putusan
KITAB SHIYAM BAGIAN 02 CARA BERPUASA
KITAB SHIYAM
02 CARA BERPUASA
A. CARA BERPUASA
Bila kamu menyaksikan datangnya bulan Ramadlan358 (1) dengan melihat bulan359 (2) atau persaksian orang yang ‘adil360 (3) atau dengan menyempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari apabila berawan361 (4), atau dengan hisab362 (5) maka puasalah dengan ikhlas niyatmu karena Tuhan Allah SWT. belaka363 (6), dan berniyatlah puasa sebelum fajar364 (7): kecuali
ﻟِْﻼَﯾَﺔِ اﻟْﻣُﺗَﻘَدِّﻣَﺔِ ﻓِﻰ اﻟْﻣَﻘَدِّﻣَﺔِ: ﻓَﻣَنْ ﺷَﮭِدَ ﻣِﻧْﻛُمُ اﻟﺷﱠﮭْرَ ﻓَﻠْﯾَﺻُﻣْﮫُ
Menilik ayat yang tersebut dalaam pendahuluan: “maka barangsiapa di antaramu yang mengalami bulan itu, maka berpuasalah”.
ﻟِﺣَدِﯾْثِ اَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ رَﺿِﻰَ ﷲُ ﻋَﻧْﮫُ ﻗَﺎلَ: ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ: ﺻُوﻣُوا ﻟِرُؤْﯾَﺗِﮫِ وَاَﻓْطِرُ وَاﻟرﱡؤْﯾَﺗِﮫِ ﻓَﺎِنْ ﻏُﺑِﻰَ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ ﻓَﺎَﻛْﻣِﻠُوا ﻋِدﱠةَ ﺷَﻌْﺑَﺎنَ ﺛَﻼَﺛِﯾنَ. )رَوَاهُ اﻟْﺑُﺧَﺎرِىﱡ وَﻣُﺳْﻠِمٌ(
Menurut hadits Abi Hurairah r.a. katanya bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Puasalah karena melihat tanggal dan berbukalah karena melihatnya, apabila kamu terhalang penglihatanmu oleh awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban 30 hari”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
ﻟِﻣَﺎ اَﺧْرَﺟَﮫُ اَﺻْﺣَﺎبُ اﻟﺳﱡﻧَنِ وَاﺑْنُ ﺣِﺑﱠﺎنَ وَاﻟدﱠارُﻗُطْﻧِﻰﱡ وَاﻟْﺑَﯾْﮭَﻘِﻰﱡ وَاﻟْﺣَﺎﻛِمُ ﻣِنْ ﺣَدِﯾْثِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ ﻗَﺎلَ: ﺟَﺎءَ اَﻋْرَاﺑِﻰﱞ اِﻟﻰَ اﻟﻧﱠﺑِﻰِّ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎلَ: اِﻧِّﻰ رَاَﯾْتُ اﻟْﮭِﻼَلَ. ﻓَﻘَﺎلَ: اَﺗَﺷْﮭَدُ اَنْ ﻻَ اِﻟَﮫَ اِﻻﱠ ﷲُ؟ ﻗَﺎلَ: ﻧَﻌَمْ, ﻗَﺎلَ: اَﺗَﺷْﮭَدُ اَنﱠ ﻣُﺣَﻣﱠدًا رَﺳُولُ ﷲِ؟ ﻗَﺎلَ: ﻧَﻌَمْ, ﻗَﺎلَ: ﯾَﺎ ﺑِﻼَلُ اَذِّنْ ﻓِﻰ اﻟﻧﱠﺎسِ ﻓَﻠْﯾَﺻُوﻣُوا ﻏَدًا –وَﻟِﺣَدِﯾثِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ رض ﻗَﺎلَ: ﺗَرَاءَى اﻟﻧﱠﺎسُ اﻟْﮭِﻼَلَ ﻓَﺎَﺧْﺑَرْتَ رَﺳُولَ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ اِﻧِّﻰ رَاَﯾْﺗُﮫُ ﻓَﺻَﺎمَ وَاَﻣَرَ اﻟﻧﱠﺎسَ ﺑِﺻِﯾَﺎﻣِﮫِ )رَوَاهُ اَﺑُو دَاوُدَ وَاﻟدﱠارُﻗُطْﻧِﻰﱡ وَﺻَﺣَﺣَﮫُ اﺑْنُ ﺣَزْمٍ(.
Menilik yang disebutkan Ashhabus Sunan dan Ibnu Hibban, Daraquthni, Biahaqi, dan Hamim dari Ibnu ‘Abbas, berkata: Datanglah seorang Baduwi kepada Nabi SAW. maka katanya: “Sungguh, saya telah melihat bulan.” Lalu beliau SAW bersabda: “Adakah kau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah?”. Jawabnya “Ya!” Sabda beliau SAW.: “Adakah kau bersaksi bahwa Muhammad adalah pesuruh Allah?”. Jawabannya: “Ya!”. Sabda beliau SAW.” “Hai Bilal, undangkanlah kepada orang banyak, supaya esok mereka berpuasa”. Dan menurut hadits Ibnu ‘Umar r.a. katanya: “Orang-orang sama meliaht bulan lalu aku khabarkan kepada Rasulullah SAW. bahwasannya aku melihatnya. Maka berpuasalah beliau dan menyuruh orang-orang berpuasa juga”. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud Daraquthni serta disyahkan oleh Ibnu Hazm).
ﻟِﺣَدِﯾثِ اَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ ﻟِﻠﺗﱠﻘَدِّمِ ﻓِﻰ – -: ﻓَﺎِنْ ﻏُﺑِﻰَ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ ﻓَﺎَﻛْﻣِﻠُوا ﻋِدﱠةَ ﺷَﻌْﺑَﺎنَ ﺛَﻼَﺛِﯾنَ
Mengingat hadits Abu hurairah tersebut pada nomor 2: Apabila kau terhalang penglihatanmu maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban 30 hari.
ﻟِﻘَوْﻟِﮫِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ: ھُوَ اﻟﱠذِى ﺟَﻌَلَ اﻟﺷﱠﻣْسَ ﺿِﯾَﺎءً وَاﻟْﻘَﻣَرَ ﻧُوْرًا وَﻗَدﱠرَهُ ﻣَﻧَﺎزِلَ ﻟِﺗَﻌْﻠَﻣُوا ﻋَدَدَا اﻟﺳِّﻧِﯾنَ وَاﻟْﺣِﺳَﺎبَ. وَﻟِﻣَﺎرُوَى ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ رض ﻋَنْ رَﺳُولِ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ: اِذَا رَاَﯾْﺗُﻣُوهُ ﻓَﺻُوﻣُوا وَاِذَا رَاَﯾْﺗُﻣُوهُ ﻓَﺎَﻓْطِرُوا ﻓَﺎِنْ ﻏُمﱠ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ ﻓَﺎﻗْدُرُواﻟَﮫُ. )اَﺧْرَﺟَﮫُ اﻟﺷﱠﯾْﺧَﺎنِ وَاﻟﻧﱠﺳَﺎﺋِﻰﱡ وَاﺑْنُ ﻣَﺎﺟَﮫْ( وَﻓِﻰ رِوَاﯾَﺔِ اَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ: اِﻧﱠﻣَﺎ اﻟﺷﱠﮭْرُ ﺗِﺳْﻊٌ وَﻋِﺷْرُوْنَ ﻗَﻼَ ﺗَﺻُوْﻣُوا ﺣَﺗﻰﱠ ﺗَرَوْهُ وَﻻَ ﺗُﻔْطِرُوا ﺣَﺗﻰﱠ ﺗَرَوْهُ ﻓَﺎِنْ ﻏُمﱠ ﻋَﻠَﯾﻛُمْ ﻓَﺎﻗْدُرُواﻟَﮫُ )رَوَاهُ ﻣُﺳْﻠِمٌ وَاَﺣْﻣَدُ(.
Mengingat firman Allah: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menentukan bulan itu beberapa manzilah (gugus, agar kamu mengerti bilangan tahun dan perhitungan”. Menilik pula riwayat dari Ibnu ‘Umar r.a. dari Rasulullah SAW. sabdanya: “Bila kamu melihatnya (tanggal-bulan) maka berpuasalah, dan bila (kelak) kamu melihatnya maka berbukalah (berlebaranlah). Dan jika penglihatanmu tertutup oleh awan, maka kira-kirakanlah bulan itu. Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasai dan Ibnu Majah). Dan di lain riwayat, Nabi SAW. bersabda: “Bulan itu hanya 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa kecuali sesudah melihat tanggal dan (kelak) jangan kamu berbuka (berlebaran) kecuali sesudah melihatnya. (Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad).
ﻟِﻘَوْﻟِﮫِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ: وَﻣَﺎ اُﻣِرُوا اِﻻﱠ ﻟِﯾَﻌْﺑُدُوا ﷲَ ﻣُﺧْﻠِﺻِﯾنَ ﻟَﮫُ اﻟدِّﯾنَ. اْﻻَﯾَﺔَ.
) Karena firman Allah: “Tiadalah mereka diperintah, melainkan agar mereka ber’ibadah kepada Allah dengan ikhlas, menjalankan agama melulu karenaNya. (Quran surat bayyinah ayat 5).
ﻟِﺣَدِﯾثِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ ﻋَنْ ﺣَﻔْﺻَﺔَ ﻋَنِ اﻟﻧﱠﺑِﻰِّ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ اَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ: ﻣَنْ ﻟَمْ ﯾُﺟْﻣِﻊِ اﻟﺻِّﯾَﺎمَ ﻗَﺑْلَ اﻟْﻔَﺟْرِ ﻓَﻼَ ﺻِﯾَﺎمَ ﻟَﮫُ. )رَوَاهُ اﻟْﺧَﻣْﺳَﺔُ(.
Menilik hadits Ibnu ‘Umar dari Siti Hafsah dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiadalah syah puasa baginya. (Diriwayatkan oleh lima Ahli Hadits).
bila kamu (wanita) sedang nifas, maka berbukalah dan gantilah puasa pada hari lainnya365 (8). Bilamana kamu sedang menderita sakit atau bepergian, maka bolehlah kamu meninggalkan puasa kemudian menggantinya pada hari yang lain, dengan berturut-turut atau berpisah- pisah366 (9). Dan bila berpuasa itu terasa terlalu berat bagimu karena tuamu367 (10) atau saki lama yang tidak dapat diharapkan sembuhnya, maka boleh berbuka, tetapi berfidyah dengan memberi makan kepada orang miskin buat setiap harinya satu mud*)368 (11). Begitu juga karena mengandung atau menyusui369 (12).
ﻟِﻘَوْلِ رَﺳُولِ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ: اَﻟَﯾْسَ اِذَا ﺣَﺎﺿَتْ ﻟَمْ ﺗُﺻَلِّ وَﻟَمْ ﺗَﺻُمْ؟ ﻗُﻠْنَ: ﺑَﻠَﻰ. )رَوَاهُ اﻟْﺑُﺧَﺎرِىﱡ(. وَﻗَوْلِ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔِ: ﻛَﺎنَ ﯾُﺻِﯾﺑُﻧَﺎ ذَﻟِكَ )اَىِ اﻟْﺣَﯾْضُ( ﻓَﻧُؤْﻣِرُ ﺑِﻘَﺿَﺎءِ اﻟﺻﱠوْمِ. )رَوَاهُ ﻣُﺳْﻠِمٌ(.
Menurut sabda Rasulullah SAW.: “Bukankah wanita itu bila sedang kedatangan haidl, tidak shalat dan tidak puasa? Jawab mereka: “Ya, demikianlah!” (Diriwayatkan oleh Bukhari). Dan menilik kata Siti ‘Aisyah: “Adalah kami pada waktu kedatangan haid, kami diperintah mengganti puasa”. (Diriwayatkan oleh Muslim).
ﻟِﺣَدِﯾثِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ انﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻﻠﻌم ﻗَﺎلَ : ﻗَﺿَﺎءُ رَﻣَﺿَﺎنَ إِنْ ﺷَﺎءَ ﻓَرﱠقَ وَإِنْ ﺷَﺎءَ ﺗَﺎﺑَﻊَ . ) رَوَاهُ اﻟدﱠارَ ﻗُطْﻧِﻲ (
Menilik hadits Ibnu ‘Umar, bahwa nabi SAW. bersabda: “Mengganti (mengqadla) puasa Ramadlan itu boleh dipisah-pisah dan bila hendak disambung-sambung juga boleh. (Diriwayatkan oleh Daraquthni).
ﻟِْﻼَﯾَﺔِ اﻟْﻣُﺗَﻘَدِّﻣَﺔِ ﻓِﻰ اﻟْﻣُﻘَدِّﻣَﺔِ: وَﻋَﻠَﻰ اﻟﱠذِﯾْنَ ﯾُطِﯾﻘُوﻧَﮫُ ﻓِدْﯾَﺔٌ طَﻌَﺎمُ ﻣِﺳْﻛِﯾنٍ. وَﻟِﻣَﺎرَوَاهُ اﻟدﱠارُﻗُطْﻧِﻰﱡ وَاﻟْﺣَﺎﻛِمُ ﻋَنْ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ وَﺻَﺣﱠﺣَﺎهُ اَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ: رُﺧِّصَ ﻟِﻠﺷﱠﯾْﺦِ اﻟْﻛَﺑِﯾْرِ اَنْ ﯾُﻔْطِرَ وَﯾُطْﻌِمَ ﻓِﻰ ﻛُلِّ ﯾَوْمٍ ﻣِﺳْﻛِﯾﻧًﺎ وَﻻَ ﻗَﺿَﺎءَ ﻋَﻠَﯾْﮫِ. وَﻟِﺣَدِﯾثِ ﻋَطَﺎءٍ ﺳَﻣِﻊَ اﺑْنَ ﻋَﺑﱠﺎسٍ ﯾَﻘْرَأُ: وَﻋَﻠَﻰ اﻟﱠذِﯾْنَ ﯾُطِﯾﻘُوﻧَﮫُ ﻓِدْﯾَﺔٌ طَﻌَﺎمُ ﻣِﺳْﻛِﯾنٍ, ﻗَﺎلَ اﺑْنُ ﻋَﺑﱠﺎسٍ: ﻟَﯾْﺳَتْ ﺑِﻣَﻧْﺳُوﺧَﺔِ ھِﻰَ ﻟِﻠﺷﱠﯾْﺦِ اﻟْﻛَﺑِﯾرِ وَاﻟْﻣَرْأَةِ اﻟْﻛَﺑِﯾرَةِ ﻻَ ﯾَﺳْﺗَطِﯾﻌَﺎنِ اَنْ ﯾَﺻُوﻣَﺎ ﻓَﯾُطْﻌِﻣَﺎنِ ﻣَﻛَﺎنَ ﻛُلِّ ﯾَوْمٍ ﻣِﺳْﻛِﯾﻧًﺎ. )رَوَاهُ اﻟْﺑُﺧَﺎرِىﱡ(.
Menilik ayat dalam pendahuluan: “Dan mereka yang memakssa-maksa diri (boleh tidak berpuasa) maka berfid- yahlah dengan memberi makan kepada orang miskin. Dan menurut hadits yang diriwayatkan dan dishahihkan oleh Daraquthni dan Hakim dan Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata: “Dibolehkan bagi orang yang telah tua-renta tidak berpuasa, dengan ganti memberi makan kepada seorang miskin tiap harinya serta tidak usah berqadla. Dan juga menilik hadits ‘Atha’ yang mendengar Ibnu ‘Abbas membaca Al-Quran sebagaimana tersebut dalam pendahuluan: “Dan mereka yang memaksa-maksa diri (boleh tidak berpuasa), maka berfid-yahlah dengan memberi makan kepada orang miskin”. Lalu Ibnu ‘Abbas berkata: “Ayat ini tidak mensukh (terhapus hukumnya), ayat ini untuk laki-laki dan wanit tua-renta yang tak kuat berpuasa, dan masing-masing memberi makan kepada seseorang miskin untuk ganti tiap-tiap harinya”. (Diriwayatkan oleh Bukhari).
368ﻟِدُﺧُوﻟِﮫِ ﻓِﻲ ﺿِﻣْنِ ﻗَوْﻟِﮫِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﻓِدْﯾَﺔٌ طَﻌَﺎمُ وَﻋَﻠَﻰ اﻟﱠذِﯾنَ ﯾُطِﯾﻘُوﻧَﮫُ ﻓِدْﯾَﺔٌ ﻣِﺳْﻛِﯾن
Sebab termasuk dalam firman Allah (tersebut dalam pendahuluan): “Dan mereka yang memaksa diri (boleh tidak berpuasa), maka berfid-yahlah dengan memberi makan kepada orang miskin”.
ﻟِﺣَدِﯾثِ اَﻧَسِ ﺑْنِ ﻣَﺎﻟِكٍ اﻟْﻛَﻌْﺑِﻰِّ اَنﱠ رَﺳُولَ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ: اِنﱠ ﷲَ ﻋَزﱠ وَﺟَلﱠ وَﺿَﻊَ ﻋَنِ اﻟْﻣُﺳَﺎﻓِرِ اﻟﺻﱠوْمِ وَﺷَطْرَ اﻟﺻﱠﻼَةِ وَﻋَنِ اﻟْﺣُﺑْﻠَﻰ وَاﻟْﻣُرْﺿِﻊِ اﻟﺻﱠوْمَ. )رَوَاهُ اﻟْﺧَﻣْﺳَﺔُ(. وَﻛَﺎنَ اﺑْنُ ﻋَﺑﱠﺎسٍ ﯾَﻘُوْلُ ِﻻُمِّ وَﻟَدٍ ﻟَﮫُ ﺣُﺑْﻠَﻰ: اَﻧْتِ ﺑِﻣَﻧْزِﻟَﺔِ اﻟﱠذِى ﯾُطِﯾﻘُﮫُ ﻓَﻌَﻠَﯾْكَ اﻟْﻔِدَاءُ وَﻻَ ﻗَﺿَﺎءَ ﻋَﻠَﯾكَ. )رَوَاهُ اﻟْﺑَزﱠارُ وَﺻَﺣﱠﺣَﮫُ اﻟدﱠارُﻗُطْﻧِﻰﱡ(. وَاَﺧْرَجَ اَﺑُو دَاوُدَ ﻋَنِ اﺑْن ﻋَﺑﱠﺎسٍ اَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ: اُﺛْﺑِتَ ﻟِﻠْﺣُﺑْﻠَﻰ وَاﻟْﻣُرْﺿِﻊِ اَنْ ﯾُﻔْطِرَا وَﯾُطْﻌِﻣَﺎ ﻛُلﱠ ﯾَوْمٍ ﻣِﺳْﻛِﯾﻧًﺎ.
Menurut hadits Anas bin Malik Ka’bi, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Sungguh Tuhan Allah Yang Maha besar dan Mulia telah membebaskan puasa dan separo shalat bagi orang yang bepergian, serta, membeaskan puasa dari orang yang hamil dan menyusui”. (Diriwayatkan oleh Lima Ahli Hadits). Dan Ibnu ‘Abbas berkata kepada jariyahnya yang hamil: “Engkau termasuk oprang yang keberatan berpuasa, maka engkau hanya wajib berfid-yah dan tidak usah mengganti puasa”. (Diriwayatkan oleh Bazzar dan dishahihkan oleh Daraquthni). Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia berkata:

