putusan
Tanya Jawab Agama 3 Masalah Yang Ghaib
MASALAH YANG GHAIB
- Kekal dan Abadi di Surga
Tanya: Bagaimana kekal dan abadi seperti tersebut dalam surat al-
Bayyinah ayat 8 yang berbunyi Khaali Diena Abada, artinya kekal selama-
lamanya. Kalau diartikan kekal selama-lamanya apakah tidak bertentangan
dengan firman Allah Kullu Syaiin Haalikun yang artinya segala sesuatu akan
rusak kecuali Allah. Mohon penjelasan (Miftah A., MIs Riauperiangan,
Padangratu, Lampunt Tengah).
Jawab: Bukan hanya dalam surat al Bayyinah ayat 8 disebutkan
bahwa orang yang di surga akan kekal selama-lamanya dan orang yang di
neraka juga kekal selamanya. Hal ini dapat kita lihat antara lain disebutkan
pada ayat 57 dan 122 surat an-Nisa mengenai kekekalan di surga, dan ayat
169 surat an-Nisa serta ayat 65 surat al-Ahzaab mengenai kekekalan di
neraka. Banyak ayat-ayat yang menyebutkan kekekalan baik di neraka
maupun di surga itu, tetapi tidak ditambah dengan kata-kata Abadaa yang
artinya kekal abadi.
Dalam memahami ayat-ayat dan Hadits dalam rangka kita
memahami ajaran agama Islam, kita tidak dapat memahami dan
mengamalkannya hanya sepotong atau satu-ayat saja tanpa dilihat dan
disinkronkan dengan yang lain. Pemahaman yang seperti itu kita kenal
dengan sebutan konprehensip. Di kalangan ahli tafsir kita kenal adanya
agidah al Aayatu Tufassiru Ba'dluha Ba'dlan, yang artinya “ayat itu satu
dengan yang lain saling menafsiri”. Berdasarkan pemahaman yang
demikian, maka kita tidak cukup memahami ayat-ayat di atas tanpa melihat
pada ayat yang lain. Kalau kita melihat pada ayat 107 dan 108 surat Hud,
akan kita dapati kemutlakan kekekalan di surga maupun di neraka itu
dengan gayyid atau batasan. Untuk lebih jelasnya, kiranya baik
diketengahkan dua ayat yang muthlag dan dua ayat yang mugayyad.
Ayat-ayat yang mutlag:
a. Yang menerangkan keabadian orang yang masuk surga tersebut
dalam ayat 57 surat an-Nisa:
be SEBSSEAL LAIN ALNAGA
A
aaSie ta, “4 fa. AS aes
ردمطهرةون ae فيهابد GAN نه
ىو
Abs
Artinya: Dan orang-orangyang beriman dan mengerjakan amalan-amalan
Jang shalih, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surgayang di bawahnya
mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya. Mereka di dalamnya mempunyai
isteri-isteriyang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.
b. Ayat yang menerangkan kekekalan orang yang masuk neraka
ialah200168an ayat 169 surat an-Naa
4
a
15 245 1,1 445) ait val Ra Ga
WH ALAY 4 LEG,YL لخادPOCCLIGE oh عي
ee
SS
Sa
MEP
Gi7 Cee, 7
Artinya: Sesungguhnya orang-orangyang kafir dan melakukan kedzaliman,
Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan
jalan kepada mereka. Kecualijalan ke nerakajahanam, mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Danyang demikian itu mudah bagi Allah.
Mengenai ayat yang mugayyad, artinya keabadian orang yang
masuk surga dan orang yang masuk neraka, disebutkan dalam ayat 107
sampai 108 surat Hud:
47)
BK
Gra
2
IK
GE)
قح
يك
IN
GFE
APS SA
A2)
ليهم
ذيها
LN سوا
فى
Cyrille
1
&
7
3
5
“7
‘
ريك
إن
ريا
EU
ENG & 9
TN ar
CAS Yakaaaws “ “
4
SE EN IE NG Ve
i,
CS
Artinya: Adapun orang-orang yang celaka, maka tempatnya di dalam
neraka. Mereka di sana bernafas dengan merintih. Mereka kekal di dalamnya selama
ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain. Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apayang Dia kehendaki. Adapun orang-orang
Jang bahagia, maka tempatnya di surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit
dan bumi, kecualijika Tuhanmu menghendakiyang lain, sebagai karuniayang tiada
Putus-putusnya.
Orang-orang yang bahagia adalah kebalikan orang-orang yang
celaka. Di dalam ayat 123 surat Thaha, orang-orang yang mengikuti
petunjuk Allah, mereka tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Balasan
Allah kepada orang-orang ingkar, tidak mau menurut petunjuk Allah dan
menjadilah mereka orang orang kafir yang akan mendapat siksa Allah
dengan neraka dan kekal di dalamnya. Kekekalan yang ada pada ayat-ayat
yang lain, dapat dibatasi dengan batasan atau gayyid seperti yang ada pada
ayat 106-108 surat Hud di atas, yakni selama ada langit dan bumi atau Allah
menghendaki yang lain. Berarti bahwa keabadian di dalam neraka maupun
di surga menurut ayat itu tidak sama dengan keabadian Allah yang disebut
Bagaa. Keabadian neraka dan surga sesuai dengan kehendak Allah, dan
tidak bertentangan tentang keabadian di neraka dan surga itu dengan ayat
Kullu Syaiin Haalikun Illla Wajhah, yang artinya “segala sesuatu pasti binasa
kecuali Allah”, seperti Anda tanyakan di muka. Wallahu a'lam bishshawaab.
2. Isra' Mi'raj: Tujuh Lapis Langit
Tanya: Kami pernah membaca tulisan dan mendengar uraian yang
menjelaskan bahwa dalam peristiwa Isra' Mi'raj Nabi saw sebelum sampai
ke as-Sidrah al-Muntaha terlebih dahulu harus melewati tujuh langit. Apa
yang dimaksud dengan langit dan tujuh langit itu? Dalam peristiwa Isra'
Mi'raj itu Nabi saw bertemu dengan nabi-nabi lain yang sudah meninggal
dunia. Apakah pada saat itu nabi-nabi itu dihidupkan kembali? Dalam
peristiwa Isra' Mi'raj itu juga Nabi saw mendapat perintah dari Allah SWT
yang berupa ibadah shalat yang semula sebanyak 50 kali kemudian terjadi
tawar-menawar, sehingga menjadi 5 kali dalam sehari semalam. Mohon
penjelasan! (1. Supariadi. Len. “SM” No. 8521. Janapria, Lombok Tengah, NTB,
2. Bardan K., SMA Muhammadiyah Sindanglangit, Cirebon).
Jawab: Mengenai peristiwa Isra' Mi'raj Nabi saw, khususnya
berkaitan dengan persoalan yang Saudara tanyakan, dijelaskan dalam
banyak Hadits dan terdapat baik dalam Shahih al-Bukhari maupun dalam
Shahih Muslim. Di antara Hadits-Hadits tersebut dalam Hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas ibn Malik. Mengingat Hadits itu
sangat panjang, maka di sini hanya dinukil sebagiannya saja.
“a,
7
KN(PaOR ALAN PANetaa
Fans 391” 7 555, 5 KEG NE 5 سرم2سم A71
1MNES JEG eI A 2PAP
dL NLP foلسلسر
SU
SEB sR
2121011
ره
Ka
6 HADES555 bs EN ca Saab
ONE NAN eaSINGS
2071 0 0 ater ana “12 Cr 2?
Qed least ES: LA
AeJETragaPLAT NAN AL
GI
BASS
LEANNA
IS
IIS
AWALAN
GS ASIN
EdC5625 Ur KP 4 07
Ju حبودع eae ع KA
3
”
ANE
Kan
Iie
7
ELIA
NN
EN
Ae
A
3
:
a
sea
,
EL
ANA
GI
C7
An
Aiea)
SN
ae
2
EGA
Sa IBIY
A
3 “, امو CASES % 7 fod
A3 LANMN BUSالGat 38
at
re
LC.
ata"!
1
vie
tip
و “rr
سر
Ta
Bat مالس iBees fedeces
ae
ded
2
NASI
27490
2.
212
5
IA
BU
eye
SEN
LE Ker
ga
“ah, A LOGS I, سمقو343(ا
TAS BSE SIS
PK
La
ed
we
few.
wt
eh
ie
Nees
Lp
As
AN
TEA
Dang
KTA YEN
II
IS KAN
GisAN yaaasb bests nie
Ace
Baye AAAOA NOAA
ane
31
Pe
TA
KURIR
4
YA
3
wit%
sents
sc
4
سر laهبرإلىGT laM ...dloc harlaS
? AUS. a ote AN 7 OS “MA
SIAPA
صَلاة
كل
يو
Ka
Ie
4A
070
Bae
abe
LK
MA
KIA
صل
الله
عليه
9
IV
RO
LA
قلمت
به
47
4635
3s
LAS
SIN
PENIS
LEE
“er
ap
gow
ae
a
5-5
ad
pee
SEN
EN LN
FNC
SF
EB
Kesan
LI
CAS
Sea
46623
an
Sider)
Ren
aa
eeemesPn Pa (?
cs
AS
TA
وكا
يكبلا 1
atesAAA
IG
oy
Pa
PA 09
0
أ ented
Artinya: Kemudian kami dibawa naik ke langit, Jibril segera minta
dibukakan dan ditanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Saya Jibril.” Ditanya lagi:
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad.” “Telah diangkat menjadi
Rasulkah dia?” “Benar, ia telah diangkat menjadi Rasul,”jawab Jibril. Setelah itu
barulah dibukakan kepada kami: pada saat itu saya berjumpa dengan Nabi Adam,
dan diterimanya dengan gembira dan saya didoakannya dengan kebaikan.
Setelah itu kami dibawa naik ke langityang ke dua; Jibril segera meminta
dibukakan dan ditanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Saya Jibril”. Ditanya lagi:
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad”. “Telah diangkat menjadi
Rasulkah dia?” “Benar, ia telah diangkat menjadi Rasul “Jawab Jibril, Setelah itu
barulah dibukakan kepada kami, pada saat itu saya berjumpa dengan Nabi 'Isa ibn
Maryam dan Nabi Yahya ibn Zakariya, dan diterima mereka dengan gembira dan
saya didoakan mereka dengan kebaikan.
Setelah itu kami dibawa naik ke langit yang ketiga, Jibril segera minta
dibukakan dan ditanya: “Siapa engkau? Ia menjawab: “Saya Jibril”. Ditanya lagi:
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad.” “Telah diangkat menjadi
Rasulkah dia?” “Benar, ia telah diangkat menjadi Rasul,”jawab Jibril. Setelah itu
barulah dibukakan kepada kami: pada saat itu saya berjumpa dengan Nabi Yusuf,
dan diterimanya dengan gembira dan saya didoakannya dengan kebaikan.
Setelah itu kami dibawa naik ke langityang ke empat, Jibril segera minta
dibukakan dan ditanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Saya Jibril,” Ditanya lagi:
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad.” Telah diangkat menjadi
Rasulkah dia?” “Benar, ia telah diangkat menjadi Rasul, “jawab Jibril, Setelah itu
barulah dibukakan kepada kami:pada saat itu saya berjumpa dengan Nabi Idris, dan
diterimanya dengan gembira dan saya didoakannya dengan kebaikan.
Setelah itu kami dibawa naik ke langit yang ke lima; Jibril segera minta
dibukakan dan ditanya: “Siapa engkau?” la menjawab: “Saya Jibril.” Ditanya lagi:
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad.” “Telah diangkat menjadi
Rasulkah dia?” “Benar, ia telah diangkat menjadi Rasul, “jawab Jibril. Setelah itu
barulah dibukakan kepada kami: pada saat itu saya berjumpa dengan Nabi Harun,
dan diterimanya dengan gembira dan saya didoakannya dengan kebaikan.
Setelah itu kami dibawa naik ke langityang ke enamy Jibril segera minta
dibukakan dan ditanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Saya Jibril,” Ditanya lagi:
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad.” “Telah diangkat menjadi
Rasulkah dia?” “Benar, ia telah diangkat menjadi Rasul,”jawab Jibril. Setelah itu
barulah dibukakan kepada kami: pada saat itu saya berjumpa dengan Nabi Musa,
dan diterimanya dengan gembira dan saya didoakannya dengan kebaikan.
Setelah itu kami dibawa naik ke langityang ke tujuh: Jibril segera minta
dibukakan dan ditanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Saya Jibril”. Ditanya lagi:
“Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammd’. “Telah diangkat menjadi
Rasulkah dia?” “Benar ia telah diangkat menjadi Rasul, “jawab Jibril”. Setelah itu
barulah dibukakan kepada kami, pada saat itu juga saya berjumpa dengan Nabi
Ibrahim menyandarkan punggungnya pada Bait al-Makmur di mana setiap harinya
masuk. kedalamnya tujub-puluh ribu malaikat, masing-masing tidak kembali lagi
untuk selama-lamanya. Kemudian saya dengan Jibrilpergi ke as Sidrah al-Muntaha
... Kemudian Allah mewahyukan kepadaku apa yang telah Dia wahyukan, maka
Allah menfardhukan kepadaku lima-puluh kali shalat sebari-semalam. Aku turun
kepada Nabi Musa as, maka bertanya Musa: “Apayang telah difardhukan Tuhamu
kepada umatmu?” Aku berkata: “Lima puluh kali shalat” Musa berkata:
“Kembalilah kepada Tuhanmu mohon keringanan kepada-Nya, karena umatmu
tidak akan kuasa mengerjakanyang demikian. Sesungguhnya telah dicobakan kepada
Bani Israil dan aku kabarkan kepada mereka”.
Maka aku kembali menghadap Tuhan dan aku berkata: “Ya, Tuhan,
ringankanlah untuk umatku”. Maka Allah mengurangi lima dan aku kembali
kepada Musa, dan aku berkata kepadanya: “Allah telah mengurangi menjadi lima”.
Musa berkata: “Ummatmu tidak akan kuat mengerjakan yang demikian, maka
kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan”. Nabi saw bersabda: “Aku
tidak habis-habisnya kembali kepada Tuhanku dan kepada Musa, sampai Tuhanku
berfirman: “Hai Muhammad, sungguh shalat lima kali sehari-semalam, bagi setiap
Shalat (bahalanya) sepuluh,jadi itu (menyamai) lima-puluh kali shalat”.
Berdasarkan Hadits di atas, jelaslah bahwa sebelum Nabi
Muhammad saw sampai ke as-Sidrah al-Muntaha, beliau melewati tujuh
langit terlebih dahulu dan pada masing-masing langit itu bertemu dengan
Nabi-Nabi. Pada langit pertama bertemu dengan Nabi Adam, pada langit
ke dua bertemu dengan Nabi 'Isa dan Nabi Yahya, pada langit ke tiga
bertemu dengan Nabi Yusuf pada langit ke empat bertemu dengan Nabi
Idris, pada langit ke lima bertemu dengan Nabi Harun, pada langit ke enam
bertemu dengan Nabi Musa dan pada langit ke tujuh bertemu dengan Nabi
Ibrahim. Sesampainya ke as-Sidrah al-Muhtaha. Nabi saw mendapat
perintah dari Allah SWT berupa shalat lima-puluh kali sehari-semalam.
Namun kemudian, atas usul Nabi Musa as, Nabi saw memohon keringanan
kepada Allah SWT dan jadilah kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari-
semalam dengan nilai (pahala) yang sama dengan lima-puluh kali sehari-
semalam. Persoalan berikutnya adalah, apakah yang dimaksud dengan
langit (as-sama') dan tujuh langititu?
Di dalam al-Qur'an terdapat perkataan as-sama' sebanyak 120 kali,
dan as-samawa sebanyak 187 kali. Di antaranya 6 kali dirangkaikan dengan
perkataan sab'a atau sab'i yang berarti tujuh. Kemudian satu kali dipakai
perkataan taraiga (al-Mukminun, 23:17), satu kali dipakai perkataan syidada
(an-Naba', 78:12). Ke dua perkataan terakhir ini dirangkaikan dengan
perkataan sab'a. Menurut sebagian mufassir, taraiga dan syidada itu sama
artinya dengan as-samawat.
Dalam bahasa Indonesia baik kata as-sama' (dalam bentuk tunggal)
maupun as-samawat (dalam bentuk jamak) diartikan dengan “langit”.
Dalam al-Qur'an, kata as-sama' dan as-samawat mempunyai berbagai macam
arti, antara lain:
- As-sama' berarti lapisan atmosfir dipermukaan bumi kita yang
mengandung macam-macam gas, oksigen, nitrogen, dan mengandung uap
air yang berasal dari air di permukaan bumi, dari laut, sungai dan lain-lain.
Makna ini terdapat dalam surah al-Bagarah 9 ya22:
KA
Senen
NT
Artinya: ... dan Dia (Allah) menurunkan air hujan dan langit, dan dengan
air itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rizki bagi kamu
Dalam surah al-Nahl (16) ayat 79:
ألم
PENAHAN
.
السّماء...
Artinya: Tiadalah mereka melihat burung-burung yang dimudahkan
terbang di ruang angkasa? (di langit) ... - As-sama' berarti ruang angkasa atau universum yang didalamnya
terdapat bintang-bintang, planet-planet, galaksi-galaksi, yakni kelompok
bintang-bintang. Bumi kita adalah planet dalam keluarga Tata-Surya yang
termasuk di dalam galaksi Kabut Susu atau Milkway. Dalam al-Qur'an
ruang angkasa ini disebut sebagai samaad-dunya. Dalam surah al-Mulk (67)
ayat 5 Allah berfirman:
ves
ge:CCIE
Artinya: Dan sungguh Kami telah menghiasi langit dunia (yang dekat)
denganpelita-pelita (bintang-bintang) ...
Dalam surah as-Saffat (37) ayat 6:
اناسنالتمGT
Artinya: Sesungguhnya Kami telah hiasi langit dunia dengan hiasan bintang-
bintang.
3. As-sama' berarti segala ciptaan Allah selain bumi. Dalamsurah al-
Anbiya' (21) ayat 30 Allah berfirman:
MPN
S
sd.
Artinya: ...Bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah
berpadu satu, lalu Kamipisahkan keduanya ...
Dalam surah Ali Imran (3) ayat 190:
Yer vg
os
NY
BIN
SI
yo
IS
AN
ob
7 AA
SAYA
Artinya: Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi dalam pergantian
malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang menggunakan
Jikiran.
Dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat mengenai tujuh lapis langit
dengan perkataan: sab'a samawat, as-samawat as-sab'u, sab'an, syidada. Misalnya
dalam surat al-Mulk (67) ayat 3:
4
اا
لا
Ara
9
oes
Bebo
الى
اق
سبح
Artinya: (Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis ...
Kalau ditinjau dari segi Astronomi, alam semesta atau universum,
menurut ilmu astronomi, terdiri dari ruangan dengan benda-benda langit
dan tenaga radiasi. Benda-benda langit ini berupa bintang-bintang, planet-
planet dan kelompok bintang-bintang yang disebut galaksi. Adapun bumi
kita adalah salah satu planet yang mengelilingi matahari. Matahari dikelilingi
oleh planet-planet, yang diketemukan hingga sekarang berjumlah 9 planet,
yaitu: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus
dan Pluto. Kelompok Matahari dan 9 planet itu disebut sistem Tata-Surya.
Matahari adalah sebuah bintang di antara jutaan bintang. Kelompok
bintang-bintang itu dinamai galaksi. Dalam alam semesta terdapat jutaan
galaksi. Sistem Tata-Surya matahari di dalamnya terdapat bumi kita,
termasuk dalam galaksi Kabut Susu atau Milkway atau galaksi Bima Sakti.
Galaksi yang terdekat dengan galaksi kita ini adalah galaksi Andromeda.
Menurut penelitian ilmu astronomi terakhir, selain universum kita
ini, kemungkinan masih terdapat alam lain, yang berdimensi lebih dari 4.
Universum kita berdimensi 4, yakni dimensi ruang dan waktu. Alam lain
dibalik alam semesta kita mungkin memiliki hukum-hukum alam yang sama
dengan hukum-hukum alam yang berlaku di alam semesta kita, tetapi
mungkin juga berbeda.
Mengenai tujuh lapis langit yang tersebut dalam al-Qur'an ataupun
dalam Hadits Nabi saw sampai sekarang ini astronomi dan astro-fisika
adalah ilmu pengetahuan yang berdasarkan pengamatan dan percobaan
dengan alat-alat yang serba terbatas.
Dalam kisah Mi'raj Nabi Muhammad saw dijelaskan oleh Hadits-
Hadits, bahwa bersama-sama dengan malaikat Jibril as. Nabi Muhammad
saw memasuki langit pertama, ke dua, sampai langit ke tujuh dan akhirnya
mencapai as-Sidrah al-Muntaha. Di langit-langit itu beliau menjumpai
Nabi-nabi.
Beberapa ulama berusaha mencari keterangan tentang tujuh langit
itu. Apakah itu planet-planet yang mengelilingi matahari kita? Apakah itu di
luar sistem Tata-Surya kita, yakni bintang lain yang masih termasuk galaksi
Kabut Susu? Sebab mungkin bintang-bintang lain selain matahari kita itu
juga dikelilingi oleh planet-planet. Apakah Mi'raj Nabi Muhammad saw itu
terjadi di galaksi lain di luar galaksi kita Kabu Susu ini? Misalnya di galaksi
Andromeda, yang merupakan galaksi yang terdekat dengan galaksi Kabut
Susu kita? Atau bahkan di luar alam semesta kita yang berdimensi empat
ini? Sebab, menurut penelitian astro-fisika moderen di balik alam semesta
ini masih terdapat alam lain yang berdimensi sampai 11. Ataukah menurut
spekulasi paranormal Mi'raj Nabi Muhammad saw itu terjadi di alam ghaib,
apa itu dinamai alam malakut, alam jabarut, yang katanya di situlah
bersemayam arwah para Nabi?
Mengingat keterbatasan ilmu pengetahuan yang mungkin dapat
dicapai oleh manusia dengan penelitian, percobaan dan pemikiran manusia
yang serba terbatas, maka sampai saat ini tidak ada jawaban ilmu
pengetahuan yang memuaskan.
Dalam kisah Mi'raj, diceritakan pula bahwa Nabi Muhammad saw
menjumpai Nabi-Nabi yang terdahulu yang sudah meninggal.
Persoalannya adalah bagaimana proses mekanisme perjumpaan itu, karena
Nabi-Nabi itu telah lama meninggal. Apakah Nabi-Nabi itu dihidupkan
kembali? Apakah berwujud arwah? Apakah Nabi Muhammad saw dalam
perjumpaan itu berwujud jasmani dan ruhani ataukah ruhani saja?
Mengenai hal tersebut terdapat berbagai macam alternatif
menurut pemikiran manusia yang kapasitas pemikirannya sangat terbatas:
- Nabi Muhammad saw dalam perjumpaan itu berwujud jasmani
dan ruhani, sedangkan Nabi-Nabi berwujud ruhani. Hal ini tidak mustahil
bagi Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. - Nabi Muhammad saw berwujud ruhani saja. Sebab hal ini lebih
mudah dapat diterima oleh pemikiran manusia yang sederhana. - Nabi Muhammad saw berwujud ruhani dan jasmani dan Nabi-
Nabi dihidupkan kembali dengan wujud jasmani dan ruhani. Hal ini kurang
masuk akal, sebab dihidupkannya manusia kembali adalah pada yaum al-
ba'as, yakni hari kiamat.
Alternatif pertama itu kiranya yang paling relevan. Bagaimanapun
juga jawaban yang paling tepat dalam hal ini belum dapat dijangkau oleh
pemikiran manusia dan oleh karena itu “Allah-lah Yang Maha Mengetahui”. - Wali Allah
Tanya: Berdasarkan jawaban Tim tentang Wali Allah, yang
tersebut dalam SM No. 22/75/1990, yang antara lain menyebutkan bahwa
untuk menjadi kekasih Allah (orang yang dikasihi Allah), haruslah
menjalankan shalat fardhu. Apakah untuk menjadi wali ada ketentuan
dengan persyaratan menjalankan shalat? Dan bagaimana kalau ada
keterangan di luar al-Qur'an dan Hadits tentang wali, yang menyatakan
bahwa wali yang paling afdzal yang paling tinggi seluruh dunia adalah yang
dinamakan Wali/ Keramat ma'nawi? Ada lagi keterangan barangsiapa yang
berada dalam magam ini (tajalli zat) hampir-hampir tidak berpegang pada
syariat. Mohon penjelasan. (M. Idris, Jl. Kinibalu. Kel. Panji RI. IV 35
Tanggarong Kutai Kal-T im).
Jawab: Perlu difahami bahwa dalam memberikan penjelasan hal-
hal yang bertalian dengan agama, kita berusaha untuk tidak keluar dan
sumber pokoknya, yakni al-Qur'an dan Sunnah Nabawiyyah. Hal Wali
Allah, keterangan yang bertalian dengan agama bahkan yang bertalian
dengan pendekatan diri pada Allah agar menjadi hamba yang dikasihi Allah,
tentu harus berpedoman pada sumber pokok agama yakni al-Qur'an dan
As Sunnah. Dalam al-Qur'an Allah memerintahkan setiap insan (manusia
termasuk Nabi dan tentu juga termasuk Wali Allah) untuk selalu beribadah
kepada-Nya, agar menjadi orang muttagin. Hal ini dapat dilihat pada surat
al-Bagarah ayat 21. Orang-orang muttagin adalah orang-orang yang antara
lain tekun beribadah. Lihat surat Ali Imran ayat 17. Melakukan ibadah
termasuk melaksanakan syariat. Jadi sulit difahami kalau seorang yang
dikasihi Allah justru yang tidak berpegang pada syariat.
Dalam pada itu berdasarkan pada firman Allah tersebut dalam al-
Our'an surat Al Hasyr ayat 7, kita manusia Mukmin diperintahkan untuk
mengikuti jejak Rasulullah saw. Rasulullah melakukan ibadah dengan tekun,
termasuk melakukan shalat dengan tekun. Memang bukan hanya dengan
shalat kita mendekatkan diri untuk dapat dicintai Allah, tetapi dengan
mengikuti semua yang dituntunkan Nabi untuk ummatnya. Demikian ini
disebutkan dalam ayat 31 Surat Ali Imran:
223 MAA 7 79.75%SARA A
rads AN Ep Oa “ah
I / 9 > إل- CA
Artinya: Katakanlah: Jika kamubenar-benar mencintai Allah ikutilah
aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha
Pengampun Lagi Penyayang.
Dalam kitab Fathul Bari syarah shahih Bukhari, disebutkan adanya
Hadits gudsi:
S44) 171 و0و
(ale
cy
NIA
YOGS
pie
[Sek NyseSyEN Cold
ga
)
,
29
1
م
م
5
Aver
“7
AN
AI Sah
لَ:كال,
سوك
الله
ie
se)
:
Abe
Seo,
A
a
و
:+
ورا
Aa
4
ع
ني
ب
é
a
GA أده
163
da
لى
:معاد
Rp
وسام
IAI TL 7 01
452
NAD
LL
عن
ا
سسب
تير
BD
eh
GN
ATI
ASAN
tral
ced)
KET
ENI
aa
Artinya: Menceriterakan kepadaku Muhammad bin Utsman bin Karamah,
menceriterakan kepada kami Khalid bin Makhad: menceriterakan kepada kami
Sulaiman bin Bilaal; menceriterakan kepada kami Syarik bin Abdillah bin Abi
Namr; dari Atha; dari Abu Hurairah, ia berkata: Bersabda Rasulullah saw:
“Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman: “Barangsiapayang memusuhi wali-Ku (orang
yang Kukasihi), aku umumkan perang kepadanya (Allah memusuhinya), dan
tidaklah seseorang hamba mendekat kepada-Ku lantaran sesuatuyang menyebabkan
Aku lebih mencintainya, kecuali apabila ia melakukan hal-halyang Akufardhukan
kepadanya, dan senantiasa saja Hamba-Ku tersebut makin dekat kepada-Ku apabila
ta melakukan hal-halyang sunat, dan karenanya Aku makin cinta kepadanya...
(dst. HR. Bukhari).
Hadits yang tersebut dalam bab tawadhuk itu menunjukkan untuk
mendekatkan diri kepada Allah perlu melakukan hal-hal yang difardhukan
dan disunatkan, bukan malah melupakannya.
Sekali lagi perlu diingat, sekalipun manusia itu dikasihi Allah, tetap
sebagaimana manusia, bukan Nabi yang maksum. Wallahu a'lam.
4. Surga Adam dan Surga di Akhirat
Tanya: Melihat Buku Tanya Jawab Agama halaman 27 No. 5
tentang “yang menggoda Adam dan Hawa” seakan-akan menyamakan
surga bagi Adam dan surga di akhirat nanti. Hal ini menjadi ganjalan saya.
Menurut pengamatan saya surga Adam berbeda bahkan bertolak belakang.
- Surga Adam ada pohon yang dilarang, surga akhirat tidak.
- Surga Adam ada golongan syaitan, surga akhirat tidak, juga tidak
ada pembicaraan yang sia-sia. - Di surga Adam, Adam telanjang, sedang di surga akhirat orang
yang masuk berpakaian dan menggunakan perhiasan yang indah. - Di surga Adam, Adam dan Hawa terusir darinya, sedang di surga
akhirat tidak ada orang yang terusir, bahkan kekal.
Kesemuanya saya fahami dan nash-nash al-Qur'an. Selanjutnya
kata Jannah dapat berarti kebun. Adam di surga adalah disebuah kebun di
bumi ini. Adam keluar dan surga artinya keluar dari kebunnya dan
menempati bumi ini. Bumi ini bukan tempat penyiksaan dan pengasingan.
Mohon hal itu mendapat kajian lebih lanjut. (Toha Yasin, mantan Ketua MPPK
Daerah Kodya Semarang).
Jawab: Untuk mengkaji lebih lanjut, mendapat perhatian Tim.
Untuk periode 1990-1995, Majlis Tarjih ada seksi Pengkajian, baik
pemikiran lama terhadap keputusan-keputusan yang ada maupun
pemikiran baru yang berkembang.
Mengenai istilah surga dari tarjamahan jannah yang dapat berarti
pula kebun atau taman yang disediakan bagi Adam dan isterinya untuk
didiami dan sebelum mendiami bumi, para mufassir memang berbeda-beda
tentang surga Adam. Sebagian besar berpendapat, surga seperti surga di
alam akhirat nanti, dan sebagian berpendapat bahwa surga Adam itu
sebuah taman yang disediakan bagi Adam.
Dalam soal-jawab belum menetapkan adanya surga dan itu sama
dengan surga di akhirat nanti atau surga Adam itu berbeda di dunia,
mengingat dalam ayat sendiri maupun dalam Hadits mutawatir tidak
ditegaskan. Yang jelas bahwa Allah mengeluarkan baik Adam, Hawa dan
syaitan dari jannah yang kemudian menempatkan di bumi sebagai
tempatnya sesudah keluar dari Jannah.
Mengenai kata habatha tidak mesti turun. Memang dapat
demikian, tetapi makna pokoknya habatha berarti nazala, arti yang konkrit
seperti turun dari perahu menuju darat. Nabi Nuh ketika diperintah turun
dari perahu seperti tersebut pada ayat 58 Surat Hud (11), dengan kata ihbith
(turunlah). Habatha dapat berarti yang maknawi, seperti harga turun atau
berkurang dari sebelumnya. Habatha dapat berarti pula inyagalat pindah
dari satu tempat ke tempat yang lain. Walhasil, Adam diperintahkan oleh
Allah untuk keluar atau pindah dari jannah ke bumi yang disediakan. Kita
tidak diwajibkan untuk mengartikan surga Adam dulu itulah surga di
akhirat nanti, sebagaimana kita tidak diwajibkan untuk mengartikan surga
Adam itu di bumi. Wallahu 'alam.
5. Makanan Yang Dilarang Di Surga
Tanya: Nabi Adam as. dahulu berada di surga. Surga tempat yang
suci dan tempat yang bebas.
A. Mengapa iblis dapat masuk ke tempat yang suci dan mampu
menggoda Nabi Adam as?
b. Mengapa di surga masih ada larangan?
Jawab: a. Iblis di kala itu belum dikeluarkan dari surga. b. Nabi
Adam as. berada di surga adalah kehendak dan perintah Allah SWT. Di
surga diperbolehkan untuk makan apa saja yang dikehendakinya. Di
samping ada kebebasan, juga ada larangan yang tidak boleh dilanggar,
seperti disebutkan di dalam ayat 35 Surat al-Bagarah:
yen
MPR
4
Rd
AI
eC
AS
2
|
حي
ارخ
AP
he
Kio
3
UA)
Dengan
Cal
وقلنايادم
اسك
A
5
a
Gps
cag
So
SAS
٠
(
LN
SA
A"
(vO:
224)
Dan kami berfirman: “Hai Adam, diamlah kamu dan isterimu di surga ini
dan makanlah makanan yang banyak lagi baik yang kamu sukai dan janganlah
mendekatipohon ini,yang menyebabkan kamu termasuk orang yang dzgalim”.
Kenyataannya, Adam as melanggar larangan Allah tersebut. Dan
dikeluarkan dari surga seperti disebutkan dalam ayat 36 Surat al-Bagarah:
La 7 KA Ar Ta AS
Bit;
)
9
PIK
AAN
2
BEN
ae
Gra Zerg J In AERIS g/l \ 72D Po RA
a
(vs of) اللحير
Artinya: “Lalu keduanya digelincirkan syaitan dari surga dan dikeluarkan
dari keadaan semula, dan Kami berfirman: “Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi
musuh bagiyang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan
bidup sampai waktuyang ditentukan”.

