putusan
Tanya Jawab Agama 1 Masalah Basmalah dan Salam
129
MASALAH BASMALAH DAN SALAM
- Basmalah dan Salam dalam Pidato
Tanya: Mana yang lebih dahulu diucapkan, bila seseorang Muslim
berpidato, dengan ucapan: “BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM atau
ASSALA-MU ‘ALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BARAKATUH.
(Muqaddaz AN, Jl. Veteran 76 Banjrnegara, Jawa Tengah).
Jawab: Orang mengucap salam sebelum mengucap pidatonya didasarkan
pada Hadis.
Artinya: Ucapan itu dilakukan sebelum melakukan pembicaraan. Hadis ini
menurut As Suyuthy dha’if.
Hadis lain yang dinilai dha’if pula oleh Imam As Suyuthy ialah:
Artinya: Ucapan salam itu sebelum memulai pembicaraan, dan jangan mengajak
makan seseorang sehingga ia mengucap salam (HR. Abu Ya’la dalam musnadnya).
Artinya: Salam itu diucapkan sebelum mengajukan pertanyaan: Barangsiapa
yang memulai soal kepadamu sebelum mengucap salam maka tak perlu dijawab. (HR.
Ibnu Najar dari ‘Umar).
Hadis ini pun dinilai dha’if oleh As Suyuthy. Hadis penopangnya ialah
Hadis Fi’li, ialah perbuatan Nabi riwayat Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah.
Artinya: Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. apabila
naik mimbar selalu memberi salam. (HR. Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah).”
Adapun orang yang memulai pidato dengan memulai Basmalah sebelum
mengucap salam, mendasarkan perbuatannya pada Hadis:
130
Artinya: Setiap urusan yang mempunyai arti (terpuji) tidak dimulai dengan
kata Basmalah, terputus (dari barakah). (HR. Abdul Qadir bin Raahawy dalam
Hadis Arba’in dari Abu Hurairah).
Hadis ini dinilai dha’if oleh As Suyuthy. Tetapi banyak penopangnya
bahwa Nabi menganjurkan kalau memulai suatu pekerjaan membaca Basmalah
seperti dalam makan, menurut riwayat Ahmad, juga riwayat Abu Dawud,
riwayat Bukhari Muslim seperti keluar dari rumah, menurut Ibnu Majah dan
Abu Hurairah.
Kedua hal itu maksudnya salam dan membaca Basmalah dalam memulai
pidato tidak perlu dipertentangkan, dan ditarjih tapi dijama’ dan ditaufiqkan,
maksudnya boleh dimulai dengan salam dulu baru Basmalah, atau Basmalah
dulu dengan pelan baru salam.
2. Mengucapkan Salam
Tanya: Ada muballigh yang menerangkan tentang ganjaran/nilai salam
di sisi Tuhan. Bila bersalam dengan Assalamu’alaikum saja ganjarannya 10,
bila ditambah dengan Warahmatullah nilainya 20, dan bila diteruskan sampai
Wabarakaatuh nilainya 30. Mohon penjelasan. (Wiji Anarsis Jl. Kartini Km. 2,5
No. 400 Lubuk Linggau, Sumsel).
Jawab: Keterangan yang disampaikan oleh muballigh itu didasarkan
pada Hadis riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzy dari sahabat Imran bin Al
Husein yang menurut At Tirmidzy, termasuk Hadis Hasan yang bunyinya:
Artinya: “Dari Imran Al Husain ra. telah datang seorang laki-laki kepada
Nabi saw., berkatalah orang itu: Assalamu’alaikum Maka Nabi pun menjawab
salamnya. Maka orang itu duduk dan Nabi berkata: sepuluh (nilai pahalanya). Kemudian
datang pula seorang yang lain dan berkatalah orang itu: Assalamu’alaikum
warahmatullah, maka Nabi pun menjawab salam itu dan orang itupun duduk. Berkatalah
Nabi: dua puluh (nilai pahala). Kemudian datang lagi yang lain dan berkata:
131
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, maka Nabi pun menjawab salam
ini dan orang itu duduk. Dan Nabi pun berkata: tigapuluh (nilai/pahalanya) (Hadis
riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzy. Berkata At Tirmidzy ini sebuah Hadis Hasan).
3. Tambahan “Ta’ala” dalam Salam
Tanya: Apabila ada orang yang mengucapkan salam ditambah kata
ta’ala seperti “Assalamu’alaikum warahmatullahi ta’ala wabarakaatuh”, apakah
dijawab atau tidak? (Pimpinan Muhammadiyah Ranting Talang Jaya I Sumsel).
Jawab: Baik dijawab, mungkin yang mengucapkan tidak tahu dengan
tambahan itu sebenarnya kurang sesuai dengan Sunnah. Karenanya kalau ada
kesempatan secara khusus yang mengucap salam dengan tambahan tersebut
diberitahu dengan cara yang baik, tentang salam yang sesuai dengan Sunnah.

