسَ أَﯾْدِﯾَﮭُمْ ﻣَﻌَﮫُ ﯾَدْﻋُونَ، ﻗَﺎلَ: ﻓَﻣَﺎ ﺧَرَﺟْﻧَﺎ ﻣنَ اﻟﻣَﺳﺟد ﺣﺗّﻰ ﻣُطرﻧﺎ ..... اﻟﺣدﯾث رواه اﻟﺑﺧﺎري
Beralasan hadits Anas yang menceritakan : Pada hari Jum’ah pernah ada seorang Badwi datang kepada Rasulullah mengatakan : Wahai Rasulullah, segala ternak telah menderita, dan keluarganyapun telah menderita, dan semua orang telah menderta. Maka Rasululla saw mengangkat kedua tangannya berdo’a dan orang-orang banyakpun mengangkat tangan mereka bersama beliau berdo’a. Maka baru saja kami keluar dari masjid turunlah hujan.......seterusnya hadits (Riwayat Bukhari) (28). Beliau saw membaca do’a ”allahummas qina ghaitsan mughitsan mari-an thabaqan mari’an ghadaqan ’ajailan ghaira raitsin” (Ya Allah, turunkanlah atas kami hujan penuh berkah, yang menyegarkan, yang banyak, yang menyuburkan, yang merata, segera tidak tertangguh). Berdasarkan Dalil
٤٢ ) ﻲﻓ مدﻘﺗﻣﻟا سﺎﺑﻋ نﺑا ثﯾدﺣﻟ(
28. Beralasan hadits Ibnu Abbas tersebut pada nomor (24) (29). Jika terjadi banjir besar dan hujan berlebih-lebihan, beliau saw membaca do’a: ”allahumma hawalaina wa la’alaina allahumma’alal akami wadh-dhirabi wa buthunil- audiyati wa mana bitisy-syajari” (Ya Allah, disekitar kami dan jangan ditengah-tengah kami, Ya Allah, diatas bukit-bukit dan gundukan-gundukan dan ditengah-tengah lembah dan tempat tumbuhnya tanaman) Berdasarkan Dalil
٢٢ ) ﻲﻓ مدﻘﺗﻣﻟا سﻧأ ثﯾدﺣﻟ(
Beralasan hadits Anas tersebut pada nomor (22) (30). Atau imam keluar bersama-sama orang banyak di tanah lapang setelah matahari terbit. (31). Dan orang-orang berangkat berpakaian sederhana dengan penuh kerendahan hati dan khusyu’ Berdasarkan Dalil
١٣-٠٣( - رَﺑﺗﻌﯾ رﻣﺄﻓ رطﻣﻟا َطوُﺣُﻗ ص ِﱠاللها ِلوُﺳَر ﻰَﻟِإ ُسﺎﱠﻧﻟا ﺎﻛﺷ تﻟﺎﻗ ﺔﺷﺋﺎﻋ ثﯾدﺣﻟ ﻓَوَﺿﻊَ ﻟَﮫُ ﻓِﻰ اﻟﻣُﺻَﻠﱠﻰ وَوَﻋَدَ اﻟﻧﱠﺎسِ ﯾَوْﻣًﺎ ﯾَﺧْرُﺟُونَ ﻓِﯾْﮫِ. ﻗﺎﻟت: ﻓﺧرج رَﺳُولُ ﷲِ ص ﺣَﯾْن ﺑَدَا ﺣَﺎﺟِبُ اﻟﺷﱠﻣْسِ ﻓَﻘَﻌَدَ ﻋﻠﻰ اﻟْﻣِﻧْﺑَرِ ﻓَﻛَﺑُرَ وَﺣَﻣدَ ﷲ ﻋزوﺟل ﺛُمﱠ ﻗﺎل: )) إﻧﱠﻛُمْ ﺷَﻛُوﺗُمْ ﺟَدْبَ دِﯾَﺎرِﻛُمْ وَاﺳْﺗَﯾْﺣَﺎرَ اﻟْﻣَطَرﻋَن اﯾﱠﺎنِ رَﻣَﺎﻧِﮫِ ﻋَﻧﻛُمْ وﻗَدْ أﻣِﯾرَ ﻛُمُ ﷲ ﻋزوﺟل أَنْ ﺗَدْﻋُوهُ وَوَﻋَدَ ﻛُمْ أَنْ ﯾَﺳْﺗَﺟِﯾبَ ﻟَﻛُمْ, ﺛم ﻗﺎل: اﻟْﺣَﻣْدُ لِلَّهِ رَبِّ اﻟﻌﺎﻟَﻣﯾنَ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ ﻣَﺎﻟِكِ ﯾَوْمِ اﻟدِّﯾْنِ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ ﷲُ ﯾَﻔْﻌَلُ ﻣﺎ ﯾُرﯾدُ اﻟﻠﮭم أﻧت ﷲ ﻻ إﻟﮫ إﻻ أﻧت - اﻧتَ اﻟْﻐَﻧِﻲﱡ وَﻧَﺣْنُ اﻟْﻔُﻘَرَاء أﻧزل ﻋﻠﯾﻧﺎ اﻟﻐﯾث وَاﺟْﻌَلْ ﻣﺎ أَﻧزَﻟْت ﻗَوْةً وﺑَﻼَﻋًﺎ إِﻟَﻰ ﺣَﯾْنِ(( ﺛُمﱠ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻓَﻠَمْ ﯾر ل ﻓﻲ اﻟرﻓﻊ ﺣﺗﱠﻰ ﺑدا ﺑﯾﺎض ﻧطﯾﮫ ﺛم ﺣَوْلَ إِﻟَﻰ اﻟﻧﱠﺎسِ ظَﮭْرَهُ وَﻗَﻠْبَ أَوْ ﺣَوْل رِدَاءَهُ وھُوَ رَاﻓِﻊٌ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺛم أﻗﺑل ﻋﻠﻰ اﻟﻧﺎس وﻧزل ﻓﺻﻠﻰ رﻛﻌﺗﯾن. ﻓﺎﻧﺷﺎ ﷲ ﺳﺣﺎﺑﺔ ﻓرﻋدت وﺗرﻗت ﺛُمﱠ أﻣطرت ﺑِﺈِذْنِ االلهﱠِ ﻓَﻠَمْ ﯾَﺄْتِ ﻣَﺳْﺟِدَهُ ﺣَﺗﱠﻰ ﺳَﺎﻟَتِ اﻟﺳُﯾُولُ. ﻓَﻠَﻣّﺎ رَأَى ﺳُرْﻋَﺗَﮭُمْ إِﻟَﻰ اﻟْﻛِنْ ﺻَﺣِكَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ص ﺣَﺗﱠﻰ ﺑَدَت ﺗواﺟده ﻓﻘﺎل: ))أَﺷْﮭَدُ أَنﱠ ﷲَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُلِّ ﺷﻧﻲ ﻗَدِﯾرٌ وَأَﻧِّﻰ ﻋَﺑْدُ االلهﱠِ وَرَﺳُوﻟُﮫُ ((. )رواه اﺑوداود(
Beralasan hadits ’Aisyah yang menceritakan: Orang-orang telah mengeluh pada Nabi saw tentang terhentinya hujan. Maka beliau menyuruh mengambil mimbar lalu orang-orang meletakkan di tempat shalat (lapangan) dan menjanjikan hendak mengajak mereka pada suatu hari ketempat itu. Kata ’Aisyah: Rasulullah saw lalu keluar ketempat itu pada waktu telah nyata sinar matahari, lalu beliau duduk di atas mimbar lalu membaca Takbir serta dipujinya Allah Yang Maha Mulia, kemudian mengatakan:((Kamu telah mengeluh tentang kediaman dan tertangguhnya hujan dari waktunya. Ketahuilah bahwa Allah telah menyuruh kamu agar mohon kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan (permohonan)mu Kemudian beliau berdo’a : alhamdulillahi rabbil ’alamin arrahmanirrahim maliki yaumiddin, la ilaha illallah yafalu ma yurid, allahumma antallah la ilaha illa anta, antal ghaniyyu wa nahnul fuqara, anzil’alainal ghaitsa watal ma anzalta lana quwwatan wa balaghan ila hin (khairin). (artinya: Segala Puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Tiada Tuhan selain Allah, Dia berbuat menurut kehendakNya. Ya Allah Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Kaya sedangkan kami miskin. Turunkanlah kepada kami hujan, dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan kekuatan dan bekal untuk waktu yang lama. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, senantiasa beliau angkat makin tinggi sehingga nampak ketiaknya yang putih. Kemudian beliau membalikkan badannya membelakangi orang banyak, dan membalikkan pakaian atasnya ketika beliau mengangkat kedua tangannya.Kemudian beliau menghadap ke orang banyak lagi, lalu turun dan shalat dua rakaat. Maka atas kehendak Allah terjadilah mendung dan guntur serta kilat dan turunlah hujan atas izin Allah. Maka belum lagi beliau sampai di masjid air deras telah mengalir, ketika beliau melihat mereka bergegas-gegas ketempat berteduh beliaupun tertawa sampai nampak giginya. Beliau lalu berucap: Aku bersaksi bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan bahwa aku adalah hamba dan utusan-Nya. (Riwayat Abu Daud)
وﻟﺣدﯾث اﺑن ﻋﺑﺎس ﺳُﺋِلَ ﻋَنِ اﻟﺻﱠﻼةِ ﻓﻲ اﻹﺳﺗﺳﻘﺎء، ﻓﻘﺎل: ﺧرجَ رَﺳُولُ ﷲِ ص ﻣﺗواﺿﻌًﺎ ﻣُﺗَﺑَدِّﻻً ﻣﺗﺧﺷﻌًﺎ ﻣُﺗَرَﺳُﻼً ﻣُﺗَﺿَرْﻋًﺎ ﻓَﺻَﻠﱠﻰ رَﻛَﻌَﺗَﯾْنِ ﻛَﻣَﺎ ﯾُﺻَﻠِّﻰ ﻓِﻲ اﻟْﻌِﯾدِ وَﻟَمْ ﯾَﺣْطُبْ ﺧَطْﺑَﺗُﻛُمْ ھَذِهِ )رواه اﺣﻣد واﻟﻧﺳﺎﺋﻲ واﺑن ﻣﺎﺟﮫ(
Dan beralasan hadits Ibnu Abbas ketika ia ditanya tentang shalat istisqa, maka ceritanya: Rasulullah saw keluar dengan berpakaian kusut serta dengan kerendahan hati penuh kekhusukan dan ketenangan, lalu beliau kerjakan shalat dua rakaat sebagaimana beliau kerjakan pada shalat ’Id dengan tidak berkhutbah seperti khutbahmu. (Riwayat Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah)
وﻓﻲ رواﯾﺔ ﻋن اﺑن ﻋﺑﺎس ﺧرج رﺳول ﷲ ص ﻣﺗﺑدﻻً ﻣُﺗَوَاﺿِﻌًﺎ ﻣُﺗَﺻَرُﻋًﺎ ﺣَﺗﱠﻰ أَﺗَﻰ اﻟْﻣُﺻَﻠِّﻲ - زاد ﻋﺛﻣﺎن - ( ﻓرﻗﻰ ﻋﻠﻰ اﻟﻣﻧﺑر( ﻓَﻠَمْ ﯾَﺣْطُبْ ﺧَطَﺑَﻛُمْ )ﺧَطْﺑَﺗِﻛُمْ( ھَذِهِ وَ ﻟَﻛن ﻟَمْ ﯾَزَل ﻓﻲ اﻟدﱡﻋﺎء واﻟﺗﺿرع واﻟﺗﻛﺑﯾر ﺛُمﱠ ﺻَﻠﱠﻰ رﻛَﻌَﺗَﯾْنِ ﻛَﻣَﺎ ﯾُﺻَﻠِّﻰ ﻓِﻲ اﻟْﻌِﯾدِ )رواه اﺑوداود(
Dan di riwayat lain dari Ibnu Abbas : Rasulullah saw keluar dengan pakaian kusut serta kerendahan hati dan penuh kekhusukan sehingga beliau sampailah ketempat shalat - Usman menambah (lalu beliau naik mimbar) dan beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu, hanya beliau selalu berdo’a dan memohon dan me-Maha Agungkan Allah kemudian shalat dua raka’at sebagaimana beliau shalat ’Id. (Riwavat Abu Daud)
(32). Lalu imam memimpin mereka shalat dua raka’at tanpa adzan dan iqamah. Berdasarkan Dalil
٢٣)- ﻼﺑ ِنْﯾَﺗَﻌْﻛَر ﺎَﻧﺑ ﻰﱠﻠَﺻَﻓ ﻲِﻘْﺳَﺗْﺳَﯾ ﺎًﻣْوَﯾ ص ِﷲ ُلوُﺳَر جرﺧ لﺎﻗ ةرﯾرھ ﻲﺑأ ثﯾدﺣﻟ أذان وﻻ إﻗَﺎﻣَﺔٍ ﺛُمﱠ ﺧَطﺑَﻧَﺎ ودَﻋَﺎ االلهﱠَ وَﺣَوﱠلَ وَﺟْﮭَﮫُ ﻧَﺣْوَ اﻟْﻘِﯾﻠَﺔِ رَاﻓِﻌًﺎ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﻗَﻠَبَ رِدَاءَهُ ﻓَﺟَﻌَل اﻷَﯾْﻣَن ﻋَﻠَﻰ اﻷَْﯾْﺳَرِ وَاﻷَْﯾْﺳَرَ ﻋَﻠَﻰ اﻷَْﯾْﻣَنِ )رواه اﺣﻣد واﺑن ﻣﺎﺟﮫ(
Beralasan hadits Abu Hurairah yong menceritakan: Pada suatu hari Nabi saw keluar ber- istisqa’ lalu beliau memimpin kami shalat dua raka’at tanpa adzan dan iqamah, kemudian beliau berkhutbah ditengah-tengah kami, dan memanjatkan do’a kepada Allah lalu memalingkan mukanya ke arah kiblat sambil mengangkat kedua tangannya, kemudian beliau membalik pokaian atasnya yang kanan ke kiri dan yang kiri ke kanan (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah) (33). Dan membaca dengan suara nyaring Berdasarkan Dalil
٣٣( - ِسﺎﱠﻧﻟا ﻰَﻟِإ َلوَﺣَﻓ َلﺎَﻗ ﻲِﻘْﺳَﺗْﺳَﯾ َجَرَﺧ َمْوَﯾ ص ﻲﺑﻧﻟا تﯾأر لﺎﻗ دﯾز نﺑ ﷲ دﺑﻋ ثﯾدﺣﻟ ظَﮭْرَهُ وَاﺳﺗَﻘْﺑَلَ اﻟﻘِﺑْﻠَﺔ ﯾَدْﻋُو ﺛُمﱠ ﺣَوْلَ رِدَاءَهُ ﺛُمﱠ ﺻَﻠﱠﻰ ﻟَﻧَﺎ رَ ﻛﻌَﺗَﯾْنِ ﺟَﮭَرَ ﻓِﯾﮭِﻣَﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِراءة )رواه اﺣﻣد واﻟﺑﺧﺎرى واﺑوداود واﻟﻧﺳﺎﺋﻲ- واﻟﻠﻔظ ﻟﻠﺑﺧﺎرى(
Beralasan hadits Abdullah bin Zaid yang mengatakan pernah aku melihat Nabi saw diwaktu beliau pergi ber-istisqa, beliau memalingkan punggungnya menghadap orang banyak dan menghadap kiblat sambil berdo’a, lalu membalikkan pakaian atasnya kemudian shalat dua
raka’at dengan menyaringkan bacaan pada kedua-duanya. (Riwavat Ahmad, Bukhari, Abu Daud dan Nasai lafazh Bukhari) (34). Kemudian imam berkhutbah diatas mimbar sesudah shalat dengan memperbanyak istighfar serta do’a dan membaca: alhamdulillahi rabbil ‘alamin arrahmanirrahim maliki yaumiddin la ilaha illallah yafalu ma yurid, allahumma antallah la ilaha antal ghaniyyu wa nahnul fuqara anzil alainal ghaitsa waj’al ma anzalta lana quwwatan wa balaghan ila hin (khairin) *artinya lihat no. 30-31 Berdasarkan Dalil
٠٣ ) ﻲﻓ مدﻘﺗﻣﻟا ثﯾدﺣﻟ(
Beralasan hadits tersebut nomor 30
(35). Allahummasqi ‘ibadaka wa bahaimaka wansyur rahmataka wa ahyi baladakal mayyit. (Ya Allah, turunkanlah hujan untuk hamba-hamba-Mu dan ternak-ternak-Mu dan ratakanlah kemurahan-Mu dan hidupkanlah negeriMu yang gersang) Berdasarkan Dalil
)٥٣( لﺎﻗ ﻰﻘﺳﺗﺳ اذإ ص ِﱠاللها ُلوُﺳَر َنﺎَﻛ َلﺎَﻗ هدﺟ نﻋ ﮫﯾﺑأ نﻋ بﯾﻌﺷ نﺑ ورﻣﻋ ثﯾدﺣﻟ )) اﻟﻠﮭُمُ اﺳْق ﻋﺑﺎدك وﺑﮭﺎﺋﻣَك وَأَﻧﺷَرْ رَﺣْﻣَﺗَكَ وَاﺣْﻲِ ﺑَﻠَدَكَ اﻟﻣﯾت (( )رواه اﺑوداود(
35. Beralasan hadits ’Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari neneknya yang menceritakan: Rasulullah saw apabila beliau ber-istisqa’ beliau membaca ((allhummasqi ‘1badaka wa bahaimaka wansyur rahmataka wa ahyi baladakal ma yyit)) (Riwayat Abu Daud) (36). Imam hendaknya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi Berdasarkan Dalil
٠٣ ) ﻲﻓ مدﻘﺗﻣﻟا ثﯾدﺣﻠﻟ(
Beralasan hadits tersebut pada nomor (30) (37). Kemudian memalingkan punggungnya kepada orang banyak dengan menghadap kiblat dan membaca do’a sambil mengangkat kedua belah tangannya. Berdasarkan Dalil
ﻲﻓ مدﻘﺗﻣﻟا ثﯾدﺣﻠﻟ (٢٣
37. Beralasan hadits tersebut pada nomor (32)
(38). Lalu membalikkkn pakaiannya yang luar kedalam, yang kanan ke kiri, yang kiri ke kanan, dan orang banyakpun berbuat demikian, kemudian imam berbalik menghadap mereka lalu turun dari mimbar. Berdasarkan Dalil Dan beralasan hadits Abdullah bin Zaid yang mengatakan: Pernah aku melihat Rasulullah saw pada waktu ber-istisqa’ untuk kami, beliau memanjangkan do’a dan memperbanyak permohonan. Kemudian (aku lihat Rasulullah) berbalik menghadap kiblat dan membalikkan bajunya lalu dijadikan bagian atas kebagian bawah dan orang banyakpun berbuat demikian (Riwayat Ahmad) (39). Atau imam berkhutbah sebelum shalat. Berdasarkan Dalil
٠٣ ) ﻲﻓ مدﻘﺗﻣﻟا ثﯾدﺣﻠﻟ-٢٣(
Beralasan hadits tersebut pada nomor (30.32)
TUNTUNAN SUJUD SAHWI
SUJUD SAHWI
Sujud Sahwi ialah sujud yang dilakukan karena beberapa sebab didalam shalat, a.l:
1. Karena lupa duduk tahiyyat awwal,
2. Karena ragu-ragu jumlah raka’at yang dikerjakan,
3. Karena raka’at yang dikerjakan kurang,
4. Karena raka’at yang dikerjakan kelebihan.
1. LUPA DUDUK TAHIYYAT AWWAL
Apabila anda sedang shalat, lalu kelupaan duduk tahiyyat awwal, dan ketika itu anda sudah tegak berdiri maka janganlah anda kembali duduk, tetapi tetaplah berdiri melanjutkan shalat anda, kemudian sebelum anda mengakhiri shalat (sebelum salam) sujudlah dua kali (sujud ini dinamakan sujud sahwi) ucapkan takbir ketika anda sujud sahwi maupun ketika anda bangkit untuk duduk dari sujud tersebut. Berdasarkan Dalil )
( ﻟﺣدﯾث ﻋﺑد ﷲ ﺑن ﺑُﺣَﯾْﻧَﺔَ رَﺿِﻲَ أَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ : ﺻَﻠﱠﻰ ﻟَﻧَﺎ رَﺳُولُ االلهﱠِ ص رَﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﻣِنْ ﺑَﻌْضِ اﻟﺻﱠﻠَوَاتِ، ﺛُمﱠ ﻗَﺎمَ ﻓَﻠَمْ ﯾَﺟْﻠِسْ، ﻓَﻘَﺎمَ اﻟﻧﱠﺎسُ ﻣَﻌَﮫُ ﻓَﻠَﻣﱠﺎ ﻗَﺿَﻰ ﺻَﻼَﺗَﮫُ وَﻧَظَرْﻧَﺎ ﺗَﺳْﻠِﯾﻣَﮫُ ﻛَﺑﱠرَ ﻗَﺑْلَ اﻟﺗﱠﺳْﻠِﯾمِ، ﻓَﺳَﺟَدَ ﺳَﺟْدَﺗَﯾْنِ وھو ﺟﺎﻟس، ﺛم ﺳﻠم )اﺧرﺟﮫ اﻟﺳﺑﻌﺔ. وھذا ﻟﻔظ اﻟﺑﺧﺎرى(
Abdillah bin Buhainah r.a. berkata: Rasulullah saw mengimami kami dalam salah satu shalat, mendadak pada rakaat kedua beliau langsung berdiri tanpa duduk tahiyyat awwal, maka kami juga berdiri mengikuti beliau. Kemudian ketika telah selesai tahiyyat akhir dan kami menantikan salamnya, tiba-tiba beliau takbir lalu sujud dua kali, dalam posisi duduk (tahiyyat akhir), kemudian salam. (HR. tujuh ahli hadits, matan diatas lafazh Bukhari)
وﻓﻰ رواﯾﺔ ﻟﻣﺳﻠم : ﯾُﻛَﺑِّرُ ﻓِﻲ ﻛُلِّ ﺳَﺟْدَةٍ وَھُوَ ﺟَﺎﻟِسٌ وَﯾَﺳﺟُدُ، وَﯾَﺳﺟُدُ اﻟﻧﱠﺎسُ ﻣَﻌَﮫُ ﻣَﻛَﺎنَ ﻣَﺎ ﻧَﺳِﻲَ ﻣِنَ اﻟْﺟُﻠُوسِ
Menurut riwayat Muslim : Beliau saw bertakbir setiap kali sujud dalam posisi duduk, para jama’ahpun sujud mengikuti beliau, yakni sebagai ganti dari duduk (tahiyyat awwal) yang terlupa.
RAGU-RAGU JUMLAH RAKA’AT
Dan apabila anda ragu-ragu tentang jumlah raka’at yang telah anda lakukan, maka hilangkan keragu-raguan itu dan tetapkan yang pasti, kemudian sujud sahwi-lah sebelum salam. Berdasarkan Dalil ) ( =
ﻟﺣدﯾث أَﺑِﻲ ﺳَﻌِﯾدٍ اﻟْﺧُدْرِﯾِّرﺿﻰ ﻗَﺎلَ: ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ ﷲِ ص: إِذَا ﺷَكﱠ أَﺣَدُﻛُمْ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺗِﮫِ ﻓَﻠَمْ ﯾَدْرِى ﻛَمْ ﺻَﻠﱠﻰ ﺛَﻼَﺛًﺎ أَمْ أَرْﺑَﻌًﺎ ﻓَﻠْﯾَطْرَحِ اﻟﺷﱠكﱠ وَﻟْﯾَﺑْنِ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ اﺳْﺗَﯾْﻘَنَ، ﺛُمﱠ ﯾَﺳْﺟُدْ ﺳَﺟْدَﺗَﯾْنِ ﻗَﺑْلَ أَنْ ﯾُﺳَﻠِّمَ, ﻓَﺈِنْ ﻛَﺎنَ ﺻَﻠﱠﻰ ﺧَﻣْﺳًﺎ ﺷَﻔَﻌْنَ ﻟَﮫُ ﺻَﻼَﺗَﮫُ، وَإِنْ ﻛَﺎنَ ﺻَﻠﱠﻰ إِﺗْﻣَﺎمَ ﻷﻟَرْﺑَﻊٍ ﻛَﺎﻧَﺗَﺎ ﺗَرْﻏِﯾﻣًﺎ ﻟِﻠﺷﱠﯾْطَﺎنِ )رواه اﺣﻣد وﻣﺳﻠم(
Abi Sa’id Al Khudri r.a. berkata : Rasulullah saw telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, sehingga ia tidak tahu berapa raka’at yang sudah ia kerjakan, tiga raka’at atau empat raka’at, maka hendaklah ia buang keraguan itu dan tetapkan yang pasti, kemudian hendaklah ia sujud dua kali sebelum salam. Maka jika ia telah shalat lima raka’at, niscaya sujud sahwi itu telah menggenapkan shalatnya, dan jika sebenarnya ia shalat sudah sempurna empat rakaat, niscaya sujud sahwi itu telah mengalahkan syaithan. (HR. Ahmad dan Muslim). 3.
RAKA’ATNYA KURANG
Apabila anda meyakini shalat anda kurang raka’atnya, berdasarkan keyakinan anda atau karena diberitahu oleh orang lain, maka sempurnakan kekurangannya, kemudian akhiri shalat anda dengan salam, lalu sujud sahwi-lah dua kali, kemudian salam. Berdasarkan Dalil
) ( =
ﻟﺣدﯾث أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ رﺿﻰ ﻗﺎل: ﺻَﻠﱠﻰ ﺑِﻧَﺎ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ اﻟظﱡﮭْرَ رَﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﺛُمﱠ ﺳَﻠﱠمَ، ﺛُمﱠ ﻗَﺎمَ إِﻟَﻰ ﺧَﺷَﺑَﺔٍ ﻓِﻲ ﻣُﻘَدﱠمِ اﻟْﻣَﺳْﺟِدِ وَوَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ ﻋَﻠَﯾْﮭَﺎ، وَﻓِﻲ اﻟْﻘَوْمِ ﯾَوْﻣَﺋِذٍ أَﺑُو ﺑَﻛْرٍ وﻋُﻣَرُ ﻓَﮭَﺎﺑَﺎ أَنْ ﯾُﻛَﻠِّﻣَﺎهُ، وَﺧَرَجَ ﺳَرَﻋَﺎنُ اﻟﻧﱠﺎسِ، ﻓَﻘَﺎﻟُوا: ﻗَﺻُرَتِ اﻟﺻﱠﻼَةُ. وَﻓِﻲ اﻟْﻘَوْمِ رَﺟُلٌ ﻛَﺎنَ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ص ﯾَدْﻋُوهُ ذَا اﻟْﯾَدَﯾْنِ، ﻓَﻘَﺎلَ: ﯾَﺎ ﻧَﺑِﻲﱠ االلهﱠِ ، أَﻧَﺳِﯾتَ أَمْ ﻗَﺻُرَتْ؟ ﻓَﻘَﺎلَ: ﻟَمْ أَﻧْسَ وَﻟَمْ ﺗَﻘْﺻُرْ. ﻗَﺎﻟُوا: ﺑَلْ ﻧَﺳِﯾتَ ﯾَﺎ رﺳول ﷲ، ﻗﺎل: ﺻدق ذواﻟْﯾَدَﯾْنِ. ﻓَﻘَﺎمَ ﻓَﺻَﻠﱠﻰ رَﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﺛُمﱠ ﺳَﻠﱠمَ، ﺛُمﱠ ﻛَﺑﱠرَ ﻓَﺳَﺟَدَ ﻣِﺛْلَ ﺳُﺟُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ﺛُمﱠ رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ وَﻛَﺑﱠرَ، ﺛُمﱠ وَﺿَﻊَ ﻣِﺛْلَ ﺳُﺟُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ﺛُمﱠ رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ وﻛَﺑﱠرَ.
Abu Hurairah r.a. menerangkan : Nabi saw mengimami kami shalat Zhuhur dua raka’at, kemudian salam, lalu langsung berdiri ke kayu yang terletak di depan masjid sambil meletakkan tangan diatasnya, ketika itu diantara para jamaah ada Abu Bakar dan Umar tetapi keduanya merasa enggan menegur apa yang dilakukan Nabi saw, dan banyak orang keluar dari masjid sambil berkata: Shalat telah diqashar, diantara para jama’ah itu ada orang yang bergelar Dzulyadain, ia berkata kepada Nabi saw : Ya Nabi Allah, apakah anda lupa atau memang shalat telah diqashar ?. Jawab beliau: Saya tidak lupa dan shalat tidak diqashar. Para jamaah berkata: Bahkan anda telah lupa Ya Rasulullah. Kemudian beliau bersabda: Benar Dzulyadain. Lalu beliau berdiri ke mihrabnya dan shalat dua rakaat (menyempumakan kekurangannya) kemudian salam, lalu takbir dan sujud seperti sujud yang biasa beliau lakukan atau lebih lama kemudian duduk, lalu takbir dan sujud lagi seperti yang pertama atau lebih laa, kemudian takbir duduk. (Muttafaq alaihi)
وﻟﺣدﯾث ﻋِﻣْرَانَ ﺑْنِ ﺣُﺻَﯾْنٍ ﻗﺎل: أَنﱠ رَﺳُولَ ﷲِ ص ﺻَﻠﱠﻰ اﻟْﻌَﺻْرَ ﻓَﺳَﻠﱠمَ ﻓِﻲ ﺛَﻼَثِ رَﻛَﻌَﺎتٍ ﺛُمﱠ دَﺧَلَ ﻣَﻧْزِﻟَﮫُ ﻓَﻘَﺎمَ إِﻟَﯾْﮫِ رَﺟُلٌ ﯾُﻘَﺎلُ ﻟَﮫُ اﻟْﺧِرْﺑَﺎقُ وَﻛَﺎنَ ﻓِﻲ ﯾَدَﯾْﮫِ طُولٌ ﻓَﻘَﺎلَ: ﯾَﺎ رَﺳُولَ ﷲِ ﻓَذَﻛَرَ ﻟَﮫُ ﺻَﻧِﯾﻌَﮫُ وَﺧَرَجَ ﻏَﺿْﺑَﺎنَ ﯾَﺟُرﱡ رِدَاءَهُ ﺣَﺗﱠﻰ اﻧْﺗَﮭَﻰ إِﻟَﻰ اﻟﻧﱠﺎسِ ﻓَﻘَﺎلَ: أَﺻَدَقَ ھَذَا, ﻗَﺎﻟُوا: ﻧَﻌَمْ, ﻓَﺻَﻠﱠﻰ رَﻛْﻌَﺔً ﺛُمﱠ ﺳَﻠﱠمَ، ﺛُمﱠ ﺳَﺟَدَ ﺳَﺟْدَﺗَﯾْنِ ﺛُمﱠ ﺳَﻠﱠمَ )رواه اﻟﺟﻣﺎﻋﺔ اﻻ اﻟﺑﺧﺎرى واﻟﺗرﻣذى(
Imran bin Hushain r.a. berkata: Bahwasanya Rasulullah saw shalat ‘Ashar, namun baru rakaat ketiga beliau sudah salam, kemudian beliau masuk ke rumahnya, maka berdirilah seseorang yang bergelar Al-Khirbaq dengan membawa kayu ditangannya, lalu ia berkata : Ya Rasulullah, maka disampaikan apa yang beliau lakukan tadi (yaitu shalat beliau hanya sampai pada raka’at ketiga lalu salam), Rosulullah saw keluar dengan raut muka marah sambil menyeret sorbannya sampai di dekat jama’ah yang lain, beliau bertanya kepada mereka : Benarkah yang dikatakan orang ini ? Jawab mereka : Benar. Maka Rasulpun shalat lagi satu rakaat (untuk menyempurnakan kekurangannya) lalu salam. Sesudah itu beliau sujud dua kali lalu salam lagi. (HR. Jama,ah kecuali Bukhari dan Tirmidzi). 4.
RAKA’ATNYA KELEBIHAN
Apabila anda meyakini shalat anda kelebihan raka’at, berdasarkan keyakinan anda atau karena diberitahu orang lain, maka sujud sahwi-lah dengan menghadap kiblat dalam posisi duduk tahiyyat akhir, kemudian salam. Berdasarkan Dalil
) ( =
ﻟﺣدﯾث اﺑن ﻣﺳﻌود رﺿﻰ ﻗَﺎلَ: أَنﱠ رَﺳُول ﷲ ص ﺻَﻠﱠﻰ اﻟظﱡﮭْرَ ﺧَﻣْﺳًﺎ، ﻓَﻠَﻣﱠﺎ ﺳَﻠﱠمَ ﻗِﯾلَ ﻟَﮫُ: أَزِﯾدَ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ؟ ﻗَﺎلَ: وَﻣَﺎ ذَاكَ؟ ﻗَﺎﻟُوا: ﺻَﻠﱠﯾْتَ ﺧَﻣْﺳًﺎ، ﻓَﺳَﺟَدَ ﺳَﺟْدَﺗَﯾْنِ ﺑَﻌْدَ ﻣَﺎﺳَﻠﱠمَ )رواه اﻟﺟﻣﺎﻋﺔ(
(4). Ibnu Mas’ud r.a. berkata : Bahwasanya Rasulullah saw shalat Zhuhur lima raka’at, ketika selesai salam, ada yang menegur beliau: Apakah ada tambahan dalam shalat? Nabi saw balik bertanya: Apa itu? Mereka menjawab : Anda tadi melakukan shalat lima raka’at. Maka seketika itu beliau melakukan sujud dua kali sesudah salam. (HR. Jama’ah)
وﻓﻰ رواﯾﺔ ﻋﻧﮫ ﻟﻣﺳﻠم : ﺛُمﱠ ﺳَﻠﱠمَ
Menurut riwayat Muslim dari Ibnu Mas’ud r.a. : Kemudian salam.
SHALAT SUNNAH SESUDAH WUDLU’
Apabila anda telah selesai berwudlu’ untuk shalat, maka lakukanlah shalat sunnah. Berdasarkan Dalil
ﻟﺣدﯾث أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ رَﺿِﻲَ أن اﻟﻧﺑﻲ ص ﻗﺎل ﻟِﺑِﻼَلٍ ﻋِﻧْدَ ﺻَﻼَةِ اﻟﺻﺑﺢ ﯾَﺎ ﺑِﻼَلُ ﺣَدِّﺛْﻧِﻲ ﺑِﺄَرْﺟَﻰ ﻋَﻣَلٍ ﻋَﻣِﻠْﺗَﮫُ ﻓِﻲ اﻹِْﺳْﻼَمِ، ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﺳَﻣِﻌْتُ دَفﱠ ﻧَﻌْﻠَﯾْكَ ﺑَﯾْنَ ﯾَدَيﱠ ﻓِﻲ اﻟْﺟَﻧﱠﺔِ. ﻗَﺎلَ: ﻣَﺎ ﻋَﻣِﻠْتُ ﻋَﻣَﻼً أَرْﺟَﻰ ﻋِﻧْدِي, أَﻧِّﻲ ﻟَمْ أَﺗَطَﮭﱠرْ طَﮭُورًا ﻓِﻲ ﺳَﺎﻋَﺔِ ﻟَﯾْلٍ أَوْ ﻧَﮭَﺎرٍ إِﻻﱠ ﺻَﻠﱠﯾْتُ ﺑِذَﻟِكَ اﻟطﱡﮭُورِ ﻣَﺎ ﻛُﺗِبَ ﻟِﻲ أَنْ أُﺻَﻠِّﻲَ )ﻣﺗﻔق ﻋﻠﯾﮫ(
Abu Hurairah r.a. menerangkan : Bahwasanya Nabi saw berkata kepada Bilal ketika shalat shubuh: Hai Bilal, terangkanlah kepadaku amalan yang paling dapat kamu harapkan yang telah engkau kerjakan didalam Islam, karena aku mendengar suara sepatumu dihadapanku didalam sorga. Bilal menjawab : Tiada aku amalkan sesuatu amalan yang lebih memberi harapan disisiku, bahwa aku tidak berwudlu sesuatu wudlu’ pada suatu sa’at dimalam hari atau siang hari, melainkan aku shalat dengan wudlu’ itu apa yang ditetapkan untukku (ditakdirkan untukku) akan aku shalat. (Muttafaq alaihi)

