putusan
Tanya Jawab Agama 2025 Edisi 13 1 15 Juli Hukum Puasa Ayyamul Bid
Hukum Puasa Ayyamul-Bid
(Disidangkan pada Jum’at, 1 Syakban 1446 H/31 Januari 2025 M)
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum wr wb. Bagaimana hukum puasa ayyamul-bid? Apakah sunah atau
tidak? Sebab dalam HPT tidak disebutkan puasa ayyamul-bid. Sekian dan terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum wr wb
Syahriani Syam
Jawaban:
Wa ‘alaikumus-salam wr wb.
Terima kasih atas pertanyaan yang Saudari ajukan kepada Tim Fatwa Majelis Tarjih dan
Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk diberikan jawabannya. Semoga Saudari
senantiasa berada dalam bimbingan-Nya. Sejauh pengamatan kami, dalam buku Tanya
Jawab Agama (TJA) Jilid 2 halaman 133-134 terdapat pembahasan sekilas mengenai puasa
ayyamul-bid. Puasa ayyamul-bid bahkan telah dibahas pada Muktamar Tarjih XXI tahun
1980 di Klaten Jawa Tengah dan dibahas Kembali pada Musyawarah Nasional XXXI Tarjih
Muhammadiyah tahun 2020, secara daring dari Gresik Jawa Timur. Selain itu, pada website
muhammadiyah.or.id ada pula ulasan fatwa mengenai hal itu dengan judul “Penjelasan
mengenai puasa tiga hari setiap bulan atau ayyamul-bid.” Berikut ini kami uraikan
rangkumannya.
Dalam Islam, ibadah puasa adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh
setiap Muslim yang telah baligh dan berakal sehat, khususnya pada bulan Ramadhan. Puasa
berarti menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa mulai
dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ibadah puasa bukan hanya sekadar menahan
lapar dan dahaga, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan, memperbaiki
hubungan dengan Allah, serta mengasah rasa empati terhadap orang yang kurang mampu.
Selain puasa wajib di bulan Ramadhan, Islam juga mengajarkan berbagai puasa sunah atau
yang disebut dengan puasa tathawwu’. Puasa tersebut terbagi menjadi dua kategori yaitu
yang masyru’ dan yang tidak masyru’. Salah satu puasa tathawwu’ yang masyru’ adalah
puasa ayyamul-bid.
Puasa ayyamul-bid adalah puasa tathawwu’ yang selalu dilaksanakan oleh Rasulullah saw
pada tiga hari putih yakni tanggal 13, 14, dan 15 di setiap bulan Hijriah. Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi sebagai berikut,
َعَن ْ مُوسَى بْن ِ طَلْحَة َ قَال َ سَمِعْت ُ َبَا ذَر ٍّ يَقُول ُ قَال َ رَسُول ُ اهلل ِ صَلَّى اهلل ُ عَلَيْهِ
َوَسَلَّم َ يَا َبَا ذَر ٍِّذَا صُمْت َ مِن َ الشَّهْر ِ ثَلَاثَة َ َيَّام ٍ فَصُم ْ ثَلَاث َ عَشْرَة َ وََرْبَع َ عَشْرَة
وَخَمْس َ عَشْرَة
]رواه الترمذي[
Dari Musa bin Thalhah (diriwayatkan) ia berkata: Saya mendengar Abu Dzar berkata:
Rasulullah saw telah bersabda: Wahai Abu Dzar, apabila kamu menghendaki berpuasa tiga
hari dalam satu bulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14 dan 15 [HR At-Tirmidzi].
Disebutkan juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan disahihkan oleh Ibnu
Hibban sebagai berikut,ْ
َقَال َ َبُو ذَر ٍّ الْغِفَارِي رَضِي َ اهلل ُ عَنْهُ، َمَرَنَا رَسُول ُ اهلل ِ صَلَّى اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ َن
ِنَصُوم َ مِن َ الشَّهْر ِ ثَلَاثَة َ َيَّام ِ الْبِيض ِ ثَلَاث َ عَشْرَة َ وََرْبَع َ عَشْرَة َ وَخَمْس َ عَشْرَة َ قَال
هِي َ كَصَوْم ِ الدَّهْر
]رواه النسائي[
Abu Dzar Al-Ghiffari (diriwayatkan) berkata: Rasulullah saw, menyuruh kepada kita untuk
melakukan puasa setiap bulan tiga hari putih (bulan bersinar cemerlang) yakni pada
tanggal 13, 14 dan 15, dan beliau bersabda: Puasa (tiga hari pada tiap bulan) itu seperti
puasa setahun [HR An-Nasa’i].
Salah satu keutamaan dari puasa ayyamul-bid adalah pahala yang menjanjikan bagi
pelakunya, yang setara dengan pahala berpuasa selama satu tahun penuh. Hal ini
disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Khuzaimah sebagai berikut,ٍ
ِعَن ْ َبِي قَتَادَة َ الْ َنْصَارِي ِّ َن َّ رَسُول َ اهلل ِ صَلَّى اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَالَ: صَوْم ُ ثَلَاثَة ِ َيَّام
مِن ْ كُل ِّ شَهْر ٍ صَوْم ُ الدَّهْر
]رواه ابن خزيمة[
Dari Abu Qatadah Al-Anshary (diriwayatkan) bahwa Rasulullah saw bersabda: Puasa tiga
hari tiap bulan adalah puasa sepanjang masa [HR Ibnu Khuzaimah].
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum melaksanakan puasa
ayyamul-bid adalah sunah sebagaimana hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Semoga
dengan penjelasan di atas dapat memberikan jawaban dari pertanyaan yang Saudari
ajukan, amin. Semoga bermanfaat dan mencerahkan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

