putusan
Tanya Jawab Agama 1 Masalah Hari Hari Besar Islam
MASALAH HARI-HARI BESAR ISLAM
- Isra’ Mi’raj
Tanya: Benarkah peristiwa Isra’ Mi’raj menjemput wahyu perintah
shalat? Dan benarkah perintah shalat kepada Rasulullah itu dulunya lima puluh
kali/waktu, kemudian Allah memberi dispensasi menjadi lima kali/waktu.
Tolong tunjukkan dalil Quran dan Hadisnya. (Drs. Lastari Ahmad Yusri, NBK.
580127, No. Agen SM: 420, Ambarawa).
Jawab: Mengenai Hadis yang menerangkan bahwa pada peristiwa Isra’
Mi’raj itu diturunkannya perintah shalat dan perintah shalat itu dulunya 50
kali kemudian menjadi hanya lima kali sehari semalam, sangat panjang, seperti
tersebut pada Kitab Shahih Bukhari dan Kitab Shahih Muslim. Untuk tidak
mengecewakan Anda, berikut ini dituliskan nukilan sebagian dari Hadis itu
yang diambil dan riwayat Muslim dan Anas bin Malik, dari Tsabit Lubnani
dari Hammad bin Salamah, dan dari Syaibak bin Farrukh.
Artinya: Maka Allah memberi wahyu kepadaku apa yang telah diwahyukan,
kemudian Allah memfardhukan padaku lima puluh kali shalat sehari semalam. Aku
turun kepada Musa as., maka bertanya Musa: “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu
pada ummatmu”. Aku berkata: “Lima puluh kali shalat”. Musa berkata: “Kembalilah
kepada Tuhanmu mohon keringanan kepadaNya karena ummatmu tidak akan kuasa
mengerjakan yang demikian. Sesungguhnya telah dicobakan kepada Bani Israil dan
aku kabarkan kepada mereka”.
Maka aku kembali menghadap Tuhan dan aku berkata “Ya Tuhan ringankan
untuk ummatku”. Maka Allah mengurangi lima dan aku kembali pada Musa, dan
aku berkata kepadanya: “Allah mengurangi menjadi lima”. Musa berkata “Ummatmu
tidak akan kuat mengerjakan yang demikian, maka kembalilah kepada Tuhanmu, dan
mintalah keringanan”.
Nabi pun berkata” Maka tidak habis-habisnya kembali kepada Tuhanku dan
kepada Musa, sampai Tuhanku berfirman: “Hai Muhammad, sungguh shalat lima
kali sehari semalam, bagi setiap shalat (pahalanya) sepuluh, jadi itu (menyamai) lima
puluh shalat.
Dan barang siapa yang mempunyai niat berbuat baik dan tidak jadi
melaksanakannya telah dicatat baginya satu pahala perbuatan baik dan bila
mengerjakannya maka dicatat mendapat sepuluh pahala. Barang siapa yang berniat
berbuat buruk tapi tidak jadi melakukannya tidak dicatat sama sekali dan apabila
mengerjakan maka dicatat satu kejelekan”.
Kemudian Nabi bersabda: “Maka aku turun sehingga aku berhenti pada Musa
dan aku kabarkan (semua) itu, maka Musa pun berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu
dan mintalah keringanan”.
Maka bersabda Rasul: “Aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku
malu (untuk kembali lagi)”. (HR. Muslim dari Malik).
2. Berzanji, Manakiban, Dibaan
Tanya: Dalam SM No. 1 tahun ke-67 1987, diterangkan bahwa
Berzanji, Mankiban, Dibaan dan sebagainya itu ada unsur negatifnya. Mohon
penjelasan, dan buku-buku apa saja yang dapat saya baca untuk hal itu. (Seorang
pembaca “SM”).
Jawab: Buku yang dapat Anda baca untuk menunjukkan bahwa
Berzanji, Manakiban dan Dibaan itu mengandung unsur-unsur negatif, antara
lain, buku “At Tanbiehaatul Waajibaat”, susunan KH Hasyim Asy’ary, Tebuireng
Jombang, berbahasa Arab, yang diterbitkan oleh Penerbit Salim bin Nabhan,
Surabaya, dengan rekomendasi beberapa ulama Azhar di Mesir, tahun 1936.
Dengan mengemukakan berbagai pendapat dan fatwa, yang diawali
dengan uraian, kalau dalam memperingati Maulid Nabi berkumpul dan
membaca sejarah dan pujian yang benar dengan menunjukkan kesyukuran
dan kesenangan akan kelahiran Nabi dibarengi dengan pengeluaran sedekah
tidaklah apa (FALAA BAKSA BI DZAALIKA), tetapi kalau sudah dicampur
dengan pemukulan alat-alat musik yang menjadi gaduh dan nyanyian yang
dinyanyikan oleh wanita dan pria diselingi siulan-siulan atau suara melengking,
menjadikan perbuatan itu termasuk yang diharamkan. Banyak pendapat yang
mengharamkan peringatan yang dicampur dengan perbuatan yang dilarang
itu, antara lain dari ulama Malikiyah ialah Al Fakihany dan Abu ‘Abdullah Al
Haaj, dari ulama Syafi’iyyah seperti Ibnu Hajar Al Asqalany dan Tajuddin As
Subkhi dan ulama-ulama lain seperti Al Qadli ‘Iyadl dan sebagainya.
Kitab yang disusun di atas menunjukkan dari bentuk dan cara
mengadakan peringatan.
Sedangkan untuk lebih mengetahui tentang isi kitab-kitab yang memuat
hal-hal yang menjurus pada pujian-pujian yang berlebih-lebihan sehingga
bertentangan dengan isi ayat Al-Quran, dikemukakan oleh KH. Sa’id Al
Hamdany dengan judul “Sorotan terhadap Kissah Mulia yang untuk jelasnya
dapat diringkaskan antara lain sebagai berikut:
- Awal mula dilakukan peringatan Maulid Nabi itu pada masa Kerajaan
Fatimiyah pada abad ke empah Hijriyah. Ada pula yang menerangkan pada
masa Raja Al Muzhaffar Abi Sa’id di Kota Irbil di Iraq tahun 700 H. - Kitab-kitab yang memuat riwayat Maulid antara lain: At Tanwir fi
maulid Assirajil munir, Al ‘Arus, Risalah Ibnu Jabir Al Andalusi, dan kitab-
kitab yang terkenal di Indonesia: Syafarul Anaam, Berzanji, Al A’zab dan Al
Daibay. - Isi dari kitab-kitab itu memang ada baiknya, uraian yang mengandung
puji-pujian yang baik bagi Rasul, tetapi ada yang keterlaluan sehingga
mengurangi nilai isi bahkan kalau tidak dapat dikatakan menghilangkan makna
penghormatan Nabi, karena sangat berlebihan, seperti menggambarkan Nabi
bukan lagi sebagai manusia biasa tetapi sebagai manusia yang telah dimasukkan
dalam lingkungan ke-Tuhanan atau yang mirip dengan itu. - Contoh-contoh dan isi masing-msing kitab:
a. Dalam Kitab Syaraful Anaam:
1).
Artinya: Selamat atasmu (Muhammad) wahai penghapus dosa.
Isi sanjungan ini bertentangan dengan ayat 3 surat Al Mu’min atau
Ghafir:
Artinya: (Allah) Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras
hukumanNya yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNyalah
kembali (semua makhluk).
2).
Artinya: Selamat atasmu (Muhammad) wahai naungan dan tujuan.
Isi sanjungan ini bertentangan dengan firman Allah dalam surat Al
Fatihah:
Artinya: Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami
mohon pertolongan.
3).
Artinya: Selamat atasmu (Muhammad) wahai harapan para durhaka.
Nabi tentu tidak akan memberikan syafaatnya kepada orang yang
durhaka, dan tentu akan memberi syafaat bagi orang yang memang amalnya
baik dan mencintai kepada Rasulullah, bukan sekedar mencintai atau
menyanjung-nyanjung padahal perbuatannya jauh dari kebenaran.
Masih banyak contoh-contoh yang tidak sesuai dengan jiwa agama yang
kita dalami.
b. Dalam kitab Berzanji, juga ada contoh-contoh yang kurang sesuai
dengan tuntunan agama yang dikembalikan pada sumber aslinya ialah Al-
Quran dan As Sunnah, seperti:
Artinya: Aku ucapkan selamat dan bahagia atas cahaya yang bersifat mula
pertama, yang berpindah-pindah di ubun-ubun dan dahi yang mulia.
Hal ini bertentangan dengan harapan Nabi menurut riwayat Bukhari:
Jangan saya dipuji dengan berlebih-lebihan, seperti kaum Masehi memuji Al
Masih, tetapi katakanlah Muhammad hamba Allah dan PesuruhNya.
Artinya: Dan tatkala Allah menghendaki penjelmaan hakikat Muhammad
dan melahirkan jisim, ruh dan bentuk yang mestinya, maka beliau dipindahkan ke
dalam rahim ibunda Aminah Az Zuhriyyah, yang telah ditentukan oleh Allah Yang
Maha Dekat dan Maha Pengabul permohonan, sebagai ibunya.
c. Dalam Maulid Ad Daibaiy, ada hal-hal yang perlu mendapat penelitian
lebih lanjut, apakah benar ucapan-ucapan seperti:
Orang Quraisy itu adalah cahaya yang ada di tangan Allah 2000 tahun
sebelum dijadikan Adam dan setelah akan menjadikan Adam, memberikan
nur itu pada tanahnya.
Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang kiranya kurang sesuai dengan
keterangan agama yang kuat.

