putusan
Keputusan Tarjih Ke 26 Bab III Pengembangan Himpunan Putusan Tarjih
BAB III
PENGEMBANGAN HIMPUNAN PUTUSAN TARJIH
A. PENGOBATAN ALTERNATIF
Sidang Pleno Musyawarah Nasional Tarjih Ke-26 menerima dan mengesahkan
hasil Sidang Komisi III (Pengembangan Himpunan Putusan Tarjih) dengan beberapa
catatan sebagai berikut:
- Salah satu persoalan tentang pengobatan alternatif ini adalah tentang definisi
yang disepakati kemudian dengan tindakan pengobatan yang dilakukan selain
medis, tradisional dan doa. - Ketentuan pengobatan alternatif yang dapat diterima adalah:
a. Pengobat/ pelaku:
- Ahli,
- Tidak merusak atau membahayakan akidah,
- Berakhlak mulia
b. Obat/alat pengobatan: - bukan barang haram atau bukan sesuatu yang bertentangan dengan
syariat Islam - tidak mengandung unsur yang membahayakan
c. Cara/teknik pengobatan:
a) Tidak mengandung syirik, bid’ah dan khurafat
b) Tidak berbahaya ataupun membahayakan
c) Tidak menggunakan unsur jin atau makhluk halus lainnya
PENGOBATAN ALTERNATIF
DALAM PERSPEKTIF ISLAM
- Pengertian Umum
Dengan pengobatan alternatif dimaksudkan “suatu tindakan pengobatan yang
dilakukan bukan melalui tindakan medis, tradisional dan atau doa.” Medis dalam
istilah ini adalah kegiatan yang dilandaskan pada ilmu kedokteran. Sebagai contoh
pengobatan alternatif adalah pengobatan dengan menggunakan tenaga dalam. - Prinsip-Prinsip Umum Pengobatan Dalam Islam
a. Wajib Memelihara Kesehatan
Ajaran Islam mewajibkan setiap orang Muslim berupaya memelihara
kesehatannya. Berikut ayat dan hadis yang memberikan isyarat kepada hal tersebut:
a. ِ وَال َ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُم ْ إِل َ اتلَّهْلُكَة “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri
ke dalam kebinasaan, …” [QS al-Baqarah (2): 195].
Mengabaikan kesehatan dengan sengaja kiranya tidak berlebihan bila
dipandang sebagai salah satu bentuk menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.
b. وَكُُوا وَاشَْبُوا وَال َ تُسِْفُوا“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-
lebihan…” [QS al-A‘rāf (7): 31].
Mempertahankan pola makan secara seimbang dan tidak berlebihan
merupakan salah satu upaya menjaga kesehatan.
c. وَكُُوا مِمَّا رَزَقَكُم ُ اهلل ُ حَالَال ً طَيِّبًا “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari
apa yang Allah telah rezkikan kepadamu…” [QS al-Maidah (5): 88].
Makan makanan yang halal dan baik juga merupakan upaya memelihara
kesehatan fisik dan rohani.
d. Hadis ‘Abdullāh Ibn ‘Amr, َ
عَن ْ عَبْد ِ الل َِّ بْن ِ عَمْرِو بْن ِ الْعَاص ِ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َِّ
يَا عَبْد َ الل َِّ أَلَم ْ أُخْب َْ أَنَّك َ تَصُوم ُ انلَّهَار َ وَتَقُوم ُ اللَّيْل َ قُلْت ُ بَل َ يَا رَسُول َ الل َ
قَال َ فَال َ تَفْعَل ْ صُم ْ وَأَفْطِر ْ وَقُم ْ وَنَم ْ فَإِن َّ لَِسَدِك َ عَلَيْك َ حَق ًّا ِإَون َّ لِعَيْنِك
.]رواه ابلخاري[ عَلَيْك َ حَق ًّا ِإَون َّ لِزَوْجِك َ عَلَيْك َ حَقًّا
Dari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin al-’Āṣ [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah
saw telah bersabda: Wahai ‘Abdullāh bukankah aku pernah diberitahu bahwa
kamu senantiasa puasa di siang hari dan bangun (beribadah) di malam hari?
Aku (‘Abdullāh) menjawab: Benar, wahai Rasulullah. Beliau berkata: Jangan
lakukan demikian, puasalah dan juga berbukalah, bangunlah (beribadahlah di
malam hari) dan juga tidurlah karena tubuhmu memiliki hak terhadapmu yang
harus kamu penuhi, matamu juga memiliki hak hak terhadapmu yang harus kamu
penuhi, demikian pula istrimu juga mempunyai hak hak terhadapmu yang harus
kamu penuhi [HR al-Bukhārī].
e. Penularan penyakit merupakan salah satu sistem yang telah ditetapkan Allah,
karenanya pula manusia disarankan untuk menghindari, menjaga diri dari
ketertularan tersebut. ِ
قَال َ أَبُو سَلَمَة َ بْن ُ عَبْد ِ الرَّحَْن ِ سَمِعْت ُ أَبَا هُرَيْرَة َ عَن ْ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه
.]ابلخارى[ ... ِّ وَسَلَّم َ قَال َ ال َ تُورِدُوا الْمُمْرِض َ ع ََ الْمُصِح
Abū Salamah bin ‘Abd ar-Rahman berkata: Aku mendengar Abū Hurairah (yang
meriwayatkan) dari Nabi saw (bahwa beliau bersabda): Janganlah orang yang
memiliki sakit mendatangi yang sehat. ... [HR al-Bukhārī].
Maksud “tiada penularan” adalah bahwa penyakit itu tiada menular dengan
sendirinya melainkan melalui sunnah-Nya.
b. Wajib Berobat dalam Rangka Memelihara Kesehatan
Sebagai kelanjutan dari kewajiban memelihara kesehatan dan larangan
menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan seperti dikemukakan di atas, maka wajib
pula atas setiap insan mukmin untuk berobat apabila ia menderita sakit. Hal ini
dikuatkan pula oleh hadis,
عَن ْ أُسَامَة َ بْن ِ شَِيك ٍ قَال َ قَالَت ِ اْألَعْرَاب ُ يَا رَسُول َ الل َِّ أَال َ نَتَدَاوَى قَال َ نَعَم ْ يَا
قَال َ أَبُو[ ... ً عِبَاد َ الل َِّ تَدَاوَوْا فَإِن َّ الل ََّ لَم ْ يَضَع ْ دَاء ً إِال َّ وَضَع َ ل َُ شِفَاء ً أَو ْ قَال َ دَوَاء
.]ٌوَهَذَا حَدِيْث ٌ حَسَن ٌ صَحِيْح ... َ عِيس
Dari Usāmah Ibn Syarīk [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Beberapa orang Arab
pedalaman bertanya: Wahai Rasulullah, haruskan kami berobat? Rasulullah menjawab:
Ya. Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah, sesungguhnya Allah tidak membuat penyakit
melainkan membuat pula penyembuh untuknya [atau ia mengatakan: obat] … … … [Abū
Īsā (at-Tirmiżī, perawi hadis): … dan ini adalah hadis hasan sahih]. َ
َّاءلَّرْدَاء ِ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ إِن َّ الل ََّ أَنْزَل َ العَن ْ أَب ِْ ا
.]رواه أبو داود[ ٍ َّوَاء َ وَجَعَل َ لِك ُِّ دَاء ٍ دَوَاء ً فَتَدَاوَوْا وَال َ تَدَاوَوْا بَِرَاملوَا
Dari Abū ad-Dardā’ [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda:
Sesungguhnya Allah mwenurunkan penyakit dan obatnya, dan memberikan obat untuk
tiap-tiap penyakit. Oleh karena itu berobatlah kamu, tetapi jangan berobat dengan yang
haram [HR Ab ū Dāwū d].
c. Mengupayakan pengobatan dan otoritas penyembuh adalah Allah
Dengan segala upaya, orang wajib memelihara kesehatan dan melakukan pengobatan,
namun demikian Allah pula yang menentukan segala sesuatunya. Hal ini tidak lain agar
manusia pandai mensyukuri saat sehat dan agar tabah saat terkena mushibah, dan ini
sekaligus di dalamnya terkandung pelajaran baginya dan bagi orang lain.
Allah berfirman, ْ
مَا أَصَاب َ مِن ْ مُصِيبَة ٍ ف ِ األَرْض ِ وَال َ ف ِ أَنْفُسِكُم ْ إِال َّ ف ِ كِتَاب ٍ مِن ْ قَبْل ِ أَن
نَبَْأَهَا إِن َّ ذَلِك َ ع ََ الل َِّ يَسِي ٌْ 22 لِك َْ ال َ تَأْسَوْا ع ََ مَا فَاتَكُم ْ وَال َ تَفْرَحُوا بِمَا
ءَاتَاكُم ْ وَالل َُّ ال َ يُِب ُّ ك َُّ مُْتَال ٍ فَخُوْر ٍ 23
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang
demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu,
dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri [QS
al-Ḥadīd (57): 22-23].
.ِْ ِإَوذَا مَرِضْت ُ فَهُو َ يَشْفِي
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku [QS asy-Syu‘arā’ (26): 80].َ
وَال َ تَيْئَسُوا مِن ْ رَوْح ِ الل َِّ إِنَّه ُ ال َ يَيْئَس ُ مِن ْ رَوْح ِ الل َِّ إِال َّ الْقَوْم ُ الْكَفِرُوْن …
…Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus
asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir [QS Yūsuf (12): 87].
عَن ْ أَب ِْ خُزَامَة َ عَن ْ أَبِيْه ِ قَال َ سَأَلْت ُ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقُلْت ُ يَا ِ
َْقِيْهَا وَدَوَاء ً نَتَدَاوَى بِه ِ وَتُقَاة ً نَتَّقِيهَا هَل ْ تَرُد ُّ مِن ْ قَدَررترَسُول َ الل َِّ أَرَأَيْت َ رُق ً نَسْ ٌ
قَال َ أَبُو عِيس َ هَذَا حَدِيْث ٌ حَسَن ٌ صَحِيْح . َِّ الل َِّ شَيْئًا قَال َ ه َِ مِن ْ قَدَر ِ الل
.]الرتمذى[
Dari Abū Khuzaimah, dari ayahnya [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Aku bertanya
kepada Rasulullah saw, kataku: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang rukiah
yang kami gunakan sebagai obat, dan obat-obatan yang kami gunakan sebagai
penyembuh penyakit dan penangkal yang kami gunakan sebagai pemelihara badan,
apakah berarti kami menolak takdir Allah? (Nabi) menjawab: Hal itu adalah takdir
Allah [Abū ‘Īsā (at-Tirmiżī) mengatakan: Ini hadis hasan sahih (HR at-Tirmiżī)].
d. Pengobatan dilakukan berdasarkan keahlian
Dalam Islam, setiap pekerjaan termasuk pengobatan, harus dilakukan berdasarkan
pengetahuan dan keahlian agar tidak menimbulkan ekses negatif. Allah berfirman, ُ
َْص ََ وَالْفُؤَاد َ ك ُُّ أُولَئِك َ كَن َ عَنْهبلوَال َ تَقْف ُ مَا لَيْس َ لَك َ بِه ِ عِلْم ٌ إِن َّ السَّمْع َ وَا
.ً مَسْئُوْال
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya [QS al-Isrā’ (17): 36].
Nabi saw bersabda, ِ
عَن ْ عَمْرِو بْن ِ شُعَيْب ٍ عَن ْ أَبِيْه ِ عَن ْ جَدِّه ِ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه
رواه النسايئ وأبو[ ٌ وَسَلَّم َ مَن ْ تَطَبَّب َ وَلَم ْ يُعْلَم ْ مِنْه ُ طِب ٌّ قَبْل َ ذَلِك َ فَهُو َ ضَامِن
. ]داود وابن ماجه
Dari ‘Amr Ibn Syu‘aib, dari ayahnya (Syu‘aib), dari kakeknya (Abū Muḥammad)
[diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Barang siapa
melakukan pengobatan padahal sebelumnya ia tidak dikenal ahli dalam pengobatan,
maka ia bertanggung gugat [HR an-Nasā’ī, Abū Dāwūd dan Ibn Mājah].
.َ ِّكْر ِ إِن ْ كُنْتُم ْ ال َ تَعْلَمُوْنلفَاسْأَلُوا أَهْل َ ا …
…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui. [QS al-Nahl (16): 43]
e. Pengobatan tidak boleh menimbulkan bahaya (aḍ-ḍarar)
Nabi saw bersabda, َ
عَن ْ عَمْرِو بْن ِ يَْي َ الْمَازِن ِِّ عَن ْ أَبِيْه ِ أَن َّ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ ال
. ]دحرواه مالك و ابن ماجه وأ[ َ ضََر َ وَال َ ضَِار
Dari ‘Amr Ibn Yaḥyā al-Māzinī, dari ayahnya (Yaḥyā) [diriwayatkan] bahwa
Rasulullah saw bersabda: Tidak boleh membuat kemudaratan dan membalas
kemudaratan [HR Mālik, Ibn Mājah, dan Aḥmad].
f. Pengobatan tidak boleh mengandung unsur syirik dan permintaan kepada
selain Allah ْ
وَيَوْم َ يَْشُُهُم ْ جَِيعًا يَامَعْش ََ الِْن ِّ قَد ِ اسْتَكْثَْتُم ْ مِن َ اْإلِنْس ِ وَقَال َ أَوْلَِاؤُهُم ُ
ََا قَال َ انلَّارنل َ مِن َ اْإلِنْس ِ رَبَّنَا اسْتَمْتَع َ بَعْضُنَا بِبَعْض ٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَِّي أَجَّلْت ِّ
مَثْوَاكُم ْ خَالِِيْن َ فِيْهَا إِال َّ مَا شَاء َ الل َُّ إِن َّ رَبَّك َ حَكِيْم ٌ عَلِيْم ٌ 128 وَكَذَلِك َ نُوَل
بَعْض َ الظَّالِمِي َْ بَعْضًا بِمَا كَنُوا يَكْسِبُوْن َ 129
Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan
Allah berfirman): “Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak
(menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan
manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat
kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang
telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam
kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”.
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah
Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian
yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan [QS al-An‘ām (6): 128-129].
.وَأَنَّه ُ كَن َ رِجَال ٌ مِن َ اْإلِنْس ِ يَعُوذُوْن َ بِرِجَال ٍ مِن َ الِْن ِّ فَزَادُوهُم ْ رَهَقًا
Dan bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan [QS al-Jinn (72): 6]. َِّ
عَن ْ عَوْف ِ بْن ِ مَالِك ٍ اْألَشْجَع ِِّ قَال َ كُنَّا نَرْق ِ ف ِ الَْاهِلِيَّة ِ فَقُلْنَا يَا رَسُول َ الل ِ
كَيْف َ تَرَى ف ِ ذَلِك َ فَقَال َ اعْرِضُوا ع َََّ رُقَاكُم ْ ال َ بَأْس َ بِالرُّق َ مَا لَم ْ يَكُن ْ فِيْه
.]رواه مسلم[ ٌ شِْك
Dari ‘Auf bin Mālik al-Asyja’ī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Di masa Jahiliah
kami biasa menggunakan rukiah, maka kami pun bertanya, wahai Rasulullah,
bagaimana pendapatmu tentang hal itu, kemudian (Nabi) menjawab: Tunjukkanlah
kepadaku rukiah kalian, tidak apa-apa menggunakan rukiah selama tidak ada unsur
syirik di dalamnya [HR Muslim].
3. Penggunaan Rukiah Pada Zaman Nabi saw
Terdapat beberapa riwayat dalam hadis Nabi saw tentang usaha beliau
memelihara kesehatan dan melakukan pengobatan dengan menggunakan rukiah.
Di antaranya adalah,
a. Nabi memelihara diri dari gangguan penyakit setiap kali hendak tidur, demikian
pula saat orang sakit beliau juga memohon dengan rukiah sebagaimana yang
diajarkan Jibril kepadanya. Hal ini dapat dipahami dari hadis-hadis berikut: ٍ
عَن ْ عَئِشَة َ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ إِذَا أَوَى إِل َ فِرَاشِه ِ ك َُّ لَْلَة ِ
جََع َ كَفَّيْه ِ ثُم َّ نَفَث َ فِيْهِمَا فَقَرَأ َ فِيْهِمَا قُل ْ هُو َ الل َُّ أَحَد ٌ و َ قُل ْ أَعُوذ ُ بِرَب ِّ الْفَلَق
و َ قُل ْ أَعُوذ ُ بِرَب ِّ انلَّاس ِ ثُم َّ يَمْسَح ُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاع َ مِن ْ جَسَدِه ِ يَبْدَأ ُ بِهِمَا
.]ابلخارى[ ٍ َث َ مَرَّاتالَ ع ََ رَأْسِه ِ وَوَجْهِه ِ وَمَا أَقْبَل َ مِن ْ جَسَدِه ِ يَفْعَل ُ ذَلِك َ ث
Dari ‘Ā’isyah [diriwayatkan] bahwa Nabi saw bila hendak tidur setiap malam,
beliau merapatkan telapak telapak tangannya kemudian meniup ke dalamnya,
kemudian membaca ke dalam kedua telapak tangannya itu “surat al-ikhlash,
surat al-Falaq dan surat al-Nas,” kemudian beliau usap-usapkan kedua telapak
tangan tersebut ke seluruh tubuh yang dapat beliau jangkau, beliau mulai dari
kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya, beliau lakukan hal ini sebanyak 3
kali [HR al-Bukhārī].
b. Nabi menggunakan rukiah untuk mengobati keluarganya,
37Himpunan Putusan Tarjih 3َ
عَن ْ عَئِشَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْهَا أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ يُعَوِّذ ُ بَعْض َ
َْاس َ اشْفِه ِ وَأَنْتبلأَهْلِه ِ يَمْسَح ُ بِيَدِه ِ الُْمْن َ وَيَقُوْل ُ اللَّهُم َّ رَب َّ انلَّاس ِ أَذْهِب ْ ا
.]ابلخارى[ الشَّاف ِ ال َ شِفَاء َ إِال َّ شِفَاؤُك َ شِفَاء ً ال َ يُغَادِر ُ سَقَمًا
Dari ‘Ā’isyah ra [diriwayatkan] bahwa Nabi saw mohon perlindungan untuk
beberapa anggota keluarganya dengan mengusapkan tangannya dengan
mengucapkan: Ya Allah Pemelihara manusia, hilangkanlah penyakitnya dan
sembuhkanlah, Engkau Zat Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari
pada-Mu yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit. [HR al-Bukhārī].
c. Nabi menggunakan rukiah saat menjenguk sahabat yang sakit َ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ قَال َ جَاء َ انلَّب ُِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَعُودُن ِ فَقَال َ ل ِ أَال َ أَرْقِيك َ
بِرُقْيَة ٍ جَاءَن ِ بِهَا جِبَْائِيل ُ قُلْت ُ بِأَب ِْ وَأُم ِّ بَل َ يَا رَسُول َ الل َِّ قَال َ بِسْم ِ الل َِّ أَرْقِيك
وَالل َُّ يَشْفِيك َ مِن ْ ك ُِّ دَاء ٍ فِيك َ مِن ْ ش َِّ انلَّفَّاثَات ِ ف ِ الْعُقَد ِ وَمِن ْ ش َِّ حَاسِد ٍ إِذَا
.]ابن ماجه[ ٍ حَسَد َ ثَالَث َ مَرَّات
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Nabi datang menjengukku,
kemudian ia berkata kepadaku: Maukah kamu aku obati dengan rukiah yang
dibawa Jibril kepadaku? Aku (Abū Hurairah) berkata: Demi ayah dan ibuku
wahai Rasulullah, tentu saja mau wahai Rasulullah. Nabi berkata: “Dengan
nama Allah aku akan merukiahmu dan Allah akan menyembuhkanmu dari
segala penyakit yang ada dalam dirimu dari setiap kejahatan yang ditiupkan
dalam buhul-buhul dan dari hasudan orang yang iri dengki. Beliau membacanya
sebanyak 3 kali” [HR Ibn Mājah].
d. Jibril melakukan rukiah untuk Nabi saat beliau sakit ُ
عَن ْ أَب ِْ رسَعِيْد ٍ أَن َّ جِبِْيل َ أَت َ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَال َ يَا مَُمَّد ُِّ
اشْتَكَيْت َ فَقَال َ نَعَم ْ قَال َ بِاسْم ِ الل َِّ أَرْقِيك َ مِن ْ ك ُِّ شَْء ٍ يُؤْذِيك َ مِن ْ ش َِّ ك
.]مسلم[ َ نَفْس ٍ أَو ْ عَي ِْ حَاسِد ٍ الل َُّ يَشْفِيْك َ بِاسْم ِ الل َِّ أَرْقِيْك
Dari Abū Sa‘īd [diriwayatkan] bahwa Jibril mendatangi Nabi saw dan berkata:
wahai Muhammad apa kamu sakit, lalu Nabi berkata: Ya. Jibril berkata: Dengan
nama Allah saya akan merukiahmu dari segala penyakit yang menngganggumu
dan dari kejahatan jiwa dan mata pendengki, Allah akan menyembuhkanmu.
Nismillah, aku merukiahmu [HR Muslim].
Rasulullah saw memberikan rambu-rambu tentang praktik rukiah yang
tidak bertentangan dengan akidah Islam, dan melarang bentuk-bentuk rukiah
yang bertentangan. َ
عَن ْ عَبْد ِ الل َِّ قَال َ سَمِعْت ُ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل ُ إِن َّ الرُّق ُ
ِّوَلَة َ شِْك ٌ قَالَت ْ قُلْت ُ لِم َ تَقُول ُ هَذَا وَالل َِّ لَقَد ْ كَنَت ْ عَيْن ِ تَقْذِفلَّمَائِم َ وَالوَا َِّ
وَكُنْت ُ أَخْتَلِف ُ إِل َ فُالَن ٍ الَْهُودِي ِّ يَرْقِين ِ فَإِذَا رَقَان ِ سَكَنَت ْ فَقَال َ عَبْد ُ الل َ
إِنَّمَا ذَاك َ عَمَل ُ الشَّيْطَان ِ كَن َ يَنْخُسُهَا بِيَدِه ِ فَإِذَا رَقَاهَا كَف َّ عَنْهَا إِنَّمَا كَن ْ
يَكْفِيك ِ أَن ْ تَقُول ِ كَمَا كَن َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل ُ أَذْهِب ُ
َ يُغَادِر ال ً َْأْس َ رَب َّ انلَّاس ِ اشْف ِ أَنْت َ الشَّاف ِ ال َ شِفَاء َ إِال َّ شِفَاؤُك َ شِفَاءبلا
.]أبو داود[ سَقَمًا
Dari Zainab istri ‘Abdullāh, dari ‘Abdullāh (Ibn Mas‘ūd), ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah saw berkata: Sesungguya rukiah-rukiah, jimat dan
pelet adalah kemusyrikan, Zainab) bertanya: Mengapa kamu nyatakan
demikian, demi Allah saat mataku sakit, aku pergi kepada orang Yahudi yang
mengobatiku dengan jampi-jampi, ketika diberi jampi-jampi mataku terasa
enak, maka ‘Abdullāh berkata: itu dari syetan, dia telah mencelakkan dengan
menggunakan kekuatannya ketika kamu sedang diberi jampi-jampi maka ia
hilangkan penyakitnya, sebenarnya bagimu cukup memohon sebagaimana
Rasulullah saw berdoa: Hilangkan mara bahaya wahai Tuhan manusia,
sembuhkanlah (penyakitku), Engkau Zat yang Menyembuhkan, tiada obat
yang dapat menyembuhkan melainkan obat-Mu, ia adalah obat yang tiada
meninggalkan penyakit [HR Abū Dāwūd]. َُّ
عَن ْ جَابِر ٍ قَال َ كَن َ ل ِ خَال ٌ يَرْق ِ مِن ْ الْعَقْرَب ِ فَنَه َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ عَن ْ الرُّق َ قَال َ فَأَتَاه ُ فَقَال َ يَا رَسُول َ الل َِّ إِنَّك َ نَهَيْت َ عَن ْ الرُّق َ وَأَنَا
.]مسلم[ ْ أَرْق ِ مِن ْ الْعَقْرَب ِ فَقَال َ مَن ْ اسْتَطَاع َ مِنْكُم ْ أَن ْ يَنْفَع َ أَخَاه ُ فَلْيَفْعَل
Dari Jābir [diriwayatkan bahwa] ia berkata: saya memiliki paman yang mengobati
dengan rukiah dari sengatan kalajengking, kemudian Nabi saw melarang rukiah.
Jābir berkata: Kemudian (pamannya) mendatangi Nabi dan berkata: Ya Rasulullah,
engkau telah melarang rukiah, sementara aku mengobati dengan rukiah atas
sengatan kalajengking. Kemudian Nabi berkata: Siapa yang mampu di antara
kalian memberikan manfaat kepada saudaranya, maka laksanakan [HR Muslim].
39Himpunan Putusan Tarjih 3َِّ
عَن ْ عَوْف ِ بْن ِ مَالِك ٍ اْألَشْجَع ِِّ قَال َ كُنَّا نَرْق ِ ف ِ الَْاهِلِيَّة ِ فَقُلْنَا يَا رَسُول َ الل ْ
كَيْف َ تَرَى ف ِ ذَلِك َ فَقَال َ اعْرِضُوا ع َََّ رُقَاكُم ْ ال َ بَأْس َ بِالرُّق َ مَا لَم ْ يَكُن
.]مسلم[ ٌ فِيْه ِ شِْك
Dari ‘Auf bin Mālik al-Asyja’ī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Di masa
Jahiliah kami biasa menggunakan rukiah, maka kami pun bertanya, wahai
Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang hal itu, kemudian (Nabi) menjawab:
Tunjukkanlah kepadaku rukiah kalian, tidak apa-apa menggunakan rukiah
selama tidak ada unsur syirik di dalamnya [HR Muslim].
Dalam hadis-hadis di atas terlihat bahwa rukiah yang dilarang adalah rukiah
mengandung unsur-unsur syirik dan rukiah-rukiah Jahiliah yang mengandung
unsur khurafat dan bid’ah. Sebaliknya rukiah yang dipraktikkan Nabi saw dengan
membaca doa-doa (yang ma’tsur) atau ayat-ayat al-Quran dibenarkan.
4. Pengobatan Alternatif dalam Koridor Islam
Dari apa yang dikemukakan di atas mengenai pengertian pengobatan alternatif,
prinsip-prinsip pengobatan yang dikemukakan di atas berikut dalil-dalil dari al-Quran
dan hadis serta praktik pengobatan yang dilakukakan oleh Nabi saw, maka kiranya
dapat ditarik beberapa kesimpulan tentang pengobatan alternatif sebagai berikut:
a. Pengobatan Alternatif adalah suatu tindakan pengobatan yang dilakukan bukan
melalui tindakan medis, tradisional dan doa, misalnya pengobatan dengan
menggunakan tenaga dalam.
b. Bahwa pengobatan alternatif dapat diterima apabila tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip pengobatan dalam ajaran Islam dan praktik yang diamalkan Nabi
saw, yang intinya tertuang dalam syarat-syarat berikut (dalil-dalilnya lihat pada
prinsip-prinsip umum pengobatan dalam Islam yang dikemukakan di atas):
- Syarat pengobat / pelaku pengobatan:
a) memiliki pengetahuan dan keahlian;
b) berakhlak mulia dan tidak merusak atau membahayakan akidah; - Obat/alat pengobatan:
a) bukan barang haram atau bertentangan dengan syariah;
b) tidak mengandung unsur membahayakan; - Cara / tehnik pengobatan:
a) Tidak mengandung syirik, bid’ah dan khurafat,
b) Tidak berbahaya ataupun membahayakan,
c) Tidak menggunakan unsur jin atau makhluk halus lainnya.
B. PUASA TATAWUK
Sidang Pleno Musyawarah Nasional Tarjih Ke-26 mengesahkan tuntunan puasa
tatawuk dengan rumusan di bawah ini dengan memperhatikan beberapa catatan
sebagai berikut:
- Memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai keutamaan puasa terutama
yang berkaitan dengan keutamaan bahwa puasa dapat menghapus dosa, agar
tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan umat Islam dalam bentuk sikap
raja’ yang berlebih-lebihan serta tasāhul dalam beragama. - Pada prinsipnya salah seorang dari suami atau istri yang hendak berpuasa
tatawuk harus seizin pasangannya, dan pelaksanaannnya dapat ditempuh melalui
musyawarah bil-ma‘rūf antara keduanya. - Mengenai puasa tiga hari setiap bulan, perlu dilakukan kajian lebih lanjut pada
Munas yang akan datang, apakah yang dimaksud dengan puasa tersebut
mencakup puasa ayyamul-bīḍ (أيام ابليض) ataukah berdiri sendiri. - Mengenai puasa Mutlak dan Puasa Tanggal 1-8 Zulhijah perlu pula dilakukan
kajian lebih lanjut pada Munas yang akan datang.
طوعل0صوم ا
(PUASA TATAWUK)
مقدمة - Pendahuluan َ
عَن ْأَب ِْ سُهَيْل ِ بْن ِ مَالِك ٍ عَن ْ أَبِيْه ِ أَنَّه ُ سَمِع َ طَلْحَة َ بْن َ عُبَيْد ِ الل َِّ يَقُوْل ُ جَاء ُّ
رَجُل ٌ إِل َ رَسُول ِ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مِن ْ أَهْل ِ نَْد ٍ ثَائِر َ الرَّأْس ِ يُسْمَع ُ دَوِي َِّ
صَوْتِه ِ وَال َ يُفْقَه ُ مَا يَقُوْل ُ حَت َّ دَنَا فَإِذَا هُو َ يَسْأَل ُ عَن ْ اْإلِسْالَم ِ فَقَال َ رَسُول ُ الل َ
صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ خَْس ُ صَلَوَات ٍ ف ِ الَْوْم ِ وَاللَّيْلَة ِ فَقَال َ هَل ْ ع َََّ غَيُْهَا قَال ْ
ال َ إِال َّ أَن ْ تَطَوَّع َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ وَصِيَام ُ رَمَضَان َ قَال َ هَل
رواه ابلخاري ومسلم وأبو داود والنسايئ[ …َ ع َََّ غَيُْه ُ قَال َ ال َ إِال َّ أَن ْ تَطَوَّع
.]مارلد ومالك واحوا
Dari Abū Suhail Ibn Mālik, dari ayahnya [diriwayatkan bahwa] ia telah mendengar
Thalhah Ibn ‘Ubaidillah mengatakan: Seorang lelaki dari penduduk Najd datang
kepada Rasulullah saw dengan rambut meremang, tidak terdengar gema suaranya
dan tidak diketahui apa yang ia katakan sampai ia mendekat, kemudian ternyata
ia bertanya tentang Islam. Rasulullah saw menjawab: Lima salat sehari semalam.
Lalu ia bertanya lagi: Apakah ada kewajiban lain atas saya selain itu? Rasulullah
saw. menjawab: Tidak, kecuali engkau kerjakan amalan sunnah, kemudian beliau
menjelaskan lagi: dan puasa Ramadan. Orang itu bertanya lagi: Apakah ada
kewajiban lain atasku selain (puasa Ramadan) itu? Beliau menjawab: Tidak ada,
kecuali engkau kerjakan amalan sunnah [HR al-Bukhārī, Muslim, Abū Dāwūd, an-
Nasā’ī, Aḥmad, Mālik, dan ad-Darimi]. َ
قَال :َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم :َ عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال
ٌ ِإَوذَا الل َُّ ك ُُّ عَمَل ِ ابْن ِ آدَم َ ل َُ إِال َّ الصِّيَام َ فَإِنَّه ُ ل ِ وَأَنَا أَجْزِي بِه ِ وَالصِّيَام ُ جُنَّة ْ
كَن َ يَوْم ُ صَوْم ِ أَحَدِكُم ْ فَال َ يَرْفُث ْ وَال َ يَصْخَب ْ فَإِن ْ سَابَّه ُ أَحَد ٌ أَو ْ قَاتَلَه ُ فَلْيَقُل ْ
َُلُوف ُ فَم ِ الصَّائِم ِ أَطْيَب ُ عِنْد َ الل َِّ مِنخل ِ إِن ِّ امْرُؤ ٌ صَائِم ٌ وَالَِّي نَفْس ُ مَُمَّد ٍ بِيَدِه ِ
َ ِإَوذَا لَق َِ رَبَّه ُ فَرِح َ بِصَوْمِه رِيح ِ الْمِسْك ِ لِلصَّائِم ِ فَرْحَتَان ِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَر َ فَرِح
.]متفق عليه واللفظ للبخاري[
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
Allah berfirman: Semua amalan yang telah dilakukan anak Adam itu kembali
kepadanya, kecuali puasa. Karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Aku sendiri yang
akan memberi balasannya. Puasa itu merupakan perisai, oleh karena itu apabila
salah seorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan membuat
gaduh. Jika ada yang mengajak bertengkar atau mengajak berkelahi, maka katakan
kepadanya: Saya sedang berpuasa. Demi Zat yang menguasai diri Muhammad, bau
mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kasturi. Orang
yang berpuasa akan memperoleh dua kegembiraan: kegembiraan waktu berbuka dan
kegembiraan ketika menemui Tuhannya karena memperoleh pahala puasa. [Hadis
muttafaq ‘alaih, lafal al-Bukhārī].
2. Keutamaan Puasa Tathawwu’
Puasa tatawuk memiliki beberapa keutamaan, di antaranya yang penting adalah
sebagai berikut:
a. Puasa tatawuk dapat menjadi perisai dari api neraka, sebagaimana dipahami
dari hadis,َ
ُْدْرِي ِّ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ سَمِعْت ُ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وخلعَن ْ أَب ِْ ررسَعِيْد ٍ ا
سَلَّم َ يَقُوْل ُ مَن ْ صَام َ يَوْمًا ف ِ سَبِيل ِ الل َِّ بَعَّد َ الل َُّ وَجْهَه ُ عَن ْ انلَّار ِ سَبْعِي َْ خَرِيْفًا
.]وابن ماجه مارلد واحرواه ابلخاري ومسلم والرتمذي والنسايئ وأ[
Dari Abū Sa‘īd al-Khudrī r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saya pernah
mendengar Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa berpuasa pada suatu hari
di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkannya dari api neraka selama 70
tahun [HR al-Bukhārī, Muslim, at-Tirmiżī, an-Nasā’ī, Aḥmad, ad-Dārimī, dan
Ibn Mājah].
b. Malaikat selalu bersalawat atas orang yang berpuasa, ْ
عَن ْ أُم ِّ عُمَارَة َ بِنْت ِ كَعْب ٍ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ دَخَل َ عَلَيْهَا فَدَعَت َ
ل َُ بِطَعَام ٍ فَقَال َ لَهَا ك ُِ فَقَالَت ْ إِن ِّ صَائِمَة ٌ فَقَال َ انلَّب ُِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ
إِن َّ الصَّائِم َ إِذَا أُكِل َ عِنْدَه ُ صَلَّت ْ عَلَيْه ِ الْمَالَئِكَة ُ حَت َّ يَفْرَغُوا و َ رُبَّمَا قَال
.]مارلد واحرواه الرتمذى وابن ماجة وأ[ْ حَت َّ يَقْضُوْا أَكْلَهُم
Dari Umi Umarah binti Ka’ab bahwa Nabi saw. pernah mendatanginya, lalu
Umarah meminta makanan untuk dihidangkan kepada beliau, maka Nabi saw.
bersabda kepadanya: Silakan engkau juga makan. Umi Umarah menjawab:
Saya berpuasa. Kemudian Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya orang berpuasa
apabila ada perjamuan makan padanya, maka malaikat akan memberi salawat
kepadanya sampai perjamuan tersebut selesai, atau menurut lafal lain sampai
mereka selesai makan [HR at-Tirmiżī, Aḥmad, Ibn Mājah, dan ad-Dārimī].
c. Puasa tatawuk dapat menghapus dosa َ
قَال َ ل َُ رَجُل ٌ أَرَأَيْت :َ عَن ْ أَب ِْ قَتَادَة َ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ
َْاقِيَة َ قَالبلصِيَام َ عَرَفَة َ قَال َ أَحْتَسِب ُ عِنْد َ الل َِّ أَن ْ يُكَفِّر َ السَّنَة َ الْمَاضِيَة َ وَا َ
أَرَأَيْت َ صَوْم َ عَشُورَاء َ قَال َ أَحْتَسِب ُ عِنْد َ الل َِّ أَن ْ يُكَفِّر َ السَّنَة :َِّ يَا رَسُول َ الل
.]دحرواه أ[
Dari Abū Qatādah, dari Nabi saw [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Ada
seseorang bertanya kepada Nabi saw. bagaimana pendapat anda tentang puasa
Arafah? Nabi menjawab: Puasa Arafah itu dapat menghapus dosa setahun yang
lalu dan yang tersisa. Kemudian orang tadi bertanya lagi: Bagaimana tentang
puasa Asyura’? Nabi saw. menjawab: Puasa Asyura’ dapat menghapus dosa
yang telah lalu [HR Aḥmad].
Catatan: Hendaknya jangan terjadi salah pengertian dan jangan timbul
anggapan yang mengarah kepada bermudah-mudah melakukan perbuatan
maksiat dan dosa semata karena anggapan bahwa dengan berpuasa sunnat sehari
saja dosa-dosa itu, bahkan dosa setahun yang lalu dan yang akan datang, segera
akan terhapus, dan orang tersebut akan dijauhkan dari api neraka sejauh tujuh
puluh tahun. Perlu dicamkan bahwa puasa yang sungguh-sungguh bukan sekedar
perbuatan fisik berupa tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan badan
(bagi pasangan suami-istri) belaka, melainkan puasa yang sesungguhnya adalah
puasa yang didasarkan kepada suatu komitmen otentik untuk meninggalkan
segala perbuatan dosa dan maksiat dan sekaligus terefleksikan dalam perbuatan
dan tingkah laku nyata.
Dalam hubungan ini perlu diresapi hadis Rasulullah saw, ْ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مَن ُ
َِِّ حَاجَة ٌ ف ِ أَن ْ يَدَع َ طَعَامَه ُ وَشََابَه لل َ لَم ْ يَدَع ْ قَوْل َ الزُّوْر ِ وَالْعَمَل َ بِه ِ فَلَيْس
والرتمذي وقال هذا حديث حسن صحيح وأبو ل رواه ابلخاري واللفظ[
.]دحداود وابن ماجه وأ
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw telah
bersabda: Barang siapa tidak meninggalkan berkata dusta dan mengamalkannya,
maka Allah tidak memandang perlu ia meninggalkan makanan dan minumannya
[HR al-Bukhārī, at-Tirmiżī —dan ia mengatakan hadis ini hasan sahih—, Abū
Daud, Ibn Mājah dan Aḥmad]. ُ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ رُب َّ صَائِم ٍ حَظُّه
دحرواه أ[ ُ مِن ْ صِيَامِه ِ الُْوع ُ وَالْعَطَش ُ وَرُب َّ قَائِم ٍ حَظُّه ُ مِن ْ قِيَامِه ِ السَّهَر
.]وابن ماجه
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw telah
bersabda: Betapa banyaknya orang berpuasa, namun perolehannya dari puasa
itu hanyalah lapar dan dahaga belaka, dan berapa banyaknya orang yang
melakukan qiyamul-lail, namun yang ia peroleh dari qiyamul-lail tersebut
hanyalah kelelahan tidak tidur belaka [HR Aḥmad dan Ibn Mājah].
3. Tata Cara Mengerjakan Puasa Tathawwu’
a. Kerjakanlah puasa sunnah dengan niat yang ikhlas karena Allah semata yang
dimulai sebelum fajar atau sesudahnya walaupun sudah tengah hari, selama
anda belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berdasarkan dalil: َُّ
عَن ْ عَئِشَة َ أُم ِّ الْمُؤْمِنِي َْ رَض َِ الل َُّ عَنْهَا قَالَت ْ قَال َ ل ِْ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah44 َ
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ذَات َ يَوْم ٍ يَا عَئِشَة ُ هَل ْ عِنْدَكُم ْ شَْء ٌ قَالَت ْ فَقُلْت ُ يَا رَسُول ِ
الل َِّ مَا عِنْدَنَا شَْء ٌ قَال َ فَإِن ِّ صَائِم ٌ قَالَت ْ فَخَرَج َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه َُّ
ََا هَدِيَّة ٌ أَو ْ جَاءَنَا زَوْر ٌ قَالَت ْ فَلَمَّا رَجَع َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ اللنل ْ وَسَلَّم َ فَأُهْدِيَت ُ
ََا هَدِيَّة ٌ أَو ْ جَاءَنَا زَوْر ٌ وَقَد ْ خَبَأْتنل ْ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قُلْت ُ يَا رَسُول َ الل َِّ أُهْدِيَت ْ
لَك َ شَيْئًا قَال َ مَا هُو َ قُلْت ُ حَيْس ٌ قَال َ هَاتِيه ِ فَجِئْت ُ بِه ِ فَأَكَل َ ثُم َّ قَال َ قَد
.]دحرواه مسلم والرتمذي وأبو داود وأ[ … كُنْت ُ أَصْبَحْت ُ صَائِمًا
Dari ‘Ā’isyah Ummul-Mu’minīn r.a. [diriwayatkan bahwa] ia mengatakan:
Pada suatu hari Rasulullah saw bertanya kepadaku, “Wahai ‘Ā’isyah, apakah
kalian mempunyai sesuatu (untuk dimakan)? ‘Ā’isyah melanjutkan ceritanya:
Maka aku menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tidak mempunyai sesuatu
(untuk dimakan). Lalu Rasulullah berkata, “Kalau begitu saya puasa saja.”
‘Ā’isyah melanjutkan lagi: Kemudian Rasulullah saw keluar. Sementara
itu, kami mendapat haadiah, atau, menurut suatu riwayat, kami didatangi
oleh pengunjung. ‘Ā’isyah melanjutkan: Ketika Rasulullah saw pulang, aku
mengatakan (kepada beliau), “Wahai Rasulullah, kami mendapat hadiah —
atau kami kedatangan tamu— dan aku menyimpan sebagian untukmu. Lalu
Rasulullah saw berkata, “Apa itu?” Aku menjawab, “Kue hais.” Lalu beliau
mengatakan, “Bawalah kemari!” Maka aku berikan kepada beliau, lalu beliau
makan, kemudian berkata, “Sesungguhnya aku tadi puasa” [HR Muslim, at-
Tirmiżī, Abū Dāwūd dan Aḥmad]. ِِ
ثُم َّ قَال َ إِنَّمَا مَثَل ُ صَوْم ِ الْمُتَطَوِّع ِ مَثَل ُ الرَّجُل ِ يُْرِج ُ مِن ْ مَال :وَزَاد َ النَّسَائِي
.]النسايئ من كتاب الصيام[ الصَّدَقَة َ فَإِن ْ شَاء َ أَمْضَاه َا ِإَون ْ شَاء َ حَبَسَهَا
An-Nasā’ī dalam riwayatnya menambahkan: Bahwa Rasulullah saw bersabda:
Sesunguhnya puasa sunnah itu seperti seeseorang yang mengeluarkan hartanya
untuk bersedekah, jika ia berkehendak bisa melanjutkannya, dan jika tidak
berkehendak, maka menahannya [Lihat an-Nasā’ī, “Kitab aṣ-Ṣiyām”].
b. Dan anda diperkenankan berbuka kapan saja anda berkehendak, berdasarkan
dalil hadis ‘Ā’isyah di atas (huruf a).
c. Salah seorang pasangan suami atau istri yang hendak berpuasa sunnat hendaklah
bermusyawarah minta izin dengan pasangannya ketika berada di rumah (ketika
tidak berpergian). Berdasarkan dalil:
45Himpunan Putusan Tarjih 3ْ
وَالَِّيْن َ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِم ْ وَأَقَامُوا الصَّالَة َ وَأَمْرُهُم ْ شُورَى بَيْنَهُم ْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُم
. َ يُنْفِقُوْن
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan
mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat
antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan
kepada mereka [QS asy-Syūrā (42): 38]. َ
وَمَن ْ يَعْمَل ْ مِن َ الصَّالَِات ِ مِن ْ ذَكَر ٍ أَو ْ أُنْث َ وَهُو َ مُؤْمِن ٌ فَأُولَئِك َ يَدْخُلُون
.الَْنَّة َ وَال َ يُظْلَمُون َ نَقِيًْا
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita
sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan
mereka tidak dianiaya walau sedikitpun [QS an-Nisā’ (4): 124]. ْ
ََجْزِيَنَّهُمنلَمَن ْ عَمِل َ صَالًِا مِن ْ ذَكَر ٍ أَو ْ أُنْث َ وَهُو َ مُؤْمِن ٌ فَلَنُحْيِيَنَّه ُ حَيَاة ً طَيِّبَة ً و
. َ أَجْرَهُم ْ بِأَحْسَن ِ مَا كَنُوا يَعْمَلُوْن
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan [QS an-
Naḥl (16): 97]. َ
عَن ْ عَبْد ِ الل َِّ بْن ِ عَمْرِو بْن ِ الْعَاص ِ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ و َ
سَلَّم َ يَا عَبْد َ الل َِّ أَلَم ْ أُخْب َْ أَنَّك َ تَصُوم ُ انلَّهَار َ وَتَقُوم ُ اللَّيْل َ قُلْت ُ بَل َ يَا رَسُول َ
الل َِّ قَال َ فَال َ تَفْعَل ْ صُم ْ وَأَفْطِر ْ وَقُم ْ وَنَم ْ فَإِن َّ لَِسَدِك َ عَلَيْك َ حَق ًّا ِإَون َّ لِعَيْنِك
. ]رواه ابلخاري[ . عَلَيْك َ حَق ًّا ِإَون َّ لِزَوْجِك َ عَلَيْك َ حَقًّا
Dari ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn al-‘Āṣ [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah
saw bersabda: Wahai ‘Abdullāh, bukankah aku pernah diberitahu bahwa
engkau berpuasa di siang hari dan melakukan ibadah (salat) di malam hari?
Aku (‘Abdullāh) menjawab: Benar wahai Rasulullah. Rasulullah bersabda:
Janganlah engkau lakukan! Berpuasalah, berbuka, salat malam, dan tidurlah.
Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak terhadapmu, matamu mempunyai hak
terhadapmu, dan istrimu mempunyai hak terhadapmu [HR al-Bukhārī].
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah46 ُ
عَن ْ أَب ِْ ررسَعِيْد ٍ قَال َ جَاءَت ِ امْرَأَة ٌ إِل َ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ وَنَْن
عِنْدَه ُ فَقَالَت ْ يَا رَسُول َ الل َِّ إِن َّ زَوْج ِ صَفْوَان َ بْن َ الْمُعَطَّل ِ يَضِْبُن ِ إِذَا َ
صَلَّيْت ُ وَيُفَطِّرُن ِ إِذَا صُمْت ُ وَال َ يُصَل ِّ صَالَة َ الْفَجْر ِ حَت َّ تَطْلُع َ الشَّمْس ُ قَال ِ
وَصَفْوَان ُ عِنْدَه ُ قَال َ فَسَأَل َُ عَمَّا قَالَت ْ فَقَال َ يَا رَسُول َ الل َِّ أَمَّا قَوْلُهَا يَضِْبُن ً
إِذَا صَلَّيْت ُ فَإِنَّهَا تَقْرَأ ُ بِسُورَتَي ِْ وَقَد ْ نَهَيْتُهَا قَال َ فَقَال َ لَو ْ كَنَت ْ سُورَة ً وَاحِدَة َ
لَكَفَت ِ انلَّاس َ وَأَمَّا قَوْلُهَا يُفَطِّرُن ِ فَإِنَّهَا تَنْطَلِق ُ فَتَصُوْم ُ وَأَنَا رَجُل ٌ شَاب ٌّ فَال ِ
أَصْب ُِ فَقَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَوْمَئِذ ٍ ال َ تَصُوم ُ امْرَأَة ٌ إِال َّ بِإِذْن َ
زَوْجِهَا وَأَمَّا قَوْلُهَا إِن ِّ ال َ أُصَل ِّ حَت َّ تَطْلُع َ الشَّمْس ُ فَإِنَّا أَهْل ُ بَيْت ٍ قَد ْ عُرِف
. ِّ ََا ذَاك َ ال َ نَكَاد ُ نَسْتَيْقِظ ُ حَت َّ تَطْلُع َ الشَّمْس ُ قَال َ فَإِذَا اسْتَيْقَظْت َ فَصَلنل ِِّ
قَال َ أَبو دَاود رَوَاه ُ حََّاد ٌ يَعْن ِ ابْن َ سَلَمَة َ عَن ْ حَُيْد ٍ أَو ْ ثَابِت ٍ عَن ْ أَب ِْ الْمُتَوَك
اكم وصححه وابن حبانلوا قد وابليهحوأ ل رواه أبو داود واللفظ[
.]مسند الفردوس ف ميللوابن سعد وابن عساكر وا
Dari Abū Sa‘īd [al-Khudrī] [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Seorang
wanita datang kepada Rasulullah saw, ketika itu kami (para Sahabat) berada
bersama beliau. Wanita itu mengatakan: Wahai Rasulullah, suami saya,
Safwan Ibn al-Mu‘atththal, memukul saya apabila saya salat dan menyuruh
saya membatalkan puasa apabila saya puasa, dan ia baru mengerjakan salat
subuh setelah matahari terbit. Abū Sa‘īd melanjutkan: Ketika itu Safwan ada
bersama beliau. Abū Sa‘īd meneruskan lagi: Lalu Rasulullah saw bertanya
kepada Safwan tentang apa yang dikatakan wanita (istrinya) itu. Safwan
menjawab: Wahai Rasulullah, adapun yang ia katakan “Suami saya memukul
saya apabila saya salat,” maka itu karena dia membaca dua surat pada hal saya
telah melarangnya. Abū Sa‘īd melanjutkan: Maka Rasulullah saw bersabda:
Seandainya dibaca satu surat, maka itu sudah mencukupi. Adapun yang ia
katakan “Suami saya menyuruh saya membatalkan puasa,” maka itu karena
ia terus berpuasa padahal saya adalah seorang lelaki muda yang tidak bisa
menahan [keinginan biologis]. Maka Rasulullah saw bersabda: Pada hari itu
janganlah seorang istri berpuasa kecuali dengan izin suaminya. Adapun yang
ia katakan bahwa saya baru mengerjakan salat subuh setelah matahari terbit,
maka itu karena kami adalah keluarga [penidur] yang telah dikenal demikian,
sehingga kami hampir-hampir tidak bisa bangun sebelum matahari terbit. Maka
Rasulullah saw bersabada: Apabila engkau bangun, maka kerjakanlah salat.
Abū Dāwūd berkata: Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ḥammād, yakni Ibn
Salamah, dari Ḥumaid atau Ṣābit dari Abū al-Mutawakkil. [HR Abū Dāwūd,
dan lafal ini adalah lafal Abū Dāwūd, juga oleh Aḥmad, al-Baihaqī, al-Ḥākim
yang menyatakannya sahih, Ibn Ḥibbān, Ibn Sa’d, Ibn ‘Asākir dan ad-Dailamī
dalam Musnad al-Firdaus].
Penjelasan tentang Wujuhul-Istidlal dari Dalil-dalil di atas:
Dalam mengistinbat hukum digunakan metode istiqra’ ma’nawi (induksi
tematis), yang berarti istinbat (penemuan) hukum tidak didasarkan hanya pada suatu
ayat atau hadis tunggal tertentu, melainkan didasarkan kepada keseluruhan ayat, hadis
dan sumber-sumber material syariah yang daripadanya ditarik kesimpulan umum
mengenai hukum. Norma-norma syariah dapat dibedakan secara hirarkis ke dalam
tiga lapisan norma. Yaitu nilai-nilai dasar (al-qiyam al-asāsiyyah), asas-asas umum
(al-uṣūl al-kulliyyah), dan peraturan kongkrit (al-aḥkām al-far’iyyah). Nilai-nilai
dasar bersifat abstrak dan universal serta sekaligus menggambarkan pokok-pokok
fundamental ajaran Islam seperti tauhid, akhlak karimah, kemaslahatan, keadilan,
persamaan, musyawarah, dan lain-lain. Asas-asas umum merupakan kongkritisasi
dari nilai dasar yang bersifat abstrak dan biasanya dirumuskan dalam al-qawā‘id
al-fiqhiyyah dan an-naẓariyyah al-fiqhiyyah. Sedangkan peraturan hukum kongkrit
merupakan kongkretisasi lebih lanjut dan merupakan penjabaran terhadap norma-
norma di atasnya.
Tiga ayat al-Quran yang disebutkan di atas mengandung dua nilai dasar, yaitu
musyawarah dan persamaan. Hadis ‘Abdullāh Ibn ‘Amr bin al-’Āṣ merupakan asas
umum yang mengkongkritisasi nilai dasar persamaan, yaitu dalam hal ini adanya
persamaan hak dalam kehidupan rumah tangga terhadap kenikmatan biologis.
Artinya salah satu pasangan mempunyai hak terhadap pasangannya yang lain untuk
pemenuhan tuntutan biologis yang seyogianya tidak dihalangi oleh pelaksanaan
ibadah sunnah pasangannya yang lain itu.
Hadis Abū Sa‘īd yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd menerangkan sebagai
contoh kasus yang kebetulan tejadi pada Ṣafwān Ibn al-Mu‘aṭṭal, di mana pemenuhan
kebutuhan biologisnya seyogianya tidak terhalangi oleh pelaksanaan ibadah sunnah
pasangannya. Hal ini berlaku sama terhadap istri maupun suami karena dalam hadis
‘Abdullāh Ibn ‘Amr Rasulullah saw menegaskan suatu asas bahwa sesungguhnya
pasanganmu mempunyai hak atas dirimu. Ibn Ḥajar mengutip pernyataan Ibn
Baṭṭāl (w. 449 H) ketika mensyarah hadis ini yang menyatakan, “Ketika pada bab
sebelumnya disebutkan hak suami terhadap istri maka pada bab ini disebutkan
kebalikannya (hak istri terhadap suami). Tidaklah sepantasnya seorang suami
melelahkan dirinya beribadah sehingga tidak mampu memenuhi hak biologis istrinya”
(Ibn Ḥajar, Fatḥ al Bārī, X:374, “Kitāb an-Nikāh”)
Sesuai dengan ayat pertama di atas [QS asy-Syūrā (48): 38], maka suami atau
istri hendaklah bermusyawarah guna memperoleh persetujuan pasangannya untuk
melakukan puasa sunat.
4. Puasa Sunnah Yang Disyariatkan Berdasarkan Keterangan Hadis-Hadis
Puasa tatawuk yang masyruk berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw adalah
sebagai berikut:
a. Puasa Nabi Dāwūd
Apabila anda berkehendak memperbanyak berpuasa, dan anda merasa kuat
mengejarkannya, maka berpuasalah sehari dan berbuka sehari, sebagaimana
puasa Nabi Dāwūd a.s. Inilah puasa tatawuk paling utama di sisi Allah,
berdasarkan dalil, َِّ
عَن ْ عَمْرِو بْن ِ أَوْس ٍ أَنَّه ُ سَمِع َ عَبْد َ الل َِّ بْنَ عَمْرِو بْن ِ الْعَاص ِ يَقُوْل ُ قَال َ رَسُول ُ الل
صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ أَحَب ُّ الصِّيَام ِ إِل َ الل َِّ عَز َّ وَجَل َّ صِيَام ُ دَاوُد َ عَلَيْه ِ السَّالَم
. .]رواه التسعة إال مالك واللفظ للنسايئ[ ... كَن َ يَصُوم ُ يَوْمًا وَيُفْطِر ُ يَوْمًا
Dari ‘Amr Ibn Aus [diriwayatkan] bahwa ia mendengar ‘Abdullāh Ibn ‘Amr
Ibn al-’Āṣ berkata: Rasulullah saw bersabda: Puasa yang paling disenangi
oleh Allah ‘Azza wa Jalla ialah puasa Dāwūd a.s., yaitu berpuasa sehari dan
berbuka (tidak puasa) sehari [HR Abū Dāwūd].
b. Puasa Hari Senin dan Kamis
Dan biasakanlah anda berpuasa pada hari Senin dan Kamis, berdasarkan dalil, َ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ تُعْرَض ُ اْألَعْمَال ُ يَوْم
د والرتمذيحرواه أ[ ٌ َْمِيْس ِ فَأُحِب ُّ أَن ْ يُعْرَض َ عَمَل ِ وَأَنَا صَائِمخلاْالِثْنَي ِْ وَا
.]وابن حبان معناه
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Telah bersabda
Rasulullah saw: Amal-amal perbuatan dinaikkan/disampaikan pada setiap
hari Senin dan Kamis. Oleh karena itu aku ingin ketika amalku dinaikkan/
disampaikan aku sedang berpuasa [HR Aḥmad, at-Tirmiżī, Ibn Ḥibbān]. ِْ
عَن ْ عَئِشَة َ قَالَت ْ كَن َ انلَّب ُِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَتَحَرَّى صَوْم َ اْالِثْنَي
د والنسايئ وابن ماجة والرتمذي وأبو داود من حديثحرواه أ[ ِ َْمِيْسخلوَا
.]أسامة بن زيد مثله
Dari ‘Ā’isyah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Nabi saw selalu berupaya
puasa hari Senin dan Kamis [HR Aḥmad, an-Nasai, Ibn Mājah, at-Tirmiżī, dan
Abū Daud dari Usamah]. ِْ
عَن ْ أَب ِْ قَتَادَة َ قَال َ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ سُئِل َ عَن ْ صَوْم ِ يَوْم ِ اْالِثْنَي
. ]د و مسلم و أبو داودحرواه أ[ ِ فَقَال َ ذَلِك َ يَوْم ٌ وُلِْت ُ فِيْه ِ و َ أُنْزِل َ ع َََّ فِيْه
Dari Abū Qatādah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia meneragkan bahwasanya Nabi
saw pernah ditanya tentang puasa Senin, maka Beliau menjawab: Hari Senin
itu adalah hari kelahiranku dan hari turunnya wahyu pertama kepadaku. [HR
Aḥmad, Muslim, dan Abū Dāwūd].
c. Puasa Bulan Syakban
Perbanyaklah berpuasa dalam bulan Syakban, berdasarkan dalil: ِ
مَا رَأَيْت ُ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ... ْ عَن ْ عَئِشَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْهَا قَالَت ِ
وَسَلَّم َ اسْتَكْمَل َ صِيَام َ شَهْر ٍ إِال َّ رَمَضَان َ وَمَا رَأَيْتُه ُ أَكْث ََ صِيَامًا مِنْه ُ ف
.]متفق عليه[ َ شَعْبَان َ
وَمَا صَام َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ شَهْرًا كَمِال ً مُنْذ ُ قَدِم ... : ْ و َ قَالَت
.]ل رواه مسلم والنسايئ واللفظ[ َ الْمَدِيْنَة َ إِال َّ رَمَضَان
Dari ‘Ā’isyah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: ... Saya tidak pernah
melihat Rasulullah saw berpuasa sebulan penuh selain bulan Ramadan. Juga
saya tidak pernah melihat Beliau banyak berpuasa kecuali di Bulan Syakban.
[Muttafaq ‘alaih].
Ia juga berkata: ... dan Rasulullah saw tidak pernah berpuasa sebulan penuh
sejak ia datang di Madinah selain bulan Ramadan [HR Muslim dan an-Nasā’ī].
d. Puasa Muharram dan Bulan-bulan Hurum
Perbanyaklah berpuasa dalam bulan Allah Muharram, dan Asyhurul Hurum
(yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan bulan Rajab), dan puasa bulan
Muharram merupakan puasa tatawuk yang paling afdal setelah puasa Ramadan,
berdasarkan dalil: َ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم ِ
أَفْضَل ُ الصِّيَام ِ بَعْد َ رَمَضَان َ شَهْر ُ الل َِّ الْمُحَرَّم ُ وَأَفْضَل ُ الصَّالَة ِ بَعْد َ الْفَرِيْضَة
.]دحوالنسايئ والرتمذي وأبو داود وأ ل رواه مسلم واللفظ[ . ِ صَالَة ُ اللَّيْل
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah telah
bersabda: Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah Bulan Muharram,
dan seutama-utama salat setelah salat fardlu adalah salat malam [HR Abū
Dāwūd]. ِ
َْاهِلِيَّة ِ عَن ْ أَبِيْهَا أَو ْ عَمِّهَا أَنَّه ُ أَت َ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْهبلعَن ْ مُِيْبَة َ ا َِّ
وَسَلَّم َ ثُم َّ انْطَلَق َ فَأَتَاه ُ بَعْد َ سَنَة ٍ وَقَد ْ تَغَيََّت ْ حَال ُُ وَهَيْئَتُه ُ فَقَال َ يَا رَسُول َ الل
َْاهِل ُِّ الَِّي جِئْتُك َ عَم َ اْألَوَّل ِ قَال َ فَمَابلأَمَا تَعْرِفُن ِ قَال َ وَمَن ْ أَنْت َ قَال َ أَنَا ا َ
غَيََّك َ وَقَد ْ كُنْت َ حَسَن َ الْهَيْئَة ِ قَال َ مَا أَكَلْت ُ طَعَامًا إِال َّ بِلَيْل ٍ مُنْذ ُ فَارَقْتُك َ
فَقَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ لِم َ عَذَّبْت َ نَفْسَك َ ثُم َّ قَال َ صُم ْ شَهْر َ
الصَّب ِْ وَيَوْمًا مِن ْ ك ُِّ شَهْر ٍ قَال َ زِدْن ِ فَإِن َّ ب ِ قُوَّة ً قَال َ صُم ْ يَوْمَي ِْ قَال َ زِدْن ِ قَال ْ
صُم ْ ثَالَثَة َ أَيَّام ٍ قَال َ زِدْن ِ قَال َ صُم ْ مِن َ الُْرُم ِ وَاتْرُك ْ صُم ْ مِن َ الُْرُم ِ وَاتْرُك ْ صُم
.]رواه أبو داود[ مِن َ الُْرُم ِ وَاتْرُك ْ وَقَال َ بِأَصَابِعِه ِ اثلَّالَثَة ِ فَضَمَّهَا ثُم َّ أَرْسَلَهَا
Dari Mujībah al-Bāhiliyyah dari ayahnya atau pamannya, bahwasanya pada
suatu hari ia (ayah atau pamannya) menemui Rasulullah saw, kemudian
pergi. Setelah setahun kemudian, ia datang lagi dengan banyak perubahan
pada dirinya, lalu berkata: Wahai Rasulullah, apakah Anda tidak mengenali
aku lagi? Beliaupun bertanya: Siapakah engkau? Ia menjawab: Saya adalah
al-Bahiliy yang pernah mendatangumu setahun yang lalu. Beliau bertanya:
Apakah yang telah merubah dirimu; dulu engkau bagus bodimu? Ia menjawab:
Saya tidak makan hanya di malam hari semenjak saya berpisah denganmu
dulu. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Mengapa engkau menyiksa dirimu
seperti ini? Berpuasalah di bulan sabar (Ramadan) dan sehari setiap bulan. Ia
berkata: Berilah saya tambahan, karena saya masih mampu (untuk berpuasa
lebih dari satu hari). Beliau bersabda lagi: Berpuasalah dua hari setiap bulan.
Ia berkata lagi: Berilah saya tambahan. Beliau bersabda lagi: Berpuasalah
tiga hari setiap bulan. Ia berkata lagi: Berilah saya tambahan. Maka Beliaupun
bersabbda lagi: Berpuasalah di bulan-bulan haram, dan tinggalkan yang lain,
kemudian beliau memberi isyarat dengan tiga jarinya dengan mengumpulkan
lalu membukanya! [HR Abū Dāwūd, Aḥmad dan Ibn Mājah dan an-Nasā’ī].
e. Puasa Hari Asyura dan Tasu’a (Tanggal 9 dan 10 Muharram)
Berpuasalah, jika engkau menghendaki, pada hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh
bulan Muharram, karena Rasulullah saw memerintahkan berpuasa pada hari
itu sebelum diwajibkannya puasa Ramadan, dan setelah diwajibkan puasa
Ramadan, beliau menyatakan: siapa yang ingin berpuasa pada hari itu silahkan
melakukannya dan siapa yang tidak ingin, silahkan tidak melakukannya.
Dan engkau dapat pula menggabungkan kepadanya puasa Tasu‘a, yaitu hari
kesembilan bulan Muharram. Hal ini berdasarkan dalil: ِ
عَن ْ عَئِشَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْهَا أَن َّ قُرَيْشًا كَنَت ْ تَصُوم ُ يَوْم َ عَشُورَاء َ ف ِ الَْاهِلِيَّة َ
ثُم َّ أَمَر َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ بِصِيَامِه ِ حَت َّ فُرِض َ رَمَضَان ُ وَقَال
متفق[ َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مَن ْ شَاء َ فَلْيَصُمْه ُ وَمَن ْ شَاء َ أَفْطَر
.]عليه
Dari ‘Ā’isyah r.a. [diriwayatkan] bahwa orang-orang Quraisy pada zaman
Jahiliah melakukan puasa ‘Asyura’, kemudian Rasulullah saw memerintahkan
agar melakukan puasa ‘Āsyura’ tersebut sehingga diwajibkan puasa Ramadan,
dan Rasulullah saw mengatakan: Barang siapa yang ingin melakukan puasa
‘Āsyura’ silahkan, dan barang siapa yang tidak ingin melakukannya silahkan
berbuka [Hadis muttafaq ‘alaih].َ
عَن ْ سَلَمَة َ بْن ِ اْألَكْوَع ِ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ أَمَر َ انلَّب ُِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم ْ
رَجُال ً مِن ْ أَسْلَم َ أَن ْ أَذِّن ْ ف ِ انلَّاس ِ أَن َّ مَن ْ كَن َ أَكَل َ فَلْيَصُم ْ بَقِيَّة َ يَوْمِه ِ وَمَن
.]رواه ابلخاري[ َ لَم ْ يَكُن ْ أَكَل َ فَلْيَصُم ْ فَإِن َّ الَْوْم َ يَوْم ُ عَشُورَاء
Dari Salamah Ibn al-Akwa‘ r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Nabi saw
memerintahkan seseorang dari Bani Aslam agar mengumumkan kepada
masyarakat bahwa barang siapa yang sudah terlanjur makan hendaklah
berpuasa pada sisa hari itu, dan barang siapa yang belum makan hendaklah
berpuasa, karena hari ini adalah hari Asyura [HR al-Bukhārī].َ
عَن ْ ابْن ِ عَبَّاس ٍ رَض َِ الل َُّ عَنْهما ُ قَال َ مَا رَأَيْت ُ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ
يَتَحَرَّى صِيَام َ يَوْم ٍ فَضَّلَه ُ ع ََ غَيِْه ِ إِال َّ هَذَا الَْوْم َ يَوْم َ عَشُورَاء َ وَهَذَا الشَّهْر
]رواه ابلخاري[ َ يَعْن ِ شَهْر َ رَمَضَان
Dari Ibn ‘Abbās r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saya tidak pernah melihat
Rasulullah saw membiasakan berpuasa suatu hari yang lebih diutamakan dari
yang lainnya kecuali hari ini, yaitu hari Asyura dan bulan ini, yaitu bulan
Ramadan [HR al-Bukhārī].
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah52 َ
عَن ْ حَفْصَة َ قَالَت ْ أَرْبَع ٌ لَم ْ يَكُن ْ يَدَعُهُن َّ انلَّب ُِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ صِيَام
دحرواه أ[ ِ عَشُورَاء َ وَالْعَش َْ وَثَالَثَة َ أَيَّام ٍ مِن ْ ك ُِّ شَهْر ٍ وَرَكْعَتَي ِْ قَبْل َ الْغَدَاة
.]والنسايئ
Dari Ḥafṣah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Ada empat perkara yang
tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi saw, yaitu puasa Asyura’, tanggal sepuluh
dan tiga hari setiap bulan serta salat dua rakaat sebelum subuh [HR Aḥmad
dan an-Nasā’ī]. َ
َ صَام َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ و َ سَلَّم يعَن ِ ابْن ِ عَبَّاس ٍ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ حِ
يَوْم َ عَشُورَاء َ وَأَمَر َ بِصِيَامِه ِ قَالُوا يَا رَسُول َ الل َِّ إِنَّه ُ يَوْم ٌ تُعَظِّمُه ُ الَْهُود ُ وَانلَّصَارَى َُّ
فَقَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ و َ سَلَّم َ فَإِذَا كَن َ الْعَام ُ الْمُقْبِل ُ إِن ْ شَاء َ الل َُّ
َّاسِع َ قَال َ فَلَم ْ يَأْت ِ الْعَام ُ الْمُقْبِل ُ حَت َّ تُوُف َِّ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الللصُمْنَا الَْوْم َ ا ِ
وَف ِ لَفْظ ٍ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه . ]رواه مسلم وأبو داود[ َ عَلَيْه ِ و َ سَلَّم
د وحرواه أ[ َ َّاسِع َ يَعْن ِ يَوْم َ عَشُورَاءلو َ سَلَّم َ لَئِن ْ بَقِيْت ُ إِل َ قَابِل ٍ ألَصُوْمَن َّ ا َ
وقَال َ أَبُو ع ٍَِّ رَوَاه ُ أَحَْد ُ بْن ُ يُونُس َ عَن ِ ابْن ِ أَب ِْ ذِئْب ٍ زَاد َ فِيْه ِ مََافَة . ]مسلم
.]انظر سنن ابن ماجه[ ُ أَن ْ يَفُوْتَه ُ عَشُورَاء
Dari Ibn ‘Abbās r.a. [diriwayatkan bahwa] ia menerangkan: Ketika Rasulullah
saw berpuasa pada hari Asyura’ dan menyuruh para sahabat juga berpuasa,
maka mereka berkata: Wahai Rasulullah, hari Asyura’ itu adalah hari yang
diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw
bersabda: Kalau demikian, Insya Allah tahun depan kita berpuasa [juga] pada
hari yang kesembilan. Ibn ‘Abbās melanjutkan ceritanya: Tetapi sebelum datang
tahun depan yang dimaksud, Rasulullah saw telah wafat [HR Muslim dan Abū
Dāwūd].
Dalam lafal lain Rasulullah saw bersabda: Jika Saya panjang umur sampai
tahun depan, niscaya saya akan berpuasa pada hari kesembilan, yakni hari,
Asyura’. [AR. Aḥmad dan Muslim].
Abū ‘Ali mengatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Aḥmad Ibn Yunus dari
Ibn Abū Żi’b dengan tambahan “karena beliau takut ketinggalan ‘Asyura’.”
[Lihat Ibn Mājah].
f. Puasa Enam Hari dalam Bulan Syawal
Apabila anda telah selesai berpuasa Ramadan, maka berpuasalah enam hari
dalam bulan Syawal (lakukan sesudah Hari Raya Idul Fithri), anda lakukan
secara berturut-turut atau berpisah-pisah. Berdasarkan dalil: ِ
أَن َّ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ... ُ َْنْصَارِي ِّ رَض َِ الل َُّ عَنْهألعَن ْ أَب ِْ أَيُّوب َ ا
رواه[ ِ َّهْرلوَسَلَّم َ قَال َ مَن ْ صَام َ رَمَضَان َ ثُم َّ أَتْبَعَه ُ سِتًّا مِن ْ شَوَّال ٍ كَن َ كَصِيَام ِ ا
. ]ماعة إال ابلخاري والنسايئلا
Dari Abū Ayyub al-Anṣārī r. a. [diriwayatkan] ... bahwa Rasulullah saw
bersabda: Barang siapa sudah melakukan puasa Ramadan, kemudian
menambahkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia
telah melaksanakan puasa sepanjang masa [HR Jamaah Ahli Hadis selain dan
an-Nasā’ī]. ِ
عَن ْ ثَوْبَان َ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ مَن ْ صَام َ رَمَضَان َ فَشَهْر ٌ بِعَشََة
.]دحرواه أ[ ِ أَشْهُر ٍ وَصِيَام ُ سِتَّة ِ أَيَّام ٍ بَعْد َ الْفِطْر ِ فَذَلِك َ تَمَام ُ صِيَام ِ السَّنَة
Dari Tsauban, dari nabi saw [diriwayatkan bahwa] beliau bersabda: Barang
siapa berpuasa Ramadan, maka pahala satu bulan Ramadan itu (dilipatkan
sama) dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari sesudah Idul Fitri
[dilipatkan sepuluh menjadi enam puluh], maka semuanya (Ramadan dan enam
hari bulan Syawal) adalah genap satu tahun [HR Aḥmad].َ
وَف ِْ رِوَايَة ِ ابْن ِ مَاجَه مَن ْ صَام َ رَمَضَان َ و َ سِتَّة َ أَيَّام ٍ بَعْد َ الْفِطْر ِ كَن َ تَمَام
. السَّنَة ِ و َ مَن ْ جَاء َ بِالَْسَنَة ِ فَلَه ُ عَش ُْ أَمْثَالِهَا
Di dalam riwayat Ibn Mājah dinyatakan [bahwa Rasulullah saw bersabda]:
Barangsiapa berpuasa Ramadan dan enam hari sesudah Idul Fitri, maka itu
sama pahalanya dengan puasa genap setahun. Dan barangsiapa melakukan
satu kebaikan, maka ia akan memperoleh (pahala) sepuluh kali lipat.
.َ َِحَدِهِماأل ِْ ِِطْالَق ِ لَفْظ ِ الَْدِيْث ِ الْمُتَقَدِّم ِ مِن ْ غَي ِْ تَعْيِيإلَ و
Karena keumuman matan hadis yang terdahulu tanpa adanya ta’yīn (penjelasan
berturut-turut atau berpisah-pisah).
g. Puasa Hari Arafah (tanggal 9 Zulhijah)
Dan berpuasalah pada hari Arafah (tanggal 9 Zulhijah) jika anda tidak sedang
berihram haji (tidak sedang wukuf di Arafah), berdasarkan dalil:
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah54 َ
عَن ْ أَب ِْ قَتَادَة َ اْألَنْصَارِي ِّ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ أَن َّ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ
َْاقِيَة َ قَال َ وَسُئِلبلصَوْم ِ يَوْم ِ عَرَفَة َ فَقَال َ يُكَفِّر ُ السَّنَة َ الْمَاضِيَة َ وَا ... ْ سُئِل َ عَن
ماعة إاللرواه ا[ َ عَن ْ صَوْم ِ يَوْم ِ عَشُورَاء َ فَقَال َ يُكَفِّر ُ السَّنَة َ الْمَاضِيَة
. ]ابلخاري والرتمذي
Dari Abū Qatādah r.a. [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw ditanya ... tentang
puasa hari Arafah, maka beliau menjawab: Puasa hari Arafah menghapus dosa
tahun yang lalu dan tahun yang akan datang; dan beliau ditanya tentang puasa
‘Asyura’, maka beliau menjawab: Puasa ‘Asyura menghapus dosa tahun yang lalu.
[HR Jama’ah ahli hadis kecuali al-Bukhārī dan at-Tirmiżī]. ُ
عَن ْ عِكْرِمَة َ مَوْل َ ابْن ِ عَبَّاس ٍ قَال َ دَخَلْت ُ ع ََ أَب ِْ هُرَيْرَة َ ف ِ بَيْتِه ِ فَسَأَلُْه َ
عَن ْ صَوْم ِ يَوْم ِ عَرَفَة َ بِعَرَفَات ٍ فَقَال َ نَه َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
.]وأبو داود وابن ماجه ل د واللفظحرواه أ[ ٍ عَن ْ صَوْم ِ يَوْم ِ عَرَفَة َ بِعَرَفَات
Dari ‘Ikrimah Maula Ibn ‘Abbās [diriwayatkan bahwa] ia berkata: saya menemui
Abū Hurairah di rimahnya dan menanyakan tentang puasa Arafah di Arafah,
beliau menjawab: Rasulullah saw melarang puasa hari Arafah di Padang Arafah
[HR Aḥmad, Abū Dawūd dan Ibn Mājah].
5. Puasa-Puasa Yang Dilarang
a. Janganlah anda berpuasa sepanjang masa (biasa disebut shaumud-dahr), yaitu
berpuasa setiap hari sepanjang tahun, walaupun anda kuat mengerjakannya,
berdasarkan dalil, َ
عَن ْ عَبْد ِ الل َِّ بْن َ عَمْرٍو رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ رَسُوْل ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
.]دحرواه الشيخان والنسايئ وابن ماجه وأ[ِْ ال َ صَام َ مَن ْ صَام َ اْألَبَد َ مَرَّتَي
Dari ‘Abdullāh Ibn ‘Amr r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw
telah bersabda: Tidak termasuk berpuasa orang yang berpuasa selamanya (terus
menerus). [HR dua guru hadis, dan juga riwayat an-Nasā’ī, Ibn Mājah dan Aḥmad]. َِّ
عَن ْ أَب ِْ قَتَادَة َ أَن َّ عُمَر ُ سَأَل َ رَسُول ِ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَال َ يَا رَسُول َ الل
.]رواه أبو داود[ ... ... ... َ َّهْر َ كَُّه ُ قَال َ ال َ صَام َ وَال َ أَفْطَرلكَيْف َ بِمَن ْ يَصُوم ُ ا
Dari Abū Qatādah r.a. [diriwayatkan] bahwasanya ‘Umar r.a. bertanya kepada
Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, bagaimana hukumnya orang yang berpuasa
sepanjang masa? Beliau menjawab: Ia tidak berpuasa dan tidak berbuka ...
[HR Abū Dāwūd].
Yang lebih utama adalah hendaknya anda mengerjakan puasa Dāwūd
sebagaimana keterangan yang telah lalu, berdasarkan dalil: ِ
عَن ْ عَبْد ِ الل َِّ بْن ِ عَمْرٍو رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ ل ِْ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه َ
وَسَلَّم َ أَحَب ُّ الصِّيَام ِ إِل َ الل َِّ صِيَام ُ دَاوُد َ وأَحَب ُّ الصَّالَة ِ إِل َ الل َِّ صَالَة ُ دَاوُد
كَن َ يَنَام ُ نِصْفَه ُ وَيَقُوْم ُ ثُلُثَه ُ وَيَنَام ُ سُدُسَه ُ وَكَن َ يُفْطِر ُ يَوْمًا و َ يَصُوْم ُ يَوْمًا
.]رواه أبو داود[
Dari ‘Abdullāh Ibn ‘Amr r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Telah bersabda
Rasulullah saw kepadaku: Puasa yang paling disenangi di sisi Allah ialah puasa
Dāwūd, dan salat yang paling disenangi di sisi Allah ialah salat yang dikerjakan
Dāwūd: ia tidur separuh malam dan bangun sepertiganya, lalu tidur lagi
seperenamnya; dia berbuka sehari dan berpuasa sehari [HR Abū Dāwūd].
b. Dan janganlah anda menyambung puasa dua hari atau lebih tanpa berbuka (puasa
wisal), berdasarkan dalil, ْ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ إِيَّاكُم
وَالْوِصَال َ مَرَّتَي ِْ قِيل َ إِنَّك َ تُوَاصِل ُ قَال َ إِن ِّ أَبِيْت ُ يُطْعِمُن ِ رَب ِّ وَيَسْقِي ِْ فَاكَْفُوا
. ]رواه ابلخاري[ َ مِن َ الْعَمَل ِ مَا تُطِيْقُون
Dari Abū Hurairah r.a., dari Nabi saw [diriwayatkan bahwa] beliau bersabda:
Jauhilah puasa wishal (bersambung) 2x. Orang-orang berkata: Sesungguhnya
engkau melakukan puasa wishal juga. Maka beliau bersabda: Sesungguhnya aku
tidur seraya diberi makan dan minum oleh Tuhanku, oleh karena itu kerjakanlah
amal perbuatan sesuai kemampuan [HR al-Bukhārī]. ِ
عَن ْ عَئِشَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْهَا قَالَت ْ نَه َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ عَن ِْ
الْوِصَال ِ رَحَْة ً لَهُم ْ فَقَالُوا إِنَّك َ تُوَاصِل ُ قَال َ إِن ِّ لَسْت ُ كَهَيْئَتِكُم ْ إِن ِّ يُطْعِمُن
]متفق عليه[ ِْ رَب ِّْ وَيَسْقِيْن
Dari ‘Ā’isyah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw melarang puasa
wishal (puasa bersambung) sebagai tanda kasih sayang kepada umatnya. Kemudian
para sahabat berkata: Sesungguhnya anda juga melakukan puasa wishal. Maka
beliau saw menjawab: Saya tidak seperti kamu, saya diberi makan dan minum oleh
Tuhanku [Muttafaq ‘alaih].
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah56 ُ
عَن ْ أَب ِْ سَعِيْد ٍ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ أَنَّه ُ سَمِع َ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل َ
ال َ تُوَاصِلُوا فَأَيُّكُم ْ إِذَا أَرَاد َ أَن ْ يُوَاصِل َ فَلْيُوَاصِل ْ حَت َّ السَّحَر ِ قَالُوا فَإِنَّك ِ
تُوَاصِل ُ يَا رَسُول َ الل َِّ قَال َ إِن ِّ لَسْت ُ كَهَيْئَتِكُم ْ إِن ِّ أَبِيْت ُ ل ِ مُطْعِم ٌ يُطْعِمُن
.]رواه ابلخاري وأبو داود[ ِْ وَسَاق ٍ يَسْقِي
Dari Abū Sa‘īd r.a. [diriwayatkan bahwa] bahwasanya ia mendengar Nabi saw
bersabda: Janganlah kamu melakukan puasa wishal, jika kamu menghendakinya
maka teruskanlah sampai waktu sahur. Para sahabat berkata: Sesungguhnya
engkau juga melakukan puasa wishal, wahai Rasulullah. Beliau menjawab: Saya
tidak seperti halnya kamu, sesungguhnya saya tidur dan ada orang yang memberi
makan dan minumku [HR al-Bukhārī dan Abū Dāwūd].
c. Janganlah anda berpuasa pada dua Hari Raya, berdasarkan dalil, َ
ُْدْرِى رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ نَه َ انلَّب ُِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّمخلعَن ْ أَب ِْ ررسَعِيْد ٍ ا
.]رواه ابلخاري[ … ِ عَن ْ صَوْم ِ يَوْم ِ الْفِطْر ِ وَانلَّحْر
Dari Abū Sa‘īd r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Nabi saw melarang berpuasa
di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha [HR al-Bukhārī]. َّ
ُْطْبَة ِ ثُمخلعَن ْ أَب ِْ عُبَيْد ٍ قَال َ شَهِدْت ُ الْعِيْد َ مَع َ عُمَر َ فَبَدَأ َ بِالصَّالَة ِ قَبْل َ ا
قَال َ إِن َّ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ نَه َ عَن ْ صِيَام ِ هَذَيْن ِ الَْوْمَي ِْ أَمَّا ْ
يَوْم ُ اْألَضْح َ فَتَأْكُلُون َ مِن ْ لَْم ِ نُسُكِكُم ْ وَأَمَّا يَوْم ُ الْفِطْر ِ فَفِطْرُكُم ْ مِن
.]رواه أبو داود[ ْ صِيَامِكُم
Dari Abū ‘Ubaid r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saya menyaksikan hari raya
bersama Umar r.a. lalu dimulailah salat ‘Id sebelum khutbah, kemudian ia berkata:
Sesungguhnya Rasulullah saw melarang berpuasa pada dua hari raya ini. Adapun di
hari Idul Adha maka hendaklah kamu sekalian makan daging kurbanmu, sedang di
hari Idul Fitri hendaklah kamu sekalian berbuka dari puasamu [HR Abū Dāwūd].
d. Demikian juga anda dilarang berpuasa pada hari Tasyriq (yaitu tanggal 11-12-13
Zulhijah), berdasarkan dalil, َ
أَن َّ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ بَعَثَه ُ وَأَوْس َ بْن ... ٍ عَن ِ كَعْب ِ ابْن ِ مَالِك ُ
الَْدَثَان ِ أَيَّام َ التَّشِْيق ِ فَنَادَى أَنَّه ُ ال َ يَدْخُل ُ الَْنَّة َ إِال َّ مُؤْمِن ٌ وَأَيَّام ُ مِن ً أَيَّام
. ]د ومسلمحرواه أ[ ٍ أَكْل ٍ وَشُْب
Dari Ka’b Ibn Mālik [diriwayatkan] ... bahwasanya Rasulullah saw mengutusnya
beserta Aus Ibn Hadatsan pada hari Tasyriq, lalu mereka berdua berseru:
Sesungguhnya tidak akan masuk syurga kecuali orang-orang mukmin, dan hari Mina
(hari Tasyriq) adalah hari-hari untuk makan dan minum [HR Aḥmad dan Muslim].
e. Dan janganlah anda berpuasa khusus hari Jum’ah tanpa diikuti puasa pada hari
sebelum atau sesudahnya, berdasarkan dalil: َُّ
عَن ْ مَُمَّد ِ بْن ِ عَبَّاد ٍ قَال َ سَأَلْت ُ جَابِرًا رَض َِ الل َُّ عَنْه أ َ نَه َ انلَّب ُِّ صَل َّ الل ْ
زَاد َ غَي ُْ أَب ِْ عَصِم ٍ يَعْن ِ أَن .ْعَلَيْه ِ وَسَلَّم َ عَن ْ صَوْم ِ يَوْم ِ الُْمُعَة ِ قَال َ نَعَم
.]متفق عليه واللفظ للبخاري[ٍ يَنْفَرِد َ بِصَوْم
Dari Muhammad Ibn ‘Abbad Ibn Ja’far (diriwayatkan bahwa ia berkata): Saya
bertanya kepada Jābir r.a. : Apakah Nabi saw melarang puasa pada hari Jumat?
Jawabnya: Ya. Rawi selain Abū ’Ashim menambahkan: “Maksudnya mengkhususkan
puasa hari Jumat [Muttafaq ‘alaih, lafal dari al-Bukhārī]. ُ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ سَمِعْت ُ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل
.]رواه ابلخاري[ ُ ال َ يَصُومَن َّ أَحَدُكُم ْ يَوْم َ الُْمُعَة ِ إِال َّ يَوْمًا قَبْلَه ُ أَو ْ بَعْدَه
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saya mendengar Nabi
saw bersabda: Janganlah seseorang kamu berpuasa pada hari Jumat, kecuali kamu
berpuasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya [HR al-Bukhārī].
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ و َ سَلَّم َ قَال َ ال َ تَْتَصُّوا ِْ
لَْلَة َ الُْمُعَة ِ بِقِيَام ٍ مِن ْ بَي ِْ اللَّيَال ِ وَال َ تَُصُّوا يَوْم َ الُْمُعَة ِ بِصِيَام ٍ مِن ْ بَي
.]رواه مسلم[ ْ اْألَيَّام ِ إِال َّ أَن ْ يَكُون َ ف ِ صَوْم ٍ يَصُومُه ُ أَحَدُكُم
Dari Abū Hurairah r.a., dari Nabi saw [diriwayatkan bahwa] beliau bersabda:
Janganlah kamu mengkhususkan malam Jumat untuk qiyamul lail di antara malam-
malam yang lain, dan janganlah kamu mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa
di antara hari-hari yang lain, kecuali jika bertepatan dengan puasa yang terbiasa
dilakukan oleh salah seorang di antara kamu” [HR Muslim].
(Maksudnya: seseorang yang terbiasa puasa Dāwūd yang kebetulan jatuh
hari puasanya pada hari Jumat, maka bolehlah baginya berpuasa hari Jumat itu). َ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ قَال َ سَمِعْت ُ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل ُ إِن َّ يَوْم ُ
الُْمُعَة ِ يَوْم ُ عِيد ٍ فَال َ تَْعَلُوا يَوْم َ عِيدِكُم ْ يَوْم َ صِيَامِكُم ْ إِال َّ أَن ْ تَصُومُوا قَبْلَه
.]دحرواه أ[ ُ أَو ْ بَعْدَه
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saya mendengar
Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya hari Jum’ah itu adalah hari raya,
oleh karena itu janganlah kamu jadikan hari rayamu itu hari untuk berpuasa,
kecuali jika kamu berpuasa sebelum atau sesudahnya [HR Aḥmad].
f. Dan janganlah anda mendahului puasa Ramadan dengan berpuasa sehari atau
dua hari, kecuali jika anda terbiasa berpuasa (misalnya: terbiasa puasa Dāwūd
atau Senin-Kamis), berdasarkan dalil: َّ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ ال َ يَتَقَدَّمَن ُ
أَحَدُكُم ْ رَمَضَان َ بِصَوْم ِ يَوْم ٍ أَو ْ يَوْمَي ِْ إِال َّ أَن ْ يَكُون َ رَجُل ٌ كَن َ يَصُوم ُ صَوْمَه
.]ماعة واللفظ للبخاريلرواه ا[ َ فَلْيَصُم ْ ذَلِك َ الَْوْم
Dari Abū Hurairah r.a., dari Nabi saw [diriwayatkan bahwa] ia bersabda: Janganlah
salah seorang di antara kamu mendahului berpuasa sehari atau dua hari menjelang
Ramadan, kecuali jika seseorang terbiasa melakukannya [misalnya: Senin-Kamis atau
puasa Dāwūd], maka berpuasalah pada hari itu [HR Jamaah Ahli Hadis, lafal al-Bukhārī].
C. SALAT JUMAT
Sidang Pleno Musyawarah Nasional Tarjih Ke-26 memutuskan tuntunan salat
Jumat sebagai di bawah ini dengan beberapa catatan sebagai berikut:
-
Hadis Ṭāriq tentang kewajiban Jumat dinilai daif dan karenanya tidak dapat
dijadikan hujjah. -
Kewajiban salat Jumat berlaku bagi setiap mukallaf.
-
Pelaksanaan salat Jumat bagi wanita dan orang yang uzur akan dibahas lebih
lanjut pada Munas yang akan datang.
TUNTUTAN MELAKSANAKAN
SALAT JUMAT -
Dasar Kewajiban Jumat
Setiap muslim yang mukallaf diwajibkan melaksanakan salat Jumat dan dasar
kewajiban salat Jumat tersebut adalah,
يَاأَيُّهَا الَِّيْن َ ءَامَنُوا إِذَا نُودِي َ لِلصَّالَة ِ مِن ْ يَوْم ِ الُْمُعَة ِ فَاسْعَوْا إِل َ ذِكْر ِ الل َِّ وَذَرُوا
.َ َْيْع َ ذَلِكُم ْ خَي ٌْ لَكُم ْ إِن ْ كُنْتُم ْ تَعْلَمُوْنبلا
Wahai orang-orang yang beriman apabila (kalian) diseru untuk menunaikan salat pada
hari Jumat, maka segeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui [QS al-Jumu‘ah (62): 9)]. -
Persiapan Sebelum Salat Jumat
Sebelum menghadiri salat Jumat dituntunkan agar melakukan hal-hal berikut:
a. Mandi (seperti mandi janabah), memakai pakaian yang terbaik dan mengenakan
wangi-wangian jika ada, berdasarkan hadis, ِ
عتهما أّن َّ رَسُوْل َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه للا ضعَن ْ عَبْد ِ الل َِّ ابْن ِ عُمَر َ ر
رواه ابلخارى والرتمذى[ ْ وَسَلَّم َ قَال َ إِذَا جَاء َ أَحَدُكُم ْ الُْمْعَة َ فَلْيَغْتَسِل
.]دحوابن ماجه وأ
Dari ‘Abdullāh Ibn ‘Umar ra [diriwayatkan bahwa] Rasulullah saw bersabda:
Apabila salah seorang di antara kalian akan mendatangi salat Jumat maka
hendaklah ia mandi [HR al-Bukhārī, at-Tirmiżī, Ibn Mājah dan Aḥmad]. َ
صَل ّ الل ََّ عَلَيْه ِوَسَلَّم مَن ِ اغْتَسَل للعَن ْ سَلْمَان َ الْفَارِس ِِّ قَال َ قَال َ رَسُوْل ُ ا َ
ُمْعَة ِ وَتَطَهَّر َ بِمَا اسْتَطَاع َ مِن ْ طُهْرثُم َّ ادَّهَن َ أَو ْ مَس َّ مِن ْ طِيْب ٍ ثُم َّ رَاحليَوْم َ اْ َُ
فَلَم ْ يُفَرِّق بَي َْ اثْنَي ِْ فَصَل َّ مَا كُتِب َ ل َُ ثُم َّ إِذَا خَرَج َ اْإلِمَام ُ أَنْصَت َ غُفِر َ ل
.]دحرواه ابلخارى والنسلىئ وأ[ مَا بَيْنَه ُ وَبَي َْ الُْمْعَة ِ اْألُخْرَى
Dari Salmān al-Fārisī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw pernah
bersabda: Barang Siapa mandi pada hari Jumat dan membersihkan diri sedemikian
rupa, kemudian memakai atau mengenakan wangi-wangian, kemudian berangkat,
lalu kemudian tidak menggeser antara dua orang untuk menyela di antara keduanya,
lalu mengerjakan salat, kemudian ketika imam muncul untuk berkhutbah ia tenang
mendengarkan khutbah, maka diampuni dosanya antara hari Jumat itu dengan
Jumat berikutnya [HR al-Bukhārī, an-Nasā’ī dan Aḥmad].
b. Hendaklah bersegera pergi ke masjid, dan berangkat dengan tenang ْ عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ أَن َّ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ مَن ِ اغْتَسَل َ يَوْم َ الُْمُعَة ِ غُسْل َ الَْنَابَة ِ ثُم َّ رَاح َ فَكَأَنَّمَا قَرَّب َ بَدَنَة ً وَمَن ْ رَاح َ ف َ َِة ِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبثلالسَّاعَة ِ اثلَّانِيَة ِ فَكَأَنَّمَا قَرَّب َ بَقَرَة ً وَمَن ْ رَاح َ ف ِ السَّاعَة ِ اثلَّا ِ كَبْشًا أَقْرَن َ وَمَن ْ رَاح َ ف ِ السَّاعَة ِ الرَّابِعَة ِ فَكَأَنَّمَا قَرَّب َ دَجَاجَة ً وَمَن ْ رَاح َ ف ُ َْامِسَة ِ فَكَأَنَّمَا قَرَّب َ بَيْضَة ً فَإِذَا خَرَج َ اْإلِمَام ُ حَضََت ْ الْمَالَئِكَةخلالسَّاعَة ِ ا .]ماعة إال ابن ماجهلرواه ا[ َ ِّكْرليَسْتَمِعُون َ ا
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] Rasulullah saw bersabda: Barang
Siapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah kemudian berangkat ke tempat
salat Jumat, maka ia mendapat pahala seakan-akan ia berkurban seekor unta; dan
barang siapa berangkat dalam waktu yang kedua, maka seakan-akan ia berkurban
seekor lembu; dan barang siapa berangkat dalam waktu yang ketiga, maka seakan-
akan ia berkurban seekor domba bertanduk; barang siapa berangkat dalam waktu
yang keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam betina; dan barang
siapa berangkat dalam waktu yang kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir
telur. Jika imam telah muncul, maka Malaikat hadir pula untuk mendengarkan
khutbahnya [HR Jamaah Ahli Hadis selain Ibn Mājah]. َ
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ مَن ِ اْغتَسَل َ يَوْم للصَل َّ ا للَّرْدَاء ِ قَال َ قَال َ رَسُوْل ُ العَن ْ أَب ِْ ا ِ
َ الُْمُعَة ِ وَعَلَيْه لِ َن َ عِنْدَه ُ ثُم َّ مَش َ إك ْ ُمُعَة ِ وَلَبِس َ ثِياَبَه ُ وَمَس َّ طِيْبا ً إِنلاْ َ
السَّكِيْنَة ُوًلم َ ْيَتَخَط َّ أَحَدا ًَ وًلم َ ْيُؤْذِه ِ وَرَكَع َ مَا قُض َِ ل َُ ثُم َّ انْتَظَر َ حَت َّ يَنْصَِف
.]دحرواه أ[ ْ اْإلماَم ُ غُفِر َ ل َُ ما َ بَي َْ الُْمُعَتَي
Barang Siapa mandi pada hari Jumat dan memamakai pakaiannya serta mengenakan
wangi-wangian jika ada kemudian berjalan ke tempat salat Jumat dengan tenang
dan [sesampainya di mesjid] tidak melangkahi dan tidak mengganggu seseorang
serta melakukan salat (sunnat) sesanggupnya lalu kemudian menanti sampai imam
selesai salat Jumat, maka diampuni dosa-dosanya yang dilakukan di antara dua
Jumat [HR Aḥmad].
c. Setelah tiba di masjid, hendaklah melakukan salat tahiyatul masjid dua rakaat
(meskipun khatib sudah berkhutbah) kemudian dilanjutkan dengan salat
sekemampuannya (jika tidak terlambat datang). َّ
عَن ْ جَابِر ِ بْن ِ عَبْد ِ الل َِّ قَال َ جَاء َ سُلَيْك ٌ الْغَطَفَان ُِّ يَوْم َ الُْمُعَة ِ وَرَسُول ُ الل َِّ صَل ْ
الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَْطُب ُ فَجَلَس َ فَقَال َ ل َُ يَا سُلَيْك ُ قُم ْ فَارْكَع ْ رَكْعَتَي ِْ وَتََوَّز ِْ
فِيْهِمَا ثُم َّ قَال َ إِذَا جَاء َ أَحَدُكُم ْ يَوْم َ الُْمُعَة ِ وَاْإلِمَام ُ يَْطُب ُ فَلْيَْكَع ْ رَكْعَتَي
.]دحوأ يئرواه ابلخارى ومسلم والرتمذى وأبو داود والنسا[ وَلَْتَجَوَّز ْ فِيْهِمَا
Dari Jābir Ibn ‘Abdullāh [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Sulaik al-Gathafānī
datang pada hari Jumat ketika Rasulullahsaw sedang berkhutba, lalu ia duduk.
Maka Rasulullah saw berkata kepadanya: Wahai Sulaik, berdirilah dan kerjakan
salat dua rakaat dan percepatlah. Kemudian beliau bersabda: Apabila seseorang
kamu datang ke salat Jumat ketika imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia
salat dua rakaat dan hendalklah dipercepat [HR al-Bukhārī, Muslim, at-Tirmiżī,
Abū Dāwūd, an-Nasā’ī dan Aḥmad].
61Himpunan Putusan Tarjih 3َ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ عَن ْ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال َ مَن ْ اغْتَسَل َ ثُم َّ أَت َ الُْمُعَة
فَصَل َّ مَا قُدِّر َ ل َُ ثُم َّ أَنْصَت َ حَت َّ يَفْرُغ َ مِن ْ خُطْبَتِه ِ ثُم َّ يُصَل ِّ مَعَه ُ غُفِر َ ل َُ مَا
رواه مسلم والرتمذى وأبو[ ٍ بَيْنَه ُ وَبَي َْ الُْمُعَة ِ اْألُخْرَى وَفَضْل ُ ثَالَثَة ِ أَيَّام
.]دحداود وابن ماجه وأ
Dari Abū Hurairah, dari Nabi saw [diriwayatkan bahwa] ia bersabda: Barang
siapa mandi, kemudia mendatangi salat Jumat, lalu mengerjakan salat (sunnat)
seberapa kemampuannya, lalu tenang mendengarkan khutbah sampai imam selesai
berkhutbah, kemudian mengerjakan salat Jumat bersama imam, diampuni dosa-
dosanya antara hari Jumat itu dan Jumat berikutnya serta tambahan tiga hari [HR
Muslim, at-Tirmiżī, Abū Dāwūd, Ibn Mājah dan Aḥmad].
d. Orang yang datang terlambat, hendaklah tidak menggangu anggota jamaah yang
sudah datang lebih awal, berdasarkan hadis, ُ
عَن ْ أَب ِْ أَيُّوب َ اْألَنْصَارِي ِّ قَال َ سَمِعْت ُ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل ِ
مَن ْ اغْتَسَل َ يَوْم َ الُْمُعَة ِ وَمَس َّ مِن ْ طِيب ٍ إِن ْ كَن َ عِنْدَه ُ وَلَبِس َ مِن ْ أَحْسَن َ
ثِيَابِه ِ ثُم َّ خَرَج َ حَت َّ يَأْت َِ الْمَسْجِد َ فَيَْكَع َ إِن ْ بَدَا ل َُ وَلَم ْ يُؤْذ ِ أَحَدًا ثُم َّ أَنْصَت
.]دحرواه أ[ ِ إِذَا خَرَج َ إِمَامُه ُ حَت َّ يُصَل َِّ كَنَت ْ كَفَّارَة ً لِمَا بَيْنَهَا وَبَي َْ الُْمُعَة
Dari Abū Ayyūb al-Anshārī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Aku mendengar
Rasulullah saw bersabda: Barang siapa mandi pada hari Jumat dan mengenakan
wangi-wangian bila ada, dan memakai pakaiann yang terbaik, kemudiaqnn
keluar dengan tenang hingga sampai ke mesjid, lalu mengerjakan salat (suannat)
jika ia mengingininya, dan ia tidak mengganggu orang lain kemudian tenang
mendengarkan khutbah imam sejak ia datang hingga mengerjakan salat (Jumat),
maka yang demikian itu menjadi pembebas dosanya antara hari Jumat itu dan
Jumat berikutnya [HR Aḥmad].
e. Apabila khatib sudah mulai menyampaikan khutbahnya, hendaklah setiap jamaah
diam dengan penuh kekhusyukan sembari memperhatikan khutbah dengan
sungguh-sungguh (tidak berbicara, bercanda atau mengganggu konsentrasi)
sampai khatib selesai khutbahnya, berdasarkan hadis Aḥmad tersebut pada
angka 4 di atas.
3. Tata Cara Melaksanakan Salat Jumat
a. Salat Jumat dimulai pada saat masuk waktu salat Zuhur. Pada saat itu khatib
naik mimbar dan berdiri seraya mengucapkan salam, berdasarkan hadis,
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah62 ِّ
عَن ْ أَنَس ِ بْن ِ مَالِك ٍ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ يُصَل
.]دحرواه ابلخارى والرتمذى وأبو داود وأ[ ُ َ تَمِيل ُ الشَّمْس يالُْمُعَة َ حِ
Dari Anas Ibn Mālik r.a. [diriwayatkan] bahwa Nabi saw salat Jumat ketika
matahari condong (tergelincir) [HR al-Bukhārī, at-Tirmiżī, Abū Dāwūd dan Aḥmad] ََ
عَن ْ جَابِر ِ بْن ِ عَبْد ِ الل َِّ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ إِذَا صَعِد َ الْمِنْب
.]رواه ابن ماجه[ َ سَلَّم
Dari Jābir Ibn ‘Abdullāh [diriwayatkan] bahwa Nabi saw mengucapkan salam
apabila Naik mimbar [HR Ibn Mājah].
b. Setelah mengucapkan salam, khatib duduk dan muazzin mengumandangkan
azan hingga selesai, berdasarkan hadis, ََ
ُمُعَة ِ أَوَّل ُُ إِذَا جَلَس َ اْإلماَم ُ علَن َ انلِّداَء ُ يَوْم َ اْك َ عَن ِ السَّائِب ِ بْن ِ يَزِيْد َ قَال
للعَلَيْه ِ وَسَلَّم َوَأَب ِْ بَكْر ٍ وَعُمَر َ رَض َِ ا للاْلمِنْب َِ ع ََ عَهْد ِ انلَّب ِِّصَل َّ ا ََ
عَنْه ُ وَكَث َُ انلَّاس ُ زَاد َ انلِّداَء َ اثلَّالِث َ ع للعَنْهُما َ فَلَما َّ كَن َ عُثْماَن ُ رَض َِ ا
.]رواه ابلخاري والنسايئ وأبو داود[ ُ الزَّوْراَء
Dari as-Sā’ib Ibn Yazīd r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah seruan azan
pertama pada masa Nabi saw, Abū Bakar dan Umar r.a. dilakukan ketika imam telah
duduk di atas mimbar. Ketika tiba masa Usman r.a. dan orang bertambah banyak,
maka beliau menambah azan ketiga yang dilakukan di atas az-Zaurā’. Pada masa
Nabi saw hanya ada seorang muazzin [HR al-Bukhārī, an-Nasā’ī dan Abū Dāwūd].
[Catatan Majelis Tarjih: Dikatakan seruan azan ketiga karena azan pertama
ketika imam duduk di atas mimbar dan iqamah ketika hendak salat Jumat
dikatakann sebagai dua seruan, sehingga seruan azan tambahan Usman dikatakan
seruan azan ketiga. Tarjih mengamalkan apa yang dipraktikkan oleh Rasulullah,
yaitu azan satu kali ketika imam duduk di atas mimbar].
c. Khatib mengawali (membuka) khutbahnya dengan mengucapkan pujian,
membaca syahadat, salawat kepada Nabi saw, membaca beberapa ayat al-Quran
kemudian menyampaikan taushiyah. ِ
عَن ْ جَابِر ِ بْن ِ عَبْد ِ الل َِّ قَال َ كَن َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل ُ ف َّ
خُطْبَتِه ِ يَْمَد ُ الل ََّ وَيُثْن ِ عَلَيْه ِ بِمَا هُو َ أَهْلُه ُ ثُم َّ يَقُوْل ُ مَن ْ يَهْدِه ِ الل َُّ فَال مُضِل ِ
ل َُ وَمَن ْ يُضْلِلْه ُ فَال هَادِي َ ل َُ إِن َّ أَصْدَق َ الَْدِيث ِ كِتَاب ُ الل َِّ وَأَحْسَن َ الْهَدْي
63Himpunan Putusan Tarjih 3ُُّ
هَدْي ُ مَُمَّد ٍ وَش َُّ اْألُمُوْر ِ مُْدَثَاتُهَا وَك ُُّ مُْدَثَة ٍ بِدْعَة ٌ وَك ُُّ بِدْعَة ٍ ضَالَلَة ٌ وَك
.]رواه الرتمذي[ ِ َلَة ٍ ف ِ انلَّارالضَ
Dari Jābir Ibn ‘Abdullāh [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah
saw dalam khutbahnya memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya,
kemudian mengatakan: Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada
yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkannya, maka tidak
ada yang dapat memberinya petunjuk; sesungguhnya ucapan paling benar adalah
Kitab Allah dan petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-
buruk perkara adalah hal-hal yang dibuat-buat (diada-adakan), dan setiap hal
yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah kesesatan dan setiap
kesesatan tempatnya di dalam neraka [HR at-Tirmiżī]. َ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ك ُُّ خُطْبَة ٍ لَيْس
.]دحرواه الرتمذى وأبو داود وأ[ ِ فِيهَا تَشَهُّد ٌ فَه َِ كَلَْد ِ الَْذْمَاء
Dari Abū Hurairah r.a.[diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
Setiap khutbah yang di dalamnya tidak ada tasyahhud (ucapan syahadat) adalah
seperti tangan yang buntung [HR at-Tirmiżī, abū Dāwūd dan Aḥmad].ُ
َن َ يُواَظِبك َ ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم للُ عَنْه ُ أَنَّه ُ صَل َّ ا للعَن ْ جَابِر ِ بْن ِ سَمُرَة َ رَض َِ ا
.]ِرواه مسلم[ ِ َّقْوَى ف ِ خُطْبَتِهلع ََ اْلوَصِيَّة ِ بِا
Dari Jābir Ibn Samurah r.a. [diriwayatkan] bahwasanya Nabi saw selalau
membiasakan memberi pesan (taushiah) supaya bertakwa dalam khubahnya [HR
Muslim]. ُ
عَن ْ جَابِر ِ بْن ِ سَمُرَة َ قَال َ كَنَت ْ لِلنَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ خُطْبَتَان ِ يَْلِس
.]رواه مسلم[ َ بَيْنَهُمَا يَقْرَأ ُ الْقُرْآن َ وَيُذَكِّر ُ انلَّاس
Dari Jābir Ibn Samurah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Nabi saw
melakukan dua khutbah yang di antara dua khutbah itu ia duduk. Beliau 9dalam
khutbahnya) membaca al-Quran dan memberi pesan (peringatan) kepada jama’ah
[HR Muslim].
d. Setelah khutbah pertama selesai, khatib duduk sebentar (tidak ada doa khusus
antara dua khutbah) kemudian berdiri kembali untuk menyampaikan khutbah
kedua. ُ
عَن ْ ابْن ِ عُمَر َ رَض َِ الل َُّ عَنْهُمَا قَال َ كَن َ انلَّب ُِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَْطُب
يئرواه ابلخارى ومسلم والنسا[ َ قَائِمًا ثُم َّ يَقْعُد ُ ثُم َّ يَقُوم ُ كَمَا تَفْعَلُون َ اْآلن
.]دحوالرتمذى وأبو داود وأ
Dari Ibn ‘Umar r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Nabi saw berkhutbah
dengan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri lagi sebagaimana kamu lakukan
sekarang [HR al-Bukhārī, Muslim, at-Tirmiżī, abū Dāwūd dan Aḥmad].
e. Khutbah kedua diakhiri dengan dengan doa dan penutup khutbah. Dan ketika
berdoa diperbolehkan untuk mengacungkan jari telunjuknya. َ
عَن ْ حُصَي ِْ بْن ِ عَبْد ِ الرَّحَْن ِ السُّلَم ِِّ قَال َ كُنْت ُ إِل َ جَنْب ِ عِمَارَة َ بْن ِ رُوَيْبَة ِ
وَبِش ٌْ يَْطُبُنَا فَلَمَّا دَع َ رَفَع َ يَدَيْه ِ فَقَال َ عِمَارَة ُ يَعْن ِ قَبَّح َ الل َُّ هَاتَي ِْ الَْدَيْن
أَو ْ هَاتَي ِْ الُْدِيَّتَي ِْ رَأَيْت ُ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ وَهُو َ يَْطُب ُ إِذَا
يئرواه مسلم والرتمذى والنسا[ دَع َ يَقُوْل ُ هَكَذَا وَرَفَع َ السَّبَّابَة َ وَحْدَهَا
.]مارلد واحوأ
Dari Hushain Ibn ‘Abd ar-Rahman as-Sulami [diriwayatkan bahwa]ia berkata: suatu
ketika aku duduk di samping ‘Imarah Ibn Ruwaibah, sementara Bisyr berkhutbah
di depan kami. Ketika ia berdoa, ia mengangkat kedua tangannya. Lalu ‘Imārah
berkata: Allah menjelekkan kedua tangan ini —atau kedua tangan kecil ini—. Saya
melihat Rasulullah saw ketika berkhutbah mengucapkan doa begini, dan ‘Imarah
mengangkat hanya jari telunjuk saja [HR Muslim, at-Tirmiżī, an-Nasā’ī, Aḥmad
dan ad-Dārimī].
f. Setelah selesai berdoa khatib turun dari mimbar, kemudian muazin
mengumandangkan iqomah untuk pelaksanaan salat Jumat. َُّ
عَن ْ السَّائِب ِ بْن ِ يَزِيد َ قَال َ كَن َ بِالَل ٌ يُؤَذِّن ُ إِذَا جَلَس َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل ِْ
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ع ََ الْمِنْب َِ يَوْم َ الُْمُعَة ِ فَإِذَا نَزَل َ أَقَام َ ثُم َّ كَن َ كَذَلِك َ ف ِ زَمَن ِ أَب
.]وابن ماجه يئالنسا( بَكْر ٍ وَعُمَر َ رَض َِ الل َُّ عَنْهُمَا
Dari as-Sā’ib Ibn Yazīd [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Bilal azan ketika
Rasulullah saw duduk di atas mimbar pada hari Jumat; apabila beliau turun [dari
mimbar sesudah selesai khutbah], Bilal melakukan iqamah. Demikianlah pula yang
dilakukan di zaman Abū Bakar dan ‘Umar r.a. [HR an-Nasā’ī dan Ibn Mājah].
g. Khutbah yang disampaikan oleh khatib hendaklah tidak terlalu lama (panjang).
Atau dengan kata lain salatnya hendaklah lebih lama dari khutbahnya.
65Himpunan Putusan Tarjih 3ُ
عَن ْ عَمَّار ِ بْن ِ يَاس ٍِ قَال َ إِن ِّ سَمِعْت ُ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل
إِن َّ طُول َ صَالَة ِ الرَّجُل ِ وَقِص ََ خُطْبَتِه ِ مَئِنَّة ٌ مِن ْ فِقْهِه ِ فَأَطِيلُوا الصَّالَة َ وَاقْصُُوا
.]دحرواه مسلم وأ[ َْيَان ِ سِحْرًابلَ ِإَون َّ مِن ْ ا ُْطْبَةخلا
Dari ‘Ammār Ibn Yāsir [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Sesungguhnya aku
mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesunggunguhnya panjangnya salat
dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang
tentang agama. Oleh karena itu panjangkanlah salat dan persingkatlah khutbah;
sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik [HR Muslim dan Aḥmad].
h. Kemudian lakukanlah salat dua rakaat dan diupayakan dalam pelaksanaannya
lebih lama dari khutbahnya. ِ
عَن ْ عُمَر َ رَض َِ الل َُّ عَنْه ُ قَال َ صَالَة ُ السَّفَر ِ رَكْعَتَان ِ وَصَالَة ُ اْألَضْح َ رَكْعَتَان ِ
وَصَالَة ُ الْفِطْر ِ رَكْعَتَان ِ وَصَالَة ُ الُْمُعَة ِ رَكْعَتَان ِ تَمَام ٌ غَي ُْ قَص ٍْ ع ََ لِسَان
.]دحوابن ماجه وأ يئرواه النسا[ َ مَُمَّد ٍ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
Dari ‘Umar r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Salat safar adalah dua rakaat,
salat Idul Adha dua rakaat, salat Idul Fitri dua rakaat, dan salat Juamat dua rakaat
berdasarkan ucapan Muhammad saw [HR an-Nasā’ī, Ibn Mājah, Aḥmad].
i. Bacaan surat yang biasa dibaca oleh Nabi saw pada salat Jumat adalah surat
al-A‘lā dan al-Gāsyiyah atau surat al-Jum‘ah dan al-Munāfiqūn. ِ
ٍ قَال َ كَن َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقْرَأ ُ ف يعَن ْ انلُّعْمَان ِ بْن ِ بَشِ َ
َْع َْ وَهَل ْ أَتَاك َ حَدِيث ُ الْغَاشِيَة ِ قَالألالْعِيْدَيْن ِ وَف ِ الُْمُعَة ِ بِسَبِّح ِ اسْم َ رَبِّك َ ا
رواه[ ِْ ِإَوذَا اجْتَمَع َ الْعِيد ُ وَالُْمُعَة ُ ف ِ يَوْم ٍ وَاحِد ٍ يَقْرَأ ُ بِهِمَا أَيْضًا ف ِ الّصَالَتَي
.]دحوأبو داود وأ يئوالنسا لمسلم والرتمذ
Dari an-Nu‘mān Ibn Basyīr [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah
saw dalam salat dua hari raya dan salat Jumat membaca sabbihisma rabbikal-a‘lā
dan hal atāka ḥadītsul-ghāsyiyah. An- Nu‘mān berkata lagi: apabila salat hari raya
dan salat Jumat jatuh pada hari yang sama, beliau juga membaca kedua surat itu
dalam kedua salat dimaksud [HR Muslim, at-Tirmiżī, an-Nasā’ī, Abū Dāwūd dan
Aḥmad].
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah66 ِ
عَن ْ ابْن ِ عَبَّاس ٍ أَن َّ رَسُول َ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ يَقْرَأ ُ يَوْم َ الُْمُعَة ِ
ِْنْسَان ِ وَف ِ صَالَة ِ الُْمُعَة ِ بِسُورَةإلف ِ صَالَة ِ الصُّبْح ِ الم تَنِْيل ُ و َ هَل ْ أَت َ ع ََ ا
.]دحوأ يئرواه مسلم والنسا[ َ يالُْمُعَة ِ وَالْمُنَافِقِ
Dari Ibn ‘‘Abbās [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw pada hari Jumat dalam
salat subuh membaca Aliflāmmīm. Tanzīlu … dan Hal atā ‘lāl-insāni; dan dalam
salat Jumat membaca surat al-Jumu‘ah dan surat al-Munāfiqīn [HR Muslim, an-
Nasā’ī, dan Aḥmad].
j. Setelah selesai melaksanakan salat Jumat dan zikir, kemudian lakukanlah salat
sunnat setelah salat Jumat 2 raka’at atau 4 rakaat, ِ
عَن ِ ابْن ِ عُمَر َ قَال َ كَن َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يُصَل ِّ بَعْد َ الُْمُعَة
.]دحرواه أ[ِرَكْعَتَي ِْ ف ِ بَيْتِه
Dari Ibn ‘Umar [diriwayatkan bahwa] ia berkata: adalah Rasulullah saw
mengerjakan salat salat (sunnat) dua rakaat di rumahnya sesudah salat Jumat
[HR Aḥmad]. ْ
عَن ْ أَب ِْ هُرَيْرَة َ قَال َ قَال َ رَسُول ُ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ إِذَا صَل َّ أَحَدُكُم
.]رواه مسلم[ الُْمُعَة َ فَلْيُصَل ِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw telah
bersabda: Apabila seseorang kamu melakukan salat Jumat, maka hendaklah ia
mengerjakan salat (sunnat) empat rakaat sesudahnya [HR Muslim].
4. Salat Jumat Pada Hari Raya
Apabila hari raya (Idul Fithri atau Idul Adha) jatuh pada hari Jumat, maka
bagi orang yang telah melakukn salat Id boleh tetap melakukan salat Jumat atau
melakukan salat Zuhur sebagai ganti dari salat Jumat. ُ
عَن ْ إِيَاس ِ بْن ِ أَب ِْ رَمْلَة َ الشَّام ِِّ قَال َ شَهِدْت ُ مُعَاوِيَة َ بْن َ أَب ِْ سُفْيَان َ وَهُو َ يَسْأَل
زَيْد َ بْن َ أَرْقَم َ قَال َ أَشَهِدْت َ مَع َ رَسُول ِ الل َِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ عِيدَيْن ِ اجْتَمَعَا ْ
ف ِ يَوْم ٍ قَال َ نَعَم ْ قَال َ فَكَيْف َ صَنَع َ قَال َ صَل َّ الْعِيْد َ ثُم َّ رَخَّص َ ف ِ الُْمُعَة ِ فَقَال َ مَن
.]وابن ماجه وأبو داود يئرواه النسا[ ِّ شَاء َ أَن ْ يُصَل َِّ فَلْيُصَل
Dari Iyās Ibn Abī Ramlah asy-Syāmī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saya menyaksikan
Mu‘awiyah Ibn Abī Sufyān ketika bertanya kepada Zaid Ibn Tsābit, katanya:
Apakah engkau pernah menghadiri salat dua gari raya bersama Rasululah saw di
mana kedua hari raya itu jatuh pada hari Jumat? Zaid menjawab: Ya. Mu‘awiyah
bertanya lagi: Bagaimana tindakan Rasulullah? Zaid menjawab: Beliau salat
Jumat, kemudian memberi rukhsah (dispensasi) untuk tidak menghadiri Jumat di
mana beliau bersabda: Barang siapa yang mau salat (Jumat), silahkan salat [HR
an-Nasā’ī, Ibn Mājah dan Abū Dāwūd].
D. MERAWAT JENAZAH
Menerima hasil keputusan Sidang Pleno Musyawarah Nasional Tarjih ke-26
dengan beberapa catatan sebagai berikut:
- Tuntunan merawat jenazah dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) dengan
dalil-dalinya dapat diterima. Hanya saja pada bagian Kaifiyyatut-Tajhiz (h. 227)
sesudah kata-kata ثم إذا مات فـ [Kemudia bila ia meninggal, maka] dan sebelum
غمضوا [pejamkanlah] ditambahkan قولوا إنا هلل وإنا إيله راجعون (6-أ) و [ucapkanlah
innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn (6a) dan …] sehingga teksnya secara lengkap
berbunyi : ثم إذا مات فقولوا إنا هلل وإنا إيله راجعون (6-أ) وغمضوا ... . Dalil 6a adalah,
.َ َِِّ ِإَونَّا إِلَْه ِ رَاجِعُون لل الَِّيْن َ إِذَا أَصَابَتْهُم ْ مُصِيبَة ٌ قَالُوا إِنَّا
(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Innā
lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn [QS Al-Baqarah: 156]. َِّ
عَن ْ أُم ِّ سَلَمَة َ زَوْج ِ انلَّب ِِّ صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قاَلَت ْ سَمِعْت ُ رَسُول َ الل
َِِّ ِإَونَّا لل صَل َّ الل َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُوْل ُ مَا مِن ْ عَبْد ٍ تُصِيْبُه ُ مُصِيْبَة ٌ فَيَقُوْل ُ إِنَّا َُّ
إِلَْه ِ رَاجِعُون َ اللَّهُم َّ أْجُرْن ِْ ف ِْ مُصِيْبَت ِْ وَأخْلِف ْ ل ِْ خَيًْا مِنْها َ إِال َّ أَجَرَه ُ الل
.]رواه مسلم[ َ ف ِْ مُصِيْبَتِه ِ وَأَخْلَف َ ل َُ خَيًْا مِنْها
Dari Ummu Salamah, istri Nabi saw, [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah saw bersabda: Tiadalah seorang hamba tertimpa musibah,
lalu ia mengatakan ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn, allāhumma’jurnī fī mushībatī
wa akhlif lī khairan minhā [Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kita akan
kembali kepada-Nya, Ya Allah berilah aku pahala atas kesabaran dalam musibah
ini, dan berilah aku kebaikan sesudahnya], melainkan Allah akan memberinya
pahala atas kesabarannya menghadapi musibah itu dan akan memberinya kebaikan
sesudah musibah tersebut [HR Muslim]. - Hadis mengenai tata cara salat janazah sebagaimana tertuang dalam Himpunan
Putusan Tarjih (HPT) dalil ke 28 halaman 228 dapat ditarik dua pemahaman.
a. Setelah takbir pertama membaca al-Fatihah dan Salawat.
b. Setelah takbir pertama cukup membaca al-Fatihah sedangkan Salawat
dibaca setelah takbir kedua. Kedua-duanya dapat diamalkan sebagai bentuk
tanawwu’ al-Ibadah.•

