putusan
Tanya Jawab Agama 4 Masalah Penentuan 1 Syawwal
MASALAH PENENTUAN 1 SYAWWAL
-
Penentuan Tanggal 1 Syawwal 1412 H
Tanya: Menurut perhitungan kami untuk kota Lampung, yang
didasarkan pada kitab Sulamun Nayyirain, ijtima’ menjelang tanggal 1
Syawwal 1412 H. Terjadi pada hari Jum’at tanggal 3 April 1992 M
pukul 10.25 dan pada saat Matahari hilal sudah di atas ufuk sekitar 03o
46’ 30". Oleh karena itu tanggal 1 Syawwal 1412 H jatuh pada hari
Sabtu tanggal 4 April 1992 M. Sedangkan menurut Surat Edaran dari
PP Muhammadiyah yang kami terima pertengahan bulan Ramadhan
14121 H, ijtima’ terjadi pada Jum’at tanggal 3 April 1992 M pukul
12.07 WIB dan pada saat matahari terbenam, untuk seluruh wilayah
Indonesia, hilal belum wujud masih di bawah ufuk, sehingga tanggal 1
Syawwal 1412 H, jatuh pada hari Ahad tanggal 5 April 1992 M.
Demikian kami mohon penjelasan (PC Muhammadiyah Sukoharjo,
Lampung Selatan)
Jawab: Mengenai perhitungan ijtima’ dan irtifa’dengan berdasarkan
pada sistem, data dan prosedur perhitungan dalam kitab Sulamun
Nayyirain perlu dijelaskan sebagai berikut: -
Saat terbenam Matahari (gurub) yang dijadikan dasar untuk
menentukan saat terjadinya ijtima’ dan tinggi bulan (irtifa’) ditetapkan
pada jam 6 sore (jam 18.00) waktu setempat bagi semua tempat untuk
sepanjang masa, tanpa memperhatikan perbedaan lintang tempuh,
deklinasi matahari dan koreksi-koreksi lain seperti refraksi. Hal ini sudah
tentu kurang tepat sebab perbedaan lintang, deklinasi dan koreksi-koreksi
tersebut sangat berpengaruh terhadap posisi matahari dan saat terbenam
matahari. -
Berdasarkan penelitian, perhitungan dan data yang terdapat dalam
kitab itu didasarkan pada sistem geosentrik, bukan berdasarkan pada
sistem heliosentrik, sehingga kurang akurat dan hasilnya pun kurang
tepat. Untuk mendapatkan ketetapan harus diadakan penambahan
koreksi-koreksi yang diperlukan. -
Koreksi-koreksi yang dilakukan untuk mendapatkan data saat
terjadinya ijtima’ masih sangat sederhana, di dalamnya tidak dimasukkan
koreksi-koreksi yang sangat perlu seperti daya tarik benda-benda langit
terhadap bulan, sehingga hasil perhitungan pun kurang tepat. Di samping
itu sistem perhitungannya tidak menggunakan sperical trigonometry
(segitiga bola), padahal hal itu sangat diperlukan untuk mencapai
ketepatan. -
Tingkat ketelitian dari data yang disediakan masih rendah, karena
data yang dicantumkan dalam daftar kitab itu merupakan pembulatan-
pembulatan yang kadang-kadang selisihnya cukup besar apabila
dibandingkan dengan data yang terdapat dalam daftar-daftar ephemeris
yang lain. -
Ketinggian bulan (irtifa’) yang diperhitungkan oleh kitab tersebut
dengan menggunakan rumus selisih saat ijtima’ dengan saat terbenam
matahari dikalikan dengan 30’. Sebenarnya bukanlah ketinggian bulan,
melainkan selisih ascensio recta bulan dan matahari pada saat matahari
terbenam (terbenam menurut kitab itu).
Penjelasan hal ini adalah sebagai berikut: dalam peredaran semua
hariannya (peredaran benda langit dari Timur ke Barat sebagai akibat
dari rotasi bumi) bulan selalu tertinggal dari matahari sekita 12o dalam
sehari semalam, atau sekitar 30’ dalam satu jam. Dengan kata lain,
selisih ascensio recta bulan dan matahari terbenam pada jam 18.09,
maka pada saat terbenam matahari tersebut selisih ascensio recta adalah
30o 47’ 30" (18.00 – 10.250) x 30’. Jelaslah bahwa rumus di atas tidak
menghasilkan irtifa’, tetapi selisih ascensio recta bulan dan matahari
pada saat matahari terbenam. Jika rumus di atas digunakan sebagai
rumus untuk mencari irtifa’ bulan maka jelas asal ijtima’ terjadi sebelum
gurub, irtifa’ bulan senantiasa positif (di atas ufuk).
Perlu juga ditegaskan di sini bahwa menurut rumus tersebut, ijtima’
adalah apabila bulan dan matahari mempunyai ascensio recta yang sama.
Hal ini tidak sesuai (konsisten) dengan konsep yang dikemukakan oleh
kitab itu sendiri yang menyatakan bahwa ijtima’ adalah apabila bulan
dan matahari mempunyai longitude yang sama. Padahal ascensio recta
dengan longitude itu berbeda.
Untuk lebih jelasnya keterangan di atas perlu diperhatikan gambar
berikut yang melukiskan posisi bulan dan matahari pada saat terbenam
matahari bagi kota Lampung pada tanggal 3 April 1992.
UFUK SEBELAH BARAT, DILIHAT DARI TIMUR
M = Matahari
B = Bulan
M’-B’ = Selisih ascensio recta bulan dan matahari yang oleh kitab
Sulamun Nayyirain dianggap sebagai irtifa’ bulan, bulan lebih
tinggi dari matahari.
B-B” = Ketinggian/irtifa’ yang sebenarnya dari bulan; bulan masih di
bawah ufuk
M-M’ = Deklinasi matahari
B-B’ = Deklinasi bulan
Untuk menambah penjelasan dan sebagai perbandingan,berikut ini
disajikan hasil perhitungan saat ijtima’ dari berbagai sistem berdasarkan
perhitungan Badan Hisab Rakyat Departemen Agama RI
- Nautical Almanac tanggal 3 April 1992 jam 12.01 WIB
- New Comb tanggal 3 April 1992 jam 12.10 WIB
- Islamic Calendar tanggal 3 April 1992 jam 12.46 WIB
- Hisab Hakiki tanggal 3 April 1992 jam 12.05 WIB
- Khulasatul Wafiyah tanggal 3 April 1992 jam 12.08 WIB
- Qawaidul Falakiyah tanggal 3 April 1992 jam 12.06 WIB
- Fathurraufil Manan tanggal 3 April 1992 jam 12.04 WIB
- Sulamun Nayyirain tanggal 3 April 1992 jam 12.28 WIB
Menurut perhitungan nomor 1 s/d 5 bulan masih di bawah ufuk.

