putusan
Tanya Jawab Agama 9 Bab 7 Shalat Id
BAB 7
SHALAT ID
KHATIB SHALAT ID TERLAMBAT DATANG
Penanya:
Fitri Gunda, d.a. SMP Muhammadiyah 1 Alung Barat
Talang Jembatan
Lampung Utara 34558
Pertanyaan:
Apakah sah shalat Id dimana khatibnya terlambat datang,
tidak sempat shalat Id bersama jamaah, tetapi langsung
bertindak sebagai khatib?
Jawaban:
Masalah yang saudara tanyakan itu sebenarnya sering
terjadi dalam masyarakat. Bukanlah suatu keharusan imam
selalu merangkap sebagai khatib atau sebaliknya khatib
merangkap sebagai imam dalam shalat Id atau shalat Jumat.
Memang di masa Rasulullah saw atau di zaman Khulafaur-
Rasyidin, Nabi saw. atau Khalifah menjadi imam sekaligus
menjadi khatib. Praktik seperti itu tidak memberikan
pengertian wajib. Lagi pula kedudukan shalat Id adalah sunah
muakkad sedangkan khutbah hukumnya juga sunah. Bisa
saja seseorang karena sesuatu hal tidak mendapatkan jamaah
shalat Id, dia boleh mengerjakan sendirian tanpa khutbah.
Jadi jangan diambil kesimpulan sesuatu yang selalu
dikerjakan Nabi saw. itu hukumnya wajib. Contohnya,
Nabi saw. selalu mengerjakan shalat sunah subuh (Fajar)
dua rakaat, baik berada di tempat atau sedang bepergian
(musafir). Hal itu tidak berarti shalat sunah subuh (Fajar)
itu wajib, tetapi hukumnya tetap sunah. Di kalangan ahli
usul fikih, ada kaidah yang berkembang yaitu ‘semata-mata
137Shalat Id
selalu dikerjakan, tidak memberikan faidah wajib’ (ِمَُرَّد ُ اْلفِعْل
َ يُفِيد ُ الْوُجُوب ال).
Dalam contoh kasus di tempat saudara boleh jadi khatib
itu telah mengerjakan shalat Id di rumahnya, baik berjamaah
dengan keluarganya ataupun sendirian. Kalau belum,
idealnya begitu sampai di lapangan dia mengerjakan shalat
Id lebih dahulu walaupun tidak berjamaah baru kemudian
berkhutbah. Kalau tidak mengizinkan karena khawatir para
jamaah gelisah dan bubar, boleh khatib itu terus naik ke
mimbar untuk berkhutbah. Oleh karena itu sebaiknya ada
khatib cadangan, kalau khatib yang ditunggu-tunggu belum
datang bisa digantikan oleh khatib cadangan tersebut.
*SM, No. 23 tahun ke-90/2005)
KHUTBAH IDULFITRI DAN IDULADHA
Penanya:
Budi Warsono, Jalan Janti Yogyakarta
Pertanyaan:
- Apakah khutbah shalat Idulfitri dan Iduladha dimulai
dengan takbir? - Apakah khutbah Idulfitri dan Iduladha satu khutbah atau
dua khutbah dengan duduk di antara dua khutbah?
Jawaban:
Untuk menjawab pertanyaan saudara baik nomor 1
maupun nomor 2, akan kami sampaikan terlebih dahulu
Keputusan Muktamar Tarjih XX di Garut pada tanggal 18
s.d. 23 Rabiulakhir 1396 H / 18 s.d. 23 April 1976, yang
berbunyi: “Sesudah selesai shalat hendaklah Imam membaca
khutbah satu kali, dimulai dengan “al-Hamdulillah”
dan menyampaikan nasihat kepada para hadirin dan
menganjurkan untuk berbuat baik.” Berdasarkan dalil: ِ
َِدِيْث ِ أَب ِ سَعِيد ٍ قَال َ كَن َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْهحل ٍ
وَسَلَّم َ يَْرُج ُ يَوْم َ الْفِطْر ِ وَاْألَضْح َ إِل َ الْمُصَل َّ فَأَوَّل ُ شَْء ُ
َة ُ ثُم َّ يَنْصَِف ُ فَيَقُوم ُ مُقَابِل َ انلَّاس ِ وَانلَّاسليَبْدَأ ُ بِه ِ الصَّ ْ
جُلُوس ٌ ع ََ صُفُوفِهِم ْ فَيَعِظُهُم ْ وَيُوصِيهِم ْ وَيَأْمُرُهُم ْ فَإِن َّ
كَن َ يُرِيد ُ أَن ْ يَقْطَع َ بَعْثًا قَطَعَه ُ أَو ْ يَأْمُر َ بِشَْء ٍ أَمَر َ بِه ِ ثُم
.[رواه ابلخاري ومسلم واللفظ للبخاري] ُ يَنْصَِف
“Beralasan hadis Abu Sa’id yang mengatakan: “Pada hari raya
Fitri dan Adha Rasulullah saw. kalau pergi ke tempat shalat,
maka yang pertama beliau kerjakan adalah shalat, kemudian
apabila telah selesai beliau bangkit menghadap orang banyak
ketika mereka masih duduk pada saf-saf mereka. Lalu beliau
menyampaikan peringatan dan wejangan kepada mereka dan
mengumumkan perintah-perintah pada mereka, dan jika beliau
hendak memberangkatkan angkatan atau mengumumkan
tentang sesuatu beliau laksanakan kemudian pulang” [HR al-
Bukhari dan Muslim, lafal al-Bukhari]. ِ
َِدِيْث ِ جَابِر ٍ قَال َ شَهِدْت ُ مَع َ رَسُول ِ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْهحلَو ِْ
ريَة ِ قَبْل َ الُْطْبَة ِ بِغَلَة َ يَوْم َ الْعِيد ِ فَبَدَأ َ بِالصَّلوَسَلَّم َ الصَّ
139Shalat Id ِ
َل ٍ فَأَمَر َ بِتَقْوَى اهلللأَذَان ٍ وَال َ إِقَامَة ٍ ثُم َّ قَام َ مُتَوَكِّئًا ع ََ بِ َ
وَحَثَّ عََ طَاعَتِهِ وَوَعَظَ انلَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثُمَّ مَضَ حَتَّ أَت
[رواه مسلم والنساىئ] النِّسَاء َ فَوَعَظَهُن َّ وَذَكَّرَهُنَّ... احلديث ُ
وَف ِ رِوَايَة ٍ عَنْه ُ عِنْد َ مُسْلِم ٍ فَلَمَّا فَرَغ َ نَب ُِّ اهلل ِ صَل َّ اهلل
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ نَزَل َ و َ أَت َ النِّسَاء َ فَذَكَرَهُن َّ ... احلديث.
“Beralasan pula hadis Jabir yang mengatakan: “Pernah
aku mengalami shalat hari raya bersama Rasulullah saw.,
lalu dimulai shalat sebelum khutbah tanpa azan dan ikamah.
Kemudian beliau bangkit bersandar pada Bilal, lalu beliau
menganjurkan orang tentang takwa kepada Allah dan
menyuruh patuh kepada-Nya dan menyampaikan nasihat
dan peringatan kepada mereka. Lalu beliau mendatangi
para wanita dan menyampaikan nasihat dan peringatan
kepada mereka …” dan seterusnya hadis [HR Muslim dan
an-Nasa’i]. Dalam riwayat Muslim dengan kalimat: “Setelah
Nabiyullah saw. selesai, beliau turun dan mendatangi para
wanita dan menyampaikan peringatan-peringatan kepada
mereka … dan seterusnya hadis.”
Dalam hadis-hadis yang telah disebutkan di atas, tidak
ada keterangan tentang memulai khutbah Id dengan takbir.
Demikian pula tidak ada keterangan tentang khutbah Id
dengan dua khutbah. Oleh karena dalam hadis tersebut tidak
disebutkan bahwa khutbah Id dimulai dengan takbir, maka
dalam khutbah Id ini, digunakan hadis yang menjelaskan
praktik Rasulullah saw. dalam memulai khutbah, sebagaimana
dijelaskan dalam hadis:
140Tanya Jawab Agama 9 ُ
عَن ِ ابْن ِ مَسْعُود ٍ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ أَن َّ رَسُول َ اهلل ِ صَل َّ اهلل
.[رواه أبو داود] ... ِِ هلل ُ َْمْدحلعَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ إِذَا تَشَهَّد َ قَال َ ا
“Dari Ibnu Mas‘ud r.a., [diriwayatkan] ia berkata bahwa
Rasulullah saw. jika memulai khutbah dengan mengucapkan
‘al-hamdulillah’ …” [HR Abu Dawud]. َّ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َ
ِِ فَهُو هلل ُ َْمْدحلَم ٍ ال َ يُبْدَأ ُ فِيه ِ بِالَ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ك ُُّ ك
.[رواه أبو داود] ُ أَجْذَم
“Dari Abu Hurairah r.a., [diriwayatkan] ia berkata: Rasulullah
saw. bersabda: Setiap pidato yang tidak dimulai dengan ‘al-
hamdulillah’, maka tidak barakah” [HR Abu Dawud].
Memang ada hadis yang menyatakan: َ
عَن ْ عَبْد ِ اهلل ِ بْن ِ عَبْد ِ اهلل ِ بْن ِ عُتْبَة َ قَال َ السُّنَّة ُ أَن ْ تُفْتَتَح
َْات ٍ تَتَْىريِ َْات ٍ تَتَْى وَبِسَبْع ِ تَكْبريِ ُطْبَة ُ بِتِسْع ِ تَكْبلاْ
.[رواه ابليهيق]
“Dari Abdullah bin Abdullah bin ‘Utbah [diriwayatkan] ia
berkata: Merupakan sebuah sunah Nabi membuka khutbah
dengan tujuh takbir secara pelan-pelan dan yang kedua dengan
sembilan takbir secara pelan-pelan” [HR al-Baihaqi].
Asy-Syaukani dalam Nailul-Authar Juz III halaman
374 mengatakan bahwa Abdullah bin Abdullah adalah
seorang tabiin, maka berdasarkan usulul-hadis ia tidak dapat
141Shalat Id
diterima kalau ia mengatakan ‘sebagai suatu sunah Nabi’.
Dengan demikian dapat kiranya dikatakan bahwa hadis ini
termasuk hadis maqtu’ yang oleh karenanya hadis tersebut
tidak maqbul, sehingga tidak dapat diamalkan isinya. Dengan
tegas Ibnul-Qayyim mengatakan bahwa memulai khutbah
Idain (Fitri dan Adha) dengan takbir, sama sekali tidak
ada sunah yang dapat dijadikan dasarnya. Sebaliknya yang
disunahkan adalah memulai segala macam khutbah dengan
‘al-hamdu’. Sejalan dengan pendapat itu, Prof. Dr. TM Hasbi
Ash-Shiddieqy, mengatakan tidak ada keterangan yang
kuat yang menerangkan bahwa Nabi saw. memulai khutbah
dengan takbir (Pedoman Shalat, halaman 458).
Mengenai dua khutbah dalam shalat Id dengan duduk di
antara dua khutbah tersebut, juga ditemukan hadis sebagai
berikut: َ
عَن ْ عَبْد ِ اهلل ِ بْن ِ عَبْد ِ اهلل ِ بْن ِ عُتْبَة َ قَال َ السُّنَّة ُ أَن ْ يَْطُب
[رواه ٍ ِْ يُفَصِّل ُ بَيْنَهُمَا بُِلُوْس نياْإلِمَام ُ ف ِ اْلعِيدَيْن ِ خُطْبَتَ
.الشافيع]
“Dari ‘Abdullah bin ’Abdullah bin ‘Utbah [diriwayatkan]
ia berkata: Merupakan sebuah sunah Nabi seorang imam
berkhutbah dalam Idain (Fitri dan Adha) dengan dua
khutbah dan memisahkan antara keduanya dengan duduk”
[HR. asy-Syafi’i]. َ
عَن ْ جَابِر ٍ قَال َ خَرَج َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ
يَوْم َ فِطْر ٍ أَو ْ أَضْح َ فَخَطَب َ قَائِمًا ثُم َّ قَعَد َ قَعْدَة ً ثُم َّ قَام
.[رواه ابن ماجه]
“Dari Jabir [diriwayatkan] ia berkata Rasulullah saw.
keluar pada Idulfitri atau Iduladha, kemudian berkhutbah
dengan berdiri lalu duduk sejenak kemudian berdiri lagi”
[HR Ibnu Majah].
Terhadap hadis yang diriwayatkan oleh asy-Syafi’i,
asy-Syaukani -sebagaimana telah dikemukakan di atas,-
menerangkan bahwa Abdullah bin Abdullah adalah seorang
tabiin sehingga tidak dapat diterima perkataannya yang
menyatakan ‘sebagai sunah Nabi’. Dengan kata lain hadis
ini termasuk hadis maqtu’ yang oleh karenanya tidak maqbul.
Terhadap hadis riwayat Ibnu Majah, dalam sanadnya
terdapat Sa’id bin Muslim yang disepakati kedaifannya
(Sunan Ibnu Majah, Juz I, halaman 408). Dengan demikian
hadis ini pun tidak maqbul. Sejalan dengan keterangan ini,
an-Nawawi dalam al-Khulashah mengatakan: Tak ada satu
pun dalil yang kuat yang menetapkan bahwa khutbah Id
dilakukan dengan dua khutbah.
Dari keterangan yang telah disampaikan di atas, dan
berdasarkan hadis-hadis yang dijadikan alasan Keputusan
Muktamar Tarjih XX yang telah dikutip sebelumnya, Majelis
Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai
saat ini tetap berpendapat bahwa khutbah shalat Idulfitri dan
Iduladha tidak dimulai dengan takbir, melainkan dengan
‘al-hamdu’ (tahmid) dan bahwa khutbah shalat Idulfitri dan
Iduladha hanya satu khutbah, bukan dua khutbah dengan
disertai duduk sejenak di antara keduanya.
*SM, No. 02 tahun ke-91/2006)
143Shalat Id
LAFAL TAKBIR HARI RAYA
Penanya:
Wakidjo Az./ Agen SM No. 025, NBM. 494 220, Lampung
(disidangkan pada hari Jumat, 7 Rabiulakhir 1427 H / 5
Mei 2006 M)
Pertanyaan:
Bagaimanakah lafal takbir Hari Raya?
Jawaban:
Mengenai lafal takbir hari raya, sebagaimana diputuskan
dalam Muktamar Tarjih XX, yang berlangsung tanggal 18
s.d. 23 Rabiulakhir 1396 H, bertepatan dengan tanggal 18 s.d.
23 April 1976 di Kota Garut Jawa Barat, yang selanjutnya
telah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah
dengan surat Nomor: C/1-0/75/77 tertanggal 5 Safar 1397 H
bertepatan dengan tanggal 26 Januari 1977, adalah: َُ
َ إِال َّ اهلل ُ وَاهلل ُ أَكْب لاَهلل ُ أًكْب َُ اَهلل ُ أَكْب َُ ال َ إِ
Keputusan ini berdasarkan dalil: َ
ًْا، و َ جَاءريِ عَن ْ سَلْمَان َ قَالَ: كَبُِّوْا، اَهلل ُ أًكْب َُ اَهلل ُ أَكْب َُ كَب ُ
َ إِال َّ اهلل لعَن ْ عُمَر َ وَابْن ِ مَسْعُوْدٍ: اَهلل ُ أًكْب َُ اَهلل ُ أَكْب َُ ال َ إِ
ِِ اْحلَمْدُ. هللَوَاهلل ُ أَكْب َُ اَهلل ُ أَكْب َُ و
“Dari Salman [diriwayatkan] bahwa ia berkata: bertakbirlah
dengan Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiiraa. Dan
diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Mas’ud: Allaahu akbar,
Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu
akbar wa lillaahil-hamd” [HR Abdul Razzaaq, dengan sanad
sahih].
*SM, No. 22 tahun ke-91/2006)

