putusan
KITAB SHALAT BAGIAN 09 TUNTUNAN SALAT LIMA WAKTU
KITAB SHALAT
09 TUNTUNAN SALAT LIMA WAKTU
TUNTUNAN SALAT LIMA WAKTU
KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL TARJIH KE-29 PERTAMA:
TUNTUNAN SALAT LIMA WAKTU.
A. Pengertian dan Dasar Hukum Salat Lima Waktu
1. Pengertian Salat
Kata salat, jamaknya salawat, secara bahasa berarti doa. Kata ṣalli dan ṣalātaka
dalam firman Allah وَﺻَلِّ ﻋَﻠَﯾْﮭِمْ إِنﱠ ﺻَﻼَﺗَكَ ﺳَﻛَنٌ ﻟَﮭُمْ [QS 9: 103] berarti doa. Ayat itu secara
lengkap terjemahannya adalah “... dan berdoalah engkau untuk mereka; sesungguhnya doamu akan menjadi ketenangan bagi mereka.” Ibn al-A‘rabī mengatakan bahwa salawat dari Allah berarti rahmat dan dari malaikat berarti istigfar. Ada pula pendapat bahwa salawat dari Allah berarti pujian yang baik.237 Adapun menurut istilah syar‘i salat adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul-ihram dan diakhiri dengan salam disertai syarat-syarat tertentu.238
2. Dasar Hukum Salat Fardu Lima Waktu
Salat adalah rukun Islam kedua dan hukumnya wajib dilaksanakan. Salat yang wajib dilaksanakan itu adalah salat rutin lima waktu, yaitu salat Subuh dua rakaat, salat Zuhur empat rakaat, salat Asar empat rakat, salat Magrib tiga rakaat dan salat Isya empat rakaat. Dasar hukum diwajibkannya salat adalah al-Quran dan Sunnah Nabi saw antara lain:
a. Firman Allah,
وَأَﻗِﯾﻣُوا اﻟﺻﱠﻼةَ وَءَاﺗُوا اﻟزﱠﻛَﺎةَ وَأَطِﯾﻌُوا اﻟرﱠﺳُولَ ﻟَﻌَﻠﱠﻛُمْ ﺗُرْﺣَﻣُونَ ]اﻟﻧور: 56
[. Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu mendapat rahmat [QS An-Nur(24): 56].
أَﻗِمِ اﻟﺻﱠﻼَةَ ﻟِدُﻟُوكِ اﻟﺷﱠﻣْسِ إِﻟَﻰ ﻏَﺳَقِ اﻟﻠﱠﯾْلِ وَﻗُرْآنَ اﻟْﻔَﺟْرِ إِنﱠ ﻗُرْآنَ اﻟْﻔَﺟْرِ ﻛَﺎنَ ﻣَﺷْﮭُودًا ]٨٧ :ءارﺳﻹا[.
237Az-Zabidi, Tājul-‘Arūs min Jawāhir al-Qāmūs (Kuwait: Maṭbaat Ḥukūmat al-Kuwait, 1422/2001), XXXVIII: 437-438. 238 Al-Jazīrī, al-Fiqh ‘alā al-Mażāhib al-Arba‘ah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1427/2006), h. 94.
Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh Malaikat) [QS Al-Isra’ (17): 78].
b. Hadis Nabi saw,
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ رَﺿِﻰَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮭُﻣﺎَ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺑُﻧِﻰَ اﻹِﺳْﻼَمُ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻣْسٍ ﺷَﮭَﺎدَةِ أَنْ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ االلهﱠُ وَأَنﱠ ﻣُﺣَﻣﱠدًا رَﺳُولُ االلهﱠِ وَإِﻗَﺎمِ اﻟﺻﱠﻼَةِ وَإِﯾﺗَﺎءِ اﻟزﱠﻛَﺎةِ وَاﻟْﺣَﺞِّ وَﺻَوْمِ رَﻣَﺿَﺎنَ ]ﻣﺗﻔق ﻋﻠﯾﮫ[.
Dari Ibn ‘Umar r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Islam dibangun atas lima dasar, yaitu kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan salat, membayar zakat, menunaikan haji, dan berpuasa Ramadan [Muttafaq alaih].
c. Hadis Nabi saw,
ﻋن طَﻠْﺣَﺔَ ﺑْنَ ﻋُﺑَﯾْدِ االلهﱠِ ﻗﺎل ﺟَﺎءَ رَﺟُلٌ إِﻟَﻰ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻣِنْ أَھْلِ ﻧَﺟْدٍ ﺛَﺎﺋِرُ اﻟرﱠأْسِ ﯾُﺳْﻣَﻊُ دَوِىﱡ ﺻَوْﺗِﮫِ وَﻻَ ﯾُﻔْﻘَﮫُ ﻣَﺎ ﯾَﻘُولُ ﺣَﺗﱠﻰ دَﻧَﺎ ﻓَﺈِذَا ھُوَ ﯾَﺳْﺄَلُ ﻋَنِ اﻹِﺳْﻼَمِ ﻓَﻘَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺧَﻣْسُ ﺻَﻠَوَاتٍ ﻓِﻰ اﻟْﯾَوْمِ وَاﻟﻠﱠﯾْﻠَﺔِ ﻓَﻘَﺎلَ ھَلْ ﻋَﻠَﻰﱠ ﻏَﯾْرُھَﺎ ﻗَﺎلَ ﻻَ إِﻻﱠ أَنْ ﺗَطَوﱠعَ ... ]ﻣﺗﻔق ﻋﻠﯾﮫ[.
Dari Ṭalḥah Ibn ‘Ubaidillāh [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Ada seorang lelaki dari penduduk Najad datang kepada Rasulullah saw dengan rambut kusut, terdengar gema suaranya tetapi tidak dapat difahami apa yang ia ucapkan sampai ia mendekat. Lalu ia tiba- tiba bertanya tentang Islam. Rasulullah saw menjawab: [Diwajibkan] lima salat sehari semalam. Lalu ia bertanya lagi: Apakah ada kewajiban bagiku selainnya? Rasulullah saw menjawab: Tidak, yang ada adalah salat sunat ... [Muttafaq alaih].
B. Persiapan untuk Salat
Setiap orang yang hendak mengerjakan salat terlebih dahulu hendaklah ia memperhatikan hal-hal berikut: 1. mengetahui telah masuknya waktu salat, 2. menutup aurat, 3. berada dalam keadaan suci badan, pakaian, dan tempat salat dari najis, 4. berada dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun hadas besar.
1. Mengetahui Masuknya Waktu Salat
Salat fardu adalah ibadah mahdah (khusus) yang dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Oleh karena itu salat harus dilakukan pada waktu yang ditentukan itu dan tidak sah dilakukan di luar waktunya. Di dalam al-Quran ditegaskan,
إِنﱠ اﻟﺻﱠﻼَةَ ﻛَﺎﻧَتْ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻣُؤْﻣِﻧِﯾنَ ﻛِﺗَﺎﺑًﺎ ﻣَوْﻗُوﺗًﺎ ]اﻟﻧﺳﺎء: 103
[.
Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman [QS 3: 103].
Adapun orang yang lupa atau tertidur sehingga terlewatkan waktu salat tertentu, maka ketika ingat atau terbangun dari tidurnya hendaklah ia segera mengerjakan salat yang terlewatkan waktunya itu karena baginya saat ingat atau bangun itulah waktu mengerjakan salat yang terlewatkan tersebut sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi saw,
ﻋَنْ أَﻧَسِ ﺑْنِ ﻣَﺎﻟِكٍ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ ﻣَنْ ﻧَﺳِﻰَ ﺻَﻼَةً ﻓَﻠْﯾُﺻَﻠِّﮭَﺎ إِذَا ذَﻛَرَھَﺎ ﻻَ ﻛَﻔﱠﺎرَةَ ﻟَﮭَﺎ إِﻻﱠ ذَﻟِكَ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Anas Ibn Mālik [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw bersabda: Barang siapa lupa mengerjakan salat, maka hendaklah ia mengerjakannya ketika sudah ingat. Tidak ada kafarat (tebusan atau denda) baginya kecuali yang demikian itu [HR Muslim].
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ﻗَﺗَﺎدَةَ ﻗَﺎلَ ذَﻛَرُوا ﻟِﻠﻧﱠﺑِﻰِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻧَوْﻣَﮭُمْ ﻋَنِ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﻘَﺎلَ إِﻧﱠﮫُ ﻟَﯾْسَ ﻓِﻰ اﻟﻧﱠوْمِ ﺗَﻔْرِﯾطٌ إِﻧﱠﻣَﺎ اﻟﺗﱠﻔْرِﯾطُ ﻓِﻰ اﻟْﯾَﻘَظَﺔِ ﻓَﺈِذَا ﻧَﺳِﻰَ أَﺣَدُﻛُمْ ﺻَﻼَةً أَوْ ﻧَﺎمَ ﻋَﻧْﮭَﺎ ﻓَﻠْﯾُﺻَﻠِّﮭَﺎ إِذَا ذَﻛَرَھَﺎ ]رواه اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ[.
Dari Abū Qatādah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Beberapa Sahabat melaporkan kepada Nabi saw tentang mereka ketiduran [sehingga terlewatkan] mengerjakan salat. Lalu Nabi saw bersabda: Sesungguhnya tidak ada kelalaian dalam tidur. Kelalaian itu ada ketika tidak tidur. Apabila seseorang diantara kamu lupa mengerjakan salat atau tertidur sehingga terlewatkan salatnya, maka hendaklah ia melakukannya saat ia ingat [HR an-Nasā’ī].
Oleh karena itu setiap orang yang hendak mengerjakan salat harus mengetahui waktu salat agar tidak terjadi salat di luar waktunya.
2. Menutup Aurat
Setiap orang yang hendak mengerjakan salat, wajib menutup aurat dan tidak sah salatnya dengan aurat terbuka. Dasarnya antara lain firman Allah swt,
ﯾَﺎﺑَﻧِﻲ ءَادَمَ ﺧُذُوا زِﯾﻧَﺗَﻛُمْ ﻋِﻧْدَ ﻛُلِّ ﻣَﺳْﺟِدٍ وَﻛُﻠُوا وَاﺷْرَﺑُوا وَﻻَ ﺗُﺳْرِﻓُوا إِﻧﱠﮫُ ﻻَ ﯾُﺣِبﱡ اﻟْﻣُﺳْرِﻓِﯾنَ ]اﻷﻋراف: 31
[. Hai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berlebih-lebihan [QS Al-A’raf(7): 31].
Yang dimaksud oleh ayat ini adalah agar setiap orang ketika masuk masjid, artinya melakukan ibadah termasuk salat, tawaf dan iktikaf hendaklah menutup auratnya.239
Dalam hadis-hadisnya Nabi saw memerintahkan agar perempuan yang sudah dewasa menutup auratnya dalam salat, antara lain:
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ ﻻَ ﯾَﻘْﺑَلُ االلهﱠُ ﺻَﻼَةَ ﺣَﺎﺋِضٍ إِﻻﱠ ﺑِﺧِﻣَﺎرٍ ]رواه أﺣﻣد[.
Dari ‘Ā’isyah [diriwayatkan] bahwa Nabi saw bersabda: Allah tidak menerima salat wanita yang sudah haid (maksudnya sudah dewasa) tanpa penutup aurat [HR Aḥmad].
3. Suci Badan, Pakaian, dan Tempat Salat dari Najis
Apabila seseorang akan mengerjakan salat hendaknya ia memastikan bahwa badan, pakaian dan tempat salatnya suci dari najis hissiah (tampak). Hal ini tentu wajar saja karena salat itu adalah komunikasi dengan Allah swt yang mencintai orang-orang yang mensucikan diri [QS Al-Baqarah (2): 222]. Oleh karena itu orang yang menghadap-Nya tentu selayaknya dalam keadaan bersih dan suci. Dalil yang melandasinya antara lain sebagai berikut: 1) Firman Allah,
وَﺛِﯾَﺎﺑَكَ ﻓَطَﮭِّرْ ]اﻟﻣدﺛر: 4[.
... dan pakaianmu bersihkanlah [QS Al-Muddatstsir (74): 4].
- Hadis Jābir,
ﻋَنْ ﺟَﺎﺑِرِ ﺑْنِ ﺳَﻣُرَةَ ﻗَﺎلَ ﺳَﺄَلَ رَﺟُلٌ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أُﺻَﻠِّﻰ ﻓِﻰ اﻟﺛﱠوْبِ اﻟﱠذِى آﺗِﻰ ﻓِﯾﮫِ أَھْﻠِﻰ ﻗَﺎلَ ﻧَﻌَمْ إِﻻﱠ أَنْ ﺗَرَى ﻓِﯾﮫِ ﺷَﯾْﺋﺎً ﻓَﺗَﻐْﺳِﻠَﮫُ]رواه أﺣﻣد[.
239 Ibn Rajab, Fatḥ al-Bārī (Madinah: Maktabat al-Gurabā’ al-Aṡariyyah, 1417/1996), II: 335.
Dari Jābir Ibn Samurah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw: Apakah aku boleh salat dengan pakaian yang aku pakai ketika berhubungan badan dengan isteriku? Nabi saw menjawab: Ya (boleh), kecuali apabila engkau melihat ada sesuatu (najis) padanya, maka basuhlah [HRAḥmad].
- Hadis ‘Ā’isyah,
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ ﻗَﺎﻟَتْ ﺟَﺎءَتْ ﻓَﺎطِﻣَﺔُ ﺑِﻧْتُ أَﺑِﻲ ﺣُﺑَﯾْشٍ إِﻟَﻰ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎﻟَتْ ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ إِﻧِّﻲ اﻣْرَأَةٌ أُﺳْﺗَﺣَﺎضُ ﻓَﻼَ أَطْﮭُرُ أَﻓَﺄَدَعُ اﻟﺻﱠﻼَةَ ﻓَﻘَﺎلَ ﻻَ إِﻧﱠﻣَﺎ ذَﻟِكِ ﻋِرْقٌ وَﻟَﯾْسَ ﺑِﺎﻟْﺣَﯾْﺿَﺔِ ﻓَﺈِذَا أَﻗْﺑَﻠَتْ اﻟْﺣَﯾْﺿَﺔُ ﻓَدَﻋِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةَ وَإِذَا أَدْﺑَرَتْ ﻓَﺎﻏْﺳِﻠِﻰ ﻋَﻧْكِ اﻟدﱠمَ ﺛُمﱠ ﺻَﻠِّﻰ ]ﻣﺗﻔق ﻋﻠﯾﮫ[.
Dari ‘Ā’isyah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Fatimah binti Abi Hubaisy mendatangi Nabi saw seraya berkata: Wahai Rasulullah, aku adalah seorang perempuan berdarah istihadah, maka aku tidak suci, apakah aku harus meninggalkan salat? Maka beliau bersabda: Darah tersebut ialah darah penyakit bukan haid, apabila kamu haid hendaklah meninggalkan salat dan apabila darah haid berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan salat [Muttafaq ‘alaih].
- Hadis Anas Ibn Mālik,
ﻋَنْ ﯾَﺣْﯾَﻰ ﺑْنِ ﺳَﻌِﯾدٍ ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻌْتُ أَﻧَسَ ﺑْنَ ﻣَﺎﻟِكٍ ﻗَﺎلَ ﺟَﺎءَ أَﻋْرَاﺑِﻲﱞ ﻓَﺑَﺎلَ ﻓِﻲ طَﺎﺋِﻔَﺔِ اﻟْﻣَﺳْﺟِدِ ﻓَزَﺟَرَهُ اﻟﻧﱠﺎسُ ﻓَﻧَﮭَﺎھُمْ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻠَﻣﱠﺎ ﻗَﺿَﻰ ﺑَوْﻟَﮫُ أَﻣَرَ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺑِذَﻧُوبٍ ﻣِنْ ﻣَﺎءٍ ﻓَﺄُھْرِﯾقَ ﻋَﻠَﯾْﮫِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Yahyā Ibn Sa‘īd [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Aku mendengar Anas Ibn Mālik berkata: Seorang Arab badui datang lalu kencing di sudut masjid, maka orang-orang pun ingin mengusirnya, tetapi Nabi saw melarang mereka. Setelah orang itu selesai dari kencingnya Nabi saw memerintahkan untuk mengambil setimba air lalu disiramkan atas bekas kencing itu [HR al-Bukhārī].
Ayat dan hadis Jābir (angka 1 dan 2) menjelaskan tentang perintah membersihkan pakaian. Hadis Ā’isyah (angka 3) menjelaskan tentang perintah membersihkan tubuh dari bekas darah istihadah. Hadis Anas Ibn Mālik (angka 4) menunjukkan perintah untuk membersihkan tempat yang dipakai untuk salat.
4. Suci dari Hadas Kecil dan Hadas Besar
Setiap orang yang hendak mengerjakan salat harus memastikan bahwa ia berada dalam keadaan suci dari hadas kecil dan hadas besar. Hadas secara bahasa berarti kejadian atau keadaan yang timbul baru. Hadas menurut istilah adalah ketentuan syar’i mengenai suatu keadaan yang dapat menghalangi keabsahan seseorang melakukan ibadah-ibadah tertentu.
Hadas ada dua macam, yaitu hadas kecil dan hadas besar. Hadas kecil adalah keadaan pada seseorang yang disebabkan oleh keluarnya kotoran dari salah satu dua jalan (maksudnya buang air kecil, buang air besar, atau buang angin), tidur nyenyak dalam keadaan berbaring, atau menyentuh kemaluan, atau karena hilang akal karena mabuk atau gila. Hadas besar adalah keadaan yang terjadi pada seseorang yang disebabkan oleh keluarnya mani karena mimpi atau karena dilakukan dengan sengaja, karena hubungan seksual, atau karena haid atau nifas bagi wanita. Apabila seseorang hendak mengerjakan salat sementara ia dalam keadaan berhadas kecil, ia wajib berwuduk, dan apabila dalam keadaan berhadas besar ia wajib mandi. Tetapi apabila ia tidak mendapatkan air untuk berwuduk atau mandi atau tidak bisa menggunakan air lantaran sakit atau dingin yang sangat, maka ia bertayamum, sesuai dengan firman Allah,
ﯾَﺎأَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ ءَاﻣَﻧُوا إِذَا ﻗُﻣْﺗُمْ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼةِ ﻓَﺎﻏْﺳِﻠُوا وُﺟُوھَﻛُمْ وَأَﯾْدِﯾَﻛُمْ إِﻟَﻰ اﻟْﻣَرَاﻓِقِ وَاﻣْﺳَﺣُوا ﺑِرُءُوﺳِﻛُمْ وَأَرْﺟُﻠَﻛُمْ إِﻟَﻰ اﻟْﻛَﻌْﺑَﯾْنِ وَإِنْ ﻛُﻧْﺗُمْ ﺟُﻧُﺑًﺎ ﻓَﺎطﱠﮭﱠرُوا وَإِنْ ﻛُﻧْﺗُمْ ﻣَرْﺿَﻰ أَوْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻔَرٍ أَوْ ﺟَﺎءَ أَﺣَدٌ ﻣِﻧْﻛُمْ ﻣِنَ اﻟْﻐَﺎﺋِطِ أَوْ ﻻﻣَﺳْﺗُمُ اﻟﻧِّﺳَﺎءَ ﻓَﻠَمْ ﺗَﺟِدُوا ﻣَﺎءً ﻓَﺗَﯾَﻣﱠﻣُوا ﺻَﻌِﯾدًا طَﯾِّﺑًﺎ ﻓَﺎﻣْﺳَﺣُوا ﺑِوُﺟُوھِﻛُمْ وَأَﯾْدِﯾﻛُمْ ﻣِﻧْﮫُ ﻣَﺎ ﯾُرِﯾدُ االلهﱠُ ﻟِﯾَﺟْﻌَلَ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ ﻣِنْ ﺣَرَجٍ وَﻟَﻛِنْ ﯾُرِﯾدُ ﻟِﯾُطَﮭِّرَﻛُمْ وَﻟِﯾُﺗِمﱠ ﻧِﻌْﻣَﺗَﮫُ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ ﻟَﻌَﻠﱠﻛُمْ ﺗَﺷْﻛُرُونَ ]اﻟﻣﺎﺋدة: 6[.
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (setelah buang air besar atau kecil) atau menyentuh perempuan [jimak], lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur [QS Al-Maidah (5): 6].
C. Tata Cara Salat
Pada uraian berikut ini dikemukakan tata cara salat menurut Rasulullah saw secara tertib:
1. Berdiri Tegak Menghadap Kiblat dan Berniat Ikhlas karena Allah
a. Menghadap kiblat
Salat dilakukan menghadap ke kiblat, yaitu Kakbah di Masjidil Haram di Mekah sesuai dengan firman Allah dan hadis Nabi saw berikut,
- Firman Allah,
ﻗَدْ ﻧَرَى ﺗَﻘَﻠﱡبَ وَﺟْﮭِكَ ﻓِﻲ اﻟﺳﱠﻣَﺎءِ ﻓَﻠَﻧُوَﻟِّﯾَﻧﱠكَ ﻗِﺑْﻠَﺔً ﺗَرْﺿَﺎھَﺎ ﻓَوَلِّ وَﺟْﮭَكَ ﺷَطْرَ اﻟْﻣَﺳْﺟِدِ اﻟْﺣَرَامِ وَﺣَﯾْثُ ﻣَﺎ ﻛُﻧْﺗُمْ ﻓَوَﻟﱡوا وُﺟُوھَﻛُمْ ﺷَطْرَهُ ]اﻟﺑﻘرة: 144
[ Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya [QS Al-Baqarah (2): 144].
- Sabda Nabi saw,
ﻋَنْ ﯾَﺣْﯾَﻰ ﺑْنِ ﺧَﻼﱠدٍ ﻗَﺎلَ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ]ﻟِﻠْﻣُﺳِﻲْءِ ﻓِﻲْ اﻟﺻﱠﻼَةِ[ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ ﺗُﺻَﻠِّﻰَ ﻓَﺗَوَﺿﱠﺄْ ﻓَﺄَﺣْﺳِنْ وُﺿُوءَكَ ﺛُمﱠ اﺳْﺗَﻘْﺑِلِ اﻟْﻘِﺑْﻠَﺔَ ﺛُمﱠ ﻛَﺑِّرْ ]رواه أﺣﻣد[.
Dari Yaḥyā Ibn Khallād, Nabi saw berkata [kepada seseorang yang belum benar salatnya]: Apabila engkau hendak salat, maka berwuduklah dengan baik, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbir [HR Aḥmad].
Orang yang sedang naik kapal laut dan hendak salat (jika arah kiblat diketahui), maka hendaklah ketika memulai salat menghadap ke kiblat sesuai dengan perintah umum menghadap kiblat dalam salat seperti dikutip di atas. Kemudian apabila kapal berbelok saat orang itu sedang mengerjakan salat, maka ia tidak perlu membetulkan arahnya lagi. Artinya ia tetap salat dengan terus menghadap ke arah semula meskipun kapalnya telah berbelok haluan. Ia tidak perlu membelokkan arah berdirinya karena penumpang tidak tahu bahwa kapal itu membelok dan berapa besar (berapa derajat) belokannya, dan itu tentu akan menyulitkan sementara agama itu asasnya adalah kemudahan. Hal ini didasarkan kepada hadis Nabi saw,
ﻋَنْ أَﻧَسِ ﺑْنِ ﻣَﺎﻟِكٍ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ ﯾُﺻَﻠِّﻲَ ﻋَﻠَﻰ رَاﺣِﻠَﺗِﮫِ ﺗَطَوﱡﻋًﺎ اﺳْﺗَﻘْﺑَلَ اﻟْﻘِﺑْﻠَﺔَ ﻓَﻛَﺑﱠرَ ﻟِﻠﺻﱠﻼَةِ ﺛُمﱠ ﺧَﻠﱠﻰ ﻋَنْ رَاﺣِﻠَﺗِﮫِ ﻓَﺻَﻠﱠﻰ ﺣَﯾْﺛُﻣَﺎ ﺗَوَﺟﱠﮭَتْ ﺑِﮫِ ]رواه أﺣﻣد[.
Dari Anas Ibn Mālik [diriwayatkan] bahwa ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila hendak mengerjakan salat sunat di atas kendaraannya beliau menghadap ke kiblat, lalu bertakbir untuk salat kemudian melepaskan kendaraan (unta)-nya (membiarkannya berjalan), kemudian terus salat ke arah mana kendaraannya menuju [HR Aḥmad].
ﻋن أَﻧَسِ ﺑْنِ ﻣَﺎﻟِكٍ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ إِذَا ﺳَﺎﻓَرَ ﻓَﺄَرَادَ أَنْ ﯾَﺗَطَوﱠعَ اﺳْﺗَﻘْﺑَلَ ﺑِﻧَﺎﻗَﺗِﮫِ اﻟْﻘِﺑْﻠَﺔَ ﻓَﻛَﺑﱠرَ ﺛُمﱠ ﺻَﻠﱠﻰ ﺣَﯾْثُ وَﺟﱠﮭَﮫُ رِﻛَﺎﺑُﮫُ ]رواه أﺑو داود[.
Dari Anas Ibn Mālik [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw apabila safar dan hendak mengerjakan salat sunat, beliau menghadap dengan kendaraannya (untanya) ke kiblat, lalu bertakbir kemudian terus salat ke arah mana kendaraannya menuju [HR Abū Dāwūd].
Orang yang salat dalam pesawat, kereta api atau angkutan umum yang sedang berjalan, maka ketika mulai salat cukup menghadap sesuai dengan arah kursinya dalam kendaraan itu dan salat menghadap ke arah mana pun sesuai duduknya. Hal itu karena menyerongkan duduk di atas kursi hanya untuk menghadap ke kiblat adalah menyulitkan dan ini tidak sejalan dengan asas pelaksanaan agama yang memberi kemudahan. Nabi saw sendiri terkadang salat di atas kenderaannya mengikuti arah ke mana kendaraan itu menghadap.
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ أَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﺻَﻠِّﻰ ﻋَﻠَﻰ رَاﺣِﻠَﺗِﮫِ ﺣَﯾْﺛُﻣَﺎ ﺗَوَﺟﱠﮭَتْ ﺑِﮫِ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Ibn ‘Umar [diriwayatkan] bahwa ia berkata: Rasulullah saw salat di atas kendaraannya (untanya) menghadapa ke arah mana kendaraannya menghadap [HR Muslim].
Orang yang menaiki kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan yang dapat diatur pemberhentiannya apabila hendak salat, maka ia hendaknya berhenti dan mencari tempat salat seperti di masjid atau di musala yang terdapat di SPBU dan mengerjakan salat secara normal, yaitu menghadap ke kiblat. Akan tetapi apabila ia sangat terburu-buru, misalnya hendak mengejar keberangkatan kereta api atau pesawat di mana tidak cukup waktu untuk berhenti, maka ia salat dalam kendaraan dengan cara seperti terdahulu.
Orang yang sakit dan tidak bisa bergerak banyak, maka ia salat berbaring dan tidak perlu menghadap ke kiblat. Begitu pula orang yang tidak dapat mengetahui arah kiblat, maka ia salat ke arah mana ia menduga arah kiblat. Hal ini sesuai dengan firman Allah,
وَلِلَّهِ اﻟْﻣَﺷْرِقُ وَاﻟْﻣَﻐْرِبُ ﻓَﺄَﯾْﻧَﻣَﺎ ﺗُوَﻟﱡوا ﻓَﺛَمﱠ وَﺟْﮫُ االلهﱠِ إِنﱠ االلهﱠَ وَاﺳِﻊٌ ﻋَﻠِﯾمٌ.
Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui [QS Al- Baqarah (2): 115].
b. Berdiri apabila tidak ada halangan untuk berdiri
Salat pada asasnya dilakukan dengan berdiri (posisi kaki sejajar dengan bahu) kecuali apabila ada halangan sehingga tidak bisa berdiri, misalnya karena sakit, dalam perjalanan atau dalam keadaan takut yang tidak memungkinkan melakukannya berdiri. Hal ini sesuai dengan dalil berikut: 1) Firman Allah,
ﺣَﺎﻓِظُوا ﻋَﻠَﻰ اﻟﺻﱠﻠَوَاتِ وَاﻟﺻﱠﻼَةِ اﻟْوُﺳْطَﻰ وَﻗُوﻣُوا لِلَّهِ ﻗَﺎﻧِﺗِﯾنَ ]اﻟﺑﻘرة: 238
[. Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) salat wusta. Berdirilah karena Allah [dalam salatmu] dengan khusyuk [QS Al-Baqarah (2): 238].
- Hadis Nabi saw,
ﻋَنْ ﻋِﻣْرَانَ ﺑْنِ ﺣُﺻَﯾْنٍ رَﺿِﻰَ ﷲ ﻋَﻧْﮫُ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎﻧَتْ ﺑِﻰ ﺑَوَاﺳِﯾرُ ﻓَﺳَﺄَﻟْتُ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻋَنِ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﻘَﺎلَ ﺻَلِّ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ ﻓَﺈِنْ ﻟَمْ ﺗَﺳْﺗَطِﻊْ ﻓَﻘَﺎﻋِدًا ﻓَﺈِنْ ﻟَمْ ﺗَﺳْﺗَطِﻊْ ﻓَﻌَﻠَﻰ ﺟَﻧْبٍ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari ‘Imrān Ibn Ḥusain r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Saya mempunyai penyakit wasir, lalu saya bertanya kepada Nabi saw tentang salat. Beliau menjawab: Salatlah engkau berdiri. Jika tidak bisa berdiri, duduk. Jika tidak bisa duduk, maka berbaring di atas lambung [HR al-Bukhārī].
Orang yang tidak dapat mengerjakan salat berdiri, karena sakit atau karena keadaan tidak memungkinkan misalnya lantaran berada dalam kendaraan yang sedang berjalan, mengerjakan salat dalam keadaan duduk sesuai dengan hadis di atas jika ia masih bisa duduk. Tidak ada penjelasan tentang bagaimana cara duduk salat orang yang tidak bisa berdiri itu. Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang paling afdal. Kebanyakan ulama menyatakan dengan cara duduk bersila. Ada pula yang mengatakan dengan cara seperti pada saat membaca tahiyat awal atau akhir. Yang jelas hadis itu bersifat nir kualifikasi (mutlak) sehingga oleh karena itu duduk seperti apa pun boleh dilakukan tergantung kepada keadaan pelaku salat sendiri, mana yang paling pas dan paling mengkhusyukkan baginya. Ia bisa duduk bersila apabila itu lebih nyaman, ia bisa duduk seperti duduk tahiyat awal (duduk iftirasy) atau duduk tahiyat akhir (tawaruk), atau ia bisa duduk bersandar sambil meluruskan kaki ke arah kiblat, atau ia bisa duduk di atas kursi atau bangku.
Orang yang tidak bisa melakukannya dengan duduk dapat melakukannya berbaring di atas lambungnya (‘alā janbin), maksudnya berbaring miring dengan wajah menghadap ke kiblat. Tidak dijelaskan dalam hadis di atas apakah baring di atas lambung kanan atau kiri. Ada yang menyatakan berbaring di atas lambung kanan berdasarkan hadis yang menunjukkan keafdalan mendahulukan yang kanan. Ada pula yang mendasarkannya kepada hadis ‘Alī yang menerangkan bahwa apabila tidak bisa duduk, maka berbaring di atas lambung kanan, dan jika tidak bisa, maka berbaring telentang, tetapi hadis ‘Alī ini daif. Menurut fukaha Hanafi dan beberapa ulama Syafiiah, apabila tidak bisa duduk, maka salat berbaring telentang dengan kaki mengarah ke kiblat. Ulama Hanafi menakwil hadis ‘Imrān di atas dengan adanya sakit wasir yang diderita ‘Imrān sehingga hadis itu adalah khitab
(sapaan) khusus untuk ‘Imrān dan orang sepertinya, bukan khitab umum. Orang yang tidak bisa duduk lalu mengerjakan salat berbaring telentang dengan kaki ke arah Kakbah, sesungguhnya ketika ia melakukan isyarat rukuk dan sujud ia lebih menghadap ke Kakbah, atau setidaknya ke arah utara Kakbah.
c. Niat
Setiap orang yang mengerjakan salat harus dengan niat yang ikhlas di dalam hati bahwa ia hendak mengerjakan salat. Bahkan bukan hanya salat, tetapi semua ibadah, harus dilakukan dengan niat. Para ulama telah sepakat bahwa tidak sah ibadah tanpa niat, meskipun ada perbedaan pendapat tentang apakah niat itu rukun atau syarat sah salat. Niat itu sendiri adalah suatu kehendak kuat untuk melakukan sesuatu karena Allah sehingga dalam niat itu terdapat faktor kemauan, kesadaran dan tekad untuk melakukan sesuatu guna mencari rida Allah. Hikmah adanya niat adalah agar ibadah, termasuk salat, dilakukan bukan semata sebagai kebiasaan rutin yang dilakukan secara otomatis atau mekanistik belaka tanpa melibatkan kehendak dan kesadaran yang mendalam, melainkan dikerjakan secara sadar dan dikehendaki.
Niat itu harus ditujukan mencari keridaan Allah semata, bukan untuk sesuatu yang lain. Orang yang mengerjakan salat dengan niat, tetapi niatnya adalah karena sesuatu selain Allah, maka sama dengan tidak berniat. Misalnya seseorang salat untuk dipuji orang lain atau untuk pencitraan diri guna mendapat simpati masyarakat agar dipilih dalam suatu pemilihan, maka itu bukan niat yang benar sebab tujuannya bukan mencari rida Allah. Tetapi apabila seseorang mengerjakan salat namun terkadang terganggu konsentrasinya oleh pikiran-pikiran lain meskipun telah berusaha untuk menghindarinya, maka itu tidak merusak niat, hanya saja mengurangi kekhusyukan salatnya. Namun setiap orang yang salat harus berusaha untuk konsentrasi kepada Allah swt sehingga salatnya menjadi khusyuk.
Dasar hukum niat dalam ketentuan syarak adalah, 1) Firman Allah,
وَﻣَﺎ أُﻣِرُوا إِﻻﱠ ﻟِﯾَﻌْﺑُدُوا االلهﱠَ ﻣُﺧْﻠِﺻِﯾنَ ﻟَﮫُ اﻟدِّﯾنَ ]اﻟﺑﯾﻧﺔ: 5[.
Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam menjalankan agama [QS Al-Bayyinah (98): 5].
- Hadis Nabi saw,
ﻋَنْ ﻋَﻠْﻘَﻣَﺔَ ﺑْنِ وَﻗﱠﺎصٍ اﻟﻠﱠﯾْﺛِﻰِّ ﻗﺎَلَ ﺳَﻣِﻌْتُ ﻋُﻣَرَ ﺑْنَ اﻟْﺧَطﱠﺎبِ رَﺿِﻰَ ﷲ ﻋَﻧْﮫُ ﻋَﻠَﻰ اﻟﻣِﻧْﺑَرِ ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻌْتُ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘُولُ إِﻧﱠﻣَﺎ اﻷَﻋْﻣَﺎلُ ﺑِﺎﻟﻧِّﯾﱠﺎتِ وَإِﻧﱠﻣَﺎ ﻟِﻛُلِّ اﻣْرِئٍ ﻣَﺎ ﻧَوَى ﻓَﻣَنْ ﻛَﺎﻧَتْ ھِﺟْرَﺗُﮫُ إِﻟَﻰ دُﻧْﯾَﺎ ﯾُﺻِﯾﺑُﮭَﺎ أَوْ إِﻟَﻰ اﻣْرَأَةٍ ﯾَﻧْﻛِﺣُﮭَﺎ ﻓَﮭِﺟْرَﺗُﮫُ إِﻟَﻰ ﻣَﺎ ھَﺎﺟَرَ إِﻟَﯾْﮫِ ]رواه اﻟﺟﻣﺎﻋﺔ واﻟﻠﻔظ ﻟﻠﺑﺧﺎري[.
Dari ‘Alqamah Ibn Abī Waqqāṣ al-Laiṡī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Aku mendengan ‘Umar Ibn al-Khaṭṭāb r.a. di atas mimbar berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya amal itu adalah dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan pahala atas apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena suatu [kepentingan] dunia atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu adalah karena apa yang diniatkannya [HR Jamaah ahli hadis, lafal dari al-Bukhārī].
- Hadis Nabi saw,
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِنﱠ االلهﱠَ ﻻَ ﯾَﻧْظُرُ إِﻟَﻰ ﺻُوَرِﻛُمْ وَأَﻣْوَاﻟِﻛُمْ وَﻟَﻛِنْ ﯾَﻧْظُرُ إِﻟَﻰ ﻗُﻠُوﺑِﻛُمْ وَأَﻋْﻣَﺎﻟِﻛُمْ ]رواه ﻣﺳﻠم وأﺣﻣد[.
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, melainkan melihat kepada hati dan amalmu [HR Muslim dan Aḥmad].
“Melihat kepada hati dan amal” dalam hadis Abū Hurairah di atas artinya melihat kepada niat di dalam hati orang tersebut ketika melakukan suatu amal. Penggunaan hadis ini sebagai dasar hukum niat terdapat dalam kitab al-Mabsūṭ karya as-Sarakhsī.
Para fukaha mendefisikan niat sebagai,
اَﻹِرَادَةُ اﻟْﻣُﺗَوَﺟِّﮭَﺔُ ﻧَﺣْوَ اْﻟِﻔﻌْلِ اﺑْﺗِﻐﺎَءً ﻟِوَﺟْﮫِ االلهﱠِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ وَاﻣْﺗِﺛﺎَﻻً ﻟِﺣُﻛْﻣِﮫِ
Kehendak yang ditujukan untuk melakukan perbuatan untuk mencari keridaan Allah dan mematuhi hukumnya.240
Oleh karena niat itu adalah kehendak, maka tempatnya adalah di dalam hati dan merupakan perbuatan hati sehingga tidak dilafalkan. Asy-Syīrāzī (w. 476/1083), seorang fakih Syafii, menyatakan, “Tempat niat itu di dalam hati. Jika seseorang berniat dengan hatinya tanpa diucapkan dengan lidah itu sudah cukup. Di antara pengikut mazhab kami ada yang mengatakan, ‘Niat itu dengan hati dan dilafalkan dengan lidah.’ Ini tidak benar, karena niat itu adalah maksud di dalam hati.”241 Memang tidak ada tuntunan melafalkan niat dari Nabi
240 Ibn Nujaim, al-Asybāh wa an-Naẓā’ir (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1400/1980), h. 29. 241 Asy-Syīrāzī, al-Muhażżab fī Fiqh al-Imām asy-Syāfi‘ī, diedit oleh Muḥammad az-Zuḥailī (Damaskus: Dār al-Qalam ̶ Beirut: ad-Dār asy-Syāmiyyah, 1412/1992), I: 236.
saw dan beliau tidak pernah diriwayatkan melafalkannya. Oleh karena itu niat tidak dilafalkan. Kita wajib mencontoh beliau dalam mengerjakan salat, karena beliau bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari Mālik Ibn al-Ḥuwairiṡ,
وَﺻَﻠﱡوا ﻛَﻣَﺎ رَأَﯾْﺗُﻣُوﻧِﻰ أُﺻَﻠِّﻰ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[
Dan salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan salat [HR al-Bukhārī].
Para ulama fikih berbeda pendapat mengenai waktu melakukan niat. Fukaha Hanafiah, Malikiah dan Hanabilah menyatakan bahwa niat dapat dilakukan mendahului takbiratul ihram. Sementara itu fukaha Syafii menyatakan niat wajib bersamaan dengan takbiratul ihram. Pendapat jumhur (pendapat pertama) lebih dikuatkan karena di antara hikmah niat itu adalah agar orang melakukan suatu ibadah adalah secara sadar dan tidak melakukannya secara tiba-tiba. Lagi pula dalam ibadah seperti puasa niatnya dilakukan sebelum melaksanakan puasa itu.
2. Mengarahkan Pandangan ke Tempat Sujud Saat Berdiri.
Pandangan mata orang yang salat diarahkan ke tempat sujud, dimaksudkan agar semaksimal mungkin dapat dicapai kekhusyukan. Dalam al Qur’an disebutkan:
ﺣَﺎﻓِظُوا ﻋَﻠَﻰ اﻟﺻﱠﻠَوَاتِ وَاﻟﺻﱠﻼَةِ اﻟْوُﺳْطَﻰ وَﻗُوﻣُوا لِلَّهِ ﻗَﺎﻧِﺗِﯾنَ ]اﻟﺑﻘرة : 238
[. Peliharalah semua salat dan salat wusta. Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk [QS Al Baqarah (2): 238].
اﻟﱠذِﯾنَ ھُمْ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺗِﮭِمْ ﺧَﺎﺷِﻌُونَ ]اﻟﻣؤﻣﻧون: ٢[.
(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya [QS Al-Mukminun (23): 2]. Mengarahkan pandangan ke tempat sujud dilakukan dengan menunudukkan kepala, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut,
ﻋَنْ أَﺑِﻲْ ھُرَﯾْرَةَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ أَنﱠ رَﺳُوْلَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ إِذَا ﺻَﻠﱠﻰ رَﻓَﻊَ ﺑَﺻَرَهُ إِﻟَﻰ اﻟﺳﱠﻣَﺎءِ ﻓَﻧَزَﻟَتْ )اﻟﱠذِﯾْنَ ھُمْ ﻓِﻲْ ﺻَﻼَﺗِﮭِمْ ﺧَﺎﺷِﻌُوْنَ( ﻓَطَﺄْطَﺄَ رَأْﺳَﮫُ ]رواه اﻟﺣﺎﻛم[.
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw apabila melaksanakan salat matanya memandang ke langit, maka turunlah ayat, [artinya] yaitu orang yang khusyuk dalam salatnya, kemudian Nabi menundukkan kepalanya [HR al-Ḥākim]. Dalam pada itu tidak dibenarkan orang yang salat menghadapkan wajahnya ke langit, sebagaimana disebutkan dalam hadis:
ﻋَنْ ﺟَﺎﺑِرِ ﺑْنِ ﺳَﻣُرَةَ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻟَﯾَﻧْﺗَﮭِﯾَنﱠ أَﻗْوَامٌ ﯾَرْﻓَﻌُونَ أَﺑْﺻَﺎرَھُمْ إِﻟَﻰ اﻟﺳﱠﻣَﺎءِ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ أَوْ ﻻَ ﺗَرْﺟِﻊُ إِﻟَﯾْﮭِمْ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Jābir Ibn Samurah [diriwayatkan] bahwa ia berkata, Rasulullah saw bersabda, hendaklah beberapa kaum menghentikan pandangan mereka ke langit dalam salat atau janganlah kamu kembali kepada mereka [HR Muslim]. Dalam riwayat yang lain disebutkan:
ﻋَنْ أَﻧَسِ ﺑْنِ ﻣَﺎﻟِكٍ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ ﻣَﺎ ﺑَﺎلُ أَﻗْوَامٍ ﯾَرْﻓَﻌُونَ أَﺑْﺻَﺎرَھُمْ إِﻟَﻰ اﻟﺳﱠﻣَﺎءِ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺗِﮭِمْ ﻓَﺎﺷْﺗَدﱠ ﻗَوْﻟُﮫُ ﻓِﻲ ذَﻟِكَ ﺣَﺗﱠﻰ ﻗَﺎلَ ﻟَﯾَﻧْﺗَﮭُنﱠ ﻋَنْ ذَﻟِكَ أَوْ ﻟَﺗُﺧْطَﻔَنﱠ أَﺑْﺻَﺎرُھُمْ ]رواه اﻟﺟﻣﺎﻋﺔ إﻻ ﻣُﺳْﻠِﻣﺎً واﻟﺗرﻣذى[.
Dari Anas Ibn Mālik [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw bersabda, mengapa beberapa kaum menghadapkan pandangannya ke langit dalam salat mereka, maka beliau berkata dengan keras dalam hal itu sehingga beliau berkata, hentikanlah dari yang seperti itu atau tunggu akan dicabut pandangannya [HR jamaah ahli hadis kecuali Muslim dan at-Tirmiżī].
Imam asy-Syaukānī menyebutkan bahwa Imam asy-Syāfi‘ī dan Ulama Kufah menyunatkan untuk memandang ke tempat sujud karena lebih mendekati untuk khusyuk.242
3. Melakukan Takbiratul-Ihram dengan Mengucapkan “Allahu Akbar”.
Setelah berdiri tegak dengan pandangan mata ke arah tempat sujud, lakukanlah takbir seraya mengangkat kedua belah tangan sejajar dengan bahu dan menyejajarkan ibu jari tangan dengan daun telinga bagian bawah dan jari-jari tangan sedikit direnggangkan serta telapak tangan menghadap ke kiblat.
Mengucapkan takbir, yakni lafal “Allāhu akbar,” diperintahkan oleh Nabi saw saat seseorang akan melaksanakan salat, sebagaimana tertera dalam hadis riwayat Abū Hurairah,
إِذَا ﻗُﻣْتَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﻛَﺑِّرْ ﺛُمﱠ اﻗْرَأْ ﻣَﺎ ﺗَﯾَﺳﱠرَ ﻣَﻌَكَ ﻣِنْ اﻟْﻘُرْآنِ … ] ﻣﺗﻔق ﻋﻠﯾﮫ[.
Jika kamu berdiri untuk melaksanakan salat, maka bertakbirlah kemudian bacalah al-Quran yang paling mudah yang ada padamu … [Muttafaq ‘alaih].
Adapun cara mengangkat tangan saat bertakbir, dijelaskan dalam beberapa hadis, antara lain, 1) Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dari Sālim Ibn ‘Abdullāh dari ayahnya disebutkan:
ﻋَنْ ﺳَﺎﻟِمِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﻋَنْ أَﺑِﯾﮫِ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ ﯾَرْﻓَﻊُ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَذْوَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ
242As-Syaukānī, Nailul Autār, I: 192.
إِذَا اﻓْﺗَﺗَﺢَ اﻟﺻﱠﻼَةَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Sālim Ibn ‘Abdullāh dari ayahnya [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika memulai salat [HR al-Bukhārī]. 2) Imam al-Bukhārī meriwayatkan hadis dari Ibnu ‘Umar r.a., beliau berkata,
رَأَﯾْتُ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ اﻓْﺗَﺗَﺢَ اﻟﺗﱠﻛْﺑِﯾرَ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَرَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣِﯾنَ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﺟْﻌَﻠَﮭُﻣَﺎ ﺣَذْوَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Saya melihat Nabi saw memulai takbir dalam salat mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir sehingga kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya [HR al-Bukhārī].
Hadis 1) dan 2) di atas menunjukkan bahwa tangan diangkat sejajar dengan bahu ketika bertakbir. 3) Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim juga dari Ibnu ‘Umar, diriwayatkan bahwa,
ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﺎمَ ﻟِﻠﺻﱠﻼَةِ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَﻛُوﻧَﺎ ﺣَذْوَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﻛَﺑﱠرَ ﻓَﺈِذَا أَرَادَ أَنْ ﯾَرْﻛَﻊَ ﻓَﻌَلَ ﻣِﺛْلَ ذَﻟِكَ وَإِذَا رَﻓَﻊَ ﻣِنْ اﻟرﱡﻛُوعِ ﻓَﻌَلَ مِ ﺛْلَ ذَﻟِكَ وَﻻَ ﯾَﻔْﻌَﻠُﮫُ ﺣِﯾنَ ﯾَرْﻓَﻊُ رَأْﺳَﮫُ ﻣِنْ اﻟﺳﱡﺟُودِ ]رواه ﻣﺳﻠم [.
Adalah Rasulullah saw apabila berdiri untuk salat mengangkat kedua tangannya sehingga keduanya sejajar dengan kedua bahunya kemudian bertakbir. Apabila hendak rukuk beliau melakukan hal seperti itu (mengangkat kedua tangan) dan apabila mengangkat [kepala] dari rukuk beliau melakukan hal seperti itu [pula] dan beliau tidak melakukannya ketika mengangkat kepala dari sujud [HR Muslim].
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi saw mengangkat tangan sejajar dengan bahu kemudian mengucapkan lafal takbir “Allāhu akbar”. 4) Riwayat lain menyebutkan:
ﻋَنْ ﻣَﺎﻟِكِ ﺑْنِ اﻟْﺣُوَﯾْرِثِ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ إِذَا ﻛَﺑﱠرَ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾُﺣَﺎذِيَ ﺑِﮭِﻣَﺎ أُذُﻧَﯾْﮫِ وَإِذَا رَﻛَﻊَ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾُﺣَﺎذِيَ ﺑِﮭِﻣَﺎ أُذُﻧَﯾْﮫِ وَإِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ ﻣِنْ اﻟرﱡﻛُوعِ ﻓَﻘَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ ﻓَﻌَلَ ﻣِﺛْلَ ذَﻟِكَ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Mālik Ibn al-Ḥuwairiṡ [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw jika bertakbir mengangkat kedua tangannya sehingga sejajar keduanya dengan kedua telinganya dan jika rukuk mengangkat kedua tangannya sehingga sejajar keduanya dengan kedua telinganya dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuk maka beliau mengucapkan sami’allāhu liman ḥamidah [HR Muslim].
Hadis ini menjelaskan bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya. 5) Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abū Dāwūd dari ‘Abd al-Jabbār Ibn Wā’il dari
ayahnya, disebutkan,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ اﻟْﺟَﺑﱠﺎرِ ﺑْنِ وَاﺋِلٍ ﻋَنْ أَﺑِﯾﮫ أَﻧﱠﮫُ أَﺑْﺻَرَ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺣِﯾنَ ﻗَﺎمَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﻛَﺎﻧَﺗَﺎ ﺑِﺣِﯾَﺎلِ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ وَﺣَﺎذَى ﺑِﺈِﺑْﮭَﺎﻣَﯾْﮫِ أُذُﻧَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﻛَﺑﱠرَ ]رواه أﺑو داود[.
Dari ‘Abdul-Jabbār Ibn Wā’il dari ayahnya [diriwayatkan] bahwa ia melihat Nabi saw ketika berdiri untuk mengerjakan salat beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kedua tangan itu setentang dengan kedua bahunya dan menyejajarkan dua ibu jarinya dengan kedua telinganya kemudian bertakbir [HR Abū Dāwūd].
Hadis ini menunjukkan bahwa mengangkat kedua tangan dilakukan dengan ibu jari sejajar dengan kedua telinga kemudian bertakbir. 6) Masih berkaitan dengan takbir, dalam Sunan at-Tirmiżī, disebutkan,
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻛَﺑﱠرَ ﻟِﻠﺻﱠﻼَةِ ﻧَﺷَرَ أَﺻَﺎﺑِﻌَﮫُ ]رواه اﻟﺗرﻣذي[.
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan] bahwa beliau berkata: Adalah Rasulullah saw jika bertakbir membuka jari-jarinya [HR at-Tirmiżī].
Dengan memperhatikan semua hadis yang telah disebutkan di muka dapat disimpulkan bahwa bertakbir dalam salat dilakukan bersamaan dengan mengangkat kedua tangan sampai dengan ibu jari sejajar kedua daun telinga serta jari-jari tangan dibuka dalam arti tidak dikepalkan. Kesimpulan ini tanpa menafikan hadis yang menyebutkan mengangkat kedua tangan terlebih dahulu kemudian bertakbir.
4. Bersedekap dengan Meletakkan Tangan di atas Dada.
Setelah bertakbir lakukanlah sedekap dengan cara telapak tangan kanan menggenggam pergelangan dan hasta tangan kiri dan diletakkan di atas dada. Beberapa hadis yang menerangkan tentang hal ini dapat dikemukakan sebagai berikut, antara lain, 1) Hadis yang yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dari Sahl Ibn Sa‘īd, sebagai berikut:
ﻋَنْ ﺳَﮭْلِ ﺑْنِ ﺳَﻌْدٍ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ اﻟﻧﱠﺎسُ ﯾُؤْﻣَرُونَ أَنْ ﯾَﺿَﻊَ اﻟرﱠﺟُلُ اﻟْﯾَدَ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ ﻋَﻠَﻰ ذِرَاﻋِﮫِ اﻟْﯾُﺳْرَى ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري و أﺣﻣد[.
Dari Sahl Ibn Sa‘īd [diriwayatkan] bahwa ia berkata, adalah orang-orang diperintahkan agar masing-masing meletakkan tangan kanan di atas hasta tangan kiri dalam salat [HR al- Bukhārī dan Aḥmad]. 2) Imam Muslim meriwayatkan dari Wā’il Ibn Ḥujr
أَﻧﱠﮫُ رَأَى اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣِﯾنَ دَﺧَلَ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻛَﺑﱠرَ وَﺻَفَ ھَﻣﱠﺎمٌ ﺣِﯾَﺎلَ أُذُﻧَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ اﻟْﺗَﺣَفَ ﺑِﺛَوْﺑِﮫِ ﺛُمﱠ وَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﯾُﺳْرَى ]رواه ﻣﺳﻠم و أﺣﻣد[.
Bahwa ia melihat Nabi saw mengangkat kedua tangannya ketika memulai salat bertakbir, Hammām [seorang perawi] menjelaskan sejajar dengan kedua telinganya, kemudian Nabi
berselimut dengan kainnya kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya [HR Muslim].
- Dalam riwayat Abū Dāwūd dan an-Nasā’ī dari Wā’il Ibn Ḥujr ditegaskan,
ﻋَنْ وَاﺋِلِ ﺑْنِ ﺣُﺟْرٍ ﻗَﺎلَ ﻗُﻠْتُ ﻷََﻧْظُرَنﱠ إِﻟَﻰ ﺻَﻼَةِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﯾْفَ ﯾُﺻَﻠِّﻰ ﻗَﺎلَ ﻓَﻘَﺎمَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﺎﺳْﺗَﻘْﺑَلَ اﻟْﻘِﺑْﻠَﺔَ ﻓَﻛَﺑﱠرَ ﻓَرَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﺣَﺎذَﺗَﺎ أُذُﻧَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ أَﺧَذَ ﺷِﻣَﺎﻟَﮫُ ﺑِﯾَﻣِﯾﻧِﮫِ ]رواه أﺑو داود واﻟﻧﺳﺎﺋﻲ[.
Dari Wā’il Ibn Ḥujr [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Sungguh saya akan mengamati salat Rasulullah saw bagaimana beliau melakukannya. Wā’il melanjutkan: Lalu Rasulullah saw berdiri, menghadap kiblat, lalu bertakbir, lalu mengangkat kedua tangannya hingga setentang dengan kedua telinganya kemudian memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya [HR Abū Dāwūd dan an-Nasā’ī]. 4) Dalam riwayat lain dari an-Nasā’ī ditegaskan,
ﻋَنْ ﻛُﻠَﯾْبٍ ﻋَنْ وَاﺋِلِ ﺑْنِ ﺣُﺟْرٍ أَﻧﱠﮫُ أَﺧْﺑَرَهُ ﻗَﺎلَ ﻗُﻠْتُ ﻷََﻧْظُرَنﱠ إِﻟَﻰ ﺻَﻼَةِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﯾْفَ ﯾُﺻَﻠِّﻲ ﻓَﻧَظَرْتُ إِﻟَﯾْﮫِ ﻓَﻘَﺎمَ ﻓَﻛَﺑﱠرَ وَرَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﺣَﺎذَﺗَﺎ ﺑِﺄُذُﻧَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ وَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻛَﻔِّﮫِ اﻟْﯾُﺳْرَى وَاﻟرﱡﺳْﻎِ وَاﻟﺳﱠﺎﻋِدِ ]رواه اﺑن ﺧزﯾﻣﺔ[.
Dari Kulaib, dari Wā’il Ibn Ḥujr bahwa ia (Wā’il) mengabarkan kepadanya (Kulaib) seraya berkata: Saya (Wā’il) berkata: Sungguh saya akan mengamati salat Rasulullah saw bagaimana beliau melakukannya. Lalu aku melihatnya berdiri, lalu bertakbir, dan mengangkat kedua tangannya hingga setentang dengan kedua telinganya, kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kirinya di atas pergelangan dan hasta [an-Nasā’ī].
- Dalam Ṣaḥīḥ Ibn Khuzaimah disebutkan:
ﻋَنْ وَاﺋِلِ ﺑْنِ ﺣُﺟْرٍ ﻗﺎَلَ ﺻَﻠﱠﯾْتُ ﻣَﻊَ رَﺳُوْلِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ وَوَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﯾِدِهِ اﻟْﯾُﺳْرَى ﻋَﻠَﻰ ﺻَدْرِهِ ]رواه اﺑن ﺧزﯾﻣﺔ[.
Dari Wā’il Ibn Ḥujr [diriwayatkan] bahwa ia berkata, saya salat bersama Rasulullah saw beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada (di atas) dadanya [HR Ibn Khuzaimah].
5. Membaca Doa Iftitah Secara Sir (Lirih).
Setelah melakukan takbiratul-ihram bacalah doa iftitah. Ada beberapa doa iftitah yang dapat diucapkan dalam salat. Di antaranya adalah,
a. Membaca Allāhumma bā’id dan seterusnya sebagai berikut,
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﺑَﺎﻋِدْ ﺑَﯾْﻧِﻲ وَﺑَﯾْنَ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎﻋَدْتَ ﺑَﯾْنَ اﻟْﻣَﺷْرِقِ وَاﻟْﻣَﻐْرِبِ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﻧَﻘِّﻧِﻲ ﻣِنْ اﻟْﺧَطَﺎﯾَﺎ
ﻛَﻣَﺎ ﯾُﻧَﻘﱠﻰ اﻟﺛﱠوْبُ اﻷَْﺑْﯾَضُ ﻣِنْ اﻟدﱠﻧَسِ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﺳِلْ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﺑِﺎﻟْﻣَﺎءِ وَاﻟﺛﱠﻠْﺞِ وَاﻟْﺑَرَد.
Allāhumma bā‘id bainī wa baina khaṭāyāyā kamā bā‘adta bainal-masyriqi wal-magrib. Allāhumma naqqinī minal-khaṭāya kamā yunaqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allahumagsil khaṭāyāyā bil-mā’i waṡ-ṡalji wal-barad.
Ya Allah jauhkanlah antara diriku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari segala kesalahan sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah segala kesalahanku dengan air, salju dan embun. Ini didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dari Abū Hurairah,
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﺳْﻛُتُ ﺑَﯾْنَ اﻟﺗﱠﻛْﺑِﯾرِ وَﺑَﯾْنَ اﻟْﻘِرَاءَةِ إِﺳْﻛَﺎﺗَﺔً ﻗَﺎلَ أَﺣْﺳِﺑُﮫُ ﻗَﺎلَ ھُﻧَﯾﱠﺔً ﻓَﻘُﻠْتُ ﺑِﺄَﺑِﻲ وَأُﻣِّﻲ ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ إِﺳْﻛَﺎﺗُكَ ﺑَﯾْنَ اﻟﺗﱠﻛْﺑِﯾرِ وَاﻟْﻘِرَاءَةِ ﻣَﺎ ﺗَﻘُولُ ﻗَﺎلَ أَﻗُولُ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﺑَﺎﻋِدْ ﺑَﯾْﻧِﻲ وَﺑَﯾْنَ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎﻋَدْتَ ﺑَﯾْنَ اﻟْﻣَﺷْرِقِ وَاﻟْﻣَﻐْرِبِ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﻧَﻘِّﻧِﻲ ﻣِنْ اﻟْﺧَطَﺎﯾَﺎ ﻛَﻣَﺎ ﯾُﻧَﻘﱠﻰ اﻟﺛﱠوْبُ اﻷَْﺑْﯾَضُ ﻣِنْ اﻟدﱠﻧَسِ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﺳِلْ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﺑِﺎﻟْﻣَﺎءِ وَاﻟﺛﱠﻠْﺞِ وَاﻟْﺑَرَد ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[ِ.
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah saw diam antara takbir dan bacaan [al-Fatihah] sesaat ̶ rawi mengatakan: Saya kira ia (Abū Hurairah) mengatakan “sejenak”̶ . Saya (Abū Hurairah) bertanya: Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, Saat engkau diam antara takbir dan bacaan (al-Fatihah) apa yang anda ucapkan? Beliau menjawab: Allāhumma bā‘id bainī wa baina khaṭāyāyā kamā bā‘adta bainal-masyriqi wal-magrib. Allāhumma naqqinī minal-khaṭāya kamā yunaqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allahumagsil khaṭāyāyā bil-mā’i waṡ-ṡalji wal-barad (Ya Allah jauhkanlah antara diriku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari segala kesalahan sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah segala kesalahanku dengan air, salju dan embun [HR al-Bukhārī].
Atau dengan lafal lain yang sedikit berbeda:
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﺑَﺎﻋِدْ ﺑَﯾْﻧِﻲ وَﺑَﯾْنَ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎﻋَدْتَ ﺑَﯾْنَ اﻟْﻣَﺷْرِقِ وَاﻟْﻣَﻐْرِبِ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﻧَﻘِّﻧِﻲ ﻣِنْ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﻛَﻣَﺎ ﯾُﻧَﻘﱠﻰ اﻟﺛﱠوْبُ اﻷَْﺑْﯾَضُ ﻣِنْ اﻟدﱠﻧَسِ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﺳِﻠْﻧِﻲ ﻣِنْ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﺑِﺎﻟﺛﱠﻠْﺞِ وَاﻟْﻣَﺎءِ وَاﻟْﺑَرَدِ.
Allāhumma bā‘id bainī wa baina khaṭāyāyā kamā bā‘adta bainal-masyriqi wal- magrib. Allāhumma naqqinī min khaṭāyāyā kamā yunaqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allahumagsilnī min khaṭāyāyā biṡ-ṡalji wal-mā’i wal-barad.
Ya Allah jauhkanlah antara diriku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari segala kesalahan diriku sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah segala kesalahanku dengan air, salju dan embun. Berdasarkan hadis riwayat Muslim sebagai berikut,
ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻛَﺑﱠرَ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﺳَﻛَتَ ھُﻧَﯾﱠﺔً ﻗَﺑْلَ أَنْ ﯾَﻘْرَأَ ﻓَﻘُﻠْتُ ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺑِﺄَﺑِﻲ أَﻧْتَ وَأُﻣِّﻲ أَرَأَﯾْتَ ﺳُﻛُوﺗَكَ ﺑَﯾْنَ اﻟﺗﱠﻛْﺑِﯾرِ وَاﻟْﻘِرَاءَةِ ﻣَﺎ ﺗَﻘُولُ ﻗَﺎلَ أَﻗُولُ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﺑَﺎﻋِدْ ﺑَﯾْﻧِﻲ وَﺑَﯾْنَ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎﻋَدْتَ ﺑَﯾْنَ اﻟْﻣَﺷْرِقِ وَاﻟْﻣَﻐْرِبِ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﻧَﻘِّﻧِﻲ ﻣِنْ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﻛَﻣَﺎ ﯾُﻧَﻘﱠﻰ اﻟﺛﱠوْبُ اﻷَْﺑْﯾَضُ ﻣِنْ اﻟدﱠﻧَسِ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﺳِﻠْﻧِﻲ ﻣِنْ ﺧَطَﺎﯾَﺎيَ ﺑِﺎﻟﺛﱠﻠْﺞِ وَاﻟْﻣَﺎءِ وَاﻟْﺑَرَدِ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Adalah Rasulullah saw apabila bertakbir dalam salat diam sejenak sebelum membaca [al Fatihah], maka bertanya wahai Rasulullah demi ayahku dan ibuku apa yang anda ucapkan antara takbir dan al Fatihah. Beliau bersabda, saya ucapkan, Allāhumma bā‘id bainī wa baina khaṭāyāyā kamā bā‘adta bainal-masyriqi wal-magrib. Allāhumma naqqinī min khaṭāyāyā kamā yunaqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allahumagsil khaṭāyāyā bil-mā’i waṡ-ṡalji wal- barad (Ya Allah jauhkanlah antara diriku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari segala kesalahan diriku sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah segala kesalahanku dengan air, salju dan embun [HR Muslim]. b. Atau membaca wajjahtu wajhiya dan seterusnya sebagaimana berikut,
وَﺟﱠﮭْتُ وَﺟْﮭِﻲَ ﻟِﻠﱠذِي ﻓَطَرَ اﻟﺳﱠﻣَﺎوَاتِ وَاﻷَْرْضَ ﺣَﻧِﯾﻔًﺎ ﻣُﺳْﻠِﻣًﺎ وَﻣَﺎ أَﻧَﺎ ﻣِنْ اﻟْﻣُﺷْرِﻛِﯾنَ إِنﱠ ﺻَﻼَﺗِﻲ وَﻧُﺳُﻛِﻲ وَﻣَﺣْﯾَﺎيَ وَﻣَﻣَﺎﺗِﻲ لِلَّهِ رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ ﻻَ ﺷَرِﯾكَ ﻟَﮫُ وَﺑِذَﻟِكَ أُﻣِرْتُ وَأَﻧَﺎ أَوﱠلُ اﻟْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾنَ )وَأَﻧَﺎ ﻣِنْ اﻟْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾنَ( اﻟﻠﱠﮭُمﱠ أَﻧْتَ اﻟْﻣَﻠِكُ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ أَﻧْتَ أَﻧْتَ رَﺑِّﻲ وَأَﻧَﺎ ﻋَﺑْدُكَ ظَﻠَﻣْتُ ﻧَﻔْﺳِﻲ وَاﻋْﺗَرَﻓْتُ ﺑِذَﻧْﺑِﻲ ﻓَﺎﻏْﻔِرْ ﻟِﻲ ذُﻧُوﺑِﻲ ﺟَﻣِﯾﻌًﺎ إِﻧﱠﮫُ ﻻَ ﯾَﻐْﻔِرُ اﻟذﱡﻧُوبَ إِﻻﱠ أَﻧْتَ وَاھْدِﻧِﻲ ﻷَِﺣْﺳَنِ اﻷَْﺧْﻼَقِ ﻻَ ﯾَﮭْدِي ﻷَِﺣْﺳَﻧِﮭَﺎ إِﻻﱠ أَﻧْتَ وَاﺻْرِفْ ﻋَﻧِّﻲ ﺳَﯾِّﺋَﮭَﺎ ﻻَ ﯾَﺻْرِفُ ﻋَﻧِّﻲ ﺳَﯾِّﺋَﮭَﺎ إِﻻﱠ أَﻧْتَ ﻟَﺑﱠﯾْكَ وَﺳَﻌْدَﯾْكَ وَاﻟْﺧَﯾْرُ ﻛُﻠﱡﮫُ ﻓِﻲ ﯾَدَﯾْكَ وَاﻟﺷﱠرﱡ ﻟَﯾْسَ إِﻟَﯾْكَ أَﻧَﺎ ﺑِكَ وَإِﻟَﯾْكَ ﺗَﺑَﺎرَﻛْتَ وَﺗَﻌَﺎﻟَﯾْتَ أَﺳْﺗَﻐْﻔِرُكَ وَأَﺗُوبُ إِﻟَﯾْكَ.
Wajjahtu wajhiya lil-lażī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfan muslima wa mā ana minal- musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāyā wa mamātī lillkāhi rabbil-‘ālamīn, lā syarīka lahu wa bi żālika umirtu wa ana minal-muslimīn. Allāhumma antal-maliku, lāilāha illā anta, anta rabbī wa ana ‘abduk, ẓalamtu nafsī wa‘taraftu bi żambī, fagfir lī zunūbī jamī‘an, innahu lā yagfiruż-żunūba illā anta, wahdinī li aḥsanil-akhlāq, lā yahdī li aḥsanihā illā anta waṣrif ‘annī sayyi’ahā lā yaṣrifu ‘annī sayyi’ahā illā anta, labbaika wa sa‘daika, wal-khairu kulluhu fī yadaika wasy-syarru laisa ilaika. Ana bika wa ilaika, tabārakta wa ta‘ālaita, astagfiruka wa atūbu ilaik.
Berdasarkan hadis dari ‘Alī Ibn Abī Ṭālib riwayat Abū Dāwūd sebagai berikut,
ﻋَنْ ﻋَﻠِﻰِّ ﺑْنِ أَﺑِﻰ طَﺎﻟِبٍ رَﺿِﻰَ ﷲ ﻋَﻧْﮫُ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﺎمَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻛَﺑﱠرَ ﺛُمﱠ ﻗَﺎلَ وَﺟﱠﮭْتُ وَﺟْﮭِﻰَ ﻟِﻠﱠذِى ﻓَطَرَ اﻟﺳﱠﻣَوَاتِ وَاﻷَرْضَ ﺣَﻧِﯾﻔًﺎ ﻣُﺳْﻠِﻣًﺎ وَﻣَﺎ أَﻧَﺎ ﻣِنَ اﻟْﻣُﺷْرِﻛِﯾنَ إِنﱠ ﺻَﻼَﺗِﻰ وَﻧُﺳُﻛِﻰ وَﻣَﺣْﯾَﺎىَ وَﻣَﻣَﺎﺗِﻰ لِلَّهِ رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ ﻻَ ﺷَرِﯾكَ ﻟَﮫُ وَﺑِذَﻟِكَ أُﻣِرْتُ وَأَﻧَﺎ أَوﱠلُ اﻟْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾنَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ أَﻧْتَ اﻟْﻣَﻠِكُ ﻻَ إِﻟَﮫَ ]ﻟِﻰ[ إِﻻﱠ أَﻧْتَ أَﻧْتَ رَﺑِّﻰ وَأَﻧَﺎ ﻋَﺑْدُكَ ظَﻠَﻣْتُ ﻧَﻔْﺳِﻰ وَاﻋْﺗَرَﻓْتُ ﺑِذَﻧْﺑِﻰ ﻓَﺎﻏْﻔِرْ ﻟِﻰ ذُﻧُوﺑِﻰ ﺟَﻣِﯾﻌًﺎ إِﻧﱠﮫُ ﻻَ ﯾَﻐْﻔِرُ اﻟذﱡﻧُوبَ إِﻻﱠ أَﻧْتَ وَاھْدِﻧِﻰ ﻷَﺣْﺳَنِ اﻷَﺧْﻼَقِ ﻻَ ﯾَﮭْدِى ﻷَﺣْﺳَﻧِﮭَﺎ إِﻻﱠ أَﻧْتَ وَاﺻْرِفْ ﻋَﻧِّﻰ ﺳَﯾِّﺋَﮭَﺎ ﻻَ ﯾَﺻْرِفُ ﺳَﯾِّﺋَﮭَﺎ إِﻻﱠ أَﻧْتَ ﻟَﺑﱠﯾْكَ وَﺳَﻌْدَﯾْكَ وَاﻟْﺧَﯾْرُ ﻛُﻠﱡﮫُ ﻓِﻰ ﯾَدَﯾْكَ وَاﻟﺷﱠرﱡ ﻟَﯾْسَ إِﻟَﯾْكَ أَﻧَﺎ ﺑِكَ وَإِﻟَﯾْكَ ﺗَﺑَﺎرَﻛْتَ وَﺗَﻌَﺎﻟَﯾْتَ أَﺳْﺗَﻐْﻔِرُكَ وَأَﺗُوبُ إِﻟَﯾْكَ ]رواه أﺑو داود )ﺗﺣﻘﯾق آل ﺳﻠﻣﺎن([.
Dari ‘Alī Ibn Abī Ṭālib r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila berdiri hendak melaksanakan salat, beliau bertakbir kemudian mengucapkan, Wajjahtu wajhiya lillażī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfan243 wa mā ana minal-musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wamāmatī lillāhi rabbil-‘ālamīn. Lā syarīka lahu wa bi żālika umirtu wa ana minal-muslimīn. Allāhumma antal-maliku lā ilāha [lī] illā anta. Anta rabbī wa ana ‘abduka ẓalamtu nafsī wa’taraftu bi żanbī faghfir lī żunūbī jamī‘an innahu lā yaghfiruż-żunūba illā anta wahdinī li aḥsani akhlāqī lā yahdī li aḥsanihā illā anta waṣrif ‘annī sayyi’ahā lā yaṣrifu ‘annī sayyi’ahā illā anta labbaika wa sa‘daika wal-khairu kulluhu fī yadika wasy-syarru laisa ilaika. Ana bika wa ilaika, tabārakta wa ta‘ālaita astaghfiruka wa atūbu ilaika (Kuhadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan taat dan saya tidak termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi- Nya dan oleh karena itu saya diperintahkan dan saya termasuk golongan orang-orang muslim. Ya Allah Engkaulah Yang Maha Kuasa tidak ada tuhan kecuali Engkau. Engkau Tuhanku dan saya adalah hamba-Mu, saya telah berbuat aniaya terhadap dirikudan saya telah mengetahui akan dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali hanya Engkau, maka berikan petunjuk kepada saya kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat memberi petunujuk kepada yang terbaik kecuali hanya Engkau. Dan jauhkanlah saya dari segala kejelekan, tidak ada yang dapat menjauhkan diri saya dari kejelekan kecuali hanya Engkau. Aku penuhi seruan- Mu, aku penuhi perintah-Mu dan kebaikan seluruhnya di tangan-Mu dan kejelekan tidak kepada-Mu. Aku senantiasa dengan-Mu dan kepadamu [saya kembali]. Engkay yang maha memberi barakah dan maha tinggi. Dan saya mohon ampunan kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu) [HR Abū Dāwūd (edisi Āl Salmān)].
Dan berasarkan Berdasarkan hadis dari ‘Alī Ibn Abī Ṭālib riwayat Muslim,
ﻋَنْ ﻋَﻠِﻲِّ ﺑْنِ أَﺑِﻲ طَﺎﻟِبٍ ﻋَنْ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أَﻧﱠﮫُ ﻛَﺎنَ إِذَا ﻗَﺎمَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻗَﺎلَ وَﺟﱠﮭْتُ وَﺟْﮭِﻲَ ﻟِﻠﱠذِي ﻓَطَرَ اﻟﺳﱠﻣَﺎوَاتِ وَاﻷَْرْضَ ﺣَﻧِﯾﻔًﺎ وَﻣَﺎ أَﻧَﺎ ﻣِنْ اﻟْﻣُﺷْرِﻛِﯾنَ إِنﱠ ﺻَﻼَﺗِﻲ وَﻧُﺳُﻛِﻲ وَﻣَﺣْﯾَﺎيَ وَﻣَﻣَﺎﺗِﻲ لِلَّهِ رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ ﻻَ ﺷَرِﯾكَ ﻟَﮫُ وَﺑِذَﻟِكَ أُﻣِرْتُ وَأَﻧَﺎ ﻣِنْ اﻟْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾنَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ أَﻧْتَ اﻟْﻣَﻠِكُ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ أَﻧْتَ أَﻧْتَ رَﺑِّﻲ وَأَﻧَﺎ ﻋَﺑْدُكَ ظَﻠَﻣْتُ ﻧَﻔْﺳِﻲ وَاﻋْﺗَرَﻓْتُ ﺑِذَﻧْﺑِﻲ ﻓَﺎﻏْﻔِرْ ﻟِﻲ ذُﻧُوﺑِﻲ ﺟَﻣِﯾﻌًﺎ إِﻧﱠﮫُ ﻻَ ﯾَﻐْﻔِرُ اﻟذﱡﻧُوبَ إِﻻﱠ أَﻧْتَ وَاھْدِﻧِﻲ ﻷَِﺣْﺳَنِ اﻷَْﺧْﻼَقِ ﻻَ ﯾَﮭْدِي ﻷَِﺣْﺳَﻧِﮭَﺎ إِﻻﱠ أَﻧْتَ وَاﺻْرِفْ ﻋَﻧِّﻲ ﺳَﯾِّﺋَﮭَﺎ ﻻَ ﯾَﺻْرِفُ ﻋَﻧِّﻲ ﺳَﯾِّﺋَﮭَﺎ إِﻻﱠ أَﻧْتَ ﻟَﺑﱠﯾْكَ وَﺳَﻌْدَﯾْكَ وَاﻟْﺧَﯾْرُ ﻛُﻠﱡﮫُ ﻓِﻲ ﯾَدَﯾْكَ وَاﻟﺷﱠرﱡ ﻟَﯾْسَ إِﻟَﯾْكَ أَﻧَﺎ ﺑِكَ وَإِﻟَﯾْكَ ﺗَﺑَﺎرَﻛْتَ وَﺗَﻌَﺎﻟَﯾْتَ أَﺳْﺗَﻐْﻔِرُكَ وَأَﺗُوبُ إِﻟَﯾْكَ ]رواه ﻣﺳﻠم[
Dari ‘Alī Ibn Abī Ṭālib [diriwayatkan] dari Rasulullah saw bahwasanya apabila beliau melaksanakan salat, beliau mengucapkan, Wajjahtu wajhiya lillażī faṭaras-samāwāti wal- arḍa ḥanīfan244 wa mā ana minal-musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wamāmatī lillāhi rabbil-‘ālamīn. Lā syarīka lahu wa bi żālika umirtu wa ana minal-muslimīn. Allāhumma antal-maliku lā ilāha illā anta. Anta rabbī wa ana ‘abduka ẓalamtu nafsī wa’taraftu bi żanbī faghfir lī żunūbī jamī‘an innahu lā yaghfiruż-żunūba illā anta wahdinī li aḥsani akhlāqī lā yahdī li aḥsanihā illā anta waṣrif ‘annī sayyi’ahā lā yaṣrifu ‘annī sayyi’ahā illā anta labbaika wa sa‘daika wal-khairu kulluhu fī yadika wasy-syarru laisa ilaika. Ana
243 Dalam riwayat Aḥmad ada tambahan kata “musliman” sehingga menjadi “ḥanīfan musliman”. Keduanya sah dibaca sesuai dengan prinsip “Tambahan rawi terpercaya adalah makbul.” Begitu pula “wa anā minal- muslimīn” bisa dibaca “wa anān awwalul-muslimīn” sesuai 244 Dalam riwayat Aḥmad ada tambahan kata “musliman” sehingga menjadi “ḥanīfan musliman”. Keduanya sah dibaca sesuai dengan prinsip “Tambahan rawi terpercaya adalah makbul.” Begitu pula “wa anā minal- muslimīn” bisa dibaca “wa anān awwalul-muslimīn” sesuai
bika wa ilaika, tabārakta wa ta‘ālaita astaghfiruka wa atūbu ilaika (Kuhadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan taat dan saya tidak termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan oleh karena itu saya diperintahkan dan saya termasuk golongan orang-orang muslim. Ya Allah Engkaulah Yang Maha Kuasa tidak ada tuhan kecuali Engkau. Engkau Tuhanku dan saya adalah hamba- Mu, saya telah berbuat aniaya terhadap dirikudan saya telah mengetahui akan dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali hanya Engkau, maka berikan petunjuk kepada saya kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat memberi petunujuk kepada yang terbaik kecuali hanya Engkau. Dan jauhkanlah saya dari segala kejelekan, tidak ada yang dapat menjauhkan diri saya dari kejelekan kecuali hanya Engkau. Aku penuhi seruan-Mu, aku penuhi perintah-Mu dan kebaikan seluruhnya di tangan-Mu dan kejelekan tidak kepada-Mu. Aku senantiasa dengan-Mu dan kepadamu [saya kembali]. Engkau yang maha memberi barakah dan maha tinggi. Dan saya mohon ampunan kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu) [HR.Muslim].
c. Atau membaca Allāhu akbar kabīran dan seterusnya sebagaimana berikut,
االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ ﻛَﺑِﯾرًا وَاﻟْﺣَﻣْدُ لِلَّهِ ﻛَﺛِﯾرًا وَﺳُﺑْﺣَﺎنَ االلهﱠِ ﺑُﻛْرَةً وَأَﺻِﯾﻼً.
Allāhu akbar kabīrran wal-ḥamdulillāhi kaṡīran wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā.
Hal ini didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a. sebagai berikut,
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ ﻗَﺎلَ ﺑَﯾْﻧَﻣَﺎ ﻧَﺣْنُ ﻧُﺻَﻠِّﻲ ﻣَﻊَ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذْ ﻗَﺎلَ رَﺟُلٌ ﻣِنَ اﻟْﻘَوْمِ االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ ﻛَﺑِﯾرًا وَاﻟْﺣَﻣْدُ لِلَّهِ ﻛَﺛِﯾرًا وَﺳُﺑْﺣَﺎنَ االلهﱠِ ﺑُﻛْرَةً وَأَﺻِﯾﻼً ﻓَﻘَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻣَنِ اﻟْﻘَﺎﺋِلُ ﻛَذَا وَﻛَذَا ﻗَﺎلَ رَﺟُلٌ ﻣِنِ اﻟْﻘَوْمِ أَﻧَﺎ ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﻗَﺎلَ ﻋَﺟِﺑْتُ ﻟَﮭَﺎ ﻓُﺗِﺣَتْ ﻟَﮭَﺎ أَﺑْوَابُ اﻟﺳﱠﻣَﺎءِ ﻗَﺎلَ اﺑْنُ ﻋُﻣَرَ ﻣَﺎ ﺗَرَﻛْﺗُﮭُنﱠ ﻣُﻧْذُ ﺳَﻣِﻌْﺗُﮭُنﱠ ﻣِنْ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ]رواه اﻟﺗرﻣذي[.
Dari Ibnu ‘Umar r.a. [diriwayatkan bahwa] dia berkata: ketika kami salat bersama Rasulullah saw tiba-tiba seorang laki-laki dari jama’ah mengucapkan Allāhu akbar kabīrraw wal-ḥamdulillāhi kaṡīraw wa subḥānallāhi bukrataw wa aṣīlā (Allah Maha Besar sedemikian rupa dan segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang). Lalu Rasulullah saw bertanya: Siapa yang mengucapkan [ucapan doa] demikian tadi? Lalu seorang laki-laki dari jamaah menjawab: Saya ya Rasulullah. Lalu beliau mengatakan: Saya takjub kepada ucapan itu karena lantaran doa itu dibuka pintu-pintu langit. Ibnu ‘Umar berkata: Saya tidak meninggalkan mengucapkan doa itu sejak saya mendengarnya dari Rasulullah saw [HR. at-Tirmiżī].
6. Membaca Taawuz (Istiazah) Secara Sir
Sesudah membaca iftitah kemudian bacalah taawuz (istiazah) atau ucapan menyatakan berlindung kepada Allah swt dari segala kejahatan makhluk yang terkutuk. Rasulullah saw, setelah membaca doa iftitah dan sebelum membaca basmalah dalam salat, membaca taawuz
(memohon perlindungan kepada Allah swt). Hal ini didasarkan kepada ayat-ayat al-Quran dan hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw, antara lain sebagaimana di bawah ini, 1) Firman Allah dalam surah an-Nahl (16): 98
ﻓَﺈِذَا ﻗَرَأْتَ اﻟْﻘُرْآنَ ﻓَﺎﺳْﺗَﻌِذْ ﺑِﺎاللهﱠِ ﻣِنَ اﻟﺷﱠﯾْطَﺎنِ اﻟرﱠﺟِﯾمِ ]اﻟﻧﺣل )16
(: [. Dan apabila engkau hendak membaca al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk [Q. 16: 98]. 2) Firman Allah dalam surah surah Fushilat (41): 36
وَإِﻣﱠﺎ ﯾَﻧْزَﻏَﻧﱠكَ ﻣِنَ اﻟﺷﱠﯾْطَﺎنِ ﻧَزْغٌ ﻓَﺎﺳْﺗَﻌِذْ ﺑِﺎاللهﱠِ إِﻧﱠﮫُ ﺳَﻣِﯾﻊٌ ﻋَﻠِﯾمٌ ]ﻓﺻﻠت )41
(: [. Dan jika suatu gangguan dari syaitah mengganggumu, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [Q. 41: 36]. 3) Hadis Abū Sa‘īd al-Khudrī,
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﺳَﻌِﯾدٍ اﻟْﺧُدْرِيِّ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﺎمَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﺑِﺎﻟﻠﱠﯾْلِ ﻛَﺑﱠرَ ﺛُمﱠ ﯾَﻘُولُ ﺳُﺑْﺣَﺎﻧَكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ وَﺑِﺣَﻣْدِكَ وَﺗَﺑَﺎرَكَ اﺳْﻣُكَ وَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺟَدﱡكَ وَﻻَ إِﻟَﮫَ ﻏَﯾْرُكَ ﺛُمﱠ ﯾَﻘُولُ االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ ﻛَﺑِﯾرًا ﺛُمﱠ ﯾَﻘُولُ أَﻋُوذُ ﺑِﺎاللهﱠِ اﻟﺳﱠﻣِﯾﻊِ اﻟْﻌَﻠِﯾمِ ﻣِنْ اﻟﺷﱠﯾْطَﺎنِ اﻟرﱠﺟِﯾمِ ﻣِنْ ھَﻣْزِهِ وَﻧَﻔْﺧِﮫِ وَﻧَﻔْﺛِﮫِ] رواه اﻟﺗرﻣذى[.
Dari Abū Sa’id al-Khudrī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila berdiri hendak salat di waktu malam, beliau bertakbir lantas mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa bi ḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha ghairuk” (Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” Lalu beliau mengucapkan, “Allāhu akbar kabīra”. Kemudian beliau membaca, “A’ūżu billāhis-samī‘il-‘alīm, minasy-syaiṭānir-rajīm min hamzihi wa nafkhihi wa nafṡih” (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, tiupannya, hembusannya [HR. at-Tirmiżī].
Bacaan taawuz dalam salat berdasarkan dalil-dalil di atas dapat dipilih satu variasi berikut:
a) أَﻋُوذُ ﺑِﺎاللهﱠِ ﻣِنَ اﻟﺷﱠﯾْطَﺎنِ اﻟرﱠﺟِﯾمِ a‘ūżu billāhi minasy-syaitānir-rajīm (Aku berlindung kepada
Allah dari syaitan yang terkutuk). Ini didasarkan kepada surat an-Nahl ayat 98 di atas.
b) أَﻋُوذُ ﺑِﺎاللهﱠِ اﻟﺳﱠﻣِﯾﻊِ اﻟْﻌَﻠِﯾمِ ﻣِنْ اﻟﺷﱠﯾْطَﺎنِ اﻟرﱠﺟِﯾمِ a‘ūżu billāhi-samī‘il-‘alīmi minasy-syaitānir-
rajīm (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengeahui dari
syaitan yang terkutuk). Ini didasarkan kepada surat Fussilat nayat 36.
c) أ◌َﻋُوذُ ﺑِﺎاللهﱠِ اﻟﺳﱠﻣِﯾﻊِ اﻟْﻌَﻠِﯾمِ ﻣِنْ اﻟﺷﱠﯾْطَﺎنِ اﻟرﱠﺟِﯾمِ ﻣِنْ ھَﻣْزِهِ وَﻧَﻔْﺧِﮫِ وَﻧَﻔْﺛِﮫِ a‘ūżu billāhi-samī‘il-
‘alīmi minasy-syaitānir-rajīm, min hamzihi wa nafkhihi wa nafṡih (Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, tiupannya, dan hembusannya). Ini didasarkan kepada hadis Abū Sa‘īd al-Khudrī riwayat at-Tirmiżī. Istiazah dibaca pada setiap rakaat berdasarkan keumuman surah an-Nahl (16):98, yaitu perintah membaca taawuz baik di luar salat maupun di dalam salat. Jika di luar salat diperintahkan, maka tentunya di dalam salat seseorang harus lebih memperhatikan lagi diri dan salatnya, karena ketika itu ia sedang berdiri beribadah kepada Tuhannya, yang semestinya ditegakkan dengan khusyuk dan menjaga salatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Tidak cukup satu istiazah tetapi dalam setiap rakaat harus beristiazah. Memang ada hadis dari Abū Hurairah riwayat Muslim,
ﻋَنْ أَﺑِﻲ زُرْﻋَﺔَ ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻌْتُ أَﺑَﺎ ھُرَﯾْرَةَ ﯾَﻘُولُ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻧَﮭَضَ ﻣِنَ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔِ اﻟﺛﱠﺎﻧِﯾَﺔِ اﺳْﺗَﻔْﺗَﺢَ اﻟْﻘِرَاءَةَ ﺑِﺎﻟْﺣَﻣْدُ لِلَّهِ رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ وَﻟَمْ ﯾَﺳْﻛُتْ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Abū Zur‘ah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Aku mendengar Abū Hurairah mengatakan: Rasulullah saw apabila bangkit dari rakaat kedua, beliau memulai bacaan dengan “Alhamdulillah rabbil ‘alamin” dan beliau tidak diam [HR Muslim]. Hadis Abū Hurairah ini tidaklah menafikan adanya bacaan taawuz. Karena yang ditiadakan dalam hadis Abū Hurairah adalah diam yang diketahui, yaitu diam tertentu untuk membaca doa iftiftah. Adapun diam karena membaca taawuz dan basmalah merupakan diam yang sangat ringan/sebentar yang tidak dirasakan/disadari oleh makmum karena tersibukkannya makmum dengan gerakan bangkit ke rakaat berikutnya. Juga, setiap rakaat itu dianggap sebagai sebuah salat, karena itulah mereka diwajibkan membaca al-Fatihah dalam setiap rakaat, maka yang lebih utama taawuz juga dianggap demikian.
7. Membaca Basmalah Secara Jahar Atau Sir Pada Salat dengan Bacaan Jahar dan
Secara Sir Pada Salat Dengan Bacaan Sir Setelah membaca doa iftitah dan taawuz, seseorang yang mengerjakan salat membaca basmalah, yaitu bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Basmalah dibaca sesudah taawuz dan sebelum membaca al-Fatihah. Basmalah dibaca dalam semua rakaat sebelum membaca al-Fatihah. Pendapat ini diikuti oleh jumhur ulama dari kalangan Sahabat seperti ‘Umar,
‘Uṡmān dan ‘Alī (dengan catatan ada perbedaan riwayat dari mereka ini), dan dari Abū Hurairah, ‘Ammār, Ibn az-Zubair, Ibn ‘Umar, Ibn ‘Abbās, dan murid-muridnya dari kalangan Tabiin seperti Sa‘īd Ibn Jubair (w. 95/714), ‘Aṭā’ Ibn Abī Rabāḥ (w. 114/732), Mujāhid Ibn Jabr (w. 101/719), Tāwūs Ibn Kaisān (w. 106/724), Ibn Syihāb az-Zuhrī (w. 124/742), ‘Amr Ibn Dīnār (w. 126/744), Ibn Juraij (w. 150/767), Muslim Ibn Khālid (w. 179/795) serta banyak ulama lain seperti Abū Hanīfah dan pengikutnya, asy-Syāfi‘ī dan penganutnya, Aḥmad dan murid-muridnya, serta sejumlah ulama awal seperti Ibn Abī Lailā (w. 82/701), Sufyān aṡ-Ṡaurī (w. 161/778), al-Hasan Ibn Hayy (w. 169/785), Abū ‘Ubaid al- Qāsim Ibn Sallām (w. 224/839), Ishāq Ibn Rahawaih (w. 238/853).
a. Dalil membaca basmalah
Dasar hukum membaca basmalah sebelum membaca al-Fatihah dalam salat adalah hadis,
ﻋَنْ ﻧُﻌَﯾْمٍ اﻟْﻣُﺟْﻣِرِ ﻗَﺎلَ ﺻَﻠﱠﯾْتُ وَرَاءَ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ ﻓَﻘَرَأَ ﺑِﺳْمِ االلهﱠِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ ﺛُمﱠ ﻗَرَأَ ﺑِﺄُمِّ اﻟْﻘُرْآنِ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﺑَﻠَﻎَ ”ﻏَﯾْرِ اﻟْﻣَﻐْﺿُوبِ ﻋَﻠَﯾْﮭِمْ وَﻻَ اﻟﺿﱠﺎﻟِّﯾنَ“ ﻓَﻘَﺎلَ آﻣِﯾنَ ﻓَﻘَﺎلَ اﻟﻧﱠﺎسُ آﻣِﯾنَ وَﯾَﻘُولُ ﻛُﻠﱠﻣَﺎ ﺳَﺟَدَ االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ وَإِذَا ﻗَﺎمَ ﻣِنْ اﻟْﺟُﻠُوسِ ﻓِﻲ اْﻻﺛْﻧَﺗَﯾْنِ ﻗَﺎلَ االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ وَإِذَا ﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ وَاﻟﱠذِي ﻧَﻔْﺳِﻲ ﺑِﯾَدِهِ إِﻧِّﻲ ﻷَﺷْﺑَﮭُﻛُمْ ﺻَﻼَةً ﺑِرَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ]رواه اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ واﺑن ﺧزﯾﻣﺔ واﺑن ﺣﺑﺎن واﻟﺑﯾﮭﻘﻲ واﻟدارﻗطﻧﻲ واﻟطﺣﺎوي واﺑن ﻋﺑد اﻟﺑر واﻟﺧطﯾب اﻟﺑﻐدادي. ﺻﺣﺣﮫ اﻟﺣﺎﻛم وواﻓﻘﮫ اﻟذھﺑﻲ وﺻﺣﺣﮫ أﯾﺿﺎ اﻷرﻧؤوط وﺿﻌﻔﮫ اﻷﻟﺑﺎﻧﻲ[
Dari Nu‘aim al-Mujmir [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Aku salat di belakang Abū Hurairah; ia membaca bismillāhir-rahmānir-rahīm, kemudian membaca Ummul Quran (Al- Fatihah) hingga sampai gairil-magdūbi ‘alaihim wa lād-dāllīn, lalu mengucapkan āmīn dan jamaah pun mengucapkan āmīn. Setiap kali sujud, ia mengucapkan Allāhu akbar dan setiap kali bangkit dari duduk rakaat kedua ia juga mengucapkan Allāhu akbar. Ketika selesai mengucapkan salam, ia mengatakan, “Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, Sesungguhnya aku adalah orang yang salatnya paling menyerupai salat Rasulullah saw [HR an-Nasā’ī, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibbān, al-Baihaqī, ad-Dāraqutnī, at-Tahāwī, Ibn ‘Abd al- Barr, dan al-Khatīb al-Bagdādī. Disahihkan oleh al-Ḥākim serta disetujui oleh aż-Żahabī, dan disahihkan juga oleh al-Arna’ūṭ, tetapi didaifkan oleh al-Albānī].
b. Jahar dan sir dalam salat jahar
Dalam salat sir, yaitu salat di mana bacaan surat dibaca pelan (seperti orang berbisik), misalnya dalam salat Zuhur atau salat Asar, basmalah dibaca sir pula. Untuk salat jahar, yaitu salat di mana bacaan surat dibaca dengan suara keras (terdengar oleh makmum), maka basmalah dapat dibaca jahar atau dapat dibaca sir. Ini didasarkan kepada jamak di antara
hadis-hadis yang berlawanan di mana pada satu sisi terdapat hadis-hadis yang menunjukkan bahwa Nabi menjaharkan bacaan basmalah dalam salat jahar dan pada sisi lain terdapat hadis-hadis yang menunjukkan bahwa Nabi saw membaca basmalah secara sir. Dalam masalah ini memang ada perbedaan pendapat para fukaha. Di satu sisi beberapa ulama berpendapat bahwa bacaan basmalah dijaharkan dalam salat jahar dan pada sisi lain ada pendapat bahwa bacaan basmalah disirkan dalam semua salat termasuk salat jahar. Perbedaan pendapat ini dikarenakan adanya hadis-hadis yang saling berlawanan mengenai masalah tersebut. Sesuai dengan kaidah dalam manhaj tarjih, di mana dinyatakan bahwa apabila ada taarud dalil, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menjamak (mengkompromikan), baru apabila jamak tidak bisa dilakukan diambil langkah berikutnya, yaitu tarjih (memilih yang lebih kuat), nasakh (mengganti yang terdahulu dengan yang datang kemudian) atau tawakuf (tidak diambil keputusan).
*Sampel dari hadis-hadis yang berlawanan tersebut adalah, 1) Hadis tentang basmalah dibaca jahar:
أ( أَﺧْﺑَرَﻧَﺎ ﻣُﺣَﻣﱠدُ ﺑْنُ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ اﻟْﺣَﻛَمِ ﻋَنْ ﺷُﻌَﯾْبٍ ﺣَدﱠﺛَﻧَﺎ اﻟﻠﱠﯾْثُ ﺣَدﱠﺛَﻧَﺎ ﺧَﺎﻟِدٌ ﻋَنْ ﺳَﻌِﯾدِ ﺑْنِ أَﺑِﻲ ھِﻼَلٍ ﻋَنْ ﻧُﻌَﯾْمٍ اﻟْﻣُﺟْﻣِرِ ﻗَﺎلَ ﺻَﻠﱠﯾْتُ وَرَاءَ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ ﻓَﻘَرَأَ ﺑِﺳْمِ االلهﱠِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ ﺛُمﱠ ﻗَرَأَ ﺑِﺄُمِّ اﻟْﻘُرْآنِ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﺑَﻠَﻎَ ”ﻏَﯾْرِ اﻟْﻣَﻐْﺿُوبِ ﻋَﻠَﯾْﮭِمْ وَﻻَ اﻟﺿﱠﺎﻟِّﯾنَ“ ﻓَﻘَﺎلَ آﻣِﯾنَ ﻓَﻘَﺎلَ اﻟﻧﱠﺎسُ آﻣِﯾنَ وَﯾَﻘُولُ ﻛُﻠﱠﻣَﺎ ﺳَﺟَدَ االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ وَإِذَا ﻗَﺎمَ ﻣِنْ اﻟْﺟُﻠُوسِ ﻓِﻲ اْﻻﺛْﻧَﺗَﯾْنِ ﻗَﺎلَ االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ وَإِذَا ﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ وَاﻟﱠذِي ﻧَﻔْﺳِﻲ ﺑِﯾَدِهِ إِﻧِّﻲ ﻷَﺷْﺑَﮭُﻛُمْ ﺻَﻼَةً ﺑِرَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ]رواه اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ واﺑن ﺧزﯾﻣﺔ واﺑن ﺣﺑﺎن واﻟﺑﯾﮭﻘﻲ واﻟدارﻗطﻧﻲ واﻟطﺣﺎوي واﺑن ﻋﺑد اﻟﺑر واﻟﺧطﯾب اﻟﺑﻐدادي[.
a) [An-Nasā’ī berkata]: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad Ibn ‘Abdillāh Ibn ‘Abd al-Hakam, dari Syu‘aib [yang menyatakan]: Telah mewartakan kepada kami al-Laiṡ [yang menyatakan]: Telah mewartakan kepada kami Khālid, dari Sa‘īd Ibn Abī Hilāl, dari Nu‘aim al-Mujmir [bahwa] ia berkata: aku salat di belakang Abū Hurairah; ia membaca bismillāhir-rahmānir-rahīm, kemudian membaca Ummul Quran (Al-Fatihah) hingga sampai gairil-magdūbi ‘alaihim wa lād-dāllīn, lalu mengucapkan āmīn dan jamaah pun mengucapkan āmīn. Setiap kali sujud, ia mengucapkan Allāhu akbar dan setiap kali bangkit dari duduk rakaat kedua ia juga mengucapkan Allāhu akbar. Ketika selesai mengucapkan salam, ia mengatakan, “Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, Sesungguhnya aku adalah orang yang salatnya paling menyerupai salat Rasulullah saw [HR an-Nasā’ī, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibbān, al-Baihaqī, ad-Dāraqutnī, aṭ-Ṭahāwī, Ibn ‘Abd al-Barr, dan al- Khatīb al-Bagdādī].
ب( ﺣَدﱠﺛَﻧَﺎ ﯾَﺣْﯾَﻰ ﺑْنُ ﺳَﻌِﯾدٍ اﻷُﻣَوِىﱡ ﻗَﺎلَ ﺣَدﱠﺛَﻧَﺎ اﺑْنُ ﺟُرَﯾْﺞٍ ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ أَﺑِﻰ ﻣُﻠَﯾْﻛَﺔَ ﻋَنْ أُمِّ ﺳَﻠَﻣَﺔَ أَﻧﱠﮭَﺎ ﺳُﺋِﻠَتْ ﻋَنْ ﻗِرَاءَةِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎﻟَتْ ﻛَﺎنَ ﯾُﻘَطِّﻊُ ﻗِرَاءَﺗَﮫُ آﯾَﺔً آﯾَﺔً )ﺑِﺳْمِ االلهﱠِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ اﻟْﺣَﻣْدُ لِلَّهِ رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ ﻣَﺎﻟِكِ ﯾَوْمِ اﻟدِّﯾنِ( ]رواه أﺣﻣد وأﺑو داود واﻟﺗرﻣذي واﻟﺣﺎﻛم واﻟﺑﯾﮭﻘﻲ وإﺳﺣﺎق ﺑن راھوﯾﮫ واﻟدارﻗطﻧﻲ واﺑن أﺑﻲ
ﺷﯾﺑﺔ واﻟطﺑراﻧﻲ واﻟطﺣﺎوي واﺑن ﻋﺑد اﻟﺑر واﻟﺧطﯾب اﻟﺑﻐدادي[.
b) [Aḥmad berkata]: Telah mewartakan kepada kami Yahyā Ibn Sa‘īd al-Umawī, ia berkata: Telah mewartakan kepada kami Ibn Juraij, dari ‘Abdullāh Ibn Abī Mulaikah, dari Ummu Salamah bahwa ia (Ummu Salamah) ditanya tentang bacaan Rasulullah saw, lalu ia (Ummu Salamah) menjawab: Beliau memotong-motong bacaannya satu ayat satu ayat: bismillāhir- rahmānir-rahīm, al-hamdulillāhi rabbil-‘ālamīn, ar-rahmārnir-rahīm, māliki yaumiddīn [HR Aḥmad, Abū Dāwūd, at-Tirmiżī, al-Hākim, al-Baihaqī, Ishāq Ibn Rahawaih, ad-Dāraqutnī, Ibn Abī Syaibah, aṭ-Ṭabarānī, at-Tahāwī, Ibn ‘Abd al-Barr, dan al-Khatīb al-Bagdādī].
- Hadis tentang basmalah dibaca sir
أ( ﻋَنْ أَﺑِﻰ اﻟْﺟَوْزَاءِ ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ ﻗَﺎﻟَتْ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﺳْﺗَﻔْﺗِﺢُ اﻟﺻﱠﻼَةَ ﺑِﺎﻟﺗﱠﻛْﺑِﯾرِ وَاﻟْﻘِرَاءَةَ ﺑِﺎﻟْﺣَﻣْدُ لِلَّهِ رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ وَﻛَﺎنَ إِذَا رَﻛَﻊَ ﻟَمْ ﯾُﺷْﺧِصْ رَأْﺳَﮫُ وَﻟَمْ ﯾُﺻَوِّﺑْﮫُ وَﻟَﻛِنْ ﺑَﯾْنَ ذَﻟِكَ وَﻛَﺎنَ إِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ ﻣِنَ اﻟرﱡﻛُوعِ ﻟَمْ ﯾَﺳْﺟُدْ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﺳْﺗَوِىَ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ وَﻛَﺎنَ إِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ ﻣِنَ اﻟﺳﱠﺟْدَةِ ﻟَمْ ﯾَﺳْﺟُدْ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﺳْﺗَوِىَ ﺟَﺎﻟِﺳًﺎ وَﻛَﺎنَ ﯾَﻘُولُ ﻓِﻰ ﻛُلِّ رَﻛْﻌَﺗَﯾْنِ اﻟﺗﱠﺣِﯾﱠﺔَ وَﻛَﺎنَ ﯾَﻔْرِشُ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﯾَﻧْﺻِبُ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ وَﻛَﺎنَ ﯾَﻧْﮭَﻰ ﻋَنْ ﻋُﻘْﺑَﺔِ اﻟﺷﱠﯾْطَﺎنِ وَﯾَﻧْﮭَﻰ أَنْ ﯾَﻔْﺗَرِشَ اﻟرﱠﺟُلُ ذِرَاﻋَﯾْﮫِ اﻓْﺗِرَاشَ اﻟﺳﱠﺑُﻊِ وَﻛَﺎنَ ﯾَﺧْﺗِمُ اﻟﺻﱠﻼَةَ ﺑِﺎﻟﺗﱠﺳْﻠِﯾمِ ]رواه ﻣﺳﻠم واﻟﻠﻔظ ﻟﮫ وأﺣﻣد أﺑو ﻋواﻧﺔ واﻟﺑﯾﮭﻘﻲ وأﺑو داود اﻟطﯾﺎﻟﺳﻲ ﻋﺑد اﻟرزاق واﻟطﺑراﻧﻲ[.
a) [Muslim berkata]: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad Ibn ‘Abdillāh Ibn Numair, [yang menyatakan]: Telah mewartakan kepada kami Abū Khālid, maksudnya al- Ahmar, dari Husain al-Mu‘allim –alih sanad– Muslim berkata: Telah mewartakan kepada kami Ishāq Ibn Ibrāhīm –dan ini lafalnya–, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami ‘Īsā Ibn Yūnus [yang menyatakan]: Telah mewartakan kepada kami Husain al-Mu‘allim dari Budail Ibn Maisarah, dari Abū al-Jauzā’, dari ‘Ā’isyah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw memulai salat dengan takbir dan [memulai] qiraat dengan al-hamdulillāhi rabbil-‘ālamīn, dan apabila rukuk beliau tidak menegakkan kepalanya dan tidak pula meluruskannya, akan tetapi tengah-tengah antara yang demikian, dan apabila bangkit dari rukuk, ia tidak langsung sujud sebelum terlebih dahulu berdiri lurus, dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud, ia tidak langsung sujud lagi sebelum terlebih dahulu duduk dengan sempurna, dan beliau membaca tahiyat pada setiap dua rakaat sambil membaringkan telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya. Beliau melarang duduk mencangkung seperti setan dan melarang menghamparkan lengan bawah seperti dilakukan binatang buas. Beliau menutup salatnya dengan mengucapkan salam [HR Muslim, dan ini lafalnya, Aḥmad, Abū ‘Awānah, al-Baihaqī, Abū Dāwūd aṭ-Ṭayālisī, ‘Abd ar-Razzāq, dan aṭ-Ṭabarānī].
ب( ﺣَدﱠﺛَﻧَﺎ ﻣُﺣَﻣﱠدُ ﺑْنُ اﻟْﻣُﺛَﻧﱠﻰ وَاﺑْنُ ﺑَﺷﱠﺎرٍ ﻛِﻼَھُﻣَﺎ ﻋَنْ ﻏُﻧْدَرٍ ﻗَﺎلَ اﺑْنُ اﻟْﻣُﺛَﻧﱠﻰ ﺣَدﱠﺛَﻧَﺎ ﻣُﺣَﻣﱠدُ ﺑْنُ ﺟَﻌْﻔَرٍ ﺣَدﱠﺛَﻧَﺎ ﺷُﻌْﺑَﺔُ ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻌْتُ ﻗَﺗَﺎدَةَ ﯾُﺣَدِّثُ ﻋَنْ أَﻧَسٍ ﻗَﺎلَ ﺻَﻠﱠﯾْتُ ﻣَﻊَ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ وَأَﺑِﻰ ﺑَﻛْرٍ وَﻋُﻣَرَ وَﻋُﺛْﻣَﺎنَ ﻓَﻠَمْ أَﺳْﻣَﻊْ أَﺣَدًا ﻣِﻧْﮭُمْ ﯾَﻘْرَأُ ﺑِﺳْمِ االلهﱠِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ ]رواه ﻣﺳﻠم واﻟﻠﻔظ ﻟﮫ واﻟﻧﺳﺎﺋﻲ وأﺣﻣد واﺑن ﺧزﯾﻣﺔ واﺑن ﺣﺑﺎن أﺑو ﻋواﻧﺔ واﻟﺑﯾﮭﻘﻲ وﻋﺑد اﺑن ﺣﻣﯾد واﻟدارﻗطﻧﻲ[.
b) [Muslim berkata]: Telah mewartakan kepada kami Muhammad Ibn al-Muṡannā dan Ibn Basysyār, keduanya menerima dari Gundar; Ibn al-Muṡannā menyatakan: Telah mewartakan kepada kami Muhammad Ibn Ja‘far, [yang menyatakan]: Telah mewartakan kepada kami Syu‘bah, Ia berkata: Aku mendengar Qatādah mewartakan dari Anas [bahwa] ia berkata: Aku salat di belakang Rassulullah saw, Abū Bakr, ‘Umar dan ‘Uṡmān, maka aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca bismillāhir-rahmānir-rahīm [HR Muslim, dan ini lafalnya, an-Nasā’ī, Aḥmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibbān, Abū ‘Awānah, al- Baihaqī, Abū Dāwūd , at-Tirmiżī, al-Hākim, al-Baihaqī, ‘Abd Ibn Ḥumaid, dan aṭ-Ṭabarānī].
Hadis Abū Hurairah dan Ummu Salamah menunjukkan bahwa basmalah dibaca jahar dalam salat jahar. Hadis ‘Ā’isyah dan Anas menunjukkan bahwa basmalah dibaca sir baik dalam salat jahar maupun dalam salat sir. Karena kedua kelompok hadis-hadis itu adalah sahih, maka penyelesaian taarudnya yang pertama diupayakan agar keduanya dapat dijamak sehingga keduanya diamalkan dan tidak ada yang diabaikan sesuai dengan kaidah fikih yang menyatakan “mengamalkan suatu pernyataan (dalil) lebih utama daripada mengabaikannya.” Cara menjamak kedua kelompok hadis itu adalah dengan menyatakan bahwa hadis-hadis tersebut menyatakan boleh menjahar bacaan basmalah dalam salat jahar sebagaimana difahami dari hadis Abū Hurairah dan Ummu Salamah, dan boleh membacanya dengan sir dalam salat jahar sesuai dengan hadis ‘Ā’isyah dan Anas. Pendapat yang membolehkan membaca dengan jahar dalam salat jahar atau membaca dengan sir dalam salat jahar bukan suatu pendapat ganjil, melainkan juga dikemukakan oleh sejumlah ulama terdahulu, antara lain Ishāq Ibn Rahawaih, dan pendapat ini pula yang dipilih oleh al-Mubārakfūrī. Al-Qādī Abū aṭ-Ṭayyib aṭ-Ṭabarī meriwayatkan bahwa Ibn Abī Lailā dan al-Ḥakam berpendapat bahwa membaca basmalah dengan jahar dan sir sama (kebolehannya). As-San‘ānī menyatakan, “Yang lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat bahwa Nabi saw terkadang menjaharkannya dan terkadang memelankannya.”
8. Membaca Surat Al-Fatihah dan Membaca “Amin”
Setelah membaca taawuz dan basmalah dilanjutkan dengan membaca al-Fatihah karena dalam salat al-Fatihah merupakan bacaan pokok pada tiap-tiap rakaat. Dalam mengerjakan salat sedapat mungkin kita lakukan sesuai dengan Rasulullah saw mengerjakan salat itu, termasuk dalam membaca al-Fatihah. Bagaimana cara Rasulullah membaca al- Fatihah? Untuk memahami bagaimana Rasulullah membaca al-Fatihah bisa dipahami dari beberapa hadis di bawah ini.
( ﻋَنْ ﻗَﺗَﺎدَةَ ﻗَﺎلَ ﺳُﺋِلَ أَﻧَسٌ ﻛَﯾْفَ ﻛَﺎﻧَتْ ﻗِرَاءَةُ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎلَ ﻛَﺎﻧَتْ ﻣَد•ا ﺛُمﱠ
ﻗَرَأَ "ﺑِﺳْمِ االلهﱠِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ" ﯾَﻣُدﱡ ﺑِﺑِﺳْمِ االلهﱠِ وَﯾَﻣُدﱡ ﺑِﺎﻟرﱠﺣْﻣَنِ وَﯾَﻣُدﱡ ﺑِﺎﻟرﱠﺣِﯾمِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
- Dari Qatādah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Anas pernah ditanya bagaimana bacaan Nabi saw. Maka Anas menjawab, “Nabi saw membaca dengan memanjangkan [suaranya].” Kemudian Anas memperdengarkan apa yang Nabi bacakan itu yakni Bismillāhir-raḥmānir- raḥīm, berliau memanjangkan bacaan basmalah, memanjangkan ar-raḥmān dan memanjangkan ar-raḥīm [HR al-Bukhārī].
( ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ أَﺑِﻲ ﻣُﻠَﯾْﻛَﺔَ ﻋَنْ أُمِّ ﺳَﻠَﻣَﺔَ أَﻧﱠﮭَﺎ ﺳُﺋِﻠَتْ ﻋَنْ ﻗِرَاءَةِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎﻟَتْ ﻛَﺎنَ ﯾُﻘَطِّﻊُ ﻗِرَاءَﺗَﮫُ آﯾَﺔً آﯾَﺔً ﺑِﺳْمِ االلهﱠِ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ اﻟْﺣَﻣْدُ لِلَّهِ رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ اﻟرﱠﺣْﻣَنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ ﻣَﺎﻟِكِ ﯾَوْمِ اﻟدِّﯾنِ ]رواه أﺣﻣد[.
- Dari ‘Abdullāh Ibn Abū Mulaikah, dari Ummu Salamah [diriwayatkan bahwa] ia pernah ditanya tentang bacaan Rasulullah saw. Ummu Salamah berkata: Nabi saw memutus-mutus [menghentikan] bacaannya ayat demi ayat: bismillāhir-rahmānir-rahīm [berhenti], alḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn [berhenti], ar- rahmānir-rahīm [berhenti], māliki yaumiddīn [berhenti] [HR Aḥmad].
Dari hadis-hadis tersebut dapat dipahami bahwa dalam membaca al-Fatihah hendaknya membacanya ayat demi ayat dan tidak disambung. Begitu pula dengan memperhatikan tanda-tanda bacaan, seperti tanda waqaf pada akhir ayat yang menunjukkan berhenti tidak disambung.
Berdasar pada beberapa riwayat dijelaskan bahwa dalam salat, Nabi saw membaca surat al-Fatihah dan lainnya dengan menggerakkan lisannya bukan hanya dengan hati. Hal ini didasarkan pada beberapa hadis di antaranya. (
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﻣَﻌْﻣَرٍ ﻗُﻠْتُ ﻟِﺧَﺑﱠﺎبٍ أَﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘْرَأُ ﻓِﻲ اﻟظﱡﮭْرِ وَاﻟْﻌَﺻْرِ ﻗَﺎلَ ﻧَﻌَمْ ﻗُﻠْﻧَﺎ ﻣِنْ أَﯾْنَ ﻋَﻠِﻣْتَ ﻗَﺎلَ ﺑِﺎﺿْطِرَابِ ﻟِﺣْﯾَﺗِﮫ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
- Dari Abū Ma‘mar [diriwayatkan bahwa] saya bertanya kepada Khabbab, apakah Nabi saw membaca ketika salat Zuhur dan Ashar, ia (Khabbab) menjawab: Ya. Kemudian saya bertanya lagi, dari mana kamu mengetahui (Nabi membaca), ia menjawab: dengan gerak- gerak janggutnya [HR al-Bukhārī].
(
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﻣَﻌْﻣَرٍ ﻗَﺎلَ ﻗُﻠْﻧَﺎ ﻟِﺧَﺑﱠﺎبٍ ھَلْ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘْرَأُ ﻓِﻲ اﻟظﱡﮭْرِ وَاﻟْﻌَﺻْرِ ﻗَﺎلَ ﻧَﻌَمْ ﻗُﻠْﻧَﺎ ﺑِمَ ﻛُﻧْﺗُمْ ﺗَﻌْرِﻓُونَ ذَاكَ ﻗَﺎلَ ﺑِﺎﺿْطِرَابِ ﻟِﺣْﯾَﺗِﮫِ]رواه أﺑو داود[.
Dari Abū Ma’mar ia berkata saya bertanya kepada Khabbab, apakah Nabi saw membaca ketika salat Zuhur dan Asar, ia (Khabbāb) menjawab: Ya. Kemudian saya bertanya lagi, bagaimana kamu mengetahui (Nabi membaca)? Ia menjawab: dengan gerak-gerak janggutnya [HR Abū Dāwūd]. Secara umum membaca al-Fatihah dalam salat itu adalah wajib karena merupakan
salah satu rukun salat, sehingga tidak sah salat tanpa membacanya. Hal ini berdasarkan hadis,
ﻋَنْ ﻋُﺑَﺎدَةَ ﺑْنِ اﻟﺻﱠﺎﻣِتِ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ ﻻَ ﺻَﻼَةَ ﻟِﻣَنْ ﻟَمْ ﯾَﻘْرَأْ ﺑِﻔَﺎﺗِﺣَﺔِ اﻟْﻛِﺗَﺎبِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[.
Dari ‘Ubādah Ibn aṣ-Ṣāmit [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw bersabda: Tidak sah salat orang yang tidak membaca Pembukaan Kitab (al-Fatihah) [HR al-Bukhārī dan Muslim].
Hanya saja membaca al-Fatihah di belakang imam terdapat dua garis besar ijtihad fikih, yaitu ijtihad mazhab Hanafi dan ijtihad jumhur ulama. Dalam mazhab Hanafi makmum di belakang imam dalam salat jamaah tidak membaca al-Fatihah. Hal ini didasarkan kepada firman Allah:
وَإِذَا ﻗُرِئَ اﻟْﻘُرْآنُ ﻓَﺎﺳْﺗَﻣِﻌُوا ﻟَﮫُ وَأَﻧْﺻِﺗُوا ﻟَﻌَﻠﱠﻛُمْ ﺗُرْﺣَﻣُونَ ]اﻷﻋراف )7
(: [. Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [QS al-A'raf (7): 204].
Menurut jumhur ulama membaca al-Fatihah baik dalam salat sendirian maupun berjamaah di belakang imam adalah wajib hukumnya berdasarkan hadis ‘Ubādah di atas. Tarjih Muhammadiyah sesuai dan sejalan dengan pandangan jumhur ulama ini. Hadis ‘Ubādah tidak bertentangan dengan ayat 204 al-A‘raf di atas. Ayat di atas dapat dianggap sebagai perintah umum, sedangkan hadis ‘Ubādah memberi perkecualian, yaitu di dalam salat makmum tetap membaca al-Fatihah. Hadis ‘Ubādah memang merupakan hadis ahad, dan menurut kaidah usul fikih Hanafi, hadis ahad tidak dapat membatasi keumuman al-Qur’an, karena hadis ahad adalah zanni, sedangkan al-Qur’an adalah qat’i. Sedangkan kaidah usul fikih jumhur ulama menyatakan bahwa hadis ahad dapat membatasi keumuman al-Quran, karena pernyataan umum itu sifatnya zanni sebab masih memerlukan penjelasan. Oleh karena itu hadis ahad bisa saja membatasi keumuman al-Quran dan sekaligus menjadi penjelas terhadap keumuman itu. Jadi hadis ‘Ubādah tadi tetap dipegangi. Selain itu membaca al-Fatihah di belakang imam itu dikuatkan pula oleh hadis lain,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ أَﺑِﻲ ﻗَﺗَﺎدَةَ ﻋَنْ أَﺑِﯾﮫِ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ ﺗَﻘْرَءُونَ ﺧَﻠْﻔِﻲ ﻗَﺎﻟُوا ﻧَﻌَمْ ﻗَﺎلَ ﻓَﻼَ ﺗَﻔْﻌَﻠُوا إِﻻﱠ ﺑِﺄُمِّ اﻟْﻛِﺗَﺎبِ ]رواه أﺣﻣد[.
Dari ‘Abdullāh Ibnu Abī Qatādah dari ayahnya (Abū Qatādah) (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw bertanya (kepada para sababatnya): Apakah kalian membaca sesuatu di bela-
kangku? Mereka menjawab: Ya. Beliau berkata: Jangan kalian lakukan itu, kecuali Ummul- Kitab [HR Aḥmad].
Jadi jelas bahwa membaca al-Fatihah itu adalah wajib hukumnya di dalam salat, baik sendirian (munfarid) maupun berjamaah. Setelah membaca al-Fatihah (selesai membaca wa lāḍḍāllīn) dilanjutkan dengan membaca doa āmīn. Imam dan makmum membaca āmīn dengan keras dalam salat jahar dan dengan bacaan pelan dalam salat sir. Ini didasarkan kepada hadis,
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ إِذَا أَﻣﱠنَ اﻹِﻣَﺎمُ ﻓَﺄَﻣِّﻧُوا ﻓَﺈِﻧﱠﮫُ ﻣَنْ وَاﻓَقَ ﺗَﺄْﻣِﯾﻧُﮫُ ﺗَﺄْﻣِﯾنَ اﻟْﻣَﻼَﺋِﻛَﺔِ ﻏُﻔِرَ ﻟَﮫُ ﻣَﺎ ﺗَﻘَدﱠمَ ﻣِنْ ذَﻧْﺑِﮫِ وَﻗَﺎلَ اﺑْنُ ﺷِﮭَﺎبٍ وَﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘُولُ آﻣِﯾنَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[.
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan bahwa] bahwa Nabi saw bersabda: Apabila imam membaca "Āmīn", maka kamu hendaklah pula membaca "Āmīn" karena sungguh barang siapa yang bacaan "Āmīn"-nya bersamaan dengan "Āmīn" Malaikat, maka diampuni dosanya yang telah lalu [HR al-Bukhārī dan Muslim].
Dalam riwayat lain dari Abū Hurairah juga, yang dibawakan oleh al-Bukhārī dan Muslim, ditegaskan,
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ رَﺿِﻲَ ﷲ ﻋَﻧْﮫُ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ إِذَا ﻗَﺎلَ أَﺣَدُﻛُمْ آﻣِﯾنَ وَﻗَﺎﻟَتِ اﻟْﻣَﻼَﺋِﻛَﺔُ ﻓِﻰ اﻟﺳﱠﻣَﺎءِ آﻣِﯾنَ ﻓَوَاﻓَﻘَتْ إِﺣْدَاھُﻣَﺎ اﻷُﺧْرَى ﻏُﻔِرَ ﻟَﮫُ ﻣَﺎ ﺗَﻘَدﱠمَ ﻣِنْ ذَﻧْﺑِﮫِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[.
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang kamu mengucapkan "Āmīn” dan Malaikat di langit juga mengucapkan "Āmīn" dan kedua ucapan “Āmīn” itu bersamaan, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu [HR al-Bukhārī dan Muslim].
9. Membaca Surat Atau Ayat Al-Quran
Setelah membaca al-Fatihah dilanjutkan membaca surat/ayat al-Quran. Para Sahabat telah berijmak (sepakat) bahwa setelah membaca al-Fatihah disunnahkan membaca ayat al- Quran pada dua rakaat pertama di semua salat. Di antara dalilnya adalah hadis Nabi saw dari sahabat Abū Qatādah,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ أَﺑِﻰ ﻗَﺗَﺎدَةَ ﻋَنْ أَﺑِﯾﮫِ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘْرَأُ ﻓِﻰ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ اﻷُوﻟَﯾَﯾْنِ ﻣِنْ ﺻَﻼَةِ اﻟظﱡﮭْرِ ﺑِﻔَﺎﺗِﺣَﺔِ اﻟْﻛِﺗَﺎبِ وَﺳُورَﺗَﯾْنِ ﯾُطَوِّلُ ﻓِﻰ اﻷُوﻟَﻰ وَﯾُﻘَﺻِّرُ ﻓِﻰ اﻟﺛﱠﺎﻧِﯾَﺔِ وَﯾُﺳْﻣِﻊُ اﻵﯾَﺔَ أَﺣْﯾَﺎﻧًﺎ وَﻛَﺎنَ ﯾَﻘْرَأُ ﻓِﻰ اﻟْﻌَﺻْرِ ﺑِﻔَﺎﺗِﺣَﺔِ اﻟْﻛِﺗَﺎبِ وَﺳُورَﺗَﯾْنِ وَﻛَﺎنَ ﯾُطَوِّلُ ﻓِﻰ اﻷُوﻟَﻰ وَﻛَﺎنَ ﯾُطَوِّلُ ﻓِﻰ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔِ اﻷُوﻟَﻰ ﻣِنْ ﺻَﻼَةِ اﻟﺻﱡﺑْﺢِ وَﯾُﻘَﺻِّرُ ﻓِﻰ اﻟﺛﱠﺎﻧِﯾَﺔِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari ‘Abdullāh Ibn Abī Qatādah, dari ayahnya (Abū Qatādah) [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Nabi saw membaca al-Fatihah di dua rakaat pertama salat zuhur dan juga membaca surat panjang pada rakaat pertama dan surat pendek pada rakaat kedua dan kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami. Beliau membaca al-Fatihah pada salat Asar dan juga membaca dua surat dengan surat yang panjang pada rakaat pertama. Beliau juga biasanya memperpanjang bacaan surat di rakaat pertama salat subuh dan memperpendeknya di rakaat kedua [HR al-Bukhārī].
Dari Hadis di atas, dapat pula diambil pelajaran bahwa bacaan ayat atau surat pada rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua. Hikmahnya adalah makmum masih energik dan bagi yang terlambat bisa mendapatkan rakaat imam. Kalimat "wa yusmi‘unal- āyata aḥyānan" (kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami) menunjukkan bahwa bacaan tersebut termasuk sir, namun terkadang terdengar juga desirannya. Artinya beliau membaca dengan sir dengan menggerakkan lidahnya sehingga terkadang terdengar oleh makmumnya. Artinya beliau tidak sekedar membaca di dalam hati. Bacaan imam sir (pelan) pada salat Zuhur dan Asar, bacaan imam keras pada salat Magrib, Isya, Subuh, Salat Jumat, Idain, Kusuf, tarawih, dan Istisqa. Afdal dan disunahkan bagi imam membaca surah secara sempurna pada rakaat pertama dan kedua, berdasarkan Hadis Abū Qatadah di atas. Namun tidak mengapa apabila membaca surah-surah panjang, dengan membaca awal surah, pertengahan ataupun akhir surah, berdasarkan firman Allah surah al-Muzzammil (73): 20,
ﻓَﺎﻗْرَءُوا ﻣَﺎ ﺗَﯾَﺳﱠرَ ﻣِنَ اﻟْﻘُرْآنِ ]اﻟﻣزﻣل )73
(: [. karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Quran. Rakaat pertama membaca surat yang lebih awal urutannya. Rasulullah saw biasa membaca surat-surat tertentu pada salat tertentu. Misalnya pada salat jumat atau salat ied, pada rakaat pertama Rasul sering membaca surat al-A'la dan pada rakaat kedua membaca surat al- Ghasyiyah. Namun ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul saw juga pernah membaca surat selain itu pada salat Id. Demikian pula dengan bacaan surat pada salat lima waktu. Rasulullah saw sering membaca surat tertentu namun bukan sebagai sebuah keharusan. Ia hanyalah pilihan yang jika dicontoh akan menjadi sebuah kebaikan dan jika tidak, tak mendatangkan dosa.
ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘْرَأُ ﻓِﻲ اﻟْﻌِﯾدَﯾْنِ وَﻓِﻲ اﻟْﺟُﻣُﻌَﺔِ ﺑِﺳَﺑِّﺢِ اﺳْمَ رَﺑِّكَ اﻷَْﻋْﻠَﻰ وَھَلْ أَﺗَﺎكَ ﺣَدِﯾثُ اﻟْﻐَﺎﺷِﯾَﺔِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di dalam salat dua hari raya dan salat Jum’at: Sabbihisma Rabbikal a’la dan Hal ataaka haditsul ghasyiyah [HR. Muslim].
ﻋَنْ ﻋُﺑَﯾْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ اﻟﻠﱠﮭِﺄَنﱠ ﻋُﻣَرَ ﺑْنَ اﻟْﺧَطﱠﺎبِ ﺳَﺄَلَ أَﺑَﺎ وَاﻗِدٍ اﻟﻠﱠﯾْﺛِﻲﱠ ﻣَﺎ ﻛَﺎنَ ﯾَﻘْرَأُ ﺑِﮫِ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓِﻲ اﻷَْﺿْﺣَﻰ وَاﻟْﻔِطْرِ ﻓَﻘَﺎلَ ﻛَﺎنَ ﯾَﻘْرَأُ ﻓِﯾﮭِﻣَﺎ ﺑِق وَاﻟْﻘُرْآنِ اﻟْﻣَﺟِﯾدِ وَاﻗْﺗَرَﺑَتْ اﻟﺳﱠﺎﻋَﺔُ وَاﻧْﺷَقﱠ اﻟْﻘَﻣَرُ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Ubaidullah bin Abdullah (diriwayatkan) bahwasanya Umar bin al- Khaththab pernah bertanya kepada Abū Waqid al-Laitsi, Surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengerjakan salat Iedul Adlha dan Iedul Fithri? ia menjawab, "Beliau membaca surat Qaaf Wal Qur’anil Majiid' dan Iqtarabatis Saa'atu Wansyaqqal Qamar [HR Muslim]. Rasulullah saw pernah membaca surat Qaf dan at-Takwir dalam salat Shubuh, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis,
ﻋَنْ ﻗُطْﺑَﺔَ ﺑْنِ ﻣﺎَﻟِكٍ أَﻧﱠﮫُ ﺻَﻠﱠﻰ ﻣَﻊَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ اﻟﺻﱡﺑْﺢَ ﻓَﻘَرَأَ ﻓِﻲ أَوﱠلِ رَﻛْﻌَﺔٍ وَاﻟﻧﱠﺧْلَ ﺑَﺎﺳِﻘَﺎتٍ ﻟَﮭَﺎ طَﻠْﻊٌ ﻧَﺿِﯾدٌ وَرُﺑﱠﻣَﺎ ﻗَﺎلَ ق ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Ia pernah salat Subuh bersama Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau pada rakaat pertama membaca ayat wa an-nakhlu bāsiqātin lahā ṭal’un naḍīd, barangkali maksudnya surat Qāf [HR. Muslim]. Dari ‘Amr Ibn al-Ḥāriṡ (diriwayatkan bahwa) ia berkata,
ﺳَﻣِﻌْتُ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘْرَأُ ﻓِﻲ اﻟْﻔَﺟْرِ إِذَا اﻟﺷﱠﻣْسُ ﻛُوِّرَتْ ]رواه اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ ﻓﻲ اﻟﺻﻐرى ﺑﺳﻧد ﺣﺳن[.
Aku mendengar Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pada salat Subuh membaca iżasy syamsu kuwwirat [HR an-Nasā’ī dalam as-Sunan aṣ-Ṣugrā dengan sanad hasan].
10. Mengangkat Kedua Tangan Sambil Membaca Takbir Seperti Dalam Takbiratul Ihram, Lalu Rukuk [Membungkukkan Badan] Seraya Meluruskan Punggung Dengan Tengkuk Dan Telapak Tangan Kanan Memegang Lutut Kanan Dan Telapak Tangan Kiri Memegang Lutut Kiri Dengan Jari-Jari Tangan Agak Direnggangkan Sambil Membaca Do’a
ﺳُﺑْﺣﺎَﻧَكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧﺎَ وَﺑِﺣَﻣْدِكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْﻟِﻲْ
Subḥānakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdikallāhummagfirlī atau
ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اﻟْﻌَظِﯾْمِ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اﻟْﻌَظِﯾْمِ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اﻟْﻌَظِﯾْمِ
Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm, subḥāna rabbiyal-‘aẓīm, subḥāna rabbiyal-‘aẓīm.
atau
ﺳُﺑﱡوْحٌ ﻗُدﱡوْسٌ رَبﱡ اﻟْﻣَﻼَﺋِﻛَﺔِ وَ اﻟرﱡوْحِ
Subbūḥun quddūsun rabbul-malā’ikati war-rūḥ Setelah selesai membaca surah atau ayat al-Quran, kemudian rukuk. Dari segi bahasa, rukuk berarti “merunduk”, ada yang mengartikannya “menunduk”. Secara istilah, rukuk adalah merundukkan badan sehingga kepala sejajar dengan punggung seraya meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut. Gerakan rukuk dalam salat disebut dengan jelas dalam al-Qur’an surah al-Hajj (22):77,
ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آﻣَﻧُوا ارْﻛَﻌُوا وَاﺳْﺟُدُوا وَاﻋْﺑُدُوا رَﺑﱠﻛُمْ وَاﻓْﻌَﻠُوا اﻟْﺧَﯾْرَ ﻟَﻌَﻠﱠﻛُمْ ﺗُﻔْﻠِﺣُونَ ]اﻟﺣﺞ )22
(: [. Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan [al-Hajj (22): 77].
Rasulullah saw mengingatkan pula kepada kaum Muslimin untuk rukuk dengan baik (tumakninah) sesuai hadis dari Abū Hurairah mengenai orang yang keliru mengerjakan salatnya,
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎلَ ]ﻟﻠﻣﺳﻲء ﻓﻲ اﻟﺻﻼة[ إِذَا ﻗُﻣْتَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﻛَﺑِّرْ ﺛُمﱠ اﻗْرَأْ ﻣَﺎ ﺗَﯾَﺳﱠرَ ﻣَﻌَكَ ﻣِنَ اﻟْﻘُرْآنِ ﺛُمﱠ ارْﻛَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ رَاﻛِﻌًﺎ ... ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari abū Hurairah [diriwayatkan bahwa] Nabi saw bersabda [kepada orang yang keliru mengerjakan salatnya]: Apabila engkau hendak salat bertakbirlah kemudian bacalah apa yang mudah dari al-Qur’an, kemudian rukuk lah dengan tumakninah … [HR al-Bukhārī]. Makna tumakninah di sini adalah bahwa gerakan tersebut dilakukan dengan tenang, khusyuk, dan tidak tergesa-gesa. Karena begitu pentingnya makna gerakan rukuk itulah, rukuk mendapat perhatian langsung dari Allah dan Rasul-Nya. Sebab, ada keterkaitan yang mendalam terhadap penghambaan manusia kepada Tuhannya, Tuhan Yang Maha Agung dalam setiap ibadah yang dilakukan oleh hamba-Nya. Apa jadinya bila seseorang tidak tumakninah dalam melakukan gerakan salat. Yang ada adalah manusia tidak merasakan ke- Mahabesaran Allah Sang Pencipta Alam Semesta.
a. Tata cara rukuk 1) Bertakbir ketika akan rukuk seperti dalam takbiratul ihram
ﻋَنْ ﻣَﺎﻟِكِ ﺑْنِ اﻟْﺣُوَﯾْرِثِ وَﻛَﺎنَ ﻣِنْ أَﺻْﺣَﺎبِ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ إِذَا ﺻَﻠﱠﻰ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣِﯾنَ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣِﯾَﺎلَ أُذُﻧَﯾْﮫِ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ ﯾَرْﻛَﻊَ وَإِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ ﻣِنْ اﻟرﱡﻛُوعِ ]رواه اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ[.
Dari Mālik Ibn al-Ḥuwairiṡ – ia adalah salah seorang sahabat Nabi saw – [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw apabila salat beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya ketika bertakbir, [begitu pula] apabila hendak rukuk dan apabila mengangkat kepala dari rukuk [HR an-Nasa’ī].
- Memegang kedua lutut dengan kedua tangan dan merenggangkan jari-jemari. Hal ini sesuai hadis dari Abū Ḥumaid as-Sā‘idī,
ﻗَﺎلَ ]أﺑو ﺣﻣﯾد[: ﻓَﺈِذَا رَﻛَﻊَ أَﻣْﻛَنَ ﻛَﻔﱠﯾْﮫِ ﻣِنْ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ وَﻓَرﱠجَ ﺑَﯾْنَ أَﺻَﺎﺑِﻌِﮫِ ]رواه أﺑو داود[
[Abū Ḥumaid] berkata: Apabila rukuk, beliau (Rasulullah) meletakkan dua tangannya di kedua lututnya dan merenggangkan jari-jemarinya [HR Abū Dāwūd]. Al-Ḥāfiẓ Abū Tāhir mengatakan bahwa hadis ini sahih).
- Meluruskan punggung di saat rukuk. Hal ini sesuai dengan hadis lain dari Abū Ḥumaid as- Sā‘idī,
...ﺛُمﱠ ﯾَرْﻛَﻊُ وَﯾَﺿَﻊُ رَاﺣَﺗَﯾْﮫِ ﻋَﻠَﻰ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ﻣُﻌْﺗَﻣِدًا ﻻَ ﯾَﺻُبﱡ رَأْﺳَﮫُ وَﻻَ ﯾُﻘْﻧِﻊُ ﻣُﻌْﺗَدِﻻً ... ]رواه اﺑن ﻣﺎﺟﮫ[
… Kemudian beliau (Rasulullah saw) rukuk dengan meletakkan kedua telapak tangannya bersandar di kedua lututnya, tanpa membuat kepalanya terlalu menunduk dan tidak terlalu mengangkat kepalanya (hingga lebih dari punggung), yang beliau lakukan adalah seimbang di antara keduanya, … [HR Ibn Mājah]. 4) Tumakninah dalam rukuk, artinya melakukan dengan tenang khusyuk dan perlahan. Hal ini didasarkan kepada hadis Abū Hurairah mengenai orang yangkeliru mengerjakan salatnya sebagaimana telah dikutip di atas,
... ﺛُم ارْﻛَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ رَاﻛِﻌًﺎ ... ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[
… kemudian rukuk lah sehingga kamu bertumakninah dalam keadaan rukuk … [HR al- Bukhārī].
b. Bacaan doa dalam rukuk Ada beberapa macam bacaan rukuk yang dibaca Rasulullah saw dalam salatnya. Ini artinya beliau terkadang membaca dengan sebuah bacaan namun terkadang menggantinya dengan yang lain. Di antara bacaan yang dapat dibaca dalam rukuk adalah:
a) ﺳُﺑْﺣﺎَﻧَكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧﺎَ وَﺑِﺣَﻣْدِكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْﻟِﻲْ
Subḥānaakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdikallāhummagfirlī
Ini didasarkan kepada hadis ‘Ā’isyah,
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ ﻗَﺎﻟَتْ ﻛﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﻛْﺛِرُ أَنْ ﯾَﻘُولَ ﻓِﻲ رُﻛُوﻋِﮫِ وَﺳُﺟُودِهِ ﺳُﺑْﺣَﺎﻧَكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﺑِﺣَﻣْدِكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْ ﻟِﻲ ﯾَﺗَﺄَوﱠلُ اﻟْﻘُرْآنَ ]رواه ﻣﺳﻠم[
Dari ‘Ā’isyah [diriwayatkan bahwa] Nabi saw ketika rukuk dan sujud banyak (sering) membaca bacaan, “Subḥānakallāhumma rabbanā wa biḥamdika Allāhummaghfir lī” (Maha Suci Engkau Ya Allah, Ya Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, ampunilah aku Ya Allah).” Beliau menerangkan maksud dari ayat al-Qur’an dengan bacaan tersebut” [HR. Muslim].
) ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اﻟْﻌَظِﯾْمِ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اﻟْﻌَظِﯾْمِ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اﻟْﻌَظِﯾْمِ
Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm, subḥāna rabbiyal-‘aẓīm, subḥāna rabbiyal-‘aẓīm.
Hal ini didasarkan kepada hadis dari Ḥużaifah Ibn al-Yamān yang diriwayatkan oleh ahli hadis yang empat,
ﻋَنْ ﺣُذَﯾْﻔَﺔَ أَﻧﱠﮫُ ﺻَﻠﱠﻰ ﻣَﻊَ اﻟﻧﱠﺑِﻰِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻛَﺎنَ ﯾَﻘُولُ ﻓِﻰ رُﻛُوﻋِﮫِ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻰَ اﻟْﻌَظِﯾمِ وَﻓِﻰ ﺳُﺟُودِهِ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻰَ اﻷَﻋْﻠَﻰ ]رواه اﻷرﺑﻌﺔ[.
Dari Huzaifah [diriwayatkan] bahwa “dia pernah salat bersama Nabi saw, maka ketika rukuk beliau membaca, “Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm” (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung),” dan ketika sujud beliau membaca, “Subḥāna rabbiyal-a’lā” (Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi)” [HR ahli hadis yang empat].
ﻋَنْ أَﺑِﻰ اﻷَزْھَرِ ﻋَنْ ﺣُذَﯾْﻔَﺔَ ﺑْنِ اﻟْﯾَﻣَﺎنِ أَﻧﱠﮫُ ﺳَﻣِﻊَ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘُولُ إِذَا رَﻛَﻊَ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻰَ اﻟْﻌَظِﯾمِ ﺛَﻼَثَ ﻣَرﱠاتٍ وَإِذَا ﺳَﺟَدَ ﻗَﺎلَ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻰَ اﻷَﻋْﻠَﻰ ﺛَﻼَثَ ﻣَرﱠاتٍ ]رواه اﺑن ﻣﺎﺟﮫ وﺻﺣﺣﮫ اﻷﻟﺑﺎﻧﻲ[.
Dari Abū al-Azhār, dari Ḥużaifah Ibn al-Yamān [diriwayatkan] bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw ketika rukuk mengucapkan “Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm” (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)” tiga kali dan ketika sujud mengucapkan, “Subḥāna rabbiyal-a’lā” (Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi)” tiga kali [HR Ibn Mājah dan disahihkan oleh al-Albānī].
) ﺳُﺑﱡوْحٌ ﻗُدﱡوْسٌ رَبﱡ اﻟْﻣَﻼَﺋِﻛَﺔِ وَاﻟرﱡوْحِ
Subbūḥun quddūsun rabbul-malā’ikati war-rūḥ
Hal ini didasarkan kepada hadis ‘Ā’isyah riwayat Muslim,
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ ﯾَﻘُولُ ﻓِﻲ ﺳُﺟُودِهِ أَوْ رُﻛُوﻋِﮫِ ﺳُﺑﱡوحٌ ﻗُدﱡوسٌ رَبﱡ اﻟْﻣَﻼَﺋِﻛَﺔِ وَاﻟرﱡوحِ ]رواه ﻣﺳﻠم[
Dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw membaca di dalam sujud atau rukuknya “Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh” (HR Muslim)
) اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﻟَكَ رَﻛَﻌْتُ وَﺑِكَ آﻣَﻧْتُ وَﻟَكَ أَﺳْﻠَﻣْتُ ﺧَﺷَﻊَ ﻟَكَ ﺳَﻣْﻌِﻲ وَﺑَﺻَرِي وَﻣُﺧِّﻲ وَﻋَظْﻣِﻲ
وَﻋَﺻَﺑِﻲ
Allāhumma laka raka‘tu, wa bika āmantu, wa laka aslamtu. Khasya‘a laka sam‘ī, wa baṣarī, wa mukhkhī, wa ‘aẓmī, wa ‘aṣabī
Ya Allah, kepada-Mu lah aku rukuk, terhadap-Mu lah aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Kepada-Mu hati, pandangan, otak, tulang, dan saeafku tunduk. Hal ini didasarkan kepada hadis dari Alī Ibn Abī Ṭālib
ﻋَنْ ﻋَﻠِﻰِّ ﺑْنِ أَﺑِﻰ طَﺎﻟِبٍ ﻋَنْ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أَﻧﱠﮫُ ﻛَﺎنَ إِذَا ﻗَﺎمَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻗَﺎلَ ... ... ... وَإِذَا رَﻛَﻊَ ﻗَﺎلَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﻟَكَ رَﻛَﻌْتُ وَﺑِكَ آﻣَﻧْتُ وَﻟَكَ أَﺳْﻠَﻣْتُ ﺧَﺷَﻊَ ﻟَكَ ﺳَﻣْﻌِﻰ وَﺑَﺻَرِى وَﻣُﺧِّﻰ وَﻋَظْﻣِﻰ وَﻋَﺻَﺑِﻰ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari ‘Alī Ibn Abī Ṭālib, dari Rasulullah saw [diriwayatkan] bahwa beliau apabila berdiri hendak salat, beliau mengucapkan ... ... ... dan apabila rukuk beliau mengucapkan Allāhumma laka raka‘tu, wa bika āmantu, wa laka aslamtu. Khasya‘a laka sam‘ī, wa baṣarī, wa mukhkhī, wa ‘aẓmī, wa ‘aṣabī (Ya Allah, kepada-Mu lah aku rukuk, terhadap-Mu lah aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Kepada-Mu hati, pandangan, otak, tulang, dan sarafku tunduk) [HR. Muslim].
11. Bangun dari rukuk seraya mengangkat kedua tangan seperti pada takbiratul ihram dengan membaca doa, ﺳَﻣِﻊَ اللَّهُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ dan apabila telah berdiri tegak (iktidal), kedua tangan diluruskan ke bawah, lalu membaca do’a,
رَﺑﱠﻧَﺎ ﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ atau رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْد
“Rabbanā wa lakal-ḥamdu” atau “Rabbanā lakal-ḥamdu”
atau do’a,
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ atau اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ َﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ
“Allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu” atau “Allāhumma rabbanā wa lakal-ḥamdu”
atau do’a,
رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ﺣَﻣْدًا ﻛَﺛِﯾْرًا طَﯾِّﺑًﺎ ﻣُﺑَﺎرَﻛًﺎ ﻓِﯾْﮫِ
“Rabbanā wa lakal-ḥamdu ḥamdan kaṡīran ṭayyiban mubārakan fīh”
atau do’a,
رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ﻣِلْءُ اﻟﺳﱠﻣَﺎوَاتِ وَاْﻷَرْضِ وَﻣَﺎﺑَﯾْﻧَﮭُﻣَﺎ وَﻣِلْءُ ﻣَﺎﺷِﺋْتَ ﻣِنْ ﺷَﯾْﺊٍ ﺑَﻌْدُ
Rabbanā wa lakal-ḥamdu mil’us-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā wa mil’u mā syi’ta min syai’in ba‘du.
a. Bangkit dari rukuk Setelah rukuk dengan sempurna dan selesai membaca do'a, maka kemudian bangkitlah dari rukuk (iktidal). Waktu bangkit tersebut membaca sami‘allāhu liman ḥamidah disertai dengan mengangkat kedua tangan sebagaimana waktu takbiratul ihram. Hal ini berdasarkan keterangan beberapa hadis, di antaranya,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ ﻋُﻣَرَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮭُﻣَﺎ ﻗَﺎلَ رَأَﯾْتُ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﺎمَ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﻛُوﻧَﺎ ﺣَذْوَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ وَﻛَﺎنَ ﯾَﻔْﻌَلُ ذَﻟِكَ ﺣِﯾنَ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﻟِﻠرﱡﻛُوعِ وَﯾَﻔْﻌَلُ ذَﻟِكَ إِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ ﻣِنْ اﻟرﱡﻛُوعِ وَﯾَﻘُولُ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ وَﻻَ ﯾَﻔْﻌَلُ ذَﻟِكَ ﻓِﻲ اﻟﺳﱡﺟُودِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[
Dari Abdullah bin Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw apabila berdiri dalam salat mengangkat kedua tangannya sampai setentang kedua pundaknya, hal itu dilakukan ketika bertakbir hendak rukuk dan ketika mengangkat kepalanya (bangkit ) dari rukuk sambil mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah. Hal ini tidak dilakukan dalam sujud” [HR. al-Bukhārī].
Dalil yang menjadi dasar gerak bangkit dari rukuk (iktidal) adalah beberapa hadis, antara lain: 1) Hadis ‘Ā’isyah riwayat Muslim,
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ ﻗَﺎﻟَتْ ... ... ... وَﻛَﺎنَ إِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ ﻣِنَ اﻟرﱡﻛُوعِ ﻟَمْ ﯾَﺳْﺟُدْ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﺳْﺗَوِىَ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ... ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari ‘Ā’isyah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: “… ... ... dan apabila beliau (Rasulullah saw) mengangkat kepalanya dari rukuk, maka dia tidak langsung sujud sebelum berdiri lurus terlebih dahulu … [HR Muslim]. 2) Hadis Abū Hurairah riwayat al-Bukhārī,
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ... ... ... ﻗَﺎلَ ]ﻟﻠﻣﺳﻲء ﻓﻲ اﻟﺻﻼة[ ... ... ... ﺛُمﱠ ارْﻓَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَﻌْﺗَدِلَ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ... ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[
Dari abū Hurairah [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw ... ... ... berkata [kepada orang yang keliru mengerjakan salatnya]: ... .. … kemudian bangunlah, sampai kamu berdiri tegak … [HR al-Bukhārī].
b. Tata cara iktidal
Iktidal adalah keadaan berdiri lurus sesaat setelah bangkit dari rukuk di mana seluruh ruas tulang berada dalam posisi normal. Hal ini ditegaskan dalam hadis Abū Ḥumaid as- Sā‘idī dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī sebagai berikut,
ﻋَنْ ﻣُﺣَﻣﱠدِ ﺑْنِ ﻋَﻣْرِو ﺑْنِ ﻋَطَﺎءٍ أَﻧﱠﮫُ ﻛَﺎنَ ﺟَﺎﻟِﺳًﺎ ﻣَﻊَ ﻧَﻔَرٍ ﻣِنْ أَﺻْﺣَﺎبِ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَذَﻛَرْﻧَﺎ ﺻَﻼَةَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎلَ أَﺑُو ﺣُﻣَﯾْدٍ اﻟﺳﱠﺎﻋِدِيﱡ أَﻧَﺎ ﻛُﻧْتُ أَﺣْﻔَظَﻛُمْ ﻟِﺻَﻼَةِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ رَأَﯾْﺗُﮫُ إِذَا ﻛَﺑﱠرَ ﺟَﻌَلَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣِذَاءَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ وَإِذَا رَﻛَﻊَ أَﻣْﻛَنَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻣِنْ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ھَﺻَرَ ظَﮭْرَهُ ﻓَﺈِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ اﺳْﺗَوَى ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﻌُودَ ﻛُلﱡ ﻓَﻘَﺎرٍ ﻣَﻛَﺎﻧَﮫُ ﻓَﺈِذَا ﺳَﺟَدَ وَﺿَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻏَﯾْرَ ﻣُﻔْﺗَرِشٍ وَﻻَ ﻗَﺎﺑِﺿِﮭِﻣَﺎ وَاﺳْﺗَﻘْﺑَلَ ﺑِﺄَطْرَافِ أَﺻَﺎﺑِﻊِ رِﺟْﻠَﯾْﮫِ اﻟْﻘِﺑْﻠَﺔَ ﻓَﺈِذَا ﺟَﻠَسَ ﻓِﻲ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﺟَﻠَسَ ﻋَﻠَﻰ رِﺟْﻠِﮫِ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﻧَﺻَبَ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ وَإِذَا ﺟَﻠَسَ ﻓِﻲ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔِ اﻵْﺧِرَةِ ﻗَدﱠمَ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﻧَﺻَبَ اﻷُْﺧْرَى وَﻗَﻌَدَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻘْﻌَدَﺗِﮫِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Muḥammad Ibn ‘Amr Ibn ‘Aṭā‘ [diriwayatkan bahwa] ia [pada suatu waktu] duduk bersama beberapa orang sahabat Nabi saw, kemudian kami menyebut-nyebut salat Nabi saw. Lalu Abū Ḥumaid as-Sā‘idī berkata: Aku orang yang paling hafal di antara kalian tentang salat Rasulullah saw. Aku melihat beliau apabila bertakbiratul-ihram, mengangkat tangan hingga setentang dengan dua pundaknya. Apabila rukuk beliau menempatkan kedua tangan di kedua lututnya, kemudian meluruskan punggungnya. Pada saat iktidal beliau mengangkat kepalanya sehingga seluruh ruas anggota tubuhnya kembali ke posisi semula. Ketika sujud beliau meletakkan kedua tangan, tidak dibentangkan atau dirapatkan, dan ujung jari-jemari kaki dihadapkan ke arah kiblat. Ketika duduk pada rakaat kedua, beliau duduk pada kaki kiri dan menegakkan ujung kaki yang kanan, dan pada saat duduk di rakaat terakhir, beliau memasukkan kaki kirinya, menegkakan ujung kaki yang satunya, dan duduk di lantai tempat salat [HR al-Bukhārī].
c. Posisi tangan saat iktidal Pada saat iktidal, kedua tangan dalam posisi lurus ke bawah, tidak digerak-gerakkan maupun digoyang-goyangkan, dan tidak pula dengan posisi bersedekap. Hal itu dipahami dari hadis berikut,
ﻋَنْ أَﺑﻲ ھُرَﯾْرَةَ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯾﮫ وﺳﻠم ... ... ... ﻗَﺎلَ ]ﻟﻠﻣﺳﺊ ﻓﻲ ﺻﻼﺗﮫ[ إِذَا ﻗُﻣْتَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﻛَﺑِّرْ ﺛُمﱠ اﻗْرَأْ ﻣَﺎ ﺗَﯾَﺳﱠرَ ﻣَﻌَكَ ﻣِنْ اﻟْﻘُرْآنِ ﺛُمﱠ ارْﻛَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ رَاﻛِﻌًﺎ ﺛُمﱠ ارْﻓَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَﻌْﺗَدِلَ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ ﺛُمﱠ اﺳْﺟُدْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺳَﺎﺟِدًا ﺛُمﱠ ارْﻓَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺟَﺎﻟِﺳًﺎ وَاﻓْﻌَلْ ذَﻟِكَ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺗِكَ ﻛُﻠِّﮭَﺎ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] Rasulullah saw bersabda: [kepada orang yang keliru menjalankan salat]: Apabila kamu berdiri hendak salat, maka bertakbirlah, lalu bacalah beberapa dari ayat al-Qur’an, lalu rukuklah dengan tumakninah, terus berdirilah sampai tegak lurus, kemudian sujudlah dengan tumakninah, kemudian duduklah dengan tumakninah, lalu sujud lagi dengan tumakninah pula; kemudian lakukanlah seperti itu dalam semua salatmu [HR al-Bukhārī dan Muslim].
Hadis ini menyebutkan hal-hal yang diperintahkan dalam salat. Hal-hal yang diperintahkan itu, karenanya, merupakan bagian dari salat dan wajib dilakukan. Sementara hal-hal yang merupakan bagian dari salat yang tidak disebutkan dalam hadis ini dilengkapi dengan apa yang disebutkan dalam hadis-hadis lain, seperti tasyahud dan salam. Hal-hal yang tidak
disebutkan dalam hadis ini dan tidak ada kelengkapannya dalam hadis lain, berarti bukan merupakan bagian dari salat.
Memang ada hadis riwayat Aḥmad dari Wā’il Ibn Ḥujr yang berbunyi sebagai berikut,
ﻋَنْ وَاﺋِلِ ﺑْنِ ﺣُﺟْرٍ ﻗَﺎلَ رَأَﯾْتُ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺣِﯾنَ ﻛَﺑﱠرَ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣِذَاءَ أُذُﻧَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﺣِﯾنَ رَﻛَﻊَ ﺛُمﱠ ﺣِﯾنَ ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَرَأَﯾْﺗُﮫُ ﻣُﻣْﺳِﻛًﺎ ﯾَﻣِﯾﻧَﮫُ ﻋَﻠَﻰ ﺷِﻣَﺎﻟِﮫِ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﻠَﻣﱠﺎ ﺟَﻠَسَ ﺣَﻠﱠقَ ﺑِﺎﻟْوُﺳْطَﻰ وَاﻹِْﺑْﮭَﺎمِ وَأَﺷَﺎرَ ﺑِﺎﻟﺳﱠﺑﱠﺎﺑَﺔِ وَوَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺧِذِهِ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ وَوَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﺳْرَى ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺧِذِهِ اﻟْﯾُﺳْرَى ]رواه أﺣﻣد[
Dari Wā’il Ibn Ḥujr (diriwayatkan bahwa),ia berkata: Aku melihat Nabi saw mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya ketika bertakbir, ketika rukuk, dan ketika mengucap “Sami’allāhu liman ḥamidah”, dan aku melihat tangan kanan beliau memegang tangan kirinya di dalam salat (bersedekap). Maka ketika beliau duduk (at-tahiyyāt), beliau melingkarkan jari tengahnya dengan ibu jari, dan berisyarat dengan (menjulurkan) jari telunjuknya, dan beliau meletakkan tangan kanannya pada paha yang kanan dan meletakkan tangan kirinya pada paha yang kiri” [HR Aḥmad]. Dalam hadis ini, Wā’il Ibn Ḥujr menerangkan bahwa Nabi saw bersedekap di dalam salat, tetapi tidak menyatakan bahwa beliau bersedekap ketika iktidal. Kalimat “wa ra’aituhu mumsikan yamīnahu ‘alā syimālihi” (‘dan aku melihat tangan kanan beliau memegang tangan kirinya’) menggunakan kata sambung wa (dan), tidak menggunakan kata sambung ṡumma (kemudian). Ini berarti bahwa sedekap itu tidak dilakukan Nabi saw setelah membaca sami‘allāhu liman ḥamidah. Oleh karena itu, kalimat tersebut bersifat umum, yakni menunjukkan bersedekap dalam salat secara umum. Jadi maksud hadis itu, Nabi saw bersedekap setelah takbiratul ihram sampai sebelum rukuk. Dan tidak bisa dipahami bahwa Nabi saw bersedekap ketika iktidal, dan tidak bisa pula dipahami bahwa Nabi saw bersedekap ketika iktidal dan tidak bersedekap ketika membaca al-Fatihah dan surah, dengan alasan penyebutan bersedekap itu sesudah penyebutan rukuk, sedangkan sebelum menyebutkan rukuk malah tidak disebutkan tentang bersedekap. Tempat melakukan sedekap telah dijelaskan secara khusus dalam hadis-hadis lain, yaitu sesudah takbiratul ihram dan berdiri dari sujud. Hadis dimaksud telah dikutip pada huruf C.4.1) s/d 5). Untuk rakaat kedua dan ketiga dilakukan hal yang sama sesuai dengan hadis al-Bukhārī dan Muslim pada C.16 yang memerintahkan melakukan hal yang sama pada rakaat-rakaat berikutnya seperti pada rakaat pertama. Oleh karena itu, bersedekap dalam hadis Wā’il di atas diartikan sedekap sebagaimana dimaksud dalam hadis-hadis pada huruf
C.4.1) s/d 5) dan C.16.
d. Macam-macam bacaan iktidal (
رَﺑﱠﻧَﺎ ﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ atau رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْد
Rabbanā lakal-ḥamd atau rabbanā wa lakal-ḥamd
Berdasarkan kepada hadis Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,
إِﻧﱠﻣَﺎ ﺟُﻌِلَ اﻹِﻣَﺎمُ ﻟِﯾُؤْﺗَمﱠ ﺑِﮫِ ﻓَﺈِذَا ﻛَﺑﱠرَ ﻓَﻛَﺑِّرُوا وَإِذَا رَﻛَﻊَ ﻓَﺎرْﻛَﻌُوا وَإِذَا رَﻓَﻊَ ﻓَﺎرْﻓَﻌُوا وَإِذَا ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ ﻓَﻘُوﻟُوا رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ...… ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[
Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, maka apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah kamu, apabila ia rukuk, maka rukuklah kamu; apabila ia bangkit dari rukuk, maka bangkitlah kamu dari rukuk; dan apabila ia mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah, maka ucapkanlah rabbanā wa lakal-ḥamd … [HR al-Bukhārī].
Dalam versi riwayat Abū Hurairah mengenai hadis ini yang juga dibawakan oleh al- Bukhārī disebutkan doa tersebut berbunyi rabbanā lakal-ḥamd, tanpa “wa”, di mana Rasulullah saw bersabda,
وَإِذَا ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ ﻓَﻘُوﻟُوا رَﺑﱠﻧَﺎ ﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ... ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[
… dan apabila imam mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah, maka ucapkanlah rabbanā lakal-ḥamd (Ya Tuhan kami bagi-Mu lah segala pujian)… [HR al-Bukhārī]. (
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُatau اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ َﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ
Allāhumma rabbanā wa lakal-ḥamd atau allhumma rabbanā lakal-ḥamd
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ھُرَﯾْرَةَ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ ﻗَﺎلَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ...… ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[
Dari Abū Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Nabi saw apabila mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah, beliau melanjutkannya dengan ucapan, Allāhumma rabbanā wa lakal-ḥamd (Ya Allah ya Tuhan kami, dan bagi Mu lah segala pujian) … [HR. Al-Bukhārī].
Masih dalam versi Abū Hurairah juga, doa tersebut tanpa “wa” sebagaimana sabda Rasulullah saw,
إِذَا ﻗَﺎلَ اﻹِْﻣَﺎمُ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ ﻓَﻘُوﻟُوا اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ ﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ... ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[
Apabila imam mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah, maka ucapkanlah Allāhumma rabbanā lakal-ḥamd (Ya Allah Tuhan kami, bagi Mu lah segala puji) … [HR. Al-Bukhārī].
(
رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ﺣَﻣْدًا ﻛَﺛِﯾرًا طَﯾِّﺑًﺎ ﻣُﺑَﺎرَﻛًﺎ ﻓِﯾﮫِ
Rabbanā wa lakal-ḥamd ḥamdan kaṡīran ṭayyiban mubārakan fīh
Ini didasarkan kepada hadis
ﻋَنْ رِﻓَﺎﻋَﺔَ ﺑْنِ رَاﻓِﻊٍ اﻟزﱡرَﻗِﻲِّ ﻗَﺎلَ ﻛُﻧﱠﺎ ﯾَوْﻣًﺎ ﻧُﺻَﻠِّﻲ وَرَاءَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻠَﻣﱠﺎ رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ ﻣِنْ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔِ ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ ﻗَﺎلَ رَﺟُلٌ وَرَاءَهُ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ﺣَﻣْدًا ﻛَﺛِﯾرًا طَﯾِّﺑًﺎ ﻣُﺑَﺎرَﻛًﺎ ﻓِﯾﮫِ ﻓَﻠَﻣﱠﺎ اﻧْﺻَرَفَ ﻗَﺎلَ ﻣَنْ اﻟْﻣُﺗَﻛَﻠِّمُ ﻗَﺎلَ أَﻧَﺎ ﻗَﺎلَ رَأَﯾْتُ ﺑِﺿْﻌَﺔً وَﺛَﻼَﺛِﯾنَ ﻣَﻠَﻛًﺎ ﯾَﺑْﺗَدِرُوﻧَﮭَﺎ أَﯾﱡﮭُمْ ﯾَﻛْﺗُﺑُﮭَﺎ أَوﱠلَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Rifā‘ah Ibn Rāfi‘ az-Zuraqī [diriwayatkan bahwa] ia berkata, “Pada suatu hari kami salat di belakang Nabi saw maka tatkala beliau bangkit dari rukuk, beliau mengucapkan, “sami‘allāhu liman ḥamidah” (Allah mendengar orang yang memujinya). Kemudian ada seorang laki-laki di belakang beliau yang membaca: “rabbanā wa lakal-ḥamdu ḥamdan kaṡīran ṭayyiban mubārakan fīh” (Ya Allah ya Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala pujian yang banyak, yang baik dan yang ada barakah di dalamnya). Maka tatkala Rasulullah saw selesai mengerjakan salat, beliau bertanya, “Siapa yang tadi membaca doa.” Seorang laki-laki menjawab, ‘Saya!’ Maka Rasulullah saw berkata, ‘Saya melihat tiga puluhan Malaikat tergopoh-gopoh untuk segera menjadi penulis yang pertama’” [HR al-Bukhārī]
- اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ ﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ﻣِلْءُ اﻟﺳﱠﻣَﺎوَاتِ وَﻣِلْءُ اﻷَْرْضِ وَﻣِلْءُ ﻣَﺎ ﺷِﺋْتَ ﻣِنْ ﺷَﻲْءٍ ﺑّﻌْدُ
Rabbanā lakal-ḥamdu mil’us-samāwāti wa mil’ul-arḍi wa mil’u mā syi’ta min syai’in ba‘du. Ini didasarkan kepada hadis,
ﻋَنْ اﺑْنِ أَﺑِﻲ أَوْﻓَﻰ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا رَﻓَﻊَ ظَﮭْرَهُ ﻣِنْ اﻟرﱡﻛُوعِ ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ ﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ﻣِلْءَ اﻟﺳﱠﻣَﺎوَاتِ وَﻣِلْءَ اﻷَْرْضِ وَﻣِلْءَ ﻣَﺎ ﺷِﺋْتَ ﻣِنْ ﺷَﻲْءٍ ﺑَﻌْدُ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Ibn Abī Aufā [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw apabila bangkit dari rukuk beliau mengucapkan sami’allāhu liman ḥamidah, allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu mil’as-samāwāti wa mil’a-arḍi wa mil-a mā syi’ta min syai’in ba‘du” (Ya Allah ya Tuhan kami. Bagi-Mu lah segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh segala sesuatu yang Engkau kehendaki sesudah itu) [HR al-Bukhārī]. 12. Membaca takbir (tanpa mengangkat tangan) lalu sujud dengan cara: a. meletakkan kedua lutut di tempat sujud dan telapak kaki ditegakkan dengan menekukkan jari-jari kaki ke arah kiblat, b. meletakkan kedua tangan, dahi dan hidung di tempat sujud, c. merenggangkan kedua tangan dari lambung, mengangkat kedua siku, telapak tangan diletakkan sejajar dengan bahu serta merapatkan jari-jari tangan dan tidak digenggamkan. Ketika bersujud membaca doa,
ﺳُﺑْﺣَﺎﻧَكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﺑِﺣَﻣْدِكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْﻟِﻲْ
Subḥanakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdikallāhummagfir lī
atau doa,
ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻷَﻋْﻠَﻰ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻷَﻋْﻠَﻰ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻷَﻋْﻠَﻰ
Subḥāna rabbiyal-a‘lā, subḥāna rabbiyal-a‘lā, subḥāna rabbiyal-a‘lā.
Atau doa,
ﺳُﺑﱡوْحٌ ﻗُدﱡوْسٌ رَبﱡ اﻟْﻣَﻼَﺋِﻛَﺔِ وَ اﻟرﱡوْحِ
Subbūḥun quddūsun rabbul-malā’ikati war-rūḥ
Setelah berdiri tegak dari rukuk (maksudnya ketika iktidal) kemudian melakukan sujud. Sujud dalam salat didasarkan pada: 1) QS Al-Hajj (22): 77
ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آَﻣَﻧُوا ارْﻛَﻌُوا وَاﺳْﺟُدُوا وَاﻋْﺑُدُوا رَﺑﱠﻛُمْ وَاﻓْﻌَﻠُوا اﻟْﺧَﯾْرَ ﻟَﻌَﻠﱠﻛُمْ ﺗُﻔْﻠِﺣُونَ
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan [QS al-Haj:22: 77]
- Hadis Nabi saw pada angka (1) di bawah. Tata cara sujud menurut tuntunan Nabi Muhammad saw 159dalah sebagai berikut: a) Membaca takbir (tanpa mengangkat kedua tangan) ketika mulai bergerak untuk melakukan sujud. Hal ini didasarkan pada hadis dari Abū Hurairah dalam mana Nabi saw bersabda:
إذَا ﻗُﻣْتَ إﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﻛَﺑِّرْ ﺛُمﱠ اﻗْرَأْ ﻣَﺎﺗَﯾَﺳﱠرَ ﻣِنَ اﻟﻘُرْآنِ ﺛُمﱠ ارْﻛَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ رَاﻛِﻌًﺎ ﺛُمﱠ ارْﻓَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَﻌْﺗَدِلَ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ ﺛُمﱠ اﺳْﺟُدْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺳَﺎﺟِدًا ﺛُمﱠ ارْﻓَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺟَﺎﻟِﺳًﺎ ﺛُمﱠ اﺳْﺟُدْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺳَﺎﺟِدًا ﺛُمﱠ اﻓْﻌَلْ ذَﻟِكَ ﻓِﻰ ﺻَﻼَﺗِكَ ﻛُﻠِّﮭَﺎ ]ﻣُﺗﱠﻔَقٌ ﻋَﻠَﯾﮫِ[.
Apabila kamu berdiri hendak mengerjakan salat, maka bertakbirlah, lalu bacalah beberapa dari al-Qur’an, lalu rukuk sehingga tenang (tumakninah), kemudian berdirilah sampai lurus, kemudian sujud sehingga tenang, kemudian duduklah sampai tenang, lalu sujud lagi sehingga tenang pula; kemudian lakukanlah seperti itu dalam semua salatmu [HR al-Bukhārī dan Muslim]. Dan hadis Abū Hurairah lainnya,
ﻗَﺎلَ أَﺑُوْ ھُرَﯾْرَةَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﺎمَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣِﯾنَ ﯾَﻘُومُ ﺛُمﱠ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣِﯾنَ ﯾَرْﻛَﻊُ ﺛُمﱠ ﯾَﻘُولُ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ ﺣِﯾنَ ﯾَرْﻓَﻊُ ﺻُﻠْﺑَﮫُ ﻣِنَ اﻟرﱡﻛُوعِ ﺛُمﱠ ﯾَﻘُولُ وَھُوَ ﻗَﺎﺋِمٌ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ﺛُمﱠ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣِﯾنَ ﯾَﮭْوِى ﺳَﺎﺟِدًا ﺛُمﱠ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣِﯾنَ ﯾَرْﻓَﻊُ رَأْﺳَﮫُ ﺛُمﱠ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣِﯾنَ ﯾَﺳْﺟُدُ ﺛُمﱠ
ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣِﯾنَ ﯾَرْﻓَﻊُ رَأْﺳَﮫُ ﺛُمﱠ ﯾَﻔْﻌَلُ ﻣِﺛْلَ ذَﻟِكَ ﻓِﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻛُﻠِّﮭَﺎ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﻘْﺿِﯾَﮭَﺎ وَﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣِﯾنَ ﯾَﻘُومُ ﻣِنَ اﻟْﻣَﺛْﻧَﻰ ﺑَﻌْدَ اﻟْﺟُﻠُوسِ ﺛُمﱠ ﯾَﻘُولُ أَﺑُو ھُرَﯾْرَةَ إِﻧِّﻰ ﻷَﺷْﺑَﮭُﻛُمْ ﺻَﻼَةً ﺑِرَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ]ﻣُﺗﱠﻔَقٌ ﻋَﻠَﯾﮫِ[.
Adalah Rasulullah saw apabila mengerjakan salat ia bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika rukuk, lalu mengucapkan “sami‘allāhu liman ḥamidah” ketika mengangkat punggungnya (bangun) dari rukuk, kemudian ketika ketika berdiri mengucapkan, “Rabbanā wa lakal-ḥamd”, lalu takbir tatkala hendak sujud, lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala (bangkit dari duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak berdiri; kemudian melakukan itu dalam semua salatnya serta bertakbir tatkala berdiri dari 160dala yang kedua sesudah duduk. Kemudian Abū Hurairah mengatakan: Sesungguhnya aku 160dalah orang yang paling mirip salatnya dengan Rasulullah [HR. al-Bukhārī dan Muslim].
b) Meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan. Hal ini didasarkan pada hadis dari Wā’il bahwa ia melihat Rasulullah saw,
إِذَا ﺳَﺟَدَ ﯾَﺿَﻊُ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ﻗَﺑْلَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَإِذَا ﻧَﮭَضَ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻗَﺑْلَ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ]رواه اﻟﺗرﻣذى[
Apabila beliau bersujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan apabila bangkit (berdiri untuk rakaat berikutnya), beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya [HR at-Turmuzi].
Dan hadis Wā’il lainnya,
ﻗَﺎلَ رَأَﯾْتُ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﺳَﺟَدَ وَﺿَﻊَ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ﻗَﺑْلَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَإِذَا ﻧَﮭَضَ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻗَﺑْلَ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ]اﻟﻧﺳﺎﺋﻰ[.
Ia berkata; saya melihat Rasulullah saw apabila bersujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan apabila bangkit (berdiri untuk rakaat berikutnya), beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya [HR an-Nasā’ī].
Adapun hadis Abū Hurairah yang menyatakan sujud dengan meletakkan tangan lebih dahulu dari lutut adalah daif. Hadis dimaksud berbunyi,
ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﺳَﺟَدَ أَﺣَدُﻛُمْ ﻓَﻼَ ﯾَﺑْرُكْ ﻛَﻣَﺎ ﯾَﺑْرُكُ اﻟْﺑَﻌِﯾرُ وَﻟْﯾَﺿَﻊْ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻗَﺑْلَ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ]رواه اﺑو داود[
Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antaramu bersujud, maka janganlah berdekam (menderum) sebagaimana unta berdekam Menderum), dan hendaklah ia meletakkan tangannya sebelum lututnya [HR. Abū Dāwūd].
Dan hadis Abū Hurairah lainnya,
ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﺳَﺟَدَ أَﺣَدُﻛُمْ ﻓَﻼَ ﯾَﺑْرُكْ ﻛَﻣَﺎ ﯾَﺑْرُكُ اﻟْﺑَﻌِﯾرُ وَﻟْﯾَﺿَﻊْ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ]رواه أﺣﻣد[
Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang diantaramu bersujud, janganlah mendekam seperti unta berdekam, dan agar ia meletakkan kedua tangannya kemudian kedua lututnya” [HR Aḥmad].
Alasannya, adalah karena hadis ini maklub (terbalik) dan bertentangan dengan hadis Abū Hurairah juga yang lain, yaitu:
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ ﯾَرْﻓَﻌُﮫُ أَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ إذَا ﺳَﺟَدَ أَﺣَدُﻛُمْ ﻓَﻠْﯾَﺑْﺗَدِئْ ﺑِرُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ﻗَﺑْلَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَﻻَ ﯾَﺑْرُكْ ﺑُرُوكَ اﻟْﻔَﺣْلِ ]رواه اﺑن أﺑﻲ ﺷﯾﺑﺔ[.
Dari Abū Hurairah ̶ ia menyatakan hadis ini marfuk ̶ [diriwayatkan] bahwa ia berkata, apabila salah seorang kamu sujud hendaklah dia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan jangan menderum seperti menderumnya unta [HR Ibn Abī Syaibah].
Ibn al-Qayyim (w. 751/1350) mengatakan, menurut saya hadis Abū Hurairah, sebagaimana telah kami sebutkan terdahulu, termasuk hadis yang terbalik (maklub) matannya di kalangan beberapa rawi. Aslinya adalah ‘... dan hendaklah ia meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua tangannya.’ saya lihat Abū Bakr Ibn Abī Syaibah meriwayatkannya seperti ini.245
Aṣ-Ṣan‘ānī mengatakan bahwa hadis Abū Hurairah tentang meletakkan tangan lebih dahulu adalah sama seperti hadis Wā’il, hanya saja di dalamnya terjadi keterbalikan.246 Al- Khaṭṭābī (w. 388/998) juga menyatakan bahwa hadis Wā’il (meletakkan lutut lebih dahulu) lebih otentik. Jadi Ibn al-Qayyim, al-Khaṭṭābī dan as-Sam‘ānī memandang hadis Abū Hurairah tentang meletakkan tangan lebih dahulu sebagai terbalik dan daif.
c) merenggangkan kedua tangan dari lambung, mengangkat kedua siku, telapak tangan diletakkan sejajar dengan bahu serta merapatkan jari-jari tangan dan tidak digenggam Hal ini didasarkan pada beberapa hadis, yaitu: 1) Hadis dari Abū Ḥumaid as-Sā‘idī,
أَﻧَﺎ ﻛُﻧْتُ أَﺣْﻔَظَﻛُمْ ﻟِﺻَﻼَةِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ رَأَﯾْﺗُﮫُ إِذَا ﻛَﺑﱠرَ ﺟَﻌَلَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣِذَاءَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ وَإِذَا رَﻛَﻊَ أَﻣْﻛَنَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻣِنْ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ھَﺻَرَ ظَﮭْرَهُ ﻓَﺈِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ اﺳْﺗَوَى ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﻌُودَ ﻛُلﱡ ﻓَﻘَﺎرٍ ﻣَﻛَﺎﻧَﮫُ ﻓَﺈِذَا ﺳَﺟَدَ وَﺿَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻏَﯾْرَ ﻣُﻔْﺗَرِشٍ وَﻻَ ﻗَﺎﺑِﺿِﮭِﻣَﺎ وَاﺳْﺗَﻘْﺑَلَ ﺑِﺄَطْرَافِ أَﺻَﺎﺑِﻊِ رِﺟْﻠَﯾْﮫِ اﻟْﻘِﺑْﻠَﺔَ ﻓَﺈِذَا ﺟَﻠَسَ ﻓِﻲ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﺟَﻠَسَ ﻋَﻠَﻰ رِﺟْﻠِﮫِ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﻧَﺻَبَ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ وَإِذَا ﺟَﻠَسَ ﻓِﻲ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔِ اﻵْﺧِرَةِ ﻗَدﱠمَ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﻧَﺻَبَ اﻷُْﺧْرَى وَﻗَﻌَدَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻘْﻌَدَﺗِﮫِ ]رَوَاهُ اﻟﺑﺧﺎري ﻓِﻰ ﺻَﺣِﯾﺣِﮫِ[.
245 Ibn al-Qayyim, Zād al-Ma‘ād fī Hady Khair al-‘Ibād (Beirut: Dār al-Fikr li aṭ-Ṭibā‘ah wa an-Nasyr wa at- Tauzī‘, t.t.), I: 57. 246 Aṣ-Ṣan‘ānī, Subul as-Salām (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.t.), I: 188.
Saya lebih cermat (hafal) dari di antaramu tentang salat Rasulullah saw. Aku melihat beliau ketika bertakbir mengangkat kedua tangannya setentang dengan bahunya dan apabila rukuk meletakkan kedua tangannya pada lututnya, lalu membungkukkan punggungnya, lalu apabila mengangkat kepalanya beliau berdiri tegak sehingga luruslah tiap tulang-tulang punggungnya seperti semula; lalu apabila sujud, ia letakkan kedua telapak tangannya pada tanah dengan tidak meletakkan lengan dan tidak merapatkannya pada lambung, dan ujung- ujung jari kakinya dihadapkan ke arah kiblat. Kemudian apabila duduk pada rakaat yang kedua ia duduk di atas kaki kirinya dan menumpukkan kaki yang kanan. Kemudian apabila duduk pada rakaat yang terakhir ia majukan kaki kirinya dan menumpukkan kaki kanannya serta duduk bertumpu pada pantatnya [HR Aal-Bukhārī].
- Hadis Nabi saw berikut,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ ﻣَﺎﻟِكٍ ﺑْنِ ﺑُﺣَﯾْﻧَﺔَ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ إِذَا ﺻَﻠﱠﻰ ﻓَرﱠجَ ﺑَﯾْنَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﺑْدُوَ ﺑَﯾَﺎضُ إِﺑْطَﯾْﮫِ ]ﻣُﺗﱠﻔَقٌ ﻋَﻠَﯾﮫِ[.
Dari Mālik Ibn Buḥainah [diriwayatkan] bahwa Nabi saw apabila salat beliau merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih kedua ketiaknya [HR al- Bukhārī dan Muslim].
- Hadis al-Laiṡ,
ﻋَنِ اﻟﻠﱠﯾْثِ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ إِذَا ﺳَﺟَدَ ﻓَرﱠجَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻋَنْ إِﺑْطَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ إِﻧِّﻲ ﻷََرَى ﺑَﯾَﺎضَ إِﺑْطَﯾْﮫِ ]رواه ﻣﺳﻠم[
Dari al-Laiṡ [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw apabila bersujud merenggangkan kedua tangannya dari ketiaknya, sehingga aku melihat putih kedua ketiaknya [HR Muslim].
- Hadis dari al-Barā’ Ibn ‘Āzib
ﻋَنْ اﻟْﺑَرَاءِ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﺳَﺟَدْتَ ﻓَﺿَﻊْ ﻛَﻔﱠﯾْكَ وَارْﻓَﻊْ ﻣِرْﻓَﻘَﯾْكَ ]رواه ﻣﺳﻠم وأﺣﻣد واﺑن ﺧزﯾﻣﺔ[.
Dari al-Barā’ [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: Bila kamu bersujud, letakkanlah kedua belah telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu [HR Muslim, Aḥmad dan Ibn Khuzaimah].
d) Posisi tumit ketika sujud bisa dilaksanakan sesuai dengan kenyamanan (dengan direnggangkan atau dirapatkan), karena hadis-hadis yang menjelaskan kedua hal tersebut tidak ada yang dapat dijadikan hujah. e) Ketika sujud hidung dan kening bersentuhan dengan tempat salat . Hal ini didasarkan pada hadis berikut:
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﺣُﻣَﯾْدٍ اﻟﺳﱠﺎﻋِدِيِّ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ إِذَا ﺳَﺟَدَ أَﻣْﻛَنَ أَﻧْﻔَﮫُ وَﺟَﺑْﮭَﺗَﮫُ ﻣِنْ
اﻷَْرْضِ وَﻧَﺣﱠﻰ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻋَنْ ﺟَﻧْﺑَﯾْﮫِ وَوَﺿَﻊَ ﻛَﻔﱠﯾْﮫِ ﺣَذْوَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ ]رواه اﻟﺗرﻣذى[
Diriwayatkan dari Abū Ḥumaid as-Sā‘idī [diriwayatkan[ bahwa Nabi saw apabila sujud menyentuhkan hidung dan dahinya di tanah (tempat salat) dan merenggangkan kedua tangannya dari lambungnya dan meletakkan kedua telapak tangannya sejurus bahunya [HR. at-Turmudzi] f) Hendaklah sujud dengan ketujuh tulang, yaitu dahi (dan hidung), kedua telapak tangan, dua lutut dan dua ujung kaki. Hal ini didasarkan pada hadis dari Ibn ‘Abbās sebagai berikut:
ﻗَﺎلَ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أُﻣِرْتُ أَنْ أَﺳْﺟُدَ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﺑْﻌَﺔِ أَﻋْظُمٍ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﺟَﺑْﮭَﺔِ وَأَﺷَﺎرَ ﺑِﯾَدِهِ ﻋَﻠَﻰ أَﻧْﻔِﮫِ وَاﻟْﯾَدَﯾْنِ وَاﻟرﱡﻛْﺑَﺗَﯾْنِ وَأَطْرَافِ اﻟْﻘَدَﻣَﯾْنِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[
Nabi saw bersabda: Aku diperintah supaya bersujud di atas tujuh tulang: dahi – seraya menunjuk pada hidungnya – di atas dua belah tangan, kedua lutut dan di atas kedua ujung kaki [HR al-Bukhārī dan Muslim].
Hadis-hadis di atas tidak menerangkan apakah sujud yag diterangkan seperti itu berlaku bagi laki-laki saja atau perempuan saja. Karena dalam hadis-hadis tersebut tidak diterangkan bagi siapa ketentuan itu harus berlaku. Oleh karena itu berdasarkan keumuman hadis-hadis itu dapatlah ditetapkan bahwa tata cara sujud yang diterangkan dalam hadis tersebut berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan. Di samping itu belum ditemukan keterangan atau dalil yang membedakan antara tata cara sujud bagi laki-laki dengan perempuan.
g) Ketika bersujud membaca doa,
ﺳُﺑْﺣَﺎﻧَكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﺑِﺣَﻣْدِكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْﻟِﻲْ
Subḥanakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdikallāhummagfir lī
atau membaca doa,
ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻷَﻋْﻠَﻰ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻷَﻋْﻠَﻰ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻷَﻋْﻠَﻰ
Subḥāna rabbiyal-a‘lā, subḥāna rabbiyal-a‘lā, subḥāna rabbiyal-a‘lā.
Atau membaca doa,
ﺳُﺑﱡوْحٌ ﻗُدﱡوْسٌ رَبﱡ اﻟْﻣَﻼَﺋِﻛَﺔِ وَ اﻟرﱡوْحِ
Subbūḥun quddūsun rabbul-malā’ikati war-rūḥ
Hal ini berdasarkan beberapa hadis di bawah ini: 1) Hadis riwayat al-Bukhārī sebagai berikut:
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮭَﺎ ﻗَﺎﻟَتْ ﻛَﺎنَ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾَﻘُولُ ﻓِﻲ رُﻛُوﻋِﮫِ وَﺳُﺟُودِهِ ﺳُﺑْﺣَﺎﻧَكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﺑِﺣَﻣْدِكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْﻟِﻲ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري و ﻣﺳﻠم[
Dari ‘Ā’isyah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Nabi saw dalam rukuk dan sujudnya mengucapkan Subānakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdikAllāhummaghfir li (Maha Suci Engkau Allah, Tuhan kami. Dan dengan memujiMu kami memohon ampunanMu) [HR al-Bukhārī dan Muslim]. 1) Hadis riwayat Muslim sebagai berikut:
ﻋَنْ ﺣُذَﯾْﻔَﺔَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ ﻗَﺎلَ ﺻَﻠﱠﯾْتُ ﻣَﻊَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﯨﺎاللهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻛَﺎنَ ﯾَﻘُولُ ﻓِﻲ رُﻛُوﻋِﮫِ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻟﻌَظِﯾمِ وَﻓِﻲ ﺳُﺟُودِهِ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻻَﻋْﻠَﻲ ]رواه ﻣﺳﻠم[
Dari Ḥużaifah [diriwayatkan] ia berkata: Aku pernah salat bersama Nabi saw, di dalam rukuknya beliau membaca: Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)dan dalam sujudnya: Subḥāna rabbiyal-a‘lā (Maha Suci Tuhan ku yang Maha Tinggi) [HR Muslim]. 2) Hadis riwayat Muslim sebagai berikut:
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮭَﺎ ﻗَﺎﻟَتْ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ ﯾَﻘُولُ ﻓِﻲ رُﻛُوﻋِﮫِ وَﺳُﺟُودِهِ ﺳُﺑﱡوحٌ ﻗُدﱡوسٌ رَبﱡ اْﻟﻣَﻼَﺋِﻛَﺔِ وُاﻟرﱡوحِ ]رواه ﻣﺳﻠم[
Dari ‘Ā’isyah ia berkata: Bahwasanya Rasulullah saw dalam rukuk dan sujudnya beliau mengucapkan: Subbūḥun quddūsun rabbul malā’ikati war-rūḥ [HR Muslim].
Dari hadis-hadis tersebut dapat kita simpulkan bahwasanya doa dalam rukuk dan sujud itu bukan hanya bacaan: subḥānakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdikallāhummagfir lī, tetapi juga banyak doa yang lain yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad saw. Akan tetapi bacaan subḥānakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdikallāhummagfir lī merupakan bacaan yang sering dibaca oleh Rasulullah saw ketika rukuk dan sujud. Hal ini dikuatkan oleh hadis riwayat al- Bukhārī dan Muslim dari ‘Ā’isyah sebagai berikut,
ﻋَنْ ﻋَﺎﺋِﺷَﺔَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮭَﺎ ﻗَﺎﻟَتْ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﻛْﺛِرُ أَنْ ﯾَﻘُولَ ﻓِﻲ رُﻛُوﻋِﮫِ وَﺳُﺟُودِهِ ﺳُﺑْﺣَﺎﻧَكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ رَﺑﱠﻧَﺎ وَﺑِﺣَﻣْدِكَ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْ ﻟِﻲ ﯾَﺗَﺄَوﱠلُ اﻟْﻘُرْآنَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[
Dari ‘Ā’isyah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Nabi saw di dalam rukuk dan sujudnya banyak membaca subḥānakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdikallāhummagfir lī, sebagai pemahaman al-Qur’an [HR al-Bukhārī dan Muslim].
Dalam hadis ini ada kata ﯾﻜﺜﺮ dengan makna ﯾُﻮَاظِﺐُ yang berarti ‘banyak melakukan’, seperti yang tersebut dalam Nailul-Auṭār juz III h. 445, dan ‘menekuni’, ‘tetap mengerjakan dengan teratur.’ Dalam arti Rasulullah saw sering menggunakan bacaan dalam salat setiap rukuk dan sujud yaitu bacaan subḥānakallāhumma rabbanā wa biḥamdikal-lāhumagfir lī. Hadis-hadis di atas tidak menyebutkan harus berapa kali berdoa dalam rukuk dan sujud. Di dalam hadis itu hanya disebutkan satu kali, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa membacanya itu harus satu kali, sebab ada hadis lain yang memberikan tuntunan bahwa Rasulullah saw membacanya tidak hanya satu kali. Hadis-hadis tersebut sebagai berikut: i. Hadis Abū Dāwūd dari Abdullāh Ibn Mas‘ūd
ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا رَﻛَﻊَ أَﺣَدُﻛُمْ ﻓَﻠْﯾَﻘُلْ ﺛَﻼَثَ ﻣَرﱠاتٍ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اﻟْﻌَظِﯾمِ وَذَﻟِكَ أَدْﻧَﺎهُ وَإِذَا ﺳَﺟَدَ ﻓَﻠْﯾَﻘُلْ ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّﻲَ اْﻷَﻋْﻠَﻰ ﺛَﻼَﺛًﺎ وَذَﻟِكَ أَدْﻧَﺎهُ ]رَوَاهُ أَﺑُو دَاوُد[
Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu rukuk maka bacalah subḥāna rabbiyal-aẓīm tiga kali. Dan apabila sujud maka bacalah subḥāna rabbiyal-a‘lā tiga kali dan itu paling sedikit (minimal) [HR Abū Dāwūd]. ii. Hadis riwayat Aḥmad, Abū Dāwūd dan an-Nasā’ī dari Anas:
ﻣَﺎ رَأَﯾْتُ أَﺣَدًا أَﺷْﺑَﮫَ ﺻَﻼَةً ﺑِرَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻣِنْ ھَذَا اْﻟﻐُﻼَمِ ﯾَﻌْﻧِﻲ ﻋُﻣَرُ ﺑْنُ ﻋَﺑْدِ اْﻟﻌَزِﯾْزِ ﻓَﺧَرَرْﻧَﺎ ﻓِﻲ اﻟرﱡﻛُوعِ ﻋَﺷَرَ ﺗَﺳْﺑِﯾﺣَﺎتٍ وَﻓِﻲ اﻟﺳﱡﺟُودِ ﻋَﺷَرَ ﺗَﺳْﺑِﯾْﺣَﺎتٍ]رواه أﺣﻣد وأﺑو داود واﻟﻧﺳﺎﺋﻲ ﺑﺈﺳﻧﺎد ﺟﯾد[.
Saya tidak melihat seorang pun yang salatnya mirip dengan Rasulullah saw dari anak ini, yakni ‘Umar Ibn ‘Abd al-‘Azīz, maka kami memperkirakan dalam rukuknya beliau membaca tasbih sepuluh kali dan dalam sujudnya juga sepuluh kali [HR. Aḥmad, Abū Dāwūd dan an-Nasā’ī dengan sanad yang baik].
Dua hadis yang terakhir ini menunjukkan bahwa bacaan tasbih dalam rukuk dan sujud itu tidak hanya dibaca satu kali akan tetapi bisa lebih dari satu kali. Berdasarkan keterangan di atas, maka boleh orang membaca tasbih dalam rukuk dan sujud lebih dari satu kali, akan tetapi tidak berlebih-lebihan. Asy-Syaukānī menogatakan btahwa pendapat yang kuat 165akat165 orang yang salat sendirian (munfarid) boleh menambah bacaan tasbih menurut keinginannya, dan hadis-hadis yang sahih tentang Nabi saw memanjangkan rukuk dan sujud itu menjadi alasan bagi orang yang memperkuat pendapat ini. Begitu juga bagi seorang imam boleh memanjangkan bacaan tasbih di dalam rukuk dan sujud asal tidak memberatkan makmum. 13. Bangun dari Sujud untuk Duduk Iftirasy Sambil Membaca Takbir (Tanpa Mengangkat Tangan) dan Ketika Duduk Membaca Doa:
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْﻟِﻲْ وَارْﺣَﻣْﻧِﻲْ وَاﺟْﺑُرْﻧِﻲْ وَاھْدِﻧِﻲْ وَارْزُﻗْﻧِﻲْ
Allāhummagfir li warḥamnī wajburnī wahdinī warzuqnī
Adapun duduk iftirasy (duduk di antara dua sujud) adalah menjulurkan telapak kaki kiri ke kanan dan pantat duduk di atasnya sementara telapak kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari kaki ditekuk dan ujungnya mengarah ke kiblat serta meletakkan telapak tangan kanan di atas ujung paha kanan dekat dengan lutut dan telapak tangan kiri di atas ujung paha kiri dekat dengan lutut, dengan jari-jari tangan sedikit direnggangkan dan diarahkan ke kiblat serta ujung-ujung jari sampai ke lutut.
Setelah membaca do’a ketika sujud kemudian bangun dari sujud untuk duduk iftirasy sambil membaca takbir (tanpa mengangkat tangan), dan ketika duduk membaca doa:
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْﻟِﻲْ وَارْﺣَﻣْﻧِﻲْ وَاﺟْﺑُرْﻧِﻲْ وَاھْدِﻧِﻲْ وَارْزُﻗْﻧِﻲْ
Allāhummagfir lī warḥamnī wajburnī wahdinī warzuqnī Doa di antara dua sujud tersebut didasarkan pada hadis berikut:
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ اَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ ﯾَﻘُولَ ﺑَﯾنَ اﻟﺳﱠﺟْدَﺗَﯾنِ "اﻟﻠﱠﮭُمﱠ اﻏْﻔِرْﻟِﻰ وَارْﺣَﻣْﻧِﻰ وَاﺟْﺑُرْﻧِﻰ وَاھْدَﻧِﻰ وَارْزُﻗْﻧِﻰ" ]رَوَاهُ اﻟﺗِّرﻣِذِىﱡ[.
Dari Ibnu ‘Abbās r.a. [diriwayatkan] bahwa Nabi saw di antara kedua sujud mengucapkan Allāhummagfir lī warḥamnī wajburnī wahdinī warzuqnī [HR. At-Turmuzi].
Setelah duduk di antara dua sujud dan membaca salah satu do’a tersebut, maka kemudian membaca takbir lalu sujud (tanpa mengangkat tangan) untuk kedua kalinya dan membaca doa seperti pada sujud pertama.
14. Bangun dari sujud seraya membaca takbir (tanpa mengangkat tangan) dan duduk –seperti duduk iftirasy ̶ sebentar, lalu berdiri untuk rakaat yang kedua dengan menekankan telapak tangan pada tempat sujud.
Setelah melakukan sujud yang kedua pada rakaat pertama sebagaimana dijelaskan di atas, maka kemudian bangkitlah dari sujud seraya membaca takbir (tanpa mengangkat tangan) dan duduklah sejenak – seperti duduk iftirasy ̶ lalu berdirilah untuk rakaat yang kedua dengan menekankan telapak tangan pada tempat sujud. Adapun cara berdiri yang dilakukan ketika seseorang telah melakukan sujud kedua dari rakaat ganjil adalah duduk sejenak dengan cara duduk iftirasy terlebih dahulu sebelum memasuki pada rakaat berikutnya. Cara duduk semacam ini didasarkan pada hadis-hadis
berikut, 1) Hadis riwayat Mālik Ibn al-Ḥuwairiṡ al-Laiṡī
ﻋَنْ أَﺑِﻰ ﻗِﻼَﺑَﺔَ ﻗَﺎلَ أَﺧْﺑَرَﻧَﺎ ﻣَﺎﻟِكُ ﺑْنُ اﻟْﺣُوَﯾْرِثِ اﻟﻠﱠﯾْﺛِﻰﱡ أَﻧﱠﮫُ رَأَى اﻟﻧﱠﺑِﻰﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﺻَﻠِّﻰ ﻓَﺈِذَا ﻛَﺎنَ ﻓِﻰ وِﺗْرٍ ﻣِنْ ﺻَﻼَﺗِﮫِ ﻟَمْ ﯾَﻧْﮭَضْ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﺳْﺗَوِىَ ﻗَﺎﻋِدًا ]رواه اﻟﺑﺧﺎري واﻟﺗرﻣذى واﻟﻧﺳﺎﺋﻰ وأﺑو داود[
Dari Abū Qilābah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Mālik Ibn al-Ḥuwairiṡ al-Laiṡī mengabarkan bahwa ia melihat Nabi saw salat, maka apabila beliau berada pada 167akat ganjil (167akat 1 dan 167akat 3) dari salatnya beliau sebelum berdiri terlebih dahulu duduk dengan lurus [HR al-Bukhārī, at-Turmużī, an-Nasā’ī dan Abū Dāwūd].
- Hadis riwayat Mālik Ibn al-Ḥuwairiṡ yang lain
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﻗِﻼَﺑَﺔَ ﻗَﺎلَ ﺟَﺎءَﻧَﺎ ﻣَﺎﻟِكُ ﺑْنُ اﻟْﺣُوَﯾْرِثِ ﻓَﺻَﻠﱠﻰ ﺑِﻧَﺎ ﻓِﻲ ﻣَﺳْﺟِدِﻧَﺎ ھَذَا ﻓَﻘَﺎلَ إِﻧِّﻲ ﻷَُﺻَﻠِّﻲ ﺑِﻛُمْ وَﻣَﺎ أُرِﯾدُ اﻟﺻﱠﻼَةَ وَﻟَﻛِنْ أُرِﯾدُ أَنْ أُرِﯾَﻛُمْ ﻛَﯾْفَ رَأَﯾْتُ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﺻَﻠِّﻲ ... وَإِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ ﻋَنْ اﻟﺳﱠﺟْدَةِ اﻟﺛﱠﺎﻧِﯾَﺔِ ﺟَﻠَسَ وَاﻋْﺗَﻣَدَ ﻋَﻠَﻰ اﻷَْرْضِ ﺛُمﱠ ﻗَﺎمَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Abū Qilabah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Mālik Ibn al-Ḥuwairiṡ datang kepada kami lalu salat bersama di masjid kami ini, kemudian berkata, Aku bukan ingin melaksanakan salat, tapi aku akan menerangkan kepada kalian bagaimana Nabi saw melaksanakan salat seperti yang aku lihat .... Dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua beliau duduk dan bertumpu ke atas lantai, kemudian baru berdiri [HR. al- Bukhārī].
Hadis pertama menjelaskan bahwa Mālik Ibn al-Ḥuwairiṡ melihat (mengetahui) tata cara salat yang diajarkan oleh Nabi, apabila beliau berdiri setelah sujud kedua pada 167akat ganjil, yaitu 167akat pertama atau ketiga beliau duduk istirahat (iftirasy) terlebih dahulu, setelah itu berdiri. Sedangkan hadis kedua menjelaskan selain adanya duduk iftirasy sebelum berdiri juga tentang cara berdiri untuk 167akat berikutnya dengan cara menekankan (tangan) pada tempat salat. Dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan cara duduk dan berdiri dari 167akat ganjil, tidak didapati keterangan yang menjelaskan tentang memanjangkan ucapan “Allahu Akbar” secara berlebihan.
Dari hadis-hadis di atas dan beberapa syarahnya dapat disimpulkan bahwa cara berdiri dari 167akat ganjil (167akat pertama atau ketiga) menuju 167akat genap (167akat kedua atau keempat) dengan melakukan duduk iftirasy (istirahat) terlebih dahulu kemudian berdiri dengan cara menekankan kedua tangan pada tempat salat.
Bacaan takbir dan 167akat167167 bangkit dari sujud dilakukan seperti takbir lainnya
dengan tidak memanjangkan lām jalalah-nya (tidak memanjangkan ucapan “Allāhu akbar” secara berlebihan). Ketika mengucapkan takbir tidak disertai mengangkat tangan. Artinya berdiri menuju 168akat genap takbir tidak disertai mengangkat kedua tangan. Hal ini difahami dari hadis berikut,
ﻋَنْ ﻧَﺎﻓِﻊٍ أَنﱠ اﺑْنَ ﻋُﻣَرَ ﻛَﺎنَ إِذَا دَﺧَلَ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻛَﺑﱠرَ وَرَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَإِذَا رَﻛَﻊَ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَإِذَا ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَإِذَا ﻗَﺎمَ ﻣِنْ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَرَﻓَﻊَ ذَﻟِكَ اﺑْنُ ﻋُﻣَرَ إِﻟَﻰ ﻧَﺑِﻲِّ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Nāfi‘ [diriwayatkan] bahwa Ibn ‘Umar memulai salat dengan bertakbir dan mengangkat kedua tangannya, begitu juga saat rukuk dan saat membaca “sami‘allāhu liman ḥamidah” serta saat berdiri setelah dua 168akat. Ibn ‘Umar menyatakan bahwa (yang ia lakukan tersebut) berasal dari Rasulullah [HR al-Bukhārī].
Hadis Ibn ‘Umar di atas menunjukkan bahwa mengangkat tangan dalam salat dilakukan pada empat tempat, yaitu: (1) saat takbiratul ihram, (2) saat hendak rukuk, (3) saat bangkit dari rukuk, dan (4) saat berdiri dari tasyahud awal ke 168akat ketiga. Hal yang sama juga ditegaskan dalam hadis ‘Alī [pada angka 19.a.2)]. Sementara itu hadis Abū Ḥumaid as- Sā’dī [pada angka 19.a.3)] mengisyaratkan bahwa Rasulullah bangkit dari 168akat pertama ke 168akat kedua dengan tidak menggangkat tangan. Dalam hadis itu dinyatakan bahwa beliau mengangkat tangan hanya ketika berdiri dari 168akat kedua menuju 168akat ketiga. Dengan demikian berdiri dari 168akat pertama ke 168akat kedua dan dari 168akat ketiga ke 168akat keempat ucapan takbir tidak disertai dengan mengangkat kedua tangan.
15. Melaksanakan Rakaat Kedua
Pada rakaat kedua, setelah bangkit dan berdiri dari sujud kedua pada rakaat pertama, lakukanlah praktik salat seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, hanya saja tanpa membaca doa iftitah. Artinya lakukan seperti yang dilakukan pada angka 4, dan angka 6 sampai angka 15. Adapun angka 5, yaitu membaca doa iftitah, tidak dilakukan pada 168akat kedua. Dengan kata lain, pada 168akat kedua, setelah berdiri dari sujud dengan lurus, letakkanlah kedua tangan di atas dada, kemudian bacalah taawuz, basmalah, surat al-Fatihah dan lanjutkan dengan membaca surat atau ayat al-Quran seperti dilakukan pada 168akat pertama. Kemudian lakukanlah gerakan-gerakan (rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk iftirasy, sujud kedua) dan bacaan-bacaannya seperti yang dilakukan pada rakaat pertama.
Ini didasarkan kepada hadis-hadis berikut ini: 3) Hadis Abū Hurairah,
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠّﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ اِذَا ﻧَﮭَضَ ﻣِنَ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔِ اﻟﺛﱠﺎﻧِﯾَﺔِ اﺳْﺗَﻔْﺗَﺢَ اﻟﻘِرَاءَةَ ﺑِﺎﻟﺣَﻣْدِ :ِ رَبِّ اﻟﻌَﺎﻟَﻣِﯾْنَ وَﻟَمْ ﯾَﺳْﻛُتْ ]رَوَاهُ ﻣُﺳْﻠِمٍ[.
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila berdiri dari rakaat kedua, beliau memulai bacaan dengan: “Alḥamdulillāhi rabbil-‘ālamīn” (al-Fatihah) dan beliau tidak diam [HR. Muslim].
Hadis ini menerangkan bahwa Rasulullah saw mengerjakan salat 169akat kedua tidak “diam” (artinya tidak membaca doa iftitah), tetapi langsung membaca al-Fatihah. Bacaan al- Fatihah dibaca setelah didahului dengan membaca taawuz dan basmalah seperti telah dijelaskan pada 169akat pertama. 4) Hadis Abū Hurairah lainnya,
ﻋَنْ أَﺑِﻲْ ھُرَﯾْرَةَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ أَنﱠ اﻟﻧّﺑِﻰﱠ ﺻَلﱠ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗﺎلَ اِذَا ﻗُﻣْتَ اِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﻛَﺑِّرْ ﺛُمﱠ اﻗْرَأْ ﻣَﺎﺗَﯾَﺳﱠرَ ﻣِنَ اﻟﻘُرْآنِ ﺛُمﱠ ارْﻛَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ رَاﻛِﻌًﺎ ﺛُمﱠ ارْﻓَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَﻌْﺗَدِلَ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ ﺛُمﱠ اﺳْﺟُدْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺳَﺎﺟِدًا ﺛُمﱠ ارْﻓَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺟَﺎﻟِﺳًﺎ ﺛُمﱠ اﺳْﺟُدْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺳَﺎﺟِدًا ﺛُمﱠ اﻓْﻌَلْ ذَﻟِكَ ﻓِﻰ ﺻَﻼَﺗِكَ ﻛُﻠِّﮭَﺎ ]ﻣُﺗﱠﻔَقٌ ﻋَﻠَﯾﮫِ[.
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan] bahwasanya Nabi saw bersabda: Jika kamu berdiri untuk salat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al-Quran kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk [tumakninah], lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar sujud [tumakninah], lalu angkat [kepalamu] untuk duduk hingga benar-benar duduk [tumakninah]. Kemudian lakukanlah hal tersebut dalam seluruh [rangkaian] salatmu [HR. al-Bukhārī dan Muslim].
Dalam hadis ini Rasulullah saw memerintahkan supaya melakukan praktik salat pada rakaat kedua sama seperti pada rakaat pertama (hanya saja tanpa doa iftitah), yaitu rakaat kedua dimulai dengan meletakkan kedua tangan di atas dada, lalu membaca taawuz, basmalah, al-Fatihah dan surat atau ayat al-Quran serta melakukan berbagai gerakan dan ucapan hingga selesai sujud kedua pada rakaat kedua.
Apabila selesai sujud kedua pada rakaat kedua, maka bangkitlah dari sujud kedua itu dengan bertakbir (mengucapkan Allāhu akbar) tanpa mengangkat kedua tangan sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Abdullāh Ibn ‘Umar yang dikutip pada angka 11.a. di muka. Kemudian lakukan duduk tasyahud akhir apabila salat yang dilakukan adalah salat dua rakaat baik salat wajib maupun salat sunat dengan kaifiat (cara) seperti disebutkan pada angka 16.
Apabila salat yang dilakukan adalah salat tiga rakaat atau salat empat rakaat, maka ketika bangkit dari sujud kedua pada rakaat kedua lakukan duduk tasyahud awal seperti dijelaskan pada angka 18.
16. Duduk Tasyahud Akhir untuk Mengakhiri Salat
Apabila salat yang dilakukan 170akat170 salat dua 170akat, seperti salat subuh, salat Jumat, dan salat-salat sunat dua 170akat, maka setelah bangkit dari sujud kedua pada 170akat kedua, lakukanlah duduk tasyahud akhir untuk mengakhiri salat dengan tata cara sebagai berikut:
a. Tata Cara Duduk Tasyahud Akhir: Duduk Tawaruk untuk Menutup Salat
Duduk tasyahaud akhir dilakukan untuk mengakhiri semua salat termasuk salat dua 170akat. Duduk tasyahud akhir dilakukan dengan cara duduk tawaruk. Yang dimaksud dengan duduk tawaruk ialah duduk dengan memasukkan (memajukan) kaki kiri di bawah kaki kanan, sementara telapak kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari ditekuk dan ujungnya mengarah ke kiblat dan duduk dengan bertumpukan pantat di atas lantai (di tempat salat).
Bahwa duduk tasyahud akhir pada salat dua rakaat, baik salat wajib maupun salat- salat sunat dua rakaat, dilakukan dengan cara duduk tawaruk pada rakaat kedua didasarkan kepada hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī berikut ini. 1) Hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī riwayat al-Bukhārī
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﺣُﻣَﯾْدٍ اﻟﺳﱠﺎﻋِدِيِّ ]أَﻧﱠﮫُ ﻗﺎَلَ[ أَﻧَﺎ ﻛُﻧْتُ أَﺣْﻔَظَﻛُمْ ﻟِﺻَﻼَةِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ رَأَﯾْﺗُﮫُ إِذَا ﻛَﺑﱠرَ ﺟَﻌَلَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣِذَاءَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ وَإِذَا رَﻛَﻊَ أَﻣْﻛَنَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻣِنْ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ھَﺻَرَ ظَﮭْرَهُ ﻓَﺈِذَا رَﻓَﻊَ رَأْﺳَﮫُ اﺳْﺗَوَى ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﻌُودَ ﻛُلﱡ ﻓَﻘَﺎرٍ ﻣَﻛَﺎﻧَﮫُ ﻓَﺈِذَا ﺳَﺟَدَ وَﺿَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻏَﯾْرَ ﻣُﻔْﺗَرِشٍ وَﻻَ ﻗَﺎﺑِﺿِﮭِﻣَﺎ وَاﺳْﺗَﻘْﺑَلَ ﺑِﺄَطْرَافِ أَﺻَﺎﺑِﻊِ رِﺟْﻠَﯾْﮫِ اﻟْﻘِﺑْﻠَﺔَ ﻓَﺈِذَا ﺟَﻠَسَ ﻓِﻲ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﺟَﻠَسَ ﻋَﻠَﻰ رِﺟْﻠِﮫِ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﻧَﺻَبَ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ وَإِذَا ﺟَﻠَسَ ﻓِﻲ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔِ اﻵْﺧِرَةِ ﻗَدﱠمَ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﻧَﺻَبَ اﻷُْﺧْرَى وَﻗَﻌَدَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻘْﻌَدَﺗِﮫِ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Abū Ḥumaid as Sā‘idī [diriwayatkan bahwa dia berkata], “Aku paling banyak mengingat salat Rasulullah saw di anatara kalian. Aku melihatnya ketika bertakbir beliau mengangkat kedua tangannya setentang dengan bahunya, dan apabila rukuk beliau meletakkan kedua tangannya dengan kuat pada lututnya serta membungkukkan punggungnya. Apabila mengangkat kepala, beliau meluruskan (badannya) sehingga semua tulang-tulang kembali pada tempatnya. Kemudian apabila bersujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak membentangkannya dan tidak pula menggenggam keduanya serta menghadapkan semua ujung jari-jari kedua kakinya ke arah kiblat. Kemudian apabila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kaki kirinya dan mendirikan tapak kaki kanannya,
dan apabila duduk pada rakaat terakhir, beliau memajukan kaki kirinya ke depan dan mendirikan tapak kaki yang lain (kanan) dan duduk di tempat duduknya [HR al-Bukhārī].
- Hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī riwayat Abū Dāwūd,
ﻋَنْ ﻣُﺣَﻣﱠدِ ﺑْنِ ﻋُﻣَرَ ﺑْنِ ﻋَطَﺎءٍ ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻌْتُ أَﺑَﺎ ﺣُﻣَﯾْدٍ اﻟﺳﱠﺎﻋِدِيﱠ ﻓِﻲ ﻋَﺷْرَةٍ ﻣِنْ أَﺻْﺣَﺎبِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻣِﻧْﮭُمْ أَﺑُو ﻗَﺗَﺎدَةَ ﻗَﺎلَ أَﺑُو ﺣُﻣَﯾْدٍ أَﻧَﺎ أَﻋْﻠَﻣُﻛُمْ ﺑِﺻَﻼَةِ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗَﺎﻟُوا ﻓَﻠِمَ ﻓَوَااللهﱠِ ﻣَﺎ ﻛُﻧْتَ ﺑِﺄَﻛْﺛَرِﻧَﺎ ﻟَﮫُ ﺗَﺑَﻌًﺎ وَﻻَ أَﻗْدَﻣِﻧَﺎ ﻟَﮫُ ﺻُﺣْﺑَﺔً ﻗَﺎلَ ﺑَﻠَﻰ ﻗَﺎﻟُوا ﻓَﺎﻋْرِضْ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﺎمَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﯾَرْﻓَﻊُ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾُﺣَﺎذِيَ ﺑِﮭِﻣَﺎ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَﻘِرﱠ ﻛُلﱡ ﻋَظْمٍ ﻓِﻲ ﻣَوْﺿِﻌِﮫِ ﻣُﻌْﺗَدِﻻً ﺛُمﱠ ﯾَﻘْرَأُ ﺛُمﱠ ﯾُﻛَﺑِّرُ ﻓَﯾَرْﻓَﻊُ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾُﺣَﺎذِيَ ﺑِﮭِﻣَﺎ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﯾَرْﻛَﻊُ وَﯾَﺿَﻊُ رَاﺣَﺗَﯾْﮫِ ﻋَﻠَﻰ رُﻛْﺑَﺗَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﯾَﻌْﺗَدِلُ ﻓَﻼَ ﯾَﺻُبﱡ رَأْﺳَﮫُ وَﻻَ ﯾُﻘْﻧِﻊُ ﺛُمﱠ ﯾَرْﻓَﻊُ رَأْﺳَﮫُ ﻓَﯾَﻘُولُ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ ﺛُمﱠ ﯾَرْﻓَﻊُ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾُﺣَﺎذِيَ ﺑِﮭِﻣَﺎ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ ﻣُﻌْﺗَدِﻻً ﺛُمﱠ ﯾَﻘُولُ االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ ﺛُمﱠ ﯾَﮭْوِي إِﻟَﻰ اﻷَْرْضِ ﻓَﯾُﺟَﺎﻓِﻲ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻋَنْ ﺟَﻧْﺑَﯾْﮫِ ﺛُمﱠ ﯾَرْﻓَﻊُ رَأْﺳَﮫُ وَﯾَﺛْﻧِﻲ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى ﻓَﯾَﻘْﻌُدُ ﻋَﻠَﯾْﮭَﺎ وَﯾَﻔْﺗَﺢُ أَﺻَﺎﺑِﻊَ رِﺟْﻠَﯾْﮫِ إِذَا ﺳَﺟَدَ وَﯾَﺳْﺟُدُ ﺛُمﱠ ﯾَﻘُولُ االلهﱠُ أَﻛْﺑَرُ وَﯾَرْﻓَﻊُ رَأْﺳَﮫُ وَﯾَﺛْﻧِﻲ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى ﻓَﯾَﻘْﻌُدُ ﻋَﻠَﯾْﮭَﺎ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَرْﺟِﻊَ ﻛُلﱡ ﻋَظْمٍ إِﻟَﻰ ﻣَوْﺿِﻌِﮫِ ﺛُمﱠ ﯾَﺻْﻧَﻊُ ﻓِﻲ اﻷُْﺧْرَى ﻣِﺛْلَ ذَﻟِكَ ﺛُمﱠ إِذَا ﻗَﺎمَ ﻣِنْ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﻛَﺑﱠرَ وَرَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾُﺣَﺎذِيَ ﺑِﮭِﻣَﺎ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ ﻛَﻣَﺎ ﻛَﺑﱠرَ ﻋِﻧْدَ اﻓْﺗِﺗَﺎحِ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﺛُمﱠ ﯾَﺻْﻧَﻊُ ذَﻟِكَ ﻓِﻲ ﺑَﻘِﯾﱠﺔِ ﺻَﻼَﺗِﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﻛَﺎﻧَتْ اﻟﺳﱠﺟْدَةُ اﻟﱠﺗِﻲ ﻓِﯾﮭَﺎ اﻟﺗﱠﺳْﻠِﯾمُ أَﺧﱠرَ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﻗَﻌَدَ ﻣُﺗَوَرِّﻛًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺷِﻘِّﮫِ اﻷَْﯾْﺳَرِ ﻗَﺎﻟُوا ﺻَدَﻗْتَ ھَﻛَذَا ﻛَﺎنَ ﯾُﺻَﻠِّﻲ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ... ]رواه أﺑو داود[.
Dari Muhammad Ibn ‘Umar Ibn ‘Aṭā’ [diriwayatkan bahwa] dia berkata: Saya mendengar Abū Ḥumaid as-Sā‘idī berkata di tengah-tengah sepuluh Sahabat Rasulullah saw, di antaranya adalah Abū Qatādah, Abū Ḥumaid berkata: Aku lebih mengetahui tentang salat Rasulullah saw. Mereka berkata; Kenapa demikian, demi Allah, padahal kamu bukanlah orang yang sering menyertai beliau dan bukan pula orang yang paling dahulu menjadi Sahabat beliau daripada kami. Dia berkata: Ya, benar. Mereka berkata: Jika demikian, jelaskanlah. Abū Ḥumaid berkata: Apabila Rasulullah saw hendak memulai salatnya, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, kemudian beliau bertakbir sehingga semua tulang beliau kembali pada tempat semula dengan lurus, lalu beliau membaca (bacaan salat) kemudian beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua bahu, lalu rukuk dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut, kemudian meluruskan (punggung dan kepala) tidak menundukkan kepala dan juga tidak menengadah. Setelah itu beliau mengangkat kepala sambil mengucapkan: “Sami’allāhu liman ḥamidah.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sehingga sejajar dengan kedua bahu sampai lurus, lalu mengucapkan: “Allāhu akbar.” Setelah itu beliau turun ke lantai, lalu merenggangkan kedua tangannya dari kedua lambungnya, kemudian beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya dan mendudukinya, dengan membuka kedua jari-jari kakinya apabila bersujud, kemudian mengucapkan: “Allahu akbar.” Setelah itu, beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya serta mendudukinya, sehingga tulang beliau kembali ke posisinya, kemudian beliau mengerjakan seperti itu di rakaat yang lain. Apabila beliau berdiri setelah dua rakaat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua bahu, sebagaimana beliau bertakbir ketika memulai salat. Beliau melakukan cara seperti itu pada salat-salat beliau yang lain, dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang ada salamnya, beliau menarik kaki kiri dan duduk secara tawaruk bertumpu
pada bagian pantat kirinya (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan). Setelah itu sepuluh sahabat tersebut berkata: Benar kamu, demikianlah Rasulullah saw melaksanakan salat ... [HR Abū Dāwūd].
Sementara itu dalam riwayat at-Tirmiżī, lafal hadis ini berbunyi,
... ﺣَﺗﱠﻰ ﻛَﺎﻧَتِ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔُ اﻟﱠﺗِﻲ ﺗَﻧْﻘَﺿِﻲ ﻓِﯾﮭَﺎ ﺻَﻼَﺗُﮫُ أَﺧﱠرَ رِﺟْﻠَﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى وَﻗَﻌَدَ ﻋَﻠَﻰ ﺷِﻘِّﮫِ ﻣُﺗَوَرِّﻛًﺎ ﺛُمﱠ ﺳَﻠﱠمَ ]رواه اﻟﺗرﻣذى[.
... hingga sampai pada rakaat terakhirnya di mana salatnya akan berakhir, beliau memajukan kaki kirinya ke depan dan mendirikan tapak kaki yang lain (kanan) dan duduk pada bagian kiri pantatnya secara tawaruk, lalu mengucapkan salam [HR Tirmiżī].
Hadis-hadis ini secara tegas menunjukkan bahwa pada setiap duduk tasyahud akhir yang di dalamnya ada salam untuk mengakhiri salat bentuk duduk tasyahudnya adalah duduk tawaruk. Pernyataan duduk tasyahud yang ada salamnya untuk mengakhiri salat itu adalah pernyataan umum yang mencakup salat dua rakaat, tiga rakaat dan empat rakaat. Bahwa dalam hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī riwayat al-Bukhārī [angka 16.a.1)] di atas disebutkan bahwa “apabila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kaki kirinya” maksudnya adalah duduk tasyahud awal yang tidak ada salam di situ dan itu jelas dari hadis itu sendiri. Jadi pendapat bahwa hadis riwayat al-Bukhārī itu menunjukkan kepada duduk iftirasy pada rakaat kedua dalam salat dua rakaat adalah pendapat yang marjuh, sedangkan yang rajih adalah pendapat bahwa pada setiap duduk tasyahud akhir yang padanya ada salam, baik salat dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat, maka duduknya adalah duduk tawaruk.
b. Meletakkan Kedua Telapak Tangan di atas Kedua Lutut dan Mengacungkan Jari Telunjuk Kemudian pada saat duduk tawaruk itu letakkanlah kedua telapak tangan di atas kedua lutut, dengan menghamparkan jari-jari tangan kiri di atas lutut kiri. Sedang jari kelingking, jari manis dan jari tengah tangan kanan digenggam, dan ibu jari tangan kanan menyentuh jari tengah tangan kanan dan jari telunjuk tangan kanan diacungkan pada saat memulai membaca doa tasyahud (at-taḥiyyātu lillāh). Tatacara duduk tawaruk ini didasarkan kepada hadis- hadis berikut, 1) Hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī riwayat al-Bukhārī di atas [16.a.1)]. 2) Hadis ‘Āmir Ibn ‘Abdullāh Ibn az-Zubair,
ﻋَنْ ﻋَﺎﻣِرِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ اﻟزﱡﺑَﯾْرِ ﻋَنْ أَﺑِﯾﮫِ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﻌَدَ
ﯾَدْﻋُو وَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺧِذِهِ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ وَﯾَدَهُ اﻟْﯾُﺳْرَى ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺧِذِهِ اﻟْﯾُﺳْرَى وَأَﺷَﺎرَ ﺑِﺈِﺻْﺑَﻌِﮫِ اﻟﺳﱠﺑﱠﺎﺑَﺔِ وَوَﺿَﻊَ إِﺑْﮭَﺎﻣَﮫُ ﻋَﻠَﻰ إِﺻْﺑَﻌِﮫِ اﻟْوُﺳْطَﻰ وَﯾُﻠْﻘِمُ ﻛَﻔﱠﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى رُﻛْﺑَﺗَﮫُ ]رواه ﻣﺳﻠم[
Dari ‘Āmir Ibn ‘Abdullāh Ibn az-Zubair, dari ayahnya [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw jika duduk bertasyahud, beliau letakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, dan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan beliau memberi menunjuk dengan jari telunjuknya dan beliau letakkan jempolnya pada jari tengahnya, sementara telapak tangan kirinya menggenggam lututnya [HR. Muslim].
- Hadis lain dari ‘Āmir Ibn ‘Abdullāh Ibn az-Zubair,
ﻋَنْ ﻋَﺎﻣِرِ ﺑْنِ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ اﻟزﱡﺑَﯾْرِ ﻋَنْ أَﺑِﯾﮫِ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﻗَﻌَدَ ﯾَدْﻋُو وَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺧِذِهِ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ وَﯾَدَهُ اﻟْﯾُﺳْرَى ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺧِذِهِ اﻟْﯾُﺳْرَى وَأَﺷَﺎرَ ﺑِﺈِﺻْﺑَﻌِﮫِ اﻟﺳﱠﺑﱠﺎﺑَﺔِ وَوَﺿَﻊَ إِﺑْﮭَﺎﻣَﮫُ ﻋَﻠَﻰ إِﺻْﺑَﻌِﮫِ اﻟْوُﺳْطَﻰ وَﯾُﻠْﻘِمُ ﻛَﻔﱠﮫُ اﻟْﯾُﺳْرَى رُﻛْﺑَﺗَﮫُ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari ‘Āmir Ibn ‘Abdullāh Ibn az-Zubair, dari ayahnya [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah saw, jika duduk bertasyahud, beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan tangan kirinya di atas paha kiri, serta menunjuk dengan jari telunjuknya, dan telapak tangan kirinya menggenggam lututnya [HR. Muslim].
- Hadis Ibn ‘Umar,
ﻋَنْ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ أَنﱠ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ إِذَا ﻗَﻌَدَ ﻓِﻲ اﻟﺗﱠﺷَﮭﱡدِ وَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﺳْرَى ﻋَﻠَﻰ رُﻛْﺑَﺗِﮫِ اﻟْﯾُﺳْرَى وَوَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ ﻋَﻠَﻰ رُﻛْﺑَﺗِﮫِ اﻟْﯾُﻣْﻧَﻰ وَﻋَﻘَدَ ﺛَﻼَﺛَﺔً وَﺧَﻣْﺳِﯾنَ وَأَﺷَﺎرَ ﺑِﺎﻟﺳﱠﺑﱠﺎﺑَﺔِ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Ibn ‘Umar [diriwaayatkan] bahwa apabila Rasulullah saw duduk membaca tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya, dan beliau lingkarkan jarinya sehingga membentuk angka lima puluh tiga, dan beliau menunjuk dengan jari telunjuknya [HR Muslim].
- Hadis ‘Abdullāh Ibn az-Zubair,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﺑْنِ اﻟزﱡﺑَﯾْرِ ﻛَﺎنَ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﺷِﯾرُ ﺑِﺄَﺻْﺑُﻌِﮫِ إِذَا دَﻋَﺎ وَﻻَ ﯾُﺣَرِّﻛُﮭَﺎ ]رواه أﺣﻣد واﻟﻧﺳﺎﺋﻰ وأﺑو داود واﺑن ﺣﺑﺎن[.
Dari ‘Abdullāh Ibn az-Zubair [diriwayatkan] bahwa Nabi saw menunjuk dengan jari telunjuknya apabila bertasyahud dan tidak menggerakkannya [HR Aḥmad, an-Nasā’ī, Abū Dāwūd dan Ibn Ḥibbān].
Adapun tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk saat mengacungkannya disebutkan dalam hadis Wā’il Ibn Ḥujr riwayat Aḥmad, an-Nasā’ī, Abū Dāwūd, Ibn Mājah dan al-Baihaqī sebagai berikut,
... ﺛُمﱠ رَﻓَﻊَ أَﺻْﺑُﻌَﮫُ ﻓَرَأَﯾْﺗُﮫُ ﯾُﺣَرِّﻛُﮭَﺎ ﯾَدْﻋُو ﺑِﮭَﺎ ]رواه أﺣﻣد واﻟﻧﺳﺎﺋﻰ وأﺑو داود واﺑن ﻣﺎﺟﮫ واﻟﺑﯾﮭﻘﻲ[
‘... kemudian beliau [Rasulullah saw] mengangkat jari telunjuknya dan saya melihatnya menggerak-gerakannya sambil berdo‘a dengannya (membaca doa tasyahud) [HR Aḥmad, an-Nasā’ī, Abū Dāwūd, Ibn Mājah dan al-Baihaqī].
Hadis bahwa “Rasulullah saw menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud” dalam riwayat di atas mengandung anomali (syuzuz/penyimpangan) yang dilakukan oleh Zā’idah, salah seorang rawi dalam sanad hadis tersebut. Semua sejawatnya seperti Syu‘bah, Sufyān aṡ-Ṡaurī, Sufyān Ibn ‘Uyainah, Zuhair, Abū ‘Awānah dan lain-lain yang semuanya merupakan rawi-rawi terpercaya yang meriwayatkan hadis itu dari guru mereka ‘Āṣim Ibn Kulaib, meriwayatkan hadis itu dengan menyebutkan “Rasulullah saw menunjuk dengan jari telunjuknya.” Mereka sama sekali tidak menyebutkan “beliau menggerak-gerakkan jari telunjuknya.” Hanya Zā’idah di antara murid ‘Āṣim yang menyebutkan menggerak- gerakkan jari telunjuk sehingga karenanya riwayat Zā’idah ini dianggap syaz (mengandung anomali). Oleh karena itu al-Baihaqī sebagai salah seorang mukharij dari hadis ini menyatakan, “Kemungkinan maksud “menggerak-gerakkan telunjuk” itu adalah mengacungkannya, bukan menggerakkan dengan memutar-mutarnya [Al-Baihaqī, as-Sunan al-Kubrā, II: 189, hadis no. 2787]. Imam Aḥmad meriwayatkan bahwa Wā’il menceritakan bahwa sebagian orang terkadang tampak menggerak-gerakkan jari telunjuknya yang terlihat dari gerakan di bawah jubah mereka adalah karena kedinginan di musim dingin [Aḥmad, al- Musnad, XXXI: 160, hadis no. 18870]. Selain itu setelah menelaah berbagai kitab fikih, belum ditemukan pemahaman yang menunjukkan menggerak-gerakkan jari telunjuk kecuali mazhab Maliki yang menyatakan bahwa di dalam duduk tasyahud jari telunjuk digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri secara pelan. Sehingga dengan demikian disimpulkan bahwa yang rajih adalah pendapat tidak mengerakkan jari telunjuk saat tasyahud. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Ibn az-Zubair pada hadis no. 5) yang menegaskan bahwa Rasulullah saw menunjuk (mengacungkan) jari telunjuknya, bukan menggerak-gerakkannya.
c. Membaca Doa Tasyahud
Bersamaan dengan duduk tawaruk pada rakaat terakhir sebagaimana dijelaskan di muka, bacalah doa tasyahud, yaitu:
اﻟﺗﱠﺣِﯾﱠﺎتُ اللهِِ وَاﻟﺻﱠﻠَوَاتُ وَاﻟطﱠﯾِّﺑَﺎتُ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْكَ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ وَﺑَرَﻛَﺎﺗُﮫُ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻧَﺎ وَﻋَﻠَﻰ ﻋِﺑَﺎدِ االلهﱠِ اﻟﺻﱠﺎﻟِﺣِﯾنَ أَﺷْﮭَدُ أَنْ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ االلهﱠُ وَأَﺷْﮭَدُ أَنﱠ ﻣُﺣَﻣﱠدًا ﻋَﺑْدُهُ وَرَﺳُوﻟُﮫُ.
At-taḥiyātu lillāhi waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhis-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāhu, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh.
Penghormatan, selawat, dan segala yang baik-baik adalah bagi Allah. Kedamaian, rahmat dan berkah dari Allah semoga dilimpahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Kedamaian juga semoga dilimpahkan kepada kita dan semua hamba Allah yang salih. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Bacaan doa tasyahud ini didasarkan kepada hadis Nabi saw,
ﻋَنْ ﺷَﻘِﯾقِ ﺑْنِ ﺳَﻠَﻣَﺔَ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ ﻋَﺑْدُ االلهﱠِ ﻛُﻧﱠﺎ إِذَا ﺻَﻠﱠﯾْﻧَﺎ ﺧَﻠْفَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗُﻠْﻧَﺎ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﻰ ﺟِﺑْرِﯾلَ وَﻣِﯾﻛَﺎﺋِﯾلَ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﻰ ﻓُﻼَنٍ وَﻓُﻼَنٍ ﻓَﺎﻟْﺗَﻔَتَ إِﻟَﯾْﻧَﺎ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎلَ إِنﱠ االلهﱠَ ھُوَ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻓَﺈِذَا ﺻَﻠﱠﻰ أَﺣَدُﻛُمْ ﻓَﻠْﯾَﻘُلْ اﻟﺗﱠﺣِﯾﱠﺎتُ لِلَّهِ وَاﻟﺻﱠﻠَوَاتُ وَاﻟطﱠﯾِّﺑَﺎتُ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْكَ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ وَﺑَرَﻛَﺎﺗُﮫُ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻧَﺎ وَﻋَﻠَﻰ ﻋِﺑَﺎدِ االلهﱠِ اﻟﺻﱠﺎﻟِﺣِﯾنَ ﻓَﺈِﻧﱠﻛُمْ إِذَا ﻗُﻠْﺗُﻣُوھَﺎ أَﺻَﺎﺑَتْ ﻛُلﱠ ﻋَﺑْدٍ لِلَّهِ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻓِﻲ اﻟﺳﱠﻣَﺎءِ وَاﻷَْرْضِ أَﺷْﮭَدُ أَنْ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ االلهﱠُ وَأَﺷْﮭَدُ أَنﱠ ﻣُﺣَﻣﱠدًا ﻋَﺑْدُهُ وَرَﺳُوﻟُﮫُ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري و ﻣﺳﻠم[.
Dari Syaqīq Ibn Salamah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: ‘Abdullāh [Ibn Mas‘ūd] mengatakan: Tatkala suatu kali kami salat di belakang Rasulullah saw kami membaca: “As- salāmu ‘alā Jibrīla wa Mīkāla. As-salāmu ‘alā Fulān wa Fulān.” Lalu Rasulullah saw menoleh ke arah kami dan bersabda, “Sesungguhnya Allah itu adalah as-Salām, maka apabila salah seorang dari kamu salat, hendaklah mengucapkan: At-taḥiyātu lillāhi waṣ- ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhis-ṣāliḥīn ̶ jika kamu sekalian membaca itu, hal itu akan meliputi semua hamba Allah yang salih, yang ada di langit dan bumi ̶ . Asyhadu allā ilāha illallāhu, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh [HR al-Bukhārī dan Muslim].
Atau bisa juga dibaca doa tasyahud berikut,
اﻟﺗﱠﺣِﯾﱠﺎتُ اﻟْﻣُﺑَﺎرَﻛَﺎتُ اﻟﺻﱠﻠَوَاتُ وَاﻟطﱠﯾِّﺑَﺎتُ لِلَّهِ ، اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْكَ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ وَﺑَرَﻛَﺎﺗُﮫُ، اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻧَﺎ وَﻋَﻠَﻰ ﻋِﺑَﺎدِ االلهﱠِ اﻟﺻﱠﺎﻟِﺣِﯾنَ، أَﺷْﮭَدُ أَنْ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ االلهﱠُ وَأَﺷْﮭَدُ أَنﱠ ﻣُﺣَﻣﱠدًا رَﺳُولُ ﷲِ.
At-taḥiyyātul-mubārakātuṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibātu lillāh. As-salāmu ‘alaika ayyuhan- nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāhu wa asyhadu anna Muḥammadar rasūlullāh. Segala kehormatan yang penuh berkah [dan] keagungan dan segala yang baik-baik adalah kepunyaan Allah. Kedamaian semoga dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu pula rahmat dan keberkahan dari Allah. Kedamaian juga semoga dilimpahkan kepada kita dan
semua hamba Allah yang salih. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan utusan-Nya
Hal ini didasarkan hadis Ibn ‘Abbās berikut,
ﻋَنِ اﺑْنِ ﻋَﺑﱠﺎسٍ أَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ ﻛَﺎنَ رَﺳُوْلُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﯾُﻌَﻠِّﻣُﻧَﺎ اﻟْﺗﱠﺷَﮭﱡدَ ﻛَﻣَﺎ ﯾُﻌَﻠِّﻣُﻧَﺎ اﻟﺳﱡوْرَةَ ﻣِنَ اﻟﻘُرآنِ ﻓَﻛَﺎنَ ﯾَﻘُوْلُ اﻟﺗﱠﺣِﯾﱠﺎتُ اﻟْﻣُﺑَﺎرَﻛَﺎتُ اﻟﺻﱠﻠَوَاتُ وَاﻟطﱠﯾِّﺑَﺎتُ لِلَّهِ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْكَ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ وَﺑَرَﻛَﺎﺗُﮫُ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻧَﺎ وَﻋَﻠَﻰ ﻋِﺑَﺎدِ االلهﱠِ اﻟﺻﱠﺎﻟِﺣِﯾنَ أَﺷْﮭَدُ أَنْ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ االلهﱠُ وَأَﺷْﮭَدُ أَنﱠ ﻣُﺣَﻣﱠدًا رَﺳُولُ االلهﱠِ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Ibnu ‘Abbās [diriwayatkan] bahwa dia berkata: Rasulullah saw mengajarkan kepada kami tasyahud seperti beliau mengajar kami surat al-Qur’an. Beliau mengucapkan At- taḥiyyātul-mubārakātuṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibātu lillāh. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāhu wa asyhadu anna Muḥammadar rasūlullāh (segala kehormatan yang penuh berkah [dan] keagungan dan segala yang baik-baik adalah kepunyaan Allah. Kedamaian semoga dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu pula rahmat dan keberkahan dari Allah. Kedamaian juga semoga dilimpahkan kepada kita dan semua hamba Allah yang salih. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan utusan-Nya) [HR.Muslim].
Setelah selesai membaca tasyahud, dua telapak tangan tetap di atas paha, hanya saja jari-jari tangan kanan dijulurkan.
d. Membaca salawat untuk Nabi saw
Masih dalam duduk tawaruk, setelah selesai membaca doa tasyahud, lanjutkan dengan membaca doa salawat kepada Nabi saw sebagai berikut,
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﺻَلِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺻَﻠﱠﯾْتَ ﻋَﻠَﻰ إِﺑْرَاھِﯾمَ وَآلِ إِﺑْرَاھِﯾْمَ وَﺑَﺎرِكْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ وَ آلِ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎرَﻛْتَ ﻋَﻠَﻰ إِﺑْرَاھِﯾمَ وَآلِ إِﺑْرَاھِﯾْمَ إِﻧﱠكَ ﺣَﻣِﯾدٌ ﻣَﺟِﯾدٌ.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm wa āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad, kamā bārakta‘alā Ibrāhīm wa āli Ibrāhīm. Innaka ḥamīdum majīd.
Ya Allah beri salawat lah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau beri selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim dan beri berkah lah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau beri berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Bacaan selawat ini didasarkan kepada hadis Ka‘b Ibn ‘Ujrah,
ﻋَنْ ﻛَﻌْبِ ﺑْنِ ﻋُﺟْرَةَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ ﻋَنِ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أَﻧﱠﮫُ ﻛَﺎنَ ﯾَﻘُولُ ﻓِﻲْ اﻟﺻﱠﻼَةِ
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﺻَلِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺻَﻠﱠﯾْتَ ﻋَﻠَﻰ إِﺑْرَاھِﯾمَ وَآلِ إِﺑْرَاھِﯾْمَ وَﺑَﺎرِكْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ وَ آلِ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎرَﻛْتَ ﻋَﻠَﻰ إِﺑْرَاھِﯾمَ وَآلِ إِﺑْرَاھِﯾْمَ إِﻧﱠكَ ﺣَﻣِﯾدٌ ﻣَﺟِﯾدٌ ]رواه اﻟﺷﺎﻓﻌﻲ ﻓﻲ اﻟﻣﺳﻧد[.
Dari Ka‘b Ibn ‘Ujrah r.a. dari Nabi saw [diriwayatkan] bahwa beliau mengucapkan di dalam salat: Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm wa āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad, kamā bārakta‘alā Ibrāhīm wa āli Ibrāhīm. Innaka ḥamīdum majīd (Ya Allah beri salawat lah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau beri selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim dan beri berkah lah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau beri berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia) [HR asy-Syāfi‘ī dalam kitab al-Musnad].
Atau bisa juga dibaca doa selawat berikut sebagaimana dalam riwayat Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya,
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﺻَلِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺻَﻠﱠﯾْتَ ﻋَﻠَﻰ آلِ إِﺑْرَاھِﯾمَ وَﺑَﺎرِكْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎرَﻛْتَ ﻋَﻠَﻰ آلِ إِﺑْرَاھِﯾمَ ﻓِﻲ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ إِﻧﱠكَ ﺣَﻣِﯾدٌ ﻣَﺟِﯾدٌ.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā āli Ibrāhīm. Fīl- ‘ālamīna innaka ḥamīdum majīd. Ya Allah beri salawat lah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau beri selawat keluarga Ibrahim dan beri berkah lah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau beri berkah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta hanya Engkau lah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Ini didasarkan kepada hadis riwayat Muslim berikut,
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﻣَﺳْﻌُودٍ اﻷَْﻧْﺻَﺎرِيِّ ﻗَﺎلَ أَﺗَﺎﻧَﺎ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ وَﻧَﺣْنُ ﻓِﻲ ﻣَﺟْﻠِسِ ﺳَﻌْدِ ﺑْنِ ﻋُﺑَﺎدَةَ ﻓَﻘَﺎلَ ﻟَﮫُ ﺑَﺷِﯾرُ ﺑْنُ ﺳَﻌْدٍ أَﻣَرَﻧَﺎ االلهﱠُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ أَنﱠ ﻧُﺻَﻠِّﻲَ ﻋَﻠَﯾْكَ ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ ﻓَﻛَﯾْفَ ﻧُﺻَﻠِّﻲ ﻋَﻠَﯾْكَ ﻗَﺎلَ ﻓَﺳَﻛَتَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَﻣَﻧﱠﯾْﻧَﺎ أَﻧﱠﮫُ ﻟَمْ ﯾَﺳْﺄَﻟْﮫُ ﺛُمﱠ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗُوﻟُوا اﻟﻠﱠﮭُمﱠ ﺻَلِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺻَﻠﱠﯾْتَ ﻋَﻠَﻰ آلِ إِﺑْرَاھِﯾمَ وَﺑَﺎرِكْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺣَﻣﱠدٍ ﻛَﻣَﺎ ﺑَﺎرَﻛْتَ ﻋَﻠَﻰ آلِ إِﺑْرَاھِﯾمَ ﻓِﻲ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ إِﻧﱠكَ ﺣَﻣِﯾدٌ ﻣَﺟِﯾدٌ وَاﻟﺳﱠﻼَمُ ﻛَﻣَﺎ ﻗَدْ ﻋَﻠِﻣْﺗُمْ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Abū Mas‘ūd al-Anṣārī [diriwayatkan bahwa] dia berkata, "Rasulullah saw mendatangi kami ketika kami berada pada dalam majlis Sa‘d Ibn ‘Ubādah, maka Basyīr bin Sa‘d berkata kepada Rasulullah saw, ‘Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan salawat untukmu wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara bersalawat atasmu?’ Abū Mas‘ūd al-Anṣārī meneruskan riwayatnya, “Lalu Rasulullah saw terdiam hingga kami berfikir semestinya dia tidak menanyakan hal itu kepada beliau. Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Katakanlah, ‘Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā āli Ibrāhīm. Fīl-
‘ālamīna innaka ḥamīdum majīd’” (Ya Allah beri salawat lah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau beri selawat keluarga Ibrahim dan beri berkah lah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau beri berkah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta hanya Engkau lah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia). Adapun salam kalian telah mengetahuinya [HR Muslim].
e. Membaca doa perlindungan kepada Allah
Setelah selesai membaca salawat kepada Nabi saw, bacalah doa perlindungan sebagai berikut,
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ إِﻧِّﻲ أَﻋُوذُ ﺑِكَ ﻣِنْ ﻋَذَابِ ﺟَﮭَﻧﱠمَ وَﻣِنْ ﻋَذَابِ اﻟْﻘَﺑْرِ وَﻣِنْ ﻓِﺗْﻧَﺔِ اﻟْﻣَﺣْﯾَﺎ وَاﻟْﻣَﻣَﺎتِ وَﻣِنْ ﺷَرِّ ﻓِﺗْﻧَﺔِ اﻟْﻣَﺳِﯾﺢِ اﻟدﱠﺟﱠﺎلِ.
Allāhumma innī a‘ūżu bika min ‘ażābi jahannam, wa min ‘ażbil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min fitnatil masīḥid-dajjāl.
Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadamu dari azab neraka Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Dajjal.
Doa ini didasarkan kepada hadis,
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ إِذَا ﺗَﺷَﮭﱠدَ أَﺣَدُﻛُمْ ﻓَﻠْﯾَﺳْﺗَﻌِذْ ﺑِﺎاللهﱠِ ﻣِنْ أَرْﺑَﻊٍ ﯾَﻘُولُ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ إِﻧِّﻲ أَﻋُوذُ ﺑِكَ ﻣِنْ ﻋَذَابِ ﺟَﮭَﻧﱠمَ وَﻣِنْ ﻋَذَابِ اﻟْﻘَﺑْرِ وَﻣِنْ ﻓِﺗْﻧَﺔِ اﻟْﻣَﺣْﯾَﺎ وَاﻟْﻣَﻣَﺎتِ وَﻣِنْ ﺷَرِّ ﻓِﺗْﻧَﺔِ اﻟْﻣَﺳِﯾﺢِ اﻟدﱠﺟﱠﺎلِ ]رواه ﻣﺳﻠم[.
Dari Abū Hurairah [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah dia minta perlindungan dari empat hal dengan mengatakan ‘Ya allah, sungguh aku berlindung kepadamu dari azab neraka Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Dajjal’ [HR Muslim].
17. Mengakhiri Salat a. Salam Menutup Rangkaian Salat
Setelah melaksanakan salat dua rakaat hingga sampai pada bacaan doa perlindungan pada duduk tasyahud akhir pada rakaat kedua, maka untuk salat dua rakaat akhirilah dengan membaca salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri sedemikian rupa hingga pipi terlihat dari belakang. Salam adalah rangkaian terakhir dari ibadah salat. Salam diucapkan setelah membaca tasyahud, selawat dan doa taawuz. Salam diucapkan dua kali: pertama sambil memutar muka ke sebelah kanan sampai terlihat pipi kanan oleh jamaah di belakang, dan kedua sambil memutar wajah ke arah kiri sampai terlihat pipi kiri oleh jamaah di belakang.
Salam diucapkan pada akhir semua salat, baik salat munfarid (sendirian) maupun salat jamaah (bersama), begitu pula diucapkan baik pada akhir salat dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat. Ketentuan bahwa salat ditutup dengan salam disebutkan dalam hadis Nabi saw yang diriwayatkan dari beberapa Sahabat, antara lain,
ﻋَنْ ﻋَﻠِﻰٍّ رﺿﻰ ﷲ ﻋﻧﮫ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻣِﻔْﺗَﺎحُ اﻟﺻﱠﻼَةِ اﻟطﱡﮭُورُ وَﺗَﺣْرِﯾﻣُﮭَﺎ اﻟﺗﱠﻛْﺑِﯾرُ وَﺗَﺣْﻠِﯾﻠُﮭَﺎ اﻟﺗﱠﺳْﻠِﯾمُ ]رواه أﺑو داود واﻟﺗرﻣذي واﺑن ﻣﺎﺟﮫ وأﺣﻣد وروي أﯾﺿﺎ ﻋن أﺑﻲ ﺳﻌﯾد واﻟﺣدﯾث ﺻﺣﯾﺢ[.
Dari ‘Alī r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Kunci salat itu adalah bersuci, permulaannya adalah takbir dan penyelesaiannya adalah salam [HR Abū Dāwūd, at-Tirmiżī, Ibn Mājah, dan Aḥmad; juga diriwayatkan dari Abū Sa‘īd. Hadis ini sahih].
Oleh karena itu jumhur (mayoritas) fukaha, termasuk di dalamnya Imam Mālik dan asy- Syāfi‘ī, menegaskan bahwa salam untuk menutup salat itu wajib hukumnya, dan tidak memadai (lā yujzi’u) salat tanpa ditutup dengan salam. Namun Imam Abū Ḥanifah berpendapat bahwa salam untuk menutup salat itu hanya sunat dilakukan, dalam arti salat sah apabila diakhiri dengan segala perbuatan yang menunjukkan diakhirinya salat. Dasar pandangan Abū Ḥanīfah adalah hadis mengenai Rasulullah saw mengajar salat kepada pelaku salat secara keliru di mana dalam hadis itu tidak disebutkan salam. Ketika pelaku salat secara keliru itu minta diajari Rasulullah saw, beliau mengajarinya dan bersabda:
إِذَا ﻗُﻣْتَ إِﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻓَﺗَوَﺿﱠﺄْ ﻛَﻣَﺎ أَﻣَرَكَ االلهﱠُ ﻋَزﱠ وَﺟَلﱠ ﺛُمﱠ ﺗَﺷَﮭﱠدْ ﺛُمﱠ ﻛَﺑِّرْ ﻓَﺈِنْ ﻛَﺎنَ ﻣَﻌَكَ ﻗُرْآنٌ ﻓَﺎﻗْرَأْهُ وَإِﻻﱠ ﻓَﺎﺣْﻣَدِ االلهﱠَ وَﻛَﺑِّرْهُ وَھَﻠِّﻠْﮫُ ﺛُمﱠ ارْﻛَﻊْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ رَاﻛِﻌًﺎ ﺛُمﱠ ارْﻓَﻊْ ﻓَﺎﻋْﺗَدِلْ ﻗَﺎﺋِﻣًﺎ ﺛُمﱠ اﺳْﺟُدْ ﻓَﺎﻋْﺗَدِلْ ﺳَﺎﺟِدًا ﺛُمﱠ اﺟْﻠِسْ ﺣَﺗﱠﻰ ﺗَطْﻣَﺋِنﱠ ﺟَﺎﻟِﺳًﺎ ﺛُمﱠ اﺳْﺟُدْ ﻓَﺎﻋْﺗَدِلْ ﺳَﺎﺟِدًا ﺛُمﱠ ﻗُمْ ﻓَﺈِذَا ﻓَﻌَﻠْتَ ذَﻟِكَ ﻓَﻘَدْ ﺗَﻣﱠتْ ﺻَﻼَﺗُكُ ]رواه اﻟﺗرﻣذي واﺑن ﻣﺎﺟﮫ واﻟﺣدﯾث ﺻﺣﯾﺢ[.
Apabila englau hendak salat, maka berwuduklah sebagaimana diperintahkan Allah azza wa jalla, kemudia becalah syahadat. Kemudian bertakbirlah dan jika ada ayat al-Quran yang engkau hafal, maka bacalah ayat itu. Jika tidak, bertahmid, bertakbir dan bertahlil lah. Kemudian rukuklah hingga sempurna rukuknya, kemudian bangkitlah dari rukuk hingga sempurna berdirinya, kemudian sujudlah hingga sempurna sujudnya, kemudian duduklah hingga sempurna duduknya, kemudian sujud lagi hingga sempurna sujudnya, lalu kemudian berdirilah. Jika itu telah engkau lakukan, maka sempurnalah salatmu [HR at-Tirmiżī dan Ibn Mājah. Hadis ini sahih].
Hadis ini sesungguhnya bukan penegasan bahwa salam tidak wajib dalam salat. Hadis ini
hanya membetulkan salat yang dilakukan secara salah oleh seseorang di depan Nabi saw. Tidak disebutkannya salam dalam hadis ini tidak berarti bahwa salam tidak merupakan bagian dari salat. Apa yang tidak disebutkan dalam hadis ini dilengkapi dalam hadis lain, yaitu hadis ‘Alī di atas yang merupakan penegasan Nabi saw bahwa salat ditutup dengan salam. Selain itu praktik salat Nabi saw senantiasa menutup salat dengan salam seperti terlihat dalam hadis Wa’il di atas, dan Rasulullah saw menegaskan, “Salatlah kamu seperti kamu melihat aku salat.” Oleh sebab itu pendapat Abū Ḥanifah di atas adalah marjuh (tidak kuat), dan pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur bahwa salat itu diakhiri dengan salam, sesuai hadis ‘Alī di atas, sehingga salam itu wajib hukumnya.
b. Lafal Salam
Ada dua lafal salam penutup salat yang dapat digunakan dengan memilih salah satu, yaitu (1) as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh, dan (2) as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh tanpa dilengkapi dengan wa barakātuh. Keduanya sah dan boleh dipilih salah satu atas dasar adanya tanawuk dalam ibadah karena keduanya sama-sama memiliki landasan hadis. Lafal salam pertama didasarkan kepada hadis Wā’il riwayat Abū Dāwūd dan lafal salam kedua didasarkan kepada hadis Jābir riwayat Muslim dan Abū Dāwūd sebagaimana terlihat dalam putusan Tarjih di atas. Dalam Putusan Tarjih tahun 1929 ditegaskan bahwa setelah selesai membaca tasyahud, salawat, dan doa, salat ditutup dengan mengucapkan salam. Putusan itu menyatakan, Kemudian bersalamlah dengan berpaling ke kanan dan ke kiri, yang pertama sampai terlihat pipi kananmu dan yang kedua sampai terlihat pipi kirimu oleh orang yang di belakangmu sambil membaca as-salāmu ‘alaikum wa ramatullāhi wa barakātuh, berdasarkan hadis Wā’il Ibn Ḥujr bahwa ia berkata: Saya salat bersama Nabi saw, maka beliau bersalam ke kanannya dengan membaca ‘as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh’ dan ke kirinya dengan membaca ‘as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh’.
Dalil yang digunakan adalah hadis Wā’il riwayat Abū Dāwūd sebagaimana di bawah ini (pada angka 1). Kemudian dalam Putusan Tarjih tahun 2010 ditegaskan lagi sebagai berikut:
1. Mengukuhkan Keputusan Tarjih dalam HPT bahwa salam penutup salat adalah as-salāmu
‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh ke kanan dan ke kiri berdasarkan hadis Wā’il Ibn Ḥujr riwayat Abū Dāwūd,
ﻋن وَاﺋِلٍ ﻗﺎَلَ ﺻَﻠﱠﯾْتُ ﻣَﻊَ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠّﻰ ﷲ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻛَﺎنَ ﯾُﺳَﻠِّمُ ﻋن ﯾَﻣِﯾﻧِﮫِ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ وَﺑَرَﻛَﺎﺗُﮫُ وَﻋَنْ ﺷِﻣَﺎﻟِﮫِ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ وَﺑَرَﻛَﺎﺗُﮫُ ]رواه أﺑو داود[.
Dari Wā’il [diriwayatkan bahwa], beliau berkata: Saya salat bersama Rasulullah saw, maka beliau mengucapkan salam ke kanan ‘as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh’ dan ke kiri ‘as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh’ [HR AbūDāwūd].
2. Salam dengan hanya wa raḥamatullāh juga masyruk (disyariatkan) sehingga ada tanawuk
(keragaman) berdasarkan hadis-hadis dari Rasulullah, antara lain melalui Jābir, yaitu,
ﻋَنْ ﺟَﺎﺑِرِ ﺑْنِ ﺳَﻣُرَةَ ﻗَﺎلَ ﻛُﻧﱠﺎ إِذَا ﺻَﻠﱠﯾْﻧَﺎ ﻣَﻊَ رَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠّﻰ ﷲ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻗُﻠْﻧَﺎ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻛُمْ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ وَأَﺷَﺎرَ ﺑِﯾَدِهِ إِﻟَﻰ اﻟْﺟَﺎﻧِﺑَﯾْنِ ﻓَﻘَﺎلَ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻋَﻼَمَ ﺗُوﻣِﺋُونَ ﺑِﺄَﯾْدِﯾﻛُمْ ﻛَﺄَﻧﱠﮭَﺎ أَذْﻧَﺎبُ ﺧَﯾْلٍ ﺷُﻣُسٍ إِﻧﱠﻣَﺎ ﯾَﻛْﻔِﻰ أَﺣَدَﻛُمْ أَنْ ﯾَﺿَﻊَ ﯾَدَهُ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﺧِذِهِ ﺛُمﱠ ﯾُﺳَﻠِّمُ ﻋَﻠَﻰ أَﺧِﯾﮫِ ﻣِنْ ﻋَﻠَﻰ ﯾَﻣِﯾﻧِﮫِ وَﺷِﻣَﺎﻟِﮫِ ]رواه ﻣﺳﻠم وأﺑو داود[
Dari Jābir Ibn Samurah [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah kami apabila salat bersama Rasulullah saw kami mengucapkan ‘as-salāmu ‘alaikum waraḥmatullāh as-salāmu ‘alaikum waraḥmatullāh’, dan [seseorang dari kami] mengangkat tangannya menunjuk ke kanan dan ke kiri. Maka Rasulullah saw bersabda: Mengapa kalian menunjuk-nunjuk dengan tangan sehingga tangan kalian kelihatan seperti ekor kuda liar. Cukup masing-masing kalian meletakkan tangannya di atas pahanya, kemudian mengucapkan salam kepada orang di sebelah kanan dan sebelah kirinya [HR Muslim dan Abū Dāwūd].
Menurut Putusan Tarjih di atas, lafal salam penutup salat itu ada dua dan boleh dipilih salah satunya untuk digunakan dalam salat, yaitu: 1) as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh, atau 2) as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh.
Apa yang dijelaskan dari angka 1 hingga angka 17 di atas adalah cara mengerjakan salat dua rakaat seperti salat Subuh, salat Jumat, dan salat-salat lain yang jumlah rakaatnya dua. Berikut ini adalah tata cara mengerjakan salat tiga dan empat rakaat. 18. Melaksanakan Salat Rakaat Ketiga dan Keempat
Apabila salat yang dilakukan adalah salat wajib tiga rakaat, yaitu Magrib (atau juga salat wajib empat rakaat, yaitu Zuhur, Asar, dan Isya), maka setelah bangkit dari sujud kedua pada rakaat kedua (setelah selesai melakukan kegiatan salat sampai angka 15), maka lakukan duduk tasyahud awal dengan kaifiat dan ucapannya sebagai dijelaskan di bawah ini.
a. Cara Duduk Tasyahud Awal
Setelah bangun dari sujud kedua pada rakaat kedua dengan mengucapkan takbir tanpa mengangkat kedua tangan (setelah selesai angka 15), lalu lakukan duduk tasyahud awal bagi salat tiga atau empat rakaat. Duduk tasyahud awal dilakukan seperti duduk antara dua sujud, yakni duduk iftirasy. Kemudian letakkanlah telapak tangan kanan di atas lutut kanan dan telapak tangan kiri di atas lutut kiri, sembari jari-jari tangan kiri dihamparkan, sementara jari kelingking, jari manis dan jari tengah tangan kanan digenggam, ibu jari menyentuh jari tengah dan jari telunjuk diacungkan pada saat memulai membaca doa tasyahud (at-taḥiyyātu lillāh dan seterusnya). Semuanya dilakukan persis seperti apa yang dilakukan pada duduk tasyahud akhir. Perbedaannya terletak pada cara duduk. Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy, sementara duduk tasyahud akhir adalah duduk tawaruk.
b. Membaca doa tasyahud dan selawat
Saat duduk tasyahud awal dalam salat tiga atau empat rakaat, bacalah doa tasyahud awal seperti doa tasyahud akhir (lihat angka 16.c). setelah itu lanjutkan membaca selawat kepada Nabi saw seperti selawat yang dibaca pada duduk tasyahud akhir (lihat angka 16.d).
c. Membaca doa-doa pilihan
Setelah selesai membaca doa tasyahud dan selawat kepada Nabi saw pada duduk tasyahud awal, maka dianjurkan membaca doa-doa pilihan seperti ditegaskan oleh Nabi saw dalam hadisnya,
ﻋَنْ ﻋَﺑْدِ االلهﱠِ ﻗَﺎلَ ﻛُﻧﱠﺎ ﻻَ ﻧَدْرِي ﻣَﺎ ﻧَﻘُولُ ﻓِﻲ ﻛُلِّ رَﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﻏَﯾْرَ أَنْ ﻧُﺳَﺑِّﺢَ وَﻧُﻛَﺑِّرَ وَﻧَﺣْﻣَدَ رَﺑﱠﻧَﺎ وَإِنﱠ ﻣُﺣَﻣﱠدًا ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻋَﻠﱠمَ ﻓَوَاﺗِﺢَ اﻟْﺧَﯾْرِ وَﺧَوَاﺗِﻣَﮫُ ﻓَﻘَﺎلَ إِذَا ﻗَﻌَدْﺗُمْ ﻓِﻲ ﻛُلِّ رَﻛْﻌَﺗَﯾْنِ ﻓَﻘُوﻟُوا اﻟﺗﱠﺣِﯾﱠﺎتُ لِلَّهِ وَاﻟﺻﱠﻠَوَاتُ وَاﻟطﱠﯾِّﺑَﺎتُ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْكَ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱡ وَرَﺣْﻣَﺔُ االلهﱠِ وَﺑَرَﻛَﺎﺗُﮫُ اﻟﺳﱠﻼَمُ ﻋَﻠَﯾْﻧَﺎ وَﻋَﻠَﻰ ﻋِﺑَﺎدِ االلهﱠِ اﻟﺻﱠﺎﻟِﺣِﯾنَ أَﺷْﮭَدُ أَنْ ﻻَ إِﻟَﮫَ إِﻻﱠ االلهﱠُ وَأَﺷْﮭَدُ أَنﱠ ﻣُﺣَﻣﱠدًا ﻋَﺑْدُهُ وَرَﺳُوﻟُﮫُ وَﻟْﯾَﺗَﺧَﯾﱠرْ أَﺣَدُﻛُمْ ﻣِنْ اﻟدﱡﻋَﺎءِ أَﻋْﺟَﺑَﮫُ إِﻟَﯾْﮫِ ﻓَﻠْﯾَدْعُ االلهﱠَ ﻋَزﱠ وَﺟَلﱠ ]رواه اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ و أﺣﻣد[.
Dari ‘Abdullāh [diriwayatkan bahwa] dia berkata: Kami tidak mengetahui apa yang mesti diucapkan saat duduk pada setelah dua rakaat (duduk tasyahud) selain bertasbih, bertakbir, dan memuji Tuhan kami, lalu Nabi Muhammad saw mengajari pembuka dan penutup kebaikan. Kemudian beliau saw bersabda: “Jika kalian duduk pada setiap dua rakaat (duduk tasyahud), maka ucapkan lah: At-taḥiyātu lillāhi waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhis-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāhu, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu
wa rasūluh.” Dan hendaklah seseorang kamu memilih doa yang paling disenanginya, lalu berdoalah kepada Allah [HR an-Nasā’ī dan Aḥmad].
Adapun pilihan-pilihan doa yang diajarkan oleh Nabi saw dan dapat dibaca dalam salat antara lain:
- Doa allāhumma a‘innī ... sebagai bebagai berikut:
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ أَﻋِﻧِّﻲْ ﻋَﻠَﻰ ذِﻛْرِكَ وَﺷُﻛْرِكَ وَﺣُﺳْنِ ﻋِﺑَﺎدَﺗِكَ
Allāhumma a‘innī ‘alā żikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik.
Ya Allah, bantulah aku dalam berzikir, bersyukur dan beribadah yang baik kepada-MU.
Doa ini didasarkan hadis dari Mu‘āż:
ﻋَنْ ﻣُﻌَﺎذِ ﺑْنِ ﺟَﺑَلٍ ﻗَﺎلَ ﻟَﻘِﯾَﻧِﻲ رَﺳُولُ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻓَﻘَﺎلَ ﯾَﺎ ﻣُﻌَﺎذُ إِﻧِّﻲ ﻷَُﺣِﺑﱡكَ ﻓَﻘُﻠْتُ ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ وَأَﻧَﺎ وَااللهﱠِ أُﺣِﺑﱡكَ ﻗَﺎلَ ﻓَﺈِﻧِّﻲ أُوﺻِﯾكَ ﺑِﻛَﻠِﻣَﺎتٍ ﺗَﻘُوﻟُﮭُنﱠ ﻓِﻲ ﻛُلِّ ﺻَﻼَةٍ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ أَﻋِﻧِّﻲ ﻋَﻠَﻰ ذِﻛْرِكَ وَﺷُﻛْرِكَ وَﺣُﺳْنِ ﻋِﺑَﺎدَﺗِكَ ]رواه اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ[.
Dari Mu‘āż Ibn Jabal [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw memegang tangannya, lalu ia berkata: Mu‘āż, demi Allah, aku sungguh menyukaimu wahai Mu‘āż. Kemudian ia berkata lagi: Aku akan memberi pesan kepadamu, wahai Mu‘āż, yaitu beberapa kata yang engkau ucapkan setiap selesai salat: “Allāhumma a‘innī ‘alā żikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik” (Ya Allah, bantulah aku dalam mengingat-Mu dan mensyukuri-Mu serta beribadah dengan baik kepada-Mu) [HR Nasā’ī].
- Atau doa Allāhumma innī ẓalamtu nafsī ...
اﻟﻠﱠﮭُمﱠ إِﻧِّﻲ ظَﻠَﻣْتُ ﻧَﻔْﺳِﻲ ظُﻠْﻣًﺎ ﻛَﺛِﯾرًا وَﻻَ ﯾَﻐْﻔِرُ اﻟذﱡﻧُوبَ إِﻻﱠ أَﻧْتَ ﻓَﺎﻏْﻔِرْ ﻟِﻲ ﻣَﻐْﻔِرَةً ﻣِنْ ﻋِﻧْدِكَ وَارْﺣَﻣْﻧِﻲ إِﻧﱠك أَﻧْتَ اﻟْﻐَﻔُورُ اﻟرﱠﺣِﯾمُ.
Allāhumma innī ẓalamtu nafsī ẓulman kaṡīran, wa lā yagfiruż-żunūba illā anta, fagfir lī magfiratan min ‘indika, war-ḥamnī innaka antal-gafūrur-raḥīm.
Doa ini didasarkan kepada hadis:
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﺑَﻛْرٍ اﻟﺻِّدِّﯾقِ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ أَﻧﱠﮫُ ﻗَﺎلَ ﻟِرَﺳُولِ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻋَﻠِّﻣْﻧِﻲ دُﻋَﺎءً أَدْﻋُو ﺑِﮫِ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺗِﻲ ﻗَﺎلَ ﻗُلْ اﻟﻠﱠﮭُمﱠ إِﻧِّﻲ ظَﻠَﻣْتُ ﻧَﻔْﺳِﻲ ظُﻠْﻣًﺎ ﻛَﺛِﯾرًا وَﻻَ ﯾَﻐْﻔِرُ اﻟذﱡﻧُوبَ إِﻻﱠ أَﻧْتَ ﻓَﺎﻏْﻔِرْ ﻟِﻲ ﻣَﻐْﻔِرَةً ﻣِنْ ﻋِﻧْدِكَ وَارْﺣَﻣْﻧِﻲ إِﻧﱠك أَﻧْتَ اﻟْﻐَﻔُورُ اﻟرﱠﺣِﯾمُ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري وﻣﺳﻠم[.
Dari Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq r.a. [diriwayatkan] bahwa ia berkata kepada Rasulullah saw:
Ajarilah aku sebuah doa yang dapat aku baca dalam salatku! Nabi saw bersabda: Ucapkanlah “Allāhumma innī ẓalamtu nafsī ẓulman kaṡīran, wa lā yagfiruż-żunūba illā anta, fagfir lī magfiratan min ‘indika, war-ḥamnī innaka antal-gafūrur-raḥīm” (Ya allah, sesungguhnya aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri. Tiada yang dapat mengampuni dosa kecuasli Engkau, maka berilah aku ampunan dari sisi-Mu, dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih) [HR. al-Bukhārī dan Muslim].
19. Berdiri untuk Mengerjakan Rakaat Ketiga a. Berdiri untuk rakaat ketiga sambil mengankat tangan
Setelah selesai duduk tasyahud awal, yaitu duduk membaca tahiyat / tasyahud dan salawat serta doa pilihan yang disukai, maka berdirilah untuk rakaat ketiga dengan mengucapkan takbir sambil mengangkat kedua tangan seperti pada takbiratul ihram. Hal ini didasarkan kepada hadis-hadis berikut: 1) Hadis Ibn ‘Umar,
ﻋَنْ ﻧَﺎﻓِﻊٍ أَنﱠ اﺑْنَ ﻋُﻣَرَ ﻛَﺎنَ إِذَا دَﺧَلَ ﻓِﻲ اﻟﺻﱠﻼَةِ ﻛَﺑﱠرَ وَرَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَإِذَا رَﻛَﻊَ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَإِذَا ﻗَﺎلَ ﺳَﻣِﻊَ االلهﱠُ ﻟِﻣَنْ ﺣَﻣِدَهُ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَإِذَا ﻗَﺎمَ ﻣِنْ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ وَرَﻓَﻊَ ذَﻟِكَ اﺑْنُ ﻋُﻣَرَ إِﻟَﻰ ﻧَﺑِﻲِّ االلهﱠِ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Nāfi‘ [diriwayatkan] bahwa Ibnu ‘Umar memulai salat dengan bertakbir dan mengangkat kedua tangannya, begitu juga saat rukuk dan saat membaca “sami‘allāhu liman ḥamidah” serta saat berdiri setelah dua rakaat. Ibnu ‘Umar menyatakan bahwa (yang ia lakukan tersebut) berasal dari Rasulullah [HR al-Bukhārī].
- Hadis ‘Alī Ibn Abī Ṭālib,
ﻋَنْ ﻋَﻠِﻲِّ ﺑْنِ أَﺑِﻲ طَﺎﻟِبٍ ﻋَنِ اﻟﻧﱠﺑِﻲِّ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ أَﻧﱠﮫُ ﻛَﺎنَ إذَا ﻗَﺎمَ إﻟَﻰ اﻟﺻﱠﻼَةِ اﻟْﻣَﻛْﺗُوﺑَﺔِ ﻛَﺑﱠرَ وَرَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَذْوَ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ وَﯾَﺻْﻧَﻊُ ﻣِﺛْلَ ذَﻟِكَ إذَا ﻗَﺿَﻰ ﻗِرَاءَﺗَﮫُ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ ﯾَرْﻛَﻊَ وَﯾَﺻْﻧَﻌُﮫُ إذَا رَﻓَﻊَ ﻣِنْ اﻟرﱡﻛُوعِ وَﻻَ ﯾَرْﻓَﻊُ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻓِﻲ ﺷَﻲْءٍ ﻣِنْ ﺻَﻼَﺗِﮫِ وَھُوَ ﻗَﺎﻋِدٌ وَإِذَا ﻗَﺎمَ ﻣِنْ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ رَﻓَﻊَ ﯾَدَﯾْﮫِ ﻛَذَﻟِكَ وَﻛَﺑﱠرَ ]رَوَاهُ أَﺣْﻣَدُ وَأَﺑُو دَاوُد[.
Dari Alī Ibn Abī Ṭālib [diriwayatkan] dari Rasulullah saw bahwasanya dia memulai salat wajib dengan bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sejajar kedua pundaknya. Dia juga melakukan hal tersebut saat selesai dari bacaan salatnya dan hendak melakukan rukuk. Dia juga melakukannya saat berdiri dari rukuk. Dia tidak mengangkat kedua tangannya di dalam salatnya dalam keadaan duduk. Dia juga mengangkat kedua tangannya dan bertakbir saat berdiri setelah dua rakaat [HR Aḥmad dan Abū Dāwūd]. 3) Hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﺣُﻣَﯾْدٍ اﻟﺳﱠﺎﻋِدِيِّ ﻗَﺎلَ ... ... ... ﺛُمﱠ ﺛَﻧَﻰ رِﺟْﻠَﮫُ وَﻗَﻌَدَ وَاﻋْﺗَدَلَ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾَرْﺟِﻊَ ﻛُلﱡ ﻋَظْمٍ ﻓِﻰ ﻣَوْﺿِﻌِﮫِ ﺛُمﱠ ﻧَﮭَضَ ﺛُمﱠ ﺻَﻧَﻊَ ﻓِﻰ اﻟرﱠﻛْﻌَﺔِ اﻟﺛﱠﺎﻧِﯾَﺔِ ﻣِﺛْلَ ذَﻟِكَ ﺣَﺗﱠﻰ إِذَا ﻗَﺎمَ ﻣِنْ اﻟﺳﱠﺟْدَﺗَﯾْنِ ﻛَﺑﱠرَ وَرَﻓَﻊَ
ﯾَدَﯾْﮫِ ﺣَﺗﱠﻰ ﯾُﺣَﺎذِيَ ﺑِﮭِﻣَﺎ ﻣَﻧْﻛِﺑَﯾْﮫِ ﻛَﻣَﺎ ﺻَﻧَﻊَ ﺣِﯾنَ اﻓْﺗَﺗَﺢَ اﻟﺻﱠﻼَةَ ... ]رواه اﻟﺗرﻣذى[.
Dari Abū Ḥumaid as-Sā‘idī [diriwayatkan bahwa] ia berkata: ... ... ... Kemudian beliau melipat kakinya dan duduk dengan lurus sehingga seluruh tulang kembali ke tempatnya. Kemudian beliau berdiri [untuk rakaat kedua], lalu melakukan pada raat kedua seperti pada rakaat pertama, kemudian bangkit sehingga apabila berdiri dari rakaat kedua beliau (Rasulullah saw) bertakbir dan mengangkat kedua tangannya setentang dengan kedua pundaknya sebagaimana ia lakukan ketika memulai salat ... [HR at-Tirmiżī].
Hadis-hadis ini menjelaskan bahwa pelaku salat ketika berdiri dari rakaat kedua memasuki rakaat ketiga bertakbir dan mengangkat tangan seperti dilakukan saat takbiratul ihram.
b. Bacaan saat berdiri pada rakaat ketiga
Setelah bangkit dari duduk tasyahud awal dan saat berdiri untuk mengerjakan rakaat ketiga, maka bacalah taawuz, basmalah dan al-Fatihah yang semuanya dibaca secara sir (pelan). Pada rakaat ketiga ini tidak ada bacaan doa iftitah dan tidak ada bacaan surah atau ayat-ayat al-Quran. Hal ini didasarkan kepada hadis Abū Qatādah berikut,
ﻋَنْ أَﺑِﻲ ﻗَﺗَﺎدَةَ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ االلهﱠُ ﻋَﻠَﯾْﮫِ وَﺳَﻠﱠمَ ﻛَﺎنَ ﯾَﻘْرَأُ ﻓِﻲ اﻟظﱡﮭْرِ ﻓِﻲ اﻷُْوﻟَﯾَﯾْنِ ﺑِﺄُمِّ اﻟْﻛِﺗَﺎبِ وَﺳُورَﺗَﯾْنِ وَﻓِﻲ اﻟرﱠﻛْﻌَﺗَﯾْنِ اﻷُْﺧْرَﯾَﯾْنِ ﺑِﺄُمِّ اﻟْﻛِﺗَﺎبِ ... ... ... ]رواه اﻟﺑﺧﺎري[.
Dari Abū Qatādah [diriwayatkan] bahwa Nabi saw membaca al-Fatihah dan surah pada dua rakaat pertama saat salat Zuhur dan membaca al-Fatihah [saja] pada dua rakaat terakhir .... [HR al-Bukhārī].
c. Gerakan pada rakaat ketiga setelah membaca al-Fatihah
Kemudian setelah membaca al-Fatihah saat berdiri di rakaat ketiga, maka lakukanlah gerakan-gerakan berikutnya berupa rukuk berserta bacaannya, iktidal beserta bacaannya, sujud pertama beserta bacaannya, duduk antara dua sujud beserta bacaannya dan sujud kedua beserta bacaannya. Hal ini persis seperti apa yang dilakukan pada rakaat pertama dan rakaat kedua.
d. Mengakhiri rakaat ketiga
Apabila salat yang dilakukan adalah salat tiga rakaat, yaitu salat Magrib, maka akhirilah dengan duduk tasyahud akhir dan mengucapkan salam seperti mengakhiri salat dua rakaat. Caranya, setelah bangkit dari sujud kedua pada rakaat ketiga, lakukanlah apa yang dijelaskan pada angka 16 dan 17.
20. Mengerjakan Rakaat Keempat bagi Salat Wajib Empat Rakaat
Apabila salat yang dilakukan adalah salat wajib empat rakaat, yaitu salat Zuhur, salat Asar, atau salat Isya, maka setelah melakukan sujud kedua pada rakaat ketiga bangkitlah dari sujud kedua itu sambil mengucapkan “Allahu akbar” tanpa mengangkat kedua tangan, lalu duduk sejenak yang disebut duduk istirahat (julūs al-istirāḥah), lalu kemudian berdiri lurus dan meletakkan tangan di atas dada seperti dilakukan pada pada rakaat ketiga. Selanjutnya setelah berdiri lurus dengan tangan di atas dada, lakukan seperti apa yang dilakukan pada rakaat ketiga, yaitu membaca taawuz, basmalah dan al-Fatihah yang yang semuanya dibaca sir (pelan) dan, pada rakaat keempat ini seperti halnya pada rakaat ketiga, tidak membaca surah atau ayat-ayat al-Quran. Setelah itu lakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk antara dua sujud, sujud kedua beserta dengan bacaan-bacaannya seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, kedua, dan ketiga.
Setalah selesai dari sujud kedua pada rakaat keempat ini, lakukan duduk tawaruk beserta bacaannya dan kemudian salam untuk mengakhiri salat, persis seperti mengakhiri salat dua rakaat dan salat tiga rakaat. Lakukan seperti yang dijelaskan pada angka 16 dan 17 di muka.

