putusan
KITAB WAQAF
KITAB WAQAF
ﻣُﻘَدِّﻣَﺔٌ ﺑِﺳْمِ ﷲِ اﻟرﱠﺣْﻣنِ اﻟرﱠﺣِﯾمِ ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠذِﯾنَ آﻣَﻧُوا ارْﻛَﻌُوا وَاﺳْﺟُدُوا وَاﻋْﺑُدُوا رَﺑﱠﻛُمْ وَاﻓْﻌَﻠُوا اﻟْﺧَﯾْرُ ُمُﻛﱠﻠَﻌَﻟ ٧٧ : ﺞَﺣْﻟا) . َنوُﺣِﻠْﻔُﺗ (
.
ﻣَنْ ﻋَﻣِلَ ﺻَﺎﻟِﺣًﺎ ﻣِنْ ذَﻛَرٍ أَوْ اﻧْﺗَﻰ وَھُوَ ﻣُؤْﻣِنٌ ﻓَﻠَﻧُﺣْﯾِﯾَﻧﱠﮫُ ﺣَﯾُوةً طَﯾِّﺑَﺔً وَﻟَﻧَﺟْزِﯾﻧَم أﺟْرَھُم ﺑِﺄَﺣْﺳَنِ َنوُﻠَﻣْﻌَﯾ اوُﻧﺎَﻛ ﺎَﻣ) . ٧٩ : لﺣﻧﻟا (.
إِذَا ﻣَﺎتَ اﺑْنُ آدَمَ اﻧْﻘَطَﻊَ ﻋَﻣَﻠُﮫُ اﻷَْﻣِنْ ﺛَﻼَثِ ، ﺻَدَﻗَﺔٍ ﺟَﺎرِﯾَﺔٍ أَوْ ﻋِﻠْمٍ ﯾُﻧْﺗَﻔَﻊُ ﺑِﮫِ أَوْ وَﻟَدٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﯾَدْﻋُوﻟَﮫُ ) رَوَاهُ ﻣُﺳْﻠِمٌ ﻋَنْ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ
MUQODIMAH
Bismillahirrahmanirrahim) Dengan nama Allah, Maha Penyayang, Maha Pengasih Hai orang-orang yang beriman, ruku' dan sujudlah kamu serta sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan, supaya kamu berbahagia (Al-Quran surat Al-Hajj ayat 77). Barang siapa berbuat kebaikan, pria atau wanita dalam hal dia beriman, niscaya akan Aku beri kehidupan yang baik dan niscaya akan Aku beri pahala yang lebih bagus dari yang telah mereka 'amalkan (Al-Quran surat An-Nahl ayat 97). Apabila anak Adam mati, putuslah 'amalnya, kecuali dari tiga: 1. Sedekah jariyah (yang langsung faedahnya), 2. 'Ilmu yang diambil manfaatnya, dan 3. Anak shalih yang mendo'akan orang tuanya (Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah).
ﻛِﺗَﺎبُ اﻟْوَﻗْفِ ﺗَﺻَدﱠقَ ﺑِﺑَﻌْضِ ﻣَﺎﻟِكَ وَﻗْﻔًﺎ لِلَّهِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓﻲ اﻟﻣﺻﺎﻟِﺢِ اﻟْﻌَﺎﻣﱠﺔِ أَوَاﺳْﻊَ ﻓِﻲ اﻟْﺣَﺻُولِ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎلِ ﺗَﻘِﻔُﮫُ )ا( ﻣُﺧْﻠِﺻﺎﻧِﯾَﺗَكَ :ِ )٢( ، ﯾَﻧْﺑُتُ ﻟَكَ اﻷَْﺟْرُ اﻟﱠذِي ﻻَ ﯾَﻧْﻘَطِﻊُ )٣( ﻓَﺈِذَا وَﻗَﻔْتَ ﺷَﯾْﺋًﺎ ﻓَﻠَﯾْسَ ﻟَكَ إِﻻﱠ ﺣَقﱞ ﻣَنْ ﻟَﮫُ اﻹِﻧْﺗِﻔَﺎعُ ﺑِﮫِ )٤( ﻓَﻼَ ﯾُﺑَﺎعُ وَﻻ ﯾُوھَبُ وَﻻَ ﯾُورَثُ )٥( وَﻻَ ﺗُﻘَﯾِّدْ وَﻗْﻔَكَ ﺑِوَﻗْتِ ﻣَﺣْدُودٍ )٥(، وَﻟَكَ أَنْ ﺗﺧﺻﺻَﮫُ ﻟِﺷَﺧْصٍ أَوْ ﻗَوْمٍ أَوْ ﻣُﺳَﺟِدٍ أَوْ ﻏَﯾْرِھَﺎ ﺣَﯾْثُ ﺗَرَى ﻓِﯾﮫِ اﻟْﻣَﺻْﻠَﺣَﺔَ )٥(، وَﻻ ﯾَﻛُن وَﻗْﻔُكَ ﻟِﻣَﻌْﺻِﯾَﺔِ ﷲِ أَوْ ﻣَﺎ ﺗَﺧَﺎفُ ﻣِﻧْﮫُ اﻟْﻔِﺗْﻧَﺔُ ، وَإِذَا وَﺻﱠﯾْتَ ﺑِوَﻗْفِ ﻣَﺎﻟِكَ ﻓَﻼَ ﺗَزِدْ ﻋَﻠَﻰ
اﻟظﱡﻠْثِ )٥( وَإِنْ ﻛُﻧتَ ﻧَﺎظِرًا أَوْ ﻋُﺿُوا ﻣِنْ أَﻋْﺿَﺎءِ ﻟﺟَﻧﱠﺔِ اﻷَوْﻗَﺎفِ ﻓَﻌَﻠَﯾْكَ أَنْ ﺗَﻌْﺗَﻧِﻰ ﺑِﮭَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺻْدِ اﻟْوَاﻗِفِ وَﺗَﺗَﺻَرﱠفَ ﻋَﻠَﻰ وَﺟْﮭِﮭَﺎ اﻣْﺗِﺛَﺎﻻً ﻻَ وَاﻣِرِ االلهﱠِ وَانْ ﺗَﺳْﺗَدِ رَﻣَﻧَﺎ ﻓِﻌَﮭَﺎ )ا( ﻣَﺗَﻰ ﻋَدِمَ ﻧَﻔْﻊُ اﻟﻣوﻗوفِ ﺑِﮫِ ﻟِﻧَﺣْوِھَﻼَكِ ﻓَﻠَكَ اﻟﺗﱠﺻَرﱡفُ ﺑِﮫِ ﻓِﯾﻣَﺎ ﯾُﻣَﺎ ﺗِﻠُﮫُ أَوْﻣَﺎ ﯾُﺷَﺎﺑِﮭُﮫُ ﻓِﻲ اﻟﻧﱠﻔْﻊِ اوﺑﯾﻌُﮫُ أَوْﺷِرَاءُ ﺷَﻲْءٍ أَﺧَرَ ﺑِﺛَﻣَﻧِﮫِ اﺳْﺗِدَاﻣَﺔً ﻟِﻠْوَﻗْفِ )١( وَإِذَا ﺗَﺳَﻠﱠﻣَتَ ﻧُﻘُودًا ﻟِﻸَْوْﻗَﺎفِ أَوْ ا ﺻَﺑْتَ ﻣَﺎلَ ِفْﻗَوْﻟا ٣١ ) ﺎَﻧوُﻌْﻠَﻣ اًزْﻧَﻛ َنوُﻛَﺗ ﻼْﯾَﻛ ِﺔَﯾِرﺎَﺟْﻟا ِﺔَﻗَدﱠﺻﻟا ﻲِﻓ َكِﺗَﯾﺎَﻋِر ِّلُﻛِﺑ ﺎَﮭﯾِﻓ َفَرَﺻَﺗَﻓ( َكَﻟَو ٣١ ) ِتﺎَﻋِّرَﺑﱠﺗﻟا َنِﻣَوا ﺎَﮭِﺗَﻻوُﺻَﺣَﺗ ْنِﻣ َﺔَﻧْوَﻣْﻟا َذُﺧْﺄَﺗ ْنَأ ﺎَﮭِظْﻔِﺣ ﻲِﻓ( .
A. KITAB WAQAF
Waqafkanlah sebagian barang milikmu yang berguna bagi umum, atau berusahalah engkau mengadakan barang yang akan engkau waqafkan532 (1) dengan ikhlas niatmu karena Allah533 (2), dengan demikian akan tetaplah pahala yang tidak putus bagimu534 (3). Kalau engkau telah mewaqafkan, maka tidak berhak lagi engkau atas barang itu, kecuali sebagian orang
وا اﻟﺣَدِﯾثِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮭُﻣَﺎ ﻗَﺎلَ: أَﺻَﺎبَ ﻋُﻣَرُ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ أَرْﺿًﺎ ﺑِﺧَﯾْﺑَرَ ﻓَﺈِﻟَﻰ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻﻠﻌم ﻓَﻘَﺎلَ : ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ إِﻧِّﻲ اﺻَﺑْتُ أَرْﺿًﺎ ﺑِﺧَﯾْﺑَرَ ﻣَﺎ ﻟَمْ أَﺻِبْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻗَطﱠ ھُوَ اﻧْﻔَسَ ﻋِﻧْدِي ﻣِﻧْﮫُ ، ﻓَﻣَﺎ ﺗَﺄْﻣُرُﻧِﻲ ﺑِﮫِ؟ ﻗَﺎلَ: إِنْ ﺷِﺋْتَ ﺣَﺑَﺳَتَ أَﺻْﻠَﮭَﺎ وَﺗَﺻَدﱠﻗْتَ ﺑِﮭَﺎ ، ﻗَﺎلَ : ﻓَﺗَﺻَدﱠقَ ﺑِﮭَﺎ ﻋُﻣَرُ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ ﻻ ﯾُﺑَﺎعُ أَﺻْﻠُﮭَﺎ وَﻻَ ﯾُورَثُ وَﻻَ ﯾُوھَبُ. ﻗَﺎلَ : ﻓَﺗَﺻَدﱠقَ ﻋُﻣَرُ ﻓِﻲ اﻟْﻔُﻘَرَاءِ وَﻓِﻲ اﻟْﻘُرْﺑﻰ وَﻓِﻲ اﻟرِّﻗَﺎبِ وَﻓِﻲ ﺳَﺑِﯾلِ االلهﱠِ وَاﺑْنِ اﻟﺳﱠﺑِﯾلِ زَادَ ﻓِﻲ رِوَاﯾَﺔٍ : وَاﻟﺿﱠﯾْفِ ، وَﻻَ ﺟُﻧَﺎحَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَنْ وَﻟِﯾَﮭَﺎ أَنْ ﯾَﺄْﻛُلَ ﻣِﻧْﮭَﺎ ﺑِﺎﻟْﻣَﻌْرُوفِ اوْ ﯾُطْﻌِمَ ﺻَدِﯾﻘًﺎ ﻏَﯾْرَ ﻣُﺗَﺄَﺋِلِ ﻣَﺎﻻً . أَﺧْرَﺟَﮫُ اﻟْﺧَﻣْﺳَﺔُ( اﻟْﻣَﺗﱠﺄْﺧِلُ اﻟﱠذِي ﯾَدْﺧِرُ اﻟْﻣَﺎلَ وَﯾَﻘْﺗَﻧِﯾﮫِ . وَﻋَنْ ﯾَﺣْﯾَﻰ ﺑْنِ ﺳَﻌِﯾدٍ ﻗَﺎلَ : اﻟْﺣَدِﯾثَ .
Menurut hadits Ibnu 'Umar yang berkata bahwa Sahabat 'Umar r.a memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu menghadap Nabi saw, seraya berkata: "Aku telah memperoleh sebidang tanah di Khaibar yang belum pernah kudapati seindah itu, maka apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?" Sabda Rasulullah saw.: "Jika suka, engkau tahan pokoknya dan engkau gunakan untuk sedekah (jadikanlah waqaf)". Kata Ibnu 'Umar: "Kemudian sahabat Umar mensedekah-kannya, tidak dijual pokoknya, tidak diwarisi dan tidak pula diberikan kepada orang lain". Berkata Ibnu "Umar: "Maka Umar mensedekahkan kepada orang-orang fakir, kaum keluarga, budak belian, pada jalan Allah dan Ibnussabil (musafir yang kehabisan bekal)". Ditambah pada lain riwayat dan kepada tamu" - Dan tidak mengapa bagi orang yang menguasai tanah waqaf itu akan makan daripada hasilnya dengan sepantasnya atau memberi makan kepada teman, dengan tidak bermaksud guna pengumpulan dan penabungan kekayaan (Diriwayatkan oleh Lima Ahli Hadits). Ada hadits seperti itu juga yang diriwayatkan oleh Yahya bin Sa'id
ﻟِﺣَدِﯾثِ ﻋُﻣَرَ ﺑْنِ اﻟْﺧَطَﺎبِ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ أَنﱠ اﻟﻧﱠﺑِﻲﱠ ﺻﻠﻌم ﻗَﺎلَ : إِﻧﱠﻣَﺎ اﻷَْﻋْﻣَﺎلُ ﺑﺎﻟﻧِّﯾﱠﺎتِ اﻟْﺣَدِﯾثَ . ) رَوَاهُ اﻟْﺑُﺧَﺎرِ وﻣﺳﻠم( وَﻟِﻘَوْﻟِﮫِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : وَﻣَﺎ أُﻣِرُوا إِﻻ ﻟِﯾَﻌْﺑُدُ وااللهﱠَ ﻣُﺧْﻠِﺻِﯾنَ ﻟَﮫُ اﻟدِّﯾنَ اﻵﯾَﺔَ . ) اﻟﺑَﯾِّﻧَﺔُ : ٥(.
(2) Menilik hadits dari sahabat 'Umar bin Khathab, bahwasanya Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya segala 'amal itu dengan niat dan bagi tiap orang apa yang diniatkan." Seterusnya hadits (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Juga mengingat firman Allah Ta'ala: "Mereka tidak diperintah melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan niat kepadanya, menjalankan Agama..." seterusnya ayat. (Al-Quran surat Al- Bayyinah ayat 5).
اﻟﺣَدِﯾثِ أَﺑِﻲ ھُرَﯾْرَةَ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ أَنﱠ اﻟﻧﺑﻲ ﺻﻠﻌم ﻗَﺎلَ : إِذَا ﻣَﺎتَ اﺑْنُ آدَمَ اﻧْﻘَطَﻊَ ﻋَﻣَﻠَﮫُ اﻻ ﻣِنْ ﺛَﻼَثٍ : ﺻَدَﻗَﺔٍ ﺟَﺎرِﯾَﺔٍ أَوْ ﻋِﻠم ﯾُﻧْﺗَﻔَﻊُ ﺑِﮫِ أَوْ وَﻟَدٍ ﺻَﺎﻟِﺢِ ﯾَدْﻋُوْﻟَﮫُ رَوَاهُ ﻣُﺳْﻠم(.
(3) Menilik hadits Abu Hurairah, bahwasanya Nabi saw bersabda: "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka putuslah 'amalnya, kecuali dari tiga perkara: 1. Sedekah jariyah (yang langsung faedahnya), 2. 'Ilmu yang diambil manfaatnya, dan 3. Anak shalih yang mendo'akan orang tuanya (Diriwayatkan oleh Muslim),
lain yang hanya berhak menggunakannya saja535 (4), selanjutnya barang itu tidak boleh dijual, diberikan dan tidak boleh diwaris536 (5). Maka janganlah engkau memberi batas waktu akan wakafmu itu537 (6) dan boleh engkau menentukan waqaf kepada seseorang atau golongan atau masjid dan sebagainya mengingat maslahat-maslahatnya538 (7), begitu juga janganlah mewaqafkan barang yang semata-mata menjadi larangan Allah atau yang menimbulkan fitnah539 (8). Jangan berwasiat mewaqafkan barang lebih dari sepertiga daripada harta kekayaanmu540 (9). Kalau engkau menjadi anggota badan atau penguasa waqaf (nadlir), wajiblah engkau pelihara sesuai dengan maksud orang yang berwaqaf, serta mempergunakan sebagai mestinya, dengan berta'at kepada Allah dan berusaha memperbanyak faedah dari barang waqaf itu541 (10). Di mana perlu, kalau barang waqaf itu
)٤ و ٥( ﻟِﺣَدِﯾثِ اﺑْنِ ﻋُﻣَرَ اﻟْﻣُﺗَﻘَدِّمِ ﻓِﻲ اﻟرﻗم - ١- .
(4 dan 5) Mengingat hadits Ibnu 'Umar yang tersebut no. 1 di atas.
536 Ibid, no. 4
ﻟِﻣﺎ ﯾُﻔَﮭُم ﻣِنَ اﻟْﺣَدِﯾثِ - ١ وَ ٣ - ﻣِنْ ﻏَﯾْرِ ﺗَﺟْدِﯾدِ اﻟﻣُدﱠةِ .
(6) Menilik pengertian dari hadits nomor 1 dan nomor 3 di atas, yang tidak membatasi waktu.
ﻧظر اﻟﻌُﻣُومِ اﻟْﺣَدِﯾثِ - ١- ﻗَوْﻟُﮫُ : ﻓَﺗَﺻَدﱠقَ ﻋُﻣَرُ ﻓِﻲ اﻟْﻔُﻘَرَاءِ وَﻓِﻲ اﻟْﻘُرْﺑِﻲ وَﻓِﻲ ﺳَﺑِﯾلِ االلهﱠِ وَاﺑْنِ اﻟﺳﱠﺑِﯾلِ اﻟْﺣَدِﯾثَ . وَاﻹِﺟْﻣَﺎعِ ﻣِنْ أَنﱠ ﺷَرْطَ اﻟْوَاﻗِفِ ﻛَﻧَصِ اﻟﺷﺎرع ﻣَﺎ ﻟَمْ ﯾُﺧَﺎﻟِفُ ﻣَﺎ ﺟَﺎءَ ﺑِﮫِ اﻟﺷﱠرْعُ.
(7) Menilik pada umumnya hadits nomor 1 yang berbunyi: "Maka 'Umar mensedekahkan kepada orang fakir, kaum keluarga, budak belian, pada jalan Allah dan ibnussabil..." seterusnya hadits. Dan karena ijma' Ahli Fiqih bahwa syarat orang yang waqaf itu setingkat dengan nash Syari', yakni selagi tidak menyalahi Syara'.
ﻟِﻘَوْﻟِﮫِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : وَﺗَﻌَﺎوَﻧُوا ﻋَﻠَﻰ اﻟْﺑِرِّ واﻟﺗﱠﻘوى وَﻻَ ﺗَﻌَﺎوَﻧُوا ﻋَﻠَﻰ اﻹِْﺛْمِ وَاﻟْﻌُدْوَانِ ) اﻟﻣَﺎﺋِدَةُ : ٢( ، وَﻟِﻠْﻘَﺎﻋِدَةِ : ﺳَد‘ا ﻟﻠذرﯾﻌَﺔِ ، وَدَرْهُ اﻟْﻣَﻔَﺎﺳِدِ ﻣُﻘَدﱠمُ ﻋَﻠَﻰ ﺟﻠب اﻟﻣﺻﺎﻟﺢ .
(8) Mengingat firman Allah Ta'ala: "Bertolong-menolonglah kamu untuk perbuatan yang baik dan taqwa kepada Allah. Dan janganlah kamu bertolong-menolong kepada perbuatan dosa dan permusuhan" (Al-Quran surat Al-Maidah ayat 2). Dan mengingat qa'idah Usul Fiqih: "Mencegah terjadinya maksiat dan menghindarkan kerusakan harus didahulukan daripada mencapai kemaslahatan"
ﻟِﺣَدِﯾثِ ﺳَﻌْدِ ﺑْنِ وَﻗَﺎصِ رَﺿِﻲَ االلهﱠُ ﻋَﻧْﮫُ ﻗَﺎلَ : ﻗُﻠْتُ : ﯾَﺎ رَﺳُولَ االلهﱠِ أَﻧَﺎ ذُو ﻣَﺎلِ وَﻻ ﯾَرِﺛُﻧِﻲ إِﻻﱠ اﺑْﻧَﺔُ ﻟِﻲ وَاﺣِدَةٌ أَﻓَﺎ ﺗَﺻَدﱠقُ ﺑِﺛُﻠُﺛَﻰ ﻣَﺎﻟِﻲ ؟ ﻗَﺎلَ : ﻻَ ﻗُﻠْتُ : أَﻓَﺎ ﺗَﺻَدﱠقَ ﺑِﺷَرْطِ ﻣَﺎﻟِﻲ ؟ ﻗَﺎلَ : ﻻَ ﻗُﻠْتُ : أَﻓَﺎ ﺗَﺻَدﱠقُ ﻟﺗِﮫِ ؟ ﻗَﺎلَ : اﻟﺛﱠﻠْتُ ﻛَﺛِﯾرُ إِﻧﱠكَ أَنْ ﺗَذَرَ وَرَﺛَﺗَكَ أَﻏْﻧِﯾَﺎءَ ﺧَﯾْرٌ ﻣِنْ أَنْ ﺗَذَرَھُمْ ﻋَﺎﻟَﺔً ﯾَﺗَﻛَﻔﱠﻔُونَ اﻟﻧﱠﺎسَ . ) ﻣُﺗﱠﻔَقٌ ﻋَﻠَﯾْﮫِ ( .
(9) Menilik hadits Sa'ad bin Waqash r.a bahwa ia menanyakan: "Hai Rasulullah, aku seorang yang mempunyai harta-benda, warisku hanya seorang anak perempuan, bolehkan aku sedekahkan dua-pertiga harta bendaku?" Nabi saw. menjawab: "Jangan!" Aku bertanya pula: "Bolehkan aku sedekahkan sepertiganya?" Jawab Nabi saw: "Sepertiga itu sudah banyak; sesungguhnya jika engkau tinggalkan warismu menjadi orang kecukupan itu lebih baik daripada engkau tinggalkan menjadi orang miskin yang meminta-minta kepada orang. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
)٠١( ٨ : َنوُﻧِﻣْؤُﻣْﻟا ) . َنوُﻋاَر ْمِھِدْﮭَﻋَو ْمِﮭِﺗﺎَﻧﺎَﻣَِﻷ ْمُھ َنﯾِذﱠﻟاَو : ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ِﮫِﻟْوَﻘِﻟ( : َلﺎَﻗ ُﮫْﻧَﻋ ُﱠاللها َﻲِﺿَر َرَﻣُﻋ ِنْﺑا ِثﯾِدِﺣاَو ﺳﻣِﻌْتُ رَﺳُولَ ﷲِ ﺻﻠﻌم ﯾَﻘُولُ : ﻛُﻠﱡﻛُمْ راعٍ وَﻣَﺳْﺋُولٌ ﻋَنْ رَﻋِﯾﱠﺗِﮫِ . رَوَاهُ اﻟْﺑُﺧَﺎرِي وَﻣُﺳْﻠِمٌ (
(10) Mengingat firman Allah Ta'ala: "Dan mereka yang memelihara amanat dan janji" (Al-Quran surat Al- Mukminun ayat 8). Dan mengingat hadits Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah saw bersabda: "Masing-masing dari
sudah lapuk atau rusak bolehlah engkau pergunakan untuk lainnya yang serupa atau engkau jual dan engkau belikan barang lain untuk meneruskan waqafnya542 (11). Kalau engkau menerima uang untuk waqaf atau mendapati waqaf yang tidak tertentu, atau yang berwaqaf (waqifnya) tidak menentukan, hendaklah engkau pergunakan sebagai 'amal jariyah yang sebaik-baiknya, jangan sampai harta-benda waqaf itu tertimbun menjadi kanaz (timbunan) yang terkutuk543 (12). Kalau perlu, perongkosan dalam mengurus dan menjaga barang- barang waqaf itu dapat diambilkan dari hasil yang didapat dari waqaf itu, atau diikhtiarkan sumber bantuan lainnya544 (13).
B. WAKAF MASJID WANITA
Hukum Mewaqafkan Masjid Dikhususkan Untuk Wanita Dan Hukum Mereka Menghalang- Halangi Kaum Lelaki Shalat Di Dalamnya
ﻹِﻧﱠﮫُ ﺻَدَﻗَﺔٌ ﺟَﺎرِﯾَﺔٌ. وَﯾَﻧْﺑَﻐِﻲ أَنْ ﻻَ ﯾُﺳَﻣﱠﻰ ھُذَا اﻟْوَﻗْفُ ﻣَﺳْﺟِدًا، ﺑَلْ ﻣُﺻَﻠﱠﻰ ﻷَﻧﱠﮫُ ﺳُﻣِّﻲ ﻣَﺳْﺟِدًا ﺑَطَلَ ﺗَﺣْﺻِﯾْﺻُﮫُ ﻟِﺣَدِﯾثِ: ﻣَﺎ ﺑَﺎلُ أَﻗْوَامٍ ﯾَﺷْﺗَرِطُونَ ﺷُرُوطًﺎ ﻟَﯾْﺳَتْ ﻓِﻲ ﻛِﺗَﺎبِ االلهﱠِ ؟ ﻣَنْ اﺷْﺗَرَطَ ﺷَرْطَﺎ ﻟَﯾْسَ ﻓِﻲ ﻛِﺗَﺎبِ االلهﱠِ ﻓَﮭُوَ ﺑَﺎطِلٌ وَإِنْ ﻛَﺎنَ ﻣِﺎﺋَﺔً ﺷرط ، ﻛِﺗَﺎبُ االلهﱠِ أَﺣَقﱡ وَﺷَرْطُ االلهﱠِ أَوْﺛَقُ ) رَوَاهُ اﻟْﺑُﺧَﺎرِي( وَﻟَﮭُنﱠ أَنْ ﯾَﻣْﻧَﻌْنَ اﻟرِّﺟَﺎلَ أَنْ ﯾُﺻَﻠﱡوا ﻓِﯾﮫِ ﻧظر اﻟﻠﻣَﺻَﻠَﺣَﺔِ اﻟْﻌَﺎﻣﱠﺔِ وَاﻟﻧِّظَﺎمِ اﻹِﺳْﻼَﻣِﻲ وَﻟِﻠرِّﺟَﺎلِ أَنْ ﯾُﺻَﻠﱡوا ﻓِﯾﮫِ .
a. Waqaf itu shah, sebab termasuk amal jariyah b. Waqaf itu jangan dinamakan masjid tetapi hendaklah dinamakan Musholla. Sebab kalau dinama-kan masjid, hilanglah kekhususan-nya, karena ada hadits:
kamu adalah penggembala dan akan ditanya soal gembalaannya (diminta pertanggungjawabannya)" (Diriwayat-kan oleh Bukhari dan Muslim).
)١١( ِﺔَﺣَﻠَﺻُﻣْﻠِﻟ ﺎًظْﻔِﺣ
(11) Guna menjaga kemaslahatan
)٢١( ْمُھْرِّﺷَﺑَﻓ ِﱠاللها ِلﯾِﺑَﺳ ﻲِﻓ ﺎَﮭَﻧوُﻘِﻔْﻧُﯾ َﻻَو َﺔﱠﺿِﻔْﻟاَو َبَھﱠذﻟا َنوُرِﺑْﻛَﯾ َنﯾِذﱠﻟاَو : ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ِﮫِﻟْوَﻘِﻟ ٤٣ : ُﺔَﺑْوﱠﺗﻟا ) ٍمﯾِﻟَأ ٍباَذَﻌِﺑ ( .
(12) Karena menilik firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak (harta benda) sedang mereka tidak pergunakannya di jalan Allah, maka beritahukanlah mereka itu dengan siksa yang pedih. (Al-Quran surat At-Taubah ayat 34).
) ٣١( . ِمْﻗﱠرﻟا ﻲِﻓ ِمِّدَﻘَﺗُﻣْﻟا ِثﯾِدَﺣْﻠِﻟ ٠١ مﻗرﻟا - : ُﮫُﻟْوَﻗ . َثﯾِدَﺣْﻟا ِفوُرْﻌَﻣْﻟﺎِﺑ ﺎَﮭْﻧِﻣ َلُﻛْﺄَﯾ ْنَأ ﺎَﮭَﯾِﻟَو ْنَﻣ ﻰَﻠَﻋ َحﺎَﻧُﺟ ﻻ
(13) Menilik hadits yang tersebut pada nomor 1 di atas ialah sabda Nabi saw: "Tidak mengapa bagi orang yang menguasai tanah waqaf itu akan makan daripada hasilnya dengan sepantasnya ...." Seterusnya hadis.
"Mengapa beberapa kaum sama mensyaratkan beberapa syarat yang tidak ada dalam kitab Allah? Barangsiapa mensyaratkan syarat yang tidak ada dalam kitab Allah, maka syarat itu batal, walaupun seratus syarat. Kitab Allah lebih hak dan syarat Allah itu lebih kuať". (Diriwayatkan oleh Bukhari). c. Mengingat kemaslahatan umum dan adab Islam, maka sebaiknya wanita menghalang- halangi pria shalat di situ, dan bagi pria sudah sewajarnya tidak akan bershalat di dalamnya FIKIH WAKAF KONTEMPORER (MUNAS PEKALONGAN 2024,

