putusan
Fatwa 09 2018 Doa Setelah Khutbah Pertama Shalat Jumat
DOA SETELAH KHUTBAH PERTAMA SHALAT JUM‘AT
Pertanyaan Dari:
Jumadi, S.Sos., Karanganyar – Surakarta
(disidangkan pada Jum‘at, 3 Jumadilawal 1437 H / 12 Februari 2016 M)
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum w. w.
Mohon penjelelasan dan hukumnya jamaah shalat Jum‘at membaca doa pada saat khatib duduk setelah khutbah pertama sebelum khutbah kedua (doa di antara dua khutbah Jum‘at oleh makmum/jamaah). Demikian, terima kasih atas pencerahannya.
Wassalamu ‘alaikum w. w.
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalam w. w.
Terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan. Sehubungan dengan ibadah, khususnya ibadah shalat, ada sebuah hadis Rasulullah saw.:
وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ اللَّيْثِيِّ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم -: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي [رواه البخاري].
Dari Malik ibn al-Huwairits al-Laitsi r.a. (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat [HR. al-Bukhari no. 628].
Hadis ini mengandung pelajaran bahwa ibadah shalat harus dilakukan sesuai tuntunan agar tidak terjadi penyimpangan di dalamnya. Adapun mengenai tata cara shalat secara lengkap telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadis-hadisnya.
Sesuai dengan pertanyaan saudara yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan shalat Jum‘at telah dijelaskan dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah (HPT) dalam bab Shalat Jum‘at. Dalam HPT dijelaskan bahwa pelaksanaan shalat Jum‘at diawali dengan dua khutbah sebagaimana hadis Nabi saw.:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ يَقْعُدُ بَيْنَهُمَا [رواه البخاري].
Dari Abdullah ibn Umar r.a. (diriwayatkan) ia berkata: Adalah Nabi saw. dahulu berkhutbah dua kali dan duduk antara keduanya [HR. al-Bukhari no. 928].
Pada hadis tersebut dijelaskan bahwa Nabi saw berkhutbah dua kali pada shalat Jum‘at dan memisahkan kedua khutbahnya dengan cara duduk singkat di antara keduanya. Berkaitan dengan pertanyaan saudara mengenai hukum doa di antara dua khutbah, kami mengelompokkannya menjadi dua, yaitu pertama doa shalawat yang dibaca secara berjamaah seperti yang sering dijumpai pada masjid-masjid tertentu, kedua doa yang dipanjatkan secara individu kepada Allah.
Mengenai doa shalawat yang dibaca secara berjamaah pada saat khatib duduk di antara dua khutbah seperti yang sering dijumpai pada masjid-masjid tertentu telah dibahas dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid 4 hlm. 118, bahwa belum ditemukan dalil baik al-Qur’an maupun al-Hadis yang memerintahkan agar pada saat khatib duduk antara dua khutbah para jamaah membaca shalawat, atau bacaan tersebut dipimpin oleh satu orang (yang biasanya disebut bilal) untuk kemudian diikuti oleh jamaah yang lain. Beberapa hadis yang ada mengenai dua khutbah Jum‘at di dalamnya tidak diterangkan mengenai perintah untuk membaca shalawat dan doa-doa khusus lainnya. Hadis-hadis tersebut antara lain,
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ قَائِمًا، وَيَجْلِسُ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، وَيَقْرَأُ آيَاتٍ، وَيُذَكِّرُ النَّاسَ [رواه أحمد].
Dari Jabir ibn Samurah (diriwayatkan) ia berkata: Adalah Rasulullah saw. berkhutbah sambil berdiri dan duduk di antara dua khutbah dan membaca beberapa ayat al-Qur’an dan memberi peringatan kepada orang banyak [HR Ahmad no. 20813].
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا، ثُمَّ يَجْلِسُ، ثُمَّ يَقُومُ. قَالَ: كَمَا يَفْعَلُونَ الْيَوْمَ [رواه مسلم].
Dari Ibn Umar (diriwayatkan), ia berkata: Adalah Nabi saw berkhutbah pada hari Jum‘at sambil berdiri lalu duduk dan kemudian berdiri lagi, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang sekarang [HR Muslim no. 33].
Kedua hadis di atas menegaskan tentang adanya duduk di antara dua khutbah Jum‘at, tapi tidak sama sekali menyebutkan adanya keharusan membaca shalawat bagi jamaah pada saat khatib sedang duduk di antara dua khutbah itu. Hadis tersebut hanya menyebutkan tentang sikap khatib yang hendaknya duduk di antara dua khutbah, sementara sikap makmum pada saat itu tidak dijelaskan. Dikarenakan tidak ada dalil yang menjelaskan mengenai membaca shalawat pada saat khatib sedang duduk di antara dua khutbah, maka hendaknya perkara tersebut ditinggalkan, berdasarkan hadis,
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ [رواه البخاري ومسلم].
Dari ‘Aisyah r.a. (diriwayatkan) ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini yang bukan dari kami maka dia tertolak [HR. al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718].
Sejalan dengan hadis di atas, dalam kaidah fiqhiyah disebutkan,
الأَصْلُ فِي العِبَادَةِ البُطْلَانُ حَتَّى يَقُوْمَ الدَّلِيْلُ عَلَى الأَمْرِ .
Hukum asal dalam ibadah adalah batal sampai ada dalil yang memerintahkannya.
Sedangkan mengenai doa secara individu pada saat khatib duduk di antara dua khutbah, telah dibahas pada Tanya Jawab Agama Majalah Suara Muhammadiyah No. 21/2003 dengan judul syarat doa makbul, bahwa Hari Jum‘at termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi saw.:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ: فِيهِ سَاعَةٌ، لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hurairah (diriwayatkan) bahwasanya Rasulullah saw. menyebut tentang hari Jum‘at. Beliau bersabda: Di dalamnya terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas ia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta [HR. al-Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852].
Dalam hadis Muslim berikut dijelaskan bahwa batas waktu pada hari Jum‘at yang dimaksud mustajab adalah waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum‘at,
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، قَالَ: قَالَ لِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ: أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ سَاعَةِ الْجُمُعَةِ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، سَمِعْتُهُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ [رواه مسلم].
Dari Abi Burdah ibn Abi Musa al-Asy’ari (diriwayatkan) ia berkata: Abdullah ibn Umar berkata kepadaku: Apakah engkau pernah mendengar bapakmu mengatakan sesuatu dari Rasulullah saw. tentang waktu mustajab pada hari Jum‘at? Aku menjawab: Pernah, aku pernah mendengar beliau mengatakan: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Waktu mustajab itu adalah antara imam duduk (selesai khutbah pertama) sampai selesai shalat Jum’at.” [HR Muslim no. 853].
Berdasarkan hadis tersebut, waktu antara dua khutbah pada hari Jum‘at adalah termasuk waktu mustajab untuk berdoa. Di samping itu perlu diketahui juga bahwa pelaksanaan khutbah Jum‘at tersebut berada pada waktu antara adzan dan iqamah yang juga merupakan waktu mustajab untuk berdoa, berdasarkan hadis,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ [رواه أبو داود].
Dari Anas ibn Malik (diriwayatkan), ia berkata: Rasululah saw bersabda: Tidak ditolak doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamat [HR. Abu Dawud no. 521].
Dengan demikian, berdoa sendiri atau secara individu pada waktu khatib duduk di antara dua khutbah adalah masyru‘ (disyariatkan). Lebih lengkap tentang bagaimana tata cara pelaksanaan berdoa dapat dilihat dalam buku Tuntunan Dzikir dan Doa Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dan diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

