putusan
Tanya Jawab Agama 2026 Edisi 02 Tahiyat Awal dan Bacaan Jahar dalam Shalat Tarawih Empat Rakaat
Tahiyat Awal dan Bacaan Jahar dalam Shalat
Tarawih Empat Rakaat
(Disidangkan pada Jum’at, 6 Jumadilawal 1446 H/8 November 2024 M)
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum wr wb.
Mohon izin, saya mau bertanya soal Tarawih Pak. Ketika Shalat Tarawih yang 11 rakaat
dengan jumlah tiap kali shalat rakaatnya 4-4-3, shalat yang 4 rakaat ada tahiyat awal tidak?
Soalnya saya bingung, ada yang bilang pakai, ada yang bilang tidak ada. Kemudian ketika
shalat yang rakaatnya 4, apakah setiap rakaat bacaannya dijaharkan atau tidak Pak?
Soalnya juga sama ada dua spekulasi pendapat. Mohon penjelasannya dan sumbernya, Pak.
Pertanyaan dari:
Panca Pebriana
Jawaban:
Wassalamu ‘alaikum wr wb.
Terima kasih atas pertanyaan yang Bapak ajukan kepada Tim Fatwa Majelis Tarjih dan
Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Bapak
sudah pernah dibahas dan dijawab, di antaranya dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid 1
halaman 92 dan Tanya Jawab Agama Jilid 6 halaman 64 tentang dalil dan kualitas hadits
Shalat Tarawih 8 rakaat. Pada buku itu disebutkan bahwa ketentuan ini didasarkan pada
hadits riwayat Aisyah ra dengan kualitas sangat kuat. Di samping itu, pada Tanya Jawab
Agama Jilid 9 tentang tahiyat awal shalat sunah empat rakaat, pada intinya dinyatakan
bahwa shalat sunah tersebut dilakukan tanpa tahiyat awal.
Selanjutnya, sebelum menjawab pertanyaan yang Bapak ajukan, perkenankan kami
memaparkan terlebih dahulu definisi Shalat Tarawih kemudian persoalan tahiyat awal dan
bacaan jahar pada Shalat Tarawih dengan formasi 4-4-3.
Dalam buku saku Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan yang diterbitkan oleh Majelis
Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, disebutkan bahwa Qiyamu Ramadhan
(Shalat Tarawih) ialah shalat sunah malam pada bulan Ramadhan. Qiyamu Ramadhan
sebaiknya dikerjakan secara berjamaah, baik di masjid, mushala, ataupun di rumah, dan
dapat pula dikerjakan sendiri-sendiri. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad saw
riwayat Aisyah ra sebagai berikut,
َّعَن ْ عَاɅِشَة َ ُم ِّ الْمȡُْمِنِين َ رَضِي َ اЦ َُّ عَنْهَا َن َّ رَسُول َ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ صَلَّى
ِذَات َ لَيْلَة ٍ فِي الْمَسْجِد ِ فَصَلَّى بِصَلَاتِه ِ نَاسٌ، ثُم َّ صَلَّى مِن َ الْقَابِلَة ِ فَكَثُر َ النَّاسُ، ثُم
اجْتَمَعُوا مِن َ اللَّيْلَة ِ الثَّالِثَة ِ َو ِ الرَّابِعَةِ، فَلَم ْ يَخْرُج ِْلَيْهِم ْ رَسُول ُ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه
َّا
َوَسَلَّمَ، فَلَمَّا َصْبَح َ قَال َ قَد ْ رََيْت ُ الَّذِي صَنَعْتُم ْ وَلَم ْ يَمْنَعْنِي مِن َ الْخُرُوج ِِلَيْكُم ِْل
َنِّي خَشِيت ُ َن ْ تُفْرَض َ عَلَيْكُمْ، وَذَلِك َ فِي رَمَضَان
]رواه البخاري ومسلم[
Dari Aisyah Ummul Mu’minin ra (diriwayatkan), bahwasanya Rasulullah saw pada suatu
malam shalat di masjid. Lalu shalatlah bersama shalatnya (berjamaah) sejumlah orang.
Kemudian orang satu kabilah (dalam jumlah besar) juga ikut shalat, sehingga jumlah
jamaah semakin banyak. Pada malam ketiga atau keempat, para jamaah telah berkumpul,
namun Rasulullah saw tidak keluar ke masjid menemui mereka. Ketika pagi tiba beliau
berkata: “Aku sungguh telah melihat apa yang kalian lakukan (Shalat Tarawih berjamaah).
Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, kecuali sesungguhnya aku
takut, (kalian menganggap) shalat itu diwajibkan atas kalian.” Komentar Aisyah: Hal itu
terjadi di bulan Ramadhan (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Qiyamu Ramadhan (Shalat Tarawih) dikerjakan antara lain dengan cara 4 rakaat, 4 rakaat
tanpa tasyahud awal dan 3 rakaat witir tanpa tasyahud awal, sebagaimana dijelaskan dalam
hadits Nabi Muhammad saw sebagai berikut,
عَن ْ عَاɅِشَة َ قَالَت ْ مَا كَان َ رَسُول ُ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَزِيد ُ فِي رَمَضَان َ وَل َا فِي
َغَيْرِه ِ عَلَى ِحْدَى عَشْرَة َ رَكْعَة ً يُصَلِّي َرْبَعًا فَل َا تَسَل ْ عَن ْ حُسْنِهِن َّ وَطُولِهِن َّ ثُم َّ يُصَلِّي
َرْبَعًا فَل َا تَسَل ْ عَن ْ حُسْنِهِن َّ وَطُولِهِن َّ ثُم َّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْت ُ يَا رَسُول َ اЦ َِّ َتَنَام ُ قَبْل
َن ْ تُوتِر َ فَقَال َ يَا عَاɅِشَة ُِن َّ عَيْنَي َّ تَنَامَان ِ وَل َا يَنَام ُ قَلْبِي
]رواه البخاري ومسلم[
Dari Aisyah (diriwayatkan) ketika ditanya mengenai shalat Rasulullah saw di bulan
Ramadhan, Aisyah menjawab, “Nabi saw tidak pernah melakukan shalat sunah di bulan
Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan
jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian beliau shalat lagi empat
rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat
tiga rakaat” [HR Al-Bukhari dan Muslim].
Qiyamu Ramadhan dapat juga dikerjakan dengan cara 2-2-2-2-2 rakaat dan 1 rakaat witir,
sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad saw sebagai berikut,َ
عَن ْ زَيْد ِ بْن ِ خَالِد ٍ الْجُهَنِي ِّ َنَّه ُ قَال َ لَ َرْمُقَن َّ صَلَاة َ رَسُول ِ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
ِاللَّيْلَةَ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْن ِ خَفِيفَتَيْنِ، ثُم َّ صَلَّى رَكْعَتَيْن ِ طَوِيلَتَيْن ِ طَوِيلَتَيْن ِ طَوِيلَتَيْنِ،
َثُم َّ صَلَّى رَكْعَتَيْن ِ وَهُمَا دُون َ اللَّتَيْن ِ قَبْلَهُمَا، ثُم َّ صَلَّى رَكْعَتَيْن ِ وَهُمَا دُون َ اللَّتَيْن
ًقَبْلَهُمَا، ثُم َّ صَلَّى رَكْعَتَيْن ِ وَهُمَا دُون َ اللَّتَيْن ِ قَبْلَهُمَا، ثُم َّ صَلَّى رَكْعَتَيْن ِ وَهُمَا دُون
اللَّتَيْن ِ قَبْلَهُمَا، ثُم َّ َوْتَر َ فَذَلِك َ ثَلَاث َ عَشْرَة َ رَكْعَة
]رواه مسلم[
Dari Zaid bin Khalid Al-Juhhani (diriwayatkan) ia berkata, “Benar-benar aku akan
mengamati shalat Rasulullah saw. Pada malam ini, beliau shalat dua rakaat khafifatain, lalu
beliau shalat dua rakaat panjang-panjang keduanya, kemudian shalat dua rakaat yang
kurang panjang dari shalat sebelumnya, lalu beliau shalat lagi dua rakaat yang kurang lagi
dari shalat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat yang kurang lagi dari shalat
sebelumnya, lalu beliau shalat lagi dua rakaat yang kurang lagi dari shalat sebelumnya,
kemudian shalat dua rakaat yang kurang lagi dari shalat sebelumnya, dan beliau melakukan
witir (satu rakaat). Demikianlah (shalat) tiga belas rakaat” (HR Muslim).
Berdasarkan kedua hadits di atas, dapat ditegaskan bahwa formasi shalat Tarawih menurut
putusan dan fatwa Tarjih Muhammadiyah adalah 4-4-3 atau 2-2-2-2-2-1. Sedangkan
mengenai apakah dalam pelaksanaan shalat Tarawih dengan formasi 4-4-3 terdapat tahiyat
awal atau tidak, Majelis Tarjih berpendapat, berdasarkan hadits riwayat Aisyah di atas,
bahwa shalat dilakukan tanpa tahiyat awal dan hendaknya bacaan shalat dibaca secara
jahar dalam setiap rakaatnya.
Sepanjang pembacaan kami, setiap shalat yang memiliki tahiyat awal selain shalat wajib
selalu ada dalil khususnya. Artinya, keberadaan praktik tahiyat awal selalu dijelaskan oleh
dalil yang bersifat khusus, bukan sekedar dalil umum untuk shalat wajib yang kemudian
digeneralisasi. Keterangan di atas sejalan dengan prinsip bahwa hukum asal dalam
pelaksanaan ibadah mahda adalah tidak ada (al-aṣlu fī al-‘ibādati al-‘adam), dan sejalan pula
dengan kaidah al-aṣlu fī al-‘ibādati at-tauqīfu wa al-ittibā‘. Makna dari kaidah tersebut
adalah masyrū‘ atau tidaknya satu ibadah harus didasarkan pada dalil khusus, bukan
sekadar dalil umum untuk ibadah wajib yang kemudian digeneralisasi ke ibadah lain yang
hukumnya sunah. Ketika tidak ada dalil yang menjelaskan (dalil al-muṡbit) adanya tahiyat
awal dalam shalat Tarawih empat rakaat, hal tersebut berarti tidak ada tahiyat awal atau
tidak dipraktikkan oleh Nabi saw. Dalam hal ini logika ta‘mīm (generalisasi) bahwa tahiyat
awal adalah aturan umum yang dilakukan di setiap shalat, kecuali shalat khusus yang
mempunyai tata cara berbeda (seperti shalat jenazah) adalah logika yang bertentangan
dengan prinsip hukum asal di atas.
Hal ini seperti dipaparkan oleh Muhamad Rofiq Muzakkir dalam artikel berjudul Tasyahud
Awal dalam Shalat Tarawih Empat Rakaat yang dimuat di Jurnal Tarjih dan Pengembangan
Pemikiran Islam Vol. 12 No. 1 tahun 2014.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa shalat Tarawih dengan formasi 4-4-3
dilakukan tanpa tahiyat awal dan bacaan shalat dibaca jahar.
Demikian jawaban yang dapat kami paparkan, semoga dapat menambah pemahaman
Bapak mengenai tahiyat awal dan bacaan jahar pada shalat Tarawih. Semoga bermanfaat
dan mencerahkan. Amin.
Wallahu a‘lamu bi aṣ-ṣawāb.

