putusan
Tanya Jawab Agama 9 Bab 12 Zikir Doa dan Shalawat
BAB 12
ZIKIR, DOA DAN
SHALAWAT
HUKUM ZIKIR BERJAMAAH (1)
Penanya:
Suratman, Pelanggan SM No. 200002801
Bangilan, Tuban, Jawa Timur
Pertanyaan:
Apakah zikir berjamaah dibawah seorang pemandu,
adakah disyariatkan dalam Islam? Mohon penjelasan! Terima
kasih.
Jawaban:
Masalah yang saudara tanyakan itu, sebenarnya bukan
soal baru. Zikir berjamaah sudah lama berkembang dalam
masyarakat kaum muslimin. Hanya pada akhir-akhir ini ia
begitu populer karena sudah dikemas sedemikian rupa yang
disertai dengan busana putih-putih, berkopiah putih, atau
bersurban, dan dipandu oleh seseorang yang dianggap ‘alim,
mempunyai suara yang merdu, dan berpenampilan menarik.
Praktik zikir tersebut lalu ditayangkan oleh media elektronik
yang ditonton oleh para pemirsa dan juga media cetak. Untuk
menguatkan keabsahan zikir berjamaah itu, disusun pula
buku panduan dengan mengutip sejumlah hadis-hadis Nabi
saw. yang bersifat umum tentang zikir.
Menurut pengamatan pengasuh rubrik ini, zikir
berjamaah seperti itu sudah terstruktur kaifiatnya sedemikian
rupa yang tidak kita jumpai dalam praktik Nabi saw., para
sahabat, dan ulama salaf. Sebagaimana kita ketahui bahwa
kata “zikir” baik yang ada dalam Al-Qur’an atau dalam
hadis-hadis bersifat umum yang memerlukan penafsiran
sesuai dengan konteksnya masing-masing. Itulah sebabnya,
maka zikir itu ada tiga macam, seperti dikatakan oleh ar-Razi
dalam kitab tafsirnya: ِ
ِّكْر ُ فَقَد ْ يَكُوْن ُ بِاللِّسَان ِ وَقَد ْ يَكُوْن ُ بِالْقَلْبلأَمَّا ا
وَقَد ْ يَكُوْن ُ بِالَْوَارِحِ.
“Adapun zikir itu kadang kala dengan lidah, kadang kala
dengan hati, dan kadang kala dengan anggota tubuh.”
Berzikir dengan lidah seperti memuji Allah, bertasbih dan
membaca Al-Qur’an. Berzikir dengan hati memikirkan dalil-
dalil tentang Zat Tuhan, sifat-sifat-Nya, serta memikirkan
pula dalil-dalil yang menunjukkan bebanan-bebanan (taklif)
dari Allah, hukum-hukum-Nya, perintah-perintah-Nya,
serta larangan-larangan-Nya, janji dan ancaman-Nya, juga
memikirkan rahasia-rahasia ciptaan Allah swt..
Adapun zikir yang mencakup ketiga macam, yaitu zikir
hati, zikir lisan, dan anggota tubuh, ialah ibadah shalat lima
waktu. Pengertian zikir dalam firman Allah QS al-Baqarah
(2): 152; ْ فَاذْكُرُون ِ أَذْكُرْكُم yang artinya; “Karena itu, ingatlah
(berzikirlah) kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (zikir) pula
kepadamu”, adalah mempunyai cakupan yang luas sekali,
yaitu ada sepuluh macam (lihat Tafsir Mafatihul-Ghaibi
karangan ar-Razi pada waktu dia menafsirkan potongan ayat
tersebut di atas).
Pengertian zikir dalam hadis riwayat Muslim dari Abu
Sa‘id al-Khudri walaupun mengarah kepada zikir lisan, juga
masih bersifat umum. Kalau pengertian zikir di situ mau
dibawa kepada zikir lisan berjamaah, maka harus mengerti
tentang kaifiatnya apakah diterangkan oleh Nabi saw., tidak
boleh menurut hasil ijtihad kita semata-mata.
Dikatakan oleh Imam asy-Syafi‘i di dalam Kitab al-
Umm, seperti dikutip Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy
dalam bukunya Koleksi Hadits-hadis Hukum juz 4 halaman
215-216, sewaktu asy-Syafi‘i mengomentari hadis riwayat
al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud dari sahabat Ibnu
Abbas, bahwa asy-Syafi‘i mengutarakan supaya para imam
dan makmum berzikir sesudah shalat dengan suara yang
pelan (tidak keras), kecuali bila imam menghendaki supaya
zikir itu dipelajari oleh makmum. Di kala demikian barulah
zikir itu dikeraskan, dan setelah dirasakan (diperkirakan)
makmum sudah mengetahui (hafal), maka kembali lagi zikir
itu dibaca pelan. Asy-Syafi‘i berpendapat bahwa Nabi saw.
mengeraskan zikir seketika saja (tidak terus menerus) untuk
dipelajari oleh para sahabat.
Dari uraian singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa kalau berzikir itu sekedar ingin mengajarkan orang,
maka diperbolehkan dengan suara keras. Sebahagian
besar ulama salaf memakruhkan bahkan mengharamkan
berzikir dengan suara keras, dengan alasan Nabi saw. tidak
menuntunkan seperti itu. Memang ada segolongan kecil
ulama yang membenarkan zikir berjamaah dengan suara
keras, tapi disertai dengan sejumlah syarat yang ketat.
Menurut pengasuh rubrik ini, jalan yang terbaik yang
harus kita tempuh adalah tidak melakukan zikir berjamaah
dengan suara keras, kecuali sekedar untuk mengajar para
jamaah. Kita jauhi hal-hal yang tidak dipraktikkan oleh Nabi
saw. dalam soal ibadah, agar kita tidak terjerumus ke dalam
kancah perbuatan bid‘ah yang sangat dicela oleh agama.
*SM, No. 11 tahun ke-90/2005)
HUKUM ZIKIR BERJAMAAH (2)
Penanya:
Muh. Sungkilang Wala’,
Jl. Merdeka Jurusan BTN Merdeka, Depan Blok A 1
Palopo 91921
Pertanyaan:
Masjid-masjid se-Kota Palopo tahun ini sudah dijadikan
program kota sebagai kota religi, mengadakan zikir bersama
setiap malam Jumat antara magrib dan isya atas prakarsa
aktifis pengurus PD Muhammadiyah yang pada dua
atau tiga tahun terakhir menjadi salah seorang Pembantu
Walikota Palopo. Zikir bersama itu dilaksanakan dengan cara
berkumpul pakai hitungan 100 x, pakai imam dan makmum,
dengan suara bersama dan keras, dengan zikir tertentu yang
sudah disusun dan dibukukan.
Saya sebagai imam di suatu masjid dengan beberapa
anggota jamaah menganggap bid‘ah, sehingga pada masjid
tersebut, pelaksanaan zikir bersama itu tidak kontinyu
dan sepi-sepi sehingga pemrakarsa tersebut mengedarkan
undangan secara tertulis untuk makmum dan menunjuk imam
khusus dari luar setiap sebelum malam Jumat dan imam
zikir diberi uang transport. Untuk kemurnian agama, saya
tanyakan kepada Majelis Tarjih Muhammadiyah, bagaimana
hukum atau kedudukan zikir bersama itu? Boleh saya lakukan
atau tidak? Mohon jawaban atau uraian tentang zikir bersama,
karena pendapat Majelis Tarjihlah yang akan saya pedomani.
Catatan: Saya anggap bid‘ah, berdasarkan buku yang
saya baca yaitu buku tanya jawab oleh A. Hasan hal. 739,
Buku Keharaman Bid‘ah (terjemahan) karangan penasihat
Masjid Nabawi, Madinah, dll.
Akhirnya, semoga mendapat jawaban secepatnya.
Jawaban:
Sebelum kami jelaskan secara rinci, maka perlu kami
kutipkan terlebih dahulu ayat-ayat dan hadis-hadis tentang
zikir, sehingga saudara dapat dengan mudah memahami
dalil-dalilnya; ِ
الَِّين َ ءَامَنُوا وَتَطْمَئ ُِّ قُلُوبُهُم ْ بِذِكْر ِ اهلل ِ أَال َ بِذِكْر -1
.]28 :)13[الرعد ( ُ اهلل ِ تَطْمَئ ُِّ الْقُلُوب
[األحزاب يَاأَيُّهَا الَِّين َ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اهلل َ ذِكْرًا كَثِريًا -2
.]41 :)33( ِ
وَاذْكُر ْ رَبَّك َ ف ِ نَفْسِك َ تَضَُّع ً وَخِيفَة ً وَدُون َ الَْهْر -3 َ
ْصَال ِ وَال َ تَكُن ْ مِن َ الْغَافِلِنيآلمِن َ الْقَوْل ِ بِالْغُدُو ِّ وَا
.]205 :)7[األعراف ( ِ
عَن ْ أَب ِ مُوس َ قَال َ كُنَّا مَع َ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه -4 ِ
َّكْبِريلوَسَلَّم َ ف ِ سَفَر ٍ فَجَعَل َ انلَّاس ُ يَْهَرُون َ بِا
فَقَال َ انلَّب ُِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ أَيُّهَا انلَّاس ُ ارْبَعُوا
ع ََ أَنْفُسِكُم ْ إِنَّكُم ْ لَيْس َ تَدْعُون َ أَصَم َّ وَال َ غَئِبًا
[رواه إِنَّكُم ْ تَدْعُون َ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُو َ مَعَكُم ْ ...
.]2704/44 كر:لمسلم، كتاب ا ِ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه -5 ِ
وَسَلَّم َ يَقُول ُ اهلل ُ عَز َّ وَجَل َّ أَنَا عِنْد َ ظَن ِّ عَبْدِي ب ُ
وَأَنَا مَعَه ُ حِني َ يَذْكُرُن ِ إِن ْ ذَكَرَن ِ ف ِ نَفْسِه ِ ذَكَرْتُه ٌْ
ريَهُم ْ خ ٍَ لَ ٍَ ذَكَرْتُه ُ ف ِ م لَ ف ِ نَفْس ِ وَإِن ْ ذَكَرَن ِ ف ِ م ْ
مِنْهُم ْ وَإِن ْ تَقَرَّب َ مِن ِّ شِبًْا تَقَرَّبْت ُ إِلَْه ِ ذِرَاع ً وَإِن ِ
تَقَرَّب َ إِل ََّ ذِرَاع ً تَقَرَّبْت ُ مِنْه ُ بَاع ً وَإِن ْ أَتَان ِ يَمْش
.]2675/2 كر:ل[رواه مسلم، كتاب ا ً أَتَيْتُه ُ هَرْوَلَة َ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ عَن ْ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم -6 ً
لَئِكَة ً سَيَّارَة ً فُضُلَ قَال َ إِن َّ ِهلل ِ تَبَارَك َ وَتَعَال َ م ٌ
ِّكْر ِ فَإِذَا وَجَدُوا مَْلِسًا فِيه ِ ذِكْرليَتَتَبَّعُون َ مََالِس َ ا َّ
قَعَدُوا مَعَهُم ْ وَحَف َّ بَعْضُهُم ْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِم ْ حَت
َْ السَّمَاء ِ ادلُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا نييَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُم ْ وَبَ
كر:ل[رواه مسلم، كتاب ا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِل َ السَّمَاء ِ ...
.]2689/25 ِ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه -7
218Tanya Jawab Agama 9 َ
وَسَلَّم َ ... وَمَا اجْتَمَع َ قَوْم ٌ ف ِ بَيْت ٍ مِن ْ بُيُوت ِ اهلل ِ يَتْلُون ُ
كِتَاب َ اهلل ِ وَيَتَدَارَسُونَه ُ بَيْنَهُم ْ إِال َّ نَزَلَت ْ عَلَيْهِم ُ
َئِكَةلالسَّكِينَة ُ وَغَشِيَتْهُم ُ الرَّحَْة ُ وَحَفَّتْهُم ُ الْمَ
كر:ل[رواه مسلم، كتاب ا وَذَكَرَهُم ُ اهلل ُ فِيمَن ْ عِنْدَه ُ ...
.]2699/38
- (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram [QS ar-Ra‘d (13): 28]. - Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan
menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya
[QS al-Ahzab (33): 41]. - Sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak
mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai [QS
al-A‘raf (7): 205]. - Dari Abu Musa, [diriwayatkan] ia berkata: Kami pernah
bersama Nabi saw. dalam suatu perjalanan. Kemudian
orang-orang mengeraskan suara dalam bertakbir. Lalu
Nabi saw. bersabda: Hai manusia, kecilkanlah suaramu,
sebab kamu tidak berdoa kepada orang yang tuli dan
jauh, melainkan kamu berdoa kepada Yang Maha
Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia bersamamu …
[HR Muslim, Kitab az-Zikr, No. 44/2704]. - Dari Abu Hurairah, [diriwayatkan] ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Allah Yang Maha Perkasa
lagi Maha Agung berfirman: Aku adalah menurut
sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya
ketika ia berzikir (dengan menyebut nama)Ku. Jika ia
mengingat Aku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya
dalam diri-Ku, dan jika ia menyebut nama-Ku dalam
sekelompok manusia, maka Aku menyebutnya dalam
sekelompok manusia yang lebih baik dari mereka. Jika
ia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku mendekatinya
sehasta, jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku
mendekatinya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan
berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil
[HR Muslim, Kitab az-Zikr, No. 2/2675].
6. Dari Abu Hurairah, [diriwayatkan] dari Nabi saw. beliau
bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Pemberi
berkah dan Maha Tinggi mempunyai malaikat-malaikat
yang memiliki mobilitas tinggi dan kelebihan yang
selalu mengikuti majelis-majelis zikir. Apabila mereka
menemukan majelis yang di dalamnya terdapat kegiatan
zikir, mereka duduk bersama para anggota majelis, dan
mereka mengelilinginya dengan sayap mereka, sehingga
mencakup semua apa yang ada di antara mereka dan langit
dunia. Apabila orang-orang yang berzikir telah bubar,
maka para malaikat naik dan mendaki ke langit … [HR
Muslim, Kitab az-Zikr, No. 25/2689].
7. Dari Abu Hurairah, [diriwayatkan] ia berkata: Rasulullah
saw. bersabda: Setiap ada kaum di suatu rumah (masjid)
dari rumah-rumah Allah dengan membaca kitab Allah (Al-
Qur’an) dan mempelajarinya, pasti turun kepada mereka
ketenteraman dan tertumpah kepada mereka rahmat Allah,
dan dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah mengingat
mereka yang ada di dalam majelis … [HR Muslim, Kitab
az-Zikr, No. 38/2699].
Penjelasan:
Demikianlah ayat dan hadis yang dapat kami kutip.
Sebenarnya ayat yang menyebutkan zikir dalam Al-Qur’an
tidaklah sedikit, kurang lebih 293 ayat, tetapi tiga ayat yang kami
kutip sudah representatif, demikian pula hadis-hadis tersebut.
Ayat pertama [ar-Ra‘d (13): 28] dan ayat kedua [al-
Ahzab (33): 41], mengandung perintah agar memperbanyak
berzikir kepada Allah swt.. Dimaksudkan dengan zikr ialah
menyebut lafal-lafal jalalah, seperti Subhana Allah, alhamdu
Lillah, Allahu Akbar, La Haula wa la Quwwata illaa Billah,
membaca shalawat, membaca Al-Qur’an dan lafal jalalah
lainnya. Al-Fakhr ar-Razi membagi zikir menjadi tiga
macam: zikir dengan lisan, yaitu menyebut nama Allah
atau lafal jalalah; zikir dengan hati, yaitu memikirkan dan
merenungkan keagungan Allah, rahasia penciptaannya,
dan sebagainya; dan zikir dengan anggota badan, seperti
mendirikan shalat, sedekah, beramal saleh, dan sebagainya.
Para ahli tasawuf memerinci sebagai berikut: Bahwa
zikir ada tujuh macam: zikir dengan mata, zikir dengan
telinga, zikir dengan lisan, zikir dengan kedua tangan, zikir
dengan badan, zikir dengan hati, zikir dengan ruh (jiwa). [as-
Shan‘aniy, 1960, IV: 214]. Zikir yang paling utama adalah
zikir dengan ketiga-tiganya; dengan lisan, hati dan anggota
badan. Zikir semacam inilah yang paling utama dan paling
sempurna. Artinya bahwa zikir dengan hati saja atau dengan
lisan saja adalah boleh, dan semuanya harus dilakukan
dengan ikhlas. Itulah yang dapat melahirkan ketenteraman,
sebagaimana disebutkan pada ayat 28 surah ar-Ra‘d di atas.
Ayat ketiga [al-A‘raf (7): 205], menegaskan agar zikir
tersebut dilakukan dengan cara merendahkan diri, rasa takut
dan dengan suara yang lembut, tidak keras, secara kontinyu,
pagi dan sore. Ayat tersebut dengan tegas melarang berzikir
dengan suara keras, sebab suara keras akan mengganggu
orang lain dan menghilangkan kekhusyukan. Oleh karena
itulah Rasulullah saw. memperingatkan para sahabat yang
berzikir dengan suara keras, sebagaimana disebutkan dalam
hadis yang diriwayatkan Muslim, dari Abu Musa (No. 4).
Hadis No. 5 yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Abu
Hurairah, juga hadis No. 6 dan hadis No. 7, memberikan
informasi bahwa Allah swt. menugaskan para malaikat
berkeliling mengikuti majelis zikir, dan apabila malaikat
menemukan majelis zikir mereka akan melindunginya dengan
sayapnya hingga selesai, dan Allah akan menganugerahkan
rahmat-Nya kepada majelis zikir tersebut.
Tiga hadis tersebut (hadis No. 5, 6, dan 7) memberikan
pengertian bahwa berzikir bersama dalam satu majelis adalah
sangat baik (tanpa imam dan makmum), dan harus sesuai
dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunah sebagai berikut:
- Dilakukan dengan khusyuk dan rasa takut.
- Dilakukan dengan suara halus, tidak kedengaran orang
lain, tidak dengan berteriak-teriak, menangis dengan
histris, menggeleng-gelengkan kepala dan sebagainya,
sehingga tidak mengganggu orang lain. Sebab Allah swt.
adalah Maha Mendengar dan Maha Dekat. - Dilakukan dengan ikhlas, bukan karena untuk mencari
popularitas, keduniaan dan sebagainya yang melanggar
ketentuan Al-Qur’an dan Sunah.
Dengan demikian zikir yang dilakukan di daerah saudara
harus diluruskan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan
Sunah.
*SM, No. 11 tahun ke-90/2005)
HUKUM ZIKIR BERSAMA DI TELEVISI
Penanya:
Luqman Amiruddin Syarif
(disidangkan pada hari Jumat, 24 Zulqa’dah 1427 H / 15
Desember 2006 M)
Pertanyaan:
Sekarang sedang ngetrend zikir bersama yang dipandu
seorang dai dan disiarkan TV. Bagaimana hukum majelis
zikir itu? Apakah termasuk bid’ah?
Jawaban:
Mengenai zikir bersama (berjamaah) dengan
mengeraskan suara, apalagi disiarkan oleh TV, hal itu menjadi
perselisihan pendapat di kalangan ulama. Sebahagian
ulama memakruhkan bahkan mengharamkan zikir yang
cara pelaksanaannya seperti itu, dengan alasan berlawanan
dengan isi firman Allah swt. dalam surah al-A’raf ayat 205
dan hadis yang diriwayatkan Muslim dari Abu Musa r.a.,
serta tidak pernah dilakukan Rasulullah saw., di samping juga
mengganggu konsentrasi orang yang sedang shalat misalnya.
Dalam surah al-A’raf ayat 205, Allah swt. berfirman: َ
وَاذْكُر ْ رَبَّك َ ف ِ نَفْسِك َ تَضَُّع ً وَخِيفَة ً وَدُون َ الَْهْر ِ مِن
َ تَكُن ْ مِن َ الْغَافِلِنيَ. الَْصَال ِ وآلالْقَوْل ِ بِالْغُدُو ِّ وَا
“Sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan
diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di
waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-
orang yang lalai” [QS al-A’raf (7): 205].
Di dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Musa r.a.,
Rasulullah saw. bersabda: َ
أَيُّهَا انلَّاس ُ إِرْبَعُوْا ع ََ أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُم ْ لَيْس َ تَدْعُوْن
أَصُم َّ وَال َ غَئِبًا، إِنَّكُم ْ تَدْعُوْن َ سَمِيْعًا قَرِيْبًا وَهُو َ مَعَكُمْ.
“Hai manusia, kecilkan suaramu, sebab kamu tidak menyeru
kepada orang yang tuli dan jauh, melainkan kamu menyeru
kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia
bersamamu” [HR. Muslim].
Dalam sebuah hadis lain yang sudah begitu terkenal
diterangkan, di antara orang yang mendapat naungan Allah
dari terik panas matahari di hari kiamat ialah orang yang
berzikir kepada Allah dalam keadaan sunyi sepi sehingga
mengalir air matanya. Imam asy-Syafi‘i dalam kitab
“al-Umm“ juz I halaman 150 menyatakan yang artinya:
“Saya mengutamakan para imam dan makmum berzikir
sesudah shalat dengan suara pelan, kecuali apabila imam
menghendaki supaya zikirnya itu dipelajari makmum. Di
kala yang demikian itu barulah zikir dikeraskannya. Tetapi
setelah dirasakan bahwa makmum telah mengetahui (hafal),
maka kembali lagi zikir itu dibaca pelan”.
Adapun alasan yang dipergunakan Imam asy-Syafi‘i,
yaitu surah al-Isra’ ayat 110: ُ
َْسْمَاءألقُل ِ ادْعُوا اهلل َ أَو ِ ادْعُوا الرَّحَْن َ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَه ُ ا َْ
نيَ َ تَُافِت ْ بِهَا وَابْتَغ ِ ب الَ َ تَْهَر ْ بِصَلَتِك َ و الَ ُْسْن َ وحلا
ذَلِك َ سَبِيلً.
“Katakanlah: Serulah Allah atau serulah ar-Rahman,
dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai al-
Asmaa-al-Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah
kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah
pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara
kedua itu”. [QS. al-Isra’ (17): 110]
Sementara itu ada sebahagian ulama yang membolehkan
zikir berjamaah dengan suara keras, berargumentasi dengan
beberapa hadis yang sebenarnya bersifat umum tidak
menerangkan tentang kaifiatnya dibaca keras.
Menurut Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan
Pusat Muhammadiyah, cara terbaik bagi kita adalah kembali
kepada praktik yang dilakukan Nabi saw. dan ulama salaf,
yaitu secara pelan-pelan dan dilakukan sendiri-sendiri. Hal
ini karena zikir itu adalah ibadah, maka jangan dimasukkan
rekayasa pikiran dan model-model yang tidak ada tuntunan
kaifiatnya.
*SM, No. 03 tahun ke-92/2007)
CARA MENGHITUNG ZIKIR TASBIH,
TAHMID DAN TAKBIR
Penanya:
HM. Soeboer, NBM. 725.192, Malang
Pertanyaan:
Mohon penjelasan tentang cara menghitung zikir setelah
shalat wajib dalam membaca tasbih, tahmid dan takbir yang
masing-masing 33 kali.
- Apakah cara menghitungnya dengan (jari-jari) tangan
kanan saja? - Apakah boleh menghitung dengan (jari-jari) tangan kiri?
Jawaban:
Mengenai bacaan tasbih (Subhanallah), tahmid
(Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar), yang dibaca
masing-masing 33 kali setelah shalat wajib, dalilnya ialah
hadis: ْ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ عَن ْ رَسُول ِ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مَن
َثًالَ َثِني َ وَحَِد َ اهلل َ ثلَ َثًا وَثلَ َة ٍ ثلَ سَبَّح َ اهلل َ ف ِ دُبُر ِ ك ُِّ ص َ
َثِني َ فَتْلِك َ تِسْعَة ٌ وَتِسْعُونلَ َثًا وَثلَ َثِني َ وَكَب ََّ اهلل َ ثلَ وَث َُ
َِيك َ ل َُ لرش َ وَقَال َ تَمَام َ الْمِائَة ِ ال َ إِل ََ إِال َّ اهلل ُ وَحْدَه ُ ال ُ
َْمْد ُ وَهُو َ ع ََ ك ُِّ شَْء ٍ قَدِير ٌ غُفِرَت ْ خَطَايَاهحلالْمُلْك ُ وَل َُ ا
.د]ح[رواه مسلم وأ ِ َْحْربلوَإِن ْ كَنَت ْ مِثْل َ زَبَد ِ ا
“Dari Abu Hurairah r.a., [diriwayatkan] dari Rasulullah
saw. beliau bersabda: Barangsiapa bertasbih 33 kali pada
setiap selesai mengerjakan shalat, bertahmid 33 kali dan
bertakbir 33 kali; itu semua berjumlah 99 kali, kemudian
sabda Rasulullah saw.: Untuk sempurna menjadi seratus
(bacalah): Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah lahul-
mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir,
maka dosanya diampuni oleh Tuhan meskipun sebanyak buih
di laut” [HR Muslim dan Ahmad].
Hadis di atas hanya menganjurkan agar kaum muslimin
membaca tasbih, tahmid, dan takbir setiap selesai shalat
masing-masing 33 kali, sehingga berjumlah 99 kali dan
disempurnakan 100 kali dengan membaca “Laa ilaaha
illallah wahdahu laa syariikalah lahul-mulku wa lahul-
hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir”. Tidak diterangkan
bagaimana cara menghitung jumlah apa yang dibaca itu.
Dari hal ini dipahami bahwa Rasulullah saw. menyerahkan
cara-caranya kepada kaum muslimin untuk memilih cara
yang baik menurut mereka, sehingga dapat menambah
kekhusyukan mereka.
Sebahagian kaum muslimin meniru cara menghitung
yang dilakukan oleh umat Hindu, umat Budha dan umat
Nasrani, yaitu dengan menggunakan rosario yang oleh
sebahagian kaum muslimin disebut ‘tasbih’. Cara ini tidak
dilarang oleh agama Islam. Namun sebagian kaum muslimin
ingin menunjukkan kepribadian (identitas diri) mereka
dengan menggunakan jari-jari tangan untuk menghitungnya.
Mereka beralasan dengan perintah Rasulullah saw. agar
kaum muslimin menampakkan identitas diri mereka sebagai
seorang muslim, tidak ikut-ikutan dan tidak meniru-niru
yang dilakukan umat lain, sebagaimana dipahami dari sabda
beliau: َ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ أَنَّه ُ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ إِن َّ الَْهُود
.[رواه ابلخاري ومسلم] ْ وَانلَّصَارَى ال َ يَصْبِغُون َ فَخَالِفُوهُم
“Dari Abu Hurairah r.a., [diriwayatkan] bahwa Nabi saw.
bersabda: Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani
tidak menyemir rambut mereka, maka bedakanlah dirimu
dengan mereka (dengan menyemir rambutmu)” [HR al-
Bukhari dan Muslim].
Dalam menggunakan jari-jari tangan untuk menghitung
bacaan tasbih, tahmid, takbir dan bacaan zikir yang lain sesuai
dengan yang diajarkan Rasulullah saw., maka sebahagian
kaum muslimin lebih suka menggunakan jari-jari tangan
kanan dibanding dengan menggunakan jari-jari tangan kiri.
Mereka beralasan dengan anjuran Rasulullah saw.: ُ
عَن ْ عَئِشَة َ قَالَت ْ كَن َ انلَّب ُِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يُعْجِبُه
[رواه ِ َّيَمُّن ُ ف ِ تَنَعُّلِه ِ وَتَرَجُّلِه ِ وَطُهُورِه ِ وَف ِ شَأْنِه ِ كُِّهلا
.ابلخاري]
“Dari Aisyah [diriwayatkan] ia berkata: Adalah Nabi saw.
suka mendahulukan yang kanan ketika mengenakan sandal,
ketika menyisir rambut, ketika bersuci, dan pada semua
keadaan.” [HR. al-Bukhari].
Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam
Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyetujui pendapat
terakhir ini, yaitu menganjurkan agar menggunakan yang
kanan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang diridlai
Allah swt., termasuk menghitung bacaan zikir seperti yang
diterangkan di atas. Perlu kami tambahkan bahwa dalam
surah Yasin ayat 65 disebutkan: ْ
أَفْوَاهِهِم ْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِم ْ وَتَشْهَد ُ أَرْجُلُهُم ََٰٓ ع ُ الَْوْم َ نَْتِم
.]65 :)36[يس ( َ بِمَا كَنُوا يَكْسِبُون
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah
kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki
mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” [QS
Yaasiin (36): 65].
*SM, No. 22 tahun ke-90/2005)
BERDOA DENGAN DOA BUATAN SENDIRI
DALAM SHALAT
Penanya:
Wakidjo Az./ Agen SM No. 025, NBM. 494 220, Lampung
(disidangkan pada hari Jumat, 7 Rabiulakhir 1427 H / 5
Mei 2006 M)
Pertanyaan:
Pertanyaan saudara yang panjang dapat kami ringkas
sebagai berikut, bolehkah kita berdoa dengan doa buatan
sendiri di dalam shalat?
Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan yang anda ajukan kepada
kami. Berdoa untuk mendapatkan kebaikan dunia-akhirat
bisa dilakukan sebelum dan sesudah shalat sunah maupun
fardu. Adapun berdoa dengan doa-doa yang diajarkan Nabi
saw. di dalam shalat itu adalah sunah. Bagaimana pula jika
kita berdoa dengan doa redaksi sendiri di dalam shalat?
Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat seperti berikut:
- Mazhab Hanafi: Tidak boleh berdoa di dalam shalat
kecuali dengan doa-doa yang ada di dalam Al-Qur’an
atau seperti yang ada dalam Al-Qur’an. (lihat al-Mabsut
karangan as-Sarakhsi: 1/202-204). Dalilnya:
229Zikir,DoadanShalawat َ
َة َ اللقَوْل ُ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّمَ: إِن َّ هَذِه ِ الصَّ ُ
َم ِ انلَّاس ِ إِنَّمَا هُو َ التَّسْبِيْحلَ يَصْلُح ُ فِيْهَا شَيْئ ٌ مِن ْ ك
.[أخرجه مسلم] ِ ُْ وَقِرَاءَة ُ الْقُرْآن ريِ َّكْبلوَا
Sabda Nabi saw: “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh
ada di dalamnya sesuatu dari perkataan manusia.
Sesungguhnya ia adalah tasbih, takbir dan bacaan Al-
Qur’an” [Ditakhrijkan oleh Muslim].
2. Mazhab Maliki (lihat Syarh az-Zarqani 2/60), mazhab
Syafi’i (lihat Fathul Bari: 2/230, 2/321) dan mazhab
Hambali (lihat al-Mughni karangan Ibnu Qudamah
1/320-322): Boleh berdoa dengan doa buatan sendiri
yang disukainya. Dalilnya: ِ
1- قَوْل ُ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ف ِ حَدِيْث ِ ابْن
َّْ مِن َ ادلُّعَء ِ أَعْجَبَه ُ إِلَْهِ. ريَ مَسْعُوْد ٍ ف ِ التَّشَهُّدِ: ثُم َّ لَِتَخ ِ
َّْ بَعْد ُ مِن َ اْلمَسْأَلَة ريَ [متفق عليه]، وَلِمُسْلِمٍ: ثُم َّ لَِتَخ َ
مَا شَاء َ أَو ْ مَا أَحَبَّ. وَف ِ حَدِيْث ِ أَب ِ هُرَيْرَةَ: إِذَا تَشَهَّد
َِفْسِه ِ مَا بَدَأ َ لَُ.نل أَحَدُكُم ْ فَلْيَتَعَوَّذ ْ مِن ْ أَرْبَع ٍ ثُم َّ يَدْعُو
Sabda Nabi saw. dalam hadis Ibnu Mas’ud dalam
masalah tasyahud: “Kemudian hendaklah ia memilih
doa yang paling ia kagumi” [Muttafaq ‘Alaih]. Dalam
hadis riwayat Muslim: “Kemudian hendaklah ia memilih
--setelah tasyahud-- permohonan yang dikehendakinya
atau disukainya.” Dalam hadis Abu Hurairah: “Jika
salah seorang di antara kamu telah tasyahud maka
hendaklah ia berlindung (kepada Allah) dari empat
perkara kemudian berdoa untuk dirinya apa yang
tampak (baik) baginya.” ََ
2- وَرُوِي َ عَن ْ أَنَس ِ بْن ِ مَالِك ٍ أَن َّ أُم َّ سُلَيْم ٍ غَدَت ْ ع ٍ
انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَالَتْ: عَلِّمْن ِ كَِمَات َ
ًْا وَسَبِّح ِ اهللرشََت ِ فَقَالَ: كَبِِّي اهلل َ علأَقُوْلُهُن َّ ف ِ صَ
.مذي]ت[رواه ال ِ ًْا ثُم َّ سَل ِ مَا شِئْترشًْا وَاحَْدِيْه ِ عَرشعَ
“Dari Anas, [diriwayatkan] bahwa Ummu Sulaim
datang kepada Nabi saw. lalu berkata: Ajarkan kepadaku
perkataan (doa) yang aku panjatkan dalam shalatku.
Lalu beliau bersabda: “Bertakbirlah sepuluh kali,
bertasbihlah sepuluh kali dan bertahmidlah sepuluh
kali, kemudian mintalah apa yang engkau kehendaki”
[HR at-Turmudzi]. ُ
3- قَوْل ُ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ أَمَّا السُّجُوْد
.[رواه ابن خزيمة] فَأَكْثُِوْا فِيْه ِ مِن َ ادلُّعَءِ.
Sabda Nabi saw.: “Adapun sujud, maka perbanyaklah
doa di dalamnya” [HR Ibnu Khuzaimah].
Menurut para ulama pendukung mazhab ini, hadis-
hadis di atas dengan jelas membenarkan doa buatan sendiri
di dalam shalat, karena Nabi saw. tidak menentukan doa
tertentu. Oleh karena itu, tidak heranlah jika para sahabat
seringkali berdoa dengan doa yang tidak mereka terima dari
Nabi saw., dan beliaupun tidak mengingkarinya. Tambahan
pula hadis-hadis di atas mentakhsis (mengkhususkan)
keumuman dalil mazhab Hanafi itu, apalagi pengharaman
berbicara di dalam shalat itu terjadi ketika di Makkah, sedang
hadis-hadis mcngenai doa di dalam shalat itu diucapkan di
Madinah. (lihat Nailul-Authar: 2/365).
Dengan demikian, kami cenderung kepada pendapat ini
karena dalilnya lebih rajih (kuat). Namun berdoa di dalam
shalat dengan redaksi buatan sendiri itu hendaknya dalam
bahasa Arab, bukan dengan bahasa-bahasa lainnya untuk
menjaga kesakralan shalat dan karena yang dicontohkan oleh
para sahabat adalah dengan bahasa Arab.
*SM, No. 22 tahun ke-91/2006)
SHALAWAT NABI DAN BARZANJI
Penanya:
Sdr. Sutopo,
Wonorejo, Tlogowungu, Pati, Jawa Tengah
Pertanyaan:
Sehubungan dengan ayat 56 surah al-Ahzab, saya
mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
- Saat-saat kapan kita mengucapkan shalawat Nabi
Muhammad saw.? - Apakah ada wirid tertentu tentang shalawat Nabi sehabis
shalat fardu, misalnya dengan bilangan 70 atau 100 kali? - Bagaimanakah pendapat Majelis Tarjih terkait ikhwan
kita yang biasa membaca barzanji pada tiap hari malam
Senin atau malam Jumat di masjid atau musala termasuk
melafalkan shalawat Nabi?
Jawaban:
Pertanyaan pertama, mengenai saat-saat mengucapkan
shalawat untuk Nabi Muhammad saw., ialah:
a. Tidak ditentukan waktunya, boleh kita baca kapan
saja kita kehendaki, asal tujuan mengucapkan shalawat
itu berdoa kepada Allah swt. agar Dia selalu melimpahkan
rahmat kepada beliau Nabi Muhammad saw., seperti dalam
rangka memperingati hari wafat atau lahir seseorang dan
sebagainya. Hal ini berdasarkan firman Allah swt.:
إن َّ اهلل َ وَمَلَئِكَتَه ُ يُصَلُّون َ ع ََ انلَّب ِِّ يَآأَيُّهَا الَِّين َ ءَامَنُوا
.]56 :)33[األحزاب ( صَلُّوا عَلَيْه ِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya” [QS al-Ahzab (33): 56].
Shalawat mempunyai beberapa arti, tergantung siapa
yang mengucapkannya. Jika yang bershalawat Allah swt.
untuk Nabi saw., berarti Allah swt. melimpahkan rahmat-Nya
kepada beliau, jika malaikat yang bershalawat berarti mereka
berdoa kepada Allah swt. agar Nabi saw. diampuni-Nya,
jika manusia yang bershalawat berarti manusia memohon
kepada Allah swt. agar Allah swt. melimpahkan rahmat-
Nya kepada Nabi saw.. Lafal shalawat itu ialah ِّ اَللَّهُم َّ صَل ٍ
ع ََ مَُمَّد, artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu atas
Muhammad.”
Ayat di atas tidak menentukan waktu atau tempat
mengucapkan shalawat, sehingga boleh dilakukan kapan saja
atau di mana saja, asal tidak di tempat yang kotor (bernajis)
seperti dalam WC atau kakus dan sebagainya, dan asal tujuan
shalawat itu semata-mata mendoakan Nabi Muhammad saw..
b. Shalawat dibaca pada tahiyat akhir setelah tasyahud
pada setiap mengerjakan shalat, berdasarkan hadis: ِ
ُْ بْن ُ سَعْدٍ: يَا رَسُوْل َ اهلل ريَْدَرِيّ، قَال َ بَشِبلعَن ِ ابْن ِ مَسْعُوْد ٍ ا َ
أَمَّرَنَا اهلل ُ أَن ْ نُّصَل َِّ عَلَيْك َ فَكَيْف َ نُصَل ِّ عَلَيْكَ؟ فَسَكَت
ثُم َّ قَالَ: قُوْلُوْا: اَللَّهُم َّ صَل ِّ ع ََ مَُمَّد ٍ وَع ََ آل ِ مَُمَّد ٍ كَمَا ٍ
صَلَّيْت َ ع ََٓ إِبْرَاهِيْم َ وَع ََ آل ِ إِبْرَاهِيْم َ وَبَارِك ْ ع ََ مَُمَّد َ
وَع ََ آل ِ مَُمَّد ٍ كَمَا بَارِكْت َ ع ََٓ إِبْرَاهِيْم َ وَع ََ آل ِ إِبْرَاهِيْم
د].حَْ إِنَّك َ حَِيْد ٌ مَِيْد ٌ [رواه مسلم وأ نيِ ف ِ اْلعَالَم
“Dari Ibnu Mas’ud al-Badari, [diriwayatkan] berkata Basyir
bin Sa‘ad: Ya Rasulullah, Allah memerintahkan kepada
kami agar bershalawat atas engkau, maka bagaimana
kami bershalawat atas engkau? Kemudian beliau bersabda,
katakanlah: Allaahumma shalli ’alaa Muhammad wa ’alaa
aali Muhammad, kamaa shallaita ’alaa Ibraahiim wa ’alaa
aali Ibraahiim, wa baarik ’alaa Muhammad wa ’alaa aali
Muhammad, kamaa baarakta ’alaa Ibraahiim wa ’alaa aali
Ibraahiim, fil-’aalamiina innaka hamiidun majiid. (Wahai
Tuhan, limpahkanlah rahmat-Mu atas Muhammad dan
atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah
melimpahkan rahmat atas Ibrahim dan atas keluarga
Ibrahim. Wahai Tuhan, berilah berkah atas Muhammad
dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah
memberikan berkah atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim.
Di seluruh alam hanyalah Engkau Yang Maha Terpuji lagi
Maha Mulia)” [HR Muslim dan Ahmad].
Pertanyaan kedua, tentang wirid dan bilangan shalawat
yang dibaca setiap selesai mengerjakan shalat fardu.
Perkataan wirid yang diucapkan setiap selesai shalat fardu
tidak ada tuntunannya. Yang ada tuntunannya ialah dikir
dan doa yang diucapkan oleh seseorang setiap selesai shalat
fardu. Sehubungan dengan dikir dan doa ini telah disusun
oleh Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam dan
telah diterbitkan oleh Majalah Suara Muhammadiyah. Kami
anjurkan saudara membaca buku kecil tersebut.
Pertanyaan ketiga. Barzanji belum dikenal pada masa
Rasulullah saw., demikian pula pada masa tabiin, tabi’ut
tabiin. Lafal barzanji dikarang setelah jatuhnya dinasti
Abbasiyah, kira-kira pada abad keempat Hijriyah atau kira-
kira tiga ratus tahun lebih setelah Rasulullah saw. meninggal
dunia. Waktu itu kerajaan Abbasiyah hancur, dan kerajaan
Islam terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Sejak
itulah lafal-lafal barzanji itu sering diucapkan oleh sebagian
kaum muslimin pada saat-saat tertentu sesuai dengan waktu
dan tempat yang mereka yakini.
Padahal, Nabi Muhammad saw. melarang keras kaum
muslimin berlebihan memberikan penghormatan kepada diri
beliau, sebagaimana telah ditulis pula oleh almarhum KH.
Ahmad Azhar Basyir dalam buku Falsafah Ibadah dalam
Islam halaman 20-22. Dalam sebuah hadis Nabi saw. pernah
bersabda: ُ
عَن ْ عُمَر َ يَقُوْل ُ سَمِعْت ُ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل ُ
ال َ تُطْرُوْن ِ كَمَا أَطْرَت ِ انلَّصَارَى ابْن َ مَرْيَم َ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُه
.[رواه ابلخاري ومسلم] ُُ فَقُوْلُوْا عَبْد ُ اهلل ِ وَرَسُوْل
“Dari Umar r.a., [diriwayatkan] ia berkata: Aku
mendengar Nabi saw. bersabda: Janganlah kamu memberi
penghormatan (memuji/memuliakan) kepada saya secara
berlebihan sebagaimana orang Nasrani yang telah memberi
penghormatan (memuji/memuliakan) kepada Isa putra
Maryam. Saya hanya seorang hamba Allah, maka katakan
saja hamba Allah dan Rasul-Nya” [HR al-Bukhari dan
Muslim].
Dengan kata lain, tidak ditemukan nash-nash baik Al-
Qur’an dan Hadis yang berhubungan dengan berzanji itu.
*SM, No. 12 tahun ke-90/2005)
MEMBACA SHALAWAT NABI SAW, DAN
SYAFA‘ATUL-‘UZHMA
Penanya:
Ferry al-Firdaus,
Dayeuhmanggung Rt. 01 / RW 05 Kec. Cilawu Garut
Pertanyaan:
Mohon penjelasan menurut Al-Qur’an dan Hadis
tentang:
- Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw.
- Syafa‘atul Ujma dari Nabi Muhammad saw.
Jawaban:
- Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw.
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw.
berarti bahwa si pengucap shalawat itu berdoa kepada
Allah swt. agar kepada Nabi Muhammad saw. selalu
dilimpahkan kesejahteraan dan keberkatan, begitu pula
kepada keluarga beliau. Dasarnya ialah firman Allah swt.: َ
َئِكَتَه ُ يُصَلُّون َ ع ََ انلَّب ِِّ يَاأَيُّهَا الَِّينلَ إِن َّ اهلل َ وَم
.]56 :)33[األحزاب ( آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْه ِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya” [QS. al-Ahzab (33): 56].
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw.
ada dua macam, yaitu:
a. Membaca shalawat dalam shalat, hukumnya wajib.
Ada beberapa lafal shalawat yang diajarkan Nabi
Muhammad .saw kepada para sahabat, namun dalam
lafal-lafal itu tidak terdapat perkataan “sayyidina”.
Lafal-lafal itu ialah: ِ
1- عَن ْ حَُيْد ٍ السَّاعِدِي ِّ أَنَّهُم ْ قَالُوا يَا رَسُول َ اهلل ِ
كَيْف َ نُصَل ِّ عَلَيْك َ فَقَال َ رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ
وَسَلَّم َ قُولُوا اللّٰهُم َّ صَل ِّ ع ََ مَُمَّد ٍ وَأَزْوَاجِه ِ وَذُرِّيَّتِه ِ
كَمَا صَلَّيْت َ ع ََ إِبْرَاهِيم َ وَبَارِك ْ ع ََ مَُمَّد ٍ وَأَزْوَاجِه
237Zikir,DoadanShalawat ٌ
وَذُرِّيَّتِه ِ كَمَا بَارَكْت َ ع ََ إِبْرَاهِيم َ إِنَّك َ حَِيد ٌ مَِيد
[رواه مسلم].
“Dari Abu Humaid as-Sa‘diyyi, [diriwayatkan]
sesungguhnya mereka berkata: Ya Rasulullah,
bagaimana kami bershalawat atas engkau? Rasulullah
saw. menjawab: katakanlah olehmu (lafalnya terdapat
pada hadis di atas), yang artinya: Wahai Allah,
limpahkanlah kemurahan-Mu atas Muhammad, dan
atas istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana
yang telah Engkau limpahkan kepada Ibrahim, dan
limpahkanlah berkah-Mu atas Muhammad, istri-
istrinya dan keturunannya sebagaimana yang telah
Engkau limpahkan kepada Ibrahim. Sesungguhnya
Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia” [HR al-Bukhari
dan Muslim]. ِ
َْا رَسُول َ اهللنلَ2- عَن ْ كَعْب ِ بْن ِ عُجْرَة َ فَقَال َ سَأ َ
صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقُلْنَا يَا رَسُول َ اهلل ِ كَيْف
َْيْت ِ فَإِن َّ اهلل َ قَد ْ عَلَّمَنَابلَة ُ عَلَيْكُم ْ أَهْل َ الَّالص ََ
كَيْف َ نُسَلِّم ُ عَلَيْكُم ْ قَال َ قُولُوا اللّٰهُم َّ صَل ِّ ع ََ
مَُمَّد ٍ وَع ََ آل ِ مَُمَّد ٍ كَمَا صَلَّيْت َ ع ََ إِبْرَاهِيم َ وَع ٍ
آل ِ إِبْرَاهِيم َ إِنَّك َ حَِيد ٌ مَِيد ٌ اللّٰهُم َّ بَارِك ْ ع ََ مَُمَّد ِ
وَع ََ آل ِ مَُمَّد ٍ كَمَا بَارَكْت َ ع ََ إِبْرَاهِيم َ وَع ََ آل
إِبْرَاهِيم َ إِنَّك َ حَِيد ٌ مَِيد ٌ [متفق عليه].
“Dari Ka‘ab bin ‘Ujrah, kami bertanya kepada
Rasulullah saw., kami berkata: Ya Rasulullah,
bagaiamana bershalawat atasmu Ahlul Bait?
Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada
kami bagaimana mengucapkan salam kepada
engkau. Rasulullah saw. berkata, katakanlah
olehmu: (lafal terdapat pada hadis di atas), yang
artinya: Wahai Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu
kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana
Engkau telah melimpahkan kepada Ibrahim dan
keluarganya. Wahai Allah, limpahkanlah berkah-Mu
kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana
yang telah Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji,
Maha Mulia” [Muttafaq Alaih].
b. Membaca shalawat di luar shalat, hukumnya sunah.
Sebagaimana halnya dengan doa, maka
mengucapkan shalawat itu seperti mengucapkan doa,
yaitu dengan ikhlas semata-mata mencari ridla Allah,
dengan berbisik dan lemah lembut, tidak dengan suara
yang keras, sebagaimana firman Allah swt.: ِ
وَاذْكُر ْ رَبَّك َ ف ِ نَفْسِك َ تَضَُّع ً وَخِيفَة ً وَدُون َ الَْهْر َ
مِن َ الْقَوْل ِ بِالْغُدُو ِّ وَاْآلصَال ِ وَال َ تَكُن ْ مِن َ الْغَافِلِني
.[األعْراف (7): 502]
“Sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak
mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”
[QS al-A‘raf (7): 205].
Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran
Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpendapat
bahwa lafal shalawat yang paling baik dibaca ialah
lafal shalawat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad
saw. kepada para sahabat sebagaimana terdapat pada
hadis-hadis di atas.
2. “Syafa‘atul Ujma” dari Nabi Muhammad saw.
Mungkin yang saudara maksud ialah Syafa‘atul
‘Uzhma, bukan “Syafa‘atul Ujma” sebagaimana yang
tertulis pada pertanyaan saudara. Syafa‘atul ‘Uzhma
ialah semacam pengampunan umum yang diberikan
Allah swt. kepada sebahagian manusia di akhirat nanti
dengan memberikan izin kepada Nabi Muhammad saw.
untuk melaksanakannya. Pada waktu itu manusia dalam
keadaan resah dan bingung menghadapi nestapa yang
mereka alami. Mereka mendatangi para Nabi supaya
mereka memohonkan kepada Allah agar nestapa itu
dijauhkan dari mereka. Para Nabi menyatakan bahwa
mereka tidak sanggup melaksanakannya.
Akhirnya atas petunjuk Nabi Isa a.s. mereka
mendatangi Nabi Muhammad saw. agar beliau memohon
kepada Allah swt. sehingga derita yang mereka
tanggung itu hilang. Setelah beliau berdoa Allah swt.
mengabulkannya dengan memberi izin kepada beliau
untuk memberi syafaat (pertolongan) kepada mereka.
Berdasarkan izin itu beliau membebaskan orang-orang
yang beriman dari derita itu dan memasukkan mereka ke
dalam surga, sedang orang-orang kafir dimasukkan ke
dalam neraka, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadis: ِ
عَن ْ أَنَس ِ بْن ِ مَالِك ٍ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اهلل
240Tanya Jawab Agama 9 ِ
صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَْمَع ُ اهلل ُ انلَّاس َ يَوْم َ الْقِيَامَة
َنَا مِن ْ مَكَنِنَايِفَيَقُولُون َ لَو ْ اسْتَشْفَعْنَا ع ََ رَبِّنَا حَت َّ يُر َ
فَيَأْتُون َ آدَم َ فَيَقُولُون َ أَنْت َ الَِّي خَلَقَك َ اهلل ُ بِيَدِه ِ وَنَفَخ ْ
َئِكَة َ فَسَجَدُوا لَك َ فَاشْفَعلفِيك َ مِن ْ رُوحِه ِ وَأَمَر َ الْمَ ُ
ََا عِنْد َ رَبِّنَا فَيَقُول ُ لَسْت ُ هُنَاكُم ْ وَيَذْكُر ُ خَطِيئَتَهنل ُ
وَيَقُول ُ ائْتُوا نُوحًا أَوَّل َ رَسُول ٍ بَعَثَه ُ اهلل ُ فَيَأْتُونَه ُ فَيَقُول
لَسْت ُ هُنَاكُم ْ وَيَذْكُر ُ خَطِيئَتَه ُ ائْتُوا إِبْرَاهِيم َ الَِّي ْ
ً فَيَأْتُونَه ُ فَيَقُول ُ لَسْت ُ هُنَاكُم لاتََّذَه ُ اهلل ُ خَلِي ُ
وَيَذْكُر ُ خَطِيئَتَه ُ ائْتُوا مُوس َ الَِّي كََّمَه ُ اهلل ُ فَيَأْتُونَه َ
فَيَقُول ُ لَسْت ُ هُنَاكُم ْ فَيَذْكُر ُ خَطِيئَتَه ُ ائْتُوا عِيس ُ
فَيَأْتُونَه ُ فَيَقُول ُ لَسْت ُ هُنَاكُم ْ ائْتُوا مَُمَّدًا صَل َّ اهلل َ
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَد ْ غُفِر َ ل َُ مَا تَقَدَّم َ مِن ْ ذَنْبِه ِ وَمَا تَأَخَّر
فَيَأْتُون ِ فَأَسْتَأْذِن ُ ع ََ رَب ِّ فَإِذَا رَأَيْتُه ُ وَقَعْت ُ سَاجِدًا ْ
فَيَدَعُن ِ مَا شَاء َ اهلل ُ ثُم َّ يُقَال ُ ل ِ ارْفَع ْ رَأْسَك َ سَل ِّ
تُعْطَه ْ وَقُل ْ يُسْمَع ْ وَاشْفَع ْ تُشَفَّع ْ فَأَرْفَع ُ رَأْس ِ فَأَحَْد ُ رَب ْ
بِتَحْمِيد ٍ يُعَلِّمُن ِ ثُم َّ أَشْفَع ُ فَيَحُد ُّ ل ِ حَدًّا ثُم َّ أُخْرِجُهُم ِ
مِن ْ انلَّار ِ وَأُدْخِلُهُم ْ الَْنَّة َ ثُم َّ أَعُود ُ فَأَقَع ُ سَاجِدًا مِثْلَه ُ ف
241Zikir,DoadanShalawat ُ
َِ ف ِ انلَّار ِ إِال َّ مَن ْ حَبَسَه يقَ َِة ِ أَو ْ الرَّابِعَة ِ حَت َّ مَا بثلاثلَّا
.[رواه ابلخاري ومسلم] ُ الْقُرْآن
“Dari Anas bin Malik, [diriwayatkan] ia berkata: berkata
Rasulullah saw.: Nanti Allah akan mengumpulkan manusia
di hari kiamat, lalu mereka berkata, seandainya ada
orang yang memohonkan syafaat kepada Tuhan kami
untuk kami sehingga kami terbebas dari keadaan kami
ini. Lalu mereka datang kepada Nabi Adam, mereka
berkata: Engkaulah orang yang diciptakan Allah dengan
tangan-Nya (langsung) dan meniupkan kepada engkau
ruh dari-Nya dan memerintahkan malaikat, lalu mereka
sujud kepada engkau, maka berilah kami syafaat yang
berasal dari Tuhan kami. Adam menjawab: bukan aku
yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-
kesalahannya. Adam berkata: datanglah kepada Nuh
Rasul yang pertama kali diutus Allah. Lalu mereka datang
kepada Nuh dan Nuh menjawab: aku bukanlah orang
yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-
kesalahannya. Datanglah kepada Ibrahim orang yang
dijadikan Allah teman-Nya. Lalu mereka datang kepada
Ibrahim dan Ibrahim menjawab: aku bukanlah orang
yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-
kesalahannya. Datanglah kepada Musa orang yang
pernah berbicara dengan Allah. Lalu mereka datang
kepada Musa dan Musa menjawab: aku bukanlah orang
yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-
kesalahannya. Datanglah kepada Isa dan Isa menjawab:
aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, datanglah
kepada Muhammad saw, karena sesungguhnya Muhammad
telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang
akan datang. Mereka pun mendatangiku, maka aku pergi
minta izin kepada Tuhanku. Lalu ketika aku melihat-
Nya aku segera sujud, Ia membiarkanku sesuai dengan
yang dikehendaki-Nya. Kemudian dikatakan: Angkatlah
kepala engkau, mintalah pasti diberi, katakanlah niscaya
akan didengar, mintalah syafaat pasti diberi. Lalu aku
mengangkat kepalaku, lalu aku memanjatkan pujian
kepada Tuhanku sesuai dengan yang diajarkan kepadaku,
kemudian aku diizinkan memberi syafaat kepada orang-
orang tertentu. Kemudian aku keluarkan mereka dari
neraka dan aku masukkan ke dalam surga. Kemudian
aku kembali menyatakan dan bersujud seperti semula,
kemudian ketiga dan keempat, sehingga yang tinggal dalam
neraka adalah orang yang tidak percaya dan menantang
Al-Qur’an” [HR al-Bukhari dan Muslim].
Di samping hadis di atas, ada lagi beberapa hadis
sahih yang menerangkan tentang syafaat itu dan isinya
sama dengan isi hadis di atas.
Dari penjelasan hadis di atas, dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
a. Hak memberi syafaat itu hanya ada pada Allah,
sebagai yang ditegaskannya:
.[ابلقرة (2): 552] ِ مَن ْ ذَا الَِّي يَشْفَع ُ عِنْدَه ُ إِال َّ بِإِذْنِه
“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah
tanpa izin-Nya” [QS al-Baqarah (2): 255].
b. Pada hari kiamat Nabi Muhammad saw. diberi izin
oleh Allah untuk memberi syafaat kepada sebahagian
manusia sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
telah ditetapkan-Nya.
c. Di antara yang diberi syafaat itu ialah orang-
orang yang beriman kepada Al-Qur’an dan tidak
menentangnya.
*SM, No. 04 tahun ke-91/2006)
SHALAWAT DALAM KHUTBAH JUMAT
Penanya:
Nyakmat, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah
Kauman, Pisang, Labuhan Haji, NAD
(disidangkan pada tanggal 13 Januari 2006)
Pertanyaan:
Kenapa bacaan shalawat dalam khutbah Jumat yang
dimuat pada Majalah Suara Muhammadiyah tidak sama
dengan bacaan shalawat yang tertulis dalam HPT?
Jawaban:
Allah swt. menyuruh kaum muslimin agar selalu
membaca shalawat untuk Nabi Muhammad saw. agar beliau
selalu diberi rahmat oleh Allah swt., berdasarkan firman-Nya:
إِن َّ اهلل َ وَمَلَئِكَتَه ُ يُصَلُّوْن َ ع ََ انلَّب ِِّ يَآأَيُّهَا الَِّيْن َ ءَامَنُوْا
.]56 :)33[األحزاب ( صَلُّوأ عَلَيْه ِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman
bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya” [QS al-Ahzab (33): 56].
Perintah yang terkandung pada ayat di atas adalah umum,
dengan arti tidak diterangkan kapan membacanya serta apa
lafalnya. Oleh karena itu kaum muslimin dapat membacanya
kapan mereka inginkan dan mengutamakan membacanya
dalam melaksanakan ibadah, seperti dalam khutbah Jumat.
Demikian pula halnya dengan lafal yang akan dibaca, kaum
muslimin ada yang menyusunnya sendiri, namun isi dari
lafal itu hendaklah memanjatkan doa untuk Rasulullah saw.
sebagaimana yang dimaksud oleh ayat di atas.
Mengenai bacaan shalawat dalam shalat memang
Rasulullah saw. memberikan tuntunannya, berdasarkan
hadis: َ
عَن ْ عَبْد ِ الرَّحَْن ِ بْن ِ أَب ِ لَْل َ قَال َ لَقِبَن ِ كَعْب ُ بْن ُ عُجْرَة ُ
فَقَال َ أَال َ أُهْدِى لَك َ هَدِيَّة ً سَمِعْتُهَا مِن َ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ِ
َْا رَسُوْل َ اهللنلَعَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقُلْت ُ بَل َ فَأَهْدِهَا ل ِ فَقَال َ سَأ ُ
َةلصَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقُلْنَا يَا رَسُوْل َ اهلل ِ كَيْف َ الصَّ ُ
َْيْت ِ فَإِن َّ اهلل َ قَد ْ عَلَّمَنَا كَيْف َ نُسَلِّمبلعَلَيْكُم ْ أَهْل ُ ا ٍ
عَلَيْكُم ْ قَال َ قُوْلُوْا اللّٰهُم َّ صَل ِّ ع ََ مَُمَّد ٍ و َ ع ََ آل ِ مَُمَّد ٌ
كَمَا صَلَّيْت َ ع ََ اِبْرَاهِيم َ و َ ع ََ آل ِ اِبْرَاهِيم َ اِنَّك َ حَِيد َ
مَِيد ٌ اللّٰهُم َّ بَارِك ْ ع ََ مَُمَّد ٍ و َ ع ََ آل ِ مَُمَّد ٍ كَمَا بَارَكْت
.[رواه ابلخارى ومسلم] ٌ ع ََ اِبْرَاهِيم َ اِنَّك َ حَِيد ٌ مَِيد
“Dari Abdurrahman bin Abi Laila, [diriwayatkan] ia berkata:
Aku bertemu dengan Ka’ab bin ‘Ujrah, ia berkata: Maukah
engkau aku beri hadiah yang aku dengar dari Nabi saw.? Aku
berkata: Baiklah, berikanlah kepadaku. Maka ia berkata: Aku
bertanya kepada Rasulullah saw.: Ya Rasulullah, bagaimana
bacaan shalawat atasmu Ahlul Bait? Sesungguhnya Allah
telah mengajarkan kepada kami bagaimana mengucapkan
salam atasmu. Beliau berkata: Katakanlah: ََ
اللّٰهُم َّ صَل ِّ ع ََ مَُمَّد ٍ و َ ع ََ آل ِ مَُمَّد ٍ كَمَا صَلَّيْت َ ع ْ
اِبْرَاهِيم َ و َ ع ََ آل ِ اِبْرَاهِيم َ اِنَّك َ حَِيد ٌ مَِيد ٌ اللّٰهُم َّ بَارِك َ
ع ََ مَُمَّد ٍ و َ ع ََ اَل ِ مَُمَّد ٍ كَمَا بَارَكْت َ ع ََ اِبْرَاهِيم َ اِنَّك
حَِيد ٌ مَِيدٌ.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu atas Muhammad dan
atas keluarganya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan
rahmat atas Ibrahim dan atas keluarganya. Sungguh Engkau
Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah limpahkanlah
berkah-Mu atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad
sebagaimana yang telah Engkau limpahkan atas Ibrahim
dan keluarganya, sungguh Engkau Maha Terpuji dan Maha
Mulia” [HR al-Bukhari dan Muslim].
Pada sunah maqbulah yang lain, setelah kalimat “wa
‘alaa aali Ibraahiim” tidak terdapat kalimat “innaka
hamiidun majiid”, langsung disebut kalimat “Allaahumma
baarik ‘alaa Muhammad …” sampai akhir. Hal ini berarti
kedua lafal shalawat itu boleh dibaca dalam shalat. Tentu
saja membaca shalawat atas Nabi saw. di luar shalat seperti
yang telah diajarkannya itu adalah lebih baik, sedang bacaan
shalawat dalam khutbah Jumat tidak diharuskan seperti
bacaan shalawat dalam shalat. Namun yang paling baik
dibaca adalah seperti bacaan shalawat dalam shalat.
*SM, No. 11 tahun ke-91/2006)

