putusan
KITAB SHIYAM BAGIAN 04 QADLA FIDYAH
KITAB SHIYAM
04 QADLA FIDYAH
ﻣَنْ ﯾَﺟِبُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ اﻟْﻘَﺿَﺎءُ وَاِذَا ارْﺗَﻛَﺑْتَ اﻟْﻣُﺑْطِﻼَتِ اﻟﺳﱠﺎﺑِﻘَﺔَ ﻓَﺎَﻗْضِ ﻓِﻰ ﯾَوْمٍ اَﺧَرَ)15 ( اَﻻﱠ اَنْ ﺗَﻛُونَ ﻧَﺎﺳِﯾًﺎ ) ( وَﻣَنْ ﻣَﺎتَ ﻣِنْ ﻣَوْﻟِﯾِّكَ وَﻋَﻠَﯾْﮫِ ﺻَوْمٌ ﻓَﺻُمْ ﻋَﻧْﮫُ.
C. ORANG YANG BERKEWAJIBAN BERQADLA
Bila kamu melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti yang tersebut di atas, maka gantilah pada hari lainnya372 (15), kecuali kalau kamu kelupaan373 (16). Apabila ada di antara orang yang dalam perwalianmu mati sedang ia berhutang puasa, maka puasalah untuknya374 (17).
hadapan Nabi SAW., maka tengah kami demikian itu, kebetulan ada yang memberi sekeranjang kurma kepada Nabi –keranjang itu takaran– lalu Nabi bertanya: “Dimanakah penanya tadi?”. Orang itu menyahut: “Sayalah!” Maka sabda beliau: “Ambillah ini dan sedekahkanlah!”. Kata orang itu: Apakah saya sedekahkan kepada orang yang lebih miskin dari saya?, hai Rasulullah! Demi Allah, tidak adalah di antara kedua benteng (kedua bukit hitam) kota Madinah ini, ada ahli rumah ayng lebih miskin daripada ahli rumah saya”. Maka tertawalah Nabi SAW. hingga nampak gigi taringnya, kemudian bersabda: “Berikanlah makanan itu kepada ahlimu!”. (Diriwayatkan oleh Bukhari). Hadits yang demikian pada Daruquthni dari ‘Ali r.a. dengan lafal: “Memberi makan 60 orang miskin bagi tiap- tiap orang satu mud. Dan pada Ibnu Majah dan Abu Dawud dalam riwayat lain menyebutkan: “Dan puasalah sehari untuk gantinya”.
ﻟِﻣَﻔْﮭُومِ ﻣَﺎ رَوَاهُ اﻟدﱠارُﻗُطْﻧِﻰﱡ ﻓِﻰ اﻟْﺣَدِﯾثِ – - اْﻵﺗِﻰ ذِﻛْرُھَﺎ.
Mengambil arti yang terkadung dalam hadits Daraquthni, yang tersebut dalam No. 16 di bawah ini.
ﻟِﺣَدِﯾثِ اَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ رض ﻗَﺎلَ: ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ: ﻣَنْ ﻧَﺳِﻰَ وَھُوَ ﺻَﺎﺋِمٌ ﻓَﺎَﻛَلَ وَﺷَرَبَ ﻓَﻠْﯾُﺗِمﱠ ﺻَوْﻣَﮫُ ﻓَﺎِﻧﱠﻣَﺎ ﷲُ اَطْﻌَﻣَﮫُ وَﺳَﻘَﺎهُ. )رَوَاهُ اﻟْﺟَﻣَﺎﻋَﺔُ( وَﻟِﻣَﺎ رَوَاهُ اﻟدﱠارُﻗُطْﻧِﻰﱡ ﺑِﻠَﻔْظِ: اِذَا اَﻛَلَ اﻟﺻﱠﺎﺋِمُ ﻧَﺎﺳِﯾًﺎ اَوْ ﺷَرِبَ ﻧَﺎﺳِﯾًﺎ ﻓَﺎِﻧﱠﻣَﺎ ھُوَ رِزْقٌ ﺳَﺎﻗَﺔُ ﷲُ اِﻟَﯾْﮫِ وَﻻَ ﻗَﺿَﺎءَ ﻋَﻠَﯾﮫِ. )وَﻗَﺎلَ: اِﺳْﻧَﺎدُهُ ﺻَﺣِﯾﺢٌ(.
Menurut hadits Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa lupa ia sedang berpuasa lalau makan dan minum, maka sempurnakanlah puasanya, karena sesungguhnya Tuhan Allahlah yang memberi makan dan minum itu kepadanya”. (Diriwayatkan oleh Jama’ah dari Ahli Hadits). Dan menurut yang diriwayatkan oleh Daraquthni dengan lafal: “Apabila berpuasa lalu makan dan minum karena lupa, maka sesunggunya itulah rizki yang diberikan oleh Tuhan Allah kepadanya dan tidaklah ia berkewajiban mengqadla (mengganti)”. (kata Daraquthni: “hadits ini sanadnya shahih”).
ﻟِﺣَدِﯾثِ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔِ اَنﱠ رَﺳُولَ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ: ﻣَنْ ﻣَﺎتَ وَﻋَﻠَﯾْﮫِ ﺻِﯾَﺎمٌ ﺻَﺎمَ ﻋَﻧْﮫُ وَﻟِﯾﱡﮫُ. وَﻟِﺣَدِﯾثِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ اَنﱠ اﻣْرَاَةً ﻗَﺎﻟَتْ: ﯾَﺎ رَﺳُولَ ﷲِ اِنﱠ اُﻣِّﻲ ﻣَﺎﺗَتْ وَﻋَﻠَﯾْﮭَﺎ ﺻَوْمُ ﻧَذْرٍ اَﻓَﺎﺻُومُ ﻋَﻧْﮭَﺎ؟ ﻓَﻘَﺎلَ: اَﻓَرَاَﯾْتِ ﻟَوْﻛَﺎنَ ﻋَﻠَﻰ اُﻣِّّكَ دِﯾْنٌ ﻓَﻘَﺿَﯾْﺗِﮫِ اَﻛَﺎنَ ﯾُؤَدِّى ذَﻟِكَ ﻋَﻧْﮭَﺎ؟ ﻗَﺎﻟَتْ: ﻧَﻌَمَ, ﻓَﻘَﺎلَ: ﺻُوﻣِﻰ ﻋَنْ اُﻣِّكَ. )رَوَاهُ اﻟْﺟَﻣَﺎﻋَﺔُ(.
Menilik hadits Siti ‘Aisyah bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa meninggal dunia padahal ia berhutang puasa, maka walinya berpuasa untuknya”. Dan lagi hadits Ibnu ‘Abbas, bahwa seorang perempuan berkata: “Hai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal dunia, padahal ia berhutang puasa nadzar, apakah saya berpuasa menggantikannya?”. Jawabnya: “Bagaimana pendapatmu, seumpama ibumu berhutang, lalu engkau membayarinya, adakah itu dapat melunasi hutangnya?” Jawabnya: “Ya!” maka sabda beliau SAW.: “Puasalah untuk ibumu”. (Diriwayatkan oleh Jama’ah Ahli Hadits).
ﻣُﺟْﺗَﻧَﺑَﺎتُ اﻟﺻﱠﺎﺋِمِ دَعْ ﻗَوْلَ اﻟزﱡورِ وَاْﻟﻌَﻣَلَ ﺑِﮫِ وَاﻟْﺟَﮭْلَ )18 ( وَﻻَ ﺗَرْﻓَثْ وَﻻَ ﺗَﺻْﺧَبْ, ﻓَﺎِنْ ﺷَﺎﺗَﻣَكَ اَﺣَدٌ ﻓَﻘُلْ: اِﻧِّﻰ اﻣْرُؤٌ ﺻَﺎﺋِمٌ )19 ( وَﻻَ ﺗﺑُﺎَﻟِﻎُ ﻓﻰِ اﻟْﻣَﺿْﻣَﺿَﺔِ وَاْﻻِﺳْﺗِﻧْﺷَﺎقِ )20 ( وَﻻَ ﺗُﻘَﺑِّلْ اﻣْرَأَﺗَكَ ﻣَﺎﻟَمْ ﺗَﻣْﻠِكْ اِرْﺑَكَ ) ( وَﻻَ ﺑَﺄْسَ اَنْ ﺗَﺳْﺗَﺎكَ )22 ( وَاَنْ ﺗَﻐْﺗَﺳَلَ ﻣِنَ اﻟْﺣَرِّ )
(.
D. PANTANGAN ORANG YANG BERPUASA
Tinggalkan perkataan dan perbuatan justa, pandir dan jahil375 (18) dan janganlah berkata kotor dan berbuat gaduh. Bila kamu diajak berbantah, maka katakanlah: “Saya sedang berpuasa!”376 (19). Dan jangan pula keras-keras berkumur dan menghisap air ke hidung377 (20). Dan janganlah mencium isterimu, bila kamu tidak kuat menahan nafsu378 (21). Tidak mengapa kamu menggosok gigi379 (22) dan mandi karena kepanasan380 (23)
ﻟِﺣَدِﯾثِ اَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ رض ﻗَﺎلَ: ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ: ﻣَنْ ﻟَمْ ﯾَدَعْ ﻗَوْلَ اﻟزﱡورِ وَاْﻟﻌَﻣَلَ ﺑِﮫِ وَاﻟْﺟَﮭْلَ ﻓَﻠَﯾْسَ ِpِ
ﺣَﺎﺟَﺔٌ ﻓِﻰ اَنْ ﯾَدَعَ طَﻌَﺎﻣَﮫُ وَﺷَرَاﺑَﮫُ. )رَوَاهُ اﻟْﺟَﻣَﺎﻋَﺔُ وَاﻟﻠﱠﻔْظُ ِﻻَﺑِﻰ دَاوُدَ(.
Menilik hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa tidak suak menghentikan perkataan dan perbuatan justa dan menjauhi perbuatan pandir, maka bagi Allah tiada gunanya ia meninggalkan makan dan minum”. (Diriwayatkan oleh Jama’ah Ahli Hadits dan lafal haditsnya dar Abu Dawud).
ﻟِﺣَدِﯾثِ اَﯾْﺿًﺎ اَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ: اِذَا ﻛَﺎنَ ﯾَوْمُ ﺻَوْمٍ اَﺣَدِﻛُمْ ﻓَﻼَ ﯾَرْﻓُثْ ﯾَوْﻣَﺋِذٍ وَﻻَ ﯾَﺻْرَبْ ﻓَﺎِنْ ﺷَﺎﺗَﻣَﮫُ اَﺣَدٌ اَوْﻗَﺎﺗِﻠَﮫُ ﻓَﻠْﯾَﻘُلْ: اِﻧِّﻰ اﻣْرُؤٌ ﺻَﺎﺋِمٌ. )اﻟْﺣَﺎدِﯾثَ رَوَاهُ اﻟْﺑُﺧَﺎرِىﱡ وَﻣُﺳْﻠِمٌ(.
Menilik hadits Abu Hurairah pula bahwa Nabi SAW. bersabda: “Pada hari puasa seorang dari padamu, maka janganlah berkata kotor pada hari itu dan jangan berkata gaduh. Dan bila ada orang mengajak berbantah atau bermusuhan hendaklah ia berkata: “Saya sedang berpuasa!” … dan seterusnya hadits. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
ﻟِﺣَدِﯾثِ ﻟَﻘِﯾطِ ﺑْنِ ﺻُﺑُرَةَ ﻗَﺎلَ: ﻗُﻠْتُ: ﯾَﺎ رَﺳُولَ ﷲِ اَﺧْﺑِرْﻧِﻰ ﻋَنِ اﻟْوُﺿُوءِ. ﻗَﺎلَ: اَﺳْﺑِﻎِ اﻟْوُﺿُوءَ وَﺧَﻠِّلْ ﺑَﯾْنَ اْﻻَﺻَﺎﺑِﻊِ وَﺑَﺎﻟِﻎْ ﻓِﻰ اْﻻِﺷْﺗِﻧْﺷَﺎقِ اِﻻﱠ اَنْ ﺗَﻛُونَ ﺻَﺎﺋِﻣًﺎ. )رَوَاهُ اﻟْﺧَﻣْﺳَﺔُ وَﺻَﺣﱠﺣَﮫُ اﻟﺗِّرْﻣِذِىﱡ(. وَﻓِﻰ رِوَاﯾَﺔِ اﻟدﱠوْﻻَﺑِﻰ وَﺻَﺣﱠﺢَ اﺑْنُ اﻟْﻘَطﱠﺎنِ اِﺳْﻧَﺎدَھَﺎ: اِذَا ﺗَوَﺿﱠﺄَتْ ﻓَﺑَﺎﻟِﻎْ ﻓِﻰ اﻟْﻣَﺿْﻣَﺿَﺔَ وَاْﻻِﺷْﺗِﻧْﺷَﺎقِ ﻣَﺎﻟَمْ ﺗَﻛُنْ ﺻَﺎﺋِﻣًﺎ.
Menurut hadits Laqith bin Shaburah, katanya: “Hai asulullah, terangkanlah kepadaku perhal wudlu!” Sabda beliau: “Ratakanlah air wudlu dan selah-selahilah jari-jarimu dan keraskanlah dalam menghisap air di hidung, kecuali kalau engkau sedang berpuasa. (Diriwayatkan Lima Ahli hadits dan dishahihkan oleh Tirmidzi). Dan menurut riwayat Daulabi yang sanadnya dishahihkan oleh Ibnu Qaththan: “Bilamana kamu berwudlu, maka keraskanlah dalam berkumur dan menghisap air di hidung, selagi kamu tidak berpuasa”.
( ﻟِﺣَدِﯾثِ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ ﻗَﺎﻟَتْ: ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ ﷲِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﻘَﺑِّلُ وَھُوَ ﺻَﺎﺋِمٌ وَﯾُﺑَﺎﺷِرُ وَھُوَ ﺻَﺎﺋِمٌ وَﻟَﻛِﻧﱠﮫُ ﻛَﺎنَ اَﻣْﻠَﻛَﻛُمْ ِﻻِرْﺑِﮫِ. )رَوَاهُ اﻟْﺟَﻣَﺎﻋَﺔُ اِﻻﱠ اﻟﻧﱠﺳَﺎﺋِﻰﱠ(.
Mengingat hadits Siti ‘Aisyah, katanya: “Rasulullah SAW. pernah mencium (saya) sedang beliau berpuasa dan bersentuhan sedang beliau berpuasa juga, akan tetapi beliau itu kuat menahan nafsunya”. (Diriwayatkan oleh Jama’ah Ahli Hadits selain Nasai).
ﻟِﺣَدِﯾثِ ﻋَﺎﻣِرِ ﺑْنِ رَﺑِﯾﻌَﺔَ ﻗَﺎلَ: رَاَﯾْتُ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﺳْﺗَﺎكُ وَھُوَ ﺻَﺎﺋِمٌ ﻣَﺎﻻَ اُﺣْﺻِﻰ اَوْ اَﻋُدﱡ. )رَوَاهُ اﻟْﺑُﺧَﺎرِىﱡ وَاَﺑُو دَاوُدَ وَاﻟﺗِّرْﻣِذِىﱡ(.
Menurut Hadits ‘Amir bin Rabi’ah, katanya: “Saya melihat Rasulullah SAW. menggosok gigi yang tidak dapat kubilang atau kuhitung sedang beliau berpuasa. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi).
ﻟِﺣَدِﯾثِ اَﺑِﻰ ﺑَﻛْرِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ ﻋَنْ رَﺟُلٍ ﻣِنْ اَﺻْﺣَﺎبِ اﻟﻧﱠﺑِﻰِّ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ: رَاَﯾْتُ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﺻُبﱡ اﻟْﻣَﺎءَ ﻋَﻠَﻰ رَأْﺳِﮫِ ﻣِنَ اﻟْﺣَرِّ وَھُوَ ﺻَﺎﺋِمٌ. )رَوَاهُ اَﺣْﻣَدُ وَاَﺑُو دَاوُدَ(

