putusan
Tanya Jawab Agama 9 Bab 1 Al Quran dan Hadis
BAB 1
AL-QUR’AN DAN
HADIS
INKARU SUNAH
Penanya:
Saudara H. Moh. Sopandi, Jl. Kenari II No. 11 Rt. 01/04
Kota Sukabumi
Pertanyaan:
Mohon penjelasan pengertian Inkaru Sunah. Apakah
sebenarnya pengertian tersebut? Apakah penganut Inkaru
Sunah itu termasuk orang murtad, kafir dan sebagainya atau
masih dalam lingkungan Islam? Bagaimana seharusnya
sikap kita terhadap penganut itu kalau sudah tidak menerima
Sunah?
Hal tersebut di atas saya sampaikan karena di Sukabumi
sudah mulai menyebar. Konon kabarnya Inkaru Sunah itu
pusatnya di Jakarta. Dengan demikian kami mohon dengan
hormat agar jawaban dibalas langsung ke alamat saya di
samping dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah, demi
murninya akidah Islam yang didasarkan atas Al-Qur’an dan
Sunah
Jawaban:
Sebelum kami menguraikan jawaban atas pertanyaan
tersebut, perlu kami beri catatan bahwa dalam pertanyaan
tersebut tidak dijelaskan bagaimana praktik-praktik dan
ibadah-ibadah yang dikerjakan oleh penganut Inkaru Sunah
tersebut. Oleh sebab itu kami hanya memberikan keterangan
yang bersifat umum saja.
Untuk menjawab persoalan Inkaru Sunah (pengingkaran
terhadap Sunah), tidak terlepas dari penelusuran sejarah
hukum Islam dari masa sahabat dan sesudahnya. Dalam
sejarah tercatat bahwa ketika Daulah Abbasiyah berkuasa
telah terjadi suatu kondisi yang berbeda dengan masa
sebelumnya, yaitu adanya perbedaan pendapat seputar
kehujahan Sunah, yang intinya mempertanyakan apakah
Sunah masih layak dijadikan sumber utama agama ataukah
tidak.
Generasi sahabat dan tabiin, sepakat menjadikan Sunah
sebagai sumber utama agama dan merujuk kepadanya di
kala tidak memperoleh dalil dari Al-Qur’an. Akan tetapi
setelah umat Islam terpecah ke dalam golongan-golongan,
baik yang berorientasi sosial keagamaan maupun politik, dan
banyaknya hadis palsu, yang ada kalanya untuk memperkuat
keberadaan golongan (mazhabnya), dirasa sangat sulit untuk
menemukan hadis yang benar-benar sahih. Inilah titik awal
meluasnya pintu perbedaan pendapat tentang layak tidaknya
Sunah dijadikan sebagai salah satu sumber utama agama.
Dalam hal ini terdapat tiga kelompok/golongan:
Pertama, golongan yang menolak Sunah secara mutlak.
Mereka berpandangan bahwa Al-Qur’an telah mengatur
segala-galanya.
Kedua, golongan yang hanya menerima hadis mutawatir.
Mencermati dua golongan di atas, jelas mereka dalam
kekeliruan. Untuk golongan pertama, bagaimana mereka
akan shalat atau menunaikan zakat, sementara di dalam
Al-Qur’an hanya menyebut secara umum, sedangkan
perinciannya ada di dalam Sunah. Untuk golongan kedua,
mereka tidak bisa mengetahui di dalam Al-Qur’an adanya
ayat yang khas (khusus) atau ‘am (umum), ayat yang mutlaq
atau muqayyad, padahal hal itu banyak dijelaskan oleh Sunah
yang bukan mutawatirah.
Ketiga, golongan yang mengakui Sunah sebagai sumber
utama agama di samping Al-Qur’an.
Setelah menjelaskan sekilas tentang sejarah, dan kembali
kepada pertanyaan saudara, bahwa Inkaru Sunah itu artinya
mengingkari Sunah sebagai salah satu sumber utama agama.
Apakah mereka masuk kategori muslim, murtad, atau kafir?
Jika masih ada pengakuan syahadat di dalam diri mereka,
maka masih dipandang sebagai muslim. Namun muslim yang
kufur terhadap rukun Islam yang lain, seperti shalat, zakat,
puasa, dan haji yang cara pelaksanaannya dijelaskan oleh
Sunah, yang justru mereka ingkari.
Sikap kita adalah bagaimana bisa berdialog dan
menyadarkan mereka, dengan argumentasi ayat Al-Qur’an
sebagai berikut:
وَمَا ءَاتَاكُم ُ الرَّسُول ُ فَخُذُوه ُ وَمَا نَهَاكُم ْ عَنْه ُ فَانْتَهُوا
.]7 :)59[احلرش (
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia,
dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”
[QS al-Hasyr (59): 7].
*SM, No. 18 tahun ke-89/2004)
ISI BUKU
“NUR MUHAMMAD DAN BERITA DARI
ALAM GHAIB”
Penanya:
Yusuf Shalihin, Cirebon
(disidangkan pada hari Jumat, 21 Rabiulakhir 1427 H /
19 Mei 2006 M)
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Dengan ini saya mohon penjelasan; apakah berdasar
dalil yang kuat, tentang keterangan yang dimuat di dalam
sebuah buku berjudul: Nur Muhammad dan Berita Dari
Alam Ghaib yang ditulis oleh Aqil bil-Qisti, penerbit Tiga
Dua, Surabaya.
Dalam Bab III berjudul Proses Penciptaan Makhluk,
diterangkan bahwa Allah menciptakan sebuah pohon
Yakin yang mempunyai empat cabang. Kemudian Allah
menciptakan Nur Muhammad dari sebuah intan putih
serupa burung merak, lalu burung merak itu membaca
tasbih selama 70.000 tahun. Kemudian Allah menciptakan
cermin kehidupan dan diletakkan di depan burung merak,
lalu burung merak menatap cermin tersebut. Burung merak
itu lalu merasa malu dan meneteskan keringat enam tetes;
dari tetes pertama Allah menciptakan Abu Bakar, tetes kedua
Umar bin Khathab, tetes ketiga Usman bin Affan, tetes
keempat Ali bin Abi Thalib, tetes kelima bunga mawar dan
tetes keenam padi.
Pada halaman selanjutnya diterangkan bahwa adanya
semua makhluk berasal dari Nur Muhammad, sampai Nabi
Adam pun di dahinya ada Nur Muhammad. Untuk itu, kepada
Majelis Tarjih mohon penjelasannya.
Jawaban:
Buku yang saudara baca memang ada dan sudah
beredar di kalangan umum, mungkin juga sudah banyak
orang yang membacanya. Kami pun pernah membaca buku
semacam itu beberapa tahun yang lalu, sekalipun tidak tamat
membacanya. Kalau ditanya apakah ada sumber yang sahih,
kami sangat sulit mencarinya.
Sekalipun demikian, kami tetap berpegang teguh pada
sumber pokok syariat Islam, yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah
al-Maqbulah. Jika cerita tersebut sesuai dengan Al-Qur’an
atau as-Sunnah al-Maqbulah, maka dapat diterima, tetapi
jika bertentangan dengan Al-Qur’an atau as-Sunnah al-
Maqbulah, maka tidak dapat diterima.
Untuk itu, di bawah ini kami kutipkan beberapa ayat
Al-Qur’an yang ada kaitannya dengan penciptaan manusia: ٍ
مِن ْ تُرَاب ٗ خَلَقَه َ - إِن َّ مَثَل َ عِيس َ عِنْد َ اهلل ِ كَمَثَل ِ آدَم1
.]59 :)3[ال عمران ( ُ كُن ْ فَيَكُون ٗ لَه َ ثُم َّ قَال
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah
seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari
tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: Jadilah
(seorang manusia), maka jadilah dia” [QS Ali Imran (3): 59]. ٌ
- هُو َ الَِّي خَلَقَكُم ْ مِن ْ طِني ٍ ثُم َّ قَض َٓ أَجَل ً وَأَجَل 2
.]2 :)6[األنعام ( َ ثُم َّ أَنْتُم ْ تَمْتَُوْن ٗ مُسَم ًّ عِنْدَه
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah
itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu
ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah yang
mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang
berbangkit itu)” [QS al-An’am (6): 2]. ْ
أَكَفَرْت َ بِالَِّي خَلَقَك َ مِن ٓؐ وَهُو َ يَُاوِرُه ؐ صَاحِبُه َؐ - قَال َ ل 3
.]37 :)18[الكهف (ً تُرَاب ٍ ثُم َّ مِن ْ نُطْفَة ٍ ثُم َّ سَوَّاك َ رَجُل
“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang
dia bercakap-cakap dengannya: Apakah kamu kafir kepada
(Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki
yang sempurna?” [QS al-Kahfi (18): 37]. ٌَ
رشَ أَن ْ خَلَقَكُم ْ مِن ْ تُرَاب ٍ ثُم َّ إِذَآ أَنْتُم ْ ب ؑ - وَمِن ْ آيَاتِه4
.]20 :)30[الروم ( َ ُِوْنرشتَنْتَ
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia
menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu
(menjadi) manusia yang berkembang biak” [QS ar-Rum
(30): 20]. ْ
- هُو َ الَِّي خَلَقَكُم ْ مِن ْ تُرَاب ٍ ثُم َّ مِن ْ نُطْفَة ٍ ثُم َّ مِن5 َّ
عَلَقَة ٍ ثُم َّ يُْرِجُكُم ْ طِفْل ً ثُم َّ لَِبْلُغُوٓا أَشُدَّكُم ْ ثُم
لَِكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُم ْ مَن ْ يُتَوَف َّ مِن ْ قَبْل ُ وَلَِبْلُغُوٓا
.]67 :)40[املؤمن ( َ أَجَل ً مُسَم ًّ وَلَعَلَّكُم ْ تَعْقِلُون
“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari
setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian
dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian
(kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa
(dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai
tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu.
(Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal
yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)” [QS
al-Mu'min (40): 67]. ٍْ
نيِ -أَلَم ْ نَْلُقْكُم ْ مِن ْ مَآء ٍ مَهِني ٍ فَجَعَلْنَاه ُ ف ِ قَرَار ٍ مَك 6
.]22-20 :)77ت (ل[املرس ٍ إِل َ قَدَر ٍ مَعْلُوْم
“Bukankah kami menciptakan kamu dari air yang hina (air
mani)? Kemudian kami letakkan dia dalam tempat yang
kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan” [QS al-
Mursalat (77): 20-22].
Penjelasan:
Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia
diciptakan dari tanah, kemudian dari nutfah, termasuk juga
para khalifah yang empat; Abu Bakar bin Abi Qahafah r.a.,
Umar bin Khathab r.a., Usman bin Affan r.a., dan Ali bin
Abi Thalib r.a.. Penjelasan tersebut diungkapkan pula pada
ayat-ayat lainnya, seperti: an-Nisa (4): 1, an-Nahl (16): 4,
an-Nur (24): 45, al-Furqan (25): 54, ar-Rahman (55): 14 dan
15, al-Qiyamah (75): 38, al-‘Alaq (96): 2, al-Isra’ (17): 61,
al-A‘raf (7): 12, Shad (38): 76, al-Hijr (15): 33, Fathir (35):
11, al-Mu’minun (23): 12 dan 14, al-Insan (76): 2, Yasin
(36): 77, ash-Shaffat (37): 11, as-Sajdah (32): 7, ath-Thariq
(86): 6, dan al-Hijr (15): 28.
Dikarenakan Al-Qur’an adalah sumber pokok yang wajib
diyakini kebenarannya, maka kami berpendapat bahwa apa
yang dijelaskan oleh Al-Qur’an itulah yang benar, sedang apa
yang diberitakan oleh buku yang saudara baca itu tidak benar.
*SM, No. 23 tahun ke-91/2006)

