putusan
Tanya Jawab Agama 2 Masalah Shalawat dan Tasawuf
MASALAH SHALAWAT DAN TASAWUF
- Shalawat Wahidiyah
Tanya: Saya pernah mendengar ceramah bahwa puncaknya Islam itu
“shalawat wahidiyah”. Apakah hal itu ada dasar hukumnya? (Abd. Wahab, Agt.
Muh. Dan Guru SD. 004 Waru Kab. Pasir, Kal-Tim).
Jawab: Tidak kita dapati dalam Al-Quran maupun Hadis bahwa
Shalawat Wahidiyah adalah puncaknya Islam, kalau yang dimaksud shalawat
sebagai bacaan sarana dzikir, ingat pada Allah. Kalau yang dimaksud shalawat
wahidiyah sebagai lembaga atau badan jamaah, juga tidak kita dapati bahwa
Jamaah Wahidiyah sebagai puncak Islam. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa
yang dianggap urusan yang besar ialah ingat kepada Allah dengan shalat. Anjuran
ingat kepada Allah baik mengingat akan kekuasaan-Nya maupun ingat akan
nikmat-Nya yang telah diberikan kepada setiap insan, sangat banyak ditunjukkan
oleh ayat Al-Quran. Kelalaian manusia sehingga melupakan Allah akan
berakibat Allah membuat manusia lupa terhadap dirinya sendiri, sebagai yang
disebutkan pada surat Al Hasyar ayat 19:
Artinya: Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah,
lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri Mereka itulah orang-
orang yang fasik.
Perintah selalu ingat kepada Allah disebutkan antara lain dalam surat
Al Baqarah ayat 152:
Artinya; Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula)
kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-
Ku).
Shalat merupakan sesuatu yang besar dan sarana ingat kepada Allah,
disebutkan pada surat Al Ankabut ayat 45 dan surat Thaha ayat 14:
Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, ialah Al Kitab (Al-
Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji
dan munkar. Dan sesungguhnya ingat kepada Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Artinya: Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, tidak ada Tuhan selain Aku,
karena itu sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Dari ayat di atas bukan shalawat baik ucapan shalawat maupun lembaga
shalawat yang terpenting dalam agama, tetapi shalat. Lebih jauh lagi keutamaan
shalat juga dijabarkan dalam keterangan Nabi sebagai Utusan Allah yang
mempunyai otoritas untuk menjelaskan tentang agama kita Islam. Ia
menyampaikan kepada kita bahwa shalat merupakan hal yang sangat penting,
antara lain seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim Abdullah. Nabi bersabda:
Artinya: “Seutama-utama amal perbuatan ialah Shalat pada waktunya dan
berbuat baik kepada orang tua.”
Masih ada lagi Hadis yang menerangkan pentingnya melakukan shalat,
antara lain bahwa shalat adalah amal yang akan dihisab (diperiksa) pertama di
hari kiamat (HR. An Nasaiy dari Ibnu Mas’ud, dengan nilai Hasan).
Selanjutnya kalau yang dimaksud shalawat ialah jamaah, juga tidak ada
dasarnya kalau jamaah shalawat wahidiyah adalah jamaah terbaik atau orde
terbaik. Karena dalam Hadis disebutkan orde pengamalan Islam terbaik ialah
di Zaman Nabi bersama sahabat, baru kurun berikutnya.
2. Shalawat Tharikat
Tanya: Setelah kami membaca Surat Edaran sebuah Tharikat di Pulau
Bungan di mana dinyatakan kewajiban menuntut ilmu Tharikat dengan dalil
Hadis dan Al-Quran yang dipetik dari kitab Sayrus Salik sebagai berikut:
- “Thalabun Syaifun fi Tharayqatun waajibun kullu ummati walau kaana
akaabiril Ulama”. - Man tafaqqahu wa lam yatshawwufun faqad tafassaqa” ini termasuk dalil
Al-Quran pada hal. 517 ayat 16.
Ingin kami tanyakan: Bagaimana derajat Hadis tersebut dan apakah
maksud dari hadis tersebut? Serta dalam surat apakah ayat 16 tersebut dan
apakah maksudnya? (Ary Fahmi Batubara agen SM No. Lb. 363 Natal, Medan,
Sumut).
Jawab: Mungkin nukilannya kurang benar, atau tidak benarnya memang
dari asal edaran itu. Kalau melihat dari segi bahasa, maksudnya kurang lebih:
- Mencari sesuatu dalam Tharikat wajib bagi setiap ummatku sekali pun ia
tergolong dari ulama besar. - Barang siapa memperdalam (agama) padahal ia tidak bertasawwuf maka
sungguh menuju pada kefasikan.
Yang pertama itu menurut pengamatan kami bukan Hadis, dan yang
kedua pun bukan ayat Al-Quran. Jadi tidak dapat menunjukkan apa nilai
Hadis dan surat apa ayat tersebut. Dan menurut pemantauan kami, dalam Al-
Quran maupun Hadis tak ada keterangan demikian. - Shalawat Tunjina
Tanya: Kami sering mendengar doa di mushalla-mushalla atau masjid-
masjid, dengan kata-kata “shalatan tunjina biha dst.”. Dikatakan doa itu amalan
Syech Abdul Qadir Jailani dan artinya mohon keselamatan dari segala
penderitaan. Benarkah demikian dan apakah memang dapat dilakukan
pengamalan demikian itu? (M. Suhrawardi, Lgn. No. 8047, Jl. Sei Mesakabel Rt.
10 no. 22 Banjarmasin).
Jawab: Disuatu daerah doa itu disebut “shalawat tunjina” karena
bacaannya dimulai dengan shalawat, yakni: ALLAHUMMA SHALLI’ALAA
SAYYIDINA MUHAMMAD, SHALAATAN TUNJINA BIHA dst.
Membaca shalawat termasuk yang dianjurkan agama seperti dalam Al-Quran
pun hal itu disebutkan dalam surat Ahzab ayat 56:
Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk
Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam dengan penghormatan kepadanya.
Mengenai arti shalawat di situ ada beberapa pengertian. Kalau berasal
dari Allah berarti rahmat, dan kalau dari malaikat berarti doa permintaan
ampunan pada Allah dan kalau dari kaum muslimin berarti doa permohonan
rahmat kepada Allah untuk Nabi-Nya.
Contoh doa shalawat itu seperti ucapan: ALLAHUMMA SHALI’ALA
MUHAMMAD. Membaca shalawat yang seperti ini yang ada tuntunannya.
Tetapi kalau membaca shalawat dihubungkan dengan yang lain-lain, apalagi
dihubungkan dengan amalan Syech Abdul Qadir Jailani dalam rangka memohon
keselamatan dan dijauhkan dari penderitaan maka tidak ada tuntunannya dalam
Al-Quran maupun As Sunnah. Keselamatan dapat langsung memohon kepada
Allah dengan doa-doa yang maktsur artinya dituntunkan dalam Al-Quran
maupun As Sunnah tanpa dikaitkan dengan seseorang manusia, di samping
adanya usaha menjauhi hal-hal yang akan mendatangkan madlarat dan juga
berusaha untuk selalu bersikap hati-hati. Dengan permohonan kita langsung
kepada Allah akan menunjukkan keyakinan kita kepada Kekuasaan, Qadrat
dan Iradat juga ketulusan dan keikhlasan kita dalam memohon. Kalau akan
membaca shalawat bacalah shalawat sesuai dengan shalawat yang dituntunkan
Nabi dan lakukanlah karena itu perintah Nabi sebagai kecintaan dan ketaatan
kita mengikuti jejak Nabi bukan karena yang lain.
4. Bacaan Shalawat Tasbih dan Sebagainya
Tanya: Dalam khutbah-khutbah sering kita dengar anjuran untuk
banyak membaca shalawat atau tahlil ataupun bacaan lainnya yang disebutkan
dalam hadis sahih, yang dinyatakan akan menjadi simpanan di akherat nanti.
Bagaimana penjelasannya? (Kasi Delamir, Jalan Kenanga No. 44 Rt. 1, Kebun
Kenanga, Bengkulu).
Jawab: Tuntunan untuk mengungkapkan bacaan-bacaan seperti
membaca shalawat, membaca tasbih, tahmid dan takbir seperti tersebut dalam
hadis-hadis sahih merupakan petunjuk pelaksanaan yang diberikan oleh
Rasulullah terhadap ayat-ayat yang memang menganjurkan demikian. Banyak
ayat-ayat yang menganjurkan agar kita berdzikir di waktu pagi maupun petang,
di waktu malam maupun siang, di kala sedang duduk maupun sedang berdiri.
Di antaranya seperti tersebut pada surat Al-Quran Ahzab ayat 41-42:
Artinya: Hai orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah),
dzikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya waktu pagi dan petang.
Masih banyak ayat-ayat yang menganjurkan demikian, yang oleh Nabi
pelaksanaan dzikir itu antara lain dengan lisan yang diberikan dengan
memberikan alternatif untuk memudahkan sesuai dengan kemampuan dan
kesempatan. Seseorang yang mempunyai waktu yang banyak dapat membaca
berbagai bacaan, sedangkan yang tidak banyak waktu terluang dapat membaca
bacaan yang pendek, yang terpenting janganlah hati kita kosong dari dzikir
dan perintah agar kita tidak membiarkan hati kita dalam keadaan lalai adalah
tersebut dalam surat Al A’raaf ayat 205:
Artinya: Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan
diri dan rasa takut dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang. Dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Penyebutan nama Allah dengan tuntunan yang beraneka bacaan yang
diberikan oleh Nabi janganlah dianggap hal yang tidak penting dan memberat-
beratkan, tetapi hendaknya diterima dengan pengamalan yang ikhlas bukan
karena sesuatu yang dijanjikan, yang kadang-kadang menyebabkan kurang
keikhlasan kita. Untuk memilih bacaan mana yang baik, diserahkan kepada
masing-masing kita, menurut kemampuan dan kesempatan kita. Pedoman
yang terpenting adalah agar tuntunan yang dibaca itu berdasarkan pada
tuntunan yang sahih, dan jangan sampai takalluf diri dengan memberat-beratkan
dan melampaui batas. Tetapi juga jangan sampai kita yang hidup di masa
modern ini mengenyampingkan bacaan-bacaan yang memang benar dan baik
berdasarkan tuntunan Rasulullah saw.
5. Peningkatan Iman dan Taqwa
Tanya: Hampir setiap hari kita mendengar ajakan, marilah kita
tingkatkan iman dan taqwa kita. Tetapi saya belum mengerti bagaimana cara
meningkatkan iman dan taqwa itu secara jelas. Mohon penjelasan. (Nuwih, W.
Ngewonggo, Ceper, Klaten).
Jawab: Dari segi bahasa iman artinya tashdiq, maksudnya membenarkan.
Dari segi pemahaman dari berbagai nash baik Al-Quran maupun As Sunnah
mempunyai arti yang sempit dan luas. Pengertian sempit, membenarkan akan
adanya Allah dan Maha Kuasaan-Nya, bahkan juga meyakini akan kebenaran
kitab-kitab-Nya dan Utusan serta Malaikat-Nya serta akan adanya hari
kemudian atau kiamat. Demikian diperintahkan oleh Allah dalam Al-Quran
ayat 136 surat An Nisa yang wajib diyakini oleh Manusia.
Masih banyak ayat dan Hadis yang memerintahkan kita manusia untuk
meyakini demikian.
Dalam arti luas atau dalam pengamalannya keyakinan menimbulkan
kewajiban untuk melaksanakan perintah kebajikan menjalankan dan menjaga
Agama, sebagai disebutkan antara lain dalam surat Al Hujarat ayat 15.
Ayat 136 surat An Nisa berbunyi:
Artinya: Wahai orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepaada Rasul-Nya, serta kitab yang
Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-
Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang
itu telah sesat sejauh-jauhnya.
Ayat 15 Surat Al Hujarat berbunyi:
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, hanyalah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka
berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang
yang benar.
Berdasarkan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, pengertian iman lebih
luas lagi mengikuti 69 cabang yang kalau ditelusuri Hadis-hadis tentang
pelaksanaan iman ini akan merupakan keseluruhan tuntunan agama, meliputi
aqidah, ahkam atau hukum-hukum dan akhlaqul karimah, yakni sifat dan
sikap seseorang dalam hidupnya yang lebih baik menjalin hubungan dengan
Khaliqnya, dengan sesama manusia bahkan dengan lingkungannya.
Dari pengertian iman yang sempit maupun yang luas, dapatlah dilukiskan
bagaimana kita meningkatkan iman kita, yakni dengan meningkatkan keyakinan
kita serta meningkatkan pengamalan kita terhadap perintah Allah serta
meningkatkan usaha kita menguasai diri sehingga dapat menampilkan diri
yang baik dihadapan Allah dan di tengah-tengah masyarakat.
Mengenai peningkatan taqwa, perlu dipahami pengertian taqwa itu. Kalau
kita tilik Al-Quran maupun As Sunnah, barangkali dapat disampaikan
pengertian, bahwa taqwa itu ialah usaha dan kemampuan seseorang mukmin
dalam rangka mengarungi hidup di dunia ini agar terjaga dirinya dari hambatan
dan godaan hidup duniawi. Hal ini akan terang kita lihat pada ayat 14, 15, 16
dan 17 surat Ali ‘Imran.
Ayat 14 surat Ali ‘Imran menerangkan tentang kecenderungan manusia
kepada kehidupan dunia yang banyak menggoda.
Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-
apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dan jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.
Ayat 15 surat Ali ‘Imran selanjutnya memberi penjelasan dan
menawarkan alternatif yang lebih baik dari sekedar kesenangan dunia ialah
TAQWA, karena akan memberi kebahagiaan yang abadi ialah surga.
Lebih lanjut ayat 16 dan 17 menjelaskan rincian kualifikasi taqwa,
sebagaimana juga dalam ayat lain seperti pada ayat 2 surat Al Baqarah dan
ayat 134 surat Ali Imran, yakni bahwa orang-orang muttaqin adalah orang
yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah, sabar, benar perkataan dan
perbuatan, tekun beribadah, banyak melakukan infaq dan banyak mohon
ampunan Allah di waktu malam hari.
Juga termasuk kualifikasi taqwa seperti tersebut pada ayat 134 surat
Ali ‘Imran ialah orang itu mampu menahan diri dan bersifat pemaaf pada
orang lain.
Dengan kualifikasi taqwa ini, dapat difahami maksud ajakan
peningkatannya ialah dengan meningkatkan keimanan, kesabaran, usaha
berbuat benar, ketekunan beribadah, memperbanyak infaq dan banyak
melakukan mawas diri mohon ampunan Allah. Juga berusaha memperteguh
kemampuan untuk mengendalikan diri dan banyak memaafkan orang lain
yang berbuat salah.
6. Tasawuf Merupakan Puncaknya Iman?
Tanya: Benarkah ilmu tasawuf itu puncaknya beriman kepada Allah?
(M. Suhrawardi, Lgn. No. 8047, Jl. Sei Mesa Kabel no. 22 Banjarmasin).
Jawab: Dalam Al-Quran maupun Hadis tidak kita dapati adanya
keterangan bahwa ajaran tasawuf merupakan puncak dalam beriman kepada
Allah. Hal ini dapat difahami bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang
membicarakan bagaimana cara seseorang untuk dapat mencapai hubungan
yang mesra dengan Allah. Cara yang dilaluinya dengan melalui jenjang
TAKHALLIY, yakni mengosongkan diri dari segala sifat-sifat yang tercela,
kemudian diikuti dengan TAHALLIY, yakni mengisi kembali dengan sifat-
sifat terpuji dan sesudah itu barulah akan mencapai pada TAJALLIY, yakni
merasakan kenyataan Tuhan. Jadi dapat dikatakan bahwa ilmu itu merupakan
upaya olah kerohanian.
Sedangkan iman dari segi pemahaman yang luas meliputi bukan saja
oleh kerohanian tetapi juga pelaksanaan dalam pengamalan. Dalam hal ini
dapat kita lihat pada surat Al Anfal ayat 2, surat As Sajdah ayat 15-18, Surat
At Taubat ayat 71, surat Al Hujarat ayat 15, surat An Nur ayat 62, surat An
Nisa ayat 64, dan masih banyak lagi, yang kalau kita simpulkan bahwa hakikat
iman bukanlah dalam hati yang terwujud dalam amalan kerohanian saja, tetapi
juga menyangkut ekspresi amalan lahiriah hasil kerohanian yang sempurna.
Hal inipun didukung oleh banyak Hadis Nabi, antara lain:
1.Hadis riwayat Bukhari dari Anas:
Artinya: Tidaklah termasuk orang Mukmin di antaramu, sehingga keadaanku
lebih disukainya melebihi kesukaannya kepada bapaknya dan anak dan semua manusia.
(HR. Bukhari dari Anas).
2.Hadis riwayat Ad Dailamy dari Anas:
Artinya: Bukankah iman itu dengan cita-cita saja, tetapi iman itu keyakinan
yang teguh dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan. (HR. Dailamy dari
Anas).
3.Hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Mas’ud:
Artinya: Bukanlah orang Mukmin, orang yang suka mencela dan bukan orang
Mukmin, orang yang suka melaknat dan bukan orang Mukmin orang yang mulutnya
(suka berkata) kotor. (HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud).
Masih banyak lagi hadis yang menunjukkan bahwa iman bukan saja
menyangkut rohaniah tetapi juga menyangkut perbuatan jasmaniah yang
memerlukan kekuatan fisik. Sabda Nabi riwayat Muslim, An Nasaiy dan Ibnu
majah dari Abu Hurairah di bawah ini menunjukkan bahwa orang Mukmin
yang kuat (baik fisik maupun kerohaniannya) lebih baik dan dicintai Allah.
Artinyg: Orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah
daripada orang Mukmin yang lemah … dst. (HR. Muslim, An Nasaiy dan Ibnu
Majah dari Abu Hurairah).
Jadi sukar membenarkan bahwa ajaran tasawuf merupakan puncak
iman. Kita dapat memahami kalau tasawuf yang tidak menyimpang dari Al-
Quran dan As Sunnah dan masih terkait dengan akhlaqul karimah dan i’tiqad
yang benar, itu baik. Tetapi yang mana yang sesuai dengan ajaran Al-Quran
dan As Sunnah itu, perlu pengamatan yang seksama. Sebaiknya kita amalkan
saja apa yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad dengan LAA IFFRATH
WALAA TAFRIETH, artinya tidak kurang dan tidak ditambah-tambah, akan
lebih terjamin iman dan amal kita, seperti pengamalan ayat 63 sampai 77
surat Al Furqan. Juga pengamalan ayat 1 sampai 9 surat Al Mukminun serta
amalan-amalan lain yang diajarkan dalam Hadis sahih yang cukup banyak itu
tentu akan menjamin aqidah, ibadah dan amal salih kita. Lain halnya kalau
kita harus mengikuti ajaran tasawuf yang macam-macam alirannya itu. Yang
tidak kita ketahui mana yang amalannya sesuai dengan maksud Al-Quran dan
As Sunnah. Wallahua’lam. Seperti kita ketahui bahwa dalam tasawuf ada aliran
thariqah antar lain:
a. Qadiriyah, thariqah yang memuliakan Abdul Qadir Al Jaelany (wafat tahun
116 M).
b. Rifa’iyah. Aliran ini didirikan oleh Muhammad Ar Rifa’iy (wafat tahun
1183 M).
c. Sadziliyah. Aliran ini didirikan oleh Abdul Hasan Ali As Sadzily (wafat
tahun 1256 M).
d. Naqsabandiyah. Aliran ini didirikan oleh Muhammad An-Naqsabandy
(wafat tahun 1388 M).
e. Syatariyah. Aliran ini didirikan oleh Abdullah As Syatary (wafat tahun
1417 M).
f. Tijaniyah. Aliran ini didirikan oleh Abdul Abbas Ahmad Bin Muhammad
Bin Mukhtar At Tijany (wafat tahun 1815 M).
g. Sanusiyah. Aliran ini didirikan oleh Muhammad Ali As Sanusy (wafat
tahun 1857 M).
Muhammadiyah tak mendasarkan pengamalan agama sebagaimana
pengamalan aliran-aliran di atas, tetapi Muhammadiyah mengajak untuk
beramal agama sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As Sunnah Nabawiyah
dengan menggunakan fikiran sesuai dengan yang dianjurkan oleh Al-Quran
dan As Sunnah itu. Untuk itu kita selalu mengkaji dan mengkaji ulang terhadap
pemahaman dan pengamalan agama kita, semoga makin sempurna.
7. Tasawuf dan Widhatul Wujud
Tanya: Apakah tasawuf itu? Apakah benar tasawuf itu sebagai puncak
beriman kepada Allah, dan bagaimana tasawuf yang sering membawa pada
wahdiatul wujud? Keduanya menurut saya sukar dibedakan. Mohon dijelaskan.
(M. Suhrawardi, Lgn. No. 8047, Jl. Sei Mesa, Kal-Sel).
Jawab: Tasawuf itu gampangnya ajaran yang berisi cara bagaimana
seseorang dapat mencapai hubungan yang mesra dengan Allah yang Maha
Kekal dan Maha Sempurna. Hubungan itu didasarkan atas cinta (hub) dan
kasih. Dalam kerangka ajaran Islam yang bersumber pada Al-Quran dan As
Sunnah istilah tasawuf itu tidak ada, yang ada ialah ihsan atau akhlakul karimah.
Kalau tasawuf yang kini banyak difahami dan diamalkan oleh sebagian
kaum Muslimin itu tidak menyimpang jauh dari pemahaman Al-Quran dan
As Sunnah dan masih terkait dengan akhlaqul karimah yang memberikan
tuntunan hubungan yang baik, yang menimbulkan sikap yang seharusnya
seseorang sebagai hamba kepada Khaliqnya, dalam suatu pemahaman yang
benar terpadu antara ayat dengan ayat dan ayat dengan Hadis, tentu tidak
akan menjurus pada ajaran yang tidak benar. Tetapi kalau ajaran itu merupakan
suatu interpretasi berdasarkan kecenderungan seseorang sehingga membawa
ajaran itu menyimpang dari ajaran yang benar sesuai dengan pemahaman
yang benar, tentu tasawuf yang demikian bukan tasawuf yang dibenarkan.
Banyak ayat yang terdapat dalam Al-Quran yang memerlukan
interpretasi yang benar. Kalau interpretasinya dalam pemahaman menurut
kecenderungan manusia bukan didasarkan dalil yang kuat akan membawa ke
arah yang tidak benar. Pada hal kecenderungan demikian dapat terjadi sesuai
dengan Firman Allah dalam surat Ali ‘Iman ayat 7 :
Artinya: Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, maka
mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk
mencari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.
Hubungan manusia dengan Allah suatu hal yang menyangkut aqidah,
perlu dasar yang kuat, baik dari Al-Quran maupun Sunnah mutawatirah, yang
keduanya menjadi sumber utama pemahaman dan pelaksanaan yang benar
yang dijamin tidak akan membawa kesesatan.
Artinya: Aku tinggalkan bagimu dua perkara tak akan sesat, selama kamu
berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. (HR. Malik).
Selanjutnya untuk menjaga diri agar terjaga keselamatan amal perbuatan
adalah selalu berkata yang benar, termasuk dalam ajarannya dan selalu menetapi
ketaatannya kepada Allah dan Rasulnya akan mendapatkan kebahagiaan yang
besar.
Kesimpulan, tasawuf Islam yang berkisar pada akhlaqul karimah yang
didasarkan pada Al-Quran dan As Sunnah yang kuat tentu dapat dibenarkan,
sedang yang berdasar pada interpretasi seseorang yang menjurus pada ajaran
yang tidak benar, seperti dengan bacaan tertentu akan menjadikan bertemunya
hamba dengan Khaliqnya atau dengan meminjam istilah “manunggaling kawula
gusti” tentu jauh dari tasawuf Islam di atas.

