putusan
Tanya Jawab Agama 3 Masalah Aqidah
MASALAH AQIDAH
- Iman, Mukmin, Islam dan Muslim
Tanya: Sebagai pelanggan SM, saya mohon dijelaskan arti ciri-
cirinya agar dapat disebut demikian. (Soelaiman, M-S H, Len. SM No. A.
7813, JL H. Bardan I1/ 2, Bandung).
Jawab: Sebagai pelanggan SM dipersilahkan melihat ulang SM No.
12/75 Th. 1990 tentang iman telah disinggung sedikit, namun untuk
jelasnya, kiranya baik dijelaskan tentang arti iman dan Mukmin serta ciri-
cirinya itu. Menurut bahasa Iman berarti “tashdieg” yakni membenarkan.
Menurut istilah, sebagian ahli ilmu menerangkan bahwa iman itu berarti”
“TASHDIEQURRASUULI FIEMAA JAA-A BIHAN RABBIHI”
artinya, ialah: “MEMBENARKAN RASUL TENTANG APA SAJA
YANG DIDATANGKAN DARI TUHANNYA”.
Dalam al-Qur'an, sebagai wahyu diterima Rasulullah saw tidak
diberikan ta'rif atau pengertian iman itu, tetapi dijelaskan apa yang harus
diimani atau dibenarkan oleh orang-orang beriman. Di antara ayat yang
menerangkan apa yang harus dibenarkan, diyakini kebenarannya ialah
tersebut dalam surat An-Nisa' ayat 136, yang berbunyi:
A 10 40 , 47 95 ود 3, 2
0 74, ZS 9 NI alg 7
واجماد2َال oneean 7 Lx 2 AA 7 راس
NSay alt Sj asks
re
we?
Natal ja “7, 1344
Artinya: Wahai orangyang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab
Jang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapayang kafir kepada Allah, Malaikat-
Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-RasulNya dan hari kemudian, maka sesungguhnya
orang itu telah sesat sejauh-jaubnya.
Selanjutnya, tentang orang yang benar-benar beriman
digambarkan, sebagai orang yang teguh imannya, tidak ragu-ragu
dibuktikan dengan bersedia melakukan perintah-perintah Allah termasuk
bersedia berkorban untuk keyakinannya itu, sebagai disebutkan dalam surat
al-Hujaratayat 15 dan surat al-Anfal ayat 2,3 dan 4 serta ayat 74.
Ayat 15 Surat Al-Hujarat:
IE IN TAAA gre NA 4 و
Vi eee al pet A3 ANU اموا YAN Gang,
ny
هم
الصدِمُور
PN
UN
Be
atm
TAG
Artinya: Sesungguhnya orang-orangyang beriman, “hanyalah orang-orang
Jang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan
mereka berjihad dengan harta danjiwa merekapadajalan Allah, mereka itulah orang-
orang yang benar.
Ayat 2,3 dan 4 surat Al-Anfal:
III “CG21,دو
TL sie NAL )913 GG SCIA
AT
“7, oH a TAP II 4y) yg 11-
ob.
30
Ie
deeb
كم 4١
AA
من
aa
pasa
كةو
نف
eeJ, 7 chee 3 9 vw. Si LIA د
ومغزه
ةورف
كرورم
phy
درجت
عند
tee
Artinya: Sesungguhnya orang-orangyang beriman itu, hanyalah merekayang
apabila disebut Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka dan kepada Allah mereka bertawakkal.
Yaitu, orang-orangyang mendirikan shalat, menafkahkan sebagian dari rizki yang
Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang beriman dengan
sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan
ampunan serta rizki (nikmat)yang mulia.
Selanjutnya ayat 74 suratal-Anfal berbunyi sebagai berikut:
WIGfireat Waa Was7 Zsey an alls
eels
7
ers
a
دمل
ها24 ele edACU A25eaeDan mereka orang-orang yanga dan berhijrah serta berjihadpadajalan Allah, demikian pula orangyang memberi tempat kediaman dan memberi
pertolongan, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka
memperoleh ampunan dan rizki (nikmat)yang mulia.
Demikian gambaran iman pada al-Qur'an, dan selanjutnya kita kaji
iman dalam Hadits. Fungsi Hadits adalah menjelaskan apa yang disebutkan
dalam al-Qur'an meliputi mempertegas, memperjelas dan menambah
sesuai dengan petunjuk al-Qur'an, dalam hal iman ini pun tidak lepas dan
fungsi tersebut.
Hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim mempertegas apa yang
tersebut dalam surat an-Nisa' ayat 136, tentang apa yang wajib diimani.
Dalam lafadz riwayat Muslim dan Abu Hurairah, ketika Jibril
menyerupakan diri sebagai seseorang yang bertanya kepada Nabi tentang
berbagai masalah pokok ajaran Islam khususnya tentang iman, Nabi
mempertegas tentangiman itu.
aL
aa
بم
IIE
ع
نالامَان
UI
٠٠ َ
قَال
on
PA
NE
YAYA
Dpr
كدو7
Lares
( وسم GAB رواهce ad) hm صدحثك
Artinya: S..... berkata (Jibrilyang menampakkan diri sebagai seseorang)
kabarkan kepadaku tentang iman. Maka Nabipun menjawab: “Hendaknya engkau
percaya (yakin) kepada Allah dan kepada Malaikat-Nya juga kepada Rasul-Nya
serta percaya akan datangnya hari kemudian serta percaya kepada takdir, baik
maupun buruknya”. Kau benar Muhammad) ... dst.
Pada hadits riwayat lain kita dapati penjabaran iman bukan saja
berupa keyakinan yang teguh tetapi juga pengamalan dengan lisan dan
segenap anggota, bahkan dengan sikap yang baik, sikap terhadap Allah
maupun sikap terhadap sesama manusia.
Barangkali ada baiknya beberapa hadits yang disampaikan untuk
dapat dilihat sebagai dasar bahwa iman itu selain keyakinan dengan hati juga
menghendaki pelaksanaan dengan amal lisan dan perbuatan serta sikap.
Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas, Nabi bersabda di
hadapan utusan Abdul Qais dalam dialognya:
Aa
an
UNI
Kl
OG
SA SAN IS ESAIE MEAAA
ME
CG
ata
rae
ees
ieee
2603َ
رَمصَان
(رواه
الغارى
)
Artinya: Bersabda Nabi: “Adakah engkau tahu tentang iman kepada
Allah sendiri itu? Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya.
“Bersabda Nabi: “Bersaksilah, rada Tuhan melainkan Allah dan bersaksi bahwa
Muhammad utusan Allah, mendirikan, shalat, membayar zakat dan melakukan
puasa Ramadhan ... dst.
Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
menyatakan bahwa beriman itu juga bersikap baik kepada tetangga dan
tamu serta berusaha berkata yang baik atau diam (kalau tidak dapat berkata
baik).
20
AA
"ai
UG,
ISA
JG
17 8# عيرسد ote
Awl oye
جاره.
ومن
ن
PNG
lg
Ul en OEَ وَمAA LA,Fer
ماله
ليوماجرفليمحيراأو|CN)رعاهجمارىوسلما
Dari ayat-ayat maupun Hadits di atas dan masih banyak lagi lainnya,
g-7
dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan iman itu meliputi keteguhan hati
ucapan yang baik dalam lisan juga amal dan sikap yang baik dengan segenap
anggotanya. Iman yang seperti inilah iman yang sempurna. Sedangkan
menurut riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Musayyab Ibnu Haznin
menunjukkan minimum iman itu dengan mengucapkan lafadz “
LAAILAAHAILLALLAHE”, didasarkan pada sabda Nabi bagi pamannya,
Abu Thalib:
PL IK ANK
SAE AG رَسَوكالتوصلالنهعليه JG
PLANDER PA NIA 173 َ عَج
IKArtinya: Bersabda Rasulullah saw terhadap Abu Thalib: “Wahai Paman,
berucaplah “LAAILAAHA ILLALLAHH”, kalimatyang kau akan menjadi
saksi bagi engkau di sisi Allah.
(or
2. Cara Memperbarui Iman
Tanya: Benarkah iman dapat hilang dan adalah jalan
memperbaruinya? Apakah yang harus dilakukan agar dapat memperbarui
rasa iman setiap saat supaya tidak menjadi lemah? Mohon penyelasan.
(Sukandi, Lgn. No. 8214, Tapanuli Selatan, Sum-UP).
Jawab: Iman memang dapat hilang dan dapat juga lemah. Hilang
iman kalau seseorang murtad. Iman menjadi lemah kalau seseorang tidak
membinanya secara baik. Pembinaan iman adalah dengan beribadah yang
baik. Orang yang selalu mengerjakan ibadah dengan baik akan terjaga
agamanya yakni iman dan amalnya. Karena itulah beribadah (dengan baik)
itu diperintahkan oleh Allah, agar menusia menjadi muttagin. Muttagin itu
orang yang dapat menjaga diri. Demikian disebutkan dalam ayat 21 surat
Al-Bagarah.
Pera| 22 a aan 7 “Ia
KE SM ASN KKS LN
4
ميN
Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan-mu
dan orang-orangyang sebelummu, agar kamu bertagwa.
Kelemahan hati dalam melakukan ibadah dapat mengantar pada
perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, bahkan dapat menjerumus pada
perbuatan maksiat yang lebih besar yang menjadikan hati nurani manusia
tertutup. Itulah gambaran manusia yang melemah imannya.
Hadis riwayat Al Bukhari dari Abu Hurairah mengatakan, kalau
sampai orang melakukan perbuatan maksiat seperti mencuri, minum
khamar atau berzina, maka orang tersebut imannya lemah dan tidak
sempurna.
133
KESAN
AG
Ra
ace
"yA 7
“NK
0
AA وس
VS AK KAA
(OI
4
512
Ai
PALA
2-17
الكت
77
PN eG EGG ENG 5
1 “29 و (Ie
AR Cat
AN
Banana
SY
SAN YA
TAPI5
Asas رواه ١ ( eee gies trلل"GAgeen
Bersabda Nabi: “Tidak bergina seseorang yang berzina pada waktu
bergina dia dalam keadaan beriman, dan tidak meminum khamar ketika
meminumnya, (seorang itu) dia dalam keadaan beriman, dan tidak mencuri seseorang
pencuri ketika mencuri dia dalam keadaan beriman. "Dan Bukhari menambah dalam
suatu riwayat: “Dan tidak merampas seorang, barangyang mempunyai harga tinggi
Jang manusia membelalakkan mata kepadanya, ketika ia merampas sedang ia dalam
keadaan beriman”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Untuk memberi indzar atau peringatan bahwa iman seseorang
dapatme adi usang dan agar selalu diperbarui, Nabi bersabda:
FLA
FAST
ox
3
ESA
LeadSu
Bo) wear OSN 2
الله
تَعال
Artinya: Sesungguhnya iman itu dapat usang dalam dirimu sebagaimana
usangnyapakaian. Maka dari itu mohonlah kepada Allah agar Allah memperbaharui
iman pada hati-hatimu sekalian. (HR. Ath Thabarany, Al Hakim dari Ibnu
'Amr dengan nilai hasan).
Persoalannya bagaimana memperbaharui iman itu menurut yang
dituntunkan oleh Nabi. Jawabnya, berdasarkan kepada riwayat Ahmad dari
Abu Hurairah dengan nilai hasan, Nabi pernah bersabda:
TLP KEP GAaanANKES IC
FG
layer NA AN aby, ( AI YAN NSpenNG
Artinya: “Perbaharuilah imanmu sekalian”. Ada orang berkata,
“Bagaimana kami memperbaharui iman kami hai Rasulullah?” Nabi bersabda:
“Perbanyak ucapan LAAILAAHA ILLALLAH”. (HR. Ahmad dengan
sanad yang baik).
Demikian cara memperbaharui iman, yang tentu saja bukan dalam
ucapan tanpa arti, tetapi haruslah ucapan yang disertai dengan hati yang
sungguh, dan diikuti dengan perbuatan yang baik dan benar.
3. Islam dan Muslim
Tanya: Minta dijelaskan tentang Islam dan Muslim, karena pada
nomer yang lalu belum terjawab. Apakah ada perbedaan Islam dan muslim
itu dengan iman dan mukmin dalam pengamalan sehari-hari. (Soelaiman M.
SH, Len. No. A. 7813 Jl. A. Bardan II No. 2 Bandung40287).
Jawab: Islam dari kata “Aslama” yang berarti “tunduk”
menyerah diri. Sehingga kata aslama menjadi Islam yang berarti
penyerahan diri. Islam sebagai nama agama merupakan penyerahan diri
kepada Allah SWT. Orang yang menganut agama Islam disebut Muslim.
Dalam proses memeluk agama Islam ini, ada kalanya belum sepenuhnya
dengan dasar keyakinan atau iman. Dalam hal ini disinyalir dalam ayat 14
surat al-Bagarah, di kala orang Arab menyatakan beriman, padahal hatinya
belum sepenuhnya beriman, agar mereka menyatakan saja “Aslamnaa”
artinya Islam, menyerahkan diri pada Nabi, karena memang dalam hatinya
belum kemasukan iman yang sempurna.
Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Anas dinyatakan
bahwa Islam itu bersifat lahiriah sedang iman itu dalam hati. Tetapi Hadits
Nabi riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, ketika ditanya
tentangiman, jawabnya: “Percaya akan Allah, Malaikat-Nya, akan bertemu
dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan percaya dengan hari Kebangkitan”.
Sedang ketika ditanya tentang Islam, jawabannya “Beribadah kepada Allah
dan tidak memusyrikkan-Nya mendirikan shalat, membayar zakat,
mengerjakan puasa bulan Ramadhan. Pada pernyataan Nabi bahwa Islam
adalah beribadah kepada Allah dan tidak memusyrikkan-Nya berarti
pernyataan Islam pertama adalah beriman. Kalau demikian Islam
sebenarnya juga memasukkan iman pada kerangka ajarannya, bahkan
akhlak juga masuk kerangka ajarannya. Kalau menurut di atas bahwa Islam
itu melaksanakan amalan lahiriah seperti shalat, puasa, zakat, dalam Hadits
riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas, Nabi menerangkan bahwa
iman kepada Allah mengucap dua syahadah, mendirikan shalat, membayar
zakat dan mengerjakan puasa Ramadhan. Jadi iman berarti melaksanakan
Islam pula.
Kesimpulannya, kalau pengertian Islam dalam arti luas adalah
meliputi pelaksanaan iman, sedangkan pengertian iman dalam arti luasnya
juga meliputi pelaksanaan ajaran Islam. Seorang muslim yang sempurna
adalah orang Mukmin yang melaksanakan cabang-cabang iman yang
sempurna, demikian pula seorang Mukmin yang sempurna kalau orang itu
juga melaksanakan ajaran Islam secara sempurna.
4. Berdoa Dengan Perantaraan Kemuliaan Rasulullah
Tanya: Bolehkah kalau saya berdoa dengan menyebutkan
kemuliaan Rasulullah sebagai perantara seperti ucapan: “Yg Allah berkat
kemuliaan Rasulullah selamatkanlah aku dan murahkanlah nzkiku”? Mohon
penjelasan. (Len. No. 3924, Banjarmasin).
Jawab: Berdoa hendaknya ditujukan langsung saja kepada Allah,
karena begitulah yang diperintahkan oleh-Nya, sebagaimana disebutkan
pada ayat 60 al-Mukmin.
gg 29% IIS رم 6
KENAPAR Ray“065
Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku
perkenankan bagimu”.
Demikian pula disebutkan pada ayat 28, 55, 56 surat al-A'raf, yang
kesemuanya menunjukkan agar berdoa ditujukan kepada Allah. Dalam
berdoa yang ditujukan kepada Allah dapat menyebutkan sifat-sifat Allah,
seperti: “Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan dengan
kekuasaan-Mu dan seterusnya”. Tidak dengan kemuliaan Rasulullah.
Berdoa dengan menyebut sifat kekuasaan Allah itu dibenarkan
sebagaimana doa yang dituntunkan Nabi kalau melakukan shalat istikharah.
5. Nabi Yang Beragama Islam Hanya Muhammad?
Tanya: Benarkah hanya Nabi Muhammad saw yang beragama
Islam, sedang Nabi-Nabi yang lain tidak? Mohon penjelasan kalau ada yang
berpendapat demikian. (Shafra Alisyahbana, Len. SM No. 7933).
Jawab: Menurut keyakinan Islam, semua Nabi diutus oleh Allah
membawa agidah Tauhid. Dan dalam Islam disebutkan bahwa bukan hanya
Muhammad saw yang menganut dan menganjurkan Islam, tetapi juga
Nabi-Nabi lain, seperti Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Yakgub dan Nabi
Musa. Hal ini dapat dibaca pada beberapa ayat di bawah.
Syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad juga dibawa oleh Nabi-
Nabi sebelumnya, seperti tersebut pada surat Asy-Syura ayat 13:
GAM ea Dg
omen eer 2 ( سلمبرجت ial 4
AnAYI
Meli
Aa
هيم
وموس
Ja,
29Artinya: Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang
lelah diwasiatkan-Nya kepada Nabi Nuh dan (juga) yang telah Kami wasiatkan
kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yakni: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah-belah tentangnya.
Dalam ayat 72 surat Yunus, Nabi Nuh menyatakan bahwa dirinya
diperintahkan untuk menjadi orang Muslim.
Sia INSAN,OAsmuaLo iNN
493
Cid
GG
NS
Artinya: (Kata Nuh): Jika kamu berpaling, aku tidak meminta upah
sedikitpun dirimu, upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh
supaya aku termasuk golongan orang-orangyang menyerahkan diri (Muslimin).
Dalam surat al-Bagarah ayat 132 kita dapati bahwa Nabi Ibrahim
dan Nabi Yakgub mewasiatkan kepada anak cucunya agar tetap menjadi
orang yang berserah diri Muslimin)
Cyoa ٠ 9 7) A 7A, Ie “ow
أكم
لذن
KANG CAD
AN
9
ليه
em
SI
we
33
¥
1
WF AG
Artinya: Ibrahim telah terasi ucapan ituyh aindemikianpula Nabi Yakqub: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih
agama ini bagimu, makajanganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam.
Dalam surat Yunus ayat 84 disebutkan bahwa Nabi Musa berpesan
kepada ummatnya agar mereka tetap bertawakkal, kalau mereka benar
orang yang berserah diri.
4لقال57 A53 كمبالل a pura OhWZ) وRIES
9737
GradeKE — إر
Unc
Artinya: Berkata Musa: “Hai kaumku,jika kamu beriman kepada Allah,
maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orangyang berserah
diri (Muslimin)”.
6. Kata Sayyidinaa Di Depan Muhammad
Tanya: Sering menjadi pertanyaan bahwa Muhammadiyah itu
kurang menghormati Nabi Muhammad, karena dalam menyebut nama
tidak menggunakan kata “Sayyidina” yang artinya Tuan. Di sisi lain kalau
kata sayyidina digunakan akan termasuk mengkultuskannya. Bagaimana
yang sesungguhnya, mohon penjelasan. (M. Arifin NBM. 627.788, SMA
Pagaralam).
Jawab: Perlu diketahui bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi
dakwah Islam mengajak kepada anggota khususnya, kaum Muslimin
umumnya untuk selalu menjunjung tinggi ajaran Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad saw. Dalam rangka menjunjung tinggi ajaran Islam itulah
berusaha untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan
yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Dalam menuntunkan
bacaan shalawat pada waktu seseorang melakukan shalat yakni di kala
membaca tasyahhud, tidak menggunakan kata “Sayyidina Muhammad”
tetapi cukup “Allahumma Shali 2122 Muhammad” dan seterusnya.
Tuntunan yang demikian sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah
sebagai disabdakan: “Shaluu kamaa Raaitummuuniy Ushalliy” (HR. Al
Bukhari) yang artinya: “Shalatlah Anda sekalian seperti Anda lihat aku
melakukan shalat”. Tegasnya, perintah Nabi itu agar kita melakukan shalat
seperti Nabi melakukan shalat. Khusus mengenai membaca shalawat dalam
shalat diriwayatkan oleh Fudlalah bin 'Ubaid.
MANA
CE
ES Ag
LE
IMS َّ
عَن
BED ELH sg ZLIGMAS
JERS Me BIA 6 a
to Pha III Oa AL) kT IK ENO
Lakh Vile) SIM Soاو 4) sled دعام
Ao — Tn Zi me Aen Lt Me ae - 1
GAN EN KS Le Es as
yA 299 ,798 ,Aراء
(cr
oly)
GEA
ف
ليدع
Artinya: Hadits diriwayatkan dari Fudlalah bin 'Ubaid ra ia berkata:
Rasulullah saw mendengar seorangyang sedang berdoa dalam shalatnya dengan tidak
membaca shalawat pada Nabi. Maka Nabi bersabda: “Orang ini telah tergesa-gesa.
Setelah itu Nabi memanggil orang tersebut dan bersabda kepada orang itu atau kepada
orang lain: “Apabila seseorang shalat (dan berdoa) hendaknya memulai doanya dengan
memuji pada Allah dan menyanjungnya sesudah itu hendaknya membaca shalawat
pada Nabi. Sesudah itu barulah berdoa apayang dikehendaki”. (HR. At Tirmidzi
dan dikatakannya shahih).
Mengenai bagaimana membaca shalawat pernah ditanyakan oleh
para shahabat, sebagai yang disebut dalam riwayat Ahmad, Muslim, An-
Nasiy dan At Tirmidzy dari Ibnu Mas'ud, seperti tersebut di bawah ini.
Teman
NEA
Lb)
gs
ithe?
سيديك coe neaog
TEA
we
SIS
aid
eal
16
5000000وSACSDP
Da
SSS
Pena
1 wal LINERS الحم IE a13nela
CINA
روله
أتمروس
م
(
FAN
SNN
|
7
20
نها
Artinya: Dari Ibnu Mas'ud ra ia berkata: “Rasulullah saw7 kepada
kami sedang kami duduk dipersidangan Sa'ad bin 'Ubaidah. Maka bertanyalah
Basyir bin Sa'ad kepada Rasul: “Ya, Rasulullah, Allah memerintahkan kami
bershalawat untukmu. Bagaimana kami bershalawat untukmu itu ya Rasulullah?”
Maka Nabi berdiam diri, tidak menyahut. Karena itu kami memandang bagus kalau
hal itu tidak ditanyakan. Kemudian Rasulullah menjawab” “Ouluu Allahumma
Shalli "Alaa Muhammad Wa'alaa Aah Muhammad dan seterusnya sampai Innaka
Hamiedummajied. Adapun membaca salam, seperti yang telah engkau mengetahuinya.
(HR. Ahmad, Muslim, An Nasaiy dan At Tirmidzi).
Masih banyak Hadits yang menunjukkan tuntunan bacaan shalawat
dalam shalat, dan tidak ada yang menggunakan kata Sayyidina.
3
Kesimpulannya dalam shalat tidak diperlukan membaca Sayyidina dalam
membaca shalawat, sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.
Mengenai bacaan Sayyidina dalam shalawat di luar shalat seperti
dalam pidato-pidato kita dapati sebuah Hadits yang berbunyi:
١
) (رواهأعروأوداور AI
“-
Artinya: Sayyid (Tuan) itu Allah. (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari
Abdullah bin As Sakbir: MenurutAs Suyuthi Hadits ini shahih).
Berdasarkan Hadits tersebut, dengan memahami
isyaaratunnashnya, tidak pantas kita menyebut Nabi dengan Sayyidina
karena menyamakan Nabi Muhammad dengan Allah. Sebut saja
sebagaimana dalam Hadits seperti Allahumma Shalli 'Alaa Muhammadin
Nabiyyil Ummiyii atau Allahumma Shalli 'alaa Muhammad 'Abdika
Warusuulika.

