putusan
Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 07 1 15 April Surah yang Dibaca Nabi pada Saat Shalat Subuh 2
Surah yang Dibaca Nabi pada Saat Shalat Subuh
(2)
b. Hadits Riwayat Muslimٍ
َِّحَدَّثَنَا يَحْيَى بْن ُ يَحْيَى قَال َ قَرَْت ُ عَلَى مَالِك ٍ عَن ْ مُحَمَّد ِ بْن ِ عَبْد ِ الرَّحْمَن ِ بْن ِ نَوْفَل
ْعَن ْ عُرْوَة َ عَن ْ زَيْنَب َ بِنْت ِ َبِي سَلَمَة َ عَن ْ ُم ِّ سَلَمَة َ َنَّهَا قَالَت ْ شَكَوْت ُِلَى رَسُول ِ اЦ
ُصَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ َنِّي َشْتَكِي فَقَال َ طُوفِي مِن ْ وَرَاء ِ النَّاس ِ وََنْت ِ رَاكِبَة ٌ قَالَت
ٍفَطُفْت ُ وَرَسُول ُ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ حِينɄَِذ ٍ يُصَلِّي ِلَى جَنْب ِ الْبَيْت ِ وَهُو َ يَقْرَ
بِالطُّور ِ وَكِتَاب ٍ مَسْطُور
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan
kepada Malik dari Muhammad bin Abdurrahman bin Naufal dari Urwah dari Zainab binti
Abu Salamah dari Ummu Salamah bahwa ia berkata, “Aku mengadu kepada Rasulullah saw
bahwa aku sakit. Lalu beliau pun bersabda, “Tawaflah di belakang orang banyak sambil
berkendaraan.” Lalu aku melakukan tawaf, sementara Rasulullah saw. saat itu shalat di sisi
Baitullah, beliau membaca surah Ath-Thur.”
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di atas terdapat dalam al-Jami’ as-Sahih li
Al-Bukhari kitab Haji bab Wanita Tawaf Bersama Laki-laki. Adapun hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim terdapat pada al-Jami’ as-Sahih li Muslim kitab Haji bab
Bolehnya Tawaf dengan Mengendarai Unta atau Selainnya dan Mengusap Hajar Aswad
dengan Tongkat. Status kedua hadits di atas adalah sahih karena telah memenuhi lima
syarat hadits sahih yaitu ittishalu as-sanadi (bersambungnya sanad), ‘adalatu ar-ruwah
(keadilan rawi), dlabthu ar-ruwah (rawinya kuat hafalan dan dokumentasinya), ‘adamu asy-
syudzudz (tidak bertentangan dengan hadits yang lebih kuat), dan ‘adamu al-’illah (tidak ada
kecacatan).
Hadits 4
Membaca surah Qaaf
Hadits Riwayat Muslim
َُّوَحَدَّثَنَا َبُو بَكْر ِ بْن ُ َبِي شَيْبَة َ وَمُحَمَّد ُ بْن ُ رَافِع ٍ وَاللَّفْظ ُ لِابْن ِ رَافِع ٍ قَال َا حَدَّثَنَا يَحْيَى
َبْن ُ آدَم َ حَدَّثَنَا زُهَيْر ٌ عَن ْ سِمَاك ٍ قَال َ سََلْت ُ جَابِر َ بْن َ سَمُرَة َ عَن ْ صَلَاة ِ النَّبِي ِّ صَلَّى اЦ
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَال َ كَان َ يُخَفِّف ُ الصَّلَاة َ وَل َا يُصَلِّي صَلَاة َ هȡَُلَاء ِ قَال َ وََنْبََنِي َن َّ رَسُول
اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَان َ يَقْرَ ُ فِي الْفَجْر ِ بِق وَالْقُرْآن ِ وَنَحْوِهَا
“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Rafi’ dan
lafaz tersebut milik Ibnu Rafi’, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya
bin Adam, telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Simak dia berkata, “Saya bertanya
kepada Jabir bin Samurah tentang shalat Nabi saw, maka dia menjawab, ‘Dahulu beliau
meringankan shalat, dan tidak shalat seperti shalatnya mereka.’ Dia berkata, ‘Dia telah
mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah saw dahulu membaca dalam shalat Subuh, ‘Qaf
wal Qura’an’ dan semisalnya.”
Hadits ini terdapat dalam al-Jami’ as-Sahih li Muslim kitab Shalat bab Bacaan dalam Shalat
Subuh. Status hadits ini adalah sahih karena telah memenuhi lima syarat hadits sahih yaitu
ittishalu as-sanadi (bersambungnya sanad), ‘adalatu ar-ruwah (rawinya adil), dlabthu ar-
ruwah (rawinya kuat hafalan dan dokumentasinya), ‘adamu asy-syudzudz (tidak
bertentangan dengan hadits yang lebih kuat), dan ‘adamu al-’illah (tidak ada kecacatan).
Hadits 5
Membaca surah At-Takwir
Hadits Riwayat An-Nasa’iِّ
ََخْبَرَنَا مُحَمَّد ُ بْن ُ َبَان َ الْبَلْخِي ُّ قَال َ حَدَّثَنَا وَكِيع ُ بْن ُ الْجَرَّاح ِ عَن ْ مِسْعَر ٍ وَالْمَسْعُودِي
ْعَن ْ الْوَلِيد ِ بْن ِ سَرِيع ٍ عَن ْ عَمْرِو بْن ِ حُرَيْث ٍ قَال َ سَمِعْت ُ النَّبِي َّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
يَقْرَ ُ فِي الْفَجْر ِِذَا الشَّمْس ُ كُوِّرَت
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Aban al-Balkhi dia berkata, telah
menceritakan kepada kami Waki’ bin al-Jarrah dari Mis’ar dan al-Mas’udi dari al-Walid bin
Surai’i dari Amr bin Huraits dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. membaca Idzasy-
syamsu kuwwirat (Qs At-Takwir atau surah ke 81) saat shalat Subuh.”
Terkait dengan hadits kelima yang bapak tanyakan, sejauh penelitian yang kami lakukan,
kami tidak menemukan hadits tersebut dalam kitab Jami’ as-Sahih li Muslim dan Sunan Abu
Dawud, akan tetapi kami menemukannya dalam Sunan An-Nasa’i kitab Iftitah (pembukaan)
bab Membaca Ketika Subuh dengan At-Takwir dengan redaksi yang kurang lebih sama
dengan hadits yang Bapak maksudkan. Dalam hadits ini, tidak ditemukan rawi yang dinilai
cacat oleh para ulama jarh wa ta’dil. Demikian pula dengan sifat sanadnya yang memenuhi
syarat hadits sahih yaitu ittishalu as-sanadi (bersambungnya sanad), ‘adalatu ar-ruwah
(rawinya adil), dlabthu ar-ruwah (rawinya kuat hafalan dan dokumentasinya). Sehingga
hadits ini termasuk kategori hadits sahih.
Hadits 6
Membaca Surah Al-Zalzalah
a. Hadits Riwayat Abu Dawud
ِحَدَّثَنَا َحْمَد ُ بْن ُ صَالِح ٍ حَدَّثَنَا ابْن ُ وَهْب ٍ َخْبَرَنِي عَمْرٌو عَن ْ ابْن ِ َبِي هِلَال ٍ عَن ْ مُعَاذِ
َبْن ِ عَبْد ِ اЦ َِّ الْجُهَنِي ِّ َن َّ رَجُل ًا مِن ْ جُهَيْنَة َ َخْبَرَه ُ َنَّه ُ سَمِع َ النَّبِي َّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه
وَسَلَّم َ يَقْرَ ُ فِي الصُّبْح ِِذَا زُلْزِلَت ِ الْ َرْض ُ فِي الرَّكْعَتَيْن ِ كِلْتَيْهِمَا فَل َا َدْرِي َنَسِي
رَسُول ُ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ َم ْ قَرَ َ ذَلِك َ عَمْدًا
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Ibnu
Wahb, telah mengabarkan kepadaku ‘Amru dari Ibnu Abu Hilal dari Mu’adz bin Abdullah Al-
Juhani bahwa seseorang laki-laki dari Juhainah memberitahukan kepadanya bahwa dirinya
telah mendengar Nabi saw membaca dalam shalat Subuh “Idza zulzilatil-ardhu zilzalaha” di
kedua rakaatnya, aku tidak tahu apakah Rasulullah saw lupa atau beliau memang sengaja.”
b. Hadits Riwayat Al-Baihaqiُ
ََِّخْبَرَنَا َبُو عَلِي ٍّ الرُّوذْبَارِي ُّ َخْبَرَنَا َبُو بَكْر ِ ابْن ُ دَاسَة َ َخْبَرَنَا َبُو دَاوُد َ حَدَّثَنَا َحْمَد ُ بْن
صَالِح ٍ حَدَّثَنَا ابْن ُ وَهْب ٍ َخْبَرَنِي عَمْرٌو عَن ْ ابْن ِ َبِي هِلَال ٍ عَن ْ مُعَاذ ِ بْن ِ عَبْد ِ اЦ
الْجُهَنِي ِّ َن َّ رَجُل ًا مِن ْ جُهَيْنَة َ َخْبَرَه ُ َنَّه ُ سَمِع َ النَّبِي َّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقْرَ ُ فِي
الصُّبْح ِِذَا زُلْزِلَت ِ الْ َرْض ُ فِي الرَّكْعَتَيْن ِ كِلْتَيْهِمَا فَل َا َدْرِي َنَسِي َ رَسُول ُ اЦ َِّ صَلَّى
اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ َم ْ قَرَ َ ذَلِك َ عَمْدًا
Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Ali Ar-Ruzbariy mengabarkan kepada kami Abu Bakr
bin Dasah mengabarkan kepada kami Abu Dawud menceritakan kepada kami Ahmad bin
Shalih, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku ‘Amru
dari Ibnu Abu Hilal dari Mu’adz bin Abdullah Al-Juhani bahwa seseorang laki-laki dari
Juhainah memberitahukan kepadanya bahwa dirinya telah mendengar Nabi saw membaca
dalam shalat Subuh “Idza zulzilatil-ardhu zilzalaha” di kedua rakaatnya, aku tidak tahu
apakah Rasulullah saw lupa atau beliau memang sengaja.”
Hadits ini terdapat dalam Sunan Abu Dawud kitab Pembukaan Shalat bab Mengulang Satu
Surah yang Sama dalam Dua Rakaat. Hadits ini memiliki sanad yang bersambung (ittishalu
as-sanadi). Akan tetapi, pada tingkatan sahabat tidak disebutkan nama dan identitasnya
secara spesifik, sehingga seolah-olah sanad haditsnya terputus. Dalam ilmu hadits, terdapat
kaidah bahwa keadilan para sahabat itu tidak perlu dipermasalahkan lagi. Hal ini
dikarenakan sahabat merupakan objek dakwah pertama sekaligus penyebar informasi-
informasi yang berasal dari Nabi saw. Para sahabat merupakan orang yang mendengar,
melihat, dan atau telah merasakan hidup bersama Nabi saw secara langsung sehingga
semua periwayatan hadits yang disampaikan oleh sahabat dianggap kuat. Hal yang
mendukung lainnya adalah karena keadilan sahabat sudah ditetapkan oleh Allah SwT
sebagaimana yang telah Allah sebutkan dalam surah Ali-Imran ayat 110,َِّ
َكُنْتُم ْ خَيْر َ ُمَّة ٍ ُخْرِجَت ْ لِلنَّاس ِ تَْمُرُون َ بِالْمَعْرُوف ِ وَتَنْهَوْن َ عَن ِ الْمُنْكَر ِ وَتȡُْمِنُون َ بِاЦ
وَلَو ْ آمَن َ َهْل ُ الْكِتَاب ِ لَكَان َ خَيْرًا لَهُم ْ مِنْهُم ُ الْمȡُْمِنُون َ وََكْثَرُهُم ُ الْفَاسِقُون
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Selain memiliki ketersambungan sanad, dalam hadits di atas tidak terdapat cacat dan tidak
pula bertentangan dengan hadits yang lebih kuat lainnya. Oleh karena itu, dapat diambil
kesimpulan mengenai tingkat kesahihannya bahwa hadits tersebut termasuk kategori hadits
sahih.
Hadits 7
Membaca surah Al-Falaq dan An-Nas
Hadits Riwayat Abu Dawudِ
َِّحَدَّثَنَا َحْمَد ُ بْن ُ عَمْرِو بْن ِ السَّرْح ِ َخْبَرَنَا ابْن ُ وَهْب ٍ َخْبَرَنِي مُعَاوِيَة ُ عَن ْ الْعَلَاء ِ بْن
ِالْحَارِث ِ عَن ْ الْقَاسِم ِ مَوْلَى مُعَاوِيَة َ عَن ْ عُقْبَة َ بْن ِ عَامِر ٍ قَال َ كُنْت ُ َقُود ُ بِرَسُول ِ اЦ
ُصَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ نَاقَتَه ُ فِي السَّفَر ِ فَقَال َ لِي يَا عُقْبَة ُ َل َا ُعَلِّمُك َ خَيْر َ سُورَتَيْن
ُقُرɅَِتَا فَعَلَّمَنِي قُل ْ َعُوذ ُ بِرَب ِّ الْفَلَق ِ وَقُل ْ َعُوذ ُ بِرَب ِّ النَّاس ِ قَال َ فَلَم ْ يَرَنِي سُرِرْت
َبِهِمَا جِدًّا فَلَمَّا نَزَل َ لِصَلَاة ِ الصُّبْح ِ صَلَّى بِهِمَا صَلَاة َ الصُّبْح ِ لِلنَّاس ِ فَلَمَّا فَرَغ َ رَسُول
اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مِن َ الصَّلَاة ِ الْتَفَت َِلَي َّ فَقَال َ يَا عُقْبَة ُ كَيْف َ رََيْت
Telah menceritakan kepada Kami Ahmad bin ‘Amr bin As-Sarh, telah memberitakan kepada
Kami Ibnu Wahb, telah memberitakan kepadaku Mu’awiyah dari Al-’Ala’ bin Al-Harits dari
Al-Qasim mantan budak Mu’awiyah dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, aku menuntun unta
Rasulullah saw yang beliau tunggangi dalam suatu perjalanan. Kemudian beliau berkata,
“Wahai ‘Uqbah, maukah aku ajarkan kepadamu dua surah terbaik yang dibaca?” Kemudian
beliau mengajarkan kepadaku Qul a’uudzu birabbil-falaq, dan Qul a’uudzu birabbin-naas.
Kemudian tatkala Rasulullah saw. selesai dari shalat beliau menoleh kepadaku dan berkata,
“Wahai ‘Uqbah, bagaimana pendapatmu?
Hadits ini terdapat dalam Sunan Abu Dawud kitab Witir bab al-Mu’awidzatain. Hadits ini
memiliki sanad yang bersambung (ittishalu as-sanadi). Seluruh rawi pada tingkatannya
dinilai adil oleh ulama jarh wa ta’dil kecuali Mu’awiyah. Ia dinilai cacat oleh Ibn Hajar Al-
Asqalani bahwa ia shaduq auhamun lahu (jujur tetapi memiliki keragu-raguan). Penilaian
tersebut menunjukkan bahwa Mu’awiyah dinilai jujur namun tidak menunjukkan dia
sebagai rawi yang dhabith atau berkurang tingkat kedhabitannya. Hadits ini tidak memiliki
cacat (‘adamu ‘illah) dan tidak pula bertentangan dengan hadits yang lebih kuat lainnya
(‘adamu syudzudz). Jika dilihat dari penilaian ulama jarh wa ta’dil yang diberikan kepada
Mua’awiyah, memang menunjukkan bahwa ia adalah rawi yang kurang dalam
kedhabitannya sehingga hadits ini tidak bisa mencapai derajat sahih karena tidak
memenuhi lima syarat hadits sahih secara sempurna, maka hadits ini termasuk kategori
hadits hasan.
Hadits 8
Membaca al-Mu’awwidzatain
Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbalْ
حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَن ِ الْجُرَيْرِيِّ، عَن ْ يَزِيد َ بْن ِ عَبْد ِ اЦ َِّ بْن ِ الشِّخِّيرِ، عَن
ِرَجُل ٍ مِن ْ قَوْمِهِ، َن َّ رَسُول َ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مَر َّ بِهِ، فَقَالَ: «اقْرَ ْ بِهِمَا فِي
صَلَاتِكَ» بِالْمُعَوِّذَتَيْن
Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al-
Jurairy dari Yazid bin ‘Abdullah bin Asy-Syikhkhir dari rajul dari kaumnya bahwa
Rasulullah saw lewat dengannya kemudian beliau bersabda: “Bacalah keduanya dalam
shalatmu” (dengan al-mu’awwidzatain).
Hadits yang menjelaskan tentang perintah Rasulullah saw. untuk membaca al-
mu’awwidzatain dalam shalat subuh sebagaimana yang Bapak tanyakan, hanya
diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya kitab Musnad Penduduk
Bashrah bab Hadits Seorang Laki-Laki Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu dan tidak ditemukan hadits
lain yang setema dengan jalur yang berbeda. Hadits ini memiliki sanad yang bersambung
(ittishalu as-sanadi) dan tidak ditemukan penilaian cacat pada rawi di setiap tingkatannya
yang berarti ini memenuhi syarat pada poin ‘adalatu ar-ruwah (keadilan rawi) dan dlabtu
ar-ruwah (kuatnya rawi). Akan tetapi, pada sanad hadits ini terdapat rawi di tingkatan
sahabat yang tidak diketahui nama dan identitasnya (majhul). Mengenai hal ini, kami telah
memaparkannya pada penjelasan hadits ke-6 yang menyatakan bahwa semua sahabat telah
ditetapkan keadilannya oleh Allah SwT. Dengan demikian status hadits ini termasuk kategori
hadits sahih.
Hadits 9
Membaca 60 ayat atau lebih
a. Hadits Riwayat Al-Bukhariَ
َِّحَدَّثَنَا مُحَمَّد ُ بْن ُ مُقَاتِل ٍ قَال َ َخْبَرَنَا عَبْد ُ اЦ َِّ قَال َ َخْبَرَنَا عَوْف ٌ عَن ْ سَيَّار ِ بْن ِ سَلَامَة
قَال َ دَخَلْت ُ َنَا وََبِي عَلَى َبِي بَرْزَة َ الْ َسْلَمِي ِّ فَقَال َ لَه ُ َبِي كَيْف َ كَان َ رَسُول ُ اЦ
صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يُصَلِّي الْمَكْتُوبَة َ فَقَال َ كَان َ يُصَلِّي الْهَجِير َ الَّتِي تَدْعُونَهَا
َالْ ُولَى حِين َ تَدْحَض ُ الشَّمْس ُ وَيُصَلِّي الْعَصْر َ ثُم َّ يَرْجِع ُ َحَدُنَا ِلَى رَحْلِه ِ فِي َقْصَى
ِالْمَدِينَة ِ وَالشَّمْس ُ حَيَّة ٌ وَنَسِيت ُ مَا قَال َ فِي الْمَغْرِب ِ وَكَان َ يَسْتَحِب ُّ َن ْ يȡَُخِّر َ الْعِشَاء
ِالَّتِي تَدْعُونَهَا الْعَتَمَة َ وَكَان َ يَكْرَه ُ النَّوْم َ قَبْلَهَا وَالْحَدِيث َ بَعْدَهَا وَكَان َ يَنْفَتِل ُ مِن ْ صَلَاة
الْغَدَاة ِ حِين َ يَعْرِف ُ الرَّجُل ُ جَلِيسَه ُ وَيَقْرَ ُ بِالسِّتِّين َِلَى الْمِاɅَة
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil, ia berkata, telah mengabarkan
kepada kami Abdullah, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Auf dari Sayyar bin
Salamah, ia berkata, “Aku dan bapakku datang menemui Abu Barzah Al Aslami. Lalu
bapakku bertanya kepadanya, “Bagaimanakah dahulu Rasulullah saw melaksanakan shalat
wajib?” Abu Barzah menjawab, “Nabi saw melaksanakan shalat Dzuhur, yang biasa kalian
sebut sebagai waktu utama, yaitu ketika matahari telah tergelincir. Adapun beliau
melaksanakan shalat Ashar ketika salah seorang dari kami kembali dengan kendaraannya di
ujung kota, sementara matahari masih terasa panas sinarnya. Aku lupa apa yang dibaca
oleh beliau ketika melaksanakan shalat Magrib. Beliau lebih suka mengakhirkan shalat Isya
yang kalian sebut dengan shalat ‘atmah (gelap gulita). Beliau tidak suka tidur sebelum
melaksanakan shalat Isya dan tidak pula berbincang-bincang sesudahnya. Beliau
melaksanakan shalat Subuh ketika seseorang dapat mengetahui siapa yang ada di
sampingnya. Beliau biasa membaca enam puluh hingga seratus ayat.” Bersambung.

