putusan
Tanya Jawab Agama 1 Masalah Ilmu
MASALAH ILMU
- Kepentingan Ilmu
Tanya: 1. Amalan apa saja yang pahalanya terus menerus? 2. Dalam
suatu khutbah Hari Raya diterangkan tentang pentingnya iman, ilmu dan amal.
Mengenai soal ilmu belum diterangkan dengan jelas. Menurut Al-Quran maupun
Hadis, manakah yang menyatakan pentingnya orang Islam perlu mencari ilmu.
(Sukiran, Jatisrono, Kulon Progo).
Jawab: Kalau yang dimaksud itu beramal yang kemudian amal yang
dilakukan orang tersebut akan mendapatkan pahala terus menerus sekalipun
ia telah meninggal dunia, berdasar Hadis yang telah sangat dikenal oleh
masyarakat Muslim ialah: Melakukan sadakah yang dapat dimanfaatkan terus
menerus, seperti mendirikan masjid, rumah sekolah, jalan, dan sebagainya,
mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu itu terus menerus diamalkan
secara berkesinambungan, mendidik anak menjadi anak yang saleh, dan anak
itu selalu mendoakan orang tuanya, melangsungkan perbuatan yang telah
diperbuat orang tuanya.
Hadis tentang ini adalah sebagai berikut:
Artinya: “Apabila meninggal dunia seorang putuslah amalnya, kecuali 3 macam:
sadakah jariyah, ilmu yang dimanfaatkannya atau anak yang saleh yang mendoakan
kepadanya (kepada orang tuanya yang meninggal itu)”.
Hadis ini sangat populer dalam masyarakat, tetapi menurut penilaian
As Suyuthy termasuk dhaif. Tetapi ada Hadis lain yang senada seperti riwayat
Al Bazar dan Simawaih dari sahabat Anas, yang berbunyi:
Artinya: “Tujuh macam golongan hamba Tuhan yang tetap akan mengalir
pahalanya sedangkan hamba itu telah dikuburkan/sesudah mati: 1. Orang yang mengajar
ilmu, 2. Mengalirkan sungai, 3. Membuat sumur, 4. Menanam tanaman, 5. Mendirikan
masjid, 6. Mewariskan mushaf (Al-Quran), 7. Meninggalkan anak yang memintakan
ampun kepadanya”.
Menurut penelitian Ahmad bin Muhammad Asshabihi As Salawy
seorang Nadhir wakaf di Magribi Aqsha, Hadis tersebut sahih.
Mengenai pentingnya ilmu, banyak disebutkan dalam Al-Quran maupun
Hadis, antara lain, surat Al Mujadalah ayat 11, yang menjelaskan bahwa “Allah
mengangkat derajat orang yang beriman dan orang yang berilmu”.
Artinya: Hai orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-
lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan
kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah,
niscaya Allah akan mengangkat orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan, beberapa derajat dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat 28 surat Al Fathir, memberi penjelasan kepada kita bahwa orang-
orang yang takut kepada Allah, ialah hamba Allah yang berilmu.
Artinya: Dan di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-
binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya/jenisnya, sesungguhnya orang
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya; hanyalah ulama (orang-orang
yang berilmu, mengerti kebenaran dan kekuasaan Allah).
Ayat 9 surat Az Zumar, merangsang agar manusia mencintai ilmu untuk
mendekatkan diri pada Khalik Sang Pencipta, karena ternyata ada perbedaan
antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Di sini Al-Quran
menggunakan gaya bahasa istifham inkari, yang susunannya yaitu: menanyakan
sesuatu yang jawabannya sudah jelas, sesungguhnya tidak demikian halnya,
karena telah diketahui oleh yang bertanya.
Artinya: (Adakah orang yang musyrik yang beruntung) ataukah orang yang
beribadah di waktu malam dengan bersujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada
azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?.
Katakan: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang
tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Ayat 114 surat Thaha menganjurkan untuk kita berdoa memohon
ditambah ilmu. Berdoa menurut ajaran Islam bukan saja mengajukan
permohonan tanpa usaha memperoleh dan mendapatkannya tetapi juga
berusaha mencapainya. Karenanya memohon ilmu juga berusaha untuk
mendapatkan ilmu dengan belajar yang baik.
Artinya: Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan jangan
kamu tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya
kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.
Itulah sebagian ayat-ayat Al-Quran yang mengandung dorongan untuk
orang-orang Islam mencari Ilmu Pengetahuan.
Dan untuk lengkapnya disampaikan pula beberapa Hadis yang
menunjukkan setiap Muslim menuntutnya:
Artinya: Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Allah mencintai perbuatan
menolong orang yang menderita.
Mencari ilmu wajib bagi setiap Muslim dan sesungguhnya segalanya, sampai
ikan di laut, akan memohonkan maghfirah (ampunan kepada Allah) baginya (pencari
ilmu).
Masih banyak lagi Hadis yang memberikan dorongan agar setiap Muslim
suka menambah ilmunya.
-
Wanita Ahli Tafsir
Tanya: Sepanjang yang saya ketahui belum ada seorang pun wanita
yang menulis Kitab Tafsir Al-Quran, padahal sudah cukup banyak kaum wanita
yang berhasil meraih gelar kesarjanaan dalam ilmu Agama. Apakah hal yang
demikian tidak dibenarkan dalam ajaran Agama? (Syamsuddin Said, d.a. Masjid
Taqwa Aceh Tenggara).
Jawab: Tidak ada larangan dalam Agama Islam seorang wanita untuk
berilmu menyamai pria. Mencari ilmu menjadi kewajiban bagi setiap Muslim
baik bagi Muslim pria maupun wanita, demikian dalam beramal dan berkarya
(surat An Nahl ayat 97). Mencari ilmu dan mengamalkan serta mengembangkan
ilmunya termasuk amal saleh yang tidak berbeda hak dan kewajibannya antara
Muslim dengan Muslimah. Memang kalau kita lihat kenyataannya dalam
perjalanan sejarah kaum Muslimin wanita belum banyak yang menonjol dalam
bidang Tafsir dan Hadis sebagaimana yang Anda kemukakan, sekalipun di
zaman Nabi tidak ada larangan untuk itu, bahkan banyak sahabat wanita yang
tergolong mampu untuk menjadi pakar ilmu, khususnya ilmu As Sunnah.
Banyak riwayat Hadis yang disampaikan oleh isteri Nabi, khususnya
Aisyah. Aisyah adalah putra Abu Bakar, beliau sebagai isteri Nabi, banyak
meriwayatkan Hadis, sekitar 2210 Hadis yang diriwayatkan. 174 yang disepakati
Bukhari dan Muslim, sedang Bukhari sendiri meriwayatkan 64 Hadis yang
berasal darinya dan Imam Muslim 63 Hadis. Beliau termasuk orang ke empat
yang banyak meriwayatkan Hadis. Adapun wanita-wanita lain yang
meriwayatkan Hadis seperti Ummu Salamah, Ummu Habibah, Tamimah binti
Salamah, Hujirah binti Husain dan Fatimah. Mereka juga termasuk perawi
shahabiy yang meriwayatkan Hadis, hanya tidak semasyhur dan sebanyak yang
dilakukan oleh Aisyah. Aisyah bukan saja ahli Hadis, tetapi juga ahli fiqih.
Banyak orang yang bertanya tentang obat-obatan dan faraidl kepadanya.
Pendeknya di zaman sahabat banyak wanita yang ahli tentang agama,
karena memang tidak ada larangan bagi wanita untuk menjadi pakar ilmu
pengetahuan agama, termasuk menjadi mufti (pemberi fatwa).
Adapun orang sekarang telah banyak yang menjadi Sarjana, tetapi karena
terbatasnya waktu dan belum banyaknya wanita yang menekuni bidang Syari’ah
secara khusus, khususnya lagi sumber hukum, baik Al-Quran maupun As
Sunnah, sehingga belum muncul ahli-ahli Tafsir dan Hadis dari mereka. Mudah-
mudahan di masa mendatang akan banyak hal itu. Yang jelas tidak ada larangan
untuk itu. Kalau ada larangan Hadis ialah larangan itu ditujukan untuk menjadi
pimpinan tertinggi (Wilayatul Udhma/Presiden/Khalifah).

