putusan
Tanya Jawab Agama 9 Bab 4 Permasalahan Shalat Jamaah Azan dan Masjid
BAB 4
PERMASALAHAN
SHALAT JAMAAH,
AZAN, DAN MASJID
APA YANG DIMAKSUD DENGAN
SUTUR/SITRAH
Penanya:
Chamid Hilaly, Ketua Pengurus Pesantren Muhammadiyah
Muntilan
Jl. Kartini 12 Kauman, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
Pertanyaan:
Apakah yang dimaksud dengan Sutur/Sitrah?
Jawaban:
Terimakasih atas pertanyaan saudara, berikut jawaban
kami.
Sutur (sitrah) ialah suatu tanda yang diletakkan oleh orang
yang shalat di depannya sebagai tanda bagi orang lain bahwa di
tempat itu ada orang yang sedang shalat. Benda yang dijadikan
tanda itu dapat berupa semacam tongkat, batas, tabir, atau
suatu garis yang digariskan di depan orang yang shalat, dan
sebagainya. Dasarnya ialah hadis-hadis berikut: ِ
عَن ْ صَبَْة َ بْن ِ مَعْبَد ٍ قَال َ قَال َ رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ْ
َتِه ِ وَلَو ْ بِسَفِهِملَ وَسَلَّم َ إِذَا صَل َّ أَحَدُكُم ْ فَلْيَسْتَت ِْ لِص
.د واحلاكم]ح[رواه أ
“Dari Shabrah bin Ma‘bad, [diriwayatkan] ia berkata:
Rasulullah saw. berkata: Apabila seseorang kamu shalat,
maka hendaklah ia membuat batas untuk shalatnya itu,
walau hanya dengan sebuah anak panah” [HR Ahmad dan
al-Hakim].
51Permasalahan Shalat Jamaah, Azan dan Masjid َ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ قَال َ قَال َ أَبُو ْ الْقَاسِم ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم ْ
وَإِذَا صَل َّ أَحَدُكُم ْ فَلْيَجْعَل ْ تِلْقَاء َ وَجْهِه ِ شَيْئًا فَإِن ْ لَم َّ
فَلْيَخُط فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصًا فَلْيَنْصِبْ عَصًا يَِدْ شَيْئًا
د وأبو داود وابنح[رواه أ ِ َْ يَدَيْه نيَ خَطًّا وَال َ يَضُُّه ُ مَا مَر َّ ب
.حبان]
“Dari Abu Hurairah, [diriwayatkan] ia berkata: Abu
Qasim (Nabi Muhammad) saw. berkata: Apabila seseorang
di antara kamu shalat, hendaklah ia meletakkan sesuatu
di depannya. Kalau ia tidak mendapatkan sesuatu, maka
hendaknya ia memancangkan sebuah tongkat, dan kalau
tidak ada tongkat, hendaklah ia membuat garis, hingga
tidak menimbulkan sesuatu terhadap orang yang lewat di
depannya” [HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban]. َ
َْ أَيْدِيْنَا فَذَكَر نيَ عَن ْ طَلْحَة َ قَال َ كُنَّا نُصَل ِّ وَادلَّوَاب ُ تَمُر ُّ ب ِ
ذَلِك َ لِلنَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَال َ مِثْل َ مُؤْخِرَة ِ الرَّحْل
[رواه َْ يَدَي ْ أَحَدِكُم ْ ثُم َّ ال َ يَضُُّه ُ مَا مَر َّ عَلَيْهِ. نيَ تَكُوْن ُ ب
.مسلم وأبو داود وابن ماجه قال حسن صحيح]
“Dari Thalhah, [diriwayatkan] ia berkata: Kami pernah
shalat dan binatang-binatang lewat di hadapan kami, lalu
kami sampaikan yang demikian kepada Nabi saw., beliau
berkata: Cukuplah berupa palang kendaraan di hadapan
orang shalat, dan tidak menimbulkan sesuatu bagi orang
yang lewat di hadapannya” [HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu
Majah, dan ia mengatakan bahwa hadis ini hasan shahih].
*SM, No. 06 tahun ke-90/2005)
SHALAT DI MASJID DENGAN KUBURAN DI
BELAKANGNYA
Penanya:
Chamid Hilaly, Ketua Pengurus Pesantren Muhammadiyah
Muntilan
Jl. Kartini 12 Kauman, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
Pertanyaan:
Kami mohon penjelasan tentang hadis-hadis berikut ini,
dapatkah dipakai untuk landasan agama mengenai larangan
shalat di dalam masjid yang di belakangnya langsung ada
kuburan?
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ أَن َّ رَسُول َ اهلل ِ -صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّمَ- َ
َْ أَن ِّ أَخْش َ أَن ْ يُتَّخَذ ريََبْرَز َ قَبَْه ُ غَأل َ قَالَت ْ وَلَوْال َ ذَلِك
.د]ح[رواه ابلخاري ومسلم وأ مَسْجِدًا ِ
عَن ِ ابْن ِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَال َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه
ناب[رواه الط ٍْ َ تُصَلُّوا ع ََ قَب الََ تُصَلُّوا إِل َ قَبٍْ، و ال وَسَلَّمَ:
.وهذا حديث صحيح]
53Permasalahan Shalat Jamaah, Azan dan Masjid ِ
عَن ْ أَب ِ مَرْثَد ٍ الْغَنَوِى ِّ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اهلل ِ -صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه
[رواه مسلم وَسَلَّم َ ال َ تَْلِسُوا ع ََ الْقُبُور ِ وَال َ تُصَلُّوا إِلَْهَا
.د]حمذى وأتوأبو داود ووالنساىئ وال
أَخْرَج َ عَبْد ُ الرَّزَّاقِ، عَن ِ ابْن ِ جُرَيْج ٍ قَالَ: قُلْت ُ لِعَطَاءٍ:
أَتَكْرَه ُ أَن ْ نُصَل َِّ ف ِ وَسَط ِ الْقُبُورِ، أَو ْ ف ِ مَسْجِد ٍ إِل َ قَبٍْ؟
.[مصنف لعبد الرزاق] َ قَالَ: نَعَمْ، كَن َ يُنْه َ عَن ْ ذَلِك
Jawaban:
Mengenai hadis pertama, setelah kami lihat pada kitab
“Matnul Bukhariy” hasyiah as-Sindi, jilid 1 halaman 230,
maka ada perbedaan antara lafal hadis yang saudara tulis
dengan lafal hadis yang terdapat dalam kitab tersebut. Dalam
lafal hadis yang saudara tulis terdapat kata “masaajid”
(مَسَاجِد), sedang dalam kitab itu tertulis kata “masjidan”
(مَسْجِدًا). Demikian pula kata “abraza” (ابرز) menurut lafal
hadis yang saudara tulis, sedang dalam kitab itu tertulis
“la-abrazuu” (ََبْرَزُوْاأل). Agar lebih jelas kami salinkan hadis
dalam kitab tersebut: َ
َل ٍ هُولِحَدَّثَنَا عُبَيْد ِ اهلل ِ بْن ِ مُوْس َ عَن ْ شَيْبَان َ عَن ْ ه ِ
اْلوَزَّان ُ عَن ْ عُرْوَة َ عَن ْ عَئِشَة َ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ُ
وَسَلَّم َ قَال َ ف ِ مَرَضِه ِ الَِّى مَات َ فِيْه ِ لَعَن َ اهلل ُ الَْهُوْد َ
وَانلَّصَارَى اتََّذُوْا قُبُوْر َ أَنْبِيَائِهِم ْ مَسْجِدًا قَالَت ْ وَلَوْال
َْ أَن ِّ أَخْش َ أَن ْ يُتَّخَذ َ مَسْجِدًا ريََبْرَزُوْا قَبَْه ُ غَأل َ ذَلِك
.[رواه ابلخاري]
“Telah disampaikan kepada kami oleh Ubaidillah bin Musa
dari Syaiban dari Hilal dia adalah al-Wazzan (ُ اْلوَزَّان) dari
‘Urwah dari Aisyah [diriwayatkan] dari Nabi saw., beliau
bersabda ketika sakit yang beliau meninggal dalam sakit itu:
‘Allah melaknat orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan
kubur nabi-nabi mereka sebagai gereja’. Aisyah berkata,
dan kalau tidak demikian tentulah akan memunculkan kubur
beliau, selain aku khawatir akan dijadikan masjid” [HR
al-Bukhari].
Menurut Yahya bin Ma‘in, Ibnu Hanbal dan Ibnu Adi,
semua sanad hadis di atas adalah tsiqah. Hanya Muhammad
bin Saad yang agak mempersoalkannya. Menurut beliau,
sekalipun Abdullah bin Musa adalah tsiqah, namun kurang
jelas (يَتَشَيَّع). Namun banyak hadis-hadis lain yang menjadi
syahidnya.
Hadis di atas menegaskan bahwa Allah melaknat
orang-orang yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka
sebagai masjid. Sebab atau ‘illat larangan itu sebagai yang
dinyatakan oleh Aisyah r.a., dikhawatirkan bahwa masjid itu
akan menjadi sumber timbulnya syirik. Pernyataan Aisyah
itu dikuatkan oleh hadis: َّ
عَن ْ عَئِشَة َ رَض َِ اهلل ُ عَنْهَا قَالَت ْ لَمَّا اُشْتَك َ انلَّب َِّ صَل
اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ذَكَرَت ْ بَعْض ُ نِسَائِه ِ كَنِيْسَة ً رَأَيْنَاهَا َ
بِأَرْض ِ اْحلَبَشَة ِ يُقَال ُ لَهَا مَارِيَة ُ وَكَنَت ْ أُم ُّ سَلَمَة َ وَأُم ُّ حَبِيْبَة
رَض َِ اهلل ُ عَنْهُمَا أَتَتَا أَرْض َ اْحلَبَشَة ِ فَذَكَرَتَا مِن ْ حُسْنِهَا ْ
وَتُصَاوِر َ فِيْهَا فَرَفَع َ رَأْسَه ُ فَقَال َ أُولَِك َ إِذَا مَات َ مِنْهُم ِ
الرَّجُل ُ الصَّالِح ُ بَنُوْا ع ََ قَبِْه ِ مَسْجِدًا ثُم َّ صَوَّرُوْا فِيْه
[رواه ابلخاري ِ َلْق ِ عِنْد َ اهلللَِار ُ اْرش َ تِلْك َ الصُّوْرَة َ أُولَِك
.ومسلم والنساىئ]
“Dari Aisyah r.a., [diriwayatkan] ia berkata: ‘Tatkala
disampaikan kepada Nabi saw. bahwa istri-istri beliau
menyebut tentang gereja; kami melihat gereja di negeri
Habasyah yang dinamakan Maria. Ummu Salamah dan
Ummu Habibah pernah datang di negeri Habasyah, maka
ia menyebut tentang kebagusannya dan gambar-gambar
yang ada di dalamnya. Lalu Rasulullah saw. mengangkat
kepalanya lalu bersabda: Mereka (orang Nasrani itu) jika di
antara orang-orang saleh mereka meninggal dunia, mereka
membangun gereja di atas kuburannya, kemudian melukis
pelbagai lukisan di dalamnya, mereka adalah seburuk-buruk
makhluk di sisi Allah’” [HR al-Bukhari, Muslim, dan an-
Nasa‘i].
Mengenai hadis no. 2 dan no. 3, juga terdapat perbedaan
lafal antara hadis yang saudara tulis dengan hadis yang
diriwayatkan oleh Muslim. Ada dua hadis yang seperti itu
yang diriwayatkan oleh Muslim. Hadis riwayat yang satu
berbeda (terbalik) dengan hadis yang lain. Untuk jelasnya
akan kami tuliskan sebagai berikut.
56Tanya Jawab Agama 9 ٍ
حَدَّثَن ِ ع َُِّ بْن ُ حُجْر ٍ السَّعْدِى حَدَّثَنَا الْوَلِْد ُ بْن ُ مُسْلِم ِ
َْى بْن ِ عَبْد ِ اهلل ِ عَن ْ وَاثِلَة َ عَن ْ أَبرشُعَن ْ ابْن ِ جَابِر ٍ عَن ْ ب َ
مَرْثَد ٍ الْغَنَوِي ّ قَال َ قَال َ رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ال
.[رواه مسلم] تَْلِسُوْا ع ََ الْقُبُوْر ِ وَال َ تُصَلُّوْا إِلَْهَا
“Telah menyampaikan kepadaku Ali bin Hujrin as-Sa‘di,
telah menyampaikan kepada kami al-Walid bin Muslim dari
Ibnu Jabir dari Busyra bin Abdillah dari Watsilah dari Abu
Martsad al-Ghanawi [diriwayatkan], ia berkata: ‘Rasulullah
saw. bersabda: Janganlah kamu duduk-duduk di atas
kuburan dan jangan pula shalat menghadap kepadanya’”
[HR Muslim].
Semua perawi hadis di atas adalah tsiqah kecuali al-
Walid bin Muslim. Sekalipun ia adalah tsiqah, namun banyak
tadlis. Matan yang lain ialah: َ
قَال َ انلَّب ُِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ال َ تُصَلُّوْا إِل َ الْقُبُوْر ِ وَال
.[رواه مسلم] تَْلِسُوْا عَلَيْهَا
“Nabi saw. bersabda: ‘Janganlah kamu shalat menghadap
kuburan dan jangan pula kamu duduk di atasnya” [HR
Muslim].
Hadis di atas berasal dari Kanaz (كناز), dari Watsilah
(واثلة), dari Aidzullah (ئذ اهللع) dari Busyra dari Abdurrahman
dari Abdullah dari al-Hasan. Semua sanadnya tsiqah.
Sebagaimana hadis pertama, maka larangan pada kedua
hadis ini juga ada ‘illatnya, sebagaimana yang dikhawatirkan
Aisyah dan sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah
saw. pada hadis di atas.
Para ulama memandangnya (duduk di atas kuburan dan
shalat menghadap ke kuburan itu) sebagai larangan yang
hukumnya makruh, sedang shalat di tengah kuburan tetapi
tidak menghadap kepadanya adalah mubah. Penetapan
hukum makruh sebagaimana yang dinyatakan para ulama di
atas cukup beralasan, karena bila dipahami hubungan antara
hadis-hadis di atas maka kekhawatiran Aisyah itu dalam
kaitannya untuk menutup pintu yang menuju perbuatan dosa
(saddudz-dzarii‘ah).
Pada dasarnya kaum muslimin boleh melaksanakan
shalat dan membangun masjid di mana saja di atas bumi Allah
ini, selama tempat itu suci dan tidak akan menimbulkan bibit
kemusyrikan sedikitpun, sebagaimana yang telah dilakukan
oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Rasulullah saw. pernah
melakukan shalat jenazah pada suatu kuburan yang baru saja
ditimbun, berdasarkan hadis: ِ
حَدَّثَنَا حَجَّاج ُ بْن ُ مِنْهَال ٍ حَدَّثَنَا شُعْبَة ُ قَال َ حَدَّثَن ْ
سُلَيْمَان ُ الشَّيْبَان ُِّ قَال َ سَمِعْت ُ الشَّعْب َِّ قَال َ أَخْبََن ِ مَن ْ
مَر َّ مَع َ انلَّب ِِّ ع ََ قَب ٍْ مَنْبُوْذ ٍ فَأَمَّهُم ْ وَصَلُّوْا خَلْفَه ُ قُلْت ُ مَن
.[رواه ابلخاري] ٍ حَدَّثَك َ هَذَا يَا أَبَا عَمْرو قَال َ ابْن ُ عَبَّاس
“Hajjaj bin Minhal memberitakan kepada kami, Syu‘bah
memberitakan kepada kami, ia berkata Sulaiman asy-
Syaibani berkata: ‘Aku mendengar asy-Sya‘biy berkata:
Memberitakan kepada saya orang yang lewat bersama
Nabi saw. pada sebuah kuburan yang terpencil, lalu Nabi
saw mengimami (shalat) mereka dan mereka pun shalat di
belakang beliau. Aku bertanya: Siapa yang memberitakan
kepada engkau wahai Abu ‘Amr, ia menjawab: Telah berkata
Ibnu Abbas’” [HR al-Bukhari]. َ
ٍْ قَاال ريحَدَّثَنَا حَسَن ُ بْن ُ الرَّبِيْع ِ وَمَُمَّد ُ بْن ُ عَبْد ِ اهلل ِ بْن ِ نُمَ ِِّ
حَدَّثَنَا عَبْد ُ اهلل ِ بْن ُ إِدْرِيْس َ عَن ِ الشَّيْبَان َ عَن ِ الشَّعْب
أَن َّ رَسُوْل َ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ صَل َّ ع ََ قَب ٍْ بَعْد َ مَا ْ
دُفِن َ فَكَب ِّْ عَلَيْه ِ أَرْبَعًا قَال َ الشَّيْبَان ُ فَقُلْت ُ لِلشَّعْب ِِّ مَن ُ
حَدَّثَك َ هَذَا قَال َ اثلِّقَّة ُ عَبْد ُ اهلل ِ بْن ُ عَبَّاس ٍ هَذَا لَفْظ
.[رواه مسلم] ٍ حَدِيْث ٍ حَسَن
“Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Rabi‘
dan Muhammad bin Abdullah bin Numair, keduanya
berkata: ‘Abdullah bin Idris telah menceritakan kepada
kami [diriwayatkan] dari asy-Syaiban dari asy-Sya‘bi,
bahwasanya Rasulullah saw pernah shalat di atas kuburan
yang baru saja ditimbun, lalu beliau shalat di atasnya empat
takbir. Asy-Syaiban berkata: Lalu aku bertanya kepada
asy-Sya‘bi, siapa yang menceritakan kepada engkau berita
ini? Ia berkata: Tsiqah, Abdullah bin Abbas.’ Lafal hadis ini
hasan” [HR Muslim].
Pada hadis lain diterangkan bahwa Nabi Muhammad
saw. pernah shalat di kuburan dan tidak diterangkan macam
shalat yang dikerjakan oleh beliau; apakah shalat wajib,
shalat sunah, atau shalat jenazah, berdasarkan hadis: ُ
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْم ُ بْن ُ مَُمَّد ٍ بْن ِ عُرْوَة َ السَّام ِ حَدَّثَنَا غُنْدَر
59Permasalahan Shalat Jamaah, Azan dan Masjid ٍ
حَدَّثَنَا شُعْبَة ُ عَن ْ حَبِيْب ِ بْن ِ الشَّهِيْد ِ عَن ْ ثَابِت ٍ عَن ْ أَنَس ََ
رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ صَل َّ ع
.[رواه مسلم] ٍْ قَب
“Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad
bin ‘Urwah as-Sami, telah menceritakan kepada kami
Ghundar, telah menceritakan kepada kami Syu‘bah
[diriwayatkan] dari Habib bin asy-Syahid dari Tsabit dari
Anas ra, bahwasanya Nabi saw. telah shalat di atas suatu
kuburan” [HR Muslim].
Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa boleh shalat di
kuburan selama shalat itu dilakukan dengan ikhlas semata-
mata mencari keridaan Allah swt., tidak ada unsur syirik
sedikit pun di dalamnya dan tidak pula karena ada pendapat
bahwa shalat di atas kuburan tertentu itu lebih baik daripada
di tempat lain, seperti untuk menghormati yang dikubur atau
untuk meminta sesuatu kepada yang dikubur, atau ada unsur
untuk mengkultuskan yang dikubur dan sebagainya.
Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak
dilarang shalat di masjid yang di belakangnya langsung ada
kuburan.
Mengenai hadis no. 4, terdapat dalam Kitab Mushannaf
Abdur Razak. Namun dengan tiga hadis di atas, ditambah
dengan hadis-hadis yang lain yang maqbul, hukum masalah
di atas telah dapat ditetapkan.
*SM, No. 06 tahun ke-90/2005)
HUKUM PEMAKAIAN SAJADAH DI MASJID
Penanya:
H. Tamrin Harahap dan Aziz Harahap, Ketua dan
Sekretaris PRM Sibaruang
(disidangkan pada hari Jumat, 24 Shaffar 1427 H / 24
Maret 2006 M)
Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya pemakaian sajadah (tempat
shalat) di masjid?
Jawaban:
Untuk menjawab pertanyaan saudara, kami kemukakan
beberapa hadis sebagai berikut: ََ
عَن ْ جَابِر ٍ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَالَ: إِن َّ أَبَا سَعِيْد ٍ دَخَل َ ع ٍْ
ريِرَسُول ِ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَوَجَدَه ُ يُصَل ِّ ع ََ حَص
.[رواه مسلم]
“Dari Jabir ra., [diriwayatkan] ia berkata: Bahwa Abu Sa‘id
masuk ke rumah Rasulullah saw., mendapatkan (melihat)
beliau sedang shalat di atas tikar dan bersujud padanya”
[HR Muslim]. َّ
عَن ْ مَيْمُوْنَة َ رَض َِ اهلل ُ عَنْهَا قَالَت ْ كَن َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل
.مذى]تماعة إال الل[رواه ا ِ ُمْرَةلْاهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يُصَل ِّ ع ََ ا
“Dari Maimunah ra., [diriwayatkan] ia berkata: Bahwa
Rasulullah saw. shalat di atas hamparan yang dibuat dari
anyaman pelepah kurma” [HR al-Jama‘ah kecuali at-
Turmudzi]. ِ
عَن ْ أَنَس ِ بْن ِ مَالِك ٍ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَال َ كَن َ رَسُول ُ اهلل َ
َْ مَا فَعَل ريٍْ يَا أَبَا عُمَ ريَِِخ ِ ل ِ صَغأل ُ يَُالِطُنَا حَت َّ كَن َ يَقُول
.مذى]ت[رواه ال ِ ََا فَصَل َّ عَلَيْهنل ٌ ُْ فَقَال َ وَنُضِح َ بِسَاط ريَانلُّغ
“Dari Anas bin Malik r.a., [diriwayatkan] ia berkata
bahwa Rasulullah saw. selalu bersama kami, sehingga pada
suatu saat beliau berkata kepada adikku yang masih kecil;
Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan oleh anak burung
serindit? Anas berkata: Disiramlah hamparan permadani
itu, kemudian beliau shalat di atasnya” [HR at-Turmudzi].
Memperhatikan hadis-hadis yang ditulis di atas, kami
berpendapat bahwa dibenarkan shalat di atas sajadah atau alas
lainnya, sepanjang suci; baik untuk shalat di rumah maupun
untuk shalat di masjid.
*SM, No. 14 tahun ke-91/2006)
CARA DUDUK TAHIAT AKHIR PADA SHALAT
DUA RAKAAT
Penanya:
Sumijan,
Ledok, Sidorejo, Kendal, Jawa Tengah
(disidangkan pada hari Jumat, 8 Rabiulawal 1427 H / 7
April 2006 M)
Pertanyaan:
Bagaimana cara duduk tahiyat akhir pada shalat yang
hanya dua rakaat? Sebab ada yang mengajarkan duduknya
seperti pada tahiyat awal, sementara kami sudah terbiasa
dengan cara duduk tahiyat akhir pada shalat empat rakaat.
Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan anda. Berikut adalah
jawaban dari kami.
Dimaksudkan dengan tahiyat akhir ialah duduk tahiyat
pada rakaat terakhir dalam shalat, baik shalat yang terdiri
atas empat rakaat, tiga rakaat, atau dua rakaat, yang setelah
selesai berdoa lalu ditutup dengan salam. Oleh karena itu
cara duduknya, semuanya adalah sama, yaitu dengan cara
memajukan atau memindahkan kaki kirinya ke depan, dan
mendirikan tapak kaki kanannya dengan menghadapkan
jari-jarinya ke arah kiblat, dan duduk di tempat duduknya,
sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadis: ٍ
عَن ْ مَُمَّد ِ بْن ِ عَمْرِى بْن ِ عَطَاء ٍ أَنَّه ُ كَن َ جَالِسًا مَع َ نَفَر َ
َةلَمِن ْ أَصْحَاب ِ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَذَكَر َ ص
انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَال َ أَبُو حَِيد ٍ السَّاعِدِى ِّ اَنَا ِ
َة ِ رَسُول ِ اهلل ِ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْهلَ كُنْت ُ اَحْفَظَكُم ْ لِص َ
وَسَلَّم َ رَاَيْتُه ُ اِذَا كَب ََّ جَعَل َ يَدَيْه ِ حِذَاء َ مَنْكِبِه ِ وَاِذَا رَكَع ُ
أَمْكَن َ يَدَيْه ِ مِن ْ رُكْبَتِه ِ ثُم َّ هَص ََ ظَهْرَه ُ فَاِذَا رَفَع َ رَأْسَه ِ
اسْتَوَى حَت َّ يَعُود َ ك ُُّ فَقَار ٍ مَكَنَه ُ فَاِذَا سَجَد َ وَضَع َ يَدَيْه ِ
َْ مُفْتَِش ٍ وَال َ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَل َ بِأَطْرَاف ِ أَصَابِع ريَغ ُ
رِجْلَيْه ِ القِبْلَة َ فَإِذَا جَلَس َ ف ِ الرَّكْعَة ِ اْألَخِرَة ِ قَدَّم َ رِجْلَه
[أخرجه ابلخارى، ُ اليُسَْى وَنَصَب َ االُخْرَى. وَقَعَد َ مَقْعَدَتَه
.]99 :1 ة،لكتاب الص
“Dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha', [diriwayatkan]
bahwa ketika ia duduk bersama beberapa orang sahabat
Nabi saw., ia menceritakan cara shalat Nabi saw., kemudian
berkatalah Abu Hamid as-Sa‘idiy: Saya melihatnya ketika
bertakbir beliau menjadikan (mengangkat) kedua tangannya
setentang dengan bahunya, dan apabila rukuk beliau
meletakkan kedua tangannya dengan kuat pada lututnya
serta membungkukkan punggungnya, apabila mengangkat
kepala beliau meluruskan (badannya) sehingga semua
tulang-tulang kembali pada tempatnya. Kemudian apabila
bersujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak
membentangkannya dan tidak pula menyempitkan keduanya
serta menghadapkan semua ujung jari-jari kedua kakinya
ke arah kiblat. Kemudian apabila duduk pada rakaat kedua
beliau duduk di atas kaki kirinya dan mendirikan tapak kaki
kanannya, dan apabila duduk pada rakaat terakhir, beliau
memajukan kaki kirinya ke depan dan mendirikan tapak
kaki yang lain (kanan) dan duduk di tempat duduknya”
[Ditakhrijkan oleh al-Bukhari, Kitab ash-Shalah; I: 99].
Dari penjelasan hadis tersebut, maka jelaslah bahwa
duduk pada rakaat terakhir, sekalipun shalatnya hanya dua
rakaat, adalah sama dengan duduk tahiyat akhir pada shalat-
shalat yang terdiri atas tiga atau empat rakaat.
*SM, No. 20 tahun ke-91/2006)
SHALAT DENGAN DUA BAHASA
Penanya:
Eet Hudawati, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Bengkulu
Pertanyaan:
Bolehkah mengerjakan shalat dengan dua bahasa (bahasa
Arab dan bahasa Indonesia)?
Jawaban:
Mungkin yang dimaksud penanya ialah mengucapkan
lafal-lafal yang dibaca dalam shalat dengan bahasa
terjemahan, bukan dengan bahasa Arab, seperti mengucapkan
lafal shalat dalam bahasa Indonesia.
Shalat adalah salah satu dari rukun Islam yang lima,
merupakan ibadah mahdlah, ibadah yang semata-mata
ditujukan kepada Allah swt.. Demikian pentingnya shalat
itu bagi seorang mukmin, hingga shalat menjadi pembeda
seorang mukmin atau kafir, berdasarkan hadis: َْ
نيَ عَن ْ جَابِر ٍ قَال َ قَال َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ ب
د ومسلم وأبوح[رواه أ ِ َةلَْ الْكُفْر ِ تَرْك ُ الصَّ نيَ الرَّجُل ِ وَب
.مذى وابن ماجه]تداود وال
“Dari Jabir, [diriwayatkan] ia berkata: bersabda Rasulullah
saw.: Perbedaan antara laki-laki yang mukmin dengan laki-
laki yang kafir ialah meninggalkan shalat” [HR Ahmad,
Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah].
Firman Allah swt.:
[املاعون َ َتِهِم ْ سَاهُونلَ فَوَيْل ٌ لِلْمُصَلِّنيَ. الَِّين َ هُم ْ عَن ْ ص
.]5-4 :)107(
“Kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu)
Orang-orang yang lalai dari shalatnya” [QS al-Ma’un
(107): 4-5].
Demikian pentingnya shalat bagi seorang muslim, maka
shalat itu diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw.
sendiri dengan lengkap, bukan saja bacaan yang dibaca dalam
shalat itu, tetapi juga cara-cara, gerakan-gerakannya, bahkan
bagaimana keharusan khusyuk dalam mengerjakannya,
berdasarkan hadis:
66Tanya Jawab Agama 9 ُ
ُْوَيْرِث ِ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَال َ قَال َ رَسُوْلحلعَن ْ مَالِك ِ بْن ِ ا
[رواه ِّ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُون ِ أُصَل
.ابلخاري]
“Dari Malik bin al-Huwairis r.a., [diriwayatkan] ia berkata:
bersabda Rasulullah saw.: Shalatlah kamu sebagaimana
kamu melihat aku shalat” [HR al-Bukhari].
Dari hadis-hadis dan ayat di atas, dapat dipahami bahwa
mengerjakan shalat kita harus mengikuti cara-cara Nabi saw.
melakukannya, sejak dari cara takbir, cara berdiri, cara rukuk,
cara iktidal, cara sujud, cara duduk antara dua sujud, cara duduk
tahiyat awal, cara duduk tahiyat akhir, salam, dan membaca
bacaan sesuai dengan yang diajarkan beliau. Hal ini merupakan
perintah dari Rasulullah saw. yang wajib kita lakukan jika ingin
shalat kita diterima oleh Allah swt..
Dengan kata lain, tidak benar shalat dikerjakan dengan
bacaan selain bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah saw.,
termasuk dalam hal ini adalah shalat dengan bacaan yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau diterjemahkan
ke dalam bahasa yang lain.
*SM, No. 17 tahun ke-90/2005)
SHALAT FAITAH
Penanya:
Marlis Syarif
Pertanyaan:
Shalat faitah (qadla) yang ditulis oleh Drs. Agung
Danarto, M.Ag., dalam Suara Muhammadiyah No. 5, 1 – 15
Maret 2003, halaman 33. Bagaimana masalah tersebut jika
dikaitkan dengan surah an-Nisa’ ayat 103?
Jawaban:
Tulisan Saudara Drs. Agung Danarto, M.Ag. di dalam
Suara Muhammadiyah, meskipun berjudul “Cara Shalat
Menurut HPT” namun sesungguhnya tidak ada kaitan
langsung dengan Fatwa Agama yang diasuh oleh Divisi
Fatwa Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam
PP Muhammadiyah. Tetapi tulisan tersebut merupakan
pendapat pribadi dari Saudara Drs. Agung Danarto, M.Ag.
yang sumber bahasannya adalah HPT.
Berhubung pertanyaan Saudara Marlis Syarif ditujukan
kepada Fatwa Agama yang diasuh oleh Divisi Fatwa
Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PP
Muhammadiyah, maka Tim Fatwa akan berusaha menjawab
pertanyaan tersebut.
Pada prinsipnya tidak ditemukan dasar yang kuat
tentang mengqadla shalat (terutama shalat fardu). Akan
tetapi jika ada seseorang yang tidak melaksanakan shalat
pada waktunya karena ada halangan syar’i seperti tertidur
atau karena lupa, maka yang bersangkutan melakukan
shalat ketika ia terbangun atau ketika ingat, sebagaimana
dinyatakan oleh hadis: َ
عَن ْ أَب ِ قَتَادَة َ قَال َ ذَكَرُوا لِلنَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
َة ِ فَقَال َ إِنَّه ُ لَيْس َ ف ِ انلَّوْم ِ تَفْرِيط ٌ إِنَّمَالنَوْمَهُم ْ عَن ِ الصَّ
َة ً أَو ْ نَام َ عَنْهَالَّفْرِيط ُ ف ِ الَْقَظَة ِ فَإِذَا نَس َِ أَحَدُكُم ْ صَلا
.مذى]ت[رواه ال فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا
“Dari Abu Qatadah, [diriwayatkan] ia berkata: Para
sahabat memberitahu kepada Nabi saw. tentang tidur mereka
melalaikan dari melakukan shalat (pada waktunya), maka
Nabi saw. bersabda: ‘Sesungguhnya tidak ada masalah lalai
kalau sedang tidur, sesungguhnya lalai itu dalam keadaan
jaga, maka apabila lupa salah satu di antaramu atau sedang
tidur (sehingga tidak mengerjakan shalat), maka kerjakanlah
shalat apabila telah ingat’” [HR at-Turmudzi].
*SM, No. 15 tahun ke-88/2003)
SHALAT JAMAK, QASAR DAN SHALAT
JAMAAH DUA KALI
Penanya:
H. Muhda Hadisaputro, SH., M.Si.
Jl. Tebet Timur Dalam Jakarta
Pertanyaan:
- Akhir-akhir ini di kota besar seperti Jakarta, keadaan
lalu lintas sehari-hari di hari kerja semakin padat
merayap dan tidak jarang macet total semata-mata
karena terlalu banyaknya kendaraan. Berjam-jam orang
berada di kendaraan tanpa dapat berbuat banyak dan
tiba di tujuan (di rumah dari pulang kerja) sudah larut
malam. Waktu asar, magrib dan isya masih di kendaraan.
Bagaimana tuntunan untuk menjalankan ibadah yang
wajib kita lakukan itu pada kondisi lalu lintas seperti
itu? Bagaimana dalilnya?
2. Shalat berjamaah besar fadilahnya. Sebuah keluarga
tinggal dua orang suami istri. Suami shalat wajib di masjid
sesuai dengan keutamaannya, dan istri melaksanakannya
di rumah sesuai dengan tuntunan keutamaannya. Untuk
dapat meraih fadilah shalat berjamaah, adakah tuntunan
bagi suami melakukan shalat sunah di rumah yang pada
saat itu istri menjadi makmum dengan niat shalat wajib?
Bagaimana dalilnya?
Jawaban:
Shalat lima waktu sebagaimana yang telah dimaklumi
adalah salah satu rukun Islam; yang oleh karenanya harus
ditegakkan pelaksanaannya oleh setiap muslim, manakala
tiba waktunya. Dalam kondisi normal (tanpa uzur/halangan)
Islam mengajarkan pelaksanaan shalat untuk sesuai dengan
waktu yang ditetapkan untuk masing-masing, juga dengan
kaifiat (tatacara) yang telah ditetapkan.
Dalam kondisi-kondisi tertentu yang mengakibatkan
seorang muslim mengalami kesulitan untuk melaksanakan
shalat wajib sebagaimana yang dilaksanakan pada kondisi
normal (tanpa uzur/halangan), Islam memberi kemudahan,
adakalanya berupa kemudahan yang berkaitan dengan waktu
pelaksanaannya yakni dengan menjamak (mengumpulkan
dua macam shalat dalam satu waktu tertentu) dan adakalanya
berupa keringanan dalam pelaksanaannya yaitu dengan
mengqasar (memendekkan/meringkas) jumlah rakaatnya.
Keringanan atau kemudahan yang diberikan itu
diungkapkan dalam ajaran Islam, melalui beberapa ayat
Al-Qur’an dan Hadis.
Allah berfirman:
.]78 :)22[احلج ( ٍ ... وَمَا جَعَل َ عَلَيْكُم ْ ف ِ ادلِّين ِ مِن ْ حَرَج
“… dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam
agama suatu kesempitan” [QS al-Hajj (22): 87].
:)2[ابلقرة ( َْ يُرِيد ُ اهلل ُ بِكُم ُ الْيُس َْ وَال َ يُرِيد ُ بِكُم ُ الْعُس
.]185
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu” [QS al-Baqarah (2): 185].
Rasulullah saw. bersabda:
[رواه ُ َْنِيفِيَّة ُ السَّمْحَةحلادلِّين ُ يُس ٌْ أَحَب ُّ ادلِّين ِ إِل َ اهلل ِ ا
.هريرة] بابلخاري عن أ
“Agama itu mudah; agama yang disenangi Allah yang benar
lagi mudah” [HR al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a.].
.[رواه ابلخاري عن أنس بن مالك] يَسُِّوا وَال َ تُعَسُِّوا ...
“Mudahkanlah dan jangan mempersukar ...” [HR al-Bukhari
dari Anas bin Malik r.a.].
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa keringanan
dalam menegakkan shalat, diberikan dengan mengqasar
(meringkas). Dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَإِذَا ضََبْتُم ْ ف ِ اْألَرْض ِ فَلَيْس َ عَلَيْكُم ْ جُنَاح ٌ أَن ْ تَقْصُُوا
[النساء َة ِ إِن ْ خِفْتُم ْ أَن ْ يَفْتِنَكُم ُ الَِّين َ كَفَرُوالمِن َ الصَّ
.]101 :)4(
“Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah
mengapa kamu menqasar sembahyang(mu), jika kamu takut
diserang orang-orang kafir” [QS an-Nisa (4): 101].
Dalam beberapa hadis diterangkan, antara lain:َ
عَن ْ يَعْل َ بْن ِ أُمَيَّة َ قَال َ قُلْت ُ لِعُمَر َ بْن ِ الَْطَّاب ِ لَيْس ْ
َة ِ إِن ْ خِفْتُم ْ أَنلعَلَيْكُم ْ جُنَاح ٌ أَن ْ تَقْصُُوا مِن ْ الصَّ ُ
يَفْتِنَكُم ْ الَِّين َ كَفَرُوا فَقَد ْ أَمِن َ انلَّاس ُ فَقَال َ عَجِبْت َ
مِمَّا عَجِبْت َ مِنْه ُ فَسَأَلْت ُ رَسُول َ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
عَن ْ ذَلِك َ فَقَال َ صَدَقَة ٌ تَصَدَّق َ اهلل ُ بِهَا عَلَيْكُم ْ فَاقْبَلُوا
.[رواه مسلم] ُ صَدَقَتَه
“Dari Ya’la bin Umayyah, [diriwayatkan] ia berkata: Saya
bertanya kepada ‘Umar bin Khaththab tentang (firman
Allah): “Laisa ‘alaikum junahun an taqshuru minashalah
in khiftum an yaftinakumul-ladzina kafaru”. Padahal
sesungguhnya orang-orang dalam keadaan aman. Kemudian
Umar berkata: Saya juga heran sebagaimana anda heran
terhadap hal itu. Kemudian saya menanyakan hal itu kepada
Rasulullah saw., beliau bersabda: Itu adalah pemberian
Allah yang diberikan kepada kamu sekalian, maka terimalah
pemberian-Nya” [HR Muslim]. َ
عَن ْ أَنَس ٍ أَن َّ رَسُول َ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ صَل َّ الظُّهْر
[رواه ِْ نيُْلَيْفَة ِ رَكْعَتَحلبِالْمَدِينَة ِ أَرْبَعًا وَصَل َّ الْعَص َْ بِذِي ا
.مسلم]
“Dari Anas, [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw. shalat
zuhur di Madinah empat rakaat dan shalat asar di Zul-
Hulaifah dua rakaat” [HR Muslim].
Hadis yang menerangkan shalat jamak antara lain:َ
عَن ْ مُعَاذ ٍ قَال َ خَرَجْنَا مَع َ رَسُول ِ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ
ف ِ غَزْوَة ِ تَبُوك َ فَكَن َ يُصَل ِّ الظُّهْر َ وَالْعَص َْ جَِيعًا وَالْمَغْرِب
.[رواه مسلم] وَالْعِشَاء َ جَِيعًا
“Dari Mu’adz r.a. [diriwayatkan] ia berkata: Kami
pergi bersama Nabi saw. dalam perang Tabuk, beliau
melaksanakan shalat zuhur dan asar secara jamak, demikian
juga antara magrib dan isya dilakukan secara jamak” [HR
Muslim]. ِ
عَن ْ أَنَس ِ بْن ِ مَالِك ٍ قَال َ كَن َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه َ
وَسَلَّم َ إِذَا ارْتََل َ قَبْل َ أَن ْ تَزِيغ َ الشَّمْس ُ أَخَّر َ الظُّهْر َ إِل ُ
وَقْت ِ الْعَص ِْ ثُم َّ نَزَل َ فَجَمَع َ بَيْنَهُمَا فَإِن ْ زَاغَت ْ الشَّمْس
.[متفق عليه] َ قَبْل َ أَن ْ يَرْتَِل َ صَل َّ الظُّهْر َ ثُم َّ رَكِب
“Dari Anas r.a., [diriwayatkan] ia berkata bahwa Rasulullah
saw. jika berangkat dalam bepergiannya sebelum tergelincir
matahari, beliau mengakhirkan shalat zuhur ke waktu shalat
asar; kemudian beliau turun dari kendaraan, kemudian
beliau menjamak dua shalat tersebut. Apabila sudah
tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau shalat
zuhur terlebih dahulu kemudian naik kendaraan” [Muttafaq
‘Alaih].
Berkaitan langsung dengan pertanyaan saudara, kami
sampaikan hadis-hadis sebagai berikut: َّ
عَن ِ ابْن ِ عَبَّاس ٍ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ صَل َ
بِالْمَدِينَة ِ سَبْعًا وَثَمَانِيًا الظُّهْر َ وَالْعَص َْ وَالْمَغْرِب َ وَالْعِشَاء
.[متفق عليه]
“Dari Ibnu’Abbas r.a., [diriwayatkan] ia berkata: Bahwa
Nabi saw. shalat di Madinah tujuh dan delapan rakaat; zuhur,
asar, magrib dan isya” [Muttafaq ‘Alaih]. َ
عَن ِ ابْن ِ عَبَّاس ٍ قَال َ صَل َّ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم ٍ
ِْ خَوْف ٍ وَال َ سَفَر ريالظُّهْر َ وَالْعَص َْ جَِيعًا بِالْمَدِينَة ِ ف ِ غَ ُ
ِْ فَسَأَلْت ُ سَعِيدًا لِم َ فَعَل َ ذَلِك َ فَقَال َ سَأَلْت ريَ قَال َ أَبُو الزُّب ْ
ابْن َ عَبَّاس ٍ كَمَا سَأَلَْن ِ فَقَال َ أَرَاد َ أَن ْ ال َ يُْرِج َ أَحَدًا مِن
.[رواه مسلم] ِ أُمَّتِه
“Dari Ibnu ‘Abbas, [diriwayatkan] ia berkata: Rasulullah
saw. shalat zuhur dan asar di Madinah secara jamak, bukan
karena takut dan juga bukan dalam perjalanan. Berkata
Abu Zubair: saya bertanya kepada Sa’id; Mengapa beliau
berbuat demikian? Kemudian ia berkata; Saya bertanya
kepada Ibnu Abbas sebagaimana engkau bertanya kepadaku:
Kemudian Ibnu Abbas berkata: Beliau menghendaki agar
tidak menyulitkan seorang pun dari umatnya” [HR Muslim].
Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar Juz 3 halaman
263, menerangkan bahwa menurut sebagian ulama shalat
jamak yang dilakukan oleh Rasulullah saw., adalah karena
ada uzur.
Berdasar hadis dan keterangan di atas, Bagian Fatwa
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah berpendapat
bahwa jika ada uzur (halangan) yang menyulitkan pelaksanaan
shalat untuk dikerjakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan
untuk masing-masing dari lima shalat wajib, maka dibolehkan
untuk dilaksanakan dengan menjamak antara zuhur dengan
asar dan antara magrib dengan isya.
Untuk menjawab pertanyaan nomor 2, kami sampaikan
terlebih dahulu hadis-hadis sebagai berikut:ِ
عَن ْ جَابِر ٍ قَال َ كَن َ مُعَاذ ٌ يُصَل ِّ مَع َ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ُ
وَسَلَّم َ ثُم َّ يَأْت ِ فَيَؤُم ُّ قَوْمَه ُ فَصَل َّ لَْلَة ً مَع َ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ِ
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ الْعِشَاء َ ثُم َّ أَت َ قَوْمَه ُ فَأَمَّهُم ْ فَافْتَتَح َ بِسُورَة َ
َْقَرَة ِ فَانَْرَف َ رَجُل ٌ فَسَلَّم َ ثُم َّ صَل َّ وَحْدَه ُ وَانْصََفبلا َ
ََّ رَسُول نيِ َتآلَ َن ُ قَال َ ال َ وَاهلل ِ ولفَقَالُوا ل َُ أَنَافَقْت َ يَا فُ َّ
اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَلَُخْبَِنَّه ُ فَأَت َ رَسُول َ اهلل ِ صَل
75Permasalahan Shalat Jamaah, Azan dan Masjid َ
اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَقَال َ يَا رَسُول َ اهلل ِ إِنَّا أَصْحَاب ُ نَوَاضِح َ
نَعْمَل ُ بِانلَّهَار ِ وَإِن َّ مُعَاذًا صَل َّ مَعَك َ الْعِشَاء َ ثُم َّ أَت َ فَافْتَتَح ََ
َْقَرَة ِ فَأَقْبَل َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ عبلبِسُورَة ِ ا
مُعَاذ ٍ فَقَال َ يَا مُعَاذ ُ أَفَتَّان ٌ أَنْت َ اقْرَأ ْ بِكَذَا وَاقْرَأ ْ بِكَذَا
.[رواه مسلم]
“Dari Jabir, [diriwayatkan] ia berkata: Adalah kebiasaan
Mu’adz shalat bersama dengan Nabi saw., kemudian
mendatangi kaumnya lalu mengimami mereka. Pada suatu
malam setelah ia shalat isya bersama Nabi saw., lalu ia
mendatangi kaumnya dan mengimami mereka. Ia memulai
dengan bacaan surah al-Baqarah. Kemudian ada seseorang
yang memisahkan diri dan bersalam. Lalu ia shalat sendirian
sampai selesai. Orang-orang berkata kepadanya: Apakah
anda orang munafik wahai Fulan? Ia menjawab; Demi
Allah, tidak. Kemudian saya akan mendatangi Rasulullah
saw. dan akan kuberitahukan hal itu. Setelah ia sampai
kepada Rasulullah saw., ia berkata: Wahai Rasulullah, saya
ini adalah tukang siram kebun kurma bekerja seharian,
sedangkan Mu’adz telah shalat isya bersamamu, kemudian
mendatangi kami untuk mengimami shalat isya dan ia
memulai dengan surah al-Baqarah. Kemudian setelah itu
Rasulullah saw. menemui Mu’adz, dan bersabda: Wahai
Mu’adz: Jangan kau membuat kekacauan. Bacalah dengan
surah ini dan surah itu” [HR Muslim].
Dari hadis di atas dapat diambil makna bahwa orang
yang telah shalat berjamaah, dibolehkan untuk shalat lagi
sebagai imam pada suatu jamaah (kelompok orang) yang
akan melaksanakan shalat secara berjamaah. َ
عَن ْ مِْجَن ٍ األَدْرَع ِ قَال َ أَتَيْت ُ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ
َة ُ فَصَل َّ وَلَم ْ أُصَل ِّ فَقَاللوَهُو َ ف ِ الْمَسْجِد ِ فَحَضََت ْ الصَّ ِ
ل ِ أَال َ صَلَّيْت َ قَال َ قُلْت ُ يَا رَسُول َ اهلل ِ قَد ْ صَلَّيْت ُ ف ِ الرَّحْل ً
ثُم َّ أَتَيْتُك َ قَال َ فَإِذَا جِئْت َ فَصَل ِّ مَعَهُم ْ وَاجْعَلْهَا نَافِلَة
د].ح[رواه أ
“Dari Mihjan bin Adra’ [diriwayatkan] ia berkata: Saya
mendatangi Nabi saw. ketika beliau berada di masjid,
kemudian datanglah waktu shalat, kemudian beliau shalat,
tetapi saya tidak shalat. Lalu beliau bertanya kepada saya:
Mengapa kamu tidak shalat? Saya menjawab: Wahai
Rasulullah, sungguh saya telah shalat di dalam kemah,
kemudian saya mendatangi anda. Beliau lalu bersabda:
Apabila kamu datang ketika orang sedang shalat, maka
shalatlah bersama mereka, jadikanlah shalatmu sebagai
shalat sunah” [HR Ahmad].
Dari hadis di atas dapat diperoleh keterangan bahwa
orang yang telah melakukan shalat wajib, kemudian
menjumpai orang lain sedang melakukan shalat wajib, maka
disunahkan kepada orang tadi untuk mengikuti shalatnya.
Shalat yang dilakukan dinilai sebagai shalat sunah.
Berdasarkan hadis-hadis di atas, Bagian Fatwa Majelis
Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah berpendapat bahwa:
- Seseorang yang telah melaksanakan shalat wajib,
kemudian melihat orang lain akan atau sedang shalat
baik ia sendirian maupun berjamaah, dianjurkan shalat
bersama mereka. Termasuk dalam hal ini suami yang
telah shalat berjamaah di masjid menjadi imam bagi
istrinya yang shalat di rumah.
2. Shalat yang kedua kalinya dinilai sebagai shalat sunah,
bukan shalat wajib.
*SM, No. 03 tahun ke-91/2006)
AZAN IKAMAH UNTUK SHALAT SENDIRIAN
Penanya:
Suwarno, Jl. Godean 754 Yogyakarta
Pertanyaan:
Apakah jika kita shalat sendirian juga disunahkan untuk
melakukan azan dan ikamah?
Jawaban:
Beberapa hadis yang berkaitan dengan pertanyaan
saudara antara lain adalah:
- HR al-Bukhari dari Abu Sa‘id al-Khudri: ِ
َةلفَإِذَا كُنْت َ ف ِ غَنَمِك َ أَو ْ بَادِيَتِك َ فَأَذَّنْت َ بِالصَّ ِ
فَارْفَع ْ صَوْتَك َ بِانلِّدَاء ِ فَإِنَّه ُ ال َ يَسْمَع ُ مَدَى صَوْت ِ
الْمُؤَذِّن ِ جِن ٌّ وَال َ إِنْس ٌ وَال َ شَْء ٌ إِال َّ شَهِد َ ل َُ يَوْم َ الْقِيَامَة
.دري]لسعيد ا ب[رواه ابلخاري عن أ
“Jika kamu berada di tempat penggembalaanmu atau
di padang belantara kemudian kamu menyerukan
azan untuk shalat, maka keraskanlah suara azanmu,
sekalipun sesungguhnya sejauh suara orang yang azan
tidak didengar oleh jin, manusia dan sesuatu apa pun,
kecuali menjadi saksi baginya pada hari kiamat” [HR
al-Bukhari]
2. HR Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i dari ‘Uqbah bin
‘Amir: ُ
عَن ْ عُقْبَة َ بْن ِ عَمِر ٍ قَال َ سَمِعْت ُ رَسُول َ اهلل ِ صَل َّ اهلل ِ
عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يَقُول ُ يَعْجَب ُ رَبُّكُم ْ مِن ْ رَاع ِ غَنَم ٍ ف ُ
َة ِ وَيُصَل ِّ فَيَقُول ُ اهلللرَأْس ِ شَظِيَّة ٍ بَِبَل ٍ يُؤَذِّن ُ بِالصَّ َ
َةلعَز َّ وَجَل َّ انْظُرُوا إِل َ عَبْدِي هَذَا يُؤَذِّن ُ وَيُقِيم ُ الصَّ
[رواه َ يََاف ُ مِن ِّ قَد ْ غَفَرْت ُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُه ُ الَْنَّة
.د وأبو داود والنساىئ]حأ
“Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, [diriwayatkan] ia berkata: Saya
mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tuhanmu ‘Azza
wa Jalla kagum terhadap seorang penggembala domba
di sebuah kaki bukit menyerukan azan untuk shalat
kemudian ia shalat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Lihatlah kepada hamba-Ku ini, ia menyerukan azan dan
ikamah ketika akan shalat, ia takut kepada-Ku, telah
Kuampuni dosa hamba-Ku ini dan kumasukkan ia ke
dalam surga” [HR Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i].
- HR an-Nasa’i dari Salman ُ
إِذَا كَن َ الرَّجُل ُ ف ِ أَي قَفْر ٍ فَتَوَضَّأ َ فَإِن ْ لَم ْ يَِد ِ اْلمَاء َّ
َة ِ ثُم َّ يُقِيْمُهَا وَيُصَلِّيهَا إِال َّ أُملتَيَمَّم َ ثُم َّ يُنَادِي بِالصَّ
مِن ْ جُنُود ِ اهلل ِ صفًّا [رواه النسايئ عن سلمان].
“Apabila seseorang berada di tempat mana pun di
bumi ini yang sunyi dan tanpa penghuni, kemudian
ia berwudu, maka jika ia tidak mendapatkan air lalu
ia bertayamum, kemudian ia menyerukan panggilan
melakukan shalat (azan) lalu berikamah dan shalat,
tidak lain ia adalah sebagai komandan tentara-tentara
yang sedang berbaris (rapi)” [HR an-Nasa’i].
Kami sependapat dengan kesimpulan yang disampaikan
oleh Muhammad asy-Syaukani dalam kitab Nailul-Authar
Juz II halaman 14, bahwa hadis-hadis di atas menunjukkan
bahwa azan dan ikamah disyariatkan juga kepada orang yang
shalat sendirian.
*SM, No. 07 tahun ke-91/2006)
SALAM DALAM SHALAT DAN MENGAKHIRI
KHUTBAH DENGAN SALAM
Penanya:
H. Daming, NBM. 788.866 di Makasar
(disidangkan pada hari Jumat, 10 Shaffar 1427 H / 10
Maret 2006 M)
Pertanyaan:
- Bagaimana hukum salam dalam mengakhiri shalat yang
diucapkan dengan Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah
tidak dilengkapi dengan wa barakatuh? - Apakah mengakhiri khutbah dengan salam sesuai dengan
tuntunan Rasulullah saw.?
Jawaban:
Mengenai pertanyaan pertama, memang dalam Himpunan
Putusan Tarjih disebutkan: “Kemudian bersalamlah dengan
berpaling ke kanan dan ke kiri, yang pertama sampai terlihat
pipi kananmu dan yang kedua sampai terlihat pipi kirimu
oleh orang yang di belakangmu sambil membaca: Assalamu
‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” (Himpunan
Putusan Tarjih, Kitab Shalat, halaman 81). Keputusan
tersebut di dasarkan hadis-hadis: ِ
عَن ْ عَمِر ِ بْن ِ سَعْد ٍ عَن ْ أَبِيْه ِ قَالَ: كُنْت ُ اَرَى رَسُول َ اهلل َّ
صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ يُسَلِّم ُ عَن ْ يَمِينِه ِ وَعَن ْ يَسَارِه ِ حَت
.[رواه مسلم] ِ اَرَى بَيَاض َ خَدِّه
“Dari Amir bin Sa’d dari ayahnya, [diriwayatkan] ia
berkata: Saya melihat Rasulullah saw. mengucap salam
ke arah kanan dan ke arah kirinya, sampai kulihat putih
pipinya” [HR Muslim]. ِِّ
عَن ْ وَائِل ِ بْن ِ حُجْر ٍ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَال َ صَلَّيْت ُ مَع َ انلَّب ُ
َملصَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ فَكَن َ يُسَلِّم ُ عَن ْ يَمِينِه ِ السَّ ُ
َملعَلَيْكُم ْ وَرَحَْة ُ اهلل ِ و َ بَرَكَتُه ُ وَعَن ْ شِمَال ِِ السَّ
.[رواه أبو داود] ُ عَلَيْكُم ْ وَرَحَْة ُ اهلل ِ و َ بَرَكَتُه
“Dari Wail bin Hujr, [diriwayatkan] ia berkata: Saya shalat
bersama Nabi saw., maka beliau mengucap salam ke kanan
dengan membaca Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa
barakatuh dan ke kiri dengan membaca Assalamu ‘alaikum
wa rahmatullahi wa barakatuh” [HR Abu Dawud].
Disebutkan pula dalam Sahih Ibnu Khuzaimah: َ
عَن ْ عَبْد ِ اهلل ِ قَال َ كَن َ رَسُوْل ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم ْ
َم ُ عَلَيْكُمليُسَلِّم ُ عَن ْ يَمِينِه ِ حَت َّ يُرَى بَيَاض ُ خَذِّة ِ السَّ ِ
وَرَحَْة ُ اهلل ِ و َ بَرَكَتُه ُ وَعَن ْ شِمَال ِِ حَت َّ يَبْدُو َ بَيَاض ُ خَذِّة
.[صحيح ابن خزيمة] ُ َم ُ عَلَيْكُم ْ وَرَحَْة ُ اهلل ِ و َ بَرَكَتُهلالسَّ
“Dari Abdullah, [diriwayatkan] ia berkata: Adalah Rasulullah
saw. mengucapkan salam ke sebelah kanan sampai terlihat putih
pipinya dengan membaca Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi
wa barakatuh dan ke sebelah kiri sampai terlihat putih pipinya
dengan membaca Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa
barakatuh” [Sahih Ibnu Khuzaimah].
Selain hadis-hadis seperti yang telah disebutkan di atas,
sesungguhnya tentang bacaan salam dalam mengakhiri
shalat, ada pula hadis yang menerangkan bahwa bacaan
salam tersebut adalah: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi
tanpa wa barakatuh, sebagaimana yang diterangkan dalam
hadis-hadis: ُ
عَن ْ ابْن ِ مَسْعُوْد ٍ أَن َّ انلَّب َِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ يُسَلِّم َّ
َم ُ عَلَيْكُم ْ وَرَحَْة ُ اهلل ِ حَتلعَن ْ يَمِينِه ِ وَعَن ْ يَسَارِه ِ السَّ
.مذى]تمسة وصححه الل[رواه ا ِ يُرَى بَيَاض ُ خَدِّه
“Dari bin Mas‘ud, [diriwayatkan] bahwa Nabi saw
mengucap salam ke kanan dan ke kiri dengan membaca
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi sampai kelihatan putih
pipinya” [HR al-Khamsah dan disahihkan oleh at-Turmudzi]. َّ
عَن ْ جَابِر ِ بْن ِ سَمُرَة َ قَال َ إِذَا كُنَّا صَلَّيْنَا مَع َ رَسُول ِ اهلل ِ صَل ُ
َملَم ُ عَلَيْكُم ْ وَرَحَْة ُ اهلل ِ السَّلاهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قُلْنَا السَّ
.د ومسلم]ح[رواه أ عَلَيْكُم ْ وَرَحَْة ُ اهلل ِ ...
“Dari Jabir Ibn Samurah, [diriwayatkan] ia berkata: Jika
kami shalat bersama Rasulullah saw., kami mengucapkan
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah, Assalamu ‘alaikum wa
rahmatullah ...” [HR Ahmad dan Muslim].
Dengan memperhatikan hadis-hadis di atas, kami
berpendapat bahwa boleh seseorang yang mengakhiri shalat
dengan membaca Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi tanpa
dilengkapi dengan bacaan wa barakatuh.
Adapun mengenai pertanyaan kedua, sejauh yang
kami ketahui salam dalam berkhutbah adalah di kala akan
memulai, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis: َّ
عَن ْ جَابِر ِ بْن ِ عَبْد ِ اهلل ِ رَض َِ اهلل ُ عَنْه ُ قَال َ إِن َّ انلَّب َِّ صَل
.[رواه ابن ماجه] َ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَن َ إِذَا صَعِد َ اْلمِنْب ََ سَلَّم
“Dari Jabir Ibn Abdullah r.a., [diriwayatkan] ia berkata:
bahwa Nabi saw. setelah naik mimbar selalu memberikan
salam” [HR Ibnu Majah].
Sementara itu, kami belum menemukan hadis yang
menerangkan bahwa Nabi saw. memberi salam di kala turun
dari mimbar.
*SM, No. 15 tahun ke-91/2006)
APAKAH DOA IFTITAH ALLAHUMMA BAA’ID
... TAKLID?
Penanya:
Nyakmat, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah
Kauman, Pisang, Labuhan Haji, NAD
(disidangkan pada tanggal 13 Januari 2006)
Pertanyaan:
Apakah pengertian taklid, hukumnya serta beramal
dengan taklid? Apa benar orang yang selama hidupnya
terus menerus membaca doa iftitah “Allahumma baa‘id …”
dianggap taklid?
Jawaban:
- Tentang Taklid
a. Pengertian Taklid
Kata “Taklid” adalah kata dalam bahasa Arab,
yang berasal dari kata ٌ تَقْلِيْد (taklid), yaitu: ََّ قَل
(qallada), ُِّ يُقَل (yuqallidu), تَقْلِيْدًا (taqliidan). Artinya
bermacam-macam tergantung kepada letak dan
pemakaiannya dalam kalimat. Adakalanya kata taklid
berarti “menghiasi”, “meniru”, “menyerahkan”,
“mengikuti” dan sebagainya.
Para ulama Ushul mendefinisikan taklid:
“menerima perkataan (pendapat) orang, padahal
engkau tidak mengetahui darimana sumber atau
dasar perkataan (pendapat) itu”. Para ulama yang
lain seperti al-Ghazali, asy-Syaukani, ash-Shan‘ani
dan ulama yang lain juga membuat definisi taklid,
namun isi dan maksudnya sama dengan definisi
yang dibuat oleh ulama Ushul, sekalipun kalimatnya
berbeda. Demikian pula dengan definisi yang dibuat
oleh Muhammad Rasyid Ridla dalam Tafsir al-
Manar, yaitu: “mengikuti pendapat orang-orang
yang dianggap terhormat atau orang yang dipercayai
tentang suatu hukum agama Islam tanpa meneliti lebih
dahulu benar salahnya, baik buruknya serta manfaat
atau mudlarat dari hukum itu”.
Dalam menjalani dan menempuh kehidupan dunia
ini Allah swt. memberikan petunjuk kepada manusia
yang termuat dalam Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah
saw.. Orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-
Nya adalah orang-orang yang beriman, sedang orang
yang tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya
adalah orang-orang yang kafir. Allah swt. berfirman:
85Permasalahan Shalat Jamaah, Azan dan Masjid َ
يَاأَيُّهَا الَِّيْن َ آمَنُوْآ أَطِيْعُوْا اهلل َ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُول َ وَال
.]33 :)74( مدم[ ْ تُبْطِلُوْآ أَعْمَالَكُم
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada
Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah
kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” [QS
Muhammad (47): 33]. َ
قُل ْ أَطِيْعُوْا اهلل َ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُول َ فَإِن ْ تَوَلَّوْا فَإِن َّ اهلل
.[آل عمران (3): 23] َ ال َ يُِب ُّ الْكَفِرِيْن
“Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika
kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang kafir” [QS Ali ‘Imran (3): 32].
.[األنفال (8): 1] َْ نيِإِن ْ كُنْتُم ْ مُؤْمِن َٓؐ وَأَطِيْعُوْا اهلل َ وَرَسُول
“… dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika
kamu adalah orang-orang yang beriman” [QS al-
Anfal (8): 1].
Taat kepada Allah ialah mengikuti petunjuk-
petunjuk-Nya yang termuat dalam Al-Qur’an dan
taat kepada Rasul-Nya ialah mengikuti petunjuk
Nabi Muhammad saw., berupa perkataan, perbuatan
dan takrirnya yang diyakini berasal dari beliau, yang
disebut “Sunah Maqbulah”. Kenapa Majelis Tarjih
dan Tajdid menggunakan “sunah maqbulah”?
Sebagaimana diketahui bahwa perkataan,
perbuatan dan takrir Nabi Muhammad saw. (Sunah),
baru ditulis dan dibukukan setelah lebih dari seratus
tahun beliau meninggal dunia. Selama seratus tahun
lebih itu Sunah berada dalam hafalan kaum muslimin
yaitu para sahabat, tabiin, tabi‘ut tabiin dan atba‘
at-tabi‘ut tabin. Sunah yang dihafal oleh sahabat
disampaikan kepada tabiin dan mereka menghafalnya,
demikian pula para tabiin menyampaikan kepada
tabi‘ut tabiin, kemudian kepada atba‘ at-tabi‘ut
tabiin dan yang terakhir diterima oleh para perawi
hadis dan membukukannya. Para perawi itu sebelum
membukukannya meneliti setiap para penyampai dan
penerima Sunah itu.
Setelah diteliti ternyata ada para penyampai dan
penerima Sunah itu yang dapat dipercaya dan ada
yang tidak dapat dipercaya, ada yang kuat atau baik
hafalannya dan ada pula yang lemah dan sebagainya.
Lalu para perawi membuat ranking Sunah, sehingga
Sunah itu bertingkat-tingkat, ada yang sahih, ada yang
hasan, ada yang daif dan sebagainya. Pada umumnya
para ulama tidak menerima sunah yang daif (lemah),
kecuali asy-Syafi‘i yang menggunakannya untuk
fadla’ilul a‘mal (amalan-amalan utama). Majelis
Tarjih dan Tajdid pada umumnya menerima Sunah
yang sahih dan hasan dengan syarat tidak berlawanan
dengan nas (Al-Qur’an dan Sunah) yang lebih kuat
daripadanya. Sunah yang seperti ini disebut “sunah
maqbulah”.
Berdasarkan uraian di atas maka taklid menurut
Majelis Tarjih dan Tajdid ialah: “mengikuti perkataan
atau pendapat orang (seperti ulama, syekh, kyai atau
pemimpin) tentang suatu hukum Islam tanpa meneliti
lebih dahulu apakah perkataan atau pendapat itu
ada dasarnya atau tidak dalam Al-Qur’an dan sunah
maqbulah”. Jika ada dasarnya maka perkataan dan
pendapat itu dapat diterima dan diamalkan, sebaliknya
jika tidak ada dasarnya, sedang yang mengatakan
atau yang berpendapat tetap mengatakan bahwa itu
adalah ajaran Islam, maka pendapat yang demikian
termasuk bid‘ah. Orang yang berbuat bid‘ah adalah
orang yang telah menyediakan semasa ia hidup tempat
duduk dalam neraka nanti. Hal ini berdasarkan: َ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ عَن ِ انلَّب ِِّ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَال ِ
مَن ْ كَذَب َ ع َََّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأ ْ مَقْعَدَه ُ مِن َ انلَّار
.[رواه ابلخاري ومسلم]
“Dari Abu Hurairah, [diriwayatkan] dari Nabi saw.
beliau bersabda: Barangsiapa yang berdusta atasku,
maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya
dalam neraka” [HR al-Bukhari dan Muslim].
Pada saat ini banyak terdapat di Indonesia
perguruan Tinggi Islam, baik pemerintah maupun
swasta, seperti UIN, STAIN dan sebagainya, sehingga
tidaklah sukar untuk menentukan apakah pendapat
seseorang itu ada dasarnya atau tidak ada dasarnya,
dengan mengadakan pembahasan mendalam pada
suatu seminar atau diskusi. Dengan demikian taklid
dan bid‘ah itu semakin berkurang terdapat dalam
masyarakat Islam. Demikian pula para ustaz, para
kyai, para dai hendaknya menyampaikan kepada
masyarakat yang berhubungan dengan ajaran Islam,
yang benar-benar ada dasarnya.
b. Hukum Taklid
Dari ayat Al-Qur’an dan Sunah Maqbulah di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa taklid itu tercela
hukumnya. Bagi orang yang belum tahu apa-apa
tentang ajaran Islam, dan kaum muslimin yang belum
sanggup mencari dasar suatu hukum yang disampaikan
kepadanya, maka hal itu bukanlah taklid, dan hendaklah
ia menanyakan kepada orang yang lebih tahu.
2. Tentang hukum membaca doa Iftitah: “Allahumma
baa‘id …”
Sampai saat ini Majelis Tarjih dan Tajdid belum
menemukan ayat Al-Qur’an atau Sunah Maqbulah
yang menyatakan bahwa orang yang terus membaca
“Allahumma baa‘id …” dalam selama hidupnya dianggap
telah melakukan bid’ah. Oleh karena itu mungkin
sebaliknya bahwa orang yang mengatakan demikianlah
yang telah berbuat bid’ah.
Menurut hasil penelitian kami bahwa ada dua macam
doa iftitah yang diajarkan Rasulullah saw. yang dibaca
setelah takbiratul-ihram pada setiap mengerjakan shalat,
dengan arti bahwa salah satu dari dua doa iftitah itu boleh
dibaca dalam shalat. Kedua doa itu ialah “Allahumma
baa‘id …” dan “Wajjahtu wajhiya …”. Doa iftitah
“Allahumma baa‘id …” berdasarkan: َ
عَن ْ أَب ِ هُرَيْرَة َ كَن َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
َة ِ سَكَت َ هُنَيْمَة ً قَبْل َ يَقْرَأ ُ فَقُلْت ُ يَالَّإِذَا كَب ََّ ف ِ الص ِْ
ريِ َّكْبلَْ ا نيَ رَسُول َ اهلل ِ بِأَب ِ أَنْت َ وَأُم ِّ أَرَأَيْت َ سُكُوْتَك َ ب َْ
نيوَالقِرَاءَة ِ مَا تَقُوْل ُ قَال َ أَقُوْل ُ اللَهُم َّ بَاعِد ْ بَيْن ِ وَبَ
89Permasalahan Shalat Jamaah, Azan dan Masjid َّ
ِْق ِ وَالمَغْرِب ِ اللَهُمرشََْ الم نيَ خَطَايَاى َ كَمَا بَاعَدْت َ ب ِ
َطَايَا كَمَا يُنَق َّ اثلَّوب ُ االَبْيَض ُ مِن َ ادلَّنَسلْنَقِّن ِ مِن َ ا
اللَهُم َّ اغْسِل ْ خَطَايَاى َ بِالمَآء ِ وَاثلَّلْج ِ وَالبََد ِ [رواه
مذى].تابلخارى ومسلم وأصحاب السنن إال ال
“Dari Abu Hurairah, [diriwayatkan] adalah Rasulullah
saw. setelah mengucapkan takbiratul ihram dalam shalat
diam sebentar sebelum membaca al-Fatihah. Lalu aku
bertanya: Ya Rasulullah, Demi bapakku, engkau dan
ibuku, apa yang engkau baca ketika engkau diam antara
takbiratul ihram dan membaca al-Fatihah? Rasulullah
saw. menjawab: Aku membaca: َْ
نيَ َْ خَطَايَاى َ كَمَا بَاعَدْت َ ب نيَاللَهُم َّ بَاعِد ْ بَيْن ِ وَب َّ
َطَايَا كَمَا يُنَقلِْق ِ وَالمَغْرِب ِ اللَهُم َّ نَقِّن ِ مِن َ اْرشالمَ َ
اثلَّوب ُ االَبْيَض ُ مِن َ ادلَّنَس ِ اللَهُم َّ اغْسِل ْ خَطَايَاى
بِالمَآء ِ وَاثلَّلْج ِ وَالبََدِ.
Ya Allah, jauhkanlah antaraku dan antara segala
kesalahanku sebagaimana Kau telah jauhkan antara
Timur dan Barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari
kesalahan sebagaimana dibersihkannya pakaian putih
dari kotoran. Ya Allah, cucilah segala kesalahanku
dengan air, salju dan air hujan beku” [HR al-Bukhari,
Muslim dan penyusun Kitab-kitab Sunan kecuali at-
Turmudzi].
Doa iftitah “Wajjahtu wajhiya …” berdasarkan: َ
عَن ْ ع ٍَِّ قَال َ كَن َ رَسُول ُ اهلل ِ صَل َّ اهلل ُ عَلَيْه ِ وَسَلَّم
َة ِ كَب ََّ ثُم َّ قَال َ وَجَّهْت ُ وَجْه َِ لِلَِّىلإِذَا قَام َ إِل َ الصَّ َ
فَطَر َ السَّمَوَات ِ و َ االَرْض َ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَآ اَنَا مِن ِِ
هلل ِ َت ِ وَنُسُك ِ وَمَْيَاى َ وَمَمَاتلَاِن َّ ص ْ نيَْكِرشالمُ َ
َِيْك َ ل َُ وَبِذَالِك َ اُمِرْت ُ وَاَنَا مِنرشَ َْ ال نيِ رَب ِّ العَالَم ِّ
َّ اَنْت َ اَنْت َ رَب الِاِل ََ ا َ آل ُ َْ اَللَّهُم َّ اَنْت َ المَلِك نيِ المُسْلِم ِ
وَاَنَا عَبْدُك َ ظَلَمْت ُ نَفْس ِ وَاعْتََفْت ُ بِذَنْب ِ فَاغْفِرْل ِ
َِحْسَنال ِ َّ اَنْت َ وَاهْدِن آلُّنُوب َ اِلذُنُوب ِ جَِيْعًا الَيَغْفِر ُ ا ِّ
َّ اَنْت َ وَاصِْف ْ عَن الِ َِحْسَنِهَا اال َيَهْدِىال ِ اْألَخْلَق َ
ََّيْك َ وَسَعْدَيكبل َ سَيِّئَهَا ال َ يَصِْف ْ عَن ِّ سَيِّئَهَا اِال َّ اَنْت َ
َُّّ لَيْس َ اِلَْك َ اَنَا بِك َ وَاِلَك رشُْ كُُّه ُ ف ِ يَدَيك َ وَال ريَلوَا
دحتَبَارَكْت َ وَتَعَالَْت َ اَسْتَغْفِرُك َ وَاَتَوب ُ اِلَك َ [رواه أ
مذى وأبو داود وغريهم].تومسلم وال
“Dari Ali, [diriwayatkan] ia berkata: Rasulullah saw.
apabila berdiri untuk shalat lalu bertakbiratul-ihram,
kemudian mengucapkan:
وَجَّهْت ُ وَجْه َِ لِلَِّى فَطَر َ السَّمَوَات ِ و َ االَرْض َ حَنِيفًا ِ
َت ِ وَنُسُكلَ ْ اِن َّ ص نيَِْكرشُمُسْلِمًا وَمَآ اَنَا مِن َ الم
91Permasalahan Shalat Jamaah, Azan dan Masjid َ
َِيْك َ ل َُ وَبِذَالِكرشََْ ال نيِ ِِ رَب ِّ العَالَم هلل ِ وَمَْيَاى َ وَمَمَات َّ
َ اِل ََ اِال آل ُ َْ اَللَّهُم َّ اَنْت َ الْمَلِك نيِ اُمِرْت ُ وَاَنَا مِن َ المُسْلِم ُ
اَنْت َ اَنْت َ رَب ِّ وَاَنَا عَبْدُك َ ظَلَمْت ُ نَفْس ِ وَاعْتََفْت َ
ُّنُوب َ اِال َّ اَنْتلبِذَنْب ِ فَاغْفِرْل ِ ذُنُوب ِ جَِيْعًا الَيَغْفِر ُ ا َ
َِحْسَنِهَا اِال َّ اَنْتال َق ِ الَيَهْدِىلْ َِحْسَن ِ اْألَخال ِ وَاهْدِن َ
َ يَصِْف ْ عَن ِّ سَيِّئَهَا اِال َّ اَنْت ال وَاصِْف ْ عَن ِّ سَيِّئَهَا َ
َُّّ لَيْس رشُْ كُُّه ُ ف ِ يَدَيك َ وَال ريَ لََّيْك َ وَسَعْدَيك َ وَابل َ
اِلَْك َ اَنَا بِك َ وَاِلَك َ تَبَارَكْت َ وَتَعَالَْت َ اَسْتَغْفِرُك
وَاَتَوب ُ اِلَكَ.
Aku hadapkan wajahku kepada Yang menciptakan langit
dan bumi dengan tunduk dan menyerahkan diri dan
tiadalah aku termasuk golongan orang-orang musyrik.
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku
untuk Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya
dan sebab demikian itu aku diperintah dan aku termasuk
orang-orang yang menyerahkan diri (kepada-Nya).
Wahai Allah, hanya Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan
selain Engkau, hanya Engkau Tuhanku sedang aku adalah
hamba-Mu, aku telah menganiaya diriku sendiri dan aku
akui dosa-dosaku, karena itu ampunilah seluruh dosaku,
sesungguhnya hanya Engkau sajalah yang mengampuni
dosa, bimbinglah aku kepada akhlak yang baik, hanya
Engkaulah yang dapat membimbingku kepada akhlak
yang baik, jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk dan
hanya Engkaulah yang dapat menjauhkan aku dari
akhlak yang buruk itu. Aku penuhi panggilan-Mu dan aku
gembira dengan memenuhi perintah-Mu, semua kebaikan
berada dalam kekuasaan-Mu, sedangkan kejahatan itu
tidak dapat (mendekatkan diri) kepada Engkau, aku
hanya dapat hidup dengan-Mu dan hanya akan kembali
kepada-Mu. Maha Berkah Engkau dan Maha Tinggi, aku
mohon ampun kepada Engkau dan aku bertaubat kepada
Engkau” [HR Ahmad, Muslim, at-Turmudzi, Abu Dawud
dan lain-lain].
Sekalipun kedua doa iftitah itu boleh dibaca salah
satunya dalam shalat, namun ada yang perlu direnungkan
dan dipertimbangkan dalam mengamalkannya, yaitu:
a. Dasar dari kedua doa iftitah itu adalah Sunah
Maqbulah, karenanya Majelis Tarjih dan Tajdid
memberikan kewenangan kepada kaum muslimin
untuk memilih doa mana yang akan mereka baca,
atau mereka boleh membaca keduanya secara
bergantian.
b. Doa iftitah “Allahumma baa‘id …” lebih pendek
dibanding doa iftitah “Wajjahtu wajhiya …”. Doa
iftitah “Allahumma baa‘id …” dimulai dengan
kalimat “Allahumma baa‘id ” dan diakhiri dengan
“bil-ma’i wats-tsalji wal-barad”, sedang doa iftitah
“Wajjahtu wajhiya …” dimulai dengan kalimat
“Wajjahtu wajhiya” dan diakhiri dengan kalimat
“astaghfiruka wa atuubu ilaik”.
c. Jika ingin mengikuti sunah Rasulullah saw., tentu
kita harus membaca doa iftitah itu secara lengkap,
tidak setengah-setengah.
d. Sekalipun kedua doa iftitah itu berdasarkan Sunah
Maqbulah, jika ditinjau dari segi perawi, maka doa
iftitah “Allahumma baa‘id …” lebih kuat daripada
doa iftitah “Wajjahtu wajhiya …”, karena doa iftitah
“Allahumma baa‘id …” diriwayatkan oleh al-
Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu
Majah, sedangkan doa iftitah “Wajjahtu wajhiya …”
diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, at-Tirmudzi,
Abu Dawud dan yang lain.
Selanjutnya kami serahkan kepada penanya untuk
menetapkan pendapatnya berdasarkan keterangan di atas.
*SM, No. 10 dan 11 tahun ke-91/2006)

