putusan
Tanya Jawab Agama 2023 Edisi 04 16 28 Februari Hukum Bernyanyi Shalawat Antara Adzan dan Iqamah
Hukum Bernyanyi/Shalawat Antara Adzan dan
Iqamah
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum wr wb.
Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin, mohon maaf bagaimana menyikapi orang yang bernyanyi
atau shalawat antara adzan dan iqamah? Saya dulu pernah mendengar bahwa ada
seseorang membaca Al-Qur’an ketika ada orang yang shalat, maka Nabi saw meminta dia
membaca secara sirr.
Mohon pencerahannya, jazakumullahu khaira.
Wassalamu ‘alaikum wr wb.
Darmono Beneran
e-mail darmono860@gmail.com
(Disidangkan pada Jum‘at, 16 Rabiulakhir 1444 H/11 November 2022 M)
Jawaban:
Wa ‘alaikumus-salam wr wb.
Terima kasih atas pertanyaan yang Bapak ajukan. Kami mencoba menjelaskan terkait
hukum bernyanyi atau shalawat antara adzan dan iqamah.
Pada rubrik Tanya Jawab Agama Majalah Suara Muhammadiyah Nomor 15 tahun
ke-88/2003 dijelaskan bahwa shalawat itu berarti doa, memberi berkah, dan ibadah.
Shalawat Allah kepada hambanya dibagi dua, yaitu khusus dan umum. Shalawat khusus,
ialah shalawat Allah kepada para Rasul atau Nabi-Nya, teristimewa shalawat Allah kepada
Nabi Muhammad saw. Shalawat umum, ialah shalawat Allah kepada hamba-Nya yang
mukmin. Muhammadiyah juga berpendapat bahwa bershalawat kepada Rasulullah saw
adalah amalan yang dituntunkan.
Dalam Al-Qur’an Allah SwT memerintahkan umat Islam untuk memperbanyak shalawat
kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia,
ِن َّ اЦ ََّ وَمَلَاɅِكَتَه ُ يُصَلُّون َ عَلَى النَّبِي ِّ يَا َيُّهَا الَّذِين َ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْه ِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
]الأحزاب، 21: 56[
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang
yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya [Qs Al-Ahzab (21): 56].
Disebutkan juga di dalam hadits Nabi saw sebagai berikut,
عَن ْ عَبْد ِ اЦ َِّ بْن ِ عَمْرِو بْن ِ الْعَاص ِ َنَّه ُ سَمِع َ النَّبِي َّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُول ُِذَا
ٍسَمِعْتُم ُ الْمȡَُذِّن َ فَقُولُوا مِثْل َ مَا يَقُول ُ ثُم َّ صَلُّوا عَلَي َّ ف َ ِنَّه ُ مَن ْ صَلَّى عَلَي َّ صَلَاة ً صَلَّى
ُاЦ َُّ عَلَيْه ِ بِهَا عَشْرًا ثُم َّ سَلُوا اЦ ََّ لِي الْوَسِيلَة َ ف َ ِنَّهَا مَنْزِلَة ٌ فِي الْجَنَّة ِ ل َا تَنْبَغِي ِل َّا لِعَبْد
مِن ْ عِبَاد ِ اЦ َِّ وََرْجُو َن ْ َكُون َ َنَا هُو َ فَمَن ْ سََل َ لِي الْوَسِيلَة َ حَلَّت ْ لَه ُ الشَّفَاعَة
]رواه مسلم[
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash (diriwayatkan) bahwa dia mendengar Nabi saw
bersabda: Apabila kalian mendengar muadzin (mengumandangkan adzan), maka
ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku, karena orang yang
bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya
dengannya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena ia
adalah suatu tempat di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba
dari hamba-hamba Allah, dan saya berharap agar saya menjadi hamba tersebut.
Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa’at halal untuknya [HR Muslim].
Sejauh penelusuran kami, belum ditemukan hadits yang menerangkan anjuran membaca
shalawat dan salam dengan suara keras sebelum shalat jamaah atau waktu di antara adzan
dan iqamah. Sedangkan yang kami temukan adalah hadits yang berisi anjuran untuk
melaksanakan amalan-amalan yang disunahkan oleh Rasulullah saw, seperti shalat sunah
qabliyah/tahiyyatul-masjid, berdoa, dan berzikir.
Nabi saw bersabda mengenai anjuran untuk melaksanakan shalat sunah qabliyah/
tahiyyatul-masjid:َ
ِذَا دَخَل َ َحَدُكُم ُ الْمَسْجِد َ فَلْيَرْكَع ْ رَكْعَتَيْن ِ قَبْل َ َن ْ يَجْلِس
]رواه البخاري[
Apabila seseorang di antara kamu masuk ke dalam masjid, maka hendaklah ia melakukan
shalat dua rakaat sebelum duduk [HR Al-Bukhari].
Hadits Nabi saw lain yang menganjurkan untuk melaksanakan shalat adalah,
ِعَن ْ ابْن ِ عُمَر َ رَضِي َ اЦ َُّ عَنْهُمَا قَال َ حَفِظْت ُ مِن َ النَّبِي ِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ عَشْرَ
ُرَكَعَات ٍ رَكْعَتَيْن ِ قَبْل َ الظُّهْر ِ وَرَكْعَتَيْن ِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْن ِ بَعْد َ الْمَغْرِب ِ فِي بَيْتِه
ُوَرَكْعَتَيْن ِ بَعْد َ الْعِشَاء ِ فِي بَيْتِه ِ وَرَكْعَتَيْن ِ قَبْل َ صَلَاة ِ الصُّبْح ِ وَكَانَت ْ سَاعَة ً ل َا يُدْخَل
ِعَلَى النَّبِي ِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فِيهَا حَدَّثَتْنِي حَفْصَة ُ َنَّه ُ كَان َِذَا َذَّن َ الْمȡَُذِّن
وَطَلَع َ الْفَجْر ُ صَلَّى رَكْعَتَيْن
]رواه البخاري[
Dari Abdullah bin Umar ra (diriwayatkan) ia berkata: Aku menghafal sesuatu dari Nabi saw
berupa shalat sunah sepuluh rakaat, yaitu: dua rakaat sebelum shalat Dzuhur, dua rakaat
sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah shalat
Isya di rumah beliau dan dua rakaat sebelum shalat Subuh, dan pada pelaksanaan shalat ini
tidak ada waktu senggang buat Nabi saw. Telah menceritakan kepada saya Hafshah:
Bahwasanya bila muadzin sudah mengumandangkan adzan dan fajar sudah terbit, beliau
shalat dua rakaat. [HR Al-Bukhari].
Nabi saw juga menganjurkan untuk berdoa antara adzan dan iqamah, karena doa pada
waktu antara adzan dan iqamah tidak akan tertolak. Sebagaimana hadits Nabi saw.,َ
ِعَن ْ َنَس ِ بْن ِ مَالِك ٍ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ل َا يُرَد ُّ الدُّعَاء ُ بَيْن
الْأَذَان ِ وَالْ ِقَامَة
]رواه بو داود[
Dari Anas bin Malik (diriwayatkan) dia berkata; Rasulullah saw bersabda: Tidak akan
tertolak doa antara adzan dan iqamah [HR Abu Dawud].
Selain itu, Rasulullah saw selalu berdzikir pada setiap waktu, sebagaimana dijelaskan dalam
hadits berikut,ََّ
ِوَعَن ْ عَاɅِشَة َ رَضِي َ اЦ َُّ عَنْهَا قَالَت ْ كَان َ رَسُول ُ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَذْكُر ُ اЦ
عَلَى كُل ِّ َحْيَانِه
]رواه مسلم[
Dari ‘Aisyah ra (diriwayatkan) dia berkata, “Rasulullah saw. selalu berdzikir (mengingat)
Allah pada setiap waktunya [HR Muslim].
Firman Allah dalam Al-Qur’an menjelaskan mengenai adab berdzikir, yaitu,
َا
َوَاذْكُر ْ رَبَّك َ فِي نَفْسِك َ تَضَرُّعًا وَخِيفَة ً وَدُون َ الْجَهْر ِ مِن َ الْقَوْل ِ بِالْغُدُو ِّ وَالْآصَال ِ وَل
تَكُن ْ مِن َ الْغَافِلِين
]الأعراف، 7: 205[
Sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan
dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai [Qs Al-A’raf (7): 205].
Sampai saat ini, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai masalah
hukum bernyanyi atau shalawat antara adzan dan iqamah. Oleh karena itu, umat Islam
seyogyanya saling menghormati atas perbedaan pandangan tersebut. Perbedaan pandangan
itu mestinya tidak dijadikan alasan untuk memutus silaturrahmi, apalagi sampai memecah
belah umat.
Hal tersebut sesuai dengan hadits Nabi saw tentang sesama Muslim tidak boleh saling
merendahkan:
َا
ٍعَن ْ َبِي هُرَيْرَة َ رَضِي َ اЦ َُّ عَنْه ُ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اЦ َِّ صَلَّى اЦ َُّ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ل
تَحَاسَدُوا وَل َا تَنَاجَشُوا وَل َا تَبَاغَضُوا وَل َا تَدَابَرُوا وَل َا يَبِع ْ بَعْضُكُم ْ عَلَى بَيْع ِ بَعْض
َا
ْوَكُونُوا عِبَاد َ اЦ َِِّخْوَانًا الْمُسْلِم ُ َخُو الْمُسْلِم ِ ل َا يَظْلِمُه ُ وَل َا يَخْذُلُه ُ وَل َا يَكْذِبُه ُ وَل
ُيَحْقِرُه ُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِير ُِلَى صَدْرِه ِ ثَلَاث َ مَرَّات ٍ بِحَسْب ِ امْرɂِ ٍ مِن َ الشَّر ِّ َن
يَحْقِر َ َخَاه ُ الْمُسْلِم َ كُل ُّ الْمُسْلِم ِ عَلَى الْمُسْلِم ِ حَرَام ٌ دَمُه ُ وَمَالُه ُ وَعِرْضُه
]رواه مسلم[
Dari Abu Hurairah ra (diriwayatkan) dia berkata, Rasulullah saw bersabda: Janganlah kalian
saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi dan sebagian dari
kalian menjual apa yang dijual saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang
bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh
mendzaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya
di sini, – sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali, – cukuplah seseorang itu dalam
kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim terhadap
Muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya [HR Muslim].
Terlepas masih adanya perbedaan pendapat dalam persoalan membaca shalawat antara
adzan dan iqamah, menurut hemat kami, apabila hendak berdzikir atau membaca shalawat
pada waktu antara adzan dan iqamah, hendaknya dilakukan sesuai dengan adab berdzikir
sebagaimana penjelasan di atas.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan mencerahkan.
Wallahu a’lam bish-shawab.*

