putusan
Tanya Jawab Agama 3 Masalah Shalat Sunat
MASALAH SHALAT SUNAT
- Dalil Tentang Aneka Ragam Cara Shalat Lail
Tanya: Di salah satu masjid di daerah kami ada imam shalat tarawih
delapan rakaat sekali salam. Menurut imam tersebut, cara shalat tarawih
seperti itu ada tuntunannya dalam tuntunan Tarjih Muhammadiyah.
Karena sampai sekarang ini kami tidak pernah menerima tuntunan seperti
itu, maka mohon penjelasan, apakah memang ada tuntunannya dan jika ada
dalilnya tolong ditunjukkan kepada kami dalil-dalilnya dan darimana dalil
itu diambil. Jika masih ada lagi cara lain, mohon juga dijelaskan! (M. Yusuf
AR, Pematang Siantar, Sumatera Utara).
Jawab: Dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) cetakan
ketiga halaman 341 dikatakan:
“Hendaklah engkau membiasakan shalat malam sesudah shalat
Isya', hingga menjelang terbit fajar, baik di dalam maupun di luar bulan
Ramadhan. Engkau kerjakan sebelas rakaat, dua rakaat-dua rakaat atau
empat rakaat-empat rakaat dengan membaca Fatihah dan surat al-Qur'an
pada tiap-tiap rakaat. Kemudian engkau akhiri tiga rakaat. Jika engkau
hendak mengerjakan shalat dengan cara lain, maka yang sebelas rakaat itu
boleh engkau kerjakan dua rakaat-dua rakaat atau empat rakaat-empat
rakaat seperti tersebut di atas, atau enam rakaat, atau delapan rakaat terus-
menerus dan hanya duduk dalam penghabisannya lalu salam, lalu engkau
kerjakan witir satu rakaat atau tiga rakaat, atau lima rakaat atau tujuh rakaat
dengan duduk tasyahud awal pada rakaat ke enam dan di akhiri pada rakaat
ke tujuh dengan duduk untuk salam, atau sembilan rakaat dengan duduk
tasyahud awal pada rakaat ke delapan dan di akhiri pada rakaat kesembilan
dengan duduk untuk salam”.
Cara shalat lain yang ditunjukkan dalam HPT tersebut
sebagaimana kita lihat beraneka ragam. Bisa dikerjakan dua rakaat-dua
rakaat sebanyak empat kali (jumlahnya menjadi delapan rakaat) kemudian
ditambah dengan witir tiga rakaat sehingga jumlahnya menjadi sebelas
rakaat. Kedua acara ini yang pada umumnya diamalkan dikalangan
Muhammadiyah.
Cara lain dalam mengerjakan Shalatul Lail adalah sebagai berikut
ini:
Vs 0 ٠ (535(55
|
EGA
US
ol
,
CSC
yas
de
oot
rena
CA ar at 4775AN 2/2 وIan ac 8
nana
كرالله
X3
هنر
0
وجا
LAN
PAT Keran
2
3
AS
a"
555 2 SIA22522011
(روام
أوداور)
Artinya: Dari Oatadah ia berkata: (Nabi saw) shalat delapan rakaat,
beliau tidak duduk kecualipada rakaatyang ke delapan. Beliau duduk sambil dzikir
kepada Allah 'azga wa jalla, kemudian berdoa, lalu salam, sehingga kami dapat
mendengar salamnya itu. Kemudian beliau shalat lagi dua rakaat sambil duduk lalu
salam. Kemudian beliau shalat satu rakaat. Maka jadilah ia sebelas rakaat. (HR.
Abu Dawud dari Yatadah).
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi saw menunaikan shalat Lail
delapan rakaat secara sekaligus dengan sekali salam pada rakaat yang ke
delapan. Dalam shalat yang delapan rakaat ini, Nabi saw tidak duduk
tasyahud kecuali pada rakaat yang terakhir, yaitu pada rakaat yang ke
delapan yang kemudian di akhiri dengan salam. Setelah selesai yang delapan
rakaat itu lalu Nabi shalat lagi dua rakaat sambil duduk. Setelah selesai yang
dua rakaat itu lalu Nabi shalat lagi satu rakaat. Dengan demikian jumlah
rakaat seluruhnya adalah sebelas rakaat.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Yatadah dalam Sunan
Abi Dawud Juz 11 pada bab fi shalah al-lail, Hadits nomor 1343. An-Nasa'i
juga meriwayatkan Hadits ini dari Sa'ad bin Hisyam dalam Sunan an-Nasi'i
Juz 111 pada bab ak-lail.
$n
AI
en
EKA,
TS
70
Gs
د
م
kesan
—— salah
AU LE Se
au
NS
YA
72
سس
سل
KET 7 2311
دض
treea w 7
SEE En 5 LES5 OLRPTIK.
Ayo و ra 78 oh, ال0 4
oa
Jip
ye
pawl’
L*
pabean
رواه
أبوراور)
(
PAI
AU
Artinya: Dari Abdullah bin Abi Oais, ia berkata: saya bertanya kepada
"Aisyah r.a: Berapa rakaat Rasulullah saw shalat witir (shalat lail)? “Siti Aisyah
menjawab: “Rasulullah shalat witir empat rakaat dan tiga rakaat atau enam rakaat
dan tiga rakaat atau delapan rakaat dan tiga rakaat atau sepuluh rakaat dan tiga
rakaat. Rasulullah saw tidak pernah shalat witir kurang dari tujuh rakaat dan tidak
pernah lebih dari tiga belas rakaat.” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Qais).
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi saw shalat lail dengan cara
shalat empat rakaat lalu salam kemudian ditambah lagi tiga rakaat lalu
salam, sehingga jumlah rakaat keseluruhan ada tujuh rakaat. Atau shalat
enam rakaat kemudian ditambah lagi tiga rakaat lalu salam sehingga jumlah
rakaah keseluruhan adalah sembilan rakaat. Atau shalat delapan rakaat lalu
salam kemudian ditambah lagi tiga rakaat lalu salam, sehingga jumlah rakaat
keseluruhan adalah sebelas rakaat. Atau shalat sepuluh rakaat lalu salam,
kemudian ditambah lagi tiga rakaat lalu salam, sehingga jumlah rakaat
keseluruhan adalah tiga belas rakaat.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abdullah bin Abi
Qais dalam Sunan Abi Dawud Juz 11 babfi shalah al-lail, Hadits nomor 1362.
NC ١ 71731 A,
ajaa Zhe Oe: BETA19HN
IL
17
ah
“4
IPAL
SL
ee ak
)
رواه
نسام
(
CE
ذلك
كمي
Artinya: Dari 'Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw shalat lail tiga belas
rakaat, di antara tiga belas rakaat itu beliau shalat witir lima rakaat dengan tidak
duduk dalam rakaat manapun kecuali pada rakaatyang terakhir. (HR. Muslim
dari 'Aisyah).
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi saw shalat lail sebanyak tiga
belas rakaat itu ada lima rakaat yang dikerjakan sekaligus dengan hanya satu
kali duduk tasyahud yaitu pada rakaat yang ke lima yang kemudian langsung
di akhiri dengan salam. Mengenai rakaat yang lainnya yaitu dengan delapan
rakaat lagi, dalam Hadits itu tidak dijelaskan apakah dilakukan dua rakaat-
dua rakaat atau empat rakaat-empat rakaat atau delapan rakaat sekaligus
dengan sekali salam. Yang jelas dari Hadits ini bahwa witir dilakukan lima
rakaat sekaligus dengan sekali salam tanpa ada duduk tasyahud kecuali pada
rakaat yang kelima (rakaat yang terakhir).
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Siti 'Aisyah
dalam Shahih Muslim Juz 1 pada bab shalat al-lail. Hadits ini juga diriwayatkan
oleh Abu Dawud dari 'Aisyah dalam Sunan Abi Dawud Juz 11 pada bab fi
shalah al-lail, Hadits nomor 1338 dengan redaksi yang sedikit berbeda.
Dalam riwayat Muslim berbunyi:
١
A
4
Pad
١
724
.
7%
4
و
7
PL.
م
IX٠ | 1 4 3
AN
ak
حمس
Wrap
Artinya: Di antaranya belian witir lima rakaat tidak duduk tasyahud
dalam rakaat manapun kecualipada rakaat yang terakhir.
Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud lebih rinci se berbunyi:
3
7,
7
7
ELIAGI
7
|
“3
5
3
oi
Artinya: Di antaranya beliau shalat witir lima rakaat tidak duduk tasyahud
dalam rakaat manapun dari lima rakaat itu sehingga ia duduk tasyahudpada rakaat
Jang terakhir kemudian salam.
Hadits yang maksudnya sama namun dengan redaksi yang berbeda
diriwayatkan oleh an-Nasa'i dari Ummu Salamah dalam Sunan an-Nasa'i Juz
III pada bab kaif alwitr bi-khamsin. Demikian pula Ibnu Majah
meriwayatkannya dari Ummu Salamah dalam Sunan Ibuu Majah Juz 1 pada
bab maja'afi al-witr bi-tsalatsin wa Rhamsin wa sab'inwa tis'in.
Hadits yang vee
72 ee LE At “N50Zo: baz
“ a“4 f. 5
DES اسلا
و
ha
PN وتحمس
|
|
nine
oly,
2
Artinya: Dari Ummu Salamah ia berkata: Rasulullah saw shalat witir
dengan tujuh rakaat dan lima rakaat tanpa dipisahkan di antara rakaat-rakaat itu
dengan membaca salam ataupun dengan perkataan lainnya. (HR. An-Nasa'i dan
Ibnu Majah dari Ummu Salamah)
Jaa
See
KA
TER
Saja
YORE
Es
CIEL
SES
MEP
AAN
Oe
is
SETIR
An
oa)
Arsip
eta
IR
Dah
AAA
5206
if
) (رواهسام peka Sarvs
Artinya: Dari Abu Salamah ia berkata: saya bertanya kepada 'Aisyah
tentang shalat Rasulullah san, 'Aisyah menjawab: Rasulullah saw shalat tiga belas
rakaat. Beliau shalat delapan rakaat, kemudian shalat witir satu rakaat, kemudian
shalat lagi dua rakaat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku' beliau berdiri dan
ruku', kemudian beliau shalat lagi dua rakaat di antara adzan dan igamah shalat
Shubuh. (HR. Muslim dari Abu Salamah).
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi saw shalat lail sebanyak
sebelas rakaat. Mula-mula beliau shalat delapan rakaat, lalu shalat satu
rakaat, kemudian shalat lagi dua rakaat sambil duduk. Mengenai cara shalat
yang delapan rakaat yang disebutkan dalam Hadits itu tidak dijelaskan,
apakah dilakukan sekaligus dengan sekali salam atau empat rakaat-empat
rakaat atau dua rakaat-dua rakaat. Tetapi kalau melihat dari konteksnya
nampaknya dilakukan sekaligus dengan salam. Yang jelas dari Hadits itu
adalah bahwa shalat witir boleh dilakukan hanya satu rakaat dan tidak harus
N
N
SN
dilakukan di akhir shalat lail. Yang penting disini bahwa jumlah keseluruhan
rakaat shalat lail itu adalah gasal.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Salamah
dalam Shahih Muslim Juz 1 pada bab shalah al-lail wa'adad rakaat an-Nabiy
Shallallah 'alaih wa sallamfi al-lail.
Gass
ain
{Gb
Se
SEN
GS
KA
wis
7
a
oles
Sa
NI,
AS
SALAK
TAK
aa
a
(able)
JSI
als
لس
Ea
yaa Hy
Artinya: Dari "Aisyah ra. ia berkata: Maka setelah Rasulullah saw
bertambah berat badannya karena usia lanjut beliau kerjakan shalat witir itu tujuh
rakaat, beliau tidak duduk kecualipada rakaatyang ke enam (untuk tasyahud awal)
dan pada rakaatyang ke tujuh (untuk tasyahud akbir) dan tidak salam kecualipada
rakaatyang ke tujuh. Kemudian beliau shalat lagi dua rakaat sambil duduk. Maka
Jadilah sembilan rakaat. (HR. Abu Dawud dari 'Aisyah).
Hadits ini menjelaskan bahwa tatkala usia Nabi saw sudah lanjut
beliau shalat lail sembilan rakaat. Mula-mula beliau shalat tujuh rakaat
sekaligus dengan sekali salam. Pada rakaat yang ke enam beliau duduk
tasyahud awal, kemudian berdiri untuk rakaat yang ke tujuh. Pada rakaat
yang ketujuh itu beliau duduk tasyahud akhir dan lalu salam. Setelah selesai
kemudian beliau shalat lagi dua rakaat sambil duduk. Hadits ini juga
menunjukkan bahwa shalat witir (yang jumlah rakaatnya gasal) itu tidak
harus dilakukan pada akhir dari keseluruhan shalat lail, yang penting jumlah
keseluruhan rakaat shalat lail itu gasal.
Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dari Siti 'Atyah dalam Sunan
Abu Dawud Juz 11 pada bab fi shalah al-lail. Hadits nomor 1342. Hadits ini
diriwayatkan pula oleh Imam an-Nasa'i dari Siti "Aisyah dalam Sunan an-
Nasa'i Juz 111 pada bab kaif al-witr bisab'in, dengan redaksi yang sedikit
berbeda, yaitu sebagai berikut:
5
$
\t N
١
\
ben
5
aEx
(:
3CK
N
N
7*\
2“\
1
“
a
hiro, 2 ريBm £45 AN حمنص0وموس
"ar > db perce
ALS Nolen) Sang By
Artinya: Maka setelah beliau berusia lanjut dankemah beliau shalat witir
tujuh rakaat, tidak duduk kecualipada rakaatyang ke enam kemudian bangkit dan
tidak salam, kemudian beliau shalat lagi (untuk) rakaatyang ke tujuh kemudian
salam. Kemudian beliau shalat lagi dua rakaat sambil duduk. (HR. An-Nasa'i dari
'Aisyah).
Siti "Aisyah menceritakan tentang shalat lail Nabi saw ia
mengatakan:
Ken ١ عسس A لسعسه IKI ول|“لوسرب
الله3GKep AGAN 2 تes
Ww AIS ISL) AAA (3 RI 2? SII وم
مده
عوه
شم
yS
gb
ap
يعوم
دي
Pd
$5
277 2764
Pa
رس
و
ره
7 ISA SEBاللهAG a4 ev
re
تسر
38
Garena
AA
وه
"Ig?
<
CIN
مسد
يلم
ودمو
RIS
hh
يسلم
سيلم)
سمعناشم
يصلى
1310
AOE Ker
LA
Artinya: Beliau shalat sembilan rakaat tidak duduk kecuali pada rakaat
Jang ke delapan, beliau berdzikir kepada Allah, memujinya dan berdoa kepada-Nya,
kemudian beliau bangkit dan tidak salam, kemudian berdiri shalat untuk rakaatyang
ke sembilan. Kemudian duduk beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan
berdoa kepada-Nya kemudian salam sehingga kami mendengar salam itu. Kemudian
setelah salam itu belian shalat lagi dua rakaat sambil duduk. Makajadilah shalat itu
sebelas rakaat. (HR. Muslim dari 'Aisyah).
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi saw shalat sembilan rakaat
sekaligus dengan sekali salam. Hanya saja pada rakaat yang ke delapan
sebelum memasuki rakaat yang ke sembilan Nabi saw duduk terlebih
dahulu sambil berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-
Nya, setelah itu barulah berdiri lagi untuk rakaat yang kesembilan. Pada
rakaat yang ke sembilan ini sebelum salam Nabi saw duduk sambil berdzikir
kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa kepada-Nya, lalu di akhiri dengan
salam. Setelah salam lalu Nabi melakukan shalat lagi dua rakaat sambil
duduk. Dengan demikian jumlah keseluruhan menjadi sebelas rakaat.
Berdasarkan Hadits ini, shalat witir dapat dilakukan sebanyak sembilan
rakaat sekaligus dengan sekali salam, tetapi pada rakaat yang ke delapan
memakai duduk tasyahud awal. Shalat yang jumlah rakaatnya gasal itu juga
tidak harus dilakukan pada akhir shalat lail, tetapi bisa saja tidak di akhir,
seperti dijelaskan dalam Hadits ini, yang penting jumlah keseluruhan
rakaatnya adalah gasal.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Siti "Aisyah
dalam Shahih Muslim Juz 1 pada bab ajami' shalat al-lail, Hadits ini juga
diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Siti "Aisyah dalam Sunan Ibuu Majah Juz I
pada bab maja'afi al-witr bi-tsalatsin wal khamsin wa sab'in wa tis'in. An-Nasa'i
juga meriwayatkan Hadits ini dari Siti 'Aisyah dalam Sunan an-Nasa'iJuz 111
pada bab kaif al-witr bi sab'in.
Hadits yang maksudnya sama namun dengan redaksi berbeda
diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Siti 'Aisyah dalam Sunan Abi Dawud Juz I
pada bab shalah al-lail. Hadits nomor 1342 yang a sebagai berikut:
SESGO SAG 90(jg كان
YngلوحSASSE IE
22,
OVS
, \ 4 \ ١ GA 7 ? 7 ١ ,
) دواروب١هأور كدIA حجر
Artinya: Beliau shalat delapan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat
Jang ke delapan, kemudian beliau berdiri melanjutkan shalat dengan satu rakaatyang
lain, belian tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke delapan dan ke sembilan.
Kemudian beliau shalat lagi dua rakaat sambil duduk. Makajadilah shalat itu sebelas
rakaat.” (HR. Abu Dawud dan 'Aisyah).
Berdasarkan Hadits-Hadits di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa di samping cara-cara yang biasa diamalkan oleh Muhammadiyah,
masih ada lagi cara-cara shalat lail yang lain, yaitu sebagai berikut:
- Delapan rakaat ditambah dua rakaat ditambah satu rakaat
(8+2+1=11 rakaat). - Empat rakaat ditambah tiga rakaat (4+3=7 rakaat).
- Enam rakaat ditambah tiga rakaat (6+3= 9 rakaat).
- Delapan rakaat ditambah tiga rakaat (8+3=11 rakaat).
- Delapan rakaat ditambah lima rakaat (8+5=13 rakaat).
- Delapan rakaat ditambah satu ditambah dua rakaat (8+1+2=11
rakaat). - Tujuh rakaat ditambah dua rakaat (7+2= 9 rakaat).
- Sembilan rakaat ditambah dua rakaat (9+2= 11 rakaat).
Demikianlah mudahnya mengerjakan shalat lail itu sehingga tidak
begitu terikat oleh jumlah rakaat dan tidak pula begitu terikat dengan hanya
satu atau dua cara, asal jumlah keseluruhan rakaatnya gasal. Meskipun
demikian, untuk menghindari adanya kesalah-pahaman atau kebingungan
atau bahkan keresahan di kalangan jamaah, maka hendaknya melakukan
shalat lail dengan cara-cara yang bisa diamalkan oleh Muhammadiyah pada
umumnya, yaitu dua-dua-dua-dua-tiga, atau empat-empat tiga. - Shalat Iftitah Pada Shalat Malam
Tanya: Mohon penjelasan tentang “Iftitah Shalat Witir”
. Apakah itu betul-betul keputusan Majlis Tarjih atau bukan? Kalau
memang betul kami mohon diberitahu Haditsnya yang dijadikan sebagai
dasar. Selanjutnya, kami mohon penjelasan apakah shalat iftitah itu harus
dilakukan secara berjamaah atau secara munfarid (sendiri-sendiri), apakah
harus jahr ataukah sir? (Pengurus Mushalla Rangkah 55, Surabaya).
Jawab: Sebelum menjawab langsung pertanyaan saudara, terlebih
dahulu perlu ditegaskan mengenai istilah “Shalat Witir” yang saudara
sebutkan dalam pertanyaan saudara di atas. Apakah saudara maksudkan
adalah Shalat Lail (shalat malam), sebab shalat lail sering di sebut juga
dengan shalat Witir atau Shalat Tahajjud, atau kalau dilakukan pada malam
bulan Ramadhan disebut juga dengan istilah Shalat Tarawih, ataukah shalat
dengan jumlah rakaat ganjil setelah selesai Shalat Tarawih. Kalau dipahami
dari penjelasan saudara dalam pertanyaan saudara tersebut, nampaknya
yang dimaksud oleh saudara adalah Shalat iftitah dua rakaat yang dilakukan
setelah Shalat Tarawih menjelang Shalat Witir. Kalau yang terakhir ini
dimaksudkan, maka sepanjang pengetahuan kami Majlis Tarjih belum
pernah memutuskannya. Yang telah diputuskan oleh Majlis Tarjih adalah
tentang shalat-shalat thatawwu' termasuk di dalamnya: Shalat lail dengan
berdasarkan pada Hadits-Hadits Nabi saw yang di dalamnya menyinggung juga
tentang shalat iftitah ini. Menurut Hadits-Hadits tersebut. Shalat Iftitah ini
dilakukan sebelum shalat malam (sebelum Shalat Tarawih). Untuk lebih jelasnya
akan kami kemukakan apa yang dituntunkan oleh Putusan Tarjih sebagaimana
termuat dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Perlu diketahui bahwa
masalah shalat iftitah dalam shalat lail ini pernah dimuat dalam buku Tanya
Jawab Agama Jilid I halaman 106 dan 107 meskipun sangat singkat.
Dalam buku Himpunan Putusan Tarjih cetakan ke-3 dijelaskan
bahwa dalam shalat-shalat Tathawwu' (Sunnat) yang berdasarkan tuntunan
dari Nabi saw yang berdasarkan Hadits-Hadits yang shahih ada sebelas
macam yaitu: (1) Shalat sesudah wudhu', (2) Shalat antara adzan dan
igamah, (3) Shalat Tahiyyat (hormat ketika masuk) masjid, (4) Shalat
Rawatib, (5) Shalat malam (Shalat lail), (6) Shalat Dzuha, (7) Shalat safar
(Shalat ketika akan bepergian dan pulang dari bepergian), (8) Shalat
Istikharah (mohon dipilihkan), (9) Shalat dua Hari Raya (Fitri dan Adha),
(10) Shalat Gerhana (gerhana matahari ataupun bulan), dan (11) Shalat
Istiga' (mohon hujan). (lihat halaman 318).
Dalam uraian tersebut di atas tidak ada penjelasan mengenai Shalat
Iftitah. Mengenai Shalat Iftitah itu dipahami dari dalil-dalil (Hadits-Hadits)
yang menerangkan tentang shalat lail sebagaimana tercantum dalam buku
HPT. Untuk itu, sebelum langsung menguraikan Shalat Iftitah ada baiknya
menguraikan terlebih dahulu mengenai Shalat malam (Shalat Lail) tersebut.
Untuk lebih jelasnya kami nukilkan mengenai hal ini dari HPT (lihat
halaman 340-350). Dalam HPT itu dituntunkan sebagai berikut:
- Hendaklah engkau membiasakan shalat malam sesudah shalat
Isya' hingga menjelang terbit fajar, baik di dalam maupun di luar bulan
Ramadhan. Tuntunan ini didasarkan pada Hadits-Hadits Nabi saw:
PLN
a7
Lee eg
2
) PIL
CAG
BN TEE: AG AsIG
10 SN7% 376% 4 Nt
Sais 5AKIN HO SN
Artinya: Rasulullah saw bersabda:My janganlah engkaujadiseperti Fulan, ia pernah sering shalat malam tetapi lalu tidak melakukannya lagi.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim dari 'Amr bin 'Ash).
SeeKG Iaكان
ILO
dieas
ENE
CA
Ze 2 7 دواوراوسس 32
SIA
الى
الجر
Artinya: Rasulullah saw mengerjakan shalat pada waktu antara selesai
Shalat Isya'yaitu orang menamakan al-'atamah sampai terbitfajar, sebelas rakaat.
(HR. al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah).
2) Engkau kerjakan sebelas rakaat, dua rakaat-dua rakaat, atau
empat rakaat-empat rakaat dengan membaca Fatihah dan surat dari al-
Qur'an pada tiap-tiap rakaat, kemudian engkau akhiri tiga rakaat dengan
membaca surat al-A'la sesudah al-Fatihah pada rakaat pertama, surat al-
Kafirun pada rakaat kedua dan surat al-Ikhlas pada rakaat ketiga. Kemudian
setelah selesai bacalah sambil duduk Subhanal Malikil Ouddus (Maha Suci
Tuhan Yang Merajai dan Yang Maha Suci) tiga kali, dengan suara yang
nyaring dan panjang pada bacaanmu yang ketiga. Kemudian engkau
teruskan membaca Rabbil Malaaikai Warruh (Tuhan Yang Menguasai
Malaikat dan Jibril). Tuntunan ini didasarkan pada Hadits yang
meee oleh 'Aisyah di atas dan Hadits-Hadits Nabi saw, berikut ini:
SAN
NN
EK
Ze
NBA
GKI د
ا
97.
ve
At
5
AN
Ea
IN
Kong
3 ERA
2-6IRIS IDLE PI IL Wea O05
ag
يدون
ثم
بص
Aa Mena ينكلك
a
ME
ont
ene
tome
J
222555
( الئارىوسسم da, )
Artinya: Dari 'Aisyah ra ia berkata: “Pada bulan Ramadhan maupun di
bulan lainnya Rasulullah saw, tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat, ia
kerjakan empat rakaat, jangan engkau tanyakan bagus dan lamanya: kemudian ia
kerjakan lagi empat rakaat, jangan engkau tanyakan bagus dan lamanya. Lalu ia
kerjakan shalat tiga rakaat”. (HR. al-Bukhari dari Muslim dari 'Aisyah).
rarAA Sg xk th الوصالله Po لسوك
“7
وى*
سام
(729%
١
Ape?
pera
Kn AN (pie
(
روا
لايق
لد
لا
زور (
Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Shalat malam itu dua rakaat, Jika
engkau khawatir terkejar Shubuh, hendaklah engkau kerjakan witir satu rakaat saja.
(HR. Jamaah dari Ibnu 'Umar).
Siti 'Aisyah ra dari Rasulullah saw menjelaskan tentang shalat
wee Rasulullah saw sebagai berikut:
3/79 ~ 27 Ad SISA es “42
wt : Carer IA ASI bee
4 Maka beliau shalat delapan rakaat. Dalam rakaat-rakaat itu iamembaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan surat dari al-Our'an. (AR. Abu Dawud
dari 'Aisyah).
2 BISA| اللهلَهعلهوْسَلد asNana
IG “4 2 وه2سر eas 247) (4َمَرَيْك 2
أحد
Ah
هوا
A
05
KASN
اسم
II
مر 1?
ofS?
ete.
yo
اعد
وتاتمرا
تعد
MUSH
J
Les
akir iD age PLP NALAا4,
we, Vy
(BA SLA aloe’ cle)
Artinya: Rasulullah saw, pada shalat witir membaca “Sabbihisma Rabbikal
A'la” (pada rakaatpertama). Oul Yaa Ayyuhal Kafirun” (pada rakaat kedua), dan
“Oul Huwallahu Ahad” (pada rakaat ketiga). Lalujika ia telah membaca salam, lalu
ia membaca “Subhanal MalikilQuddus” (Maha Suci Tuhan Yang Merajai dan Yang
Maha Suci) tiga kali dengan memanjangkan dan mengeraskan suaranya pada yang
ketiga kalinya. Dan mengucapkan “Rabbil Malaikati Waruh” (Tuhan Yang
Menguasai Malaikat dan Jibril). (AR. Abu Dawud, Nasa'i dan ad Daruguthniy
dari Umar bin Ka'ab):
Kerjakanlah sebelum itu (sebelum Shalat Malam sebelas rakaat itu),
dua rakaat singkat-singkat. Pada rakaat pertama sesudah takbiratul ihram
engkau membaca Subhanal Dzil Mulki Wal Malakuti Wal 'Izzati WalJabarut
Wal 'Adhamah (Maha Suci Tuhan Yang Memiliki alam semesta, Yang Maha
Besar dan Yang Maha Agung), lalu Fatihah, dan pada rakaat kedua engkau
baca Fatihah saja. Tuntunan ini didasarkan pada Hadits-Hadits Nabi saw
sebagai berikut:
Pa
GA Ac oie) 3122:
Ge
AGE
IA
Mangan
2506
22
4
NA
Ahh
SEES,2 اللمشتصلا
Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang diantara kamu Shalat di
waktu malam, maka hendaklah ia mengawali (membuka mendahului) shalatnya itu
dengan shalat dua rakaat singkat-singkat”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
HEREAe DIN 5915151
a
Artinya: Rasulullah saw apabila telah bangun di waktu malam untuk
shalat, (shalat malam) maka ia memulai shalat itu dengan shalat dua rakaatpendek-
pendek. (HR. Muslim dari a
El.
Kapas
LE PA?
TKS
PA
IA
EJ tl
رضت
Ke NONA A عر "EAN AC Pa gle
جفيفتال I 7 ووس LA (aus all
PA
AAN
ENYA
MANIA
(ashes)
GORE
PIA
PELAN
YES
Artinya: Dari Ibnu 'Abbas ra ia berkata (dalam kisahnya ketika ia
bermalam di rumah Maimunah ra): “Nabi saw selalu shalat dua rakaat pendek-
pendek, membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dalam tiap rakaatnya kemudian
membaca salam, lalu shalat sebelas rakaat dengan witirnya kemudian tidur”. (HR.
Abu Dawud dari Ibnu'Abbas).
“ZL
77
.
7,2
PUN
EN
SEA
EN
oe
annaMEA sea As
Seis alsSSes
PP
Lea
1
Ca OS
ag
7
|
ماد
Pr one- 0
هماNAYaaGang, 4)an
a”
210061
ا
HS II
A2
تينفبلهما ngalam hortS3GIدون
CAK
١
tac?
Ta
4
ع58 BEEN Ae حمودص
Artinya: Dari Zaid bin Khalid al-Juhaniy, ia berkata: “Benar-benar aku
hendak mengamati shalat Rasulullah saw malam ini, lalu aku melihat dia shalat
rakaat singkat-singkat, kemudian dua rakaat panjang, kemudian ia shalat dua
rakaatyang kurangpanjang dari yang sebelumnya, lalu shalat dua rakaatyang kurang
lagipanjangnya dari yang sebelumnya. Kemudian ia shalat lagi dua rakaatyang kurang
lagi panjangnya dariyang sebelumnya, lalu shalat lagi dua rakaatyang kurang lagi
panjangnya dariyang sebelumnya kemudian ia shalat witir. Makajadilah seluruhnya
tiga belas rakaat. (HR. Muslim dari Zaid bin Khalid).
Dari empat Hadits yang dikutip terakhir di atas itu dapat dipahami
bahwa Rasulullah saw sebelum menunaikan shalat malam sebelas rakaat,
terlebih dahulu beliau menunaikan shalat dua rakaat pendek-pendek yang
mendahului shalat malam inilah yang kemudian di kenal dengan Shalat
Iftitah.
Persoalan berikutnya adalah apakah Shalat Iftitah itu harus
dilakukan secara berjamaah atau secara munfarid? Untuk menjawab
persoalan ini hendaknyalah memperhatikan Hadits-Hadits Nabi saw, yang
telah dikutip di atas. Hadits-Hadits Nabi tersebut menunjukkan bahwa
Shalat Iftitah dilakukan secara munfarid (sendiri-sendiri) namun demikian
tidaklah berarti bahwa Shalat Iftitah itu harus dilakukan secara munfarid,
sebab ada Hadits-Hadits lain yang memberikan petunjuk bahwa Shalat
Iftitah itu dilakukan secara berjamaah. Hadits-Hadits tersebut adalah
sebagai berikut:
AF
Sab
BS:
SORA
Ge
ME
Sa BAGLN Jail NS
AP
7
Sa للهعليهو 23AILS ahMUNAS aLP in
pages
as
he COYLE
bE
oA,
00 arad7سارسا304iaته
سسوب90093AnA RELOS
gus PoresArtinya: Dari Ibnu 'Abbas ra ia berkata: “Aku berdiri dan melakukan
seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw, kemudian aku pergi (menghampiri Nabi
saw) dan berdiri disamping Rasulullah saw tetapi beliau lalu meletakkan tangan
kanannya pada kepala saya dan dipegangnya telinga kanan saya dan dililitnya, lalu ia
shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat lagi: kemudian dua rakaat lagi, kemudian
dua rakaat lagi, kemudian dua rakaat lagi lalu shalat witir. Kemudian ia tiduran
menyamping sehingga datang Bilal menyerukan adzan, maka bangunlah ia dan Shalat
dua rakaat singkat-singkat, kemudian pergi Shalat Shubuh”. (HR. Muslim dari
Ibnu Abbas).
4<
ساس
Ree
KAA
Bes
SA
SON
207
EB
EAS
ENG.
SAIN
org
DAA
AN
(gz
IE
aa
AA
Pen
Artinya: Dari Khudzaifah bin al-Yaman ia mengatakan: “Aku pernah
mendatangi Nabi sawpada suatu malam. Ia mengambil wudhu kemudian Shalat, lalu
aku hampiri di sebelah kirinya, lalu aku ditempatkan di sebelah kanannya. Ia
membaca “Subhana Dgil Mulki Wal Malakuti Wal Iggati Wal Jabaruti Wal
Kibriyai Wal' Adhamah. (HR. ath-Thabaraniy dari Khudzaifah).
Kedua Hadits terakhir ini mengisyaratkan bahwa shalat malam
termasuk shalat Iftitah itu boleh dilakukan secara berjamaah dan boleh
dilakukan secara sendiri-sendiri.
Apakah Shalat Iftitah itu harus dilakukan dengan suara nyaring
(Jahr) ataukah harus dengan tidak bersuara (Sirr)? Mengenai hal ini tidak
dijumpai keterangan baik dari al-Qur'an ataupun al-Hadits yang langsung
menyatakan apakah jahr atau sirr, namun kalau melihat Hadits yang
ditakhrijkan oleh at-Thabaraniy dari Khudzaifah bin al-Yaman yang
menyatakan bahwa Khudzaifah makmum kepada Nabi saw dan dapat
menangkap / mendengar dengan jelas bacaan Nabi saw ketika membaca
Subhana Dzil Mulki Wal Malakuti Wal Izzati Wal Kibriyai Wal 'Adhamah,
menjadi indikasi bahwa shalat Nabi saw itu dilakukan secara jahr. Dalam
pada itu, berdasarkan riwayat al-Bukhari dan Muslim dalam kitab af'a/ an-
Nabi, shalat malam Nabi saw kadang-kadang dilakukan secara sirr juga.
Dari uraian terakhir ini jelaslah bahwa Shalat Iftitah itu boleh
dilakukan secara jahr dan boleh juga secara sirr.
Untuk sekedar memudahkan ingatan, maka dari uraian yang
panjang tersebut di atas dapat diambil butir-butir penting berkaitan dengan
Shalat Iftitah, yaitu:
- Shalat Iftitah pada Shalat Malam itu masyru' atau dituntunkan
oleh Rasulullah saw. - Shalat Iftitah dilakukan sebelum Shalat Malam atau dengan
katalain mengawali shalat malam. - Shalat Iftitah dapat dilakukan secara berjamaah dan dapat pula
dilakukan secara sendiri-sendiri. - Shalat Iftitah yang dilakukan secara berjamaah dapat dilakukan
secara jahr (suara nyaring) dan dapat pula dilakukan secara sirr (tidak
bersuara). - Doa Sebelum Shalat Iftitah
Tanya: Ada sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabaranty
dari Khudzaifah bin al-Yaman yang menurut pendapat seseorang Hadits
tersebut mengatakan bahwa sebelum shalat iftitah dianjurkan untuk
membaca doa “Subhana dzi-mulk wal malakut wal-'izzah wal-jabarut wal-
kibriyai wal-adzamati”. Apakah yang demikian itu benar? Mohon penjelasan.
(Penanya tinggal di Klaten).
Jawab: Hadits yang saudara maksud barangkali Hadits yang
berbunyi:
257
اسح
ا
47
egev
مسر
ANA 3P:LDeniM ebaNsio
bes
oe
Cae?
2235
AOA,
C3,
(EB
AA
حوبت
ورت
2000
SB alise
)
(رواه
الطبراى
aa,
7
ar
Artinya: Dari Khudzaifah bin al-Yaman ia berkata: Pada suatu malam
saya datang kepada Nabi saw. Beliau mengambil wudhu lalu shalat, kemudian saya
berdiri menghampirinya dan berdiri di sebelah kirinya, lalu saya ditempatkannya di
sebelah kanannya. Lalu beliau membaca: “Subhana dzil-mulk wal-malakut wal-
igzah wal-jabarut wal-kibriyai wal-'adzamah”. (HR. Ath-Thabaraniy dari
Khudzaifah).
Mungkin ada orang yang mempunyai kesan bahwa Hadits tersebut
menganjurkan membaca doa “Subhana dzil-mulk wal-izzah wal-jabarut wal-
kibriyai wal-'adzmah” sebelum menunaikan shalat Iftitah. Dengan kata lain,
bahwa Hadits itu dipahami setelah Nabi saw berwudhu lalu berdiri untuk
menunaikan shalat iftitah. Sebelum menunaikan shalat iftitah itu lalu
datanglah Khudzaifah menghampiri Nabi saw dan berdiri di sebelah
kirinya. Melihat Khudzaifah berdiri di sebelah kirinya itu lalu beliau
memindahkan (menyuruh pindah kepada) Hudzaifah agar berdiri di
sebelah kanannya. Setelah Hudzaifah berdiri di sebelah kanannya lalu Nabi
saw berdoa dengan doa di atas. Setelah selesai barulah Nabi saw, shalat
iftitah. Dari kesan ini lalu disimpulkan bahwa sebelum shalat iftitah Nabi
saw berdoa dengan doa itu. Kesimpulan demikian tidak sejalan dengan
kesimpulan yang diambil oleh Muktamar Putusan Tarjih di Wiradesa,
sebagaimana dapat dilihat dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT)
cetakan ke-3 halaman 343. Berdasarkan Hadits tersebut Muktamar
menyimpulkan bahwa doa itu adalah doa iftitah. Dalam buku HPT itu
dikatakan: “Pada rakaat pertama sesudah takbiratul ihram, engkau
membaca Subhana dzil mulki wal malakut wal-'izzati wal-jabarut wal-
kibriya-I wal-adzamah ..., lalu fatihah”.
Hadits itu dipahami bahwa setelah Nabi saw berwudhu lalu berdiri
memulai menunaikan shalat iftitah dengan takbiratul ihram, lalu Hudzaifah
datang menghampirinya dan berdiri di sebelah kirinya. Kemudian Nabi saw,
(sambil shalat) menarik Hudzaifah ke sebelah kanannya, lalu beliau
membaca doa tersebut. Berdasarkan pemahaman yang demikian ini maka
doa tersebut bukanlah doa yang dianjurkan untuk diucapkan sebelum
memulai shalat Iftitah, tetapi justru doa itu adalah doa iftitah pada shalat
iftitah. Sampai sekarang ini kami masih memahami bahwa itu adalah doa
iftitah dalam shalatiftitah.
Wallahu a'lam.
4. Cara Melakukan Shalat Dzuha
Tanya: Bagaimana cara melakukan shalat Dzuha? Mohon
penjelasan dengan dalil-dalilnya. (Sa'ad Ali, Jl. Otto Iskandardinata, No. 82
Mangh, Jember,Jawa Timur).
Jawab: Melakukan shalat Dzuha termasuk yang pernah dilakukan
Nabi sehingga kita mendapat tuntunan untuk itu. Adapun caranya:
a. Waktu pelaksanaannya, ketika matahari telah meninggi di waktu
pagi, maksudnya bukan pada waktu matahari baru terbit, tetapi sudah
meninggi di atas ufug Timur.
Dalil yang menunjukkan pelaksanaan shalat Dzuha di waktu pagi di
kala matahari telah meninggi ialah, Hadits riwayat Muslim dari Ummu
Hanik.
979iسرم § 73LG1 2117 27
adeaul
Lan
SIN
BIE
ِب
أ
ANA
AN
MIL
og
2
PA
eg Eu
بس
110114
“7
Ake
RS
NU,
ن
بحدمااريمع
cs
) سه ole IGEARE46%we jae
Artinya: Dari Ummu Hanik putri Abu Thalib, ia mengabarkan bahwa
Rasulullah saw pada pembukaan kota Makkah datang, sesudah matahari meninggi
dan di bawakan kepadanya sehelai kain untuk di buat tabir baginya, lalu belian mandi
kemudian shalat delapan rakaat. (HR. Muslim).
b. Cara melaksanakan shalat Dzuha sebagaimana shalat sunat yang
lain, sebanyak dua rakaat, atau empat rakaat, delapan rakaat, dengan
melakukan salam tiap dua rakaat.
- Dalil boleh melakukan shalat Dzuha dua rakaat ialah Hadits
riwayat Muslim dari Abu Hurairah.
1
7 7
١
سم
DA
7
0
٠
007
“7
1
Jeng
قال
سر
d9
PAP
INA,
الله
do
le
ore
عن
إنى
44
as
7
SNS AE
ENG
)
(روله
سم
II
Artinya: Dari Abu Hurairah, ia berkata, telah memberi wasiat kepadaku
(maksudnya nasihat) Rasulullah saw tigaperkara, puasa tiap tiga hari tiap bulan, dua
rakaat dzuha dan tiga agar aku kerjakan shalat witir sebelum aku tidur. (HR.
Muslim).
2. Dalil kebolehan shalat Dzuha dengan empat rakaat ialah Hadits
riwayat Muslim dari Mu'adzah.
PIII
(CUD
LEE
LG
fark
ل
و
و
سولب“) SANS Able سالت dolan ys
daa) TELA LIES;
Artinya: Dari Mu'adzah, ia berkata kepada Aisyah ra: “Berapa rakaat
Rasulullah saw mengerjakan shalat dguha? “Berkata Aisyah: “Empat rakaat dan
ada kalanya menambah menurut yang beliau kehendaki.” (HR. Muslim).
3. Dalil yang menunjukkan bahwa shalat Dzuha delapan rakaat dan
setiap dua rakaat salam ialah riwayat Abu Dawud dari Ummu Hanik.
SALA
Sah
WIN
أن
رسو
Mal
Hala
anh
29
So
KE
)
Saleen
ع
وس
aie
te
sale
(رواه
أبوداود)
OS Sis
Artinya: Dari Ummu Hanik binti Abi Thalib, ia menerangkan bahwa
Rasulullah saw melalukan di waktu pembukaan kota Makkah delapan rakaat,
dengan melakukan salam setiap dua rakaat. (HR. Abu Dawud).

