putusan
Keputusan 54 2024 Fikih Perlindungan Anak 05 Bab III Perlindungan Anak
BAB III
PERLINDUNGAN ANAK
A. Nilai-Nilai Dasar Perlindungan Anak
Telah dijelaskan sebelumnya mengenai tipologi anak, bahwa anak merupakan
perhiasan dunia, nikmat sekaligus amanah, yang mana bisa menjadi penenang hati,
harapan di hari tua dan wali yang baik atau sebaliknya, bisa menjadi cobaan hidup bahkan
musuh bagi orangtua. Oleh karena itu, Al-Qur’an dan Sunah memberikan beberapa aturan
yang mendasar agar tercipta interaksi yang tepat terhadap anak.
- Tauhid
Nilai dasar yang paling utama dalam bangunan agama Islam adalah tauhid. Oleh
karenanya, perlindungan anak pun semestinya didasari oleh visi ketauhidan. Tauhid
mengandung pengertian bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang menciptakan dan
sekaligus menumbuhkan serta memelihara seluruh ciptaan-Nya termasuk anak.
Penciptaan manusia itu dilakukan dengan sempurna dan manusia adalah makhluk Allah
yang paling mulia. Oleh karena itu, orangtua berkewajiban menumbuhkan dan
memelihara anak berdasarkan kemuliaan manusia itu. Demikian pula anak
berkewajiban menjaga dirinya berdasarkan kemuliaan tersebut. Mengenai penciptaan
ini, telah ditegaskan dalam firman Allah,
وَﻫُﻮ َ اﺬﻟَِّي ﺧَﻠَﻖ َ ﻣِﻦ َ الْﻤَﺎء ِ �َﺮﺸًَا ﻓَﺠَﻌَﻠَﻪ ُ �َﺴَﺒًﺎ وَﺻِﻬْﺮًا و�ََن َ ر�َُّﻚ َ ﻗَﺪِﻳﺮًا.
Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya)
keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa [QS al-Furqān (25):
54].ِ
� ِِ مُﻠْﻚ ُالﺴَّﻤَﺎوَات ِ وَاﻷَْرْضُ�َْﻠُﻖ ُ ﻣَﺎ �َﺸَﺎءَ �َﻬَﺐ ُلِﻤَﻦ �َﺸَﺎء ُ إِﻧَﺎﺛًﺎو�ََﻬَﺐ ُ لِﻤَﻦ �َﺸَﺎء ُ اﺬﻟُّﻛُﻮر
. أَو ْ ﻳُﺰَوِّﺟُﻬُﻢ ْ ذُﻛْﺮَاﻧًﺎ و�َِﻧَﺎﺛًﺎو�ََْﻌَﻞ ُ ﻣَﻦ �َﺸَﺎء ُ ﻋَﻘِﻴﻤًﺎإِﻧَّﻪ ُ ﻋَﻠِﻴﻢ ٌ ﻗَﺪِﻳﺮٌ.
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia
kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki
dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. atau Dia
menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang
dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa [QS asy-Syūrā (42): 49-50].
Nilai tauhid meniscayakan keyakinan bahwa pada hakikatnya seluruh isi alam,
termasuk anak, adalah milik Allah sebagaimana yang dijelaskan pada ayat di atas.
Orangtua hanyalah pelaksana amanah dari Allah untuk merawat dan mendidik anak
agar menjadi hamba Allah yang menaati segala aturan-Nya dan menjauhi segalaُُُّ َََُْ ََِِِْ ََِْ ََََّْ ََََِِْ ِ ُْْ َِ ََِْ ِ ََُُِ ٍَْ ََٰ ًََُُِْْ ََ ٌِْ ِِ ََ ََْ َ ِ َُِْ َ ََٰ ََََ ََُِِْ ََِِّ ًََََُُِْْ ََُّْ َْ ََِ ََِّْ ََِّ ََ َََُْ ُُْ َِ ََُُُِّ َُُِْْ ََِّ َََُِّّْٰ ََُْ َُ ُِِْ
37NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mًَِ ََُّ َََ ًَِْ ًََ ََََُ ًََ َِْ َِ َََ َِّ ََََُِْْ َََُُِّْ ََُِِ َ ًََُُِْ ََُ َََُِ َُُّ ََُ َِ ًَََََُِ ًَُْ َُُُِّْ ًََِْ ََُ َ ٌََََُِْ ٌَِ َُِّ
larangan-Nya. Sementara itu, anak diperintahkan untuk menghormati orangtua yang
telah mendapat amanah dari Allah untuk merawatnya, ia juga diperintahkan untuk
menaati perintah orangtua selama perintah tersebut tidak menyalahi atau bertujuan
maksiat kepada Allah. Perintah berbakti ini, dengan jelas disebutkan dalam firman
Allah,ُ
َ وَوَﺻَّﻴْﻨَﺎ اﻹ�ِْﺴَﺎن َ ﺑِﻮَاﺪﻟَِﻳْﻪ ِ ﻤﺣََﻠَﺘْﻪ ُ أُﻣُّﻪوَﻫْﻨًﺎ ﻰﻠﻋ ََٰ وَﻫْﻦ ٍ وَﻓِﺼَﺎﻪﻟ ُُ ﻲﻓ ِ ﺎﻋَﻣ�َ ِْ أَن ِ اﺷْﻜُﺮ ْ ﻲﻟ ِ وَلِﻮَاﺪﻟَِﻳْﻚ
إِﻲﻟ ََّ الْﻤَﺼ�ِ ُ . و�َِن ﺟَﺎﻫَﺪَاك َ ﻰﻠﻋ ََٰ أَن �ُﺮﺸِْك َ ﻲﺑ ِ ﻣَﺎ ﻟَيْﺲ َ لَﻚ َ ﺑِﻪ ِ ﻋِﻠْﻢ ٌ ﻓَﻼ َ ﺗُﻄِﻌْﻬُﻤَﺎِوَﺻَﺎﺣِﺒْﻬُﻤَﺎ ﻲﻓ
اﺪﻟ�ُّْﻴَﺎ ﻣَﻌْﺮُوﻓًﺎَََّ وَاﺗَّﺒِﻊ ْ ﺳَبِﻴﻞ َ ﻣَﻦ ْ أﻧَﺎب َ إِﻲﻟ�ُﻢ َّ إِﻲﻟ ََّ مَﺮْﺟِﻌ�ُُﻢ ْ ﻓَﺄُﻧَبِّﺌ�ُُﻢ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨﺘُﻢ ْ �َﻌْﻤَﻠُﻮنَ.
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan
baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-
Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan [QS
Luqmān (31): 14-15].
Tauhid meniscayakan bahwa hanya Allah yang disembah seluruh manusia.
Penyembahan ini mendatangkan ketenangan hati dan perasaan mendapat lindungan-
Nya. Implementasinya, anak adalah manusia yang diciptakan untuk menyembah hanya
kepada Allah, sehingga ia harus diarahkan menjadi hamba Allah yang baik. Selain itu,
karena yang wajib disembah hanyalah Allah, maka manusia pada dasarnya sama
kedudukannya di hadapan Allah baik orangtua maupun anak, sehingga tidaklah pantas
untuk memperlakukan anak dengan semena-mena bagaikan seorang budak.
2. Keadilan
Nilai berikutnya yang penting menjadi dasar bagi perlindungan anak adalah nilai
keadilan. Adil artinya “memberikan hak kepada orang yang berhak menerima sesuai
dengan haknya”. Keadilan merupakan nilai yang sangat mendasar dalam ajaran Islam
khususnya terkait dengan anak. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an,
... اِﻋْﺪِلُﻮا ﻫُﻮ َ أَﻗْﺮَب ُ لِﻠﺘَّﻘْﻮَى ٰ ...
… berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa … [QS al-Māidah (5): 8].
Dalam konteks perlindungan anak, nilai keadilan bermakna memberikan hak
anak dengan tepat atau membebankan kewajiban sesuai kemampuannya. Berbuat adil
terhadap anak juga berarti mencintai semua anak, memberikan hadiah atau sanksi tanpa
diskriminasi. Rasulullah pun memberikan perintah untuk berbuat adil dalam memberi
hak anak,
38NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M َ
ِ ﻋَﻦ ِ اﻨﻟُّﻌْﻤَﺎن ِ ﺑْﻦ ِ �َﺸ�ِ ٍ ﻗَﺎل َ ﺗَﺼَﺪَّق َ ﻲﻠﻋ َََّ أَﻲﺑ ِ ﺑِﺒَﻌْﺾ ِ ﻣَﺎﻪﻟ ِِ �َﻘَﺎﻟَﺖ ْ أ� ِّ �َُﻤْﺮَة ُ ﺑِﻨْﺖ ُ رَوَاﺣَﺔ َ ﻻ
َأَرْﻰﺿ َ ﺣَﻰﺘ َّ �ُﺸْﻬِﺪ َ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ ﻓَﺎ�ْﻄَﻠَﻖ َ أَﻲﺑ ِ إِﻰﻟ َ اﻨﻟَّﻲﺒ ِِّ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ
َ وَﺳَ ﻠَّﻢ َ ﻟِيُﺸْﻬِﺪَه ُ ﻰﻠﻋ ََ ﺻَﺪَﻗَﻲﺘ ِ �َﻘَﺎل َ ﻪﻟ َُ رَﺳُﻮل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ أ�ََﻌَﻠْﺖ َ ﻫَﺬَا ﺑِﻮَﺪﻟَِك
ﻠﻛُِّﻬِﻢ ْ ﻗَﺎل َ ﻻ َ ﻗَﺎل َ ا�َّﻘُﻮا اﷲ َ وَاﻋْﺪِلُﻮا ﻲﻓ ِ أَوْﻻَد�ُِﻢ ْ ﻓَﺮَﺟَﻊ َ أَﻲﺑ ِ ﻓَﺮَد َّ ﺗِﻠْﻚ َ الﺼَّﺪَﻗَﺔ.
Dari Nu‘man bin Basyir [diriwayatkan], ia berkata: Ayahku memberikan hadiah
untukku dari sebagian hartanya, lalu ibuku ‘Amrah binti Rawahah berkata: Aku tidak
ridha sampai Rasulullah saw. menjadi saksi (atas pemberian), lalu ayahku pergi
kepada Nabi saw. untuk menjadikannya saksi atas pemberian (tersebut), lalu
Rasulullah saw. bertanya: Apakah kamu melakukan ini dengan anakmu seluruhnya?
lalu (ayahku) menjawab: Tidak, lalu Rasul berkata: Bertakwalah kepada Allah dan
berlakulah adil pada semua anakmu, lalu ayahku pulang dan mengambil kembali
hadiah tersebut [HR Muslim].
Al-Qur’an juga telah menegaskan bahwa bertindak diskriminatif kepada anak
adalah kebiasaan jāhiliyyah, seperti membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Perbuatan ini dicela dengan keras [an-Naḥl (16): 58-59]. Rasulullah sendiri juga pernah
menegur seorang lelaki yang memperlakukan anak laki-lakinya secara lebih istimewa
daripada anak perempuannya agar lelaki itu menyamakan antara keduanya. Jelaslah
bahwa adil terhadap semua anak tanpa membedakan jenis kelamin merupakan ajaran
Islam.
3. Maslahat
Kata maslahat mempunyai makna manfaat, bagus, baik, kebaikan dan kegunaan,
antonim dari mafsadah, yang bermakna rusak atau binasa. Lebih jauh, maslahat di sini,
sesuai falsafah hukum Islam, tidak dimaknai sebagai sumber hukum dan metode
penetapan hukum, namun lebih dimaknai sebagai tujuan hukum yang dikenal dengan
maqāshid asy-syarī‘ah. Dalam konteks tujuan hukum, maka setiap perilaku normatif,
termasuk perlindungan anak, harus diarahkan untuk mencapai maqāshid asy-syarī‘ah
yang berisi perlindungan pada lima hal pokok, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan
harta.
Nilai maslahat sejalan dengan tujuan umum diturunkannya agama Islam, yakni
dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa rahmat ke seluruh isi alam,
sesuai firman Allah swt.,َ
وَﻣَﺎ أَرْﺳَﻠْﻨَﺎك َ إِﻻ َّ رَﻤﺣَْﺔ ً ﻟِّﻠْﻌَﺎلَﻤ�ِ
Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam
[QS al-Anbiyā’ (21): 107].
Dengan nilai maslahat, segala upaya merawat, mengasuh, melindungi,
membesarkan dan mendidik anak hendaknya berbuah pada lahirnya kemanfaatan padaََََُّْْ ََِِّّ َِ ََََُْْ ََِْْ َِّْ ِ ََََُْْ ََ َِ َََّْ َََْ ٍَِ ََ ًَِْ َََْ ًََِِّْ ًِْ ََ ََُْْ َِّ ََُِّْ َُُُْْ َُّْ ٍَِْ َََْ َََُْْ َُُْ ََ
39NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M َ ََََ ُِْ ََُْ ُِّ َََْ َِِ َِِْ َِ َََّ ََََّ ََ ٍَِ ِْ َُِّْ َِ ََِْ ُ ََّ َِِّّ َِ َِ ََََْ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ ََُ َُِْ ََّ ََََْ َََِِ ََ ََََْ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ َُُ َُ َََ َََِ ََ َُُِِْ ََّ ََََّ َِْ َََّ َِ ََََ ََُِْْ ِ َُِْ َ َُّ ََ َ ََ َََُِِِِّّْْ ًََْ َِّ ََََْْ ََ
diri anak. Pada gilirannya, kemanfaatan yang diperoleh anak dapat memberikan
kontribusi kepada sesama manusia dan seluruh isi alam dalam kerangka memakmurkan
bumi, mewujudkan peradaban madani. Segala hal yang merintangi kemaslahatan yang
diperoleh anak, seperti ketidakadilan perlakuan, penelantaran, pengguguran kandungan,
pola pengasuhan otoriter, perundungan, perkawinan anak, eksploitasi, trafficking
(perdagangan), kekerasan seksual, baik yang dilakukan secara individual maupun
kolektif atau sistemik, tidak sesuai dengan maqāshid asy-syarī‘ah, sehingga harus
ditanggulangi secara tepat dengan cara maslahat.
B. Prinsip-prinsip Umum Perlindungan Anak
Perlindungan terhadap anak harus dilandaskan pada empat prinsip yaitu kemuliaan
manusia (al-karāmah al-insāniyyah), hubungan kesetaraan (al-musāwah), kasih sayang
(al-mawaddah wa ar-raḥmah), serta pemenuhan kebutuhan hidup (taufīr al-ḥājāt).
- Prinsip Kemuliaan Manusia (al-Karāmah al-Insāniyyah)
Prinsip al-karāmah al-insāniyyah menempatkan manusia baik dewasa maupun
anak-anak sebagai makhluk Allah yang memiliki kemuliaan dan kedudukan utama.
Allah menciptakannya dengan dibekali berbagai macam potensi, memuliakannya
dengan memberikan berbagai macam keutamaan, dan memilihnya menjadi wakil Allah
untuk memakmurkan dunia dan mewujudkan kesejahteraan umat manusia. Pandangan
kemuliaan manusia ini didasarkan pada firman Allah,ْ
ٍ وَﻟَﻘَﺪ ْ ﻛَﺮَّﻣْﻨَﺎ ﺑ�َ ِ آدَم َ وَﻤﺣََﻠْﻨَﺎﻫُﻢ ْ ﻲﻓ ِ اﻟْﺮﺒ َِّ وَاﺒﻟَْﺤْﺮ ِ وَرَز�َْﻨَﺎﻫُﻢ ْ ﻣِﻦ َ اﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎت ِ وَﻓَﻀَّﻠْﻨَﺎﻫُﻢً ﻰﻠﻋ ََ ﻛَﺜ�ِ
مِﻤَّﻦ ْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ �َﻔْﻀِﻴﻼ.
Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka
dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan
[QS al-Isrā’ (17): 70].
Manusia bersifat mulia karena memiliki kelebihan-kelebihan, di antaranya
potensi keberagamaan, moral, indra, akal, hati nurani yang dapat membedakan
perbuatan baik, mulia, utama, dan patut dari perbuatan yang buruk, hina dina, tidak
utama, dan tidak patut. Pemuliaan Islam kepada manusia ini dimulai sejak masih usia
anak, bahkan ketika masih dalam kandungan. Oleh karena itu Islam sangat mengutuk
perbuatan membunuh anak yang dilakukan, misalnya, karena takut kemiskinan.
Larangan ini menunjukkan betapa mulianya seorang anak, ia tidak bisa dinilai dengan
nominal harta sebesar apapun. Allah swt. berfirman,
وَﻻ َ �َﻘْﺘُﻠُﻮا أَوْﻻَد�َُﻢ ْ ﺧَﺸْﻴَﺔ َ إِمْﻼَق ٍ �َّْﻦ ُ ﻧَﺮْز�ُُﻬُﻢ ْ و�َِﻳَّﺎ�ُﻢ ْ إِن َّ �َﺘْﻠَﻬُﻢ ْ ﺎﻛَن َ ﺧِﻄْﺌًﺎ ﻛَﺒ�ًِا.
Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang
akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh
mereka adalah suatu dosa yang besar [QS al-Isrā’(17): 31].
2. Prinsip Hubungan Kesetaraan (al-Musāwah)
Kesetaraan bermakna perlindungan anak didasarkan pada pandangan bahwa
semua manusia mempunyai nilai yang sama. Perbedaan status dan peran seseorang
tidak menimbulkan perbedaan nilai kemanusiaan. Hanya tingkat ketakwaan yang
membedakan nilai kemanusiaan seseorang di hadapan Allah swt.. Hubungan kesetaraan
ditegaskan dalam firman Allah,َّ
ٌ ﻳَﺎ �َ�ُّﻬَﺎ اﻨﻟَّﺎس ُ إِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ�ُﻢ ْ ﻣِﻦ ْ ذَﻛَﺮ ٍ وَأُﻧْﻰﺜ ٰ وَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ�ُﻢ ْ ﺷُﻌُﻮ�ًﺎ و�ََﺒَﺎﺋِﻞ َ ﺘﻟَِﻌَﺎرَﻓُﻮا إِن
أ�َْﺮَﻣ�َُﻢ ْ ﻋِﻨْﺪ َ اﷲ ِ أ�َْﻘَﺎ�ُﻢ ْ إِن َّ اﷲ َ ﻋَﻠِﻴﻢ ٌ ﺧَﺒ�ِ.
Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal [QS al-Ḥujurāt (49): 13].
Pola hubungan antar anggota keluarga yang didasarkan pada kesetaraan nilai
kemanusiaan mendorong munculnya sikap saling memahami (tafāhum), toleransi
(tasāmuḥ), dan penghargaan terhadap orang lain walau status dan usianya berbeda.
Pola hubungan kesetaraan menghindarkan sikap subordinatif, eksploitatif, dan tindak
kekerasan terhadap orang lain, terutama kepada anak yang biasanya dianggap kurang
nilainya sebab masih kecil secara usia maupun fisik.
Pola hubungan kesetaraan mendorong munculnya sifat dialogis yang
berlandaskan pada kepercayaan pada kapasitas seseorang. Dengan demikian,
perlindungan kepada anak harus senantiasa memperhatikan aspirasi mereka, selama
sejalan dengan ajaran Islam. Sikap saling menghargai ini pada gilirannya akan
menyuburkan rasa kasih sayang antar anggota keluarga.
3. Prinsip Kasih Sayang (al-Mawaddah wa ar-Raḥmah)
Secara umum mawaddah dan raḥmah sama-sama merujuk pada perasaan kasih
sayang tapi memiliki detail yang berbeda. Mawaddah adalah kasih sayang yang lahir
dari interaksi fisik. Sedangkan raḥmah adalah kasih sayang yang lahir dari interaksi
batin. Mawaddah juga dapat diartikan sebagai cinta potensial yaitu rasa cinta yang
berada dalam diri seseorang terhadap orang-orang yang disayangi, sementara raḥmah
dapat berarti cinta aktual yaitu cinta yang terwujud dalam usaha-usaha untuk berbuat
kebaikan bagi orang-orang yang disayangi. Raḥmah yang mewarnai perlindungan anak
adalah kondisi psikologis yang muncul di dalam hati akibat menyaksikan
ketidakberdayaan.ًَََّّ ََُْ ََََ ََِْ َُُِّْ ًََْ َُُِْ ِّْ َُ َََ َْ َِِ َِْ ًَََََََََُِّّْ ٍَِّْ ٍََ ََِٰ ِ
41NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mَِّ َََُِ ََََِ ًُُ ََََُْْ َُْٰ ٍََ ِْ َََُْْ َِّ َُّ ََُّ َ ٌَِ ٌَِ َ َِّ ََُْْ ِ َِْ َََُْْ
Mawaddah wa raḥmah dalam keluarga adalah keadaan jiwa pada masing-masing
individu anggota keluarga yang memiliki perasaan lekat secara suka rela pada orang
lain, yang diikuti oleh dorongan dan usaha untuk menjaga dan melindunginya. Bagi
kehidupan keluarga, mawaddah wa raḥmah merupakan perekat antar anggota keluarga,
termasuk hubungan orang tua dan anak, yang menimbulkan rasa saling pengertian,
penghormatan, tanggung jawab antara yang satu dengan yang lainnya, serta
kecenderungan kepada anggota keluarga yang lain. Mawaddah wa raḥmah menjadi
sumber suasana ketenteraman, kedamaian, keharmonisan, kekompakan, kehangatan,
keadilan, kejujuran, dan keterbukaan dalam rumah tangga untuk terwujudnya kebaikan
hidup di dunia dan akhirat yang diridlai Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam
firman Allah,ً
ً وَﻣِﻦ ْ آﻳَﺎﺗِﻪ ِ أَن ْ ﺧَﻠَﻖ َ ﻟ�َُﻢ ﻣِّﻦ ْ أَﻧﻔُﺴ�ُِﻢ ْ أَزْوَاﺟًﺎ ﻟِّتَﺴْﻜُﻨُﻮا إِﻴﻟَْﻬَﺎ وَﺟَﻌَﻞ َ ﺑَيْﻨ�َُﻢ ﻣَّﻮَدَّة
وَرَﻤﺣَْﺔَّإِنﻲﻓ ِ ذَٰلِﻚ َ ﻵَﻳَﺎت ٍ ﻟِّﻘَﻮْم ٍ �َﺘَﻔَﻜَّﺮُون َ .
Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir [QS ar-Rūm (30): 21].
Mawaddah wa raḥmah menumbuhkan karakter tertentu dalam proses hubungan
antar orangtua dan anak. Dalam kupasan psikologis, rasa cinta dan kasih sayang
mengandung beberapa unsur rasa, baik pada pihak yang mencintai maupun yang
dicintai, yang diperlukan bagi proses perkembangan manusia. Bagi orangtua, rasa cinta
dan kasih sayang dapat menumbuhkan ketulusan disertai rasa tanggung jawab agar
anak dapat berkembang, serta menumbuhkan rasa memahami dan menghormati
terhadap anak. Sedangkan bagi anak, rasa cinta dan kasih sayang dapat menumbuhkan
potensi rasa cinta dan kasih sayang yang ada pada dirinya, serta menimbulkan perasaan
diterima sehingga menumbuhkan rasa aman, rasa percaya diri, serta dorongan untuk
berkembang.
4. Prinsip Pemenuhan Kebutuhan Hidup (taufīr al-ḥājāt)
Prinsip pemenuhan kebutuhan taufīr al-ḥājāt dalam perlindungan anak
memposisikan kepentingan anak sebagai pertimbangan utama. Oleh karena itu, prinsip
ini diarahkan dan dirancang untuk mampu memenuhi kebutuhan pokok anak serta
keberlangsungan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Hal ini sesuai dengan
semangat perlindungan anak yang tercermin pada kisah-kisah dan tuntunan di dalam
Al-Qur’an. Salah satunya adalah hikmah dari kisah Nabi Musa a.s. dan sahabatnya,
42NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ِْ
َ وَأَﻣَّﺎ اﺠﻟِْﺪَار ُ ﻓَﺎﻜَن َ ﻟِﻐُﻼَﻣ�ََﻳَتِﻴﻤ�َ ِْ ﻲﻓ ِ الْﻤَﺪِﻳﻨَﺔ ِ و�ََن َ ﺤﺗَْﺘَﻪ ُ ﻛ�َ ٌ لَّﻬُﻤَﺎ و�ََن َ أَﺑُﻮﻫُﻤَﺎ ﺻَﺎﺤﻟًِﺎ ﻓَﺄَرَاد
ر�َُّﻚ َ أَن �َﺒْﻠُﻐَﺎ أَﺷُﺪَّﻫُﻤَﺎ و�ََﺴْﺘَﺨْﺮِﺟَﺎ ﻛ�ََﻫُﻤَﺎ رَﻤﺣَْﺔ ً ﻣِّﻦ ر�َِّّﻚََّ وَﻣَﺎ �َﻌَﻠْﺘُﻪ ُ �َﻦ ْ أَمْﺮِي ذَٰلِﻚ
ﺗَﺄْو�ِﻞ ُ ﻣَﺎ لَﻢ ْ �َﺴْﻄِﻊ ﻋﻠَﻴْﻪ ِ ﺻَﺮﺒًْا .
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di
bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah
seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada
kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu;
dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah
tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya" [QS al-Kahfi
(18) ayat 82].
Dalam kisah tersebut, sahabat Nabi Musa sengaja menegakkan dinding rumah
yang hampir roboh kepunyaan dua anak yatim sebab dengan izin Allah ia mengetahui
bahwa di bawahnya ada harta simpanan yang sebaiknya mereka manfaatkan ketika
dewasa kelak. Hikmah dari peristiwa ini adalah bahwa kepentingan seorang anak
menjadi dasar utama dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan mereka.
Mengenai kewajiban memenuhi kebutuhan anak, secara lebih jelas ditegaskan
dalam firman Allah,َُ
ِ ... وَﻰﻠﻋ ََ الْﻤَﻮْلُﻮد ِ ﻪﻟرِز�ُْﻬُﻦ َّ و�َِﺴْﻮ�َُﻬُﻦ َّ ﺑِﺎلْﻤَﻌْﺮُوف...
… dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (yang memiliki
anak) dengan cara makruf…[QS al-Baqarah (2): 233].
Dalam tafsir at-Taḥrīr wa at-Tanwīr, Muḥammad Thāhir bin ‘Āsyūr menjelaskan
bahwa kewajiban suami untuk memberikan nafkah kepada istri yang memiliki anak
dalam ayat di atas disebabkan kondisi istri yang masih menyusui anak tersebut, sebab
menyusui merupakan hal yang penting bagi anak yang merupakan penyambung
keturunan orangtuanya.12 Oleh karena itu, menyusui merupakan kewajiban pokok
berdasarkan asas menjaga keturunan (ḥifẓ an-nasl). Sementara, kualitas ASI (air susu
ibu) ditentukan, salah satunya dari asupan makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang
menyusui. Dengan demikian, diwajibkannya suami untuk memberikan nafkah kepada
istrinya, hakikatnya merupakan kewajiban suami untuk menjaga kehidupan anak.
Kewajiban memberi nafkah ini berlaku untuk keluarga secara umum, meskipun ayat
tersebut secara konteks berbicara tentang kedua orangtua yang bercerai.
Kewajiban memenuhi kebutuhan anak ini ditegaskan pula dengan Sabda
Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Aisyah,
12 Muḥammad Thāhir Ibnu ‘Āsyūr, At-Taḥrīr Wa at-Tanwīr (Beirut: Dār at-Tarīkh al-‘Arābī, 2000),
vol. II/408.َِِ ََِْ َِِْ َ َُِِْْ َِِ ِْ َََُِْ َِِْْ ََُْ ًُْ ُِّْْ َُْ َِْ ََِّ ََُ َِ ََّٰ َََْٰ ََُْ ََ ََُُْْ َ ًََِ ًَِْ َََُُْ َََِْْْْ ًَِّ ََ ََ ََُْْْ ًَِ ََ َ َََُِِِْْْْ ََُِْ َََُْْ َِِْْ ََُْْ ًَََِِ ِِ َََٰ
43NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ََُِِْ َََ َُِْ َََّ ََََ ًَِ ََُُ َََ ََُّ ٌَ ََُْ َََ ََِِْ ِ ََََِِِّّْ ِّ ًََْ َََُ ََََِْْ َََُُّ ََُْ َ ََََُِّٰ َِْ َْ ََُُْ ََ َّ َِْ َْ َ َُِْ ًَْ ََُِْ َُِْْ ََََُِِْْ َََُُِّْ َُُِِّْ
ﺧُﺬِى ﻣِﻦ ْ ﻣَﺎﻪﻟ ِِ ﺑِﺎلْﻤَﻌْﺮُوف ِ ﻣَﺎ ﻳ�َْﻔِﻴﻚ ِ و�َ�َْﻰﻔ ِ ﺑَنِﻴﻚ
Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi dirimu dan anak-anakmu dengan cara
yang patut [HR al-Bukhārī, no. 5364; Muslim, no. 1714].
Hadis di atas secara jelas dipahami bahwa kewajiban seorang suami adalah
mencukupi kebutuhan istri dan anaknya.
Kepentingan anak yang harus diperhatikan tersebut bukan sebatas kemaslahatan
hidup ketika masih anak-anak, tapi juga menyangkut masa depannya hingga dewasa
baik dalam keadaan normal ataupun dalam situasi darurat (bencana). Hal ini tercermin
dalam tuntunan pengelolaan harta anak yatim. Al-Qur’an jelas sekali menekankan
perlunya memperhatikan aspirasi si anak ketika ia sudah sanggup berpikir untuk
dirinya (rusydan), dan bila belum sanggup maka si pengelola hartalah yang harus
berpikir demi kepentingan si anak. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah,َ
َ وَا�ْﺘَﻠُﻮا اﻴﻟَْﺘَﺎ� َٰ ﺣَﻰﺘ َّٰ إِذَا ﺑَﻠَﻐُﻮا اﻨﻟِّﺎﻜَح َ ﻓَﺈِن ْ آ�َﺴْﺘُﻢ ﻣِّﻨْﻬُﻢ ْ رُﺷْﺪًا ﻓَﺎد�َْﻌُﻮا إِﻴﻟَْﻬِﻢ ْ أَمْﻮَالﻬُﻢ ْ وَﻻ
ﺗَﺄ�ُْﻠُﻮﻫَﺎ إِﺮﺳَْاﻓًﺎ و�َِﺪَارًا أَن ﻳ�َْﺮﺒَُواَْ وَﻣَﻦ ﺎﻛَن َ ﻏَﻨِﻴًّﺎ ﻓَﻠْيَﺴْﺘَﻌْﻔِﻒ ْ وِ ﻣَﻦ ﺎﻛَن َ ﻓَﻘ�ًِا ﻓَﻠْﻴَﺄ�ُْﻞ
ﺑِﺎلْﻤَﻌْﺮُوفْﻓَﺈِذَا د�ََﻌْﺘُﻢ ْ إِﻴﻟَْﻬِﻢ ْ أَمْﻮَالَﻬُﻢ ْ ﻓَﺄَﺷْﻬِﺪُوا ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢو�ََﻰﻔ َٰ ﺑِﺎﷲ ِ ﺣَﺴِيﺒًﺎ.
Ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut
pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah
kepada mereka harta-hartanya. Janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari
batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum
mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia
menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin,
maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu
menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang
penyerahan itu) bagi mereka. Cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu)
[QS an-Nisā’ (4): 6].
Kebutuhan hidup anak juga bisa didasari dari potensi-potensi yang dimiliki. Dari
sudut pandang fitrahnya sebagai manusia, anak lahir membawa beberapa potensi
kemanusiaan yang memunculkan kebutuhan-kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan itu
harus dipenuhi dalam rangka mengembangkan potensi-potensi tersebut. Secara umum,
potensi yang dimiliki anak di antaranya, potensi spiritual, potensi kekhalifahan, potensi
jasmaniah, dan potensi intelektual.
a. Potensi Spiritual
Potensi spiritual anak bersumber dari fitrah mereka yang suci semenjak
dilahirkan. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw.,
44NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ََ
�َﻦ ْ أَﻲﺑ ِ ﻫُﺮ�َْﺮَةَ، ﻗَﺎلَ: ﻗَﺎل َ رَﺳُﻮل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢَ: ﻣَﺎ ﻣِﻦ ْ مَﻮْلُﻮد ٍ إِﻻ َّ ﻳُﻮﺪﻟ َُ ﻰﻠﻋ
اﻟْﻔِﻄْﺮَةِ،ﻓَﺄَﺑَﻮَاه ُ �ُﻬَﻮِّدَاﻧِﻪ ِ و�َُﻨَﺮﺼَِّاﻧِﻪ ِ و�َُﺮﺸَِّﺎﻛَﻧِﻪِ.
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan], ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
Tidaklah setiap anak yang dilahirkan, melainkan berdasarkan fitrah. Kemudian,
kedua orangtuanya lah yang meyahudikannya dan menashranikannya dan
memusyrikkannya [HR Muslim, no. 2658]
Potensi spiritual memungkinkan anak untuk mampu memahami Allah, tujuan
dan tugas penciptaannya. Untuk mengembangkan potensi ini, maka setiap anak
semenjak dini perlu memenuhi dua kebutuhan yaitu kebutuhan bertauhid
(tauḥīdiyyah) dan kebutuhan menghamba (‘ubūdiyyah). Kebutuhan bertauhid
meniscayakan anak senantiasa berusaha mencari, mendekat, bergantung dan
meminta perlindungan kepada Allah. Kebutuhan yang demikian haruslah dipenuhi
dan diarahkan oleh orangtua, sebab jika tidak maka potensi spiritualnya bisa saja
semakin melemah atau tumbuh tidak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.
Pentingnya memenuhi kebutuhan bertauhid ini berdasarkan firman Allah,ِ
َﻓَﺄَﻗِﻢ ْ وَﺟْﻬَﻚ َ ل�ِِّﻳﻦ ِ ﺣَﻨِﻴﻔًﺎ ﻓِﻄْﺮَة َ اﷲ ِ اﻟَّﻲﺘ ِ �َﻄَﺮ َ اﻨﻟَّﺎس َ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻻ َ �َﺒْﺪِﻳﻞ َ ﺨﻟَِﻠْﻖ ِ اﷲَ ذٰلِﻚ
اﺪﻟِّﻳﻦ ُ اﻟْﻘَﻴِّﻢ ُ وَﻟ�ِٰﻦ َّ أ�َْﺮﺜ ََ اﻨﻟَّﺎس ِ ﻻ َ �َﻌْﻠَﻤُﻮن.
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui [QS ar-Rūm (30): 30].
Sama pentingnya dengan kebutuhan bertauhid, kebutuhan untuk menghamba
juga perlu diperhatikan oleh orangtua. Aspek ‘ubūdiyyah sebagai fitrah mendorong
anak untuk menghamba, mengabdi dan taat kepada Allah sebagai perwujudan
kuatnya ketauhidan mereka kepada Zat dan sifat-sifat Allah. Perintah untuk
beribadah ini ditegaskan di dalam firman Allah,
وَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖ ُ اﺠﻟِْﻦ َّ وَاْﻹ�ِْﺲ َ إِﻻ َّ ﻴﻟَِﻌْﺒُﺪُون ِ .
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku [QS aż-Żāriyāt (51): 56].
b. Potensi Kekhalifahan
Selain potensi spiritual, anak juga memiliki potensi kekhalifahan, hal ini
sesuai dengan firman Allah,ِّ
ً و�َِذ ْ ﻗَﺎل َ ر�َُّﻚ َ لِﻠْﻤَﻼَﺋ�َِﺔ ِ إ�ِﺟَﺎﻋِﻞ ٌ ﻲﻓ ِ اْﻷَرْض ِ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔ...َِّ َِْ َََْ َِ ََِْْ َِّْ ِ ََُْ ََََ ِْ ًََ ٌَِ ِِّ َََِِِْ ََُّ ََ َِْ ٍَُْ ٍََ ِْ ٍَْ
45NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ََ َُُ َِّ ٍَُْ ِْ َ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ َُُ ََ ََ َََُْ َِ ََِِْْْ َََُِِِّ َََُِِِّ ََُِِِّ ََََُِ َِِْ ََِْ َ َََْ ََّ َََ َِّ ِ ََِْ ًَِ ِِِّ َََْ َََِِْٰ َََُْ َ َِّ َََْ ََِّٰ َُِّْ َُُُِِِّْ َِّ ََِْْ َِّْ ََُْ ََِِّ َََِِِْ ََُّ ََ َِْ ًََِ َِْْ ِ ٌَِ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ... [QS al-Baqarah (2): 30].
Raghib al-Ashfahanī menjelaskan bahwa kata khalīfah berasal dari kata
khalafa yang berarti menempati tempat orang lain, atau menggantikan posisi.
Secara konteks, ayat tersebut menyebutkan bahwa manusia dijadikan Allah sebagai
utusan dan penggantinya di dunia. Hal ini, tidak menunjukkan ketidakmampuan
Allah mengurus dan mengelola bumi sehingga membutuhkan manusia, melainkan
manusia dijadikan khalifah dengan tujuan menguji (imtiḥān) dan mendidik (tahżib).
Di dalam Tafsir at-Tanwīr, disebutkan bahwa potensi kekhalifahan yang
diamanahkan kepada manusia juga melahirkan potensi lainnya berupa potensi
sosial, potensi ekonomi, dan potensi konflik. Hal ini terjadi sebab dalam tugasnya
merawat dan mengelola alam ini, manusia tentu perlu hidup bermasyarakat
sehingga konseksuensi-konsekuensi kebermasyarakatan seperti transaksi dan
konflik kepentingan pasti akan muncul. Oleh karenanya, anak membutuhkan
bimbingan untuk memanfaatkan dan mengarahkan potensi-pontensi ini sesuai
dengan potensi pokoknya, yakni menjadi khalifah. Jika kebutuhan ini tidak
dipenuhi maka, potensi kekhalifahan ini justru akan menjadi penyebab rusaknya
alam dan menimbulkan bencana. Mengenai hal ini, Allah berfirman,ِ
ﻇَﻬَﺮ َ اﻟْﻔَﺴَﺎد ُ ﻲﻓ ِ اﻟْﺮﺒ َِّ وَاﺒﻟَْﺤْﺮ ِ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺴَﺒَﺖ ْ أَﻳْﺪِي اﻨﻟَّﺎس…
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia… [QS ar-Rūm (30): 41].
c. Potensi Jasmaniah
Potensi jasmaniah anak telah disebutkan dalam firman Allah,َ
و�َِذ ْ ﻗَﺎل َ ر�َُّﻚ َ لِﻠْﻤَﻼَﺋ�َِﺔ ِ إ�ِ ِّ ﺧَﺎﻟِﻖ ٌ �َﺮﺸًَا ﻣِﻦ ْ ﺻﻠْﺼَﺎل ٍ ﻣِﻦ ْ ﻤﺣََﺈ ٍ مَﺴْﻨُﻮن ٍ .
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku
akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk [QS al-Ḥijr (15): 28].
Potensi ini, dengan demikian memungkinkan anak untuk berkembang dan
mengoptimalkan diri secara fisik. Di antara kebutuhan yang lahir dari potensi
jasmaniah ini adalah kebutuhan biologis. Kebutuhan tersebut dilengkapi dengan
adanya dorongan kenikmatan. Namun, dikarenakan dorongan kenikmatan itu dapat
menguasai manusia dan menjauhkan diri mereka dari tujuan penciptaan sesuai
dengan potensi spiritual, maka anak juga membutuhkan penguasaan atas
kenikmatan secara fisik tersebut, misalnya dengan latihan puasa.
Keseimbangan antara potensi spiritual dengan potensi fisik tersebut juga
diisyaratkan oleh Allah ketika menyifati kesempurnaan penciptaan manusia,
ﻟَﻘَﺪ ْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ اﻹ�ْﺴَﺎن َ ﻲﻓ ِ أَﺣْﺴَﻦ ِ �َﻘْﻮ�ِﻢ ٍ .
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
[QS at-Tīn (95): 4].
Menurut penjelasan Thāhir bin ‘Āsyūr di dalam tafsir at-Taḥrīr wa at-
Tanwīr, maksud penciptaan dalam sebaik-baik bentuk (taqwīm) pada ayat di atas
adalah seimbangnya potensi (quwwah) manusia yang bersifat fisik dan spiritual.
Kedua potensi tersebut saling melengkapi untuk mencegah manusia jatuh dalam
hal-hal yang merugikan dirinya sendiri.13 Oleh karena itu, selain potensi
spiritualnya, potensi fisik atau jasmaniah pada anak juga sangat perlu diperhatikan
dalam proses pendidikan dan penguatan kapasitas.
d. Potensi Intelektual
Potensi intelektual pada manusia bisa diketahui dari ungkapan penting dalam
trdisi filsafat Islam bahwa manusia merupakan makhluk yang berakal (ḥaywān an-
nāṭiq). Manusia menggunakan akal untuk mengetahui, memikirkan, membedakan
merumuskan dan segala aktifitas intelektual lainnya. Adanya potensi intelektual ini,
dengan demikian melahirkan kebutuhan anak untuk berfikir, ingin tahu, ingin
belajar dan ingin berkembang.
Tidak sampai di situ, dalam Islam, kemampuan intelektual menjadi salah satu
faktor ditinggikannya derajat seseorang oleh Allah setelah faktor keberimanan
terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa segala kebutuhan yang berkaitan dengan
tindak intelektual juga perlu dibarengi dengan kebutuhan akan kesadaran dan
pengembangan rasa syukur kepada Allah atas setiap pengetahuan dan karya
intelektualitas yang dimiliki. Beberapa firman Allah yang menegaskan hal ini di
antaranya,َ
ْوَﻋَﻠَّﻢ َ آدَماْﻷَﺳْﻤَﺂء َ ﻠﻛَُّﻬَﺎ �ُﻢ َّ ﻋَﺮَﺿَﻬُﻢ ْ ﻰﻠﻋ ََ الْﻤَﻼَﺋ�َِﺔ ِ �َﻘَﺎل َ أَﻧْبِﺌُﻮ� ِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎء ِ ﻫٰﺆُﻻَء ِ إِن ْ ﻛُﻨْﺘُﻢ
. َ �ِ�ِﺻَﺎد
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
(Adam) mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu (Allah) berfirman:
Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang
yang benar! [Q.S. al-Baqarah (2): 31].
ﻳَﺮْﻓَﻊ ِ اﷲ ُ اﺬﻟَِّﻳﻦ َ آﻣَﻨُﻮا ﻣِﻨ�ُﻢ ْ وَاﺬﻟَِّﻳﻦ َ أُوﺗُﻮا اﻟْﻌِﻠْﻢ َ دَرَﺟَﺎت ٍ وَاﷲ ُ ﺑِﻤَﺎ �َﻌْﻤَﻠُﻮن َ ﺧَﺒ�ٌِ.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan [QS al-Mujādilah (58): 11].
13 Ibnu ‘Āsyūr, 2000: xxx, 336-338ََََْ ٍَُْ ِْ َََِْْ ِ ََ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ ََُ ََّ َََُْ َِ َْ ََِْ ِ َِّ ََََ ََََْ ٌَِ ََِ َََْ ََََ ٍََِ َُْْ ََُِْ َََْ ََْ ٌََ َْ ٌَْ ٌَُّ ََِْ ِ َ ََِ ََّ َََ ََََّ ََِْ ُ ََّ َِِّّ َِ َُ
47NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ٍَِْ ََِْ ِ ََْ َََْ ََََْ ََََُُّْْ ِْ َُِٰ ََِِْ َُِِْ َََ َََِِْ ََ َََُْ َُّ ََُّ َََْْ ٌَََِِِ َََُْ َِ َُ ٍَََ َِْْ ُُ َََِّ ُِْ َُ ََِّ ُ ََِْ
C. Pedoman Praktis Perlindungan Anak
Nilai-nilai dasar dan prinsip-prinsip umum yang telah dijabarkan sebelumnya
kemudian termanifestasi dalam bentuk pedoman praktis. Pedoman praktis perlindungan
anak dibahas dalam kerangka hak-hak anak dalam empat ranah utama; hak tumbuh
kembang, hak sipil, hak keamanan, dan hak pendidikan.
- Hak Hidup dan Hak Tumbuh Kembang
Dalam perspektif Islam, pemenuhan hak-hak anak sudah dimulai bahkan sejak
janin belum jadi. Hak tumbuh kembang ini mencakup hak tumbuh kembang secara
fisik dan secara rohaniah.
a. Fisik (Jasmaniah)
Pemenuhan hak-hak fisik anak, sebagai bentuk perlindungan anak harus
dilakukan semenjak dini. Setidaknya ada dua kebutuhan yang harus ditunaikan,
yaitu pemenuhan kesehatan anak semenjak dalam kandungan dan pemeliharaan
kesehatan setelah anak itu lahir, berupa pemberian ASI dan nutrisi, imunisasi dan
pemeliharaan fisik dengan olahraga.
- Hak dalam Kandungan
Pemenuhan hak anak sangatlah penting baik sebelum menjadi janin
maupun setelah benar-benar menjadi janin dalam kandungan. Janin dalam
kandungan meskipun bersatu bersama ibunya, namun Allah telah menetapkan
hak baginya. Di antara hak tersebut adalah hak untuk hidup dan tumbuh.
Banyak riwayat yang menekankan pentingnya pemeliharaan hak hidup janin. Di
antaranya adalah riwayat tentang perempuan yang ditunda pelaksanaan
rajamnya karena sedang hamil, ini menunjukkan pentingnya memelihara
kehidupan janin. Rasulullah juga menetapkan hukuman membayar dengan
membebaskan seorang budak bagi wanita yang melempari wanita lain hingga
menyebabkan keguguran sebagaimana dalam riwayat berikut,
�َﻦ ْ أَﻲﺑ ِ ﻫُﺮ�َْﺮَة َ أَن َّ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ ﻗَﻰﻀ َ ﻲﻓ ِ امْﺮَأ�َ�َ ِْ ﻣِﻦ ْ ﻫُﺬَﻳْﻞ ٍ ا�ْﺘَﺘَﻠَﺘَﺎ
َ ﻓَﺮَﻣَﺖ ْ إِﺣْﺪَاﻫُﻤَﺎ اﻷُْﺧْﺮَى ﺤﺑَِﺠَﺮ ٍ ﻓَﺄَﺻَﺎب َ �َﻄْﻨَﻬَﺎ و�َ َِ ﺣَﺎمِﻞ ٌ �َﻘَﺘَﻠَﺖ ْ وَﺪﻟََﻫَﺎ اﺬﻟَِّي ﻲﻓ ِ �َﻄْﻨِﻬَﺎ
ٌ ﻓَﺎﺧْﺘﺼَﻤُﻮا إِﻰﻟ َ اﻨﻟَّﻲﺒ ِِّ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ �َﻘَﻰﻀ َ أَن َّ دِﻳَﺔ َ ﻣَﺎ ﻲﻓ ِ �َﻄْﻨِﻬَﺎ ﻏُﺮَّة ٌ �َﺒْﺪ ٌ أَو ْ أَﻣَﺔ.
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw. memberi putusan
pada dua wanita dari Bani Hużail yang berkelahi dan salah satu dari mereka
melempari wanita lain yang sedang hamil dengan batu hingga mengenai
perutnya dan membunuh janin yang ada dalam kandungannya, lalu mereka
mengadu kepada Nabi saw.. Nabi memutuskan bahwa denda bagi janin dalam
kandungan tersebut adalah membebaskan budak laki-laki atau budak
perempuan [HR al-Bukhārī].
Hal ini juga ditunjukkan dengan adanya larangan menggugurkan
kandungan. Dengan membaca berbagai riwayat, Majelis Tarjih telah
memutuskan bahwa (1) bahwa abortus provocatus kriminalis atau aborsi yang
dilakukan karena motif kriminal sejak terjadinya pembuahan hukumnya adalah
haram, (2) bahwa abortus provocatus medicinalis atau aborsi yang dilakukan
karena alasan medis dapat dibenarkan lantaran darurat, yaitu adanya
kekhawatiran atas keselamatan atau kesehatan ibu waktu mengandung dan
melahirkan berdasarkan hasil konsultasi dengan para ahli yang bersangkutan
(Keputusan Muktamar Tarjih XXII di Malang Jawa Timur tahun 1989).
Jadi, hanya alasan untuk menyelamatkan kehidupan lain yaitu kehidupan
sang ibu yang bisa menjadikan bolehnya menggugurkan kandungan (janin).
Alasan selain itu tidak bisa membenarkan siapa pun untuk menggugurkan
kandungan, apalagi jika hanya karena takut miskin sebagaimana dalam firman
Allah,َ
وَﻻ َ �َﻘْﺘُﻠُﻮا أَوْﻻَد�َُﻢ ْ ﺧَﺸْﻴَﺔ َ إِمْﻼق ٍ �َْﻦ ُ ﻧَﺮْز�ُُﻬُﻢ ْ و�َِﻳَّﺎ�ُﻢ ْ إِن َّ �َﺘْﻠَﻬُﻢ ْ ﺎﻛَن َ ﺧِﻄْﺌًﺎ ﻛَﺒ�ًِا .
Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang
memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh
suatu dosa yang besar [QS al-Isrā’ (17): 31].
Hak janin yang juga sangat diperhatikan dalam Islam adalah pemberian
nutrisi yang cukup. Bahkan ibu hamil diberikan keringanan untuk tidak
berpuasa dan membayar fidyah sebagai gantinya. Puncak penghormatan
terhadap janin dalam Islam adalah hak kepemilikan dan hak waris yang
diberikan pada janin. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, janin dipandang
sebagai jiwa yang sempurna meskipun ia masih berada dalam kandungan
ibunya.
2) Hak di Luar Kandungan
Adapun hak-hak di luar kandungan antara lain adalah, penyusuan dan
asupan gizi yang memadai, imunisasi dan olahraga
a) Penyusuan dan Asupan Gizi yang Memadai
Anak berhak mendapatkan asupan gizi memadai dan sudah dimulai
terutama dengan memberikan penyusuan yang cukup dimana penelitian
terkini pun menunjukan bahwa kandungan gizi ASI sangat esensial untuk
tumbuh kembang anak. Islam menekankan penyusuan sehingga dalam Al-
Qur’an dengan eksplisit disebutkan durasi penyusuan dua tahun penuh.
Bahkan jika sang ibu tidak sanggup menyusui sendiri, Al-Qur’an
memberikan petunjuk untuk menyusukan anaknya kepada seorang ibu
susuan (donor ASI).َُِْْ َََُِْ َََ ََََّ َُِّ َ َََ َِْ ََِِْ ََِْْ ََََُّْ ََُّ َ ََُْ َِّ ٌَْ ََُُّ َ َُِِْْ َََُُِّْ َُُِّْ َُ َُِْْ َََ ََِِِ ٌََُُّْ ََ َََِِ ََُِ َ ًَِ َََ َِْ ََِ ُِْ َََِِْ َََُْْ ََُِْْ َ ََُْْ َِْ َََِْ ََُ ََ ٍَََُ َُِّْ ٍََ َ َ ََُّ َُِِْْ َََُّْ ََُّْ َِ ََُْْ ََُ َِ َ ََّ َُْ َُِ َََََُِْ َََُْ َِْ َْ َََََُُِّْْ ََِْ ُ ََّ ِ َُُْ ََ ََ َُْ َُِّْ ُِِْْ َِ ِ َِ َََُّ ٌَْ َُِّْ
49NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mَِْ َََْ َََُْْ َُُْ ََ ًَِ ًِْ ََ ََُْْ َِّ ََُِّْ َُُُْْ َُْ ٍَ
ََ وَالْﻮَاﺪﻟَِات ُ ﻳُﺮْﺿِﻌْﻦَّ أَوْﻻَدَﻫُﻦ َّ ﺣَﻮْﻟ�َ ِْ ﺎﻛَمِﻠ�َ ِْ لِﻤَﻦ ْ أَرَاد َ أَن ﻳُﺘِﻢ َّ الﺮَّﺿَﺎﻋَﺔ َ وَﻰﻠﻋ
ََ الْﻤَﻮْلُﻮد ِ ﻪﻟ َُ رِز�ُْﻬُﻦ َّ و�َِﺴْﻮ�َُﻬُﻦ َّ ﺑِﺎلْﻤَﻌْﺮُوف ِ ﻻ َ ﺗ�َُﻠَّﻒ ُ �َﻔْﺲ ٌ إِﻻ َّ وُﺳْﻌَﻬَﺎ ﻻ َ ﺗُﻀَﺂر
وَاﺪﻟَِة ُ ﺑِﻮَﺪﻟَِﻫَﺎ وَﻻ َ مَﻮْلُﻮدٌﻪﻟ َُّ ﺑِﻮَﺪﻟَِه ِ وَﻰﻠﻋَالْﻮَارِث ِ ﻣِﺜْﻞ ُ ذَلِﻚ َ ﻓَﺈِن ْ أَرَادَا ﻓِﺼَﺎﻻ ً ﻋَﻦ
َ ﺗَﺮَاض ٍ ﻣِّﻨْﻬُﻤَﺎ و�ََﺸَﺎوُر ٍ ﻓَﻼ َ ﺟُﻨَﺎح َ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ و�َِن ْ أَرَد�ُْﻢ ْ أَن �َﺴْﺮﺘَْﺿِﻌُﻮا أَوْﻻَد�َُﻢ ْ ﻓَﻼ
ﺟُﻨَﺎح َ ﻋَﻠَﻴ�ُْﻢ ْ إِذَا ﺳَﻠَّﻤْﺘُﻢ ﻣَّﺂءَاﺗَيْﺘُﻢ ﺑِﺎلْﻤَﻌْﺮُوف ِ وَا�َّﻘُﻮا اﷲ َ واﻋْﻠَﻤُﻮا أَن َّ اﷲ َ ﺑِﻤَﺎ
�َﻌْﻤَﻠُﻮن َ ﺑَﺼ�ِ ُ .
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Kewajiban ayah
memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf.
Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan
seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian.
Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Jika
kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu
apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah
kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan [QS al-Baqarah (2): 233].
Begitu pentingnya penyusuan ini, sehingga seorang ibu menyusui
diberikan keringanan untuk tidak berpuasa jika dikhawatirkan akan berefek
buruk pada anak yang sedang disusui.
Hikmah dari penyusunan ini salah satunya agar anak tumbuh dengan
tubuh yang kuat dan fisik yang prima. Islam sangat menghargai kebugaran
fisik, bahkan Rasulullah pun menyebutkan bahwa mukmin yang kuat
memiliki keunggulan dibanding mukmin yang lemah.َِ
ُ �َﻦ ْ أَﻲﺑ ِْ ﻫُﺮ�َْﺮَة َ رَﻲﺿاﷲ ُ �َﻨْﻪ ُ ﻗَﺎلَ: ﻗَﺎل َ رَﺳُﻮْل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ : اَﻟْـﻤُﺆْﻣِﻦ
اﻟْﻘَـﻮِي ُّ ﺧَـ� ٌْ وَأَﺣَﺐ ُّ إِﻟَـﻰ اﷲ ِ ﻣِﻦ َ اﻟْـﻤُﺆْﻣِﻦ ِ الﻀَّﻌِﻴْﻒ.
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan] ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada
Mukmin yang lemah [HR Muslim].
Dari hadis ini pula dapat disimpulkan bahwa Islam sangat
menganjurkan agar anak diberi asupan gizi yang memadai sehingga ia bisa
tumbuh menjadi seorang mukmin yang lebih dicintai Allah sebab memiliki
tubuh bugar yang digunakan untuk beribadah kepada-Nya.
b) Imunisasi
Imunisasi merupakan usaha untuk memberikan vaksin kepada anak-
anak, disebabkan terdapat sejumlah balita yang menderita kelainan sistem
kekebalan tubuh yang memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara
injeksi. Jika imunisasi tidak dilakukan maka dikhawatirkan anak tersebut
akan menderita suatu penyakit serta menjadi sumber penularan penyakit.
Dalam persoalan vaksin, Muhammadiyah telah memfatwakan agar
pihak berwenang mengarahkan tenaga untuk mengembangkan vaksin dari
bahan yang halal. Namun apabila yang tersedia hanya vaksin yang
melibatkan bahan tidak halal, seperti enzim tripsin Babi pada vaksin polio,
maka demi alasan kedaruratan vaksinasi tetap dibolehkan. Fatwa ini dimuat
di majalah Suara Muhammadiyah No. 14/2009. Kebolehan ini diluaskan
untuk penyakit lain selain polio. Hal ini dengan mempertimbangkan dalil-
dalil yang ada, di antaranya firman Allah surah al-Baqarah (2) ayat 195, di
mana Allah melarang untuk menjerumuskan diri kepada kebinasaan. Begitu
pula dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim, Aḥmad dan
an-Nasā’ī, bahwa Rasulullah bersabda setiap penyakit ada obatnya.
Berdasarkan dalil di atas diketahui bahwa wajib hukumnya manusia untuk
berobat sebagai ikhtiar terhindar dari penyakit.
Dalam kasus ini, menghindarkan diri dari penyakit polio merupakan
kebutuhan yang ḍarūrīy, disebabkan penyakit ini tergolong penyakit yang
berbahaya. Adapun enzim tripsin yang menjadi bahan vaksin polio ini
hakikatnya tidak menggunakan babi sebagai bahan baku. Terlebih lagi,
belum ada vaksin ampuh yang tidak memakai bahan selain enzim tripsin
tersebut. Berdasarkan hal tersebutlah Muhammadiyah memfatwakan
kebolehan imunisasi dengan vaksin polio, selama belum ditemukannya
vaksin lain yang bebas dari enzim tersebut. Hal ini sesuai kaidah:
إِذَا �َﻌَﺎرَض َ ﻣَﻔْﺴَﺪَﺗَﺎن ِ رُﻲﻋ َِ أ�َْﻈَﻤُﻬُﻤَﺎ ﺮﺿََرًا ﺑِﺎرْﺗ�َِﺎب ِ أَﺧَﻔِّﻬِﻤَﺎ.
Apabila terdapat dua mafsadat yang saling bertentangan, maka yang
diperhatikan mana yang yang lebih besar mafsadatnya, dan dikerjakan
yang lebih ringan mafsadatnya.
c) Hak Olahraga
Di antara cara menjaga kesehatan fisik dan perkembangan tubuh anak
adalah dengan berolahraga. Hal ini, karena Islam menganjurkan agar setiap
muslim memperhatikan kesehatan fisik mereka supaya bisa melaksanakan
ibadah dengan baik. Dalam ungkapan lain, muslim yang sehat dan kuat
lebih baik dibanding muslim yang lemah dan berpenyakit. Untukٍََُْْ َْ َََِ ِ َِْ َْ ََِ ََُْ ََ ٍََ َِ ِْ ََِ ََِْ ُ ََّ ِ ََُ َُِْ َِِِِ َََُُ َََ ََِِْ َََِِّْْْ َُُ ََََّ ُِْ ِِ ََْ ٍَْ َََُُُُّ َََْ َِّ ٌََِ ٌَْ ََُ ِ َُِّ ََُِْ َََِْْ ََْ ََُُْ َََُ َُِّ ََُِْ َََُْ َََََََُِّّّْ ٍَُِّْ ِّ ٌَْ ٌَُِّْ ٌََََ َُِّْ ََّٰ َُِِْْ َُِ ََ ََََُْْْ َُِِْْ ُُِ ََ ََْ ٍُِّْ ِّ ٌَْ ٌُِّْ ٌَََْ ُُِْ َّٰ
51NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mَََِِّ َِِِْ ًََ َََُُْ َُِ ََََِْ ََََ َِ
menunjang kekuatan fisik ini, tentu olahraga sangat dibutuhkan, tentu
selama olahraga itu tidak melalaikan dari żikir kepada Allah. Di dalam
sebuah riwayat disebutkan,ْ
َﻦ�ٍِْ �َﻄَﺎء ِ ﺑْﻦ ِ أَﻲﺑ ِ ر�ََﺎح ٍ ﻗَﺎلَ: رَأَﻳْﺖ ُ ﺟَﺎﺑِﺮ َ �ْﻦ َ �َﺒْﺪ ِ اﷲ ِ وَﺟَﺎﺑِﺮ َ �ْﻦ َ �ُﻤ�َ
اﻷَْﻧْﺼَﺎر�َّ�ِ ِْ ﻳَﺮْﻣِﻴَﺎن ِ �َﻘَﺎل َ أَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ: لِﺼَﺎﺣِﺒِﻪ ِ ﺳَﻤِﻌْﺖ ُ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ
وَﺳَﻠَّﻢ َ �َﻘُﻮلُ:» ُُﻞﻛ ُُّ ﻲﺷَْء ٍ ﻟَيْﺲ َ �ِﻴﻪ ِ ذِﻛْﺮِ اﷲ ِ �َﻬُﻮ َ لَﻬْﻮ ٌ وَﻟَﻌِﺐ ٌ إِﻻ َّ أَر�َْﻊَ، مُﻼ�ََﺒَﺔ
الﺮَّﺟُﻞ ِ امْﺮَأَﺗَﻪُ، وَﺗَﺄْدِﻳﺐ ُ الﺮَّﺟُﻞ ِ ﻓَﺮَﺳَﻪُ، وَمَﺸْﻴُﻪ ُ �َ� َْ اﻟْﻐَﺮَﺿ�َِْ، و�ََﻌْﻠِﻴﻢ ُ الﺮَّﺟُﻞ
الﺴَّﺒَّﺎﺣَﺔَ.
Dari Atha bin Abi Rabbah [diriwayatkan], ia berkata: Aku melihat Jabir
bin Abdillah dan Jabir bin Umar al-Anshari sedang latihan melempar.
Salah seorang di antara mereka berkata kepada yang lainnya: aku
mendengar Rasulullah bersabda: Setiap hal yang tidak ada dzikir kepada
Allah maka itu kesia-siaan belaka, kecuali empat hal; candaan suami
kepada istrinya, lelaki yang melatih kudanya, seseorang yang latihan
memanah, dan yang latihan berenang. [HR an-Nasā’ī, no. 8890]
b. Psikis (Rohaniah)
Dalam pedoman praktis perlindungan anak, aspek rohani merupakan aspek
yang sama pentingnya untuk dipenuhi sebagaimana aspek jasmani. Hal ini karena
dalam Islam, kualitas manusia tidak hanya dilihat dari bentuk fisiknya saja, tetapi
juga kualitas spiritualnya. Sementara untuk meningkatkan kualitas spiritual,
meniscayakan pemenuhan hak-hak anak dalam aspek rohaninya. Dengan demikian,
memenuhi hak-hak aspek rohani juga dilakukan sejak anak masih dalam
kandungan, seperti memelihara fitrah agama anak sejak sebelum fase janin,
kemudian, setelah ia lahir dilanjutkan dengan pemenuhan hak akikah si anak, hak
ibadah, hak pendidikan dan hak bermain.
- Hak Sebelum Terjadi Pembuahan
Di dalam Islam, anak telah memiliki hak-hak bahkan sebelum menjadi
janin, sehingga orangtua telah memiliki tanggung jawab untuk memenuhi hak-
hak tersebut. Salah satunya adalah memelihara fitrah agama anak yang masih
dalam bentuk janin. Upaya memelihara fitrah anak dalam Islam telah
dianjurkan sejak memilih pasangan. Hal ini ditegaskan di dalam firman Allah,ْ
ٍ وَلَﻮ ﻣُّﺮﺸ�َِْﺔ ﻣِّﻦ ٌْ �َﺧ ٌ ٌ ﻣُّﺆْﻣِﻨَﺔ َّ وَﻷََﻣَﺔ َّٰ ﻳُﺆْﻣِﻦ ِ ﺣَﻰﺘ الْﻤُﺮﺸ�َِْت َ ﺗَﻨﻜِﺤُﻮا ْ وَﻻ
أَﻋْﺠَﺒَﺘ�ُْﻢَْ وَﻻ َ ﺗُﻨﻜِﺤُﻮا الْﻤُﺮﺸ�ِ�ِْ َ ﺣﻰﺘ َّٰ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮا وَﻟَﻌَﺒْﺪ ٌ ﻣُّﺆْﻣِﻦ ٌ ﺧ�َ ٌْ ﻣِّﻦ ﻣُّﺮﺸِْك ٍ وَلَﻮ
52NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ْ
أَﻋْﺠَﺒ�َُﻢِأُوﺌﻟَِٰﻚ َ ﻳَﺪْﻋُﻮن َ إِﻰﻟ َ اﻨﻟَّﺎر ِ وَاﷲ ُ ﻳَﺪْﻋُﻮ إِﻰﻟ َ اﺠﻟَْﻨَّﺔ ِ وَالْﻤَﻐْﻔِﺮَة ِ ﺑِﺈِذْﻧِﻪُِّ�َُب�َو َ
آﻳَﺎﺗِﻪ ِ لِﻠﻨَّﺎس ِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢ ْ �َﺘَﺬَﻛَّﺮُون.
Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik,
walaupun dia menarik hatimu. Janganlah kamu menikahkan orang-orang
musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun
dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke
surga dan ampunan dengan izin-Nya. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
(perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran
[QS al-Baqarah (2): 221].
Ayat di atas dengan tegas menyatakan larangan Allah untuk memilih
calon suami/istri yang tidak beriman meskipun, calon yang tidak beriman itu
lebih menarik hati dan memiliki kelebihan dibanding calon yang beriman.
Pernyataan ini dapat dipahami bahwa keimanan menjadi tolok ukur pertama
dibanding pertimbangan lainnya. Adapun alasan mengapa keimanan adalah
nilai utama, adalah karena pasangan hidup yang tidak beriman akan mengajak
kepada kehidupan yang jauh dari tuntunan agama. Hal ini akan berakibat tidak
hanya bagi pasangan saja, tetapi juga bagi seluruh anggota keluarga, termasuk
anak.
Mengutamakan agama calon suami/istri, juga ditegaskan dalam hadis
Rasulullah saw.,ُ
َ �َﻦ ْ أَﻲﺑ ِ ﻫُﺮ�َْﺮَة َ رَﻲﺿ َِ اﷲ ُ �َﻨْﻪُ، ﻋَﻦ ِ اﻨﻟَّﻲﺒ ِِّ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ ﻗَﺎلَ: �ُﻨْﻜَﺢ ُ الﻤَﺮْأَة
ﻷَِر�َْﻊٍ: لِﻤَﺎلِﻬَﺎ وَﺤﻟَِﺴَﺒِﻬَﺎ وَﻤﺟََﺎلِﻬَﺎ وَﺪﻟِِﻳﻨِﻬَﺎ، ﻓَﺎﻇْﻔَﺮ ْ ﺑِﺬات ِ اﺪﻟِّﻳﻦِ، ﺗَﺮ�َِﺖ ْ ﻳَﺪَاك َ .
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan], dari Nabi saw., ia bersabda: Dinikahi
perempuan karena empat hal; karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan
agamanya. Pilihlah olehmu (perempuan) berdasarkan agamanya, (maka) kamu
akan beruntung [HR al-Bukhārī, no. 5090].
Selain memilih pasangan yang baik, upaya untuk memilihara agama anak
adalah dengan mendoakannya menjadi anak yang shaleh. Hal ini, berdasarkan
doa-doa para nabi dan orang saleh yang digambarkan di dalam Al-Qur’an di
mana, ketika mereka meminta keturunan, mereka berdoa agar anak tersebut
merupakan anak yang saleh. Di antara firman Allah yang menyebutkan doa
tersebut di antaranya,
رَب ِّ ﻫَﺐ ْ ﻲﻟ ِ ﻣِﻦ َ الﺼَّﺎﺤﻟ�َِِ.َُِّ َُِ ََِّ ًََِّ ًَُِّّ ََُْ ِْ ِ َْ َِّ ََ ََُّ َََِّ ََ ََََََُِْ َ َََّْ ََِِّ َََّْ َِِّْ َََُّّ ِ َِِِْ َََِّْ َُُِِّ ََُُُّّ ََ ُُِْْ ِّ ََُ َُْ ِْ ََُُِّْ ََُُّ َُْ َََْْ َِْ َََُّْ َََْ ََّٰ َََِّْ ََُِ ٍَْ َُِ َُّ ََِْ ََُُُّ َُْٰ َُ ََُُِْ َََُْْ َِ ٍَُِْ ََُْ ُ
53NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M َََُِِِِْْْ َََِِْْ ََِّْ َِ َُْ َُ َِّ َِ ََُْ ََََُُُِِّٰ َََََُّ َََُّْ َِِّ َََُِِْ َُُْ ََ ََََّ ََِْ ُ ََّ َِِّّ َِ َُْ ُ ََِ َََُْ َِ َْ َِ ََْْ ََِِِ ََََِ ََََِِ ََِِ ٍََِْ َََ ََِْ ِِّ ََِِِّ َِ ِ َْ َِّ
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-
orang yang saleh [QS ash-Shāffāt (37): 100].ِ
ﻫُﻨَﺎلِﻚ َ دَﺎﻋ َ ز�ََﺮ�َِّﺎ ر�ََّﻪ ُ ﻗَﺎل َ رَب ِّ ﻫَﺐ ْ ﻲﻟ ِ ﻣِﻦ ْ ﺪﻟَُﻧْﻚ َ ذُر�َِّّﺔ ً ﻃَﻴِّﺒَﺔ ً إِﻧَّﻚ َ ﺳَﻤِﻴﻊ ُ اﺪﻟُّﺎﻋَء
Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: Ya Tuhanku,
berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau
Maha Pendengar doa [QS Āli ‘Imrān (3): 38].
Anjuran berdoa ketika melakukan hubungan suami istri juga merupakan
upaya orangtua memelihara fitrah agama anak. Hal ini dapat diketahui dari
tuntunan Rasulullah saw. untuk membaca doa ketika hendak melakukan
hubungan seksual, yaitu,
ﺑِﺎﺳْﻢ ِ اﷲِ، اَلﻠَّﻬُﻢ َّ ﺟَﻨِّب�ْ ِ الﺸَّﻴْﻄَﺎن َ وَﺟَﻨِّﺐ ِ الﺸَّﻴْﻄَﺎن َ ﻣَﺎ رَز�َْﺘَﻨَﺎ.
Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah setan dariku dan jauhkanlah setan
dari anak yang Engkau berikan kepadaku [HR al-Bukhārī].
2) Hak Anak Dalam Kandungan
Hak anak dalam kandungan sangat erat kaitannya dengan keadaan ibu,
sebab kondisi ibu juga memengaruhi kondisi anak. Oleh karena itu, ibu yang
mengandung tidak hanya memelihara fisik, tetapi juga keadaan jiwa dan
spiritualnya. Demikian pula ayah perlu menciptakan suasana nyaman dan
menyenangkan, agar emosi dan kejiwaan ibu stabil dan terjaga. Pendidikan
anak dalam kandungan (pendidikan pranatal) juga penting diberikan oleh
orangtua semisal memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, musik klasik,
membacakan buku-buku bermanfaat dan hal-hal baik lainnya. Anjuran ini
termasuk di dalam keumuman perintah Allah di dalam firman-Nya,
َّ أَﺳْﻜِﻨُﻮﻫُﻦ َّ ﻣِﻦ ْ ﺣَﻴْﺚ ُ ﺳَﻜَﻨﺘُﻢ ﻣِّﻦ وُﺟْﺪ�ُِﻢ ْ وَﻻ َ ﺗُﻀَﺎرُّوﻫُﻦ َّ ﺘﻟُِﻀَﻴِّﻘُﻮا ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦ َّ و�َِن
ِ �ُﻦ َّ أُوﻻَت ِ ﻤﺣَْﻞ ٍ ﻓَﺄَﻧﻔِﻘُﻮا ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦ َّ ﺣَﻰﺘ َّٰ ﻳَﻀَﻌْﻦ َ ﻤﺣَْﻠَﻬُﻦ َّ ﻓَﺈِن ْ أَرْﺿَﻌْﻦ َ ﻟ�َُﻢ ْ ﻓَﺂﺗُﻮﻫُﻦ
ٰ أُﺟُﻮرَﻫُﻦ َّ وَأْﺗَﻤﺮُوا ﺑَيْﻨ�َُﻢ ﺑِﻤَﻌْﺮُوف ٍ و�َِن �َﻌَﺎﺮﺳ�َُْﻢ ْ ﻓَﺴَﺮﺘُْﺿِﻊ ُ ﻪﻟ َُ أُﺧْﺮَى.
Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan
(hati) mereka. Dan jika mereka itu sedang hamil, maka berikanlah kepada
mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan
(anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan
musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika
kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu)
untuknya [QS Ath-Thalāq (65): 6].
- Hak di Luar Kandungan
Beberapa perlindungan anak yang termasuk dari hak anak dari segi psikis
(rohaniah) setelah ia dilahirkan di antaranya, didoakan dengan isti‘āżah, akikah
dan pemberian nama, ibadah, pendidikan dan bermain.
a) Isti‘āżah, Akikah dan Pemberian Nama
Anak yang baru lahir hendaknya didoakan dengan lafal isti‘āżah, hal
ini sesuai dengan firman Allah dan juga sabda Rasullullah di dalam hadis
sahih berikut;ُ
ِ ﻓَﻠَﻤَّﺎ وَﺿَﻌَﺘْﻬَﺎ ﻗَﺎﻟَﺖ ْ رَب ِّ إ�ِ ِّ وَﺿَﻌْﺘُﻬَﺎ أ�ُْﻰﺜ َ وَاﷲ ُ أَﻋْﻠَﻢ ُ ﺑِﻤَﺎ وَﺿَﻌَﺖ ْ وَﻟَيْﺲ َ اﺬﻟَّﻛَﺮ
ﺎﻛَﻷ�ُْْﻰﺜ َ و�ِ�َ ِّ ﺳَﻤَّﻴْﺘُﻬَﺎ مَﺮ�َْﻢ َ و�ِ�َ ِّ أ�ُِﻴﺬُﻫَﺎ ﺑِﻚ َ وَذُر�َِّّﺘَﻬَﺎ ﻣِﻦ َ الﺸَّﻴْﻄَﺎن ِ الﺮَّﺟِﻴﻢ
Tatkala istri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah
lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah
seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam
dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya
kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk [QS Āli
‘Imrān (3): 36].َ
�َﻦ ْ اﺑْﻦ ِ �َﺒَّﺎس ٍ رَﻲﺿ َِ اﷲ ُ �َﻨْﻬُﻤَﺎ ﻗَﺎلَُ ﺎﻛَن َ اﻨﻟَّﻲﺒ ُِّ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ �ُﻌَﻮِّذ
ُ اﺤﻟَْﺴَﻦوَاﺤﻟُْﺴ�َ َْ و�ََﻘُﻮل ُ إِن َّ أَﺑَﺎﻛُﻤَﺎ ﺎﻛَن َ �ُﻌَﻮِّذ ُ ﺑِﻬَﺎ إِﺳْﻤَﺎ�ِﻴﻞ َ و�َِﺳْﺤَﺎق َ أَﻋُﻮذ
ﺑ�َِﻠِﻤَﺎت ِ اﷲ ِ اﺘﻟَّﺎﻣَّﺔ ِ ﻣِﻦ ْ ﻞﻛ ُِّ ﺷَﻴْﻄَﺎن ٍ وَﻫَﺎﻣَّﺔ ٍ وَﻣِﻦ ْ ﻞﻛ ُِّ �َ� ٍْ ﻻَﻣَّﺔ ٍ .
Dari Ibn Abbas r.a. [diriwayatkan], ia berkata; Dahulu Nabi saw.
membacakan isti‘āzah untuk Hasan dan Husain sembari bersabda,
Sesungguhnya moyang kalian (Nabi Ibrahim) juga dahulu ber-isti‘āzah
untuk Ismail dan Ishaq dengan doa: Aku berlindung dari kalimat Allah
yang sempurna, dari setiap kejahatan setan, dan makhluk yang
mengganggu, serta dari setiap tatap mata yang jahat [HR al-Bukhārī no.
3120].
Adapun akikah, adalah salah satu hak anak atas orangtua berdasarkan
tuntunan ajaran Islam. Secara bahasa akikah diartikan membelah dan
memotong. Menurut Al-Ṣan’ānī, akikah juga diartikan sebagai rambut yang
terdapat di kepala bayi yang baru keluar dari perut ibunya.14 Secara istilah,
dalam kitab Ṣahīh Fiqh as-Sunnah, akikah diartikan penyembelihan hewan
untuk anak yang baru dilahirkan sebagai ungkapan syukur kepada Allah
14 Muḥammad Ibn Ismā’il al-Amīr al-Kahlānī Al-Ṣan’ānī, Subūl As-Salām (Maktabah Musṭafa al-Bābi
al-ḥalabi., 1960), vol. IV/97.َُِْْْ َُْ َُِْ َْ ََََّ ٌََ َُ َُِ ََُُْْ ََُُْ ِِْ َََُّ َِِّ ََْ َُْ َُُْ ََِِِِ ٌََُْ ٍَُ ََََُُّّ ََِْ ُ ََّ ِ ََُ َُِْ ََْ ََِِّْْ ٍُْ ُِّ َْ َِ ٌََُُ ََِِْ ََِ َََُِِ ََِ َُِْ
55NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mََُّ َََْ َََْ َِ ََُْ َُ َُْ َََُْ ِِّ َِّ ََْ ََََْ َََّ َِِّ ََِّْ َِ ََََُِّّ َِ َُُِ َِِّ َََْ َََُّْ َِِّ ََََُْْ ََُْ ُ ََِ ٍََّ ِْ ََُُِّْ ََََّ ََِْ ُ ََّ َُِّّ ََ َََْ َُُ َََِْ ََِِْ َِ َُُِّ ََ َََُ َِّ ََُُ َََُْْ ٍََّ ٍَْ ُِّ َِْ ٍَََّ ٍََْ ُِّ ِْ ََِّّ ِ ََِِِ
dengan niat dan syarat-syarat yang khusus.15 Perintah berakikah ini
disebutkan dalam salah satu sabda Rasulullah saw.:
ﻣَﻦ ْ وُﺪﻟ َِ ﻪﻟ َُ وَﺪﻟ ٌَ ﻓَﺄَﺣَﺐ َّ أَن ْ ﻳُنْﺴِﻚ َ �َﻨْﻪ ُ ﻓَﻠْﻴُنْﺴِﻚْ.
Barangsiapa yang dikaruniai anak dan ingin beribadah atas namanya,
maka hendaklah ia beribadah (dengan menyembelih binatang akikah) [HR
Abū Dāwūd no. 2842, an-Nasā’ī no. 162, Aḥmad, no. 194 dan al-Baihaqī,
no. 300].
Berdasarkan hadis ini, hukum akikah adalah sunnah mu’akkadah.
Akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sebagaimana
dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw.,
ﻞﻛ ُُّ ﻏُﻼَم ٍ مُﺮ�َْﻬَﻦ ٌ ﺑِﻌَﻘِﻴﻘَﺘِﻪِ، ﺗُﺬْﺑَﺢ ُ �َﻨْﻪ ُ ﻳَﻮْم َ الﺴَّﺎﺑِﻊِ، و�َُﺴ� َّ �َِﻴْﻪ ِ و�َُْﻠَﻖ ُ رَأْﺳُﻪُ.
Tiap-tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih sebagai
tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta dicukur
rambut kepalanya [HR Lima Ahli Hadis, dishahihkan oleh at-Tirmiżī].
Tuntunan Islam menetapkan hewan sembelihan akikah berupa dua
ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak
perempuan. Daging sembelihan akikah tersebut kemudian dimasak dan
dibagikan kepada sanak kerabat serta tetangga. Keterangan ini berdasarkan
hadis Nabi saw.,َ
ِ �َﻦ ْ أُم ِّ ﻛُﺮْز ٍ اﻟْﻜَﻌْﺒِﻴَّﺔِ، ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﺳَﻤِﻌْﺖ ُ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ�َﻘُﻮلُ: ﻋَﻦ
اﻟْﻐُﻼَم ِ ﺷَﺎﺗَﺎن ِ ﻣُﺎﻜَﻓِﺌَﺘَﺎنِ، وَﻋَﻦ ِ اﺠﻟَْﺎر�َِﺔ ِ ﺷَﺎةٌ.
Dari Umi Kurzin al-Ka‘biyah r.a. [diriwayatkan] ia berkata, Aku
mendengar Rasulullah saw. bersabda, untuk anak laki-laki dua ekor
kambing yang sama besar dan untuk anak perempuan seekor kambing [HR
Abū Dāwūd].
Bagian penting dari akikah adalah pemberian nama. Memberi nama
anak juga merupakan hak anak yang harus dipenuhi oleh kedua
orangtuanya. Dalam pelaksanannya, memberikan nama kepada anak
dilaksanakan ketika akikah, yaitu hari ketujuh dari kelahirannya. Nama
yang diberikan haruslah nama yang baik, karena hakikatnya nama itu adalah
doa. Adapun dalil syar’i terkait pemberian nama ini, berdasarkan dua hadis
yang telah dikutip sebelumnya.
15 Abū Malik Kāmal bin Sayyid Sālim, Ṣahih Fiqhu as-Sunnah (Kairo: al-Maktabah at-Taufiqīyyah,
2003), vol. II/380.
b) Ibadah
Anjuran ibadah kepada anak secara khusus ditegaskan di dalam
firman Allah,َ
ﻳَﺎ �ُ� ََّ أَﻗِﻢ ِ الﺼَّﻼَة َ وَأْمُﺮ ْ ﺑِﺎلْﻤَﻌْﺮُوف ِ وَاﻧْﻪ َ ﻋَﻦ ِ الْﻤُﻨﻜَﺮ ِ وَاﺻْﺮﺒ ِْ ﻰﻠﻋ ََٰ ﻣَﺎ أَﺻَﺎﺑَﻚۖ◌َّإِن
ذَٰلِﻚ َ ﻣِﻦ ْ ﻋَﺰْم ِ اﻷُْمُﻮرِ.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang
baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah
terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) [QS Luqmān (31): 17].
Pentingnya membiasakan ibadah terkhusus kepada anak juga
ditegaskan di dalam sabda Rasulullah,ِ
ْ �َﻦ ْ �َﻤْﺮِو ﺑْﻦ ِ ﺷُﻌَﻴْﺐٍ، �َﻦ ْ أ�َِﻴﻪِ، �َﻦ ْ ﺟَﺪِّهِ، ﻗَﺎلَ: ﻗَﺎل َ رَﺳُﻮل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ
ْ وَﺳَﻠَّﻢَ: مُﺮُوا أَوْﻻَد�َُﻢ ْ ﺑِﺎلﺼَّﻼَة ِ وَﻫُﻢ ْ أ�َﻨَﺎء ُ ﺳَﺒْﻊ ِ ﺳِن�َِ، وَاﺮﺿ�ُِْﻮﻫُﻢ ْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ، وَﻫُﻢ
أ�َْﻨَﺎء ُ ﻋَﺮﺸ ٍْ وَﻓَﺮِّﻗُﻮا ﺑَيْﻨَﻬُﻢ ْ ﻲﻓ ِ الْﻤَﻀَﺎﺟِﻊِ.
Dari ‘Amr bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya, [diriwayatkan] ia
berkata, Rasulullah saw. bersabda: “perintahkanlah anak-anak kalian
untuk shalat ketika anak tersebut berumur tujuh tahun, dan pukullah
mereka (dengan pukulan yang mendidik dan tidak menyakiti) ketika umur
mereka sepuluh tahun. Pisahkan tempat tidur mereka [HR Abū Dāwūd, no.
495].
Hak ibadah ini juga diatur dalam UU 1945 Pasal 28E Ayat (1)
dinyatakan:
“Setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut
agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan,
memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara
dan meninggalkannya, serta berhak kembali”.
Dalam Pasal 29 Ayat (2) juga dinyatakan:
“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masingdan untuk beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya itu”.
Kemudian di dalam UU HAM Pasal 22 ayat (1) dinyatakan:
“Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.
Lebih lanjut, di dalam Pasal 55 UU HAM serta di dalam UU
Perlindungan Anak Pasal 6 dinyatakan:ٌَِ ٌَُْ َِّْ َِّ ِِ ُِْْ َ ََُّ َ َُُِ ََُ ِِِْ َُُْ ََ َِْ
57NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mََََ َ ََٰ َِْْ َُِْ َِ ََْ َُِِْْ َُْْ َََّ َِِ ََُّ ََُُِِّْۖ َِْ ِْ ََََِِْٰ ُ ََّ ِ َُُ ََ ََ َِِّ َْ َِِ َْ ٍَُْ ِْ َِْ َْ َْ َُْ ََِِّ َََُْْ ُُ ََََّ َُْ َََْ َُُِْْ َِِ َِْ َََُِِْ ِ ََُْْ ََُِّ ٍَْ ََُْ
“Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berfikir,
berekpresi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan usianya di bahwa
bimbingan orangtua dan atau wali”.
c) Pendidikan
Adapun mengenai pentingnya anak mendapatkan pendidikan, telah
digambarkan di dalam Al-Qur’an di mana Luqman memberikan nasihat
kepada anaknya, dalam rangka memberikan pelajaran. Dalam firman Allah
disebutkan,
و�َِذ ْ ﻗَﺎل َ ﻟُﻘْﻤَﺎن ُ ﻻِﺑْﻨِﻪ ِ وَﻫُﻮ َ ﻳَﻌِﻈُﻪ ُ ﻳَﺎ �ُ� ََّ ﻻ َ �ُﺮﺸِْك ْ ﺑِﺎﷲ ِ إِن َّ الﺮﺸِّْك َ ﻟَﻈُﻠْﻢ ٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ.
(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar” [QS Luqmān (31): 13].
Di Indonesia, hal ini telah diatur di dalam UUD 45 Pasal 28C Ayat
(1):
”Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh
manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi
meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraraan umat
manusia”.
Kemudian, di dalam UU HAM Pasal 12 juga dinyatakan:
”Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan
pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdasakan dirinya, dan
meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi mansuia yang beriman,
bertaqwa, bertanggung jawab, berahlak mulia, bahagia, dan sejahtera
sesuai dengan hak asasi manusia”;
Adapun pada Pasal 60 dinyatakan:
”Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran
dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat dan
tingkat kecerdasannya”.
d) Bermain
Usia anak adalah usia bermain sehingga hak ini juga sangat terjaga
dalam ajaran Islam. Bahkan, jika dirujuk ke beberapa riwayat, ditemukan
bahwa Nabi Muhammad saw. membiarkan cucunya bermain kuda-kudaan
di atas punggungnya walaupun itu membuat sujud Nabi menjadi lebih
panjang. Hal ini, sebagaimana hadis,
58NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ِ
�َﻦ ْ �َﺒْﺪ ِ اﷲ ِ ﺑْﻦ ِ ﺷَﺪَّادٍ، �َﻦ ْ أ�َِﻴﻪ ِ ﻗَﺎلَ: ﺧَﺮَج َ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ رَﺳُﻮل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ
،َوَﺳَﻠَّﻢ ُِّﻲﻓ ِ إِﺣْﺪَى ﺻَﻼَﻲﺗ َِ اﻟْﻌَﻲﺸِِّ، وَﻫُﻮ َ ﺣَﺎمِﻞ ٌ ﺣَﺴَﻨًﺎ أَو ْ ﺣُﺴَيْﻨًﺎ، �َﺘَﻘَﺪَّم َ اﻨﻟَّﻲﺒ
َ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ ﻓَﻮَﺿَﻌَﻪ ُ �ُﻢ َّ ﻛَﺮﺒ ََّ لِﻠﺼَّﻼَة ِ ﻓَﺼ�َ َّ ﻓَﺴَﺠَﺪ َ �َ� َْ ﻇَﻬْﺮَي ْ ﺻَﻼَﺗِﻪِ،
ِ ﺳَﺠْﺪَة ً أَﻃَﺎلَﻬَﺎ، ﻗَﺎل َ أَﻲﺑِ: ﻓَﺮ�ََﻌْﺖ ُ رِ أْﻲﺳ ِ ﻓَﺈِذَا الﺼَّﻲﺒ ُِّ ﻰﻠﻋ ََ ﻇَﻬْﺮ ِ اﻨﻟَّﻲﺒ ِِّ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ
َْ وَﺳَﻠَّﻢ َ وَﻫُﻮ َ ﺳَﺎﺟِﺪٌ، ﻓَﺮَﺟَﻌْﺖ ُ إِﻰﻟ َ ﺳُﺠُﻮدِي، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻗَﻰﻀ َ رَﺳُﻮل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ
َ وَﺳَﻠَّﻢ َ الﺼَّﻼَةَ، ﻗَﺎل َ اﻨﻟَّﺎسُ: ﻳَﺎ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ إِﻧَّﻚ َ ﺳَﺠَﺪْت َ �َ�ْ ﻇَﻬْﺮَي ْ ﺻَﻼَﺗِﻚ
ﺳَﺠْﺪَة ً أَﻃَﻠْﺘَﻬَﺎ ﺣَﻰﺘ َّ ﻇَﻨَﻨَّﺎ �َﻧَّﻪ ُ ﻗَﺪ ْ ﺣَﺪَث َ أَمْﺮٌ، أَو ْ �َﻧَّﻪ ُ ﻳُﻮﻰﺣ َ إِﻴﻟَْﻚَ، ﻗَﺎلَ: ﻞﻛ ُُّ ذَلِﻚ َ لَﻢ
ﻳ�َُﻦ ْ وَﻟ�َِﻦ َّ اﺑ�ْ ِ ارْﺤﺗََﻠ�َِ، ﻓَﻜَﺮِﻫْﺖ ُ أَن ْ أُﻋَﺠِّﻠَﻪ ُ ﺣَﻰﺘ َّ �َﻘْﻲﻀ َِ ﺣَﺎﺟَﺘَﻪُ.
Dari Abdullah bin Syaddad dari ayahnya [diriwayatkan], ia berkata:
Rasulullah saw. pergi kepada kami di dalam salah satu salat Isya, dan
ketika itu ia membawa Hasan atau Husain. Kemudian Rasulullah saw. ke
depan dan meletakkan (Hasan atau Husain), kemudia beliau bertakbit untuk
salat lalu mengerjakan salat. Saat salat beliau kemudian sujud yang lama,
maka ayahku berkata: Lalu aku mengangkat kepalaku, dan ternyata ada
anak kecil di atas punggung Rasulullah saw. yang sedang sujud, lalu aku
kembali sujud. Setelah Rasululullah saw. selesai salat, orang-orang
berkata, Wahai Rasulullah, saat salat engkau memperlama sujud, hingga
kami mengira bahwa ada sesuatu yang telah terjadi atau ada wahyu yang
diturunkan kepadamu? Beliau saw. menjawab: Bukan karena semua itu,
tetapi cucuku (Hasan atau Husain) menjadikanku sebagai kendaraan, maka
aku tidak mau membuatnya terburu-buru, (aku biarkan) hingga ia selesai
dari bermainnya [HR an-Nasā’ī].
Hal ini seperti dinyatakan di dalam UU HAM Pasal 61:
“Setiap anak berhak untuk beristirahat, bergaul dengan anak yang
sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat,
dan tingkat kederdasannya demi pengembangan dirinya”.
Demikian pula dalam UU Perlindungan Anak Pasal 11:
“Setiap anak berhak untuk berisitirahat dan memanfaatkan waktu luang,
bergaul dengan anak sebaya, bermain, berkereasi dan berkreasi sesuai
dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan
diri”.
Di dalam UU Perlindungan Anak Pasal 56 Ayat (1) juga dinyatakan:
“Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan
pemeliharaan dan perawatan wajib mengupayakan dan membantu Anak,
agan Anak dapat”: dalam huruf e. “bebas berisitirahat, bermain,
berekreasi, berkreasi, dan berkarya seni budaya; dan” dan dalam huruf
f. “memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan
keselamatan”.َُِّْ ََُُِ َِّ َََُُْ َََ ََ َِِْ ِ ََِْْ ِْ ٍَُِ ُ َََ َ َُ َُ ََُِِْْ َُُْْ َُِْ َََُْْ َََُِْْ َََ ََ ََُُِّْ ُ َََُْ ََُْ َْ َِْ ِ َِْ ََُْ َُ ََِِِْ ُُْْ ََِّ َِْ ََُ ََّْ َ ََِْ ِِ ََُْْْ َِ ٌَُ ََُْْ َََْ َََُِْ ِِّ ِ ََُُِْْ ُُُ ََََّْ ًَِ ًَُ ُ َََ ُْ
59NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ََِْ ُ ََّ ِ َُُ َََْ َََ ََ َِِ َْ ٍََّ ِْ ِ َِْ َْ ََََّ َُِّّ َََََّ ًَُْ َْ ًََ ٌَِ ََُ َِِّْ َََِ َِْ ِ ََِِ ََْْ ََْ ََََ َََّ ََِِّ َََّ َُّ ََََُ ََََّ ََِْ ُ ََّ َ َََُْ َِ ََ ََََ ًََْ ََِْ ُ ََّ َِِّّ َِْ ََ َُِّّ ََِ ِْ ََِْ ُ ََّ ِ َُُ ََ َََّ ُُِ َِ َََُْ ٌَِ ََُ ََََّ ََْ َََْ ََِّ ِ ََُ َ َُّ ََ َََّ ََََّ َََِ ََْْ َْ ََِ ُُّ ََ ََِْ َُ ََُّ َْ ٌَْ َََ َْ ََُّ َََّ ََّ ََََْ ًَََََُْ ََِْ ََّ ََُُِّ َْ ََُِْ َََِْ ِْ َََِّ َُْ
Adapun dalam UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 perihal media
bermain telah diatur pada Pasal 135 Ayat (1):
“Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat wajib menyediakan
tempat dan sarana lain yang diperlukan untuk bermain anak yang
memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara optimal serta
mampu bersosialisasi secara sehat”; dan Ayat (2): “Tempat bermain
dan sarana lain yang diperlukan sebagaiaman dimaksud pada ayat (1)
wajib dilengkapi saran perlindungan terhadap risiko kesehatan agar
tidak membahayakan kesehatan anak.”
2. Hak Sipil
Hak sipil yang dimaksud adalah hak keperdataan anak yang mencakup nasab dan
identitas, hak berbicara, hak mendapatkan dan memiliki harta yang meliputi waris,
nafkah, hibah dan wasiat.
a. Nasab dan identitas
Setiap anak yang lahir berhak mendapat kejelasan nasab, anak yang lahir dari
pernikahan yang sah maka nasabnya adalah kepada bapaknya, kecuali jika anak
lahir dari perzinaan maka nasabnya kepada ibunya. Demikian juga anak yang sejak
lahir dirawat dan dibesarkan oleh orangtua angkat (diadopsi) juga berhak mendapat
kejelasan nasabnya, sehingga Islam melarang untuk menghubungkan nasab anak
angkat kepada orangtua angkatnya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah
dan hadis Nabi saw.,َّ
ُ ﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞ َ اﷲ ُ لِﺮَﺟُﻞ ٍ ﻣِﻦ ْ ﻗَﻠْﺒ�َ ِْ ﻲﻓ ِ ﺟَﻮْﻓِﻪ ِ وَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞ َ أَزْوَاﺟ�َُﻢ ُ الﻼَّﻲﺋ ِ �ُﻈَﺎﻫِﺮُون َ ﻣِﻨْﻬُﻦ
ُ أُمَّﻬَﺎﺗ�ُِﻢ ْ وَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞ َ أَد�ِْﻴَﺎء�َُﻢ ْ أ�َْﻨَﺎء�َُﻢ ْ ذَﻟ�ُِﻢ ْ ﻗَﻮْﻟ�ُُﻢ ْ ﺑِﺄَﻓْﻮَاﻫ�ُِﻢ ْ وَاﷲ ُ �َﻘْ ﻮل
اﺤﻟَْﻖ َّ وَﻫُﻮ َ �َﻬْﺪِي الﺴَّبِﻴﻞَ. ادْﻋُﻮﻫُﻢ ْ ﻵَِﺑَﺎﺋِﻬِﻢ ْ ﻫُﻮ َ أَﻗْﺴَﻂ ُ ﻋِﻨْﺪ َ اﷲ ِ ﻓَﺈِن ْ لَﻢ ْ �َﻌْﻠَﻤُﻮا آَﺑَﺎءَﻫُﻢ
ُ ﻓَﺈِﺧْﻮَاﻧ�ُُﻢ ْ ﻲﻓ ِ اﺪﻟِّﻳﻦ ِ وَمَﻮَاﻴﻟ�ُِﻢ ْ وَﻟَيْﺲ َ ﻋَﻠَﻴ�ُْﻢ ْ ﺟُﻨَﺎح ٌ �ِﻴﻤَﺎ أَﺧْﻄَﺄ�ُْﻢ ْ ﺑِﻪ ِ وَﻟ�َِﻦ ْ ﻣَﺎ
�َﻌَﻤَّﺪَت ْ ﻗُﻠُﻮ��ُﻢ ْ و�ََن َ اﷲ ُ �َﻔُﻮرًا رَﺣِﻴﻤًﺎ.
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya;
dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan
Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).
Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Allah mengatakan yang
sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-
anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih
adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka
(panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.
Tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada
dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Adalah Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang [QS al-Aḥzāb (33): 4-5].
60NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ِ
ََّ �َﻦ ْ ﺎﻋ�َِﺸَﺔ َ رَﻲﺿ َِ اﷲ ُ �َﻨْﻬَﺎ �َ�َّﻬَﺎ ﻗَﺎﻟَﺖ ْ اﺧْﺘَﺼَﻢ َ ﺳَﻌْﺪ ُ �ْﻦ ُ أَﻲﺑ ِ وَﻗَّﺎص ٍ و�ََﺒْﺪ ُ �ْﻦ ُ زَﻣْﻌَﺔ َ ﻲﻓ
ْﻏُﻼَم ٍ �َﻘَﺎل َ ﺳَﻌْﺪ ٌ ﻫَﺬَا ﻳَﺎ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ ا�ْﻦ ُ أَﻲﺧ ِ �ُﺘْﺒَﺔ ُ �ْﻦ ُ أَﻲﺑ ِ وَﻗَّﺎص ٍ ﻋَﻬِﺪ َ إِﻲﻟِ �َﻧَّﻪ ُ ا�ْﻨُﻪ ُ ا�ْﻈُﺮ
إِﻰﻟ َ ﺷَﺒَﻬِﻪ ِ وَﻗَﺎل َ �َﺒْﺪ ُ �ْﻦ ُ زَﻣْﻌَﺔ َ ﻫَﺬَا أَﻲﺧ ِ ﻳَﺎ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ وُﺪﻟ َِ ﻰﻠﻋ ََ ﻓِﺮَاش ِ أَﻲﺑ ِ ﻣِﻦ ْ وَﻴﻟِﺪَﺗِﻪ
�َﻨَﻈَﺮ َ رَﺳُﻮل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ إِﻰﻟ َ ﺷَﺒَﻬِﻪ ِ ﻓَﺮَأَى ﺷَﺒَﻬًﺎ ﺑَيِّﻨًﺎ ﺑِﻌُﺘْﺒَﺔ َ �َﻘَﺎَ ل َ ﻫُﻮ َ لَﻚ َ ﻳَﺎ
ُ �َﺒْﺪ ُ �ْﻦ َ زَﻣْﻌَﺔ َ الْﻮَﺪﻟ َُ لِﻠْﻔِﺮَاش ِ وَلِﻠْﻌَﺎﻫِﺮ ِ اﺤﻟَْﺠَﺮ ُ وَاﺣْﺘَﺠِﻲﺒ ِ ﻣِﻨْﻪ ُ ﻳَﺎ ﺳَﻮْدَة ُ ﺑِﻨْﺖ َ زَﻣْﻌَﺔ َ ﻓَﻠَﻢ ْ ﺗﺮَه
ﺳَﻮْدَة ُ �َﻂُّ.
Dari ‘Aisyah r.a. [diriwayatkan] bahwa Sa‘ad bin Abi Waqqash dan Abd bin
Zam‘ah berselisih tentang seorang anak laki-laki. Sa‘ad mengatakan: Wahai
Rasulullah! Ini anak saudaraku ‘Utbah bin Abi Waqqash, dia menyampaikan
kepadaku bahwa dia adalah anaknya. Lihatlah kemiripannya. ‘Abd bin Zam‘ah
mengatakan: Wahai Rasulullah! Ini adalah saudaraku, dia dilahirkan di ranjang
ayahku dari istrinya. Lalu Rasulullah melihat kepada anak tersebut dan
menemukan kemiripannya dengan ‘Utbah, lalu Rasulullah bersabda: Anak itu
milikmu ‘Abd bin Zam‘ah, anak itu (nasabnya) adalah bagi (pemilik) ranjang dan
bagi pelacur adalah hukuman rajam, dan berhijablah darinya wahai Saudah bintu
Zam‘ah. Maka Saudah tidak pernah melihatnya [HR al-Bukhārī].
b. Hak Berbicara
Dalam Islam ajaran tentang hak anak dalam mengajukan pendapat telah
diajarkan oleh Nabi Ibrahim ketika mendapat perintah dari Allah untuk
menyembelih anaknya, Ismail, sebagaimana dalam surah ash-Shāffāt (37) ayat 102,َ
ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺑَﻠَﻎ َ ﻣَﻌَﻪ ُ الﺴَّﻲﻌ َْ ﻗَﺎلَ ﻳَﺎ �ُ� ََّ إ�ِ ِّ أَرَى ﻲﻓ ِ الْﻤَﻨَﺎم ِ �َ� ِّ أَذْﺤﺑَُﻚ َ ﻓَﺎ�ْﻈُﺮ ْ ﻣَﺎذَا ﺗَﺮَى ﻗَﺎل َ ﻳَﺎ
أَﺑَﺖ ِ ا�ْﻌَﻞ ْ ﻣَﺎ ﺗُﺆْمَﺮ ُ ﺳَﺘَﺠِﺪ�ُ ِ إِن ْ ﺷَﺎء َ اﷲ ُ ﻣِﻦ َ الﺼَّﺎﺑِﺮ�ِﻦ.
Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar [QS ash-Shāffāt (37): 102].
Ayat di atas menunjukkan, meskipun dalam hal ketaatan kepada Allah yang
merupakan kewajiban utama seorang hamba, namun tetap anak mempunyai hak
untuk mengungkapkan pendapatnya. Dalam ibadah saja pendapat anak tidak boleh
ditinggalkan, apalagi dalam urusan selain ibadah.
c. Hak Mendapatkan dan Memiliki Harta
Hak mendapatkan dan memiliki harta dalam Islam sejak fikih klasik telah
diwujudkan dalam beberapa macam bentuk. Di antaranya, bisa berbentuk waris,
wasiat, maupun hibah. Adapun kewarisan dalam hal ini bermakna perlindunganََِِْ َََ َِّ ٌَِ ََِِِّ ََََُْْ ََِِْ َََ َِّ ٌَِ ََََِِِّْ َُْْ ُُ ََِْْ َََ ََِ ًَُْ ًَِ ََُ َْ ُِْ ََّ َِّ ََََُْْ َ َََِْ ًَُْ ًَْ َُْ َُُ ُِْ َُُُْْ ََُ ِ َِْ ِْ َِِ ََِِّْ ِْ َِْ ََُْ ََْ ِ َُِ َِ ٍَْ ِْ َََِْْ َََ ََُُ َُِ َِِّ ِْ َِْ ََْ ََِ ِ ََُ َ َََْ ََََّ ََِْ ُ َََّ ََُ ََْ ََْ َََُ َََ َََُّ ََِّ ًَِ ٍُُ ََْ ٌَ َََُ َِّ ََُِْ ََ ً َِ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ َُُ ََََ َِِْ َُ ََََْ ََِ ِ ُ َِْ ََ َ َُُّ ََُُّ ََِْ َُُِّْ ٍَْ ََْْ َِْ َََ ََِِّ ََ ََُ ََِ َ
61NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 M ِ َََْ ُْ ََُْ ٍََّ َِ ُْ َُْ َََْ ََْ َََّ ََْ ُ ََِ َََِ َْ ََِّ ََِ ٍََّ َِ ُْ َُُْ َِ ُْ ِ ََُ َ ََ ٌَْ َََ ٍَُُْْ ُُْ ََُّ ََِِِ ِْ َِ َِِ ََ َُِ ِ ََُ َ َِ ََ َََْ ُْ َُْ َََ ََِِ َََِ ََُِْ ًَِّ ًََ َََ ََِِ َِ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ َُُ ََََ َ ََ َُ َ َ ََْ َََْ َِْ ََُْ َ ُِْ ََِِْ ََُْ ََِِِْ َِِِْ ََُْ َََْ َْ َُْ ََُُّ ََََُْ ََّْ ََُ َََ ََََّ ََ ََ ََ َُْْ َََُْ َِّ ََِْ ِ ََ ِِّ ََُّ َ ََِِّ َِ ُ ََ ِْ ََُِِ َُُْ َ َْْ ََِ
terhadap hak anak untuk mendapatkan warisan dalam porsi yang adil. Islam juga
telah memberikan hak-hak waris untuk anak. Isyarat ini ada dalam surah an-Nisā’
(4): 7-8,ِ
لِﻠﺮِّﺟَﺎل ِ ﻧَﺼِﻴﺐ ٌ مِﻤَّﺎ ﺗَﺮَك َ الْﻮَاﺪﻟَِان ِ وَاﻷَْﻗْﺮ�َُﻮن َ وَلِﻠنِّﺴَﺎء ِ ﻧَﺼِﻴﺐ ٌ مِﻤَّﺎ ﺗَﺮَك َ الْﻮَاﺪﻟَِان
َ وَاْﻷَﻗْﺮ�َُﻮن َ مِﻤَّﺎ ﻗَﻞ َّ ﻣِﻨْﻪ ُ أَو ْ ﻛَﺮﺜ َُ ﻧَﺼِﻴﺒًﺎ ﻣَﻔْﺮُوﺿًﺎ. و�َِذَا ﺣَﺮﻀ ََ اﻟْﻘِﺴْﻤَﺔ َ أُولُﻮ اﻟْﻘُﺮ�ْ َ وَاﻴﻟَْﺘَﺎ� ِ
وَالْﻤَﺴَﺎﻛ� ُ ﻓَﺎرْزُﻗُﻮﻫُﻢ ْ ﻣِﻨْﻪ ُ وَﻗُﻮلُﻮا لَﻬُﻢ ْ ﻗَﻮْﻻ ً ﻣَﻌْﺮُوﻓًﺎ.
Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan
kerabatnya, dan bagi orang perempuan ada hak bagian (pula) dari harta
peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut
bahagian yang telah ditetapkan. Apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat,
anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik [QS an-Nisā’ (4): 7-8].
Jika melihat pada sebab turunnya ayat tentang waris di atas dalam beberapa
literatur tafsir, akan didapati bahwa sebelum ayat ini diturunkan tradisi pewarisan
harta sama sekali tidak berpihak kepada perempuan atau pun keluarga lain yang
tidak berperang, sebagaimana dinyatakan dalam tafsir aṭ-Ṭabarī, Ibn Kaṡīr, al-
Baghawī, al-Alūsī dan lain-lain. Ayat waris diturunkan karena menjawab
pengaduan istri Sa‘ad bin Rabī‘ sebagai berikut,َ
�َﻦ ْ ﺟَﺎﺑِﺮ ِ ﺑْﻦ ِ �َﺒْﺪ ِ اﷲ ِ ﻗَﺎلِِ ﺟَﺎءَت ْ امْﺮَأَة ُ ﺳَﻌْﺪ ِ ﺑْﻦ ِ الﺮ�َِّﻴﻊَ ﺑِﺎﺑْنَﺘَﻴْﻬَﺎ ﻣِﻦ ْ ﺳَﻌْﺪ ٍ إِﻰﻟ َ رَﺳُﻮل ِ اﷲ
َﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ �َﻘَﺎﻟَﺖ ْ ﻳَﺎ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ ﻫَﺎﺗَﺎن ِ اﺑْنَﺘَﺎ ﺳَﻌْﺪ ِ ﺑْﻦ ِ الﺮ�َِّﻴﻊ ِ ﻗُﺘِﻞ َ أَﺑُﻮﻫُﻤَﺎ ﻣَﻌَﻚ
ٌ ﻳَﻮْم َ أُﺣُﺪ ٍ ﺷَﻬِﻴﺪًا و�َِن َّ �َﻤَّﻬُﻤَﺎ أَﺧَﺬ َ ﻣَﺎلَﻬُﻤَﺎ ﻓَﻠَﻢ ْ ﻳَﺪَع ْ لَﻬُﻤَﺎ ﻣَ ﺎﻻ ً وَﻻ َ �ُﻨْﻜَﺤَﺎن ِ إِﻻ َّ وَلَﻬُﻤَﺎ ﻣَﺎل
َ ﻗَﺎل َ �َﻘْﻲﻀ ِ اﷲ ُ ﻲﻓ ِ ذَلِﻚ َ �َ�ََﻟَﺖ ْ آﻳَﺔ ُ الْﻤ�َِاث ِ �َﺒَﻌَﺚ َ رَﺳُﻮل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ إِﻰﻟ
�َﻤِّﻬِﻤَﺎ �َﻘَﺎل َ أَﻋْﻂ ِ اﺑْنَﻲﺘ َْ ﺳَﻌْﺪ ٍ اﺜﻟُّﻠُﺜ�َ ِْ وَأَﻋْﻂ ِ أُمَّﻬُﻤَﺎ اﺜﻟُّﻤُﻦ َ وﻣَﺎ ﺑَﻲﻘ َِ �َﻬُﻮ َ لَﻚ َ .
Dari Jabir bin ‘Abdullah [diriwayatkan] ia berkata: Istri Sa‘ad bin Rabī‘ datang
kepada Rasulullah saw. bersama kedua putrinya dari Sa‘ad lalu dia berkata:
Wahai Rasululullah, ini kedua putri Sa‘ad bin Rabī‘, bapak mereka telah syahid
bersama engkau pada perang Uhud, sedangkan paman mereka telah mengambil
harta mereka dan tidak menyisakan apa pun bagi mereka, padahal mereka tidak
bisa dinikahkan kecuali memiliki harta. Lalu Rasul menjawab: Allah akan
membuat keputusan pada masalah ini. Lalu turunlah ayat waris dan Rasulullah
saw. mengutus kepada paman mereka dan mengatakan: Berikan kepada kedua
anak Sa‘ad dua pertiga dan seperdelapan untuk ibu mereka, sisanya untukmu [HR
at-Tirmiżī].
Jadi, tradisi sebelum Islam tidak memberikan hak waris kepada perempuan
ataupun laki-laki jika tidak mempunyai kemampuan untuk berperang. Dengan
turunnya ayat di atas maka Allah menyamakan pembagian harta untuk generasi atas
dari orang yang mewariskan (bapak, ibu, kakek, nenek dan seterusnya).
Sebagaimana dalam lanjutan firman Allah di atas,ٌَ
ُ... وَﻷَِﺑَﻮ�َْﻪ ِ ﻟِﻞﻜ ُِّ وَاﺣِﺪ ٍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ الﺴُّﺪُس ُمِﻤَّﺎ ﺗَﺮَك َإِن ْ ﺎﻛَن َ ﻪﻟ َُ وَﺪﻟ ٌَ ﻓَﺈِن ْ لَﻢ ْ ﻳ�َُﻦ ْ ﻪﻟ َُ وَﺪﻟ
ْ وَوَرِﺛَﻪ ُ أَﺑَﻮَاه ُ ﻓَﻸُِﻣِّﻪ ِ اﺜﻟُّﻠُﺚ ُ ﻓَﺈِن ْ ﺎﻛَن َ ﻪﻟ َُ إِﺧْﻮَة ٌ ﻓَﻸُِﻣِّﻪ ِ الﺴُّﺪس ُ ﻣِﻦ ْ �َﻌْﺪ ِ وَﺻِﻴَّﺔ ٍ ﻳُﻮﻲﺻ ِ ﺑِﻬَﺎ أَو
... ٍ دَﻳْﻦ
… Untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang
ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal
tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya
mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka
ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah
dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya … [QS an-
Nisā’ (4): 11].
Adapun untuk generasi bawah dari orang yang mewariskan (anak, cucu, cicit
dan seterusnya), maka bagi laki-laki dua kali lipat perempuan, hal ini bukan
didasarkan pada jenis kelamin (jika didasarkan pada jenis kelamin, bapak ibu tidak
akan mendapat bagian warisan yang sama), tetapi disebabkan kewajiban nafkah dan
beban keluarga yang ditanggung oleh anak laki-laki.
Jadi, jika beban anak perempuan dalam ahli waris justru lebih besar daripada
laki-laki, maka pengadilan sebaiknya bisa menyampaikan dasar hukum waris dan
konsekuensinya kepada seluruh ahli waris. Jika ahli waris laki-laki tidak sanggup
untuk mengambil beban yang seharusnya dia tanggung dari perolehan warisannya,
maka pengadilan bisa meminta kepada ahli waris laki-laki untuk memberikan
sebagian warisannya kepada ahli waris perempuan yang menjadi penggantinya
dalam menanggung beban.
Mengenai nafkah, telah dijelaskan sebelumnya secara umum. Dalam Kitab
al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuhu diterangkan juga bahwa para ulama fikih
bersepakat tentang kewajiban nafkah itu dibebankan kepada orangtua, di mana
nafkah itu meliputi segala yang berhubungan dengan kebutuhan makanan (ṭa‘ām),
pakaian (kiswah) dan tempat tinggal (suknah).16 Kewajiban akan nafkah kepada
anak ini, berdasarkan firman Allah [QS Aṭ-Ṭalāq (65): 6] yang telah dikutip
sebelumnya. Termasuk juga yang menguatkan hak ini adalah hadis yang bercerita
tentang Hindun, di mana hadis tersebut mengisyaratkan bahwa suami punya
kewajiban memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Ukuran pemberian nafkah
tersebut didasarkan dua hal yaitu, kemampuan orangtua dan sesuai dengan
kebutuhan anak itu sendiri.
16 Az-Zuḥailī, Al-Fiqh Al-Islāmī Wa Adillatuh (Damaskus: Dār al-Fikr, n.d.), vol. X/7348.َِْْ ََ ُِْ ََُْْ ٍََ ِْ ََِْ ََِّ ِ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ َُُ ََِ َََِ ِ ََُ َ َُُْ ٌََِ ِ ٌَْ َِّ َُِِ ََ ٍَ ُ َََ ََِْ ِْ ََ َ ٌَِ َُُُّ ُُُّ َ ََ َِِِْ ََََََُّ ُُْ ََ َ ََ َِ َُُِْ ََََََُّ َ َََِْ َََََ َََ َْ ََِّ ََّ َََََُّ ًََ َََُْ َْ ِْ ٌْ
63NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mٌََ َُ َُْ َْ َِْ ٌََ َُ ََ َََِْ ََُُُُِِّّْ ٍَِ ُِِّ ََََُُِِّْ َُِِِّ ٌَِْ َُ ََ َِْ ُُُّ َُِِِّ َََُ َََُِ َْ َِ ُِ ٍََِّ َِْ ِْ ُ ٍَْ
Begitu pula dengan wasiat dan hibah, di mana keduanya juga bagian dari hak
kepemilikan harta orangtua untuk anak. Dalam fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
yang dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah No. 83/1998, disebutkan bahwa
hibah dan wasiat dapat menjadi alternatif untuk memberikan hak harta kepada
anak. Sebab dalam beberapa kasus, anak tidak mendapatkan bagian harta yang
mencukupi untuk kehidupannya, atau bisa juga anak tersebut terhalang untuk
mendapatkan warisan karena ia non muslim.17
Dengan demikian, maka selain melalui warisan, orangtua juga bisa
memberikan anak harta melalui hibah. Hibah dalam pengertiannya adalah
menyerahkan hak kebendaan yang berlakunya sewaktu si pemberi masih hidup.
Dalam konteks hibah ini, tidak ditemukan larangan seorang muslim menyerahkan
hartanya kepada yang bukan muslim. Adapun mengenai besarannya, maka itu
ditentukan oleh orangtua sendiri dengan asas keadilan.
Alternatif lain di dalam memberikan hak harta kepada anak adalah wasiat,
yaitu menyerahkan sebagian hak kebendaan yang berlakunnya setelah orang yang
berwasiat meninggal dunia. Wasiat juga bisa diberikan kepada anak yang tidak
beragam Islam sebagaimana hibah. Namun perbedaannya, wasiat tidak bisa
diberikan kepada anak yang telah menjadi ahli waris.
Perbedaan wasiat dengan hibah juga teradapat pada besarannya. Jika hibah
tidak ditentukan secara jelas besarannya, maka wasiat besaran maksimalnya
adalah sepertiga dari harta peninggalan. Hal ini berdasarkan keterangan yang
disampaikan oleh ‘Amr bin Sa‘ad,ِ
ِ ﺎﻋَد�َ ِ رَﺳُﻮل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ ﻲﻓ ِ ﺣَﺠَّﺔ ِ الْﻮَدَاع ِ ﻣِﻦ ْ وَﺟَﻊ ٍ أَﺷْﻔَﻴْﺖ ُ ﻣِﻨْﻪ ُ ﻰﻠﻋ ََ الْﻤَﻮْت
ٌ �َﻘُﻠْﺖ ُ ﻳَﺎ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ ﺑَﻠَﻐ�ٌَ ﻣَﺎ ﺗَﺮَى ﻣِﻦ ْ الْﻮَﺟَﻊ ِ وَأَﻧَﺎ ذُو ﻣَﺎل ٍ وَﻻ َ ﻳَﺮِﺛ�ُ ِ إِﻻ َّ ا�ْﻨَﺔ ٌ ﻲﻟ ِ وَاﺣِﺪَة
َ أَﻓَﺄَﺗَﺼَﺪَّق ُ ﺑِﺜُﻠُﻲﺜ َْ ﻣَﺎﻲﻟ ِ ﻗَﺎل َ ﻻ َ ﻗَﺎل َ ﻗُﻠْﺖ ُ أَﻓَﺄَﺗَﺼَﺪَّق ُ �ِﺸَﻄْﺮِه ِ ﻗَﺎل َ ﻻ َ اﺜﻟُّﻠُﺚ ُ وَاﺜﻟُّﻠُﺚ ُ ﻛَﺜ�ِ
إِﻧَّﻚ َ أَن ْ ﺗَﺬَر َ وَر�ََﺘَﻚ َ أَﻏْﻨِﻴَﺎء َ ﺧ� ٌْ ﻣِﻦ ْ أَن ْ ﺗَﺬَرَﻫُﻢ ْ ﺎﻋَﻟَﺔ ً �َﺘَﻜَﻔَّﻔُﻮن َ اﻨﻟَّﺎس َ .
Rasulullah datang mengunjungi saya pada tahun haji wada’ sewaktu saya
menderita sakit keras, saya berkata kepada Rasulullah: Ya Rasulullah, saya sedang
menderita sakit keras sebagaimana engkau lihat, saya mempunyai (banyak) harta
sementara tidak ada yang akan mewarisi saya kecuali seorang anak perempuan
saya, apakah sebaiknya saya berwasiyat sebanyak duapertiga dari harta saya?
Rasul menjawab: Tidak (jangan). Saya bertanya lagi, apa boleh saya berwasiat
separuh dari harta saya? Rasul menjawab: Jangan, sepertiga (saja), karena
sepertiga sudah banyak. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu
17 Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid, Rubrik Tanya Jawab Agama, Majalah Suara Muhammadiyah
Nomor 83, tahun 1998.
dalam keadaan kecukupan itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka
dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada orang banyak … [HR Muslim].
Dalam fatwa Muhammadiyah tentang wasiat, terbit di Suara Muhammadiyah
No. 83/1998, dijelaskan bahwa wasiat bisa lebih dari sepertiga apabila telah melalui
kesepakatan seluruh ahli waris. Bagian wasiat ini juga baru bisa ditunaikan setelah
diselesaikannya seluruh biaya yang berkaitan dengan penyelenggaraan jenazah.18
3. Hak Perlindungan
a. Hak Mendapatkan Perlakuan yang Adil
Perlakuan adil, baik dari ayah maupun ibu, kepada anak merupakan sikap
yang sangat penting yang perlu diterapkan, karena ketidakadilan terhadap anak
berpengaruh pada buruknya pertumbuhan anak-anak. Perlakuan adil ini meliputi
hal-hal yang bersifat materiil, misalnya pembagian nafkah dan non materiil seperti
kasih sayang dan perhatian. Al-Bukhārī meriwayatkan sabda Rasulullah berikut
dalam salah satu judul bab kitab Shahīhnya,
ﻗَﺎل َ اﻨﻟَّﻲﺒ ُِّ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢَ: اِﻋْﺪِلُﻮا �َ� َْ أَوْﻻَد�ُِﻢ ْ ﻲﻓ ِ اﻟﻌَﻄِﻴَّﺔِ.
Nabi saw. bersabda: Berlaku adillah dalam pemberianmu kepada anak-anakmu
[HR al-Bukhārī].
Al-Bukhārī juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah membeli
seekor unta dari Umar dan memberikannya kepada anak Umar sendiri, yakni Ibn
Umar, beliau saw. lalu bersabda, “Pakailah unta ini sesukamu”.
Sikap tidak adil dan pilih kasih dapat menimbulkan kecurigaan sebagian
anak-anak sehingga muncul rasa iri dan dengki. Bahkan ketika orangtua sudah
berusaha berbuat adil sekalipun, kadang-kadang dalam diri anak muncul perasaan
diperlakukan tidak adil. Hal ini tergambar dalam kisah Nabi Yaqub yang dicurigai
tidak adil oleh anak-anaknya sehingga mereka tega membuang saudara mereka
sendiri yang dianggap lebih diutamakan itu, yakni Nabi Yusuf,َْ
إِذ ْ ﻗَﺎلُﻮا ﻴﻟَُﻮﺳُﻒ ُ وَأَﺧُﻮه ُ أَﺣَﺐ ُّ إِﻰﻟ َ أَﺑِيﻨَﺎ ﻣِﻨَّﺎ و�ََ ﻦ ُ ﻋُﺼْﺒَﺔ ٌ إِن َّ أَﺑَﺎﻧَﺎ ﻟَﻲﻔ ِ ﺿَﻼَل ٍ ﻣُﺒ�ِ ٍ . ا�ْﺘُﻠُﻮا
ْ ﻳُﻮﺳُﻒ َ أَو ِ اﻃْﺮَﺣُﻮه ُ أَرْﺿًﺎ �َْﻞ ُ ﻟ�َُﻢ ْ وَﺟْﻪ ُ أ�َِﻴ�ُﻢ ْ وَﺗ�َُﻮﻧُﻮا ﻣِﻦ ْ �َﻌْﺪِه ِ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﺻَﺎﺤﻟ�ِِ َ . ﻗَﺎل
ْ ﻗَﺎﺋِﻞ ٌ ﻣِﻨْﻬُﻢ ْ ﻻ َ �َﻘْﺘُﻠُﻮا ﻳُﻮﺳُﻒ َ وَأَﻟْﻘُﻮه ُ ﻲﻓ ِ �َﻴَﺎﺑَﺖ ِ اﺠﻟُْﺐ ِّ ﻳَﻠﺘَﻘِﻄْﻪ ُ �َﻌْﺾ ُ الﺴَّﻴَّﺎرَة ِ إِن ْ ﻛُﻨْﺘُﻢ
ﻓَﺎﻋِﻠ�َِ.
(Yaitu) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya
(Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini)
adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam
18 Ibid.َُْ ََََِّ ََِِْْ ََِِّ َِِّ َِ ََََُِْْْ ِ َِِ ِ ََُُِ َ ََْ ًَِّ ََُّ ِ ََّ ََْ ََُْ َِِّ ََِْْ َِِٰ ِْ ََِْْ َََّ ََُُ ََّ ََُّ ِ ًَََُِّ ََِِِ َِْْ َْ َََََِْ ََََََِْْ َُِّْ َْ َْ َِّ ََْ
65NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mََِِّ ِ ََُِْْ ََْ ُِِْ ََََّ ََِْ ُ ََّ َُِّّ ََََْ َِّ ََِ َِ ََُّ ََُُ َُُُ َُ ِْ ٍُُُِْ ٍََ َِ َََ َِّ ٌَُْ ُ ََََِِ ًَْ َِِْ ِْ ََُُ َُِْ َُْ َُْ َُْ ًَْ َُُْ َِ َُُ َْ ُِّْ َََِ ِ ََُُْ َُُ َُُْ َ ُِْْ ٌَِ ُُْْ ِْ َََِّّ َُْ َََُِِِْ
kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang
tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu
hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Seorang di antara mereka
berkata: Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur
supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat [QS
Yūsuf (12): 8-10].
b. Hak Merasa Aman
Sebaik-baik ajaran dalam Islam tentang pemberian rasa aman atas anak-anak
adalah larangan Rasulullah saat mengutus pasukan perang untuk tidak membunuh
wanita, anak-anak, orangtua dan orang-orang lemah yang lain. Bahkan jika
dicermati, perintah untuk berjihad salah satunya adalah untuk melindungi anak-
anak,ْ
َوَﻣَﺎ ﻟ�َُﻢﻻ َ �ُﻘَﺎﺗِﻠُﻮن َ ﻲﻓ ِ ﺳَبِﻴﻞ ِ اﷲ ِ وَالْﻤُﺴْﺘَﻀْﻌَﻔ�ِ َ ﻣِﻦ َ الﺮِّﺟَﺎل ِ وَاﻟنِّﺴَﺎء ِ وَالْﻮِﺪﻟَْان ِ اﺬﻟَِّﻳﻦ
�َﻘُﻮلُﻮن َ ر�ََّﻨَﺎ أَﺧْﺮِﺟْﻨَﺎ ﻣِﻦ ْ ﻫَٰﺬِه ِ اﻟْﻘَﺮ�َْﺔ ِ اﻟﻈَّﺎلِﻢ ِ أَﻫْﻠُﻬَﺎ وَاﺟْﻌَﻞ ﻨﻟََّﺎ ﻣِﻦ ﺪﻟَُّﻧﻚ َ وَﻴﻟًِّﺎ وَاﺟْﻌَﻞَ ﻨﻟََّﺎ
ﻣِﻦ ﺪﻟَُّﻧﻚﻧَﺼ�ًِا .
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang
yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya
berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim
penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami
penolong dari sisi Engkau! [QS an-Nisā’ (4): 85].
Rasulullah memberikan ancaman yang cukup keras kepada mereka yang
tidak berlaku kasih sayang kepada anak-anak, sehingga mereka merasa tidak aman.
Dalam sebuah hadis, beliau mengancam orang-orang tersebut bahwa mereka tidak
layak disebut pengikut Rasulullah saw.;ُ
ﻟَيْﺲ َ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦ ْ لَﻢ ْ ﻳُﻮَﻗِّﺮ ْ ﻛَﺒ�َِﻧَﺎ ، و�ََﺮْﺣَﻢ ْ ﺻَﻐ�َِﻧَﺎ ، وَﻣَﻦ ْ لَﻢ ْ �َﻌْﺮِف ْ ﻟِﻌَﺎلِﻤِﻨَﺎ ﺣَﻘَّﻪ.
Bukan bagian dari kami, barangsiapa yang tidak menghormati yang tua,
menyayangi anak kecil dan mengetahui posisi kaum terdidik [HR at-Tirmiżī].
c. Hadanah
Bahwa setiap anak sejak lahir berhak mendapatkan perlindungan untuk
dibesarkan mulai dari disusui, dipelihara, dirawat, dididik, diarahkan dan dibimbing
kehidupannya oleh orangtuanya sampai dewasa serta mampu mandiri sesuai
ketentuan hukum yang berlaku dan dengan cara yang terbaik.
Dalam Islam sejak lahir anak memiliki banyak hak yang harus dipenuhi oleh
orangtuanya. Saat baru keluar dari rahim ibunya dia berhak untuk mendapat doa
yang baik, disyukuri kehadirannya dengan akikah, diberi nama yang baik dan
mendapat nutrisi paling penting untuk pertumbuhannya yaitu ASI serta mendapat
pengasuhan dan pendidikan yang baik sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat
dan hadis berikut,َ
ِ �َﻦ ْ أَﻲﺑ ِْ مُﻮْﻰﺳ َ رَﻲﺿ َِ اﷲ ُ �َﻨْﻪ ُ ﻗَﺎلَ: وُﺪﻟَِﻲﻟ ِْ ﻏُﻼَم ٌ ﻓَﺄ�ََﻴْﺖ ُ ﺑِﻪ ِ اﻨﻟَّﻲﺒ َِّ ﺻَـ� َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴـﻪ ِ وَﺳَـﻠَّﻢ
ﻓَﺴَﻤَّﺎه ُ إِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢ َ ﻓَﺤَﻨَّﻜَﻪ ُ ﺑِﺘَﻤْﺮَة ٍ وَدَﺎﻋَﻪﻟ َُ ﺑِﺎﻟْﺮﺒ�َََﺔ.
Dari Abū Musa ra [diriwayatkan] ia berkata: Telah lahir anakku, kemudian aku
bawa kepada Nabi saw., maka diberinya nama Ibrahim lalu diusap langit-langit
mulutnya dengan kurma dan didoakan dengan barakah [HR al-Bukhārī].َ
َّ ﻋَﻦ ِ اﺑْﻦ ِ ﻋَﺒﺎَّس ٍ رَﻲﺿ َِ اﷲ ُ �َﻨْﻬُﻤَﺎ ﻗَﺎلَ: ﺎﻛَن َ اﻨﻟَّْﻲﺒ ُِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ �ُﻌَﻮِّذ ُ اﺤﻟَﺴَﻦ
ِ وَاﺤﻟُْﺴ�َ َْ و�ََﻘﻮْل َ :إِن َّ أَﺑَﺎﻛُﻤﺎ َ ﺎﻛَن َ �ُﻌَﻮِّذُﺑِﻬﺎ َ إِﺳْﻤَﺎ�ِﻴْﻞ َ و�َِﺳْﺤَﺎق َ أَﻋُﻮْذ ُ ﺑ�َِﻠِﻤﺎَت ِ اﷲ ِ اﺘﻟَّﺎﻣﺔ ُِّ
ﻣِﻦ ْ ﻞﻛﺷَﻴْﻄَﺎن ٍ وَﻫﺎَﻣَّﺔ ٍ وَﻣِﻦ ْ ﻞﻛ ُِّ �َ� ٍْ ﻻَﻣَّﺔٍ.
Dari Ibn ‘Abbas r.a. [diriwayatkan] ia berkata: Adalah Nabi saw. memohonkan
perlindungan kepada Hasan dan Husain seraya bersabda: Sesungguhnya Nabi
Ibrahim memohonkan perlindungan bagi Ismail dan Ishaq. Aku berlindung dengan
Firman Allah yang sempurna dari segala godaan setan, gangguan dari jenis
binatang dan serangga yang mematikan dan penggoda yang jahat [HR al-Bukhārī].َ
ّٰ ﻗﺎَل َ رَﺳُﻮْل ُ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢَ: ﻞﻛ ُُّ ﻏُﻼَم ٍ مُﺮ�َْﻬَﻦ ٌ ﺑِﻌُ ﻘِﻴْﻘَﺘِﻪ ِ ﺗُﺬْﺑَﺢ ُ ﻳَﻮْم َ ﺳﺎَﺑِﻌِﻪ ِ و�َُﺴ�َ
�ِﻴْﻪ ِ و�َُْﻠَﻖ ُ رَأْﺳُﻪ.
Rasulullah saw. bersabda: Tiap-tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang
disembelih sebagai tebusan pada hari ketujuhnya dan diberi nama pada hari itu
serta dicukur rambut kepalanya [HR Lima Ahli Hadis dan disahihkan oleh at-
Tirmiżī].ِ
�َﻦ ْ أُم ِّ ﻛُﺮْز ٍ اﻟْﻜَﻌْﺒِﻴَّﺔ ِ ﻗَﺎﻟَﺖ ْ ﺳَﻤِﻌْﺖ ُ رَﺳُﻮل َ اﷲ ِ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ �َﻘُﻮلُ: ﻋَـﻦ ِ اﻟْﻐُـﻼَم
ﺷَﺎﺗَﺎن ِ ﻣُﺎﻜَﻓِﺌَﺘَﺎن ِ وَﻋَﻦ ِ اﺠﻟَْﺎر�َِﺔ ِ ﺷَﺎة.
Dari Umi Kurzin al-Ka’biyah r.a. [diriwayatkan] ia berkata: Aku mendengar
Rasulullah saw. bersabda: Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama
besar dan untuk anak perempuan seekor kambing [HR Abū Dāwūd].
ِ ﻋَﻦ ِ اﺑْﻦ ِ ﻋَﺒﺎَّس ٍ رﻲﺿ اﷲ ﻋﻨﻬﻤـﺎ اَن َّ اﻨﻟَّـﻲﺒ َِّ ﺻـ� اﷲ ﻋﻠﻴـﻪ وﺳـﻠﻢ �َـﻖ َّ ﻋَـﻦ ِ اﺤﻟَْﺴَـﻦ
وَاﺤﻟُْﺴ�َ ِْ ﻛَبْﺸًﺎ ﻛَبْﺸًﺎ.
Dari Ibn ‘Abbas r.a. [diriwayatkan] bahwa Nabi saw. mengakikahi Hasan dan
Husain masing-masing seekor kibas [HR al-Baihaqī].ِْ
َُ وَالْﻮَاﺪﻟَِات ُ ﻳُﺮْﺿِﻌْﻦ َ أَوْﻻَدَﻫُﻦ َّ ﺣَﻮْﻟ�َ ِْ ﺎﻛَمِﻠ�َلِﻤَﻦ ْ أَرَاد َ أَن ْ ﻳُـﺘِﻢ َّ الﺮَّﺿَـﺎﻋَﺔ َ وَﻰﻠﻋ ََ الْﻤَﻮْلُـﻮد ِ ﻪﻟ ََ َََِِ ٌََِ ََُّ َ ََُْ َِّ ٌَْ ََُُّ َ َُِِْْ َََُُِّْ َُُِّْ َ َِْ ََِ ُِْ َِِْ َََ ََِِِ َُ ٌَُْ ََ ٍَََُ َُِْ ٍََ َْ ًَِ ََ َ ََُّْْ َِ ََُْْ ََُ ََ َََُْْ ََُِْْ َْ ََُْْ َِْ َََِْ ََُ ََْ َِ َ ََّ ََُْ َ ََُّ َُِِْْ ٌَََُِْْ َََََُُُِِِْ َُِِْ ِْ َََِِّ ُِْ ََََََُْٰ َُُ ِ َِِْ ِ ُ ٌَُُِِِْ ٌَِ َُ
67NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mََََّ ََِ ُ ََّ ََِّّ ِِ َََُْ ٌَُ َُِِْ ََ َُْ ُ ََِ َُْ َِْ َْ َََِِْ ََََُ ٍََِْ ََََُّ ََِِْْ ََََََُّ َُُِّ ََََّ ََِْ ُ ََّ َُِّْ ََ ََ ََُْ ُ ََِ ٍََّ ِْ َِ ََّّ ِ ََِِِ َُُْ َََِْ ََِِْْ ََُُِِّ ََ َََُ َِّ َََْ َََُْْ ِ ُِّ ٍََِّْ ٍَْ ُِّ َِْ ٍَََّ ٍَََِْ ٌََُْ ٍَُ ُُّ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ َُُْ ََ ََُّٰ َِِِ ََْ َُُْ َِِِْ َُُْ ََُُْ َُِِِْْ َِ َُُ ََََّ ََِْ ُ ََّ ِ ََُ َُِْ ََْ ََِِّْْ ٍُْ ُِّ َْ َ ََِِْ ََِ َََُِِ ََََِِّّ ٍََََّّ ِْ َِ ََِْ َِ ًَََّْ ًَْ ََََُِِِْْْ ََِْْ ََََُّْ َُِْْ َََُِْ َُ َُِْْ َََ ََََّ َُِّ َْ َََ َِْ َ
َ رِز�ُْﻬُﻦ َّ و�َِﺴْﻮ�َُﻬُﻦ َّ ﺑِﺎلْﻤَﻌْﺮُوف ِ ﻻ َ ﺗ�َُﻠَّﻒ ُ �َﻔْـﺲ ٌ إِﻻ َّ وُﺳْـﻌَﻬَﺎ ﻻ َ ﺗُﻀَـﺎر َّ وَاﺪﻟَِة ٌ ﺑِﻮَﺪﻟَِﻫَـﺎ وَﻻ
َ مَﻮْلُﻮد ٌ ﻪﻟ َُ ﺑِﻮَﺪﻟَِه ِ وَﻰﻠﻋ ََ الْﻮَارِث ِ ﻣِﺜْﻞ ُ ذَلِﻚ َ ﻓَﺈِن ْ أرَادَا ﻓِﺼَﺎﻻ ً �َﻦ ْ ﺗَﺮَاض ٍ ﻣِﻨْﻬُﻤَـﺎ و�ََﺸَـﺎوُر ٍ ﻓَـﻼ
َ ﺟُﻨَﺎح َ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ و�َِن ْ أَرَد�ُْﻢ ْ أَن ْ �َﺴْﺮﺘَْﺿِﻌُﻮا أَوْﻻَد�َُﻢ ْ ﻓَﻼ َ ﺟُﻨَﺎح َ ﻋَﻠَـﻴ�ُْﻢ ْ إِذَا ﺳَـﻠَّﻤْﺘُﻢ ْ ﻣَـﺎ
آَﺗَيْﺘُﻢ ْ ﺑِﺎلْﻤَﻌْﺮُوف ِ وَا�َّﻘُﻮا اﷲ َ وَاﻋْﻠَﻤُﻮا أَن َّ اﷲ َ ﺑِﻤَﺎ �َﻌْﻤﻠُﻮن َ ﺑَﺼ�ٌِ.
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi
yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan
pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan
menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan
karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban
demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika
kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu
apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu
kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
[QS al-Baqarah (2): 233].
Kewajiban untuk pemenuhan atas hak anak di atas baik dalam hal
perlindungan untuk tumbuh dan berkembang mulai dari menyusui dan mengasuh
serta membesarkan adalah menjadi tanggungjawab dari kedua orangtua anak
tersebut, namun demikian dalam hal orangtua karena suatu sebab tertentu terjadi
perceraian dan maka jika masih dalam masa anak-anak menjadi lebih dekat untuk
diasuh oleh ibu kandungnya manakala ibunya tidak terdapat hambatan dalam
melaksanakannya. Namun ketika sudah mendekati kedewasaan, maka dalam
pembentukan karakter cenderung lebih tepat ikut terhadap ayahnya.
d. Hak Dilindungi dari Pernikahan Anak
Pernikahan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan. Hal ini
karena, pergaulan antara laki-laki dengan perempuan akan sah dan terhormat jika
telah melalui jalan pernikahan. Disebutkan secara jelas di dalam Al-Qur’an perintah
menikah,
ْوَأَﻧ�ِﺤُﻮااﻷَْﻳَﺎ� َٰ ﻣِﻨ�ُﻢ ْ وَالﺼَّﺎﺤﻟ�ِِ َ ﻣِﻦ ْ ﻋِﺒَﺎد�ُِﻢ ْ و�َِﻣَﺎﺋ�ُِﻢَِ إِن ﻳ�َُﻮﻧُﻮا �ُﻘَﺮَاء
�ُﻐْﻨِﻬِﻢ ُ اﷲ ُ ﻣِﻦ ﻓَﻀْﻠِﻪوَاﷲ ُ وَاﺳِﻊ ٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ.
Kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba
sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka
dengan karunia-Nya. [QS an-Nūr (24): 32].
Dalam Islam, tujuan pernikahan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan
biologis semata tapi juga tujuan-tujuan penting lainya, di antaranya 1) mendekatkan
diri kepada Allah agar memiliki daya tahan terhadap godaan setan; 2) sebagai saran
untuk membina kehidupan yang sejahtera lahir dan batin; dan 3) menjaga
keselamatan agama dan nilai-nilai moral bagi anak dan keturunan.
Dalam urusan pernikahan, hakikatnya semua manusia, baik laki-laki maupun
perempuan memiliki hak yang sama untuk menentukan pernikahan dan pasangan
yang ingin dinikahi. Sebab, asas demokratis menentang adanya paksaan dalam
perkawinan. Rasulullah saw. juga mengisyaratkan dengan jelas tentang hak ini.
Dalam satu kasus, Rasulullah menerima pengaduan seorang gadis yang mengaku
dipaksa menikah oleh ayahnya hanya karena ingin mengangkat derajat keluarga.
Sebagaimana dalam hadis,ِ
َّ ﻋَﻦ ِ اﺑْﻦ ِ ﺑُﺮ�َْﺪَةَ، �َﻦ ْ أ�َِﻴﻪِ، ﻗَﺎلَ: ﺟَﺎءَت ْ �َﺘَﺎة ٌ إِﻰﻟ َ اﻨﻟَّﻲﺒ ِِّ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢَ، �َﻘَﺎﻟَﺖْ: " إَ ن
ُ أَﻲﺑ ِ زَوَّﺟ�َ ِ ا�ْﻦ َ أَﺧِﻴﻪِ، ﻟ�َْ�َِﻊﻲﺑ ِ ﺧَﺴِيﺴَﺘَﻪُ، ﻗَﺎلَ: ﻓَﺠَﻌَﻞ َ اﻷَْمْﺮ َ إِﻴﻟَْﻬَﺎ، �َﻘَﺎﻟَﺖْ: ﻗَﺪ ْ أَﺟَﺰْت
ﻣَﺎ ﺻَﻨَﻊ َ أَﻲﺑِ، وَﻟ�َِﻦ ْ أَرَدْت ُ أَن ْ �َﻌْﻠَﻢ َ اﻟنِّﺴَﺎء ُ أَن ْ ﻟَيْﺲ َ إِﻰﻟ َ اﻵْﺑَﺎء ِ ﻣِﻦ َ اﻷَْمْﺮ ِ ﻲﺷَْء ٌ .
Dari anak Buraidah, dari Buraidah r.a. [diriwayatkan], ia berkata: Seorang gadis
datang kepada Rasulullah saw. lalu mengadukan ayahnya: Ayahku
mengawinkanku dengan seorang laki-laki anak saudaranya dengan tujuan
mengangkat derajat martabatnya. Rasulullah saw. menyerahkan keputusan kepada
gadis itu. Si gadis lalu berkata: Aku telah menerima apa yang dilakukan ayahku,
namun demikian telah aku tunjukkan sebagai pelajaran untuk perempuan bahwa
dalam perkara ini, ayah tidak memiliki urusan apa-apa [HR Ibn Mājah, no. 1874].
Keterangan hadis di atas dengan jelas menunjukkan bahwa Nabi
menyerahkan urusan pernikahan kepada gadis tersebut. adapun gadis tersebut, juga
telah menunjukkan maksudnya bahwa perempuan memiliki hak dalam urusan
pernikahan mereka. Dengan demikian, maka kerelaan pihak perempuan dan laki-
laki merupakan hal penting. Adanya hak pernikahan ini juga berlandaskan UU
Nomor 1 Tahun 1974, Pasal 1 ayat (1) bahwa, “Perkawinan didasarkan atas
persetujuan para pihak ini juga meliputi izin wali. Menurut hukum yang berlaku di
Indonesia”.
Namun demikian, berlakunya hak pernikahan ini mempertimbangkan juga
beberapa hal dan memiliki batasan-batasan. Adapun yang berhubungan dengan
anak, maka salah satu persoalannya adalah usia dalam pernikahan. Meskipun anak
juga memiliki hak pernikahan, namun hak tersebut belum berlaku apabila anak
belum sampai pada usia nikah. Dalam hal ini orangtua wajib untuk tidak
menikahkan anaknya meski pernikahan tersebut atas keinginan anak itu sendiri,
terlebih lagi jika itu adalah paksaan orangtuanya.
Dengan demikian, maka usia pernikahan merupakan satu pertimbangan
penting dalam hal perlindungan anak. Hal ini karena pernikahan itu sendiriَََُْ َِِْْ ََُْ ًُْ ُِْْ َُْْ َِْ ََِّ ََُ َِ ََّ َََْ ََُْ َْ َِِ ِِّ ُِْ ََِ َََََّ ََََّ ََِْ ُ ََّ ََِّّ ََّ َََِ َْ ََِ َِ َََِِ َِْ َُِْ ََْ َََّ َُُِْْ ٌَِ ََ َِِ ِِْ ُِْ
69NOMOR 03/2022–2027/SYAKBAN 1445 H/FEBRUARI 2024 Mَََِْ ََََّ ََِْ ُ ََّ َِِّّ َِ ٌََ ََْ ََ َِِ َْ َََُْ ِْ َِ َّ َََِْ َِِ َْ َََِّ َِ ََُْ َْ َََْ ََِْ ََْْ ََََ ََ َََُِ ِ ٌَْ َِْْ َِ َِْ َِ ََْ َْ َُِّ َََْ َْ ََُْ ََِْ َِ َََ َ
melahirkan banyak tanggung jawab, baik untuk suami-istri, maupun juga orangtua.
Usia pernikahan mempertimbangkan kematangan dari segi biologis, psikologis,
sosial dan ekonomi. Pentingnya kematangan usia ini juga diisyaratkan dalam
firman Allah,ُ
وَا�ْﺘَﻠُﻮا اﻴﻟَْﺘَﺎ� َ ﺣَﻰﺘ َّ إِذَا ﺑَﻠَﻐُﻮا اﻨﻟِّﺎﻜَح َ ﻓَﺈِن ْ آ�َﺴْﺘُﻢ ْ ﻣِﻨْﻬُﻢ ْ رُﺷْﺪًا ﻓَﺎد�َْﻌُﻮا إِﻴﻟَْﻬِﻢ ْ أَمْﻮَالَﻬ... ْ ﻢ
Ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika
menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka
serahkanlah kepada mereka harta-hartanya … [QS an-Nisā’ (4): 6].
Aturan pemerintah telah menentukan usia minimum bagi perempuan dan
laki-laki untuk menikah. Dalam Undang-undang Pasal 7 ayat (1) Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan disebutkan “Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria
mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai
usiah 16 (enam belas) tahun”. Dijelaskan juga dalam Pasal 6 ayat (2), “Untuk
melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh
satu) tahun harus mendapatkan izin kedua orangtua”. Pasal 1 angka 1 UU Nomor
35 Tahun 2014 tentang perlindungan Anak menjelaskan usia anak, bahwa “Anak
adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak
yang masih dalam kandungan.”
Berdasarkan sumber normatif di atas, maka umur pernikahan anak yang ideal
adalah sesudah 21 tahun dan tidak dianjurkan sebelum 18 tahun. Hal ini
sejalan dengan maqāshid asy-syarī‘ah (ḥifz an-nasl), antara lain menegaskan
tentang pentingnya memiliki kesiapan fisik, psikis, ekonomi dan sosial.
Tidak dipungkiri adanya anggapan masyarakat bahwa menikahkan anak sejak
dini justru merupakan anjuran agama karena bisa menghindarkan anak dari
perbuatan zina. Anggapan ini juga biasanya disandarkan kepada hadis,َ
َِ �َﻦ ْ ﺎﻋ�َِﺸَﺔَ، أَن َّ اﻨﻟَّﻲﺒ َِّ ﺻ�َ َّ اﷲ ُ ﻋَﻠَﻴْﻪ ِ وَﺳَﻠَّﻢ َ ﺗَﺰَوَّﺟَﻬَﺎ و�َ َِ ﺑِﻨْﺖ ُ ﺳِﺖ ِّ ﺳِن�َِ، و�َﺑِﻬَﺎ و َ �َ�
ﺑِﻨْﺖ ُ �ِﺴْﻊ ِ ﺳِن�ِ َ ﻗَﺎل َ ﻫِﺸَﺎمٌ: وَأُﻧْبِﺌْﺖ ُ �َ�َّﻬَﺎ ﺎﻛَﻧَﺖ ْ ﻋِﻨْﺪَه ُ �ِﺴْﻊ َ ﺳِن�َِ.
Dari Aisyah r.a. [diriwayatkan] bahwa Nabi saw. menikahinya ketika berumur
enam tahun dan mulai hidup bersama ketika usianya sembilan tahun [HR al-
Bukhārī, no. 5134].
Hadis yang menyatakan secara tekstual usia pernikahan ‘Aisyah di atas
kiranya perlu ditelaah secara tepat. Penelaahan hadis ini, bisa melalui beberapa
tinjauan. Ṣalāh ad-Dīn Ibn Aḥmad al-Idlībī, seorang ahli hadis kontemporer dari
Syiria mengajukan setidaknya sepuluh argumen untuk membuktikan bahwa meski
secara sanad sahih, tapi hadis tersebut memiliki problem dari segi kandungannya
(matan) karena tidak sesuai dengan berbagai fakta historis meyakinkan yang
disebutkan di dalam hadis-hadis sahih lainnya. Ia menyimpulkan hadis ini syāż
sebab mengandung suatu kekeliruan (wahm). Sebagai contoh, Imam Bukhārī
meriwayatkan ‘Aisyah berkata bahwa ayat ke-46 surah al-Qamar diturunkan ketika
ia masih berstatus jāriyyah sedangkan surah al-Baqarah dan an-Nisā diturunkan
ketika ia telah bersama Rasulullah saw. Ayat tersebut turun pada tahun ke-8
kenabian. Jika memang Aisyah menikah dengan Rasulullah pada usia enam tahun,
maka ayat tersebut turun ketika beliau masih berusia empat tahun. Padahal, anak
perempuan berusia empat tahun tidak disebut jāriyah dalam bahasa Arab.
Sedangkan jika kita mengikuti pendapat bahwa usia beliau ketika menikahi Nabi
adalah 14 tahun, dan hidup serumah menjelang usia 18 tahun, maka riwayat
tersebut menjadi lebih jelas: gadis usia 14 tahun memang disebut jāriyah.19 Selain
argumen ini, beliau juga menjelaskan sembilan alasan lainnya yang diambil dari
riwayat-riwayat hadis sahih.20
Kesimpulan kajian hadis al-Idlībī di atas juga lebih sesuai dengan hasil yang
ditemui dari tinjauan historis. Ath-Ṭabarī menjelaskan bahwa empat anak Abū
Bakar, termasuk ‘Aisyah dilahirkan pada masa jahiliyah, artinya sebelum tahun 610
M. Jika ‘Aisyah dinikahkan saat usia 6 tahun, maka ia lahir pada tahun 613. Hal ini
tentu bertentangan dengan keterangan Ath-Thabarī di atas yang menyebutkan
kelahiran ‘Aisyah tahun 610 M.21 Selanjutnya, jika ‘Aisyah dinikahkan sebelum
tahun 620 M, itu berarti ‘Aisyah tidak mungkin menikah di bawah umur 10 tahun
dan dengan demikian seharusnya hidup sebagai istri serumah dengan Nabi saw.
pada usia di atas 13 tahun. Lebih dari itu, untuk mengetahui usia tepat ‘Aisyah saat
hidup bersama Nabi saw. bisa dibandingkan dengan usia Asma binti Abū Bakar.
Kakak perempuan ‘Aisyah ini lebih tua 10 tahun dibanding ‘Aisyah menurut
Abdrurahman bin Abi Zinad.22 Adapun Asma, hidup hingga 100 tahun dan
meninggal pada tahun 73 atau 74 Hijriyah menurut keterangan Abū Nu’aym dalam
Maʿrifat aṣ-Ṣaḥābah.23 Hal ini berarti, saat hijrah usia Asma sekitar 27 atau 28.
Jika dibandingkan dengan umur Asma, maka diketahui bahwa usia Aisyah saat
bersama Rasulullah adalah antara 17 dan 18 tahun.
19 Al-Idlibī, “Ḥadīṡ Miqdār ‘Umr as-Sayyidah ‘Āisyata Yaum Az-Zawāj,” 2015,
https://idlbi.net/marriageage/.
20 Untuk ulasan dan terjemahan Inggris argumen al-Idlibi, silakan rujuk Arnold Yasin Mol, Aisha
(Ra): The Case for an Older Age in Sunni Hadith Scholarship (Irving: Yaqeen Institute for Islamic Research,
2020), 2–13.
21 Muḥammad Ibn Jarīr aṭ-Ṭabārī, Tārīkh ar-Rusul Wa al-Mulūk (Kairo: Dār al-M’ārif bi Miṣr, 1967),
vol. III/426.
22 Ibn al-ʿAsākir, Tārīkh Madinat Dimashq, LXIX (Dār al-Fikr al-Ṭabā‘h wa al-Nashr wa al-Tawziya,
1995), 8.
23 Abū Nuʿaim Al-Iṣbahānī, Maʿrifat aṣ-Ṣaḥābah, VI (Riyad, Saudi Arabia: Dār al-Waṭan li-lNushr,
1998), 3253.

