putusan
Tanya Jawab Agama 1 Masalah Doa Sesudah Shalat
MASALAH DOA SESUDAH SHALAT
- Doa-doa Nabi saw. Sesudah Shalat Fardhu
Tanya: Barangkali kami dapat menerima tuntunan doa-doa khususnya
sesudah melakukan shalat wajib, beserta artinya, karena tidak kami dapat pada
HPT. mohon penjelasan? (Suyatno, Jl. Pulosari 10 Lumajang).
Jawab: Nabi sesudah melakukan shalat wajib dalam hal ini bertindak
sebagai imam, sesudah salam tidak bersalaman dengan makmum tetapi hanya
berbalik menghadap kepada makmum dengan mukanya.
Artinya: Dari Samurah bin Jundab ra. ia berkata: “Adalah Rasulullah saw.
apabila telah selesai shalat menghadapi kami dengan wajahnya” (HR. Bukhari).
Menurut riwayat Muslim dan Abu Dawud, Nabi menoleh ke kanan
sesudah shalat, sehingga Barra’ bin ‘Azib senang, karena imam berada di sebelah
kanannya.
Artinya: Dari Barrak bin ‘Azib ra, ia berkata: “Apabila kami shalat di belakang
Rasulullah saw. kami senang duduk di sebelah kanannya, supaya beliau menghadapi
kami dengan mukanya”. (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Dengan duduk agak menengok ke kanan dan Nabi mengucapkan doa-
doa, antara lain: - Membaca doa istighfar: ASTAGHFIRULLAH tiga kali, dan
membaca:
Artinya: Aku mohon ampun kepada Allah 3x Ya, Allah! Engkau Dzat yang
selamat dari pada-Mu keselamatan. Maha Berkah Engkau, wahai Dzat yang mempunyai
keagungan dan kemuliaan.
Bacaan doa ini didasarkan pada riwayat Muslim dari Tsauban, ia
menerangkan bahwa apabila Rasulullah selesai mengerjakan shalat Nabi
membaca istighfar tiga kali dan membaca doa tersebut.
2. Membaca doa:
Artinya: Tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa tidak bersekutu
bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Ia berkuasa atas segala sesuatu.
Ya, Allah! Tidak ada yang dapat menghalang-halangi terhadap apa yang telah Engkau
berikan, dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang telah Engkau tolak,
dan kemuliaan itu tidak akan memberikan manfaat kepada yang mempunyainya di
sisi-Mu.
Doa ini didasarkan atas riwayat Bukhari dan Muslim dari Al Mughiroh
bin Syu’bah, ia menerangkan bahwa Nabi pada setiap selesai shalat fardhu
membaca doa tersebut.
3. Membaca doa di bawah ini juga termasuk tuntunan
Artinya: Ya, Allah selamatkanlah aku dari pada api neraka 7x
4. Artinya: Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (kehendak) Allah.
Tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan kami menyembah, melainkan hanya kepada
Allah. Bagi-Nya kenikmatan dan anugerah hanya bagi-Nya pujian yang baik. Tidak
ada Tuhan selain Allah dengan mengikhlaskan Agama karena-Nya, walau yang kafir
benci.
- Artinya: Maha Suci Allah 33x. Segala puji bagi Allah 33x. Allah
Maha Besar 33x. Tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa, tidak bersekutu
bagai-Nya, yang mempunyai kerajaan dan pujian dan Allah berkuasa atas segala sesuatu. - Artinya: Ya, Allah! Tolonglah aku untuk (dapat) mengingat kepada-Mu
bersyukur kepada-Mu dan bagusnya pengabdian kepada-Mu. - Artinya: Ya, Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan
aku berlindung kepada-Mu dari pada akan dikembalikan kepada umur yang hina
(pikun). Dan aku berlindung kepada-Mu dari pada fitnah dunia, dan aku berlindung
kepadamu dari pada siksa kubur. - Artinya: Ya, Allah aku mohon kepada-Mu rizki yang baik dan ilmu
yang bermanfaat serta amal yang diterima. - Artinya: Ya, Allah! Jagalah aku dari pada siksa-Mu pada hari Engkau
membangkitkan hamba-hamba-Mu. - Bacaan Awal dan Akhir Doa
Tanya: Mohon Hadisnya kalau permulaan doa itu dengan membaca
HAMDALAH dan SALAWAT begitu juga akhirnya. Dan apakah sesudah
berdoa itu membaca Al Fatihah, ada dasar Hadisnya? (Muqaddas AN, Jl. Veteran
76 Banjarnegara Jawa Tengah).
Jawab: Dalam berdoa hendaknya dimulai dengan memuji Allah
kemudian membaca salawat Nabi, barulah menyampaikan isi doanya. Hal ini
didasarkan pada sabda Nabi riwayat Abu Dawud, At Tirmidzy, Al Hakim dan
Ibnu Hibban serta Al-Baihaqy sebagai berikut:
Artinya: “Apabila berdoa salah seorang di antaramu, mulailah dengan memuji
Allah kemudian membaca salawat Nabi saw. kemudian barulah memohon apa yang
dikehendaki”.
Dalam menyampaikan doa itu diakhiri dengan membaca hamdalah
sesuai dengan gambaran yang tersebut dalam ayat 9 dan 10 surat Yunus:
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh,
mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka
mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. Doa mereka di dalamnya
“SUBHAANAKALLAHUMMA” dan salam penghormatan mereka itu
“SALAM”, dan penutup doa mereka ialah “ALHAMDULILLAHIRABBIL
‘ALAMIN”.
Hal sesudah berdoa dianjurkan membaca Al Fatihah, tidak didapati
dasar yang kuat sebagai amalan sunnah Nabawiyyah, karenanya
Muhammadiyah tidak mengamalkannya.
3. Mendoakan Orang Tua Dalam Shalat
Tanya: Bagaimana mendoakan orangtua, apakah boleh dalam shalat
ataukah di luar shalat, artinya sesudah selesai mengucapkan salam? (Ny. Hajjah
Tukidjah Muslim, Jl. K. Muksin Gg. Utara KA 10 Lumajang).
Jawab: Shalat merupakan ibadah mahdhah pelaksanaannya didasarkan
pada cara-cara yang dilakukan oleh Rasulullah, sebagai Rasul yang diberi
wewenang untuk memberikan penjelasan dan contoh tentang agama dan
pelaksanaannya, yakni yang berbunyi “SHALLUU KAMAA RAITUMUUNI
USHALLI” yang artinya: Shalatlah Anda sekalian sebagaimana aku (Nabi)
melakukan shalat. (Muttafaq ‘alaih).
Atas dasar itu, doa yang dibaca dalam shalat hendaknya yang
dituntunkan Nabi. Sedang kalau kita mau berdoa selain yang dituntunkan
tadi, seperti misalnya mendoakan orang tua, hendaknya dilakukan sesudah
selesai shalat.
4. Memohon Umur Panjang
Tanya: Seperti tersebut dalam surat Al A’raaf ayat 34 berbunyi:
“WALIKULLI UMMATIN AJAL FAIDZA JAA-ALUHUM LAA YASTAK-
KHIRUUNA SA’ATAN WALAA YASTAQDIMUN”. Apakah seseorang yang
telah ditentukan umurnya itu dibenarkan memohon panjang umur dan apabila
seseorang yang menderita sakit lalu berobat itu nanti umur bisa panjang
termasuk yang memelihara kesehatannya apakah dapat menambah umur
panjang kalau memang umurnya telah ditentukan batasnya? Mohon penjelasan.
(Thahrun, Jl. Kom. L . Yos. Sudarso Gelungur Kota No. 96 o/c Medan).
Jawab: Maksud ayat tersebut adalah bahwa tiap-tiap umat atau bangsa
telah ditentukan waktu kejayaannya, batas waktu awal dan akhirnya. Bukan
perorangan setiap manusia, sekalipun memang ada keterangan bahwa umur
dan nasib seseorang itu ditentukan oleh Allah, seperti tersebut pada surat Al
Isra ayat 13 dan surat Hud ayat 6, khususnya lagi tentang kematian manusia
tersebut dalam ayat 2 surat Al An’am, yang artinya, “Dialah yang menciptakan
dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematian) dan ada lagi ajal yang
ditentukan (untuk kebangkitan) yang ada disisi-Nya, kemudian kamu masih
ragu-ragu (tentang kebangkitan itu)”. Berdasarkan ayat-ayat itu memang benar
bahwa ketentuan manusia itu ditetapkan oleh Allah, karena Allah yang
menciptakan manusia. Ketentuan Allah itu disebut qadha dan qadar.
Hubungan perbuatan manusia dengan qadha dan qadar ialah bahwa
segala ketentuan adalah dari Allah dan usaha dari manusia. Perbuatan manusia
ditilik dari kemampuannya adalah hasil usahanya sendiri, tetapi kalau ditilik
dari kekuasaan Allah perbuatan manusia itu ciptaan-Nya, manusia hanya dapat
berikhtiar. Mengenai ikhtiar manusia itu suatu keharusan, tidak boleh manusia
melalaikan.
Seseorang dituntut untuk memelihara kesehatan, kalau sakit wajib
berobat menurut kemampuannya dengan cara yang benar.
Tentang umur manusia telah ditentukan oleh Allah, hanya Allah yang
mengetahuinya, karenanya berobat bila sakit itu perlu. Orang yang sakit berobat
kemudian meninggal dunia akibat kelalaiannya tidak berobat, termasuk takdir
Allah. Tetapi manusia itu dinilai buruk atas kelalaiannya itu. Kalau manusia
sakit kemudian berobat tetapi tidak sembuh juga, bahkan meninggal, itupun
takdir Allah. Tetapi ia mendapat pahala atas usahanya itu. Tetapi kalau seseorang
yang sakit itu berobat dan dengan berobat itu sembuh, itupun atas idzin Allah
dan atas qodrat Allah jua. Dan yang bersangkutan mendapat nikmat Allah di
samping tidak mendapat cercaan akan kelalaiannya tidak berobat, karena
berobat termasuk anjuran Nabi, yang artinya, “Berobatlah wahai hamba Allah,
sesung guhnya Allah tidak menetapkan adanya penyakit kecuali telah
menetapkan pula adanya obat, kecuali penyakit yang satu, yaitu umur tua”.
(HR. Ahmad, Ashhabussunan, Ibnu Hibban dan Al Hakim dari Usamah bin
Syuriah).
Tentang berdoa untuk diberi umur panjang, tidak ada salahnya. Karena
soal umur itu urusan Allah. Sedang berdoa itu dianjurkan dan berdoa itu
urusan manusia. Tentang dikabulkannya, itu urusan Allah yang tidak boleh
ialah berdoa untuk cepat meninggal karena menunjukkan kurang kesabarannya
atau menunjukkan keputus-asaannya, padahal putus-asa dilarang agama. Agama
mengajarkan, kalau toh minta segera menghadap Allah harus dikaitkan kalau
hal itu lebih baik.

