putusan
Tanya Jawab Agama 9 Bab 5 Seputar Shalat Sunah
BAB 5
SEPUTAR SHALAT
SUNAH
SHALAT SUNAH SESUDAH SHALAT JUMAT
DAN SHALAT SUNAH FAJAR
Penanya:
Muh. Taufiq,
Ranting Muhammadiyah Lalebata, Rappang, Sulawesi
Selatan
Pertanyaan:
- Empat rakaat shalat sunah sesudah shalat Jumat
dikerjakan berturut-turut dengan sekali salam, atau dua
rakaat - dua rakaat dengan dua kali salam, mana yang
benar dan afdal? - Shalat sunah fajar itu shalat sunah subuh atau shalat
sunah tersendiri?
Jawaban: - Shalat sunah sesudah shalat Jumat
Hadis Nabi Muhammad saw.:
مَن ْ كَن َ مِنْكُم ْ مُصَلِّيًا بَعْد َ الُْمْعَة ِ فَلْيَصِل ْ أَرْبَعًا
.هريرة] ب[رواه مسلم عن أ
“Barangsiapa di antara kamu mengerjakan shalat
sesudah (shalat) Jumat, maka hendaklah shalat empat
rakaat” [HR Muslim dari Abu Hurairah].
Kalau melihat kepada matan/redaksi hadis Nabi saw.
riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a. di atas, maka kita
mengerjakan shalat itu empat rakaat sebagaimana kita
mengerjakan shalat tarawih, yang didasarkan kepada
hadis dari Aisyah, karena lafalnya berbunyi: فَلْيَصِل ْ أَرْبَعًا,
bukan berbunyi: ِْ نيِْ رَكْعَتَ نيفَلْيَصِل ْ رَكْعَتَ.
2. Shalat sunah Fajar
Yang dimaksud dengan shalat fajar dua rakaat itu ialah
shalat sunah dua rakaat sebelum shalat subuh. Dengan
lain perkataan, shalat sunah sebelum shalat subuh disebut
juga dengan shalat fajar. Dua rakaat shalat sunah sebelum
shalat subuh sangat dipelihara oleh Nabi saw., sekalipun
beliau dalam bepergian.
*SM, No. 05 tahun ke-90/2005)
SUJUD SYUKUR DAN SUJUD TILAWAH
Penanya:
Wakidjo Az., NBM. 494.220
Agen SM No. 025, Metro Lampung Tengah
Pertanyaan:
- Bagaimana kaifiat sujud syukur dan dasar hukumnya?
- Bagaimana kaifiat sujud tilawah dan dasar hukumnya?
Jawaban:
Mengenai sujud syukur dan sujud tilawah telah
diputuskan dan ditetapkan hukumnya pada Muktamar Tarjih
di Pekalongan, 9-14 Rabi‘ul Awal 1392 / 23-28 April 1972
(baca HPT cet. III hal. 356-361). Namun untuk lebih jelas
lagi akan kami terangkan sebagai berikut:
Sujud syukur ialah sujud yang dilakukan oleh seseorang
ketika ia diberitahu atau memperoleh sesuatu yang
menggemberikan hatinya, atau ia merasa telah memperoleh
nikmat yang besar dari Allah swt.. Sujud syukur dilakukan
sebagai reaksi spontan dari seseorang atas nikmat yang
diberikan Allah kepadanya, lalu ia bersujud kepada Allah
sebagai tanda bahwa ia tunduk dan patuh kepada-Nya
dan mensyukuri atas nikmat serta kegembiraan yang telah
dianugerahkan-Nya. Dasar hukum sujud syukur ialah
beberapa hadis berikut ini: ِ
عَن ْ أَب ِ بَكْرَة َ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه
مسةل[رواه ا ِ وَسَلَّم َ كَن َ إِذَا جَاءَه ُ أَمْر َ يَسُُّه ُ خَر َّ سَاجِدًا ِهلل
.إال النساىئ]
“Dari Abu Bakarah r.a., [diriwayatkan] bahwasanya
Nabi saw. apabila datang sesuatu yang menggembirakan
kepadanya beliau segera bersujud kepada Allah” [HR lima
ahli hadis kecuali an-Nasa’i]. ُ
عَن ِ اْلبََّاء ِ بْن ِ عَزِب ٍ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل َ
َْدِيْث ُ - قَالحلعَلَيْه ِ وَسَلَّم َ بَعَث َ عَلِيًّا إِل َ الَْمَن ِ - فَذَكَر َ ا َّ
َمِهِم ْ فَلَمَّا قَرَأ َ رَسُوْل ُ اهلل ِ الْكِتَاب َ خَرلْفَكَتَب َ ع ٌَِّ بِإِس
ف [رواه ابليهيق وأصله َ سَاجِدًا شُكْرًا ِهلل ِ تَعَال َ ع ََ ذَلِك
.ابلخاري]
“Dari al-Barra’ bin ‘Azib ra., [diriwayatkan] bahwasanya
Nabi saw. telah mengutus Ali ke Yaman, - maka tersebut
dalam hadis, - ia berkata: Lalu Ali menulis surat (kepada
Nabi saw.) yang memberitakan tentang masuk Islamnya
penduduk Yaman. Kemudian tatkala Rasulullah saw.
membaca surat itu, beliau segera bersujud sebagai tanda
syukur kepada Allah atas peristiwa itu” [HR al-Baihaqi dan
asalnya dari al-Bukhari]. َ
عَن ْ عَبْد ِ الرَّحَْن ِ بْن ِ عَوْف ٍ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَال َ سَجَد َ
رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَأَطَال َ السُّجُوْد َ ثُم َّ رَفَع
ََّن ِ فَسَجَدْت ُ ِهلل ِ شُكْرًارشرَأْسَه ُ فَقَال َ إِن َّ جِبِْيْل َ أَتَان ِ فَبَ
.د وصححه احلاكم]ح[رواه أ
“Dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a., [diriwayatkan] ia berkata:
Rasulullah saw. pernah sujud dan lama sujudnya, kemudian
beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda: Sesungguhnya
Malaikat Jibril telah datang kepadaku (membawa kabar),
dan kabar itu menggembirakan hatiku, karena itu aku
sujud sebagai tanda syukur kepada Allah” [HR Ahmad dan
dinyatakan sahih oleh al-Hakim].
Tidak ditemukan tuntunan tentang sujud syukur itu,
kecuali sebagaimana diterangkan hadis-hadis di atas. Oleh
karena itu, para ulama berbeda pendapat tentang kaifiat sujud
syukur tersebut. Sebagian ulama mengkiaskannya kepada
shalat biasa, dengan arti sebelum sujud syukur itu berwudu
lebih dahulu, kemudian takbir dengan menghadap ke kiblat,
kemudian sujud dan berdoa dan diakhiri dengan salam
(Subulus-Salam, Jilid 1 hal. 211). Sedang pendapat yang
lain menyatakan bahwa sujud syukur itu dilakukan tanpa
wudu, tidak perlu menghadap ke kiblat, di sembarang tempat,
dilakukan sekali saja, tanpa takbir dan salam, serta dilakukan
di luar shalat. Pendapat yang terakhir ini berdasarkan
pemahaman terhadap arti zhahir dari hadis-hadis di atas.
Pada waktu sujud dibaca doa dan tasbih, berdasarkan hadis: ُ
عَن ِ أَب ِ هُرَيْرَة َ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ أَن َّ رَسُوْل َ اهلل ِ صَل َّ اهلل
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ أَقْرَب ُ مَالِكُوْن َ الْعَبْد ُ مِن ْ رَبِّه ِ وَهُو َ سَاجِدًا
.[رواه مسلم] َ فَأَكْثُِوْا ادلُّعَء
“Dari Abu Hurairah r.a., [diriwayatkan] bahwasanya
Rasulullah saw. bersabda: Paling dekatnya seorang hamba
kepada Tuhannya ialah pada waktu ia sedang sujud, oleh
karena itu perbanyaklah doa” [HR Muslim].
Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam
mengikuti pendapat yang kedua, dengan arti bahwa sujud
syukur itu dilakukan tanpa wudu, tidak dalam shalat, tanpa
takbir dan salam serta langsung bersujud ketika mendengar
atau memperoleh sesuatu yang menggembirakan, dengan
mengucapkan tasbih, tahmid, dan doa.
Sujud tilawah ialah sujud yang dilakukan oleh seorang
muslim pada waktu membaca atau mendengar bacaan ayat-
ayat sajdah yang dilakukan baik dalam keadaan sedang
melaksanakan shalat maupun di luar shalat, berdasarkan
beberapa hadis berikut: َّ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل ُ
اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ إِذَا قَرَأ َ ابْن ُ آدَم َ السَّجْدَة َ اِعْتََل َ الشَّيْطَان ُ
َنَّةلْيَبْك ِ يَقُوْل ُ يَا وَيْلَه ُ أُمِر َ ابْن ُ آدَم َ بِالسُّجُوْد ِ فَسَجَد َ فَلَه ُ ا
د ومسلم وابنح[رواه أ ُ وَأُمِرْت ُ بِالسُّجُوْد ِ فَعَصَيْت ُ فَل ِ انلَّار
.ماجه]
“Dari Abu Hurairah r.a., [diriwayatkan] ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Apabila seseorang membaca
ayat sajdah lalu ia sujud, maka menyingkirlah setan dengan
menangis berkata: Sungguh celaka, manusia diperintah
sujud lalu ia sujud, maka baginya surga. Sedangkan aku
diperintah sujud tetapi aku membangkang, maka bagiku
neraka” [HR Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah]. ِ
عَن ِ ابْن ِ عُمَر َ أَنَّه ُ قَال َ رُبَّمَا قَرَأ َ رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه
وَسَلَّم َ الْقُرْآن َ فَيَمُر ُّ بِالسَّجْدَة ِ فَيَسْجُد ُ بِنَا حَت َّ ازْدَحَْنَا ٍ
َةلَِْ ص ريعِنْدَه ُ حَت َّ مَا يَِد ُ أَحَدُنَا مَكَنًا لِيَسْجُد َ فِيْه ِ ف ِ غَ
.[رواه مسلم]
“Dari Ibnu Umar ra., [diriwayatkan] ia berkata: Pernah
Nabi saw. membaca Al-Qur’an lalu bertemu dengan ayat
sajdah, kami bersama-sama beliau sujud, sehingga kami
berdesak-desakan di sekitarnya, sehingga di antara kami
ada yang tidak mendapatkan tempat sujud. Hal ini bukan
di dalam shalat” [HR Muslim].
Hukum sujud tilawah adalah sunah, berdasarkan hadis: ْ
عَن ِ ابْن ِ عُمَر َ قَال َ أَيُّهَا انلَّاس ُ إِنَّا لَم ْ نُؤْمَر ْ بِالسُّجُوْد ِ فَمَن
[رواه ِ َ إِثْم َ عَلَيْه لسَجَد َ فَقَد ْ أَصَاب َ وَمَن ْ لَم ْ يَسْجُد ْ فَ
.ابلخاري]
“Dari Umar r.a., [diriwayatkan] ia berkata: Hai sekalian
manusia, kita tidak diperintah untuk bersujud, barangsiapa
yang bersujud ia mendapat pahala, dan barangsiapa yang
tidak bersujud ia tidak berdosa” [HR al-Bukhari].
Jika sujud tilawah dalam shalat, tergantung kepada imam
pada saat membaca ayat sajdah. Jika imam sujud makmum
pun sujud, jika imam tidak sujud makmum pun tidak sujud,
berdasarkan hadis: ُ
َمًا قَرَأ َ عِنْد َ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلللعَن ْ زَيْد ِ بْن ِ أَسْلَم ٍ قَال َ إِن َّ غُ ِ
َم ُ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْهلعَلَيْه ِ وَسَلَّم َ السَّجْدَة َ فَانْتَظَر َ الْغُ
وَسَلَّم َ قَال َ يَا رَسُوْل َ اهلل ِ لَيْس َ ف ِ هَذِه ِ السَّجْدَة ِ سُجُوْدًا
قَال َ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ بَل َ وَلَكِنَّك َ كُنْت َ إِمَامَنَا فِيْهَا
.شيبة] ب[رواه ابن أ وَلَو ْ سَجَدْت َ لَسَجَدْنَا
“Dari Zaid bin Aslam r.a., [diriwayatkan] sesungguhnya
seorang anak membaca ayat sajdah di samping Nabi saw.,
ia tunggu Nabi saw. sujud, tapi beliau tidak sujud, anak itu
berkata: Ya Rasulullah, bukankah pada (waktu membaca)
ayat sajdah ini ada sujud? Nabi saw. bersabda: Benar, tetapi
engkau menjadi imam kami padanya, dan kalau engkau sujud
kami pun sujud” [HR Ibnu Abi Syaibah].
Sebaiknya membaca takbir sebelum melaksanakan sujud
tilawah, berdasarkan hadis:
عَن ِ ابْن ِ عُمَر َ كَن َ انلَّب ُِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقْرَأ ُ عَلَيْنَا
[رواه ُ الْقُرْآن َ فَإِذَا مَر َّ بِالسَّجْدَة ِ كَب ََّ وَسَجَد َ وَسَجَدْنَا مَعَه
.أبو داود]
“Dari Ibnu Umar r.a., [diriwayatkan] ia berkata: Pernah
Nabi saw. membacakan Al-Qur’an atas kami. Apabila
sampai kepada ayat sajdah beliau bertakbir dan sujud, dan
kami pun sujud bersama beliau” [HR Abu Dawud].
Jika sujud tilawah dilakukan di luar shalat, tidak perlu
berwudu lebih dahulu dan menukar pakaian dengan yang
bersih, berdasarkan hadis:
.[رواه ابلخاري] ٍ ِْ وُضُوْء ريأَن َّ ابْن َ عُمَر َ يَسْجُد ُ ع ََ غَ
“Bahwasanya Ibnu Umar melakukan sujud tilawah (di luar
shalat) tidak berwudu lebih dahulu” [HR al-Bukhari].
Pada waktu melakukan sujud tilawah dibaca doa:
“Sajada wajhii lil-ladzii khalaqahu wa shawwarahu wa
syaqqa sam‘ahu wa basarahu wa bi haulihi wa quwwatihi”,
berdasarkan hadis: ُ
عَن ْ عَئِشَة َ قَالَت ْ كَن َ انلَّب ُِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل ُ
ف ِ سُجُوْد ِ الْقُرْآن ِ بِاللَّيْل ِ سَجَد َ وَجْه ِْ لِلَِّي ْ خَلَقَه ُ وَصَوَّرَه
.[رواه أبو داود] ِ وَشَق َّ سَمْعَه ُ وَبَصََه ُ وَبَِوْل ِِ وَقُوَّتِه
“Dari Aisyah r.a., [diriwayatkan] ia berkata: Adalah Nabi
saw. membaca pada sujud tilawah di malam hari (yang
artinya): Wajahku sujud kepada Zat yang menjadikan
dan membentuknya, dan yang memberi pendengaran dan
penglihatan dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya” [HR
Abu Dawud].
Sekalipun tidak ada dalil yang menerangkan, namun
dari hadis-hadis tersebut di atas dapat dipahami bahwa
sujud tilawah itu dilakukan sekali saja. Ada lima belas ayat-
ayat sajdah yang terdapat dalam Al-Qur’an, sebagaimana
diterangkan oleh hadis: ِ
عَن ْ عَمْرَو بْن ِ اْلعَاص ِ قَال َ أَن َّ رَسُوْل َ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ٌ
َثلَ َْة َ سَجَدَة ً ف ِ الْقُرْآن ِ فِيْهَا ثرشَوَسَلَّم َ قَرَأ َ ف ِ خَْس َ ع
.[رواه أبو داود وابن ماجه] ِ ف ِ اْلمُفَصَّل ِ وَف ِ اْحلَج ِّ سَجَدَتَان
“Dari ‘Amr bin ‘Ash r.a., [diriwayatkan] ia berkata:
Sesungguhnya Rasulullah saw. mengajarkan lima belas ayat
sajdah dalam Al-Qur’an, tiga di antaranya terdapat dalam
surah mufashshal (pendek-pendek) dan dua dalam surah
al-Hajj” [HR Abu Dawud dan Ibnu Majah].
Ayat-ayat sajdah yang lima belas itu ialah sebagai
berikut:
-
QS al-A‘raf (7): 206
-
QS ar-Ra‘d (13): 15
-
QS an-Nahl (16): 49
-
QS al-Israa’ (17): 107
-
QS Maryam (19): 58
-
QS al-Hajj (22): 18
-
QS al-Hajj (22): 77
-
QS al-Furqan (25): 60
-
QS an-Naml (27): 25
-
QS as-Sajdah (32): 15
-
QS Shaad (38): 24
-
QS Fushshilat (41): 37
-
QS an-Najm (53): 62
-
QS al-Insyiqaq (84): 21
-
QS al-‘Alaq (96): 19.
*SM, No. 07 tahun ke-90/2005)
HUKUM SHALAT ARBA‘IN
Penanya:
Yel Hidayat, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah
Bengkulu
(disidangkan pada hari Jumat, 29 Sya’ban 1427 H / 22
September 2006 M)
Pertanyaan:
Di dusun kami ada kebiasaan masyarakat mengerjakan
shalat 40 waktu dengan berjamaah dimulai dari tanggal
20 Syakban sampai dengan akhir bulan Ramadan setiap
tahun. Kalau tinggal satu waktu saja shalat lima waktu itu
dikerjakan tidak berjamaah, maka ia dinyatakan tidak boleh
lagi mengikuti selanjutnya. Mereka mengatakan sama dengan
shalat arba‘in di tanah suci. Yang saya tanyakan, apakah ada
dalil yang memerintahkan?
Jawaban:
Saudari Yel Hidayat yang baik, berikut ini jawaban atas
pertanyaan saudari:
Dalil yang memerintahkan shalat arba‘in di selain masjid
Nabawi di Madinah itu tidak ada. Jadi dengan demikian
kebiasaan masyarakat di dusun saudari tersebut bid‘ah yang
harus segera dihentikan, ini karena ibadah tanpa dalil itu dilarang
oleh agama. Para ulama dalam hal ini telah membuat kaidah:
َّوْقِيْفُ.لاألَصْل ُ ف ِ اْلعِبَادَة ِ ا
“Asal semua ibadah itu adalah berhenti (menunggu apa
yang diperintahkan oleh syariat).”
Maksudnya, kita tidak boleh menambah atau mengurangi
apa yang diperintahkan oleh syariat, atau bahkan mengada-
adakan sesuatu yang tidak diperintahkan olehnya atas dasar
pikiran kita. Memang shalat secara berjamaah itu sangat
dianjurkan oleh syariat. Namun pelaksanaannya tidak terbatas
pada shalat 40 waktu saja seperti kebiasaan masyarakat di
dusun saudari. Tambahan lagi, kebiasaan tersebut aneh, kalau
tertinggal satu waktu saja, seseorang tidak boleh mengikuti
selanjutnya. Ini berarti ia tidak perlu shalat berjamaah lagi
hingga akhir Ramadan dan ini tidak benar. Kami kira sebab
kebiasaan tersebut adalah kesalahan dalam memahami shalat
arba‘in di Madinah. Untuk lebih rinci berikut ini dikutipkan
hadis tentang shalat arba‘in di Madinah. َ
عَن ْ أَنَس ِ بْن ِ مَالِك ٍ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ
َة ٌ كَتَبلَة ً ال َ تَفُوْتُه ُ صَلَ َْ ص نيِمَن ْ صَل َّ ف ِ مَسْجِدِي ْ أَرْبَع ِ
ل َُ بَرَاءَة ٌ مِن َ انلَّار ِ وَبَرَاءَة ٌ مِن َ اْلعَذَاب ِ وَبَرِيْء ٌ مِن َ انلِّفَاق
.ثقات] لاألوسط ورجا ف نابد والطح[رواه أ
“Dari Anas bin Malik, [diriwayatkan] dari Nabi saw., beliau
bersabda: Barangsiapa shalat di masjidku 40 shalat, tidak
tertinggal satu shalat pun, niscaya ditulis baginya bebas
dari neraka, bebas dari siksa dan bebas dari kemunafikan”
[HR Ahmad dan ath-Thabrani di dalam Kitab al-Ausath, dan
perawinya tsiqah].
Kesahihan hadis ini masih diperselisihkan oleh kalangan
para ahli hadis. Menurut Syaikh al-Albani hadis ini daif.
Hadis ini menerangkan keutamaan shalat berjamaah di
masjid Nabawi. Bagi mereka yang bisa menjaga shalat
berjamaah selama 40 waktu (delapan hari) berturut-turut
di masjid tersebut diberi pahala luar biasa yaitu bebas
dari neraka, siksa dan sifat munafik. Hal ini tidak bisa
dianalogikan kepada shalat berjamaah di masjid-masjid lain,
karena keutamaan dan keistimewaan tersebut hanya khusus
diberikan kepada masjid Nabawi sebagai penghormatan
kepada Nabi Muhammad saw..
Perlu ditambahkan di sini bahwa jika seseorang itu
tertinggal satu kali waktu ketika shalat arba‘in di masjid
Nabawi, maka ia boleh memulakannya semula. Juga perlu
ditegaskan di sini bahwa keutamaan menjaga shalat arba‘in
secara berjamaah di masjid Nabawi itu tidak berarti bahwa
shalat berjamaah itu cukup selama 40 waktu saja, karena
shalat berjamaah tetap dituntut atau dianjurkan di masjid
Nabawi dan di masjid-masjid lain meskipun seseorang itu
telah melakukan shalat arba‘in.
*SM, No. 01 tahun ke-92/2007)
SHALAT SUNAH RAWATIB
Penanya:
Eet Hudawati, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Bengkulu
Pertanyaan:
Ada dua versi dalam mengerjakan shalat sunah rawatib.
Yang pertama: dua rakaat sebelum dan dua rakaat sesudah
zuhur, dua rakaat sebelum asar, dua rakaat sebelum dan dua
rakaat sesudah magrib, dua rakaat sebelum dan dua rakaat
sesudah isya. Yang kedua: dua rakaat sebelum dan dua
rakaat sesudah zuhur, dua rakaat sebelum magrib, dua rakaat
sesudah isya dan dua rakaat sebelum subuh.
Jawaban:
Dalam memahami hadis-hadis Nabi saw. tentang shalat
sunah rawatib, para ulama membaginya kepada mu’akkad dan
ghairu mu’akkad. Dalam menetapkan mana yang termasuk
mu‘akkad dan mana yang termasuk ghairu mu‘akkad para
ulama berbeda pendapat.
Shalat sunah rawatib mu’akkad terdiri atas dua atau empat
rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua
rakaat setelah shalat magrib, dua rakaat setelah shalat isya
dan dua rakaat sebelum shalat subuh. Semuanya ada sepuluh
atau dua belas rakaat. Dasarnya ialah hadis-hadis sebagai
berikut: ِ
عَن ِ ابْن ِ عُمَر َ قَال َ حَفِظْت ُ مِن ْ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه
ِْ بَعْدَهَا نيِْ قَبْل َ الظُّهْر ِ وَرَكْعَتَ نيَْ رَكَعَات ٍ رَكْعَتَ رشوَسَلَّم َ عَ
109Seputar Shalat Sunah ِ
ِْ بَعْد َ الْعِشَاء ِ ف نيِْ بَعْد َ الْمَغْرِب ِ ف ِ بَيْتِه ِ وَرَكْعَتَ نيوَرَكْعَتَ
.[رواه ابلخاري] ِ َة ِ الصُّبْحلَ ِْ قَبْل َ ص نيبَيْتِه ِ وَرَكْعَتَ
“Dari Ibnu Umar, [diriwayatkan] ia berkata: Aku ingat dari
Nabi saw. sepuluh rakaat; dua rakaat sebelum shalat zuhur dan
dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat magrib di
rumahnya, dua rakaat sesudah shalat isya di rumahnya, dan
dua rakaat sebelum shalat subuh” [HR al-Bukhari]. ُ
عَن ْ عَئِشَة َ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ ال َ يَدَع
ِْ قَبْل َ الْغَدَاة ِ [رواه ابلخاري نيأَرْبَعًا قَبْل َ الظُّهْر ِ وَرَكْعَتَ ِ
َةلوأبو داود]. وَرَوَى عَنْهَا أَيْضًا عِنْد َ مَا سُئِلَت ْ عَن ْ صَ ِّ
َّطَوُّع ِ قَالَت ْ كَن َ يُصَللانلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مِن َ ا َّ
قَبْل َ الظُّهْر ِ أَرْبَعًا ف ِ بَيْت ِ ثُم َّ يَْرُج ُ فَيُصَل ِّ بِانلَّاس ِ ثُم َ
ِْ وَكَن َ يُصَل ِّ بِانلَّاس ِ الْمَغْرِب نييَرْجِع ُ إِل َ بَيْت ِ فَيُصَل ِّ رَكْعَتَ َ
ِْ وَكَن َ يُصَل ِّ بِهِم ْ الْعِشَاء نيثُم َّ يَرْجِع ُ إِل َ بَيْت ِ فَيُصَل ِّ رَكْعَتَ
.ِْنيثُم َّ يَدْخُل ُ بَيْت ِ فَيُصَل ِّ رَكْعَتَ
“Dari ‘Aisyah, [diriwayatkan] bahwasanya Nabi saw. tidak
pernah meninggalkan empat rakaat sebelum shalat zuhur
dan dua rakaat sebelum shalat subuh” [HR al-Bukhari dan
Abu Dawud]. “Dari ‘Aisyah, [diriwayatkan pula] ketika
ditanya tentang sebagian shalat sunah Nabi saw., ia berkata:
Beliau shalat sebelum zuhur empat rakaat di rumahku
kemudian pergi (shalat berjamaah di masjid), lalu beliau
kembali ke rumahku dan shalat dua rakaat, kemudian beliau
shalat magrib dengan orang banyak (di masjid) lalu kembali
ke rumahku dan shalat dua rakaat, kemudian beliau shalat
isya berjamaah (di masjid) lalu masuk rumahku dan shalat
dua rakaat”
Dari hadis riwayat Aisyah tersebut dapat dipahami bahwa
Rasulullah saw. mengerjakan shalat sunah rawatib di rumah
beliau, bukan di masjid. Tentu saja perbuatan Rasulullah saw.
itu lebih utama, namun tidak menutup kemungkinan untuk
mengerjakan shalat sunah rawatib di masjid. Pada riwayat
lain dinyatakan: ِ
عَن ْ أُم ِّ حَبِيبَة َ قَالَت ْ سَمِعْت ُ رَسُول َ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه َِ
َْة َ رَكْعَة ً ف ِ يَوْم ٍ وَلَْلَة ٍ بُنرشَوَسَلَّم َ يَقُول ُ مَن ْ صَل َّ اثْنَت َْ ع
.[رواه مسلم] ِ ل َُ بِهِن َّ بَيْت ٌ ف ِ الَْنَّة
“Dari Ummi Habibah, [diriwayatkan] ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang
shalat (sunah rawatib) dua belas rakaat dalam sehari
semalam, niscaya dibuatkan bagi mereka sebuah rumah di
surga” [HR Muslim].
Yang termasuk shalat sunah rawatib ghairu mu’akkad
ialah:
a. Empat rakaat sebelum shalat asar, berdasarkan hadis: َ
عَن ْ ابْن ِ عُمَر َ عَن ْ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال
د وأبوح[رواه أ رَحِم َ اهلل ُ امْرَأ ً صَل َّ قَبْل َ الْعَص ِْ أَرْبَعًا
.مذى وحسنه وابن حبان وصححه]تداود وال
“Dari Ibnu Umar, [diriwayatkan] dari Nabi saw.,
beliau bersabda: Allah memberi rahmat kepada orang
yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum shalat
asar” [HR Ahmad, Abu Dawud, at-Turmudzi, dan
dinyatakan sebagai hadis hasan, sedangkan Ibnu Hibban
menyatakannya sahih].
b. Dua rakaat sebelum shalat magrib, berdasarkan hadis: َ
عَن ْ عَبْد ِ اهلل ِ الْمُغَفَّل ِ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم ِ
َةلَة ِ الْمَغْرِب ِ صَلُّوا قَبْل َ صَلَ قَال َ صَلُّوا قَبْل َ ص ْ
َِة ِ لِمَن ْ شَاء َ كَرَاهِيَة َ أَنثلالْمَغْرِب ِ ثُم َّ قَال َ ف ِ اثلَّا
.[رواه ابلخاري] ً يَتَّخِذَهَا انلَّاس ُ سُنَّة
“Dari Abdullah bin al-Mughaffal, [diriwayatkan]
bahwasanya Nabi saw. bersabda: Shalatlah kamu sebelum
magrib, shalatlah kamu sebelum magrib, bersabda pada
kali yang ketiga: bagi siapa yang suka. (Ibnu Mughaffal
berkata) beliau mengatakan demikian karena beliau
khawatir dipandang orang sebagai sunah mu’akkad” [HR
al-Bukhari].
c. Empat rakaat setelah shalat isya, berdasarkan hadis: ْ
سُئِلَت عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَبِ أَوْفَ أَنَّ عَئِشَةَ رَضَِ اهللُ عَنْهَا ِ
َة ِ رَسُول ِ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ف ِ جَوْفلعَن ْ صَ ُ
اللَّيْل ِ فَقَالَت ْ كَن َ يُصَل ِّ الْعِشَاء َ ف ِ جََاعَة ٍ ثُم َّ يَرْجِع ُ
َْكَع ُ أَرْبَع َ رَكَعَات ٍ ثُم َّ يَأْوِي إِل َ فِرَاشِه ِ وَيَنَامريإِل َ أَهْلِه ِ فَ
.[رواه أبو داود]
“Dari Zurarah bin Abi Aufa, [diriwayatkan] bahwasanya
Aisyah ditanya tentang shalat Rasulullah saw. pada malam
hari, ia berkata: Rasulullah saw. shalat isya berjamaah
kemudian kembali kepada keluarganya, lalu shalat empat
rakaat, kemudian pergi ke tempat tidur dan tidur” [HR.
Abu Dawud].
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa ada shalat
sunah rawatib yang lain, sesuai dengan penilaian mereka
terhadap hadis-hadis yang mereka jadikan sebagai dasar
hujah. Adapun di dalam Himpunan Putusan Majelis Tarjih
Muhammadiyah, dinyatakan bahwa shalat sunah rawatib
itu terdiri atas: dua rakaat sebelum subuh, dua atau empat
rakaat sebelum dan sesudah zuhur, dua rakaat sebelum asar,
dua rakaat sebelum dan sesudah magrib, dan dua atau empat
rakaat sesudah isya (Lihat Himpunan Putusan Majelis Tarjih
Muhammadiyah Cetakan III, Kitab Shalat-shalat Tathawwu’,
tentang Shalat Rawatib, halaman 319-320, beserta dalil-
dalilnya halaman 328-332).
*SM, No. 17 tahun ke-90/2005)
DASAR SHALAT TAUBAT
Penanya:
Sujoko, Sekretaris PCM Ampel,
Boyolali, Jawa Tengah
Pertanyaan:
Mengapa dalam HPT tidak dikenal dengan shalat taubat,
padahal dalam majalah As-Sunah ada shalat taubat serta
disebutkan dalil-dalilnya? Mohon penjelasan!
Jawaban:
Mengenai shalat taubat yang tidak tercantum dalam
Himpunan Putusan Tarjih (HPT) dapat dijelaskan secara
singkat sebagai berikut:
HPT itu merujuk kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan
hadis-hadis Nabi saw. Kalau kita baca buku-buku seperti
Nailul-Authar karangan Imam asy-Syaukani, Subulus-Salam
karangan Imam ash-Shan‘ani, Zadul-Ma‘ad karangan Ibnul-
Qayyim al-Jauziyah, juga mereka tidak mencantumkan di
dalamnya tentang shalat taubat. Hanya akhir-akhir ini dalam
kitab-kitab yang ditulis oleh as-Sayyid Sabiq dalam Fiqhus-
Sunah atau TM Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Pedoman Shalat,
kedua ulama ini mencantumkan dan menempatkan shalat
taubat dalam deretan shalat-shalat sunah.
Kalau kita meneliti latar belakang mengapa dalam HPT
tidak dicantumkan/dimasukkan shalat taubat, juga shalat
tasbih, dalam deretan shalat-shalat sunah, karena hadis-
hadis tentang shalat taubat itu masih diperselisihkan tentang
kesahihannya oleh para ahli hadis. Memang di dalam kitab
Sunan Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad,
masing-masing mereka membawa hadis Ali karramallaahu
wajhah, yang di dalam sanadnya ada orang bernama Asma
bin al-Hakam. Begitu pula dalam hadis riwayat Imam al-
Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, al-Humaidi, Abu Ya‘la dan
ath-Thabrani, juga semuanya ini melalui jalan Ali, yang di
dalam sanadnya terdapat orang bernama Asma bin al-Hakam.
Posisi Asma bin al-Hakam ini diperselisihkan oleh para
ulama hadis. Artinya, sebagian ulama melemahkan Asma bin
al-Hakam, bahkan Imam al-Bukhari mengingkari/menolak
hadis dari jalan Asma bin al-Hakam ini. Tetapi sebagian
ulama ahli hadis lainnya menganggap tsiqah Asma bin al-
Hakam tersebut.
Karena ada perbedaan pendapat ulama ahli hadis tentang
Asma bin al-Hakam dan tidak ada riwayat dari jalan lainnya
sebagai penguat, maka sesuai dengan kaidah umum yang
dipegang ahli hadis, yaitu ‘jarah didahulukan daripada
ta‘dil’, artinya cacat didahulukan daripada pujian, atas dasar
itulah Majelis Tarjih pada waktu itu tidak memasukkan shalat
taubat ke dalam deretan shalat-shalat sunah dalam HPT.
Demikian latar belakang secara singkat mengapa dalam HPT
tidak dimasukkan shalat taubat dalam deretan shalat-shalat
sunah.
*SM, No. 10 tahun ke-90/2005)
HUKUM SHALAT DUHA SECARA
BERJAMAAH
Penanya:
Wakidjo Az./ Agen SM No. 025, NBM. 494 220, Lampung
(disidangkan pada hari Jumat, 7 Rabiulakhir 1427 H / 5
Mei 2006 M)
Pertanyaan:
Bolehkah shalat duha dilaksanakan dengan berjamaah?
Kalau boleh, bagaimanakah caranya? Apakah fadlilah shalat
duha?
Jawaban:
Shalat duha boleh dikerjakan dengan berjamaah. Ada
hadis yang menyatakan bahwa Nabi saw. shalat pada waktu
duha berjamaah, namun para ulama memperselisihkan
apakah yang dikerjakan oleh Nabi saw. dan para sahabat itu
shalat duha atau bukan. Hadisnya sebagai berikut: ُ
عَن ْ عِتْبَان ِ بْن ِ مَالِك ٍ وَهُو َ مِن ْ أَصْحَاب ِ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل َ
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مِمَّن ْ شَهَد َ بَدْرًا مِن َ اْألَنْصَار ِ أَنَّه ُ أَت َ رَسُوْل ْ
اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَالَ: يَا رَسُوْل َ اهلل ِ إِن ِّ قَد ُ
أَنْكَرْت ُ بَصَِي وَأَنَا أُصَل ِّ لِقَوْم ِ وَإِذَا كَنَت ِ اْألَمْطَار ْ
سَال َ اْلوَادِى بَيْن ِ وَبَيْنَهُم ْ وَلَم ْ أَسْتَطِع ْ أَن ْ أَت َ مَسْجِدَهُم ِ
فَأُصَل ِّ لَهُم ْ وَوَدِدْت ُ أَنَّك َ يَا رَسُوْل َ اهلل ِ تَأْت ِ فَتُصَل ِّ ف
116Tanya Jawab Agama 9 ِ
مُصَل َّ فَأَتَِّذُه ُ مُصَل ً قَال َ فَقَال َ رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ
وَسَلَّمَ: سَأَفْعَل ُ إِن ْ شَآء َ اهللُ. قَال َ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُوْل ُ اهلل َ
َْ ارْتَفَع نيصَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ وَأَبُو بَكْر ٍ الصِّدِّيْق ُ حِ ُ
انلَّهَار ُ فَاسْتَأْذَن َ رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَأَذِنْت ْ
ِْيْت َ ثُم َّ قَالَ: أَيْن َ تُِب ُّ أَنبلل َُ فَلَم ْ يَْلِس ْ حَت َّ دَخَل َ ا َ
َْيْت ِ فَقَامبلَْت ُ إِل َ نَاحِيَة ٍ مِن َ ارشَتُصَل ِّ مِن ْ بَيْتِكَ. قَالَ: فَأ َّ
رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَكَب ََّ فَقُمْنَا وَرَاءَه ُ فَصَل
.[متفق عليه] َ ِْ ثُم َّ سَلَّم نيرَكْعَتَ
“Dari Itban bin Malik ---dia adalah salah seorang sahabat
Nabi yang ikut perang Badar dari kalangan Anshar---
[diriwayatkan] bahwa dia mendatangi Rasulullah saw. lalu
berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku sekarang tidak
percaya kepada mataku (maksudnya, matanya sudah kabur)
dan saya menjadi imam kaumku. Jika musim hujan datang
maka mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara
aku dengan mereka, sehingga aku tidak bisa mendatangi
masjid untuk mengimami mereka, dan aku suka jika engkau
wahai Rasulullah datang ke rumahku lalu shalat di suatu
tempat shalat sehingga bisa kujadikannya sebagai tempat
shalatku. Ia meneruskan: Lalu Rasulullah saw. bersabda:
“Akan kulakukan insya Allah”. Itban berkata lagi: Lalu
keesokan harinya Rasulullah saw. dan Abu Bakar ash-
Shiddiq datang ketika matahari mulai naik, lalu beliau
meminta izin masuk, maka aku izinkan beliau. Beliau
tidak duduk sehingga masuk rumah, lalu beliau bersabda:
“Mana tempat yang kamu sukai aku shalat dari rumahmu?
Ia berkata: Lalu aku tunjukkan suatu ruangan rumah”.
Lalu Rasulullah saw. berdiri lalu bertakbir, lalu kami pun
berdiri (shalat) di belakang beliau. Beliau shalat dua rakaat
kemudian mcngucapkan salam” [Muttafaq Alaih].
Bagi mereka yang berpendapat bahwa itu adalah shalat
duha, karena dilakukan ketika matahari mulai naik, maka
mereka mengatakan bahwa shalat duha boleh dilakukan
secara berjamaah. Caranya adalah dengan bacaan sirr
(perlahan-perlahan, tidak jahr/terang).
Adapun fadlilah shalat duha adalah banyak, antara lain
sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Nabi saw. dengan
sabdanya: َ
عَن ْ أَب ِْ ذَر ٍّ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم ُُّ
َم ِ مِن ْ أَحَدِكُم ْ صَدَقَة ٌ فَكلُ قَالَ: يَصْبَح ُ ع ََ ك ُِّ س ٌ
تَصْبِيْحَة ٍ صَدَقَة ٌ وَك ُُّ تَْمِيْدَة ٍ صَدَقَة ٌ وَك ُُّ تَهْلِيْلَة ٍ صَدَقَة ِ
َْة ٍ صَدَقَة ٌ وَأَمْر ٌ بِاْلمَعْرُوْف ِ صَدَقَة ٌ وَنَه ٌْ عَنريِ وَك ُُّ تَكْب َ
اْلمُنْكَر ِ صَدَقَة ٌ وَيُْزِئ ُ مِن ْ ذَالِك َ رَكْعَتَان ِ يَرْكَعُهُمَا مِن
.[رواه مسلم] َ الضُّح
“Dari Abu Dzar r.a., [diriwayatkan] dari Nabi saw.,
beliau bersabda: “Setiap pagi hari, setiap ruas tulang dari
seseorang di antara kamu itu ada (keharusan) sedekah.
Setiap sekali tasbih adalah sedekah, setiap sekali tahmid
adalah sedekah, setiap sekali tahlil adalah sedekah, setiap
sekali takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang makruf
(baik) adalah sedekah dan melarang dari yang mungkar
adalah sedekah. Sedemikian itu dapat dicukupi oleh dua
rakaat yang dilakukan oleh seseorang dari shalat duha”
[HR Muslim].
*SM, No. 22 tahun ke-91/2006)

